Another Life
.
.
Jeon Jungkook
.
Kim Taehyung
.
Park Jimin
.
Min Yoongi
.
.
GS! Rate: M
.
.
Chapter 6: Just Go
.
.
Hanya biarkan aku pergi
Dan semuanya akan kembali normal,
Atau mungkin tidak?
.
.
.
Jungkook tengah merenung di dalam kamarnya. Bukan karena pernyataan cinta Hoseok, lebih ke mengapa Taehyung juga mengatakan hal serupa? Di tambah lagi pemuda itu berubah menjadi pendiam, benar-benar membuat kepalanya berdenyut nyeri.
"Jungkook, boleh aku masuk?"
Dan sialnya entah mengapa jantungnya kembali berdebar hanya karena mendengar deep voice milik Taehyung.
"Ya, masuklah" jawabnya sedikit gemetar, dan ia hanya merutuki dalam hati kenapa bisa dirinya menjadi segugup ini?
Tak lama Taehyung masuk, dan entah mengapa melihat tatapan lembut pemuda itu membuat jantungnya semakin berdebar tak karuan.
Sebisa mungkin Jungkook bersikap biasa saja ketika Taehyung duduk di tepi ranjang sampingnya.
"Ada apa?" tanyanya sedatar mungkin.
"Ada yang ingin ku katakan padamu—"
Dan jantung Jungkook kembali berdetak tak karuan. Apa gerangan yang ingin di sampaikan si tampan, apa ia akan mengatakan perasaannya pada Jungkook? Oh, kau terlalu percaya diri Jeon.
"Sepertinya sebentar lagi aku akan menghilang kembali—"
Dan entah mengapa hati Jungkook mencelos kala mendengar kalimat menyakitkan Taehyung.
"Kenapa?" tanyanya tak mengerti, Taehyung menundukan kepalanya. Tak ingin melihat raut terluka Jungkook karena itu membuat sesuatu di dadanya juga berdenyut nyeri.
"Entahlah, mungkin misiku di sini sudah selesai. Atau mungkin gagal" kekehnya hambar, namun Jungkook tak ikut terkekeh. Hanya menatapnya dalam.
"Hey, kenapa diam saja? Bukankah kau senang jika orang asing sepertiku menghilang dari hidupmu?" godanya dengan senyum konyolnya. Namun Jungkook masih tak bergeming, terus menatapnya lekat membuatnya menghela nafasnya pelan.
"Bisakah kau tak pergi?" Taehyung sontak terdiam mendengar pertanyaan Jungkook, hatinya berdesir bahagia karena secara tidak langsung Jungkook enggan kehilangan sosoknya.
"Aku ingin, tapi maaf. Aku tak bisa melakukannya, ada seseorang yang berhak akan hidupku dan aku tak bisa menolaknya" jawabnya dengan sendu.
Mendengar jawaban Taehyung yang mengecewakkan hatinya itu, Jungkook hanya bisa menundukan kepalanya.
"Apa ada cara lain yang bisa ku lakukan agar kau tak pergi?"
Senyum Taehyung mengembang kala mendengar pertanyaan Jungkook. Dengan pasti ia mendekat, mendekap tubuh mungil di hadapannya erat.
Jungkook terlonjak kala sebuah sentuhan dingin ia dapatkan. Ia mendongak, hanya untuk mendapati leher Taehyung yang terlampau dekat dengan dengannya. Tanpa terasa matanya memanas, maka ia balas mendekap pemuda itu lebih erat lagi. Menyampaikan pesan tak kasat mata agar Taehyung tak meninggalkannya.
"Cobalah untuk jujur pada dirimu Kook, jika kau tak ingin aku pergi maka katakan jangan pergi. Jika kau ingin aku pergi, maka katakan aku boleh pergi. Dan itu juga sama akan perasaanmu padaku, jika kau tak nyaman akan perasaanku maka katakan saja jangan bersikap menyebalkan seperti tadi. Kau membuatku merasa bersalah—"
Jungkook hanya diam, tak berniat membalas perkataan Taehyung. Ia hanya diam, menikmati kehangatan yang di berikan Taehyung walau kenyataannya bahkan tubuhnya mulai menggigil karena perbedaan suhu tubuh mereka.
Taehyung yang sadar akan reaksi tubuh gadis itu akhirnya berinisiatif melepaskan pelukannya, walau dengan berat hati. Ia tak ingin Jungkook membeku karena egonya semata yang menginginkan rengkuhan Jungkook.
Jungkook yang paham, bertindak cepat. Ketika Taehyung melonggarkan pelukannya, maka ia akan semakin mengeratkan pelukannya. Walau jelas, rasa dingin dari suhu tubuh Taehyung semakin membuatnya menggigil. Lagi dan lagi Taehyung tertegun.
"Jungkook lepas, kau bisa membeku jika terus menerus memelukku—"
Namun Jungkook masih tak bergeming, mendekap Taehyung tambah erat.
"Jung ku mohon, kau bisa sakit jika terus memelukku" ujar Taehyung khawatir, pemuda itu bahkan kembali mencoba melonggarkan pelukan mereka.
"Ini hangat—" bisik Jungkook pelan, namun Taehyung tau gadis itu berbohong. Terbukti dengan tubuhnya yang mulai gemetar karena dingin.
"Jungkook, ku mohon"
Akhirnya dengan sedikit tak rela, Jungkook melepaskan pelukan mereka. Mendongak hanya untuk menemukan Taehyung yang tengah menatapnya sendu.
"Jangan memaksakan dirimu, ku mohon" lirihnya.
Entah mendapat keberanian dari mana, Jungkook mendekatkan wajahnya hingga kening mereka menempel satu sama lain.
"Aku tak apa, jangan khawatir" ujarnya di tengah rasa dinginnya.
Tersenyum sejenak kala melihat sorot khawatir Taehyung, mengusap rahang tegasnya sejenak, seolah berkata agar pemuda itu berhenti untuk mengkhawatirkannya barang sejenak saja. Menutup matanya, merekam kejadian hari ini.
"Jung—"
Jungkook masih bergeming, matanya masih tertutup dengan telapak tangannya yang masih mengelus rahang tegas Taehyung.
"Jung—"
Dan bibir mereka kembali bertemu. Tak tahan akan panggilan sendu Taehyung, dengan nekat Jungkook menyumpal bibir tebal si pemuda dengan bibir tipis miliknya. Membuat Taehyung mematung sejenak, namun detik berikutnya mata itu perlahan tertutup.
Jungkook berjengit sedikit kala tiba-tiba lengan Taehyung menarik pinggangnya mendekat, sehingga tubuh bagian depan mereka menempel dengan intimnya. Bibir yang semula diam itu mulai melumat bibir atas dan bawahnya bergantian, terkadang gigi-giginya ikut andil dalam ciuman mereka kali ini.
"Eunghh—" Jungkook melenguh dengan refleksnya kala lidah Taehyung berhasil menerobos masuk ke dalam goa hangatnya, mengabsen satu persatun giginya, terkadang lidahnya membelit lidah Jungkook untuk kemudian mengajaknya bertarung.
Ciuman Taehyung benar-benar membuatnya melayang. Ia bahkan tak sadar sejak kapan ia sudah berbaring di kasurnya, dan juga sejak kapan Taehyung berada di atasnya. Mengukungnya di antara kedua lengannya. Semua perlakuan pemuda itu benar-benar membuatnya lupa diri juga mabuk. Mabuk akan kenikmatan.
"Ahh— Tae—" ia mulai memukul bahu Taehyung saat nafasnya mulai terasa sesak. Dengan setengah hati, Taehyung melepaskan pagutan mereka.
Menelisik penampilan Jungkook yang benar-benar terlihat menggoda itu. Rambut coklatnya acak-acakan, wajahnya merah padam dengan keringat mengalir di sana, memberikan kesan seksi untukmya, matanya terpejam di sertai nafasnya yang ngos-ngosan, jangan lupakan juga bibirnya yang membengkak karena ulahnya beberapa saat yang lalu.
Benar-benar seksi, membuatnya tak tahan untuk segera memakannya.
Taehyung menundukan kepalanya.
"Kau tau, kau semakin cantik jika seperti ini Jeon, dan juga sexy" bisiknya tepat di telinga Jungkook yang mana mendapat balasan berupa lenguhan oleh sang pemilik.
Tak tahan, ia menggeser bibirnya hingga berada di leher putih menggoda milik Jungkook. Menggigitnya lalu menghisapnya sehingga sebuah karya tercipta di sana.
Sementara Jungkook, ia hanya diam pasrah akan apa yang di lakukan Taehyung terhadap tubuhnya.
"Kookie, aku mencintaimu—"
Dan dua belah bibir berbeda bentuk itu kembali bertemu dalam sebuah ciuman panjang yang terkesan panas.
.
.
.
Jimin yang sedari tadi berbaring di sebelah Yoongi bergerak tak nyaman, membuat si mungil yang tengah tertidur dengan lengannya sebagai alas kepalanya itu mendongak untuk melihat wajah tampan Jimin. Dan ketika melihat raut tak mengenakan pemuda itu, Yoongi mendengus.
"Kenapa? Ada janji dengan kekasihmu ya?" sindirnya, namun Yoongi sama sekali tak beranjak dari posisinya, seakan melarang Jimin untuk pergi dari sisinya.
Sontak Jimin yang mendengar pertanyaan pujaan hatinya itu membulatkan pupil matanya. Tak terima akan lontaran Yoongi.
"Kekasih yang lain? Satu-satunya kekasihku hanyalah dirimu baby sugar—" ujarnya yang mana malah mendapat decakan sebal dari Yoongi.
"Cih, mana aku percaya pada playboy ulung sepertimu—" balasnya sarkas, namun bukan Jimin namanya jika ia langsung down karena ucapan menyakitkan baby sugarnya.
"Kenapa susah sekali untukmu percaya padaku?" rengeknya yang sama sekali tak mendapat balasan dari Yoongi. Si wanita hanya sibuk memainkan telunjuknya di dada bidang Jimin yang terbalut oleh kaos putih polosnya.
"Aku hanya tengah memikirkan Jungkook, entah mengapa tiba-tiba perasaanku berubah tak enak"
Yoongi sangat mengenal Jungkook. Ia sangat mengerti bagaimana persahabatan mereka terjalin dengan eratnya. Dan ia tak pernah cemburu pada gadis itu. Hey, memangnya dia siapa sampai harus merasa cemburu segala dengan wanita yang dekat dengan Jimin?
Menghela nafasnya sejenak. Jemarinya mulai mengelus dada bidang itu secara perlahan, menyalurkan ketenangan untuk sang pemilik.
Diam-diam Jimin yang melihat sikap peduli Yoongi yang menggemaskan itu tersenyum lembut.
Dengan perlahan ia beranjak hingga kemudian mulai menindih Yoongi.
"Jika kau ingin membuatku tenang, ada cara yang lebih ampuh lagi baby—" ujarnya dengan seringaian mempesonanya. Yoongi yang melihatnya hanya bisa menatapnya datar. Bosan akan kemesuman pemuda di atasnya ini.
"Menyingkirlah Jim, kau berat—" keluhnya mendorong bahu berotot pemuda itu, namun tak ada perubahan. Jimin masih enggan beranjak dari atas tubuhnya.
"Satu ciuman saja eoh, ku mohon—"
Heol, bahkan pemuda itu mulai mengeluarkan aegyonya, yang sama sekali tak mempan untuk Yoongi.
"Tidak mau" tolaknya tegas.
"Kenapa?"
"Karena kau itu mesum, satu ciuman tak akan puas bagimu. Kau pasti akan meminta hal yang lebih lagi" sungutnya yang mana malah membuat Jimin tersenyum dengan lebarnya.
"Aih, kau memang mengerti diriku baby—" masih sambil tersenyum, ia menangkup kedua pipi Yoongi hingga benar-benar menindih gadis itu dengan sempurna.
Chu
Chu
Chu
Mengecup bibirnya berulang-ulang.
"Aku mencintaimu baby—"
Chu
Hingga kemudian kecupan itu berubah menjadi lumatan-lumatan dalam.
.
.
.
Jungkook terlihat tengah berkutat di dapur apartemen mungilnya. Tubuhnya bergerak kesana kemari dengan lincahnya. Terdengar juga senandung dari bibir tipisnya.
Mengaduk kembali sup di dalam panci, tersenyum ketika mencicipi kuahnya yang terasa begitu pas di lidahnya.
Tanpa menyadari jika sedari tadi Taehyung mengamatinya dalam diam. Pemuda itu hanya mampu tersenyum ketika melihat kelincahan Jungkook.
Maka dengan perlahan ia mendekat, lalu—
"Memasak apa heummm?"
—memeluk gadis itu dari belakang.
Tubuh Jungkook dengan refleksnya berjengit kala sepasang lengan tiba-tiba melingkari perutnya. Namun setelahnya ia hanya bisa tersenyum dengan jantung yang berdetak kencang.
"Hanya memasak sup dan telur dadar" balasnya, ia merasakan beban berat di bahu kirinya. Lagi-lagi Jungkook hanya bisa tersenyum akan sikap manis Taehyung.
"Ketika aku bangun tadi, kau sudah tak ada di sisiku lagi. Padahal tadinya aku ingin ketika pertama kali membuka mata, kau yang pertama kali ku lihat" keluhnya yang membuat Jungkook terkekeh gemas.
"Kau tertidur lelap sekali tadi, aku jadi tak tega untuk membangunkanmu" kilahnya yang mendapat kecupan di pipi sebagai jawaban dari Taehyung.
"Cha, sudah selesai, ayo makan"
.
Keduanya kini telah selesai sarapan dan tengah bersantai di ruang tengah. Terlihat Taehyung yang duduk di sofa depan televisi, sementara Jungkook berbaring di pahanya sambil sesekali lengannya memencet remot, memindahkan saluran sesuai dengan seleranya.
"Tae, suhu tubuhmu menghangat" gumamnya tanpa melirik ke arah Taehyung.
Sementara pemuda itu yang sedari tadi tengah mengelus surai coklat Jungkook berhenti, tertegun akan perkataan gadis itu.
"Begitu ya?" tanyanya mengambang, namun Jungkook tak cukup peka untuk mengetahui jika pemuda di sampimgnya tengah resah.
"Heumm—" gumamnya.
Beberapa saat tak mendapat respon, Jungkook akhirnya mendongak hanya untuk mendapati pemuda itu yang tengah melamun.
"Tae, kau tak apa?" segera ia tersadar, tersenyum lembut ke arah Jungkook.
Namun melihat senyuman itu, Jungkook tau ada sesuatu yang coba di sembunyikan Taehyung.
Maka dengan perlahan ia bangkit, terduduk di samping pemuda itu. Menatapnya dalam.
"Apa ada masalah?"
Taehyung kembali menggeleng, namun Jungkook tak percaya akan jawabannya.
"Hey, tatap aku. Aku tau ada yang tengah kau sembunyikan padaku, jadi ceritakan semuanya, oke" di usapnya rahang tegas itu perlahan.
Taehyung kembali menolehkan kepalanya, menatapnya sendu.
"Kook bisakah kau berjanji satu hal padaku—"
Jungkook mengernyit mendengar pertanyaan atau mungkin lebih tepatnya permintaan Taehyung, namun dengan setengah ragu ia mengangguk.
"Jika aku menghilang nanti, bisakah kau mencari keberadaanku—"
Dan sentuhan di rahangnya terhenti. Jungkook kembali menatapnya dengan sorot mata penuh luka.
"Kau akan mengilang, secepat ini?" tanyanya tak percaya.
"Maafkan aku, sepertinya iya. Aku bahkan bisa merasakan suhu tubuhku yang menghangat, itu artinya cepat atau lambat aku akan kembali menghilang" jelasnya mengelus pelan pipi kanannya.
"Apakah harus secepat ini, bahkan baru semalam kita bisa seterbuka ini. Apa benar-benar harus berakhir seperti ini?"
Mendengarnya, Taehyung tak tahan untuk tidak membawa gadis itu dalam dekapan hangatnya.
"Maafkan aku Kook, sungguh. Jika bisa aku ingin selalu berada di sampingmu, namun aku tak mampu" bisiknya lirih.
"Tae, ku mohon. Bertahanlah di sisiku sebentar lagi"
Dan entah bagaimana namun tiba-tiba cahaya putih menguar di antara mereka.
Firasatnya berubah tak enak.
Ia sadar jika ini adalah akhir untuk keduanya.
"Tae—"
Pelukan mereka terlepas, Taehyung merunduk hanya untuk mengecup bibirnya.
"Aku mencintaimu, Kook—"
Chu
Bibir keduanya kembali bertautan. Tak ada lumatan. Hanya ciuman polos penuh akan cinta dari mereka berdua.
Hingga kemudian—
Jungkook menangis terisak kala mendapati bibirnya tak merasakan apapun. Ia bahkan mulai meraung kala tak mendapati sosok Taehyung di manapun. Pemuda itu lenyap begitu saja tanpa meninggalkan apapun untuknya.
Hanya kenangan mereka yang akan terus membekas di memori Jungkook.
"Hiks— aku bahkan belum mengatakan, jika aku juga mencintaimu—"
.
Perlahan netra dengan selang oksigen yang menyumbat hidungnya mulai terbuka, membuat gadis yang sedari tadi duduk di sampingnya memekik karena senang.
"Oh ya tuhan, syukurlah jika kau sudah sadar. Berhentilah membuatku jantungan, dasar menyebalkan"
Tak ada jawaban, hanya pandangan sayu pemuda itu yang ia dapatkan, membuat si gadis menggigit bibirnya ragu.
"Aku Jinnie, tunanganmu—"
Bukan hanya Jinnie yang menatapnya dengan harap-harap cemas. Namun kedua orang paruh baya, seorang pemuda dan dokter beserta para perawatnya juga tengah menatapnya dengan pandangan serupa.
"Kau mengingatku kan Taehyungie—?"
.
.
.
-TBC-
