Berbeda dengan Kerajaannya, di Karasuno seorang Raja merupakan Kepala Pemerintahan dan Kepala Kerajaan. Jadi, Penasihat Raja Kerajaan Karasuno, Sugawara-sensei, hanya berfungsi sebagai penasihat saja. Salah satu dari lima orang yang bisa memberikan pertimbangan sebelum sang raja mengambil keputusan.
Di Kerajaannya, Raja atau Ratu hanyalah Kepala Kerajaan. Posisi Kepala Pemerintahan dipegang oleh Perdana Menteri mereka. Itulah mengapa di Kerajaannya, Bokuto-san yang merupakan Kesatria bisa menjadi seorang Raja. Lagipula, Kerajaan Fukurodani umumnya dipimpin oleh seorang Ratu, karena garis keturunan wanita lah yang akan memegang tahta. Itu sebabnya Akaashi tidak menjadi penerus Ratu Shirofuku. Selain karena ia adalah pangeran pungut, hak kuasa jatuh ke tangan Suzumeda—sekalipun Suzumeda juga bukan anak kandung dari Sang Ratu—karena ia berasal dari garis keturunan wanita setelah Ratu Shirofuku.
Akaashi diundang secara khusus hadir di rapat kali ini karena secara tidak langsung ia menawarkan diri untuk membantu menjemput Putri Yachi pulang ke rumah, "Kurasa kata menjemput terlalu lembut, hey!" Bokuto-san, sekalinya bersemangat, selalu menjadi orang yang mengkritik pilihan Akaashi. Baik tentang pilihan baju Akaashi pagi ini atau menu sarapan yang ia makan atau sepatu atau senjata yang ia bawa bahkan kata-kata Akaashi yang tidak terucap, "Kita akan merebut kembali Putri Yachi dari tangan Kaisar Oikawa. Kan terdengar lebih epik!"
"Kau benar, Bro!" Kuroo-san juga tidak mau susah payah menyembunyikan antusiasmenya menyambut misi berbahaya yang mungkin akan mereka emban. Keduanya ikut bersimpati karena rekan mereka ditinggal oleh anak perempuan semata wayangnya, namun mereka lebih senang melihat prospek bisa bergerak—dan menyuruh Akaashi, memerintah Akaashi, menunjukkan caranya bertarung pada Akaashi—dan mendapat sebuah petualangan yang menyenangkan. "Misi penyelamatan Putri Yachi."
Raja Sawamura berdeham. Semua percakapan bisik-bisik yang menjadi background suara menghilang sejenak. Bahkan Bokuto-san dan Kuroo-san ikut diam dalam pikiran Akaashi, mempersilakan sang kesatria muda itu untuk mendengar apa yang hendak dikatakan oleh teman mereka, "Selamat datang para dewan," ia mengangguk singkat ke arah lima orang yang duduk mengelilingi meja, "Dan Pangeran Akaashi," Akaashi mengangguk sopan. Ia sejujurnya ingin berteriak dan memerintahkan Raja Sawamura untuk tidak perlu berbasa basi dan berbicara langsung ke intinya saja. Sepertinya semangat kedua pendahulu Akaashi mulai bocor dan menular ke diri Akaashi sendiri.
"Seperti yang sudah kita ketahui kalau kita memiliki masalah pelik," pria berambut hitam itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, "Putriku diculik oleh Kaisar Oikawa dan Kesatria terkuat di Kerajaan ini tidak bisa pergi menjalani misi berbahaya karena hukum kerajaan."
Beberapa orang mengangguk. Beberapa orang saling berbisik, "Kemarin Pangeran Akaashi menawarkan solusi," Akaashi mengangguk singkat ketika ia merasakan pandangan Raja Sawamura ke arahnya. Ia memandangi satu per satu Dewan Raja Karasuno di sekeliling tempat duduknya, "Ia menawarkan untuk pergi langsung menjemput Putri Yachi ke Kekaisaran Aoba Johsai."
"Menyelamatkan Putri Yachi! Duh," Bokuto-san misuh-misuh sendiri, "Kenapa orang-orang terkesan meremehkan misi ini sih? Mereka tidak tahu sekuat apa Oikawa ya?"
"Jelas kalau berhubungan dengan Oikawa kita tidak bisa memakai kata-kata menjemput," Kuroo-san mendukung argumen dari Bokuto-san. Akaashi tidak pernah bertemu langsung dengan Kaisar Oikawa, tapi ia tahu kekuatan pria itu. Ia tahu seberapa menakutkan tentara Kekaisaran Aoba Johsai. Dan kalau apa yang dikatakan rumor adalah benar, Kaisar berambut cokelat itu semakin kuat sejak terakhir Akaashi mengikuti perkembangan berita tentangnya.
"Aku tidak tahu kau pernah bertemu dengan Oikawa," sapuan neutron milik Bokuto-san memenuhi permukaan otak Akaashi. Tapi pemuda itu, dengan caranya sendiri, berhasil melindungi kenangan-kenangannya yang paling gelap. Masa lalunya.
"Diam kalian," Akaashi berusaha tetap tenang meskipun sekarang ia merasa kalau kedua pendahulunya itu semakin gencar berusaha mengintip ke dalam kenangannya, "Aku tidak mau melewatkan detail yang dibahas di rapat ini."
Bisik-bisik di luar kepala Akaashi makin heboh. Suara mereka tidak lagi sepelan bayu kini, seiring dengan meningkatnya kegairahan dan kecemasan di dalam ruangan. Namun begitu Raja Sawamura memukul meja kayunya, ruangan kembali hening, "Bagaimana dengan izin dari Kerajaan Fukurodani sendiri?" salah satu anggota dewan, yang berambut hitam ikal yang mengenakan kacamata bertanya dengan ragu-ragu, "Kau pasti tahu, Pangeran Akaashi, kalau Kerajaanmu dan Karasuno baru membuat perjanjian perdamaian ketika Raja Bokuto yang berkuasa."
"Wah, kau memang hebat, Bro!" Kuroo-san menepuk bahu Bokuto-san yang membusungkan dadanya dengan bangga.
"Ehe," pria berambut putih-abu-hitam itu menyeringai lebar, "Tapi aku tidak akan bisa melakukannya tanpa kau, Bro! Kau membantuku membuat semua ini menjadi nyata, Bro!"
"Aku bangga padamu, Bro!" Kuroo-san memeluk Bokuto-san.
"Aku tidak akan bisa tanpa dirimu, Bro!" Bokuto-san balas memeluk Kuroo-san.
"Bro…!" mereka berteriak bersamaan sambil berpelukan.
"Tidak masalah karena Ratu Shirofuku menyuruhku menawarkan bantuan kepada kalian," Akaashi mengabaikan kedua pendahulunya yang masih berpelukan sambil mengeluarkan air mata dan mengucapkan 'bro' berkali-kali seolah itu adalah mantra, "Selain menyerang Kerajaanku. Menyelamatkan Putri Yachi tidak berarti menyerang Kerajaanku, jadi kurasa aku bisa membantu."
Raja Sawamura berdeham, "Tuan-tuan," ia kembali memandangi satu per satu dewannya, "Kurasa kalian paham kalau waktu adalah hal esensial untuk menyelamatkan Putriku dan kurasa kita tidak punya banyak waktu. Jadi aku akan langsung melakukan voting. Kalian yang setuju untuk mengirimkan Pangeran Akaashi dalam misi menjemput Putri Yachi harap angkat tangannya."
"MENYELAMATKAN, DUH!" Bokuto-san dan Kuroo-san sudah memisahkan diri. Sementara Bokuto-san ngedumel sendiri, Kuroo-san memperhatikan hasil voting dan menyuruh Akaashi menatap para anggota dewan satu per satu.
Hanya empat yang terangkat. Pria berambut hitam ikal yang mengenakan kacamata tadi tidak mengangkat tangannya, "Suara mayoritas," Raja Sawamura mengangguk, "Pangeran Akaashi, aku membutuhkan Anda untuk memberikan pengumuman resmi di balkon istana nanti siang."
.
.
Souls in Sword belong to Arleinne Karale
Haikyuu! belong to Haruchi Furudate
The Author does not take any financial benefits from this story. This story only exists purely for entertainment
An Alternate Universe, possibly out of character, lot of typos story with no actual pairing
Read at your own risk
.
.
Akaashi mengapresiasi keheningan yang terjadi. Ia memandangi permukaan kolam yang tenang. Cahaya matahari menembus lapisan tipis bak kaca itu, memperlihatkan dibawahnya ikan-ikan saling berkejaran dan berenang bebas. Mungkin menyenangkan menjadi ikan. Ikan tidak memiliki dua suara menyebalkan yang berbicara di dalam kepalanya.
"Kau keterlaluan," Bokuto-san mengerucutkan bibirnya, "Aku terluka."
"Well, aku tidak keberatan menjadi ikan," Kuroo-san mengangkat bahunya, "Asal jangan dimakan saja."
"Pangeran Akaashi," Akaashi menoleh dan mendapati Pangeran Kageyama berjalan santai ke arahnya. Pemuda itu selalu tampak siaga dan awas. Manik biru keabuannya selalu memandang tajam, membuat matanya yang seperti biji almond tampak lebih kecil dari biasanya. Dengan cara dahinya yang selalu berkerut, Akaashi yakin pria itu akan mendapat penuaan dini dengan segera.
"Pangeran Kageyama," Akaashi menunduk singkat.
"Kenapa sih kau tidak pakai mahkotamu?" Bokuto-san memprotes. Akaashi memilih tidak menjawab. Seharusnya dua orang pendahulunya itu tahu kalau mengenakan mahkota hanya mempersulit hidupmu saja, "Maksudku kau kan pangeran di kerajaan tetangga! Bagaimana kalau orang-orang tidak tahu siapa kau?" Well, Akaashi tidak mau banyak orang tahu kalau ia adalah seorang pangeran, sejujurnya. Ia masih risih dengan gelar itu. Ia masih tidak nyaman dengan perlakuan orang-orang kepada Pangeran Akaashi yang jauh berbeda daripada perlakuan mereka kepada Akaashi.
"Ayah memerintahkanku untuk mengantarmu ke tempat latihan tentara," pemuda berambut gelap itu menerangkan maksud kedatangannya, "Beliau bilang kau dipersilakan membawa berapapun tentara yang kau inginkan."
Akaashi mengikuti Pangeran Kageyama. Mereka berdua menyusuri lorong batu dalam keheningan. Pangeran Kageyama bukan tipe orang yang hobi membuka pembicaraan. Akaashi juga tidak terllau suka membuka mulutnya hanya untuk sekadar berbasa-basi, "Kau harus mengubah kebiasaanmu itu, tahu. Kau kan pangeran," kalau dihitung, hari ini Bokuto-san sudah 27 kali mengkritik pilihan Akaashi.
"Bokuto benar," ini sudah yang 23 kali Kuroo-san setuju dengan apapun yang dikatakan oleh Bokuto-san, "Kelak kau akan beraudiensi mewakili Sang Ratu kan?" audiensi adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh Keluarga Kerajaan. Umumnya audiensi adalah bertemu dengan warga kerajaannya, atau menjamu kerajaan lain, atau pergi ke luar negeri. Intinya audiensi adalah pertemuan dengan orang diluar keluarga kerajaan untuk membahas apa saja dan dimana saja. Dalam satu tahun, menurut Suzumeda, keluarga mereka bisa menerima ribuan audiensi. Biasanya audiensi hanya dilakukan oleh Ratu Shirofuku dan Suzumeda. Namun dalam waktu dekat, Akaashi yakin dirinya pasti akan mulai dilibatkan.
"Ada berapa jumlah tentara di Kerajaan Karasuno?" Akaashi bertanya. Mereka berbelok. Kini Akaashi dan Pangeran Kageyama berada dalam bayang-bayang kanopi, sementara dihadapan mereka di lapangan rumput yang luas, puluhan tentara tampak sibuk berlatih sendiri.
Terlambat Akaashi menyadari kalau itu adalah pertanyaan sensitif yang bisa ia ajukan kepada seorang Pangeran dari Kerajaan Tetangga.
"Sepertinya tidak banyak," Bokuto-san menjawab. Matanya menyipit.
"Lagipula, siapa yang butuh tentara rendahan?" Kuroo-san mengangkat bahunya, "Akaashi bisa melenyapkan Karasuno kalau ia mau."
"Jelas, Bro!" Bokuto-san mengkat pedang yang berasal entah darimana, "Kan ada kita, Bro!"
"Itu maksudku, Bro!" Akaashi sudah menduganya. Kedua mantan Kesatria itu tidak akan pernah memuji Akaashi tanpa memuji diri mereka sendiri di dalamnya.
"3645 orang, " Pangeran Kageyama menjawab, "Tapi yang ada disini adalah yang paling kuat di batalion," Akaashi mengangguk.
Ia memandang sekilas ke arah pria-pria berotot yang tersebar di hadapannya. Dentingan logam, suara panah yang melesat, gerutuan, dan gumanan mengingatkan Akaashi akan masa-masa pelatihannya sebagai calon Kesatria. Ia tersenyum kecil, Akaashi tidak terlalu tertarik membawa anak buah. Ia sendiri saja cukup. Lagipula, dirinya bernilai 3 orang biarpun 2 orang lainnya hanya bisa muncul selama tujuh menit.
"Apakah aku harus membawa pasukan?" Akaashi bertanya pada Pangeran Kageyama. Sekilas, pemuda yang usianya setahun dibawahnya itu memandangnya keheranan.
"Kurasa terserah Anda, Pangeran Akaashi," dengan cueknya ia mengangkat bahu, "Kalau kau mau membawa pasukan silakan pilih dari sini. Kalau tidak… kurasa tidak masalah," Pangeran Karasuno itu tampak ragu.
"Aku hanya ingin membawa penyembuh," ujar Akaashi.
"Kurasa itu bisa diatur," Akaashi kembali mengikuti langkah Pangeran Kageyama yang membawanya masuk ke dalam istana.
Balkon istana berhadapan langsung dengan alun-alun kota, dan wilayah terbuka itu sungguh ramai di jejali manusia. Penduduk Karasuno tampaknya selalu antusias ketika Raja mereka mengumpulkan warganya untuk memberi pengumuman. Tapi dari sorot putus asa beberapa orang dan dari raut kecemasa para pria dewasa, Akaashi hampir yakin kalau mereka semua sudah tahu putri mahkota mereka diculik oleh Kaisar Tetangga.
Akaashi berdiri di sisi Raja Sawamura, tidak jauh dari tempatnya ada Sugawara-sensei. Pangeran Kageyama yang seharian menemaninya dan mengikutinya seperti anak gagak berdiri di sisi lain ayahnya. Keduanya tampak agung ketika mengenakan jubah kebesaran Kerajaan Karasuno, jubah berwarna merah darah dengan bulu hitam di kerah dan di bagian bawah. Keduanya juga mengenakan mahkota dengan batu sewarna matahari yang tidak bisa Akaashi identifikasi apa jenisnya—dan Kuroo-san tidak mau memberi tahu apa nama batunya.
Semua mmebungkuk ketika Raja Sawamura dan Pangeran Kageyama mengangkat tangan mereka, "Seperti yang kalian tahu, Wargaku, putriku tersayang di culik oleh Kaisar Oikawa," hening. Seolah bahkan manusia yang berdiri di bawah Akaashi tidak bernapas sama sekali, "Hari ini, Pangeran Kerajaan Fukurodani berkunjung ke Kerajaan Kita. Beliau pun memberikan saran dan masukan untuk menjemput kembali Putri Yachi."
Seperti yang Akaashi duga, kerumunan berubah ramai. Seperti yang Akaashi duga juga, Kuroo-san dan Bokuto-san kembali misuh-misuh ketika Raja Sawamura menyebut kata 'menjemput', "Menyelamatkan, astaga!" Bokuto-san menendang kerikil yang tiba-tiba muncul.
"Sabar, Bro!" tapi ekspresi Kuroo-san menggelap sama seperti Bokuto-san. Nampaknya kalau sekali lagi Raja Sawamura menyebut kata 'menjemput' keduanya akan meledak. Akaashi sejujurnya tidak mau bertanggung jawab kalau keduanya meledak karena kesabaran mereka sudah sangat tipis. Tapi kalau mereka sampai marah-marah, mereka akan menyalurkannya melalui Akaashi.
"Pangeran Akaashi akan memulai petualangannya besok pagi," Raja Sawamura menjelaskan rencana Akaashi kepada warganya. Sejujurnya Akaashi tidak terlalu setuju dengan cara Raja Sawamura. Ia berencana membeberkan waktu keberangkatan Akaashi dan dengan siapa Akaashi pergi. Bagaimana kalau diantara warga Karasuno ada seorang pengkhianat? Jelas Kaisar Oikawa tidak bisa menculik Putri Yachi tanpa informasi dari dalam kan? Tidak mungkin mereka kebetulan saja bertemu lalu Kaisar Oikawa membawa pulang Putri Yachi ke istananya sebagai oleh-oleh.
"Daichi memang suka begitu," Kuroo-san menghela napas. Sepertinya, diantara Kuroo-san dan Bokuto-san, Kuroo-san lah yang lebih banyak mengenal orang-orang. Atau mungkin karena Kuroo-san lebih peka saja makanya ia lebih mudah memahami orang.
"Apa pula memulai petualangan?" Bokuro-san semakin geram, "Memangnya kita kelihatannya mau jalan-jalan?" perlukah Akaashi mengingatkan kalau kedua pendahulunya itu yang begitu menginginkan 'misi' agar mereka bisa 'jalan-jalan'?
"Itu beda," Kuroo-san menyeringai lebar, "Oikawa berbahaya," ia membayangkan seorang lelaki yang berambut cokelat. Dengan mata cokelat menawan dan senyum sempurna.
"Oya?" fokus Bokuto-san teralihkan, "Kau pernah bertemu Oikawa?"
Akaashi tahu kapan Kuroo-san bertemu dengan Kaisar Oikawa, "Dalam petualangannya, Pangeran Akaashi akan ditemani oleh salah seorang penyembuh kerajaan, Master Tsukishima."
"Jadi cuma aku disini yang sebetulnya tidak pernah bertemu langsung dengan Kaisar Oikawa?" Bokuto-san merenungi nasibnya, duduk di pojokan sambil memeluk lututnya. Serbuan rasa simpati langsung menguasai emosi Akaashi. Kuroo-san yang peka mendekati Bokuto-san dan memeluk pria yang sedang pundung itu dari belakang.
"Yang penting kita bertemu kan, Bro?" Kuroo-san menepuk bahu Bokuto-san, "Yang lainnya tidak usah dipikrkan, Bro!" padahal Akaashi pikir Bokuto-san juga pernah bertemu dengan Kaisar Oikawa dari caranya berkali-kali berkata bahwa pria itu berbahaya.
Bisik-bisik semakin keras di bawah. Fokus Akaashi teralihkan.
Omong-omong soal rekan seperjalanannya, Akaashi belum bertemu dengan Master Tsukishima. Ketika ia dan Pangeran Kageyama pergi ke ruang penyembuhan, mereka hanya bertemu dengan Master Asahi yang tampak sibuk meracik sesuatu. Tanpa berpaling dari buku tebal dan rempah-rempah di hadapannya, ia bilang besok Akaashi akan ditemani oleh Master Tsukishima.
"Mungkin Master Tsukishima itu penyembuh yang sudah tua renta," Bokuto-san merenung. Emo modenya sesingkat hujan di musim panas.
"Kurasa tidak. Kalau ia tua renta ia tidak akan disuruh ikut Akaashi, Bro," Kuroo-san menyanggah.
Semuanya menoleh ke arah Akaashi. Akaashi memandangi mereka kebingungan. Ekor mata Pangeran Kageyama tertuju ke arah warganya. Raja Sawamura mengedikkan kepalanya ke arah alun-alun, "Katakan sesuatu," Sugawara-sensei berbisik pelan. Jadi sepertinya mereka ingin Akaashi berkata sesuatu.
"Lihat ulah kalian," Akaashi mengehela napas. Ia selalu tidak mendengarkan sekitarnya ketika Bokuto-san dan Kuroo-san berbicara di dalam kepalanya.
"Hey, hey, hey! Jangan tumpahkan kesalahanmu kepada kami dong!" Bokuto-san kembali misuh-misuh. Hari ini pria itu sudah misuh-misuh semanyak 16 kali. Kepala Akaashi sakit.
"Mohon doanya," Akaashi berujar dengan singkat, "Aku akan membawa Putri kalian kembali."
Semua orang bertepuk tangan. Samar-samar Akaashi bisa mendengar jeritan para gadis, "Well, lihat siapa yang punya fans," Kuroo-san menaikkan alisnya. Seringainya lebar.
"Kei Tsukishima," pria berambut pirang yang mengenakan kacamata itu mengenakan kaos lengan panjang berwarna hitam dan celana panjang hitam. Sepatu bot yang berwarna hitam membuat Akaashi hampir yakin kalau warna favorit pemuda itu adalah hitam. Mungkin tidak lama lagi ia akan mengecat rambut pirangnya menjadi hitam karena bingkai kacamatanya juga hitam.
"Keiji Akaashi," mereka berjabat tangan. Singkat dan kuat. Master Tsukishima terlihat terlalu muda untuk menjadi seorang penyembuh kerajaan. Menurut perkiraan Akaashi, ia seharusnya seumuran dengan Pangeran Kageyama, yang berarti usianya setahun lebih muda dari Akaashi. Di Kerajaannya, untuk menjadi seorang master penyembuh, kau harus berlatih selama 10 tahu dibawah bimbingan Penyembuh Kerajaan. Mungkin Karasuno memiliki aturan yang berbeda.
Tiba-tiba Akaashi merasa tangannya gatal ingin meninju Master Tsukishima, "Aku tidak suka wajah soknya," Kuroo-san mendecih sebal. Untuk pertama kalinya—semenjak ia mendengar kedua mantan kesatri itu di dalam kepalanya—Kuroo-san menyatakan rasa tidak sukanya pada seseorang, "Heh! Seolah-olah ia bisa bertahan hidup di hutan saja."
Akaashi berharap dalam hati semuga pemuda berambut pirang itu bisa bertahan hidup dalam hutan dan cukup kuat untuk ada di sisinya sampai misi selesai. Kalau Master Tsukishima meninggal dunia di tengah jalan, apa fungsinya Akaashi meminta seorang penyembuh untuk menemaninya? "Kau cukup muda untuk menjadi seorang Master Penyembuh."
Ia mengangkat bahunya, cuek. Pemuda itu berjalan meninggalkan Akaashi, ke arah gerbang istana, "Kurasa aku hebat dalam pekerjaanku," ia berhenti dan menoleh ke arah Akaashi, "Aku harus pergi ke pasar untuk membeli bahan. Persiapan untuk besok."
Akaashi tidak mendengar adanya ajakan dalam kalimatnya. Tapi Akaashi juga membutuhkan beberapa bahan untuk membuat sedikit ramuan dan racun yang ia tahu. Maka ia pun berjalan mengikuti pria itu, "Kau pun terlihat cukup muda untuk menjadi seorang Kesatria," Master Tsukishima berkomentar ketika langkah mereka sudah sejajar.
"Aku hebat dalam pekerjaanku," Akaashi menjawab singkat.
Di dalam kepala Akaashi, Bokuto-san dan Kuroo-san misuh-misuh sendiri. Mereka melempar bantal, guling, sofa, meja, kursi ke arah Akaashi. Berbagai gambar furniture termasuk lemari dan kitchen set berterbangan di kepala Akaashi, "BERHENTI SOK KEREN GITU! JIJIK TAHU GAAAAAAAAAAAK?" Bokuto-san berteriak dalam volume yang membuat telinga Akaashi berdenging.
"Kau tidak boleh lebih keren dari kedua pendahulumu, Akaashi," Kuroo-san, berbeda dengan Bokuro-san, mengucapkan kalimatnya dengan suaranya yang dalam dan bernada rendah. Tatapan matanya tajam. Mengancam, "Kau tidak mau jiwamu terhisap ke pedang dalam waktu dekat kan?"
Akaashi jadi bertanya-tanya apakah kedua makhluk itu bisa membunuhnya. Tapi mengingat intensitas kebencian mereka akan kekerenan Akaashi dan kekuatan mereka semasa menjadi Kesatria dulu, Akaashi rasa kedua orang itu bisa membunuhnya kapan saja, "Benar, hey! Makanya jaga sikap, Akaashi!" Bokuto-san mengacungkan pisau dapur ke arah Akaashi.
Akaashi memijat pelipisnya, "Pangeran Kageyama," kata itu mengandung intensitas kebencian yang tinggi, membuat Akaashi dan dua orang penghuni kepalanya kaget dan terdiam, "Bilang kau sering memijat pelipismu. Dia menyuruhku mengecek kalau ada yang salah," tapi ketika Akaashi meneliti wajahnya, tidak ada apa-apa disana. Master Tsukishima tampak tenang seperti biasanya. Tidak ada kebencian tertera di dalam manik gelap yang berbingkai kaca bening itu. Mungkin nada bicaranya tadi hanya bayangan Akaashi saja?
"Aku baik-baik saja," perhatian Akaashi teralihkan pada toko makanan. Mereka menjual dendeng daging, sebuah makanan yang akan tahan lama. Dan jelas sebuah komponen yang krusial dalam setiap petualangan. Akaashi mendekat ke arah penjual dan langsung membeli apa yang ia butuhkan.
"Hey, Akaashi," untuk yang puluhan kalinya Bokuto-san siap memberikan kritik pada Akaashi. Semoga saja kali ini kritiknya membangun, "Harusnya kau bisa menawar dendengnya, hey!"
"Bokuto benar," tampaknya di mata Kuroo-san, Bokuto-san hanya sedikit sekali melakukan kesalahan, "Harganya mahal untuk sepotong dendeng."
"Kau bisa menawar belanjaanmu," Akaashi tidak percaya ternyata Master Tsukishima juga sependapat dengan kedua pendahulunya, "Disini kau bisa menawar barang yang kau beli."
Akaashi mengangguk singkat. Langkah Master Tsukishima membawa mereka mendekat ke arah toko herbal, yang menjual macam-macam dedaunan dan kristal-kristal serta cairan berbagai warna dalam vial kaca. Master Tsukishima segera saja melupakan Akaashi dan tenggelam dalam dunianya, menawar harga sebuah tanaman, mencium bau cairan berwarna keunguan, mengecek dedaunan kering yang ada dalam bungkusan. Segala hal yang selalu ia kerjakan tampaknya membuatnya nyaman dan ia lupa kalau ada Akaashi disana.
Akaashi membeli beberapa ramuan yang ia kenal dari warna dan baunya. Ia pun membeli beberapa tanaman yang ia tahu bagaimana cara mengolahnya untuk menjadikan obat pertolongan pertama atau racun yang akan berguna. Akaashi sedang melihat beragam kristal yang namanya tidak absen disebutkan oleh Kuroo-san biarpun batu itu tampak asing dimata Akaashi dan Bokuto-san, ketika ekor matanya menangkap seseorang yang bergerak.
Akaashi menarik pedangnya. Leher seorang pria berambut jingga nyaris terpenggal dan nyawanya nyaris melayang kalau saja Akaashi bukan seorang Kesatria yang hebat, "Ah," seorang pemuda pendek menatap Akaashi dengan sorot hazelnya yang… mengintimidasi. Anehnya, ia tidak ketakutan melihat Akaashi. Atau pedang Akaashi. Padahal Akaashi hampir 100% yakin seluruh warga Karasuno mengenalnya sekarang setelah pengumuman Raja Sawamura tadi siang.
Berlawanan dengan ketakutan, pemuda berambut oranye cerah itu menatap Akaashi dengan penuh semangat. Sorot matanya memancarkan kekaguman. Kakinya yang bergerak gelisah membuat Akaashi bertanya-tanya apakah pemuda pendek dihadapannya itu ketakutan atau kelewat tidak bisa diam, "Selamat sore, Pangeran Akaashi," Akaashi menyimpan kembali pedangnya di dalam sarungnya. Pemuda itu membungkuk dalam, "Aku mau ikut misimu besok. Tolong beritahu aku titik pertemuannya."
"Memangnya kau bisa—"
"Lain kali, pikir dulu sebelum ngomong, Pendek," pertanyaan Akaashi bahkan belum sempat terucap. Master Tsukishima keburu memotongnya. Sepertinya ia sudah selesai berbelanja karena kedua tangannya kini memegang kantung kertas berwarna cokelat. Dedaunan menyembul dari bagian atasnya.
Wajah pemuda pendek itu memerah. Dilihat dari interaksi mereka, tampaknya Master Tsukishima dan pemuda berambut jingga ini memiliki hubungan yang cukup dekat. Master Tsukishima pun tampak lebih santai ketika berbicara dengannya, "Kau tahu misi yang akan kami jalani besok berbahaya?" Akaashi bertanya. Pria muda itu mengangguk penuh semangat. Matanya berbinar. Senyumnya lebar. Akaashi membayangkan ada kilata-kilatan sparkle di sekeliling matanya.
"Kau tidak akan membutuhkan orang seperti si Pendek ini, Pangeran Akaashi," Master Tsukishima melangkah lebih dulu. Dengan santainya melewati pemuda yang daritadi dipanggil pendek olehnya itu.
"Hey, Tsukishima! Jangan begitu dong!" Akaashi kembali terlupakan karena pemuda itu mengikuti Master Tsukishima dengan langkah yang panjang-panjang, "Kau kan bisa memujiku di depan Pangeran Akaashi agar aku bisa ikut misi."
Master Tsukishima tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya berpaling sebentar, menatap ke arah teman pendeknya. Sorot matanya tajam dan mematikan. Dahinya berkerut tidak senang dan bibirnya cemberut tidak suka, "Apa yang bisa dibanggakan dari Alchemist gagal macam kau?"
"JAHATNYA!" teriakan si pendek membuat orang-orang menoleh ke arah mereka. master Tsukishima terus saja jalan sekalipun rekan berambut jingganya berhenti dan mengepalkan tangannya. Tampaknya kesal. Akaashi menanti dengan sabar.
"Seorang Alchemist, hey!" Bokuto-san berteriak dengan penuh semangat. Sebelum menjadi salah satu calon Kesatria, Bokuto-san berasal dari keluarga yang memiliki sejarah panjang terkait dengan Alchemist di Kerajaan Fukurodani.
"Si Pirang Sok bilang dia Alchemist gagal," Kuroo-san mengangkat bahunya.
Akaashi melangkah ke arah pemuda berambut oranye yang masih berdiri di tengah jalan. Akaashi menepuk bahunya, "Kau bisa apa?" Akaashi menatap kedua manik cokelat yang penuh determinasi itu, "Apa yang bisa kau lakukan untuk membantuku dan Master Tsukishima?"
Ia mendengus begitu mendengar nama Tsukishima disebut, "Aku tidak akan membantu si Sombong itu," ia menjawab dengan kekesalan yang begitu kentara. Nada bicaranya yang tinggi dan cepat, dahinya yang berkerut, alisnya yang berkedut, "Tapi aku bisa melindungi Anda, Pangeran Akaashi," Akaashi mengangkat sebelah alisnya. Ketika ia berbicara dengan dan tentang Akaashi, sikapnya berubah tenang. Nyaris damai padahal Akaashi sudah melihat sisi lain dirinya yang meledak-ledak.
"Aku bukan Alchemist terhebat di Karasuno, tapi aku tidak memerlukan permata mahal untuk mempraktekkan sihirku," Akaashi memandangnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Seorang Alchemist umumnya adalah orang kaya, seorang saudagar atau pedagang. Seorang Alchemist menggunakan batu-batuan sebagai media untuk menyalurkan sihir mereka. Semakin berharga batu yang digunakan maka akan semakin kuat sihirnya.
"Tapi kekuatan seorang Alchemist tidak hanya dinilai dari batu apa yang ia gunakan, hey," entah mengapa Bokuto-san sangat membela bocah ini, "Aku pernah bertemu Alchemist macam Chibi-chan ini. Hanya dengan menggunakan batu kerikil dan batu bata ia bisa membuat benteng!"
"Kurasa si Chibi-chan belum sehebat itu," Kuroo-san mengangkat bahunya. Ia tidak terlalu peduli sejujurnya. Sedari tadi ia hanya ingin mengusir 'Si Pirang Sok' dari misi ini tapi belum menemukan caranya, "Tapi kalau Chibi-chan bisa membuat pelindung dari batu itu akan sangat berguna untuk melawan naga."
"Memangnya kita akan bertemu naga?" Bokuto-san bertanya. Bukannya Akaashi sombong, hanya saja terkadang Akaashi merasa lebih mengetahui tentang dunia daripada Bokuto-san yang seorang Raja dan jelas lebih tua.
"Si Oikawa memiliki peliharaan naga," Kuroo-san menerangkan, "Lagipula tidak hanya perbatasan kita saja yang dilindungi oleh naga."
Mulut Bokuto-san membulat membentuk huruf 'o' sempurna. Sementara mereka melakukan hal-hal konyol seperti biasa, Akaashi harus memutuskan apakah ia akan membawa pemuda ini besok atau tidak. Akaashi melihat determinasi di wajahnya. Kuroo-san bilang ia akan berguna nantinya. Bokuto-san hanya senang menemukan Alchemist lain, tapi cenderung setuju untuk mengajaknya pergi misi.
Ada sesuatu. Ada alasan lain dibalik keinginannya untuk ikut misi bersama Akaashi. Tapi Akaashi belum tahu apa. Melihat tingkahnya saat bersama Master Tsukishima jelas pemuda ini tidak menyukai partner Akaashi itu, "Kutunggu kau di depan pintu benteng besok pagi."
Akaashi mengejar Master Tsukishima yang tampaknya belanja lebih banyak barang ketika Akaashi sedang berdialog dengan temannya yang pendek itu. Pemuda berambut pirang itu kini membawa gerobak kecil yang berisi kantung kertas cokelat yang ia seret dengan santai, "Tolong bilang kau tidak mengajaknya misi."
"Aku mengajaknya," Akaashi menjawab singkat. Ia mengintip kantung belanjaan Master Tsukishima. Selain tanaman dan vial ramuan, Master Tsukishima juga membeli acar dan makanan tahan lama lainnya. Ia juga membeli barang-barang aneh yang Akaashi duga sebagai bahan ramuan misalnya saja cakar ayam, insang ikan, sayap kelelawar, dan bagian tubuh hewan lain yang tidak bisa Akaashi identifikasi.
Sejujurnya Akaashi terkejut ketika pria berambut pirang itu malah menghela napas panjang. Ia pikir Master Tuskishima akan mengeluarkan api dari mulutnya melihat seberapa bencinya pemuda itu pada rekan baru mereka, "Namanya Shouyou Hinata," Akaashi makin terkejut ketika ia malah menceritakan tentang pemuda berambut jingga itu, "Ia bukan berasal dari keluarga kaya. Ia Alchemist yang salah jurusan."
Keduanya berhenti ketika mendapati Pangeran Kageyama menunggu di depan gerbang kastil, "Hinata ya? Dia payah," Master Tsukishima melenggang masuk. Bahkan tidak memberikan hormat pada Pangerannya, "55% tidak berguna 45% kemampuannya cukup berguna, biarpun berisiknya bukan main. Apakah ia mengganggu Anda, Pangeran Akaashi?"
"Tidak," Akaashi menggeleng singat, "Ia akan menemaniku dan Master Tsukishima pergi misi besok."
"Si Bodoh!" Akaashi jadi ingin menyimpulkan kalau semua orang di Karasuno hobi menghina Hinata dengan panggilan Bodoh atau Pendek. Pangeran Kageyama menghela napas dan menguasai dirinya lagi, "Aku sudah menduga ia akan melakukan itu," dan tampaknya semua orang sudah terbiasa dengan kelakuan aneh yang tidak bisa di duga dari Shouyou Hinata ini.
.
.
To be Continued
.
.
Curhatan Arleinne:
Selamat datang di chapter terpanjang sejauh ini~
Tadinya ketemuan sama Tsukki dan Hinata mau dipisah aja. Tapi kalo dipisah nanti jadi pendek dan Tekoteko-san nanti gak puas(?) /apa
Rada PR sebenernya nulis nama Master Tsukishima. Rasanya mau nulis Master Tsukki aja, tapi Akaashi yang sopan pasti manggil nama Tsukishima dengan lengkap plus gelarnya :"(
Kepala pemerintahan dan kepala kerajaan dipisah, semacam mengikuti kepala negara dan kepala pemerintah (silakan cek buku PKN kalian). Kalo gak salah, di negara yang bentuk pemerintahannya parlemen, kepala negara adalah presiden sementara kepala pemerintahannya perdana menteri. Kalau di negara yang bentuk pemerintahannya presidensial, kepala negara dan kepala pemerintahannya adalah presiden. Mohon koreksi kalau ada yang salah ya, Gaes :"D
Nah, dengan konsep itu makanya ada Kerajaan yang Raja-Ratunya hanya sebagai 'kepala negara' macam Fukurodani dan ada kerajaan yang Raja-Ratunya merupakan 'kepala negara' dan 'kepala pemerintahan'. Sebenernya kalau mau mudah, Aru ngeplot Fukurodani macam Inggris Raya dimana keluarga kerajaan lebih sebagai 'lambang kerajaan' meskipun mereka punya hak dan kewajiban tertentu. Sementara Karasuno adalah kerajaan tradisional(?) yang semuanya dipimpin sama Raja.
Semakin dekat dengan kemunculan Kaisar Oikawa, Guys. Aru pun menantikan kemunculan Kaisar Okawa(?) Mungkin dua atau tiga minggu lagi jadwal update bakalan bergeser sedikit karena rutinitas yang mulai memaksa /orz
Ada saran, kritikan, masukan? Ada keluhan, curhatan, kisah yang ingin diungkapkan? Silakan isi kotak review-nya, Teman-Teman Sekalian. Sampai jumpa dichapterberikutnya!
Ah ya, pengumuman fict away(?) akan Aru hubungi via PM :D
