Persona 4/Golden/Ultimate © ATLUS
Fic by: Crow Inaba
Saya tersentuh dengan banyaknya review yang masuk. Itu semua membuat saya terus semangat menulis cerita ini. Minggu ini saya bener2 sibuk. Saya pikir bisa menulis satu lagi artikel di blog, tapi ga kuat. Maaf juga yang udah nunggu2 update fic ini. Buat Sp-Cs, Kuroi Onee-san, Nyasararuu, Epic Don, dan Schutzstaffel-Persona; bak yang baru pertama review dan yang terus mengikuti sampai titik ini. You guys ROCK. Thank you.
Saya ingin menuliskan chapter2 yang lebih memuaskan, karena itu suara kalian semua sangatlah penting bagi saya. Saya akui tulisan saya masih memiliki ketidak konsistenan seperti pada time setting, karena itu masukan2 berupa saran dan kritik membangun akan sangat berarti.
Please go on, hold on tight and enjoy your ride.
Persona 4: Ultimum Repressio
7: Like Father, Like Son
Tokio, Tokio Univ. Dorm, 20 September 2015. 10:34. Narukami's Room.
"… Meskipun begitu, kau tetap tidak menjawab panggilan darurat kami ini," ujar Yosuke, merasa bisa menerima alasan 'aneh' dari Yu barusan. "Bukannya aku tersinggung—hei, lagipula kami tahu kau juga memiliki kesibukan. Tapi paling tidak kau bisa memberi kabar pada Teddie. Dia… Kau tahu, walau ada Kanji, Yukiko-san, dan Nanako-chan di sana, aku tahu dia pasti sangat kesepian. Bagaimanapun juga, Yu, kau adalah orang yang sangat penting baginya."
Aigis duduk dengan diam di tempatnya, tepat di sebelah Yu yang tengah merunduk dengan tumpuan lengan pada kedua pahanya. Tatapan Aigis datar, namun dia mencoba mencari tahu apa yang saat ini dirasakan oleh Yu.
Yu telah mencoba menjelaskan semuanya pada 'Bro'suke. Bagaimana kesibukannya yang menyita waktunya, dan juga dengan penyerangan tadi malam yang begitu tiba-tiba. Semenjak kelulusan SMA Daikuuten dua tahun yang lalu, Yu kini memiliki tanggung jawab sebagai anak satu-satunya keluarga Narukami untuk sedikit banyaknya terlibat dalam dunia bisnis si ayah. Menyadari kesibukan ayahnya yang tiada dua—begitupula si ibu, Yu mau tidak mau tersedot ke dalamnya. Sehari-harinya habis oleh kuliah, dan malam harinya ia harus memeriksa dokumen-dokumen penting si ayah. Anggap saja ini adalah latihan untuk menggantikan posisiku di masa depan, kutip perkataan si ayah.
Yu, yang notabene-nya mrupakan anak yang tumbuh di bawah lingkungan seperti demikian, dia tidak memiliki pilihan lain. Mengikut jejak si ayah, dan suatu hari mewarisinya adalah pakuan tok si ayah kepadanya.
Ibunya juga berpikir demikian. Demi mempertahankan nama keluarga dan perusahaan si ayah, Yu harus memberikan yang terbaik demi mereka.
Yup. Kasusnya memang sedikit mirip dengan Yukiko. Tapi bedanya, Yu tidaklah tertekan dari dalam batinnya seperti si gadis. Melainkan kedua orang tuanya yang menetapkan peraturan itu. Yu sebenarnya tidak terlau mempermasalahkannya. Dia begitu menyayangi mereka berdua. Dia bersedia saja menuruti itu semua. Tapi walau begitu—walau dengan semua hal yang berusaha ia berikan sebaik mungkin pada mereka, ia tidak memiliki tempat sedikitpun untuk bersuara di rumah.
'Kau harus membanggakan ayahmu; kau harus membanggakan ibumu. Yang harus kau lakukan adalah menuruti kami, maka masa depanmu akan terjamin. Kau dengar itu?'
'Ya, bu. Ya, ayah.'
"Yu…! Hei!" Yu kembali tersadar dari lamunannya. Yosuke menatapnya lurus dengan kedua alis mata yang beradu dan melipat kedua lengannya di depan dada. "Serius, sobat. Kenapa dari tadi kau bengong saja?"
"… Maafkan aku, Yosuke. Aku…" Yu merundukkan kepalanya; Aigis semakin menatapnya dengan heran.
Benar juga. Aku sudah melupakan mereka, bisik Yu dalam batinnya. Yu mengeratkan kepalan tangannya. Entah mengapa ia merasa lebih tersakiti dari saat semua beban dari orang tuanya itu ditekankan kepadanya. Aku tahu aku salah, lanjut Yu, tapi aku tidak bisa lari dari itu semua. Aku menghormati mereka—sangat. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanku. Kebahagiaanku juga sesungguhnya adalah kebahagiaan mereka.
Yosuke menghela napas dengan berat, mengalihkan perhatian Aigis pada dirinya. "Ya, sudahlah. Aku mengerti, Yu. Karena bagaimanapun juga, kita ini sahabat, bukan? Karena itu juga kita terkadang cekcok." Yosuke menggaruk belakang kepalanya dengan ragu, sambil tersenyum malu. "Aku juga tidak sampai hati tadi… A-aku hanya terbawa emosi." lanjutnya dengan semburat merah pada kedua pipi. Aigis memiringkan kepalanya sejauh lima derajat. Rona? Batin Aigis.
Yu mengangkat kepalanya, dan pemuda berambut coklat itu memberikannya senyuman akrab. Senyuman akrab yang biasa diberikannya pada Yu dulu. Melihat cengiran sebelah matanya itu, Yu tersadarkan kalau selama ini dia hanya bisa tertekan oleh takdirnya di kota. Menjadi dan memberikan yang terbaik kepada kedua orang tuanya. Tapi, dia lupa. Yu lupa bahwa dia memiliki Yosuke, Yukiko, dan sahabatnya yang lain sebagai tempat mengadu… Benar. Karena mereka saling memiliki.
Mungkin memang benar kalau Yu 'lah yang selalu berkeras kepala untuk memendam masalahnya sendiri. Memang sudah mendarah daging kalau dia menjadi seseorang yang lebih mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Yu menggeleng kepalanya. Sudah berapa kali aku dinasehati oleh Yukiko soal ini seperti dia baru saja mengetahuinya. Tapi tetap saja…
"Yosuke, aku akan ikut bersamamu ke Inaba. Aku tidak bisa membiarkan Teddie menderita seorang diri. Walau aku harus berbagi rasa sakit dengannya sekalipun, aku akan mencoba melakukan sesuatu demi Teddie…"
"Itu baru semangat, sobat!"
"Apa kita sudah selesai menunggu, Yu… -san? Kita berangkat sekarang?" Yu mengangguk kepada teman barunya.
Yu segera berdiri menuju wastafel untuk mencuci mukanya. Yu membersihkan wajahnya dengan pembersih wajah pria, memijat seluruh sisi muka, dan langsung membilasnya dengan air keran pada wastafel. Yosuke menyusulnya dari belakang dan berusaha membisikkan kata-katanya sepelan mungkin. "Ah, Yu… Sepertinya kau hanya memberitahukanku nama gadis itu. Tapi dia sebenarnya 'apa'?"
'Dia… 'Apa'?' Heh, lucu. Deja Vu. Dari kemarin kami terus membicarakan hal itu. Pertama Aigis menanyakan Yu itu 'Apa'? Tapi Yu sendiri tidak tahu, apa yang membuat Aigis melihat Yu sebagai entitas 'Apa' ketimbang manusia biasa yang memiliki Persona. Sekarang Yu malah tambah bingung; karena itu dia mencoba membantu Aigis untuk mencari tahu, karena dia sendiri juga penasaran apa maksud dari semua ini. Apakah ini semacam permainan takdir lainnya?
Yu menolehkan wajahnya dengan segumpal busa pasta di dalam mulutnya. Dia terdiam sebentar, dan menjawab dengan sikat gigi yang masih tersempil diantara geraham dalamnya. "Kenapa tidak kau tanyakan langsung ke orangnya?"
Yu mengangkat sebelah matanya ketika menyadari raut wajah Yosuke yang seperti terbakar. "Kau gila. Dia manis sekali! A-aku kehilangan kata-kata, 'sob. Tapi, aku heran kenapa kau selalu menarik cewek-cewek cantik 'sih sedari dulu?" Yosuke menyinggung siku Yu, merasa semakin risih. Tipikal Yosuke. Selalu grogi saat berdekatan dengan perempuan yang baru ditemuinya. Yu tersenyum simpul, mengingat kembali tingkah-tingkahnya dengan Yosuke dulu.
"Aigis adalah seperangkat android, kalau itu bisa membuatmu puas, Yosuke-san."
Pemuda berambut coklat itu melompat dan menabrak dinding wastafel dengan wajahnya. Aigis muncul dengan tiba-tiba di belakang mereka seperti hantu. Yu tersenyum kecil dan melanjutkan proses pembersihan mulutnya dengan berkumur-kumur. "A-a-aku tahu kau robot! Tapi memangnya ADA robot yang seperti KAU ini!" serunya, menunjuk si gadis. Yosuke menggerayangi sosok Aigis: wajah mulus; mata jernih; rambut lembut; buah dada! Eeh, buah dada!; lekuk pinggul yang mulus; Miss V…; paha mulus. Dia bukan robot—Yosuke yakin, dia bukan robot! Dia pelajar transfer dari kota Stockholm, Swedia yang memang memiliki banyak stok perempuan pirang yang bening dan cantik.
"Um, Dragon Ball; Android 18—kau tahu, istrinya Kuririn itu," sahut Yu, membuang sisa air kumurannya. Yu memutar ingatannya ke saat dia masih menikmati serial tersebut dulu. "Aku ingat saat kecil merasa iri pada Kuririn yang menikah dengan perempuan cantik, tapi seorang android,"
"I-itu 'kan anime! R-r-robot itu besar, dan bisa menembakkan senjata api! Dari punggungnya bisa keluar sayap, dan dia bisa terbang di langit!"
"Kau terlalu banyak nonton Power Ranger, Yosuke," sahut Yu, mengecek kebersihan giginya di depan cermin.
"Aigis tidak besar, tapi bisa menyerang mengunakan senjata api. Aigis tidak punya sayap, tapi punya booster-pack di punggung, kalau itu bisa membuat Yosuke-san puas." Aigis membalikkan tubuhnya dan memperlihatkan roket booster mini yang mendadak keluar dari punggung dengan segala bunyi mesinnya.
"Aku yakin kau akan terkencing di celana jika menjadi sasarannya malam itu, Yosuke." ketus Yu dengan nada sarkas sambil melap wajahnya dengan handuk kecil yang tergantung di sisi cermin. Yu kembali menggantungnya, dan tersenyum bersahabat. "Sebaiknya jangan sampai kau jadi incarannya." lanjut Yu, sambil memperlihatkan luka bakar samar-samar akibat senjata api pada perutnya.
"I-i-itu…?" Yosuke menunjuk perut Yu dengan terbata-bata.
"Kalau saja aku tidak bisa memanggil Persona-ku di dunia ini, aku tidak yakin akan selamat saat itu," ujarnya dengan tenang.
Ini semakin membingungkan. Yosuke memang tidak terlalu pintar, tapi ini sedikit aneh—eh, terlalu aneh malahan. Siapa yang akan berteman dengan seseorang-yang-akan-membunuhmu? Memangnya ini film James Bond? "Lalu kenapa sekarang kalian bisa berteman—sekamar malahan. Aku saja tidak pernah mengajak perempuan ke kamarku! Yaah, wujud 'Aigis' ini memang perempuan, 'sih—Aah! A-aku cemburu padamu, Yu!" Yosuke meraih kerah Yu. Dan pemuda berambut perak itu tersenyum tipis dan geli, akhirnya tahu apa yang ada di dalam benak sahabatnya ini. "Mau sampai kapan kau membuatku cemburu terus, hah!"
Yu meraih dan memberikan sepotong roti kepada Yosuke, dan mengunyah sedikit jatahnya. Yosuke memang memperhatikannya tadi. Di atas meja makan kecilnya, Yu menyetok cukup banyak roti kemasan. Pas sekali, dia memang sedang lapar gara-gara berlarian mengelilingi Tokio. Yosuke melepas genggaman pada kemeja Yu, dan melahap bagiannya. "Thanks," balas Yosuke, sambil mengunyah. "Seperti kataku tadi, Yu…"
"Kau makan?" tanya Yu, pada Aigis, menawarkan sepotong roti kemasan kepadanya juga. Aigis menggeleng. "Yaah, ceritanya cukup panjang, Yosuke. Bagaimana kalau dilanjutkan di atas kereta saja?" lanjutnya, melahap habis roti miliknya.
Yosuke dan Aigis mengangguk setuju, dan bersiap berjalan keluar kamar asrama Yu. Namun Yosuke memutar arah tubuhnya ke arah si android perempuan. "T-tunggu! Kau akan keluar seperti itu saja, Ai—eh, r-robot-san?" Aigis menepuk satu telapaknya dengan tangan yang lain.
"Aigis lupa," ujarnya, pendek, dengan wajah yang sedikit berekspresi. "Yu-san, bisa tolong ambilkan pakaian kamuflase milik Aigis?"
Yu melangkah ke arahnya. "Dimana?" namun Yu langsung mendapatkan jawabannya ketika Aigis kembali memutar tubuh dan menunjuk punggungnya. Yu dan Yosuke melihat si android yang berusaha meraih punggungnya sendiri dengan tangan. Aigis mencoba meraihnya dengan kedua tangan, tapi tidak bisa. Seperti manusia biasa, dia tidak bisa meraih satu kenop kecil pada bagian paling tengah punggungnya. Aigis masih terus berusaha meraih dengan lengan melewati satu sisi wajahnya, sementara lengan lainnya melintasi pinggangnya dari bawah.
"… Aigis tidak pernah sampai menjangkaunya," ujarnya, jujur, nampak kesulitan.
"Memangnya tubuhmu itu lemari pakaian apa?" sergah tanya Yosuke, sarkas.
Yu berjalan melangkah ke arah Aigis, dan menyentuh punggung si android. "Jangan pegang yang lain," ujar Aigis, singkat. Itu bukan peringatan ataupun permohonan, hanya… Ia merasa harus diucapkan…
"Me-memangnya mau megang apaan?" lanjut pertanyaan sarkastik Yosuke. Ia berusaha keras melupakan kenyataan bahwa Aigis adalah merupakan seunit android yang dibuat begitu mirip dengan perempuan—perempuan bertubuh seksi. Wajah Yosuke kembali memerah.
"Yu-san dapat menekan tuas kecil itu dan menariknya dengan sedikit kuat ke belakang," tutor Aigis. Ia berusaha menengokkan kepalanya sebisa mungkin ke belakang agar bisa langsung memberi pengarahan pada Yu.
"Oi, oi, jangan terlalu memaksakan dirimu, nona robot…" ujar si pria berambut coklat. "Nanti kepalamu copot, lagi…"
"Jangan terlalu kuat, atau nanti mesinku akan terlepas," lanjut Aigis, tidak mengindahkan kata-kata Yosuke.
"T-t-tuh, 'kan! S-serius!" seru Yosuke. Di kepalanya muncul gambaran horor sosok Aigis yang berserakan di lantai kamar Yu, terpotong menjadi beberapa bagian dengan kabel, lempengan besi, dan oli berceceran dimana-mana. Kepala si gadis ternganga menghadap langit-langit kamar.
"Tidak. Aigis hanya mengerjaimu." jawab si robot. Wajah Yosuke berubah kesal. Seunit robot mengisenginya…? Ini sungguh satu pengalaman yang tidak biasa… Wajahnya semakin memerah, malu karena mendapati dirinya jadi bahan lelucon. Yu tergelak kecil, dan itu tidak menolong sama sekali. Yosuke semakin malu dan kesal.
Akhirnya terbuka. Yang warna biru ini, tanya Yu. Aigis mengangguk. Pemuda berambut perak kelabu tersebut menarik baju daster onepiece berwarna biru langit yang terlipat milik Aigis dan menyerahkannya kepada si pemilik. 'Lemari pakaian' Aigis kembali tertutup dengan tiupan uap seadanya. "Terima kasih, Yu-san,"
Aigis mengenakan daster tersebut dari arah kepala hingga akhirnya menutupi setiap bagian robotnya di balik sana. Kini dasi merah panjangnya tidak lagi nampak, tergantikan oleh daster biru langit yang kelihatan begitu cerah di tubuhnya. Kakinya yang ramping nampak terbuka dari bagian dengkul ke bawah. Aigis tidak memiliki jari-jemari pada kaki, apa itu tidak akan menimbulkan kecurigaan juga nantinya?
Baru saja memikirkan hal itu, Yu melihat kaki Aigis memanjang dan memberikannya kamuflase serupa dengan sepatu perempuan Cina. "Hm, sangat praktis sekali," ujar Yu.
"Terima kasih sekali lagi, Yu-san,"
"T-t-tunggu!" Yosuke memotong pembicaraan mereka berdua. "Apa kau tidak curiga pada robot ini, Yu?"
"Aigis adalah android, bukan robot, Yosuke," jawab Yu. "Seperti Android 18-"
"Terserah kau mau sebut dia apa! Tapi kau hampir saja mati di tangannya, 'kan? Tapi lihat kau sekarang dengannya! Seperti tidak terjadi apa-apa saja! Seperti kau sudah bersahabat dengannya untuk waktu yang cukup lama!" hmm, poin Yosuke sebenarnya masuk akal. Tapi diantara Yu dan Aigis saja, mereka sudah memiliki perjanjian tak tertulis sebelumnya di Velvet Room. "Apa kau tidak menaruh curiga kepadanya sedikiptun, Yu?"
Aku tidak bisa menyalahkan Yosuke, karena semua yang ia utarakan itu benar adanya. Tapi bagaimana mengatakannya, ya…?
"Yosuke-san," blondie tersebut memperhatikan si brunette. "Ada pepatah bijak mengatakan: Musuh kemarin adalah kawan hari ini."
Yu tersenyum kecil mendengar peribahasa dari Aigis dan juga ekspresi tak terungkapkan kata-kata yang diberikan Yosuke. "Tidak usah dipikirkan terlalu keras, Yosuke," Yu merangkul pundak sahabatnya itu. "Aigis dipihak kita. Lagipula 'kan-"
Aigis mengangguk. Ia memberikan tatapan tanpa emosinya kepada Yosuke. "Sebenarnya yang Aigis inginkan adalah Kebenaran. Apabila Yosuke-san menginginkan jawaban dari Aigis, sayangnya Aigis belum memiliki jawaban tersebut sekarang." Yu tersenyum. Android ini memang lain daripada yang lain. Bukan berarti Yu pernah melihat android sebelumnya—selain yang di anime, tapi Aigis membawa kebijakan seorang manusia di dalam dirinya.
"Aigis memiliki alasan menyangkut mengapa begitu bernafsu untuk membunuh Yu-san saat itu. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, saat itu Aigis 'lah yang tidak berpikir normal… Aigis hanya… Maaf, tapi itu sedikit personal. Aigis merasa…"
Aigis memutar tubuhnya dan menatap ke lantai. Wajahnya memanglah wajah android yang tak bernyawa tapi Yu dan Yosuke berani bersumpah, bahwa mereka melihat sorot wajah malu dan sedih dari sana.
"Ah… Baik-baik. Maafkan aku, Aigis." Yosuke melepaskan dirinya dari rangkulan Yu, dan berjalan ke arah Aigis. "Aku hanya tidak bisa seperti Yu; melihat orang dari satu sisi yang lain, dan melihat seseorang tanpa menaruh rasa curiga."
Aigis kembali menatap Yosuke. "Aigis akan mencari Kebenaran bersama Yu-san, dan juga tentang keberadaan dirinya. Jadi, karena Yosuke-san adalah sahabat Yu-san, Aigis pikir kita juga akan berteman nantinya. Kita berada di perahu yang sama, iya 'kan?"
Yosuke tersenyum malu, menggaruk belakang kepalanya. Ia menyambut tangan yang telah diulurkan Aigis dan menjabatnya. "Aku tidak banyak berubah ya, Yu? Terkadang aku juga tidak suka sifatku yang terlalu menaruh curiga kepada orang lain seperti ini."
Yu menggeleng, biasa saja. "Tidak, Yosuke. Aku paham," ujarnya. "Tapi, karena aku sudah lebih dulu mengenal Aigis, aku bisa bilang kalau dia adalah sosok yang bisa dipercaya." Aigis bahkan membantuku saat disudutkan oleh Izanagi dan Shadows sahabatnya, batin si pemuda
"Oke, banchou. Dan, lagi…" Aigis dan Yu kembali memusatkan perhatian pada Yosuke. "Untuk seorang android kau sangat manis, Ai-chan. Seperti saat aku berbicara dengan manusia. Kau… Benar-benar seperti manusia. Aku bahkan ragu, mungkin kau memang manusia dari awalnya."
Aigis terkejut mendengar Yosuke yang berkata hal demikian. Aigis tidak pernah berpikir demikian semenjak ia 'aktif' beroperasi untuk Kirijou Konzern. Dan, lagi, selain sebagai android khusus pembasmi Shadow, ia tidak pernah tahu asal muasalnya selain bahwa dia bekerja pada Group besar tersebut.
"Jadi… Kita berteman?"
Aigis tersenyum tipis dan mengangguk kepada Yosuke.
-o0o-
Yu memastikan lagi kamarnya terkunci dengan rapat sebelum menyusul Yosuke dan Aigis yang sudah menunggunya satu meter di depannya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Teddie," mulai Yosuke. "Tapi entah kenapa aku tidak bisa memisahkannya dengan kasus yang terjadi tadi pagi, Yu."
Itu menyita perhatian Yu dan Aigis. Mereka berdua memusatkan konsentrasi mereka kepada Yosuke sambil berjalan ke arah lift untuk turun dari komplek asrama. "Sudah kuduga kau tidak tahu. Jangan bilang kau ketiduran dengan Aigis di sebelahmu. Ahh… Aku tidak percaya~!"
Itu benar, 'sih, bisik batin Yu. Lebih baik diam daripada memanasi Yosuke lebih jauh. "Lalu berita apa ini, memangnya?"
Yosuke mengeluarkan smartphone-nya dan menyerahkan satu halaman web berita kepada Yu. "Kasus yang persis seperti yang sudah kita selesaikan dulu di Inaba."
Itu membuat jantung Yu terpompa dengan kuat. "Kau bercanda, 'kan?"
"Apa aku nampak sedang bergurau?"
Yu dan Aigis membaca laporan berita terkini mengenai kasus misterius yang diberitakan oleh TV Tokio seperti pada Breaking News pagi tadi. Perkembangan dari penelitian TKP, juga forensik kepolisian menunjukkan bahwa kasus ini bukanlah kasus bunuh diri. Pada diri korban juga tidak ditemukan adanya sidik jari orang lain sedikitpun. Kasus semakin rumit karena penyebab kematian para korban tidak diketahui. Tak ada juga tanda-tanda kekerasan atau luka dalam yang diderita. Penyakit virus ataupun bawaan juga tidak terdeteksi. Jika dikatakan secara blak-blakan, mereka ibarat mati begitu saja. Seperti saat kau mematikan TV-mu. Tanpa adanya keanehan pada jantung, otak, dan bagian tubuh lainnya.
"Kau bisa membaca juga, Ai-chan?" tanya Yosuke, penasaran saja. Aigis mengangguk. Yosuke menyadari kalau Aigis adalah tipe orang (robot) yang hanya membicarakan hal yang ia rasa harus dibicarakan saja. Seperti siapa, ya? Yukiko-san yang dulu, mungkin?
"… Tidak mungkin," bisik Yu dari balik napasnya. "… Benarkah ini…"
"Kau pikir begitu juga, Yu? Aku juga berpendapat seperti itu tadinya. Tapi kukira, aku hanya mengambil kesimpulan yang terlalu cepat… Apakah Shadow kembali aktif?"
Yu menyerahkan ponsel milik Yosuke yang kembali mengantonginya. Sementara Yu menggeleng untuk menjawab pertanyaan sahabatnya. "Yang jelas, kita harus menemui Teddie dulu untuk saat ini. Kita bisa membicarakan masalah ini di sana nanti. Dan, bersama dengan yang lainnya juga yang pasti…"
Yu, Yosuke, dan Aigis melangkah ke arah lift bangunan untuk tiba di lantai dasar guna melanjutkan perjalanan mereka ke Inaba melalui jalur kereta sub-distrik. Keluar dari lift, tanpa disadari oleh Yu, kini ia sudah bertabrakan dengan seseorang yang sepertinya juga akan menaiki lift untuk menuju lantai atas. "Ma-maaf,"
"Mau kemana kau, Yu?"
Suara berat, sedikit serak basah itu sudah tidak asing lagi bagi Yu. Ditambah dengan nada tegas, suara yang terdengar bergema dengan kuat itu menyita perhatian mereka bertiga. "… Ayah? Apa yang kau lakukan di sini?"
'A-ayah? O-orang besar dengan aura menekan ini adalah ayahnya Yu?' Yosuke tidak bisa mengeluarkan suaranya. Tapi sosok tinggi—lebih tinggi dari Kanji ini memiliki tatapan mata yang begitu dalam. Tidak heran mengapa Yu dapat memiliki tatapan yang seperti menembus ke hati seseorang. Rupanya itu turunan dari sang ayah.
Rambut abu-abu dengan beberapa garis hitam itu begitu kuat mencerminkan sifat penuh determinasinya. Yosuke dapat mengetahui sifat si ayah hanya dari penampilan dan juga pakaiannya. Tanpa poni sedikitpun, si ayah menyapu rambutnya ke atas dengan sisir, menyisakan beberapa helai rambut yang kelaur dari garis membentuk pola tajam di ujungnya. Jambangnya tumbuh dengan lebat ketimbang keningnya yang tak tersentuh sehelai rambut sedikitpun. Tak ada kumis—ia mencukurnya habis, dan ia juga tidak berjenggot. Yosuke tahu pria di hadapan mereka ini sudah berumur hampir 50, tapi sosoknya yang masih dapat berdiri tegap, dada bidangnya yang kekar, dan juga lekuk tulang yang masih tampak kuat pada wajah membuatnya seperti baru berkepala tiga.
Untuk meringkasnya, sosok ayah Yu cukup membuat ciut nyalimu. Ketimbang ayah Yosuke yang lebih memilih memasang kesan kalem dan santai kemanapun dirinya berada. Yaah, kata orang luar: Like Father, Like son. Tapi, kalau ayahnya Yu MEMANG mewariskan sifat dan kepribadian kepada anaknya… Yosuke Cuma bisa menahan kencingnya saat ini. Itu akan mengerikan dalam banyak arti.
"Yu-san? Pria ini…?"
"Beliau adalah ayahku." jawabnya kepada Aigis.
Apa ini? Batin Yosuke. Hanya perasaanku saja, atau memang Yu sedikit gentar membalas tatapan si ayah.
Ayahnya berpenampilan seperti mafia. Dengan satu set kemeja dan celana panjang putih bergaris hitam, selendang katun yang tebal berbahan mahal pada kedua bahunya, dan cerutu coklat yang tengah digigit giginya. Sepertinya Yakuza akan segera melarikan diri sambil ngompol jika melihat pria ini…
"Apa memang begitu cara memberikan salam kepada ayahmu, Yu?"
"Tidak, ayah. Maafkan aku, ayah."
"Bagus. Aku merasa rindu denganmu, jadi di hari minggu ini aku… Lupakan tetek bengek itu," si ayah memperhatikan Yosuke yang mengenakan jas hitam dengan dasi merah bergaris putih, juga Aigis yang berpakaian casual daster biru langitnya. "Ngomong-ngomong, apa kau tidak berniat mengenalkan kepadaku kedua temanmu ini?"
"Maaf, ayah. Ini Yosuke Hanamura, sahabatku dari Inaba. Dan yang perempuan adalah…" Yu sempat bingung untuk mengucapkan nama teman perempuannya yang satu ini. Bagaimanapun juga nama Aigis bukanlah nama yang umum di Jepang. Dia sebisa mungkin ingin menekan rasa curiga si ayah.
"Saya Aigis. Teman baru Yu-san. Salam," Aigis menyentuhkan satu telapak tangannya di dada, dan sedikit membungkuk.
"Hoo," Narukami senior merasa unik melihat si perempuan.
"Be-benar, sa-saya Yosuke Hanamura. Sahabat Yu dari Inaba. Sa-salam kenal, Narukami-san." Yosuke menjulurkan tangannya, serta merendahkan kepalanya sedikit.
Narukami senior menatapnya untuk sejenak, dan itu membuat Yosuke semakin menegang. Dia bisa saja menekan rasa gentarnya sekuat mungkin. Tapi… Aku tidak bisa menahan kebeletku! Sial!
"Oh! Putra Sakuradai, rupanya. Tidak kusangka bisa bertemu denganmu di sini." Narukami senior, walaupun tidak memberikan senyumannya, ia menjabat tangan Yosuke dengan akrab. Oh, Tuhan, sepertinya tubuhku bisa diputar-putar hanya dengan satu tangannya—batin Yosuke, merasakan tangan besar itu menggenggamnya. Mungkin hanya dalam bayangannya saja, tapi Yosuke seperti mendengar bunyi 'kraak' dari tangan kanannya. "Bagaimana kabar si kepala sakura itu? Sudah dua tahun ini aku tidak bertemu dengannya."
"E-eh? Kepala sakura? Anu, maksudku, ayah baik-baik saja. Aku sehabis menemuinya pagi ini di kantornya."
"Ah, ya, ya. Junes Tokio." ujarnya, melepas genggaman. Ia menyelipkan kedua tangan ke dalam sakunya masing-masing. Hanya sesaat, ia tersadar dan kembali mengeluarkan satu tangannya dari saku. Di tangannya, mereka bertiga dapat melihat sekotak cerutu Sigaro Toscano—cerutu merek ternama Italia yang sangat jarang dapat ditemui di Jepang. Di negeri asalnya saja, cerutu itu hanya dipakai oleh orang-orang ningrat dan artis. Para bos mafia juga menghisap rokok dengan merek yang sama. "Merokok?"
Yu berniat memotong kata-katanya, namun Yosuke dengan cepat membalas. "Ma-maaf, Narukami-san. A-aku tidak merokok."
"Hm, sepertinya anak-anak jaman sekarang memiliki kesadaran untuk tidak merokok, ya?" tanyanya, masih tidak tersenyum walaupun nada berbicaranya meninggi dan terdengar gembira. "Bagus. Bagus. Aku senang melihat pemuda jaman sekarang. Yu juga tidak merokok; aku bangga akan hal itu pada kalian."
Si ayah memasukkan kotak cerutunya kembali, dan meneruskan bicaranya. "Kau tahu, aku dan Sakuradai cukup dekat. Aku suka mendengar leluconnya. Aku penasaran apakah kau bisa melawak sehebat ayahmu?"
Yu dan Aigis lebih memilih diam. Yosuke tertawa tidak sepenuh hati. "Mungkin aku akan mengunjunginya sehabis ini. Lagipula," ujarnya. "Junes termasuk Dept. Store yang paling menguntungkan di Jepang. Tidak ada yang lebih indah selain persahabatan akrab di atas uang. Bukan begitu, Yo-kun?"
Yosuke merasa ragu untuk menjawab yang satu itu. Tapi Narukami senior tidak nampak menunggu jawaban darinya. Ia malah memutar arah pandangannya kepada Aigis untuk sejenak, dan dilanjutkan kepada Yu.
"Mau kemana?"
"Inaba."
"Inaba? Desa itu?"
"Inaba bukan desa, ayah." bela Yu.
"Mau apa ke sana? Aku yakin kuliahmu untuk semeseter ini belum berakhir, bukan begitu?"
"Ya, ayah. Tapi aku memiliki keperluan mendadak di sana. Dengan berjalannya waktu, aku khawatir akan menyesal bila datang terlambat nantinya."
Narukami senior nampak tertarik. Tapi sekali lagi, dia tidak tersenyum—dia hanya… Menunjukkan ekspresi 'tertarik' secukupnya. "Ryoutaro baik-baik saja, 'kan?"
"Ya, ayah. Beliau baik-baik saja,"
"Aku ingat bertemu dengan putrinya lima tahun yang lalu… Chisato, bukan?"
"Nanako, ayah. Chisato adalah istri paman, dan ibu dari Nanako. Beliau meninggal… 4 tahun yang lalu, ketika Nanako masih TK…"
"Aku turut berduka." ujar si ayah. Ia memperhatikan raut gelap putranya, dan tersenyum kepada dirinya sendiri. "Ah, begitu rupanya. Jadi kau memiliki ikatan yang sangat kuat dengan beberapa orang di Inaba; termasuk Ryoutaro dan Nanako-chan."
Yu dan Yosuke sedikit banyaknya terkejut. Yosuke ingin memotong dengan 'bagaimana kau bisa tahu?' Tapi dia membatalkannya. Yosuke merasa gentar hanya dengan melihat lengan kekar dibalik kemeja itu.
"Tidak perlu bertanya balik padaku. Aku murni hanya menebaknya." jawabnya, seolah tahu apa yang hendak ditanyakan oleh putra dan sahabatnya itu. "Berapa lama?"
"Tapi, ayah—aku yakin kau memiliki keperluan denganku-"
Tangan besar Narukami senior mendarat di kepala Yu. Ia mengacak-acak rambut Yu, seperti Yu adalah seorang anak kecil yang diisengi orang dewasa. "Kau pikir aku tidak bisa menebak isi kepalamu? Aku bisa membacamu seperti buku, 'nak. Jika aku melanjutkan urusan bisnis ini denganmu, jangankan profit, kau malah hanya akan mengacau jika tidak dapat berkonsentrasi. Dan yang mendapat malu nantinya dari para kolega adalah aku; bukan siapa-siapa. Ok?"
"Aku tahu kau punya urusan darurat, mungkin urusan seperti sahabatmu yang sakit, atau mungkin juga Ryoutaro atau putrinya tengah sakit. Bagaimanapun juga, jiwa sosialmu yang kuat itu diturunkan dariku." Yu terpincut—perih dan mengejutkannya. Benar. Benar. Dia menurunkannya kepadaku. Lagipula, dia memang ayah kandungku.
"Youichiro-dono!" imbau seseorang yang berpakaian seperti intel atau MIB. Jas, celana panjang, dan sepatu hitam, ditambah dengan kaca mata hitam. Mungkin tidak akan ada yang tahu identitas orang itu. "Pertemuan dengan pemimpin perusahaan mackerel Tunna Co. akan dimulai dalam 30 menit lagi. Perjalanan kesana akan memakan waktu 25 menit jika tidak macet. Alangkah baikn-"
"Baik! Baik, aku segera ke sana!" pria berkarisma itu mengayunkan tangannya, mengusir pesuruhnya. "Tinggalkan aku selama satu menit."
Pria berpakaian serba gelap itu segera menjauh seperti terintimidasi. "Dengar, Yu. Aku tidak pernah melarangmu untuk melakukan apapun yang kau inginkan. Tapi kau tetap anakku dan ibumu. Kata-kata kami adalah mutlak, dan kau harus mematuhinya. Jika aku menyuruhmu pergi, kau harus pergi. DAN, jika aku menyuruhmu untuk ikut denganku—SEKARANG JUGA—kau harus ikut."
Jantung Yu semakin menciut. Aura pria ini terlalu menekan dan berkuasa. "Tapi, tidak. Sebagai ayahmu, aku tahu apa yang penting. Tapi ingat, garis keluargamu adalah yang utama dan aku yakin kau paham itu. Yu?"
"Baik, ayah." Yu merundukkan kepalanya sedikit.
"Persetan dengan kuliah; lakukan semua hal yang kau inginkan atas seijinku. Aku berangkat sekarang." pria itu berniat membalikkan tubuhnya. "Mari, Yo-kun, Aigis-san,"
"Selamat jalan, ayah." Yu membungkukkan tubuhnya. Kali ini sampai ke batas perutnya.
Mereka tidak tahu berdiri di situ untuk berapa lama, tapi yang jelas Aigis bersedia menunggu mereka berdua untuk bergerak. Satu menit dilalui. Namun dua menit sudah mereka lalui masih tanpa kata-kata. Hingga sampai menit ketiga, Aigis merubuhkan tembok berlin kesunyian. "Kita berangkat sekarang?"
Barulah Yu dan Yosuke menghembuskan napas lega mereka. Seperti ikan koi yang dikembalikan ke air, atau seperti hamster yang terjun lepas dari wahana putaran rodanya. Seperti para pelari ketika keluar dari lintasan setelah menyelesaikan trek sejauh lima puluh putaran lapangan besar. Wajah mereka nampak begitu tertekan akan kuasa. Mereka kelihatan seperti penduduk biasa yang dititahkan untuk bertemu sang kaisar Cina. Mereka berusaha meraih napas yang seolah hanya dimiliki oleh satu pria itu.
Mereka tak ada apa-apanya dihadapan lelaki yang berdiri bak gedung tak tergoyahkan tersebut. Mereka di bawah kendali. Mereka di bawah teror. Teror bernama kuasa, usia, dan pengalaman.
Pada saat itulah mereka berpikir betapa kecil dan tak berdayanya diri mereka.
"Dia… Ayahmu?" buka tanya Yosuke.
"… Kau lebih baik tidak mengingat sesuatu yang membuatmu kecut, bukan?"
"Ketika dihadapannya aku merasa… Kecil. Itukah alasanmu untuk tidak mengungkit-ngungkit soal mereka?"
"Aku ingin bilang 'Ya'. Tapi masih ada beberapa alasan lainnya. Kau lihat, bukan, aku adalah bagian dari dirinya. Takdirku adalah bersamanya—dibawahnya…"
"… Yaah, tapi tunggu sebentar. Itu tidak seperti dirimu, sobat. Kau terdengar seperti Yukiko-san yang dulu…"
"Hampir persis. Karenanya aku…"
Yosuke tersenyum. "Aku tahu—karena itu kau bersimpati padanya, hm?"
Yu menegakkan dirinya dan kembali mengambil napas—berusaha untuk melakukannya secara normal. "Terkadang aku 'ingin' berpikir terlepas dari dirinya, tapi darah dan dagingnya ada di setiap sisi sel dan dibalik kulitku. Ia seperti hantu; tapi seperti Tuhan juga. Heh, aneh."
Yosuke tersenyum ragu, namun entah kenapa dia merasa lega. Kenapa lega, ya? Apa mungkin karena ia bersyukur kalau sahabatnya yang satu ini ternyata hanyalah manusia biasa seperti dirinya—seperti Chie, Yukiko, Kanji, Rise, dan Naoto, juga Teddie? Manusia yang memiliki kekurangan dan juga retak pada sisi lain dari 'Dirinya'. Yosuke sempat khawatir kalau sahabat mereka yang satu ini adalah Tuhan; lihat, Yu bahkan tidak memiliki 'Sisi lain' dari dirinya dulu. Tapi, mungkin itu dulu ketika kulit telur Yu masih begitu solid.
"Hanya satu yang kutahu, Yu," Yu memperhatikannya. "Sepertinya ada sesuatu yang menunggumu—seperti Dirimu yang lain dibalik 'sana'."
Yu tersenyum tipis. Dia tahu—akhirnya dia sadar. Kedatangan Izanagi kemarin memang nyata adanya. Dia memang ditakdirkan untuk melampaui keraguan hatinya; dia harus. Demi menjadi dirinya yang utuh dan Satu. "Aku tahu. Aku tahu." Izanagi mungkin memang hanya memberikannya isyarat saat itu. Mungkin saja Izanagi berusaha memperingatinya tentang datangnya ini semua. Agar Yu siap menghadapi dirinya yang lain. Itu bisa saja. Karena Izanagi adalah bagian dari dirinya juga.
Yu membalikkan tatapannya pada Aigis yang melihat mereka berdua dengan tenang dari balik mata birunya. "Maaf membuatmu menunggu, Aigis,"
"Syukurlah kalian tidak apa-apa. Aigis paham mengapa kalian membeku seperti tadi; Aigis hanya… Merasa tahu—Aigis mengerti. Tubuh ini tidak bisa menerimanya, tapi anehnya, bisa merasakannya. Membingungkan memang…" Aigis merunduk, sekali lagi Yu dan Yosuke melihat si android nampak lesu. "Ah, tapi syukurlah kalian tidak apa-apa."
Pipi Yosuke merona. "Kau tahu Ai-chan… Kau begitu manis ketika mengkhawatirkan kami," Yu tersenyum juga.
"Mari, kita juga berangkat,"
|To the Next|
A/N: Saya selalu ga sabar menggambarkan sosok si Narukami ayah. Jadi begitulah dia apa adanya. Saya membuatnya kenal dengan ayah Yosuke, dan juga ayah Rise nantinya. Ibu Yu akan ditampilkan juga. Mungkin. Dan err, tahu ga, menurut saya Aigis punya selera humor yang lucu, 'loh. Chapter berikutnya mungkin akan panjang. Karena saya ingin memadatkan fic ini per-chapternya. Bagaimana menurut pembaca?
Review adalah Cinta. Jika readers sekalian memiliki satu uneg2 seperti pairing, silahkan diutarakan. Atau mungkin mana yang ingin reader baca selain YuYukiko dan YuAigis; YosueChie, KanNao atau KanRise? Tombol Review di bawah itu tombol Plot Bunny saya sebenarnya. Semua review yang masuk selalu saya jadikan acuan dalam menulis fic ini. Thanks. See you soon.
