Remake Story by Phoebe

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

Others

[Chanbaek]

.

.

.

.

.

.

Tuan Vincent tersenyum saat melihat Baekhyun datang bersama Chanyeol kerumahnya untuk memenuhi undangan perpisahan karena ia akan segera kembali ke Paris. Chanyeol sebenarnya lebih suka bila Baekhyun menelpon dan mengatakan kepada Tuan Vincent kalau ia terserang flu berat dan tidak bisa datang memenuhi undangan, tapi sepertinya Baekhyun tidak ingin membuat laki-laki tua itu kecewa.

Gadis itu lebih memilih untuk berpura-pura sehat dan tetap berkeras untuk datang. Tidak ada hal lain yang bisa Chanyeol lakukan selain menemaninya dan memastikan kalau Baekhyun dalam keadaan baik-baik saja.

"Kalian datang lebih cepat! Masuklah!"

Baekhyun dan Chanyeol kemudian mengikuti Tuan Vincent masuk kedalam rumahnya dan duduk di ruang tamu. Rumah besar ini dijaga dengan sangat ketat sejak mereka memasuki gerbang, beberapa pria berseragam dengan senjata dan Walkie talkie itu menyebar di seluruh penjuru. Bukan pemandangan yang aneh bagi Chanyeol dan kelihatanya juga begitu bagi Baekhyun. Pria yang menjaga pintu gerbang segera membukakan pintu begitu melihat Baekhyun, hal itu menandakan kalau Baekhyun sering kesini sehingga membuatnya cukup di kenal dengan baik.

"Kau terlihat pucat!" Tuan Vincent menatap Baekhyun dengan iba. Laki-laki itu bangkit dari sandaranya dan mencondongkan tubuhnya kepada Baekhyun yang duduk di hadapanya. "kau sedang sakit? Kau tidak perlu memaksakan diri untuk datang kalau begitu!"

"Tidak!" Jawab Baekhyun. "Tidak apa-apa. Hanya flu ringan dan aku sudah terbiasa dengan ini!"

"Benarkah? Kau sudah minum obat?"

"Aku sudah kedokter,bersama dengan…" Ia memandang Chanyeol sejenak lalu kembali berbicara. "Temanku!"

Tuan Vincent juga memandang Chanyeol sambil berdehem seakan-akan ia sedang tidak percaya dengan ucapan Baekhyun. "Terima kasih kau sudah menemaninya berobat!"

Chanyeol hanya tersenyum dan mengangguk.

"Dia menghubungimu dan mengatakan kalau sedang tidak enak badan?"

"Dia tidak akan mengatakanya kalau aku tidak bertanya. Semalaman dia tidak tidur dengan baik, sewaktu sarapan juga kelihatan pucat sekali." Chanyeol mencoba menjelaskan. Ia merasakan kalau tangan Baekhyun mencubit pinggangnya. Dia pasti takut Tuan Vincent salah faham. Baekhyun harus menyesali perbuatanya karena Chanyeol meraih tanganya dan menggenggamnya erat. "Dan aku ingin memberi tahu sebuah berita gembira. Semalan dia setuju untuk tinggal bersamaku!"

Tawa Tuan Vincent menggema dan kelihatanya laki-laki itu turut berbahagia. "Akhirnya kau mendapatkanya juga!"

"Tidak, Bukan begitu!" Baekhyun meralat pernyataan Chanyeol tadi. Ia terus berusaha melepaskan tanganya dari genggaman Chanyeol, tapi setiap kali terlepas Chanyeol berhasil mendapatkanya lagi. "Ini semua tidak seperti yang kau fikirkan!"

"Untuk apa kau membela diri? Tuan Vincent sudah tau semuanya!"

"Apa?" Baekhyun mematung. "Kau mengatakan apa?"

"Apa lagi? Kau meninggalkanku dulu tanpa sepatah katapun, dan sekarang saat kita bertemu lagi, aku berusaha supaya kau kembali kepadaku. Kau lupa?"

"Kenapa kau berkata seperti itu?" Suara Baekhyun mendesah, Ia bersandar ke sofa dan menarik tanganya dari genggaman Chanyeol sekuat tenaga. "Lepaskan Aku!"

Tuan Vincent yang sejak tadi menonton tersenyum saat melihat ekspresi Baekhyun dan kenakalan Chanyeol. Ia lalu berdehem sebelum mulai bicara. "Apa kalian butuh privasi? Kalau begitu kalian berdua ku tinggalkan disini hingga waktu makan malam tiba. Jadi bicaralah secara baik-baik!" Tuan Vincent kemudian berdiri dan masuk kerumahnya meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol di ruang Tamu.

"Kau sudah membuatku merasa tidak enak kepadanya!"

Baekhyun melanjutkan gerutuanya sambil terus berusaha menarik tanganya. "Kau tidak bisa melepaskan aku?"

"Memangnya kenapa? Tuan Vincent adalah orang yang paling faham dengan situasi kita saat ini!"

"Kau hanya membuatnya semakin salah faham."

"Tapi semua yang ku katakan benar!"

"Termasuk kau menikah denganku?"

"Kau ingin aku mengatakan itu?" Pandangan Chanyeol semakin dalam, Ia bisa melihat kalau Baekhyun sedang gugup dan tanganya agak gemetaran. Berontakanya melemah tapi ia terus berusaha melepaskan diri dari Chanyeol. "Kau gemetaran, ada apa? Gugup saat ku sentuh bisa berarti kau masih menyukaiku. Sedang tidak merasakan hal seperti itu kan? Bukankah kau sudah tidak mencintaiku lagi? Kau mencintai orang lain, Laki-laki yang tinggal bersamamu itu…"

"Lepaskan Aku! Jangan sampai aku memilih kabur dari rumahmu!"

Chanyeol melepaskan genggamanya. "Kau tidak akan melakukanya. Kau tidak punya pilihan lain selain tetap bersamaku!"

.

.

.

.

.

Ini adalah hari pertama Baekhyun kembali bekerja setelah kejadian penangkapan itu. Masih sangat pagi dan butuh penyesuaian yang khusus untuknya agar bisa menentang kebiasaanya yang sangat sulit untuk bangun pada jam-jam seperti ini. Meskipun sudah mandi dan berpakaian rapi, Baekhyun masih menggeliat dan menguap beberapa kali sebelum akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar dan segera berangkat kerja. Lagi-lagi ia harus termenung di depan cermin karena Chanyeol. Laki-laki itu menyentuhnya lagi dan Kali ini sama seperti sebelumnya, membekas dan tidak mau hilang. Mengapa ia harus merasakan hal seperti ini sekarang? Baekhyun menyerah dan tidak ingin berfikir lagi. Ia segera keluar dari kamar mandi dan bersiap-siap pergi kerja. Mengenakan seragam dan sedikit Make Up sudah cukup membuat Baekhyun kelihatan segar dan normal untuk segera membuka pintu dan keluar kamar. Ia mengerjapkan mata beberapa kali saat melihat Chanyeol yang berdiri di hadapanya begitu pintu terbuka. Laki-laki itu juga sudah sangat rapi. Pada hari senin seperti ini dia tentu sangat sibuk.

"Kau sudah bangun? Aku kira masih sakit!" Kata Chanyeol datar seolah-olah tidak terjadi apa-apa kemarin sore. Ia lalu memandang Baekhyun dari ujung rambut sampai mata kaki. "Sudah mau bekerja?"

"Bukannya kau tau semua tentang aku? Hari ini hari terakhirku masuk pagi!"

"Ya, tentu saja. Tapi bukanya sudah ku bilang, pakailah jaket kalau menggunakan seragam tanpa Apron jika tidak ingin dadamu yang besar itu di perhatikan orang!" Chanyeol terdengar agak garang.

Ia berusaha menahan tawa saat melihat Baekhyun menyilangkan kedua lengan di depan dadanya dan memiringkan tubuhnya menghadap kearah lain. Dia sedang malu-malu

"Bagaimana ini? Apa harus minta seragam baru?" Bisiknya.

"Pakaianku masih di rumah Kyungsoo. Aku tidak punya jaket atau semacamnya!"

Chanyeol baru teringat dengan hal seperti itu. Baekhyun baru menginap dua malam di rumahnya dan tidak memiliki pakaian apapun selain seragam, gaun pesta dan sweater yang kemarin di kenakanya selama seharian. Chanyeol segera berbalik dan berjalan menuju kamarnya sambil berujar, "Kalau begitu sarapan dulu. Ada roti panggang di atas meja. Aku mau siap-siap pergi kerja!"

Baekhyun menunggu Chanyeol sampai menghilang dan menutup pintu kamarnya, barulah ia beranjak kedapur dan duduk menghadap meja makan. Roti panggang dan segelas susu buatan Chanyeol di lahap pelan-pelan dengan perasaan haru. Sudah lama Baekhyun kehilangan kebiasaan sarapan dan ini pertama kali semenjak ia memutuskan untuk tinggal terpisah dengan Ayahnya.

Chanyeol membuka pintu kamarnya dengan bunyi yang keras. Tanganya membawa sebuah Jaket kulit berwarna Coklat tua dan menyodorkanya kepada Baekhyun setelah ia berada dalam jarak yang dekat dengan meja makan. "Pakailah,"

Baekhyun terperangah dan tidak bisa berkata apa-apa.

"Kau tidak perlu terharu seperti itu!" Kata Chanyeol lagi. "Tidak ada seoranag suamipun yang suka bila tubuh istrinyanya jadi tontonan orang!"

Baekhyun menghela nafas berat, lalu mengambil jaket itu dan segera memakainya. Setelah itu ia kembali menggigit roti panggangnya dan mengunyahnya dengan hati hati. Chanyeol masih mengira kalau dirinya seorang suami dari gadis berusia nyaris sepuluh tahun di bawahnya?

"Kau selalu makan dengan lambat seperti ini?" Chanyeol kemudian duduk di hadapanya. "Makanya kau merasa kenyang meskipun hanya makan sedikit! Diet memang penting bagi perempuan, tapi sekali-kali manjakan diri dengan makanan enak tanpa harus menghitung berapa kali kau mengunyah makanan!"

"Aku selalu makan enak setiap tahun, kalau aku pulang kerumah Ayahku!" Baekhyun membantah dengan nada pelan.

Chanyeol kembali diam dan memperhatikan Baekhyun makan sampai akhirnya gadis itu selesai dan meminum segelas susu dengan lahap. "Sudah selesai? Kalau begitu ayo, kuantar ke Dongdaemun!"

.

.

.

.

.

Baekhyun mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya. Chanyeol datang lagi dan semua teman kerjanya membicarakan orang itu. Semua temanya curiga kalau Baekhyun dan Chanyeol memiliki hubungan Khusus karena laki-laki yang selalu menungguinya selama beberapa hari belakangan ini untuk menjemputnya pulang kerja.

"Sis, dia memanggilmu!" Dahyun berdiri di hadapanya sambil menyodorkan nampan kosong. Wajahnya memandang Chanyeol yang baru saja masuk ke dalam Caffee Shop. "Kau selalu datang bersamanya, dia juga selalu menungguimu seperti ini setiap hari. Ada apa dengan kalian?"

Baekhyun meraih nampan kosong yang ada di hadapanya dan bertindak seolah-olah akan memukul Dahyun dengan benda itu.

"Kau tidak lihat kalau aku tidak menyukai ini?"

"Kau tidak menyukainya? Tapi kenapa kalian selalu naik mobil yang sama? Kenapa kau tidak pernah bisa memberikan perlawanan keras kepadanya seperti yang selalu kau lakukan kepada laki-laki iseng lain sebelumnya?"

"kau fikir aku tidak melakukanya? Aku sudah mencoba tapi tidak berhasil!"

"Dia sepertinya punya sesuatu yang mengikatmu!" Dahyun terkekeh.

Bunyi sebuah gelas keramik menghantam lantai mengejutkan keduanya dan membuat mereka menoleh kearah suara. Chanyeol membuat gara-gara lagi. Dia menjatuhkan kopi seorang laki-laki yang duduk di dekat pintu, laki-laki yang selalu datang hanya untuk sekedar mencicipi kopi racikan Baekhyun setiap harinya. Chanyeol membungkuk beberapa kali, ia meminta maaf dengan gaya khasnya yang menunjukkan rasa hormat setinggi-tingginya. Dahyun segera mendekat dan ikut meminta maaf kepada laki-laki itu atas kejadian yang tidak menyenangkan ini, tapi laki-laki itu mengangkat tanganya sebagai tanda kalau dirinya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.

"Aku akan mengganti semuanya!" Chanyeol berkata dengan sopan dan resmi. "Termasuk kopinya juga. Ini Kopi buatan Baoxian kan? Tolong minta dia membuatnya lagi untuk laki-laki ini, Aku yang bayar!"

"Baiklah, segera datang!" Jawab Dahyun ceria.

"Buatkan kopi yang sama untukku juga, dan aku harap dia mengantarkan sendiri pesanan kali ini!"

Chanyeol kembali membungkuk sekali lagi. Bangku paling pojok selalu menjadi pilihan terbaiknya karena dari tempat itu dia bisa melihat keseluruh ruangan dengan bebas. Kerja Baekhyun cukup cepat, beberapa saat setelah Dahyun dan staff lain membantunya membersihkan pecahan cangkir keramik, ia segera keluar dengan membawa pesanan. Coffee shop hari ini agak sepi, mungkin karena senin adalah hari tersibuk daripada enam hari lainya.

"Selamat menikmati!" Suara Baekhyun terdengar dari tempat Chanyeol duduk memperhatikanya. Ia menundukkan wajah dengan hormat kepada laki-laki itu lalu segera berpaling menuju Chanyeol dan meletakkan secangkir kopi Chanyeolal tanpa berkata apa-apa.

"Kau pilih kasih!" Ujar Chanyeol. Ucapanya kali ini membuat beberapa orang tamu memandangnya. "Kau mengatakan selamat menikmati kepada semua orang, tapi mengapa untukku tidak?"

Baekhyun tersenyum sambil menahan geram. "Maaf, saya sedang bad mood. Kalau begitu selamat menikmati pesanan anda!"

"Bad mood karena apa?" Chanyeol lagi-lagi mencengkram pergelangan tangan Baekhyun sehingga gadis itu tidak bisa bergerak.

"Karena aku?"

"Lepaskan, Kau bisa kutuntut dengan tuduhan pelecehan!"

Suara Baekhyun agak memelan. Ia memandang Chanyeol dengan kekesalan yang berlipat-lipat.

"Kalau begitu aku akan benar-benar melakukanya!"

"Tuan, Anda sudah mengganggu kerja saya!"

"Duduklah disini bersamaku! Tidak ada lagi tamu yang datang kan? Dalam waktu kurang dari semenit lagi jam kerjamu sudah habis. Maaf aku terlambat hari ini lain kali tidak akan lagi."

Baekhyun menelan ludahnya, Ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore. Pandanganya lalu kembali kepada Chanyeol yang masih berharap padanya untuk duduk bersama. "Aku tidak bisa melakukan itu! Sekarang lepaskan aku, dan biarkan aku bersiap-siap. Aku ingin cepat pulang!"

Chanyeol tersenyum penuh kesan. Ia melepaskan cengkramanya dan membiarkan Baekhyun pergi untuk kembali lagi kepadanya beberapa waktu kemudian. Bersama-sama mereka melangkah cepat menuju mobil. Chanyeol merasa senang hari ini, situasi manis seperti ini selalu membuatnya merasa sangat bahagia. Ia memasuki mobil dengan senyum mengembang dan sangat terkejut saat Baekhyun melempar tas kesayanganya kepada Chanyeol dengan brutal.

"Berhentilah bersikap seperti ini!" Baekhyun mengerang. Kali ini suaranya terdengar lebih keras dari biasanya. Selama ini, semarah apapun Baekhyun, gadis itu tidak pernah bersuara lantang. Baekhyun hanya menegaskan ucapannya bila ia marah-marah. Tapi kali ini sepertinya berbeda dari biasanya.

Senyum Chanyeol tiba-tiba memudar berganti dengan wajah galak yang selalu di keluarkanya setiap kali berdebat dengan Baekhyun

"Memangnya kenapa? Aku hanya mengkhawatirkan istriku. apakah salah?"

"Itu yang jadi masalah, Tuan! Kau selalu membuat orang salah faham dengan hubungan kita."

"Memangnya kenapa? Bukankah aku adalah suamimu? Tidak pernah ada kata cerai dalam pernikahan kita." Chanyeol melajukan mobilnya secara perlahan.

"Sayangnya aku tidak mengira seperti itu." Baekhyun mendengus. Teman-temanya malah mengira kalau Chanyeol adalah kekasihnya dan itu membuatnya risih. Semua teman-temanya selalu menyindir Baekhyun setiap kali Chanyeol datang menjemput, beberapa pelanggan bahkan ada yang berani bertanya langsung kepada Baekhyun dan Baekhyun tidak berani menjawab apa-apa.

Mustahil bila ia mengatakan kalau Chanyeol adalah suaminya sedangkan semua orang tau kalau Dirinya masih lajang. "Hentikan mobilnya!"

"Kenapa? Bukanya tadi aku bilang ingin segera pulang?"

"Pokoknya hentikan!"

Chanyeol menepikan mobilnya di depan deretan pertokoan yang belum begitu jauh dari Coffee shop, masih di Dongdaemun. Ia kemudian memandang Baekhyun yang sibuk merogoh tasnya, mengambil dompet dan memberikan secarik kertas tebal kepadanya. Sebuah foto bergambar pola-pola aneh dengaan warna hitam putih.

"Apa ini?" Tanya Chanyeol heran.

"Foto hasil USG dulu, aku terus menyimpannya dan ini akan terus membuatku mengingatmu sebagai orang yang merusak hidupku. Jadi bagaimana sekarang? Kau masih berfikir kalau dirimu adalah suamiku? Apapun yang mengikat kita sudah tidak berarti lagi setelah anak ini mati."

Chanyeol membeliakkan matanya. Jadi itu foto calon bayi mereka? Ken mengambil foto itu dan terkagum-kagum, tapi tidak lama. Dengan sedikit kamuflase halus ia berhasil menyelipkan foto itu ke saku jasnya dan memandang Baekhyun sengit. "lalu kenapa?"

"Kenapa? Aku tidak akan pernah bisa menerimamu kembali sampai kapanpun. Beberapa hari ini aku berusaha bersikap baik kepadamu dengan harapan bisa melupakan semuanya. Tapi semua perilakumu ini malah semakin memperdalam sakit hatiku!"

Chanyeol cukup terkejut. Tapi dirinya masih bisa menyembunyikan perasaanya dengan sempurna dan menatap Baekhyun dengan pandangan biasa. Dengan kata lain, saat ini Baekhyun tengah meminta Chanyeol untuk menjauhinya secara halus. Chanyeol tidak akan melakukan itu, Jangan pernah berharap kalau dirinya akan melepaskan Baekhyun saat ini. "Memangnya kenapa?" Ia mengulangi pertanyaan bodohnya. "Kau tidak akan memungkiri kalau status kita masih suami istri, kan? Meskipun tidak ada catatan secara hukum, meskipun hanya kita dan beberapa orang yang tau, Kita belum bercerai, nyonya muda. Jadi bersiaplah untuk terus mengingat semua kenanganmu bersamaku." Chanyeol kembali melajukan mobilnya dengan lebih cepat. Ia berharap segera sampai di rumah dan tidak perlu mendengarkan ucapan Baekhyun kali ini.

"Kau sudah melakukanya. Sekarang tidak perlu lagi!"

"Sudahlah, Jangan bicara lagi. Kau masih dalam pengawasan polisi dan belum bisa menjauh dariku setidaknya sampai akhir minggu ini. Jadi biarkan aku bertindak sebagai penanggung jawabmu kalau kau tidak mau Tuan Byun menjemputmu di kantor polisi."

Baekhyun akhirnya mengunci mulutnya. Senjata Chanyeol yang satu itu memang cukup jitu untuk membungkam Baekhyun sementara waktu. Tapi benarkah yang Baekhyun katakan tadi? Lalu mengapa dirinya tidak pernah tau tentang hal ini? Pokoknya, Chanyeol tidak akan membiarkan Baekhyun membicarakan topic ini lagi karena keberadaan Baekhyun beberapa hari ini sudah meramaikan hidupnya.

Meskipun Baekhyun jarang bicara dan kerap kali kelihatan bersedih. Meskipun ia harus melihat wajah tidak suka Baekhyun terhadapnya berkali-kali, semuanya bukan masalah. Asalkan Baekhyun ada disisinya dan Chanyeol selalu tau dimana keberadaanya saat ia ingin melihatnya.

"Antarkan kembali ke coffee shop!"

"Kenapa?"

"pokoknya antarkan dulu!"

Mobil berputar dengan cepat. Dalam waktu lebih singkat, Mobil Chanyeol sudah berhenti dengan sukses di depan Coffee shop tempat Baekhyun bekerja. Tempat itu sudah ramai kembali. Baekhyun masih mematung dan tidak mengatakan apa-apa. Gadis itu tampak belum ingin turun dan masih duduk di samping Chanyeol sambil menghela Nafas beberapa kali.

"Kau tidak sedang bekerja? Lalu kenapa kembali kesini?"

"Setelah ini jangan pernah mengantar atau menjemputku ku sampai di depan café, Turunkan di tempat yang agak jauh saja!"

"Apa?" Suara Chanyeol meninggi. "Sebagai Suami yang baik sudah seharusnya Aku memastikan istriku sampai di tempat kerjanya dan pulang dengan aman!"

Wajah Baekhyun kemudian menatapnya secara tiba-tiba. "Kalau begitu biarkan aku pergi sendiri setelah ini." Katanya sambil menadahkan tangan kepada Chanyeol. "Berikan aku uang!"

"Apa?"

"Berikan aku uang! Bukankah kau mengaku sebagai suamiku, seharusnya kau tidak keberatan untuk memberi aku uang belanja setiap hari! Mulai hari ini aku akan minta uang, dan besok berikan aku lebih banyak supaya bisa naik taksi!"

Chanyeol mendengus, Ia mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang kepada Baekhyun. "Baiklah. Tapi Kalau kau pulang kerja pada malam hari, aku akan tetap menjemputmu, mengerti?"

Baekhyun tidak langsung menjawab. Ia keluar dari mobil dan menutup pintunya dengan bantingan keras lalu berjalan cepat menuju caffee Shop, tapi beberapa saat kemudian Baekhyun kembali dan mengetuk jendela mobil sampai Chanyeol membukanya.

"Baiklah, Kau hanya boleh menjemputku kalau aku kerja sampai malam. Jangan menelpon sebelum aku telpon!" Katanya, lalu kembali ke caffe shop dengan gerakan yang lebih tenang.

.

.

.

.

.

.

TBC

READ , REVIEW , FAV PLEASE?

PS : KIM BAEKHEE , BAOXIAN SAMA BYUN BAEKHYUN ITU SATU ORANG YA

PSS : JADI WAKTU TINGGAL SAMA IBU KANDUNGNYA NAMA ASLINYA BAEKHYUN ITU KIM BAEKHEE TP SETELAH IBUNYA PERGI DR RUMAH DIA IKUT AYAH KANDUNGNYA BERUBAH NAMA JADI BYUN BAEKHYUN NAH SETELAH BAEK MERANTAU DAN HIDUP MENYENDIRI TRUS KERJA DI COFFESHOP DIA PAKE NAMA BAOXIAN KARNA DIA JUGA MENGHINDARI SESEORANG.