Naruto belongs to Masahi Kishimoto
Warning : AU, highly OOC, typos, sho-ai detected, informal style
Pair : GaaHina, SasoSaku, SasuNaruSasu
Happy reading minna~~
.
.
.
Sudah sekitar lima belas menit ia berdiri di sini. Mata hijaunya iseng menjelajahi bagian SMP Putri Konoha yang terlihat dari sisi. Siapa tahu ia bisa melihat Hinata dengan pipi yang merona gara-gara sengatan matahari. Tapi tampaknya Dewi Fortuna memang lagi cuti. Boro-boro Hinata versi blushing dan tersenyum, sejauh mata memandang yang ada cuma pohon-pohon mahogani.
Di saku celana remaja laki-laki itu ada dua lembar tiket ke taman hiburan. Bukan tiket gratis sebenarnya, tapi Gaara akan mengatakan ia mendapatkannya dari seorang teman. Jika tidak begitu, Hinata akan curiga dan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Padahal Gaara hanya ingin melakukan hal-hal yang menyenangkan. Karena itu ia tak ingin Hinata bertanya lebih jauh karena sungguh ... itu sangat merepotkan!
Kalau dipikir-pikir kenapa ia terlihat seperti anak laki-laki dalam shoujo manga yang sedang dimabuk cinta, ya?
"Hey, kamu pasti bukan anak sini, kan?" Seorang anak perempuan yang sedikit lebih tinggi dari Gaara tiba-tiba saja menghampiri.
'Ya iyalah, Bodoh. Bagian mana dari diriku yang pantas memakai rok dan jepit rambut imut? Kalau Hinata baru pantas.'
"Kok nggak jawab sih? Kamu sombong deh," komentarnya.
"Sstt ... Akari-chan, itu...," temannya menunjuk earphone yang menempel di lubang telinga Gaara. Huh, pasti anak itu mengira Gaara sedang mendengarkan musik keras sampai-sampai tidak menyahut ketika temannya menyapa.
"Hey!" Anak itu menepuk lengan Gaara, berusaha mengajaknya bicara.
"Tsk!" gerutu Gaara sembari melangkah pergi dari tempatnya berdiri.
"Kyaa ... Ice Prince!" Temannya malah menjerit senang.
"Cih, dia kira aku akan menyerah. Lihat saja, aku pasti akan menaklukkan hatinya!" kata anak yang dipanggil Akari, "Hey, tunggu! Siapa namamu?"
Alih-alih menjawab, Gaara malah meluncur bersama skateboard-nya dan melengos pergi. Besi panjang di tepian tangga dimanfaatkannya untuk melakukan fifty-fifty. Menuruni tangga dengan santai, lalu melakukan ollie—melompat bersama papan skate-nya tinggi-tinggi—sebelum mendarat dan melakukan aksi-aksi yang lain lagi.
Kalau tidak salah, Hinata akan pulang lewat jalan sebelah kiri. Sebaiknya ia pergi ke sana dan menanti. Keadaan di sini sudah sangat tidak aman dengan gadis-gadis cerewet yang mengerumuninya bak selebriti.
Nah, itu dia Hinata!
"Hari minggu nanti kamu ada waktu?" Gaara menginjak tail papan skate-nya lalu menenteng benda itu ketika papan tersebut terlonjak.
Hinata nyaris tersentak kaget begitu ada suara yang menyergapnya tiba-tiba. Manik keunguannya memindai cepat sosok berambut merah dengan skateboard di tangan kanannya. Pelan-pelan ia mengembuskan napas lega. Setidaknya sosok itu bukan panda merah yang lepas dari kandangnya.
"Ga-Gaara-kun?" panggil Hinata, "Kamu membuatku kaget saja."
"Jawab saja. Bisa kan?" tanya Gaara mencoba bersikap santai walaupun sebenarnya ia sedikit berdebar menunggu jawaban Hinata. Kami-sama ... semoga Hinata tidak ada acara dengan kedua orang tua nyentriknya.
"Aku sih tidak punya acara apa-apa. Tapi ... bukannya hari minggu adalah jadwal Gaara-kun nonton anime sepuasnya?" Hinata balik bertanya.
Oh, ya ampun! Bagaimana Gaara bisa melupakan hal sepenting itu?
"Tidak apa-apa. Aku akan meminta Papa merekamnya untukku," jawab Gaara.
"Hihihi ... kelihatannya Gaara-kun antusias sekali. Memangnya kita mau ke mana?" tanya Hinata.
"Ini," Gaara menyodorkan dua lembar tiket dari sakunya, "satu untukku dan satu lagi untukmu. Temanku yang memberikannya untukku. Daripada kubuang, lebih baik aku mengajakmu, kan?"
"Taman hiburan?" Hinata membaca tiket yang ada di tangannya, "U-uwaa ... terima kasih, Gaara-kun. Aku senang sekali." Mata gadis itu berbinar gembira.
"Anggap saja itu ucapan terima kasihku karena minggu lalu kamu sudah membuatkan gambar yang bagus untukku," ucap Gaara.
"Aku senang bisa membantu Gaara-kun," kata Hinata.
Gaara tahu, sahabatnya memang gadis yang baik hati, tidak sombong, serta rajin menabung. Tidak berlebihan kok. Buktinya celengan semar di kamarnya selalu gendut dengan koin-koin dan lembaran uang sisa jajan.
Kalau Gaara? Boro-boro buat menabung, uang jajannya bahkan selalu habis tiap kali ia pergi ke game center. Makanya tidak heran kalau menjewer telinganya jadi hobi baru Mama Sakura. Itu sebabnya, Hinata tidak perlu tahu kalau Gaara rela tidak ke game center selama seminggu untuk membeli tiket ke taman hiburan supaya ia dan Hinata bisa bermain bersama. Yang perlu Hinata tahu hanyalah hari minggu nanti, mereka akan berbagi tawa. Cukup itu saja.
Ugh ... rasanya Gaara tak sabar menunggu hari minggu tiba.
.
.
.
"Uwaa ... akhirnya kamu ngajak Hinata-chan kencan juga! Aaa ... Mama bangga sekali padamu, Gaara-chan!" Begitu sampai rumah, ekspresi berbinar-binar bak jeruk segar dari Mama Sakura menyambut Gaara.
"Bukan kencan, Mama. Aku cuma mau mengajak Hinata bersenang-senang di taman hiburan. Lagian tiketnya gratis kok, Ma," kilah Gaara. Tangannya meraih goggle berwarna jingga di atas buffet, lalu bersiap untuk menyalakan PC-nya.
"Gaara-chan, berbohong itu dilarang dalam peraturan How To Be A Good Boy yang kita sepakati bersama," Mama Sakura melipat tangan di depan dada. Dalam satu detik, ekspresi berbinar-binarnya berubah serius-semi-galak bak ibu-ibu menginterogasi anaknya sehabis ketahuan nyolong pakaian dalam punya tetangga.
"Beneran, Ma. Gaara nggak bohong," Gaara masih berkilah.
"Ciyus? Mi apa?" Ekspresi serius Sakura lagi-lagi dinodai reaksi tak penting akibat overdosis dorama. Ugh, sepertinya Gaara harus benar-benar menghubungi Paman Sasuke untuk menggugat tayangan dorama yang merusak tata bahasa mamanya. Kami-sama ... sejak kapan Mama Sakura masuk ke dalam golongan aL4y4ns.
"Gaara serius, Ma," kata Gaara.
Terus gue mesti guling-gulingin kambing sambil bilang wow gitu?
Untung bukan kalimat tak penting itu yang diucapkan Mama Sakura. Ibu-ibu yang masih seenergik sailoormoon—terutama ketika menggunakan kekuatan datang bulan—itu menatap tanpa kedip ke arah Gaara. Tajam, menusuk, dan siap mengobok-obok hati dan kejujuran putranya.
"Oh, jadi tiketnya gratis, ya? Kalau begitu, coba kasih tahu Mama kenapa seminggu ini kamu nggak pergi ke game center? Kalau kamu bilang bosan, berarti tidak apa-apa dong kalau uang jajanmu Mama potong?" Senjata khas ibu-ibu pun dilontarkan Sakura.
Bagaimanapun Gaara tetap remaja tiga belas tahun biasa yang teramat menggantungkan hidup dengan uang jajan. Potong uang jajan berarti ia harus siap-siap nggak main pump selama berbulan-bulan. Arrgghh ... tidakk! Itu terlalu mengerikan!
Tapi mengaku juga bukan opsi terbaik yang bisa dipilih Gaara. Mama kan cerewet, pasti cerita lagi sama Hinata. Kalau Hinata tahu, terus Gaara harus bersikap bagaimana kalau ketemu dia? Hinata kan polos, dia pasti akan berpikir yang tidak-tidak terhadapnya. Umur tiga belas tahun, berani amat bicara soal cinta?
Tunggu dulu, memangnya ini cinta, ya? Setahu Gaara, yang namanya cinta itu biasanya akan membuat laki-laki rela mengobral harga dirinya cuma untuk mendapatkan gadis-gadis yang minta dikejar-kejar dan dipuja.
"Tidak apa-apa juga sih kalau kamu ternyata nggak naksir Hinata-chan. Berarti Mama bisa dong ngenalin Hinata-chan ke anak-anaknya teman Mama. Ingat Oom Hizashi? Anaknya Oom Hizashi ganteng lho. Lumayan mirip Hinata-chan juga. Kamu tahu kan, kata orang mirip itu jodoh," pancing Sakura.
"Mama sama Papa nggak mirip tuh," komentar Gaara. Remaja laki-laki itu kemudian fokus ke layar laptop-nya.
"Kata siapa?" Dari arah dapur, Papa Sasori menyahut. Lengkap dengan apron dan seporsi besar spaghetti carbonara. Kepala Keluarga Akasuna itu menyimpan spaghetti-nya di meja lalu ikut konseling ibu dan anak yang digelar dadakan ini, "Mama mirip Papa kok. Waktu masih bayi, rambut Mamamu juga merah. Tapi semua berubah ketika nenekmu melakukan kesalahan."
Sakura langsung mengerutkan alis. Seolah telah mendapat prediksi kalau cerita yang akan diumbar suaminya adalah cerita yang tidak realistis. Sayangnya ketika ia menoleh ke arah Gaara, putranya malah menatap papanya, menanti gerak bibir Sasori yang dirasa flegmatis.
"Jadi dulu itu Nenekmu mau mencuci rambut Mamamu. Karena letaknya peralatan mandi dan cuci yang berdekatan, yang diambil malah cairan pemutih baju. Jadilah rambut Mamamu luntur, menyisakan warna merah muda," kata Sasori, "tapi Papa suka sih. Unik. Dan cocok dengan kepribadian Mamamu."
Gaara mencibir, "Pasti Papa dapat nilai sempurna dalam pelajaran mengarang bebas. Pemutih baju biasanya ada hidrogen peroksidanya. Dan hidrogen peroksida itu korosif. Kurasa Nenek tidak bodoh, dan kalaupun memang sebodoh itu, masa iya Mama masih baik-baik saja."
'Punya anak pintar memang membanggakan, tapi kadang juga menjengkelkan!' Setidaknya itu kata hati Sasori. Belum sempat ia bereaksi, jitakan mantap diterimanya dari Sang Istri.
"Makanya kalau mengarang cerita, yang kreatif dong," tukas Sakura.
"Tapi Mama, bukannya mengarang dalam artian berbohong itu dilarang dalam peraturan How To Be A Good Boy yang kita sepakati? Kok Papa boleh sih mengarang bebas begitu?" protes Gaara.
Dan kali ini, Sakuralah yang kesulitan memberi penjelasan pada putranya. Kami-sama ... padahal niat awal Sakura menggunakan pasal dalam peraturan itu agar Gaara mau mengakui perasaannya pada Hinata, tapi kenapa malah jadi bumerang begini, ya?
.
.
.
Hari minggu pagi biasa dijalani Sasuke dengan meneguk secangkir kopi. Pasangannya akan lebih sibuk di dapur, berkutat dengan adonan pisang goreng yang akan sama-sama mereka nikmati. Biasanya Hinata akan membantu papanya, tapi kali ini ia bahkan belum keluar dari kamarnya sejak tadi.
"Lho, Hinata-chan mana?" tanya Naruto.
"Masih di kamarnya. Kurasa dia ada janji hari ini. Mungkin dengan gadis Yamanaka yang dia sebut tempo hari," komentar Sasuke, "ngomong-ngomong Naru-chan. Kau bangun jam berapa sampai-sampai sudah ada onigiri di meja makan?"
Bletak!
"Berhenti memanggilku Naru-chan, Teme!" sergah Naruto.
Sasuke hanya menyeringai, "Habis kau manis sih. Dan kalau kau sedang marah-marah begitu, kau terlihat sangat seksi, Naru-chan."
"Gah, simpan semua omong kosongmu, Sasu-chan. Konohamaru bahkan...,"
"Bisa kan tidak usah membahas bocah sialan itu?" Sasuke merengut, "kau sudah bosan padaku, ya?"
"Konohamaru memang manis," kata Naruto, "tapi aku lebih suka uke yang posesif-agresif sepertimu, Sa-su-chan."
"Diam! Hari ini aku seme-mu tahu!" kata Sasuke dengan wajah merah padam, "Demi Tuhan, aku benar-benar akan menghancurkan hidup Konoharamu jika dia benar-benar merebutmu dariku!"
"Owh, manis sekali, Seme-ku sayang." Suara pasrah Naruto seiring dengan tatapan menggodanya selalu sukses membuat Sasuke frustasi, "Bukankah jika Konohamaru merebutku, kau masih bisa menggoda Sasori-san?"
"Cukup, Naru-chan. Cukup...," suara Sasuke terdengar bergetar ketika ia merangkul Naruto dari belakang, "dia manis, tapi tidak seksi sepertimu." Napas hangatnya menyapu lapisan sensitif kulit Naruto.
Naruto menyeringai penuh kemenangan. Ia berbalik untuk menatap mata Uchiha yang selalu menghanyutkan. Hari ini ia memang menjadi uke untuk Sasuke, tapi bukan berarti ia tetap bisa mengendalikan Sasuke perlahan-lahan. Jemari kanannya membuka kancing teratas kemeja Sasuke, menyusul kancing berikutnya, hingga ia memiliki akses untuk permukaan dada Sasuke yang menggiurkan. Dan sesuai prediksi, Sasuke memberinya reaksi yang ia harapkan.
"Posesif, agresif, dan sisi melankolismu membuatku selalu suka menggodamu, Teme," Naruto menghindar dengan cepat ketika pria Uchiha itu hendak memberinya sebuah kecupan, "kautahu, melihat wajah frustasimu itu selalu menjadi hal yang paling menyenangkan. Hahaha..."
"Tsk!" Sasuke mendecih tak suka. Jika ini bukan di ruang makan, sepertinya ia akan cepat menarik pria itu ke dalam pelukannya, menyentuhnya, dan bahkan me-
"Ayah, Papa, selamat pagi," suara imut ini pasti milik putri mereka.
Oh, bahkan situasi dan kondisi pun tak berpihak kepada Sasuke!
"Selamat pagi, Hinata-chan. Manis sekali ... pasti Hinata-chan mau pergi. Iya kan?" tanya Naruto, "duduklah. Mau Papa buatkan sesuatu untuk sarapanmu?"
"Hinata sudah sarapan kok, Pa," Hinata menunjuk onigiri yang ada di meja, "tadi pagi Hinata membuat beberapa onigiri untuk sarapan. Yang itu untuk Papa sama Ayah."
"Baiklah. Kami akan memakannya. Terima kasih, ya," kata Naruto.
"Hinata-chan, ayo pergi!" Ajakan bersuara khas remaja laki-laki berambut merah membuat Sasuke dan Naruto kompak berpandangan.
"Hinata perginya sama Gaara-chan?" tanya Sasuke, "Ayah kira kamu mau main sama Yamanaka-chan."
"Iya, Yah. Gaara-kun dapat tiket gratis ke Taman Hiburan. Makanya Gaara-kun mengajakku. Ayah, Papa, Hinata berangkat dulu, ya," pamit Hinata.
"Hati-hati, Hina-chan," pesan Naruto sambil melambaikan tangan.
Putrinya hanya menoleh sebentar sebelum menemui temannya yang ada di balik pintu. Naruto meletakkan tangannya di dagu. Agaknya Kami-sama juga memberikan jalan untuknya agar Gaara bisa menjadi menantu!
"Sudah siap?" tanya Gaara, mati-matian menahan diri supaya tidak mencubit-cubit pipi chubby nan menggemaskan milik sahabatnya.
Hinata menganggukkan kepala, "Tumben Gaara-kun nggak bawa skateboard."
"Malas," jawab Gaara sekenanya. Toh, ia tak mungkin mengatakan kalau skateboard itu sengaja ditinggal agar mereka bisa berjalan sama-sama. Sambil bergandengan tangan kalau bisa.
Sesuai prediksi Gaara, hari minggu di Taman Hiburan Konoha pasti ramai. Memang bukan hal yang ia sukai, tapi bukan pula hal yang ia benci. Ia menoleh ke arah temannya, meraih tangannya untuk menautkan jemari.
"Jangan jauh-jauh dariku. Kamu lihat, kan? Di sini ramai sekali," kata Gaara.
Gadis itu menganggukkan kepala, "Ne, Gaara-kun, kita mau ke mana dulu?"
"Roller coaster, bianglala atau rumah hantu? Yang mana yang kamu pilih? Aku sih terserah kamu saja," Gaara menawarkan pilihan.
"Roller coaster saja, ya," Hinata menyuarakan pilihannya.
Gaara hanya mengiyakan. Toh, ia memang memberikan kebebasan bagi Hinata untuk menentukan pilihan. Baginya, semuanya sama-sama menyenangkan. Meskipun seandainya Hinata memilih pergi ke rumah hantu terlebih dahulu, mungkin Gaara bisa mengambil beberapa keuntungan.
"Kamu ... baik-baik saja?" tanya Gaara ketika mereka baru saja turun dari roller coaster. Hinata terlihat sedikit pucat. Mungkin laju roller coaster yang sedemikian cepat membuatnya sedikit ketakutan.
"A-aku baik-baik saja kok, Gaara-kun. Tapi perutku ... seperti kram," ucap Hinata lirih.
"Kalau begitu, ayo kita pulang saja. Lalu kamu bisa minta tolong ayah atau papamu untuk pergi ke dokter," kata Gaara.
"Jangan," Hinata menarik tangan Gaara, "aku baik-baik saja kok," ucap Hinata, "kita sudah sama-sama menunggu untuk bisa pergi hari ini. Aku tidak mau pulang untuk sesuatu yang tak perlu."
"Bodoh," Gaara menyentil dahi berponi milik Hinata, "yang penting itu kesehatanmu, tahu. Kita bisa pergi ke sini lagi lain kali. Untuk apa kita di sini kalau kita tidak bisa menikmatinya."
"Aku baik-baik saja, Gaara-kun. Sungguh!" kata Hinata meyakinkan temannya.
Gaara memicingkan mata, mencoba mencari kejujuran di mata temannya lalu berkata, "Tunggu di sini sebentar. Jangan ke mana-mana. Oke?"
Hinata hanya mengiyakan dan membiarkan Gaara pergi. Tangannya mengusap perutnya yang terasa sedikit ngeri. Aneh, rasanya ia tidak memasukkan bumbu-bumbu aneh ke dalam onigiri yang dibuat dan dimakannya tadi pagi. Tapi kenapa rasanya jadi nyeri seperti ini? Dan lagi ... kenapa pula harus terjadi hari ini?
"Minumlah," Gaara kembali dengan segelas air hangat, "aku tidak tahu kamu sakit apa, tapi kata Mama, air hangat bisa membuat kram perut menjadi sedikit lebih baik."
"Terima kasih, Gaara-kun," Hinata menerima gelas karton itu, meminum isinya sedikit. Sepertinya mamanya memang tidak berbohong soal fungsi air hangat ini.
"Merasa lebih baik?" tanya Gaara.
"Umm ... kurasa begitu. Ayo, kita lanjutkan ke wahana yang lain. Gaara-kun, aku mau naik bianglala," ujar Hinata.
"OK, tapi berjanjilah untuk bilang padaku jika perutmu kram lagi. Apa pun alasannya, kita harus kembali. Kamu mengerti?" tanya Gaara lagi.
Dan lagi-lagi senyuman dan anggukan kepala adalah jawaban yang diterimanya.
.
.
.
"Gaara-kun ... aku masih mau main lagi," Hinata memasang wajah cemberut ketika remaja berambut merah itu memaksanya pulang.
"Kita harus pulang, Hinata. Aku tahu kamu sakit," tukas Gaara.
"Gaara-kun sok tahu deh," gumam Hinata.
Ucapan gadis itu otomatis membuat Gaara bak diserang migrain dadakan. Pertama kali dalam hidupnya, Hinata jadi terdengar begitu menyebalkan. Biasanya ia akan menuruti apa pun yang ia katakan. Kalau toh cemberut, takkan sampai mengatainya seolah Gaara adalah anak laki-laki yang arogan.
"Gaara-kun...,"
"Berisik," tukas Gaara tanpa menoleh.
Ia tetap melangkah, setengah menarik tangan Hinata agar gadis itu mengikuti langkahnya. Apa pun yang sedang dialami Hinata, Gaara tahu gadis itu tak berada dalam keadaan yang baik-baik saja. Toh, Paman Sasuke dan Paman Naruto pasti takkan memarahinya. Mereka juga pasti akan setuju dengan langkah yang dipilihnya, meski saat ini ia terlihat sangat menyebalkan di mata Hinata.
"Gaara-kun ... sakit...," Hinata terdengar sedikit meringis.
Apa mungkin pegangan tangannya terlampau kuat? Atau kram perutnya kembali menghebat? Gaara menghentikan langkah, menoleh ke arah sahabatnya lekat-lekat. Dilihat dari ekspresi dan gesturnya, agaknya tebakan kedua adalah prediksi yang lebih tepat.
"Masih bisa berjalan? Jika tidak, aku akan menggendongmu," tawar Gaara.
"A-aku masih bisa kok...," ucap Hinata lirih, "maafkan aku. Aku juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba aku menjadi sangat menyebalkan begini. Gaara-kun pasti kesal padaku."
"Naiklah," Gaara merendahkan tubuhnya seolah menyodorkan punggungnya.
"Eh? Ti-tidak usah Gaara-kun," ucap Hinata.
Gaara memicingkan matanya melihat sesuatu yang tak biasa, "Hinata, kakimu berdarah?"
"Eh?" Hinata menoleh ke arah kakinya. Ia membelalakkan mata ketika melihat tetesan darah dari pahanya.
"Ayo, kita harus cepat pulang. Kurasa ini menstruasi pertamamu. Ck ... mestinya aku sudah bisa menebaknya dari awal," ujar Gaara.
"Ba-bagaimana Gaara-kun bisa tahu? A-aku bahkan tidak menyadari kalau ini...,"
"Kita pernah belajar tentang ini di kelas lima. Hanya sekilas, sisanya aku baca dari buku-buku kedokteran milik Mama," jawab Gaara.
Hinata kembali menjadi gadis penurut yang dikenal Gaara. Ia tak menolak ketika Gaara menggendongnya. Pipinya merah padam, tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menyembunyika wajah di balik punggung remaja laki-laki yang melangkah tergesa-gesa.
"Paman! Paman! Tolong Hinata!" Setengah berteriak, Gaara memanggil kedua orang tua Hinata.
"Apa sih, Gaara-kun? Whoaa! Hinata-chan, kamu kenapa, Nak?" Wajah Naruto langsung berubah galak, setengah menuduh Gaara, "Kamu apakan putriku, Gaa-ra-kun?"
"Kurasa Hinata mengalami menstruasi pertamanya, makanya aku mengantarnya pulang," jelas Gaara.
"UAPAA?!" Naruto melotot tak percaya, "Ba-bagaimana ini? Sasu-teme! Aduh, aduh, bagaimana ini?" Lelaki berambut jabrik itu panik, tidak mengerti apa yang harus dilakukan.
Gaara hanya angkat bahu, sementara Hinata hanya pasrah menahan sakit akibat kram perutnya. Memang benar materi tentang menstruasi pernah dibahas sepintas di kelas lima, tapi tidak ada submateri tentang bagaimana cara menghadapinya. Dan lagi, papa dan ayahnya mana pernah membahas soal menstruasi pada wanita?
"Aduh ... bagaimana ini ... bagaimana ini...," Naruto mondar-mandir memikirkan solusi atas masalah itu, "ayo, kita ke dokter saja, Hinata."
"Bodoh," Sasuke menyahut, "belikan pembalut sana. Yang kutahu itu yang dibutuhkan wanita saat menstruasi."
"Cara pakainya?" Naruto balik bertanya.
"Err ... mudah-mudahan di kemasannya ada petunjuk," jawab Sasuke ragu-ragu.
"Terus bagaimana kalau ternyata tidak ada? Dan lagi, bagaimana cara memilih pembalut yang baik? Kalau kita salah beli terus Hinata-chan kenapa-kenapa bagaimana? Arrggh...," Naruto meremas rambutnya frustasi.
"Aku juga tidak tahu, Dobe!" Sasuke sedikit membentak. Meski ia terlihat sedikit lebih tenang dari Naruto, tetapi sebenarnya hatinya juga tak kalah gelisah dari pasangannya.
"Kalau beli pampers saja bagaimana? Minimal kita tahu cara pakainya, Hinata juga. Selesai kan?" usul Naruto tiba-tiba.
"Bodoh!" Sasuke menyentil dahi Naruto, "Kaupikir Hinata-chan umur berapa?"
"Ya terus harus gimana, Teme?!" Naruto balas membentak.
Gaara cuma bisa sweatdrop melihat pertengkaran dua lelaki yang (katanya) dewasa itu. Pencarian solusi mereka justru berbalik menjadi pertikaian nggak bermutu. Yang Gaara tahu, ia tak mungkin membiarkan Hinata terus-terusan merintih kesakitan seperti itu. Dan sepertinya ia tahu siapa yang bisa membantu.
"Paman, aku pinjam telepon," kata Gaara sembari melangkah mendekati meja telepon. Tanpa pelu jawaban dari kedua tuan rumah, ia menekan nomor-nomor yang familiar baginya.
"Mama, ke rumah Hinata sekarang, dong. Hinata-chan pendarahan, sepertinya menstruasi. Dan kami tidak tahu harus bagaimana menghadapinya," ucap Gaara.
Naruto dan Sasuke sama-sama melongo mendengar pembicaraan Gaara dengan ibunya. Ya ampun, kenapa nama Sakura sama sekali tak terlintas dalam benak mereka? Padahal wanita itu satu-satunya wanita di luar keluarga yang akrab dengan mereka.
"Nah, sudah merasa lebih baik, Hinata-chan?" Sakura tersenyum lembut ke arah gadis yang sudah dianggapnya seperti putrinya sendiri. Ia baru saja memberikan wejangan singkat pada Hinata, mengajarinya cara memakai pembalut, dan memberinya obat pereda rasa nyeri.
Hinata menganggukkan kepala, "Terima kasih, Bibi Sakura."
"Terima kasih, Sakura-san," ucap Naruto, "jujur saja, karena kami sama-sama laki-laki, kami tidak tahu bagaimana harus menghadapi ini."
"Bukan masalah, Naruto-san," ucap Sakura, "tapi sebagai imbalannya, kalian tidak keberatan untuk memberiku fanservice, kan?"
"Mama!" protes Gaara merasa tak suka. Cukup! Ia tak mau melihat adegan homo live di depan mata.
"Oho ... tentu saja tidak, Sakura-san," Sasuke merangkul cepat uke-nya, "hari ini aku seme-nya. Jadi kau ingin kami melakukan apa?"
"Aaa ... sayangnya aku sedang bosan dengan seme-seme sepertimu," kata Sakura yang otomatis membuat empat sudut siku-siku invisible di kening Sasuke, "Naruto-san, tidak keberatan kan kalau berfoto dengan Konohamaru? Dia menunggu di luar, lho."
"Okay," jawab Naruto cepat.
"Hey! Apa-apaan itu?!" Sasuke mendelik, "Sakura-san, tidak bisakah uke-nya aku saja?"
"Sayangnya aku sedang tertarik dengan uke yang polos dan seme yang periang," ujar Sakura sembari menebar senyum penuh makna.
"Bibi Sakura ... apa tidak bisa...,"
"Hanya berfoto saja, Hinata. Ayahmu akan baik-baik saja kok," potong Sakura seenaknya.
Sasuke mendecih tak suka. Harga dirinya seolah diinjak-injak mahasiswa dua puluh tahunan yang bahkan tak punya kelebihan apa-apa—setidaknya menurut pemikirannya. Hari ini dia seme, seharusnya ia yang lebih berkuasa atas uke-nya. Lihat saja ... lihat saja nanti malam pasti...
Naruto hanya tertawa ringan, menikmati ekspresi kesal yang tak mampu ditutupi pria Uchiha. Ah, sungguh menyenangkan melihat ekspresi lain di wajah tampan itu selain ekpresi patennya yang membosankan. Dan ia berani bertaruh, nanti malam Sasuke akan berlipat-lipat lebih agresif ketimbang biasanya. Di sisi lain, tak ada salahnya untuk sedikit menyenangkan hati Konoharu yang...
"Naruto-sama! Aku mencintaimu!"
... impulsifnya luar biasa!
.
.
.
TBC
.
.
Thank's to : Anne Garbo, Mitsuki Ota, Freeya Lawliet, Sabaku No'Ruki-Chan, Ms. Lana, Thi3x Noir, ryuva, Dae Uchiha, AmalBakti21 *err ... makasih, ya ^^ gomen update-nya lama. Selain karena kebanyaka utang update fic lain, dua bulan kebelakang saya ikut bantu-bantu IFA orz*, minatsuki heartnet mlas login*balesan ripyu-mu udah via sms kan, ya? #plakk*,Hanyou Dark, OraRi HinaRa, Merai Alixya Kudo, mizu aleynn, sin naka, NaruNarurin, nurul.wn, dan taintedIris
Seperti biasa, yang login saya balas via PM, ya ^^
Oke, mulai dari chapter ini fokus saya bukan lagi ke humor-nya, tapi lebih ke pembangunan (?) romens GaaHina-nya. Soal Konohamaru, anggap saja dia mahasiswa berumur awal dua puluhan ^^
Neji akan muncul di chapter depan. Tapi ... ada tapinya nih. Berhubung ini sudah memasuki bulan desember, saya nggak bisa update Gara-Gara Gaara. Target menulis saya sudah saya limpahkan ke X dan persiapan GaaHina Love Parade. Saya belum tahu kapan mau update Gara-Gara Gaara lagi karena saya belum punya program dan target yang pasti sepanjang tahun 2013.
Meski begitu feedback dari reader-tachi selalu saya nantikan di kotak review yang sangat luas ini ^^
Molto Grazie ^^
