RAINDROP OR TEARDROP?
ChanBaek fic.
.
.
BLAM
Pintu kayu reyot itu tertutup dengan keras ketika seorang lelaki membantingnya kasar sambil berlari keluar. Terlihat pemuda lainnya keluar dari balik pintu dan mulai mengejar sosok kecil yang berlari menembus derasnya hujan sore itu.
Chanyeol—pemuda yang mengejar—tak tahu pasti apa salahnya sehingga membuat kekasihnya membanting pintu dengan keras kemudian lari seperti itu, yang ia ingat ia baru saja keluar dari kamar mandi ketika seseorang meneleponnya dan Baekhyun datang saat itu.
Mata bulatnya menatap kesana kemari dengan liar, berusaha mencari sosok mungil itu ditengah ramainya orang dan derasnya hujan yang mengguyur. Tatapan Chanyeol otomatis teralih pada seseorang yang berdiri diujung jalan dengan jaket tebal sambil menunduk, ia yakin kalau itu adalah Baekhyun kekasihnya.
Dengan cepat, Chanyeol menyebrangi jalan dengan penuh hati-hati, mendekati pemuda yang kini membelakangi Chanyeol kemudian menepuk bahunya, namun pemuda itu enggan untuk berbalik badan.
Chanyeol mencengkram kuat kedua bahu lelaki tersebut, hingga akhirnya tubuhnya pun berbalik menghadap Chanyeol. Dilihatnya lelaki itu kini berlinang air mata dan pipinya memerah.
"Baek? Kau kenapa?" ujar Chanyeol tanpa melepas cengkramannya pada bahu Baekhyun.
Lelaki itu bergeming, tak berkutik sedikitpun dan mencoba untuk mengalihkan pandangannya dari wajah Chanyeol, ini membuat Chanyeol semakin bingung. Ia kemudian mengusap kedua pipi Baekhyun dengan jempol tangannya, perlahan menghapus bercak air yang membasahi wajahnya.
"Kenapa kau menangis seperti ini? Apa salahku?" Ulang Chanyeol.
"Aku tidak menangis." Balas Baekhyun dengan nada bicara yang dibuat dingin dan datar. "Lepaskan tanganmu! Ini bukan airmata, ini hanya tetesan hujan!"
"Tidak."
"Apa?"
"Aku tidak akan melepaskan tanganku. Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau beritahu aku, apa salahku agar aku bisa memperbaikinya, Baek." Chanyeol berkata seraya mengusap lembut kedua pipi Baekhyun.
"Kenapa masih mengejarku? Urusi saja pacar barumu itu!" Baekhyun mencengkram tangan Chanyeol kemudian menghempaskannya, melepaskannya dari kedua pipi Baekhyun dengan kasar. Kemudian lelaki itu berbalik dan hendak pergi, sebelum akhirnya Chanyeol menarik kembali lengannya,
"Pacar baru? Apa maksudmu? Bicaralah yang jelas!"
"Lepaskan aku! aku sudah bicara dengan jelas, kan? Urusi saja pacar barumu! Aku rasa dia rindu padamu sampai meneleponmu begitu! Dan kau ingat? Kau bahkan bertanya apakah dia sudah makan atau belum? Romantis sekali!" Baekhyun berteriak, mencoba melepaskan genggaman tangan Chanyeol.
"HAHAHAHA."
Suara tawa Chanyeol meledak seketika setelah mendengar penjelasan panjang dari mulut Baekhyun, ia bahkan sudah tak menggenggam tangan Baekhyun lagi melainkan memegangi perutnya yang mulai terasa nyeri.
Baekhyun malah mengerutkan alisnya dan bertanya-tanya apakah Chanyeol masih waras atau tidak, Chanyeol kemudian menetralkan kembali dirinya dan berhenti dari tawa idiotnya itu.
"Hei," Bisiknya seraya menyentuh kedua bahu Baekhyun dan menarik lelaki itu sedikit mendekat dengan tubuhnya,
"Itu Yoora noona. Ia barusaja pulang dari Amerika dan langsung meneleponku, dia kakak kandungku, kau ingat? Ia bahkan memintaku datang ke kafe Ayah bersamamu karena ia rindu padamu, sayang." Chanyeol berucap dengan nada yang sangat lembut.
Pipi Baekhyun memerah, ia benar-benar malu dengan apa yang sedari tadi ia lakukan. Tindakan terkonyol yang membuat dirinya bahkan geli sendiri sekarang. Bagaimana bisa ia lupa kalau Chanyeol punya kakak perempuan?
Sekarang, Baekhyun tak berani menatap Chanyeol. Ia hanya menunduk dan menyembunyikan rona merah dipipinya itu. Tapi tiba-tiba tubuhnya tertarik kedepan, kemudian jatuh ke dekapan Chanyeol. Wajah mungilnya tenggelam diantara dada bidang kekasihnya itu.
Chanyeol mengelus rambut belakang Baekhyun, "Lain kali tanyakan dulu dengan jelas, Baek."
Baekhyun mundur beberapa langkah, ia mendongak untuk menatap Chanyeol dan sekarang matanya mulai berair lagi, "Maafkan aku, Chanyeol."
"Hei, hei, kenapa menangis lagi? Tidak, Baek. Tidak apa-apa." Chanyeol beringsut mengelap airmata Baekhyun,
"Ish! Sudah kubilang ini bukan airmata! Ini tetesan hujan, tau!"
Chanyeol tertawa singkat, merangkul pundak Baekhyun dan meletakan telapak tangan raksasanya diatas kepala Baekhyun supaya lelaki itu tak kehujanan—walaupun sudah kehujanan dari tadi—kemudian mereka mulai berjalan untuk kembali ke apartemen Chanyeol.
Mereka berdua berjalan beriringan, dengan tangan Chanyeol yang menutupi kepala Baekhyun dan tangan Baekhyun yang ia jejalkan ke saku mantel Chanyeol. Baekhyun tersenyum hangat, ia kemudian mendongak untuk menatap Chanyeol,
"Chan,"
"Ya?"
"Hujan itu baik sekali, ya."
"Hm.. kenapa?"
"Hujan bisa menutupi airmataku sehingga itu dapat dijadikan alasan bahwa aku tidak menangis."
"Walaupun begitu, aku tetap tahu kalau kau menangis, Baek."
"Kenapa bisa?"
"Aku bisa baca pikiranmu, bahkan aku dapat melihat apa saja yang kau kenakan ditubuhmu."
"APA? DASAR TIANG MESUM!"
.
.
.
END.
