To Claim My Love
Pairing : Grimmjow Jeagerjaquez & Kuchiki Rukia
By : Nakki Desinta
.
.
.
Summary : Ada sebuah ikatan yang tak terikrarkan di antara mereka, keduanya saling melengkapi, namun yang satu tidak menyadarinya, dan yang satu tidak ingin mengakuinya. Sesungguhnya yang mereka butuhkan hanya jujur pada diri sendiri. Lalu apakah mereka tetap bisa jujur jika ada pihak ketiga di antara mereka?
.
.
Disclaimer : Apa yang aku punya? Tidak banyak, tapi menurutku cukuplah untuk melanjutkan fiction ini ^^
.
.
.
.
.
Sepulangnya dari Smart Pro Inc. mereka berkendara menuju tempat percetakan undangan pernikahan mereka. Toushiro tidak banyak bicara dan memenuhi konsentrasinya pada kendali kemudi. Dia masih sibuk memikirkan cara agar Rukia tidak terlalu sering bertemu Grimmjow, mungkin dengan mengganti posisi Rukia dengan Rangiku, tapi Rangiku sungguh tidak bisa diandalkan dalam proyek ini. Wanita berambut gelombang itu memang lihai dalam lobby, membuat dokumen dan laporan, serta mengatur jadwal, tapi kalau urusan input data atau link antar program, setengah mati mengajarinya, sampai berbusa juga tidak akan bisa.
Tapi tidak ada pilihan lain, karena ia tidak percaya dengan timnya yang lain. Sungguh ironis, ia pimpinan perusahaan sebesar Sky Net, tapi tidak bisa mendelegasikan tugas, hak dan tanggungjawabnya, itulah mengapa ia terkenal sebagai seorang yang berdiri sendiri, ia melakukan semuanya sendiri.
"Toushiro, tokonya terlewat!" seru Rukia saat melihat mobil tidak menepi padahal sudah lewat beberapa meter dari area parkir toko.
Toushiro tersentak dan langsung menginjak rem, membuat mereka berdua terhempas hingga hampir mencium kaca depan mobil.
"Kau melamun?" tanya Rukia saat melihat Toushiro yang menatap jalan kosong di depannya.
"Maaf, aku hanya sedang berpikir bagaimana melaksanakan proyek ini tanpa melibatkanmu," jawabnya dengan kepala menoleh ke belakang, mencari ruang untuk mundur.
"Jadi kau tidak akan melibatkanku?" tanya Rukia agak tidak terima, padahal ia mengerti dengan jelas bahwa Toushiro ingin memutus kesempatannya bertemu Grimmjow.
"Tentu saja!" kata Toushiro marah, "Kau pikir aku akan membiarkan kau dekat dengannya? Aku tidak akan membiarkanmu pergi, sekalipun hatimu memang benar-benar sudah ia miliki," lanjut Toushiro dalam suara dingin.
Mata biru gelap itu membulat sempurna, tidak percaya dengan apa yang ia dengar, dan terlebih lagi dengan apa yang ia lihat. Sangat jelas.
Posesif.
Hanya satu kata itu yang mampu Rukia berikan untuk sikap Toushiro sekarang, dan seluruh hatinya sudah tertutup rasa ingin memiliki itu, hingga akal sehat sepertinya tidak akan banyak berarti. Seketika itu juga Rukia menyesali keputusannya untuk menerima lamaran Toushiro, namun yang jauh lebih membuatnya menyesal adalah pertemuannya dengan Grimmjow. Andai tidak bertemu dengan Grimmjow, mungkin keraguan itu tidak akan hadir. Jika tidak bertemu Grimmjow mungkin hatinya akan sepenuhnya melupakan pria itu dan menikah dengan Toushiro tanpa hati mandua seperti ini.
Kau membuat semua kacau, Rukia. Hatimu seharusnya menerima Toushiro, bukan berharap uluran tangan Grimmjow untuk merebutmu dari Toushiro.
Rukia mengepalkan tangannya kuat, merasa begitu lelah menghadapi semua ini.
Toushiro berhasil parkir dengan mulus, dan dia membukakan pintu mobil untuk Rukia setelah ia keluar dari mobil sportnya.
"Cepat, Rukia. Waktu kita tidak banyak, setelah ini harus bertemu pihak London Wed untuk membicarakan pesta taman resepsi kita."
Rukia mulai terbiasa dengan sikap tidak sabaran Toushiro, dalam dua hari ini memang selalu kemarahan, tidak sabar dan benci yang selalu Toushiro tunjukkan padanya, namun satu waktu pria ini juga bisa begitu rentan, begitu rapuh dan mengemis keberadaannya, memintanya untuk tidak pergi.
Kaki mungil Rukia menuruni mobil dan langsung menyambut tangan Toushiro yang membantunya berdiri, sifat gentle yang akan selalu Toushiro berikan padanya.
Mereka masuk ke toko dengan suara bel yang menyerupai lonceng natal saat mereka masuk, dan pemilik toko yang memang sudah membuat janji dengan Toushiro, sudah menunggunya, wajah bapak umur 50 tahun dengan tubuh bungkuk dan rambut berwarna cokelat kelabu itu terlihat tidak tenang, Rukia sudah membaca ketidakberesan dalam pembicaraan ini.
"Mr. Hitsugaya, mohon maaf, saya ingin menyampaikan informasi ini kemarin, tapi Anda tidak bisa saya hubungi."
Toushiro mengerutkan alis dalam-dalam, membuat bapak pemilik semakin ketakutan.
"Undangan Anda belum selesai, karena ada masalah dengan pengrajin kami, tiba-tiba saja mereka berhenti kerja kemarin. Karena itu hari ini saya masih mencari pengrajin lain, kemungkinan undangan Anda baru selesai besok lusa," jawab bapak pemilik dengan wajah tertunduk dalam.
"Omong kosong! Katakan padaku, siapa yang sudah menyuruhmu?" Toushiro melepaskan tangan Rukia dan mencengkram kerah baju bapak pemilik kuat-kuat.
Ia sudah sangat marah dengan semua aksi Jeagerjaquez, dari membatalkan booking tempatnya di The Milestone Hotel, membuat mereka mengerjakan proyek yang seharusnya kemungkinan kerjasama mendekati nol tapi ternyata terjadi begitu saja, dan sekarang mereka menjatuhkan tangan kotor mereka pada proses pembuatan undangan pernikahannya, sungguh ini membuatnya naik pitam dan benar-benar mengibarkan bendera perang.
"Toushiro!" Rukia berusaha melepaskan tangan Toushiro dari bapak yang terbatuk karena tercekik.
"Siapa? Pasti Bangsawan Jeagerjaquez yang menyuruhmu, kan? Jawab aku!"
"Ma-maaf, tapi para pengrajin saya benar-benar pergi, dan saya tidak bisa mencegah mereka, saya tidak tahu penyebab mereka berhenti dalam waktu bersamaan," jawab bapak itu tergagap.
"Lepaskan dia, Toushiro! Kau mencekiknya!" pekik Rukia dengan tangan mencengkram pergelangan tangan Toushiro, memaksanya melepaskan tangan dari kerah yang hampir sobek itu.
"Jangan ikut campur!" hadrik Toushiro diluar kendali, hingga tanpa ia sadari ia menghempaskan Rukia terlalu kuat, Rukia terjatuh setelah berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya, tenaga Toushiro terlalu kuat, hingga tak bisa dielakkan lagi, kepalanya terbentur dengan counter display, tepat di pelipisnya, Rukia pun terduduk di lantai, merasakan nyeri dari kepalanya yang pusing sekali.
Toushiro kaget dengan kekuatannya sendiri, ia langsung melepas bapak pemilik toko dan mendekati Rukia.
"Rukia, maaf, aku tidak sengaja. Maaf…" sesalnya seraya meraih bahu Rukia.
Rukia melihat wajah Toushiro, menahan sakit dari pelipisnya, ia ingin melihat mata pria itu, ingin melihat apa yang membuatnya hingga begitu marah dan kehilangan akal sehat.
"Darah…" gumam Toushiro dengan mata basah, terlihat sangat menyesal dengan kebodohannya sendiri.
Rukia mengusap sumber sakitnya, dan merasakan perih saat ujung jarinya menyentuh kulit pelipis, ia mendapati lecet di sana dan cairan merah dengan cepat menempel di jarinya, darah yang merembes dari kulit yang lecet akibat terbentur dengan counter tadi.
Rukia tidak pernah menyadari bahwa semua akan sebegini rumit, namun semua bersumber dari kesalahannya sendiri, ia yang telah menyetujui lamaran itu, ia yang telah memutuskan hatinya untuk melepaskan Grimmjow, dan sekarang semua berbalik menyerangnya, hingga Toushiro berubah menjadi pria kasar dan posesif seperti ini.
Pria ini memang memiliki penyakit kanker pankreas, tapi di saat kemarahan menguasai jiwa seseorang, kekuatan besar akan hadir, mengganti kelemahan tubuh yang bahkan tergrogoti kanker sekalipun, karena itu Rukia tidak ingin menyalahkan Toushiro yang sudah menyebabkannya terluka seperti ini.
"Toushiro… Aku bahkan tidak pernah menyatakan padamu bahwa aku akan pergi darimu, kan? Apakah kau begitu takut aku akan pergi?"
Toushiro tidak menjawab dan memeluk Rukia erat-erat.
"Maafkan aku. Aku terlalu takut karena ia sangat berusaha merebutmu dariku," bisik Touhsiro seraya mengecup puncak kepala Rukia, dan membantunya berdiri.
Rukia tidak lagi menjawab, dan Toushiro pun memapahnya melangkah menuju pintu toko.
"Baiklah, kami tunggu undangan itu besok lusa, dan pastikan semua selesai berdasarkan kesepakatan ini, atau kau akan ku kenakan pinalty!" ancam Toushiro seraya melangkah keluar toko bersama Rukia, dan sebelum pintu benar-benar tertutup, ia mendengar si pemilik menggumamkan kata 'baik' dengan sangat pelan.
.
.
.
Mereka berada di klinik untuk memeriksa luka Rukia, dan dokter tersenyum saat mendapati kepanikan Toushiro, yang sepertinya sudah berpikir terlalu jauh, takut benturan akan menyebabkan gegar otak pada Rukia.
"Hanya luka luar, seperti anak kecil yang jatuh dari sepeda dan lututnya terluka, begitu juga dengan luka ini, jadi tidak perlu cemas. Nah perbannya juga sudah selesai," jelas dokter dengan senyum menenangkan.
"Syukurlah," gumam Toushiro lega.
Rukia hanya diam, dia mengikuti kemana Toushiro menggiringnya setelah dokter selesai mengobati lukanya. Pikirannya kosong, dan tidak mampu mengurai cemas yang tengah ia rasakan, kepalanya penuh oleh ketidakpercayaan atas semua keadaan ini, namun inilah kenyataan, dan Toushiro adalah pilihan terakhir yang harus ia ambil, jika tidak, ia tidak hanya menyakiti Grimmjow, dia juga akan menyakiti Toushiro dengan pengkhianatannya.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya Rukia menghabiskan waktu untuk memastikan pesta taman yang telah direncanakan oleh pihak organizer mereka bisa berjalan dengan baik, dia sengaja tidak diikutsertakan dalam proses persiapan proyek Smart Pro karena Toushiro memintanya untuk konsentrasi memastikan persiapan pernikahan yang tinggal menghitung hari.
Rukia sadar bahwa ini cara Toushiro untuk menjauhkannya dari Grimmjow, tapi ia tidak yakin bisa semudah ini mencegah Grimmjow menemuinya, terlebih lagi melihat aksi terang-terangan Grimmjow saat di lift kantor Smart Pro, dia tidak pernah mau peduli dengan pandangan orang, sekalipun ia bangsawan ia adalah bangsawan pemberontak yang tidak bisa dikekang dengan aturan dan norma. Jika pria itu sudah memutuskan sesuatu, maka ia akan memperjuangkannya hingga batas kemampuannya.
Rukia mengenal Grimmjow cukup lama, dan sebagian waktunya habis di sisi Grimmjow, karena itu ia yakin ini hanya akan menjadi kerikil kecil bagi Grimmjow.
"Bagaimana dengan konsep ini?" tanya Lisa, penanggungjawab langsung agenda pesta kebun untuk resepsi pernikahan Rukia & Toushiro.
"Aku suka, hanya saja tolong kurangi jumlah dekorasi mawar putihnya, karena di sana sudah banyak bunga taman, dan kebanyakan sudah di tata sedemikian indah. Jangan sampai bunga yang kita tambahkan malah mengurangi keindahan alami yang sudah ada," jelas Rukia dengan mata cerah.
"Wah, Anda jauh lebih ahli dari saya rupanya," kata Lisa seraya membetulkan letak kacamatanya.
"Tidak juga, saya hanya ingin mempertahankan apa yang sudah ada," jawab Rukia tenang.
"Baiklah, lalu bagaimana dengan penataan kursi saat ikrar pernikahan? Apakah ada penempatan khusus untuk kerabat dan teman dekat?" lanjut Lisa antusias.
Rukia pun dengan cepat tenggelam dalam diskusi dengan Lisa, memberikan pemikiran yang bisa diberikan otaknya yang berkabut saat ini.
.
.
.
Dari seberang bangunan berwarna serba putih dimana Rukia tengah bicara dengan Lisa, seorang bangsawan berambut kuning tengah memerhatikannya dan tersenyum licik.
"Sepertinya ini akan menjadi aksiku yang selanjutnya," bisiknya santai.
.
.
.
Grimmjow mengatupkan rahangnya rapat-rapat, menahan kemarahan karena permintaan sang programmer kerdil di hadapannya. Karena dia diminta melakukan pose-pose yang sungguh menggelikan, dari push up, sit up, sampai handstand, dan mengambil gambarnya dengan kamera, memangnya ini program membuat game atau liputan olahraga?
"Aku tidak akan melakukannya, kau menggelikan!" seru Grimmjow dengan tangan terlipat di dada.
"Kau mau kerjakan atau tidak terserah, aku tinggal bilang kalau kau tidak kooperatif," jawab Taushiro dengan senyum iblis merekah di wajahnya.
"Kau tidak bisa sembarangan menyuruhku, memangnya kau siapa?"
Toushiro mengendikkan bahu penuh kemenangan, sikap kalemnya cukup membantu, dan dia ingin membuat pria bangsawan ini kesal setengah mati dengan permintaannya yang memang sedikit keterlaluan, tapi ini cukup beralasan mengingat game yang akan mereka buat adalah berbasis street fighter, jadi pose-pose seperti ini dibutuhkan.
"Pendek! Kau suka sekali memancing emosiku!" Grimmjow langsung mencengkram kerah baju Toushiro, sontak Toushiro melawan dan mendorongnya menjauh.
"Jangan pernah menyentuhku! Cih! Aku tidak ingin tertular penyakitmu!"
"Penyakit? Kau yang penyakitan! Tubuhmu setipis papan selancar, wajahmu saja seperti kertas HVS! Pikir dulu sebelum menyebut orang lain berpenyakit!" balas Grimmjow.
"Sudah-sudah! Kalian seperti anak kecil saja, Lilinete sampai bengong begitu," kata Ulquiorra menengahi, dan Lilinete yang sebenarnya menunggu kedua orang ini adu tinju jadi kecewa dengan sikap sok baik Ulquiorra.
"Jangan ikut campur!" teriak Grimmjow & Toushiro bersamaan.
"Kau-!"
Mereka langsung jijik satu sama lain dengan kebetulan ini, dan reflek mencengkram kerah baju lawan, sorot mata tajam saling menghujam, sementara itu Ulquiorra yang sudah didampratpun langsung pergi, dia merasa tidak perlu melerai perdebatan, dan perkelahian macam apapun.
"Mau kemana, Mr. Scifer?" tanya Lilinete heran.
"Cari udara yang lebih segar, di sini panas," ucap Ulquiorra dengan tangan terangkat untuk melambai pada Lilinete.
"Eh?" anak perempuan berumur 14 tahun itu tampak bingung, tapi malah melanjutkan tontonannya.
Grimmjow tampak menahan amarahnya kuat-kuat, sementara Toushiro sudah bersiap untuk mendaratkan tinjunya.
"Kau… Sampai kapan merecoki aku dan Rukia?" seloroh Toushiro dengan mata membara.
"Hah! Tidak usah bertanya hal yang sudah pasti seperti itu. Tentu saja akan aku lakukan sampai Rukia kembali padaku!" gelak Grimmjow penuh kemenangan.
"Baik. Kita lihat siapa yang bisa bertahan pada akhirnya. Pertama kau membatalkan bookingku di The Milestone Hotel, lalu membuat kerjasama konyol ini, dan membuat undanganku tidak selesai, lalu apalagi yang akan kau lakukan? Mengacaukan pesta pernikahanku? Atau malah menculik Rukia? Sebegitu besarnyakah pengaruhmu sebagai keluarga bangsawan?" geram Toushiro, mempererat cengkraman tangannya.
"Undangan?" gumam Grimmjow tidak mengerti, sebenarnya dia tidak mengerti apapun mengenai undangan yang disebut Toushiro, dan sesungguhnya ia tidak pernah melakukan semua hal yang dituduhkan Toushiro padanya. Mendengarnya justru membuatnya muak, karena ia tahu, tanpa melakukannya pun ia bisa meraih hati Rukia, karena ia sudah menggengam hati wanita itu, jadi tidak perlu melakukan hal licik dan kotor dengan mengacaukan persiapan pernikahan mereka.
"Jangan pura-pura bodoh! Kau memang pintar akting ya?" tandas Toushiro seraya menghempaskan Grimmjow, melepaskan cengkramannya.
"Hei Kerdil!" pekik Grimmjow tidak terima, tapi Toushiro malah pergi dari ruangan, meninggalkannya.
"Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan progres hingga resepsi pernikahanku. Maaf, Pimpinan Proyek," ucap Toushiro pada Lilinete, sebelum sosoknya benar-benar menghilang dari balik pintu.
"Hah…" Lilinete menghela napas panjang.
"Apa sebaiknya aku ganti saja programmernya?" gumam anak perempuan itu sambil melangkah ke arah Grimmjow.
"Jadi bagaimana?" tanya Lilinete.
"Aku harus pergi, aku tunggu jadwal pertemuan selanjutnya. Ada hal penting yang harus aku selesaikan," kata Grimmjow yang ikut menghilang di balik pintu.
"Ayah, sepertinya ini akan menjadi proyek yang rumit…" desis Lilinete seraya meraih buku konsep game yang sudah ia siapkan, dan menyusul orang-orang yang telah meninggalkannya.
.
.
.
Laju mobil melebihi kecepatan standar, namun Grimmjow tidak berkenan menginjak rem, ia harus menyelesaikan semua kekonyolan ini, atau Rukia akan berpikir ia menjadi pria paling pengecut di dunia.
Grimmjow meraih handsfree ponselnya, dan menghubungi Bibi Harribel.
"Bi! Dimana kau?"
"Sopan sedikit kenapa sih?" balas Harribel kesal, karena telinganya berdenging begitu mendengar suara keras Grimmjow tadi.
"Dimana?" tegas Grimmjow lagi.
"Aku… aku di.." Harribel ragu untuk menyebutkan keberadaannya sekarang, dia tidak ingin terbongkar kalau sedang membuntuti Rukia.
"Memangnya kenapa?" ucapnya.
"Aku ingin bertemu. Sekarang!"
"Baiklah, sebut saja tempatnya, aku akan kesana," jawab Harribel cepat.
.
.
.
Harribel memacu mobilnya menuju tempat yang baru saja di sebut Grimmjow, dan dia tersenyum, sangat senang mendengar nada kesal di suara keponakannya itu. Sepertinya permainan seru sedang berlangsung lagi.
Dengan cepat Harribel memarkir mobil dan menghampiri sosok paling mencolok yang duduk di bagian depan kafe bernuansa klasik itu, dekorasi berwarna serba cokelat dengan lampu minimalis dan pencahayaan yang remang, memberikan ketenangan bagi pengunjung, dan dilengkapi dengan lantunan lagu jazz yang sangat kental.
"Dia pintar mencari tempat untuk berdebat," gumam Harribel dengan langkah cepat menuju meja Grimmjow.
Grimmjow hanya melirik saat mendapati kehadiran Bibi Harribel dan duduk di kursi seberangnya.
"Jadi, ada hal seru apa?" tanya Harribel tenang.
"Jangan lakukan lagi!" kata Grimmjow cepat.
"Apanya?"
"Membatalkan segala tetekbengek yang berhubungan dengan pernikahan Rukia!" kata Grimmjow agak emosi, dan ini menarik perhatian pengunjung lain hingga mereka menoleh ke arah meja mereka.
"Kenapa jadi aku yang kau cari?" tanya Harribel tetap dengan wajah kalem.
"Memangnya siapa lagi?" kejar Grimmjow kesal, "Kau sengaja menyusul kesini agar bisa melihat dan mencampuri urusanku dengan Rukia, kan?" cecar Grimmjow.
"Aku kesini karena Unohana juga ke sini, kami liburan keluarga, sementara kau bekerja, memangnya itu salah?"
"Jangan mengalihkan topik!"
"Kau yang mulai."
"Argh, jangan menjawabku!" pekik Grimmjow frustasi.
"Kau yang mengajakku bicara, bagaimana mungkin aku tidak menjawab," sahut Harribel enteng.
"Cukup!" Grimmjow mengangkat tangannya tanda menyerah pada perdebatan ini, dan ingin segera menyelesaikannya. Harribel hanya tersenyum melihat sikap keponakannya yang sepertinya memang tidak pernah bisa menang kalau berdebat.
"Lalu?" tanya Harribel balik.
"Aku ingin kau hentikan semua aksimu. Kau membuat mereka berpikir akulah yang melakukan semua hal konyol itu! Kau kira aku masih membutuhkan semua itu hanya untuk merebut Rukia kembali? Aku tahu Rukia juga mencintaiku, karena itu aku tidak perlu membatalkan pernikahan mereka."
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Apa aku salah?"
"Tentu saja, Bi! Jangan ikut campur lagi, biarkan aku menyelesaikannya sendiri."
"Wah-wah, padahal aku baru saja ingin memberi sedikit kejutan pada pesta kebun Rukia."
"Kau memang suka sekali membuatku terlihat bodoh ya, Bi?" Grimmjow mencengkram pinggir meja di depannya, dan mencondongkan tubuh pada bibinya. Marah tapi sekaligus meminta.
"Sepertinya begitu sih," jawab Harribel santai.
"Jangan memberikan jawaban tidak jelas begitu!" sahut Grimmjow kesal.
"Lalu sekarang kau mau apa? Kau mau aku tidak ikut campur?"
Grimmjow mengangguk.
"Baiklah," sahut Harribel cepat.
"Hah? Mudah sekali," gerutu Grimmjow tidak percaya.
"Tapi awas kalau kau sampai gagal! Kami mengharapkanmu bersanding dengan Rukia, awas kalau kau membiarkan Rukia pergi lagi!"
"Kenapa jadi mengancamku? Kan sebelumnya Bibi juga yang membuat salah paham antara Rukia dan aku!"
"Kau saja yang tidak peka, sudahlah. Aku ingin pergi ke spa, kabari aku kalau itu hal baik, kalau hal buruk jangan pernah meneleponku!" tandas Harribel seraya beranjak dari kursinya, meninggalkan Grimmjow yang masih ternganga tidak percaya dengan sikap santai bibinya, seolah tidak bersalah, seolah tidak pernah melakukan kesalahan, seolah tidak pernah membuat suasana lebih keruh dari yang sudah ada.
.
.
.
Malam menghampiri langit London, mengirim awan gelap yang sangat pekat, menunjukkan ancaman derasnya hujan yang akan mengguyur bumi. Rukia menatap titik sinar bintang yang hamper hilang ditelan mendung yang tak hentinya mendera. Ia melihat gaun pengantin yang terpajang dengan angkuhnya di sudut kamarnya, gaun berwarna putih itu menunjukkan kesucian pemakainya, namun Rukia yakin bahwa hatinya tidak bisa disamakan dengan warna indah itu.
Aku mendua, dan yakin bahwa selamanya tidak akan pernah bisa melepas sosok Grimmjow.
Wanita beriris biru gelap itu menghela napas berat, mencari kelegaan dalam tiap helaan napasnya, namun yang ia dapat malah sesak setiap kali mengingat masalah yang begitu pelik membebatnya.
"Sedang apa?"
Rukia tidak sempat membalas pertanyaan itu saat sepasang tangan ringkih Toushiro memeluknya dengan erat dari belakang, mengait tubuh Rukia hingga dadanya bertemu dengan punggung Rukia, merangkul erat wanita yang ia cintai.
"Bagaimana persiapannya?" Tanya Toushiro tanpa menunggu jawaban atas pertanyaan pertamanya. Perlahan ia bersandar di bahu Rukia, menyandarkan dagunya dengan amat nyaman di lekuk ternyaman itu, menghirup wangi Rukia dalam-dalam, meresapi keindahan saat wanita ini sepenuhnya menjadi miliknya.
"Baik, dan menurutku semua sudah siap, hanya menunggu undangan disebar," jawab Rukia kelu, merasakan hatinya meringis mendengar ucapannya sendiri.
"Jadi, kemana kita akan berbulan madu?" Toushiro mengecup ruang kosong di leher Rukia, membiarkan hangat bibirnya beristirahat sejenak di kulit Rukia, merasakan denyut nadi Rukia yang memburu seketika.
Toushiro merasakan dengan jelas tubuh Rukia yang seketika menegang, namun ia tidak ingin melepaskan momen ini dengan cepat.
"Bu-bulan madu?" ulang Rukia dengan tubuh menggeliat tidak nyaman, tapi Toushiro justru mengeratkan rangkulannya, mencegah Rukia kabur darinya.
"Iya, kemana kita akan pergi? Jepang? Paris? Atau kau ingin kita ke Indonesia? Kita ke Bali, dan berjemur sampai kulit berubah warna jadi cokelat?" bisik Toushiro.
"Memangnya bisa? Kau berjemur di Sahara sekalipun tidak akan bisa cokelat, Toushiro. Kau lupa warna dasar kita? Yang ada malah gosong!" sahut Rukia, berusaha mencairkan suasana tegang yang berlangsung selama berhari-hari.
Toushiro tertawa sejenak, tepat di telinga Rukia.
"Iya, ya. Warna kulitku tidak mungkin cokelat…" sahutnya santai. " Tapi…" Toushiro melepaskan pelukannya, dan meraih bahu Rukia agar wanita itu berbalik untuk menghadapnya.
"Aku ingin segera bulan madu dan melihatmu berlari bersama anak-anak kita, Rukia."
Rukia merasakan hatinya jauh lebih sakit saat membayangkan dirinya bersama beberapa anak kecil, anaknya dan Toushiro. Jujur saja dia tidak pernah memikirkan hal itu.
"Berapa banyak anak yang kau inginkan?"
Toushiro terdiam menunggu jawaban Rukia.
"Berapa?" ulangnya setelah menunggu beberapa saat tidak juga mendapatkan jawaban.
Toushiro melihat keraguan di mata Rukia, membuat hatinya jauh lebih sakit, membuat otaknya semakin keruh dengan segala rasa takut kehilangannya.
"Jawab aku, Rukia," bisik Toushiro dengan nada lembut, masih bersabar menunggu jawaban Rukia.
Rukia berusaha membalas sorot mata penuh kasih Toushiro, namun ia tidak mampu mengkhianati hatinya sendiri. Saat ia melihat ke mata berwarna aqua itu, ia justru teringat pada mata berwarna biru terang dengan keteguhan hati sepenuhnya, mata milik Grimmjow seorang, dan ingatan itu berujung pada ingatannya saat Grimmjow menciumnya di taman. Ciuman panas dan terindah yang pernah Rukia rasakan.
"Rukia!" bentak Toushiro saat mendapati sorot mata kosong Rukia.
"Jawab aku, Rukia! Saat seperti ini pun kau masih memikirkannya?" Rukia terbelalak saat Toushiro mengguncang bahunya keras-keras, mencengkram tangannya penuh tenaga, membuatnya meringis kesakitan. Namun kekecewaan yang terlihat di mata Toushiro jauh lebih menyakitinya.
"Toushiro… Aku tidak bisa mengingkarinya lagi," bisik Rukia dalam suara puraunya.
"Tidak! Aku tidak ingin dengar!" pekik Toushiro dengan mata terbakar amarah. "Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku! Seharusnya kau tidak mengangkatku dari kubangan itu! Ini semua salahmu, kau yang memberikan harapan padaku, kau yang membuatku tidak bisa berpaling darimu, dan sekarang kau yang menghancurkan semuanya!"
Toushiro menatap nanar, menahan sakit di ulu hatinya sekuat hati, dan dia bisa melihat jelas raut duka dalam wajah Rukia, tapi dia tidak akan berhenti sebelum Rukia yakin bahwa hatinya hanya patut ia berikan pada Toushiro.
"Aku mencintaimu, seharusnya dari awal kau tidak berbaik hati padaku, tidak mengulurkan tangan padaku! Kau jauh lebih kejam dari siapapun dalam hidupku, Rukia. Kau memberikanku udara dan detik kemudian kau berniat merampasnya."
"Toushiro, maaf…"
Toushiro menggeleng cepat, dia menutup telinganya rapat-rapat, mencegah hatinya sakit.
"Maaf, tapi… aku masih mencintainya," lanjut Rukia dengan hati mengerut kesakitan, ia begitu merasa hina telah membuat Toushiro jadi begini.
"CUKUP!"
Toushiro menurunkan tangannya dari telinga. Kemarahan sudah menutupi wajahnya.
"Kenapa?" bisik Toushiro dengan mata kosong menatap lantai yang ia jejak.
Rukia tidak mengerti dengan kalimat Toushiro, dia tidak tahu kemana pertanyaan Toushiro berarah.
"Kau sudah menyetujui pernikahan ini, Rukia. Aku bersumpah tidak akan membiarkanmu kembali padanya!"
Rukia tersentak, dan melihat bahwa racun yang telah ia berikan pada Toushiro benar-benar telah menyebar hingga menutupi akal sehatnya.
Dia benar, aku yang membuatnya membuka hati, aku yang sudah menyebarkan racun itu dalam hatinya, dan sekarang aku yang harus menuai hasilnya. Seluruh ketakutan dalam dirinya, semua rasa ingin memiliki dalam hatinya, semua adalah kesalahanku. Jika saja aku tidak pernah membuka hatiku padanya tidak mungkin semua akan seperti ini.
Rukia tidak sadar meneteskan air matanya, merutuki dirinya sendiri yang telah lemah hati.
"Rukia…" bisik Toushiro yang kembali melemah, tangan kurusnya meraih wajah Rukia, menghapus air mata dari pipi Rukia dengan mengecupnya perlahan, membiarkan cairan asin itu terkecap di bibirnya. Rukia tidak bergerak, dia bak patung yang tak pernah bisa merespon sentuhan manusia, dia hanya memejamkan mata, merasakan sakit itu semakin dalam menderanya.
"Jangan pernah pergi, setidaknya hingga akhir hembusan napasku, biarkan aku bahagia hingga waktunya tiba untukku pergi," gumam Toushiro dengan mata melemah, mengiba dan memohon.
"Aku sudah melewati waktu yang begitu panjang dalam kesendirianku. Tanpa orang tua, tanpa tempat bergantung, tanpa kekasih, aku bahkan sudah menyerah untuk meminta pada Tuhan. Aku yakin aku selamanya akan sendirian hingga maut menjemputku nanti. Aku hanya terus bermimpi ingin merasakan kebahagiaanku sendiri, hingga akhirnya aku hentikan semua mimpiku."
Rukia merasa begitu bersalah, merenggut semua kebahagiaan Toushiro yang seharusnya bisa ia rasakan. Bahkan Toushiro memintanya bertahan hingga waktu yang Toushiro maksud datang menjemputnya, tapi akankah semua ini berakhir baik jika dipaksakan hingga waktu itu tiba?
"Aku tidak ingin berharap karena aku tidak ingin terluka lagi. Namun sekarang aku sudah terlanjur mencintaimu. Apa itu juga salah?"
Rukia menggeleng cepat, tidak ingin melihat duka itu di wajah Toushiro.
Toushiro menghilangkan jarak di antara mereka, dan perlahan menyentuh bibir Rukia dengan bibirnya, menekan di atas bibir kering Rukia penuh putus asa, dia tidak peduli cinta yang hanya satu sisi ini, ia hanya ingin terus di sisi Rukia hingga waktunya tiba nanti.
Cinta ini mungkin memang tidak bisa berbalas, tapi merasakan kasih sayang dari seseorang adalah mimpi yang telah lama hilang dari hidupnya, dan dia bersumpah tidak akan melepaskannya lagi kali ini.
.
.
.
Grimmjow melihat undangan yang disodorkan Ulquiorra, matanya memicing melihat nama yang tertera di sana. Kesal, marah, sekaligus kecewa. Dia tidak tahu yang mana yang lebih dominan, yang pasti ia tidak ingin mencari tahunya, yang ia inginkan justru menghilangkannya.
"Jadi mereka akan benar-benar menikah?" Tanya Grimmjow seraya melempar undangan ke sisi lain meja di hadapannya, merasa muak untuk melihat isinya. Dia mondar mandir di depan meja, sangat tidak tenang, pusing memikirkan cara untuk membatalkan pernikahan Rukia dan Toushiro.
"Menikah atau tidak tergantung pada usahamu, Grimm," sahut Ulquiorra santai, dan dia meraih undangan untuk kembali membacanya."Kau masih punya waktu tiga hari untuk merebut Rukia," lanjut si pemilik rambut hitam lurus itu.
"Aku akan memaksanya membatalkan pernikahannya sekarang juga!"
Grimmjow segera menuju pintu kamarnya, meraih kunci mobil dan segera menuju lift, kontan Ulquiorra mengejarnya. Grimmjow selalu seperti ini setiap kali lepas kendali, dia akan melakukan semua hal yang pertama kali terlintas di benaknya, dia tidak akan menggunakan otak terbatasnya untuk memikirkan cara yang jauh lebih efektif.
"Kau mau kemana, Grimm?" kejar Ulquiorra saat melihat Grimmjow yang dua detik sebelumnya masih berdiri menunggu di depan lift, sekarang malah memutar kea rah tangga darurat.
"Terlalu lama, lebih baik aku turun tangga!" seru Grimmjow emosi.
"Ini lantai sepuluh, Jaguar! Kau mau turun tangga?"
"Aku tidak peduli, semakin cepat aku pergi semakin cepat aku bisa mengembalikan pikiran bodoh Rukia!"
Grimmjow membuka pintu tangga darurat, dan segera meniti anak tangga turun tersebut. Ulquiorra dengan gesit mengejarnya, tapi langkah lebar Grimmjow membuat jarak mereka makin jauh saja.
"Kau bisa bicara baik-baik, Grimm! Ingat kalau Rukia masih mencintaimu!"
Ulquiorra mengatur napasnya baik-baik saat mereka sampai di lantai lima, karena jujur saja napasnya sudah megap tak karuan.
"Sepertinya kau lupa kalau dia psikolog, Ulqui! Dia lebih mendahulukan kepentingan orang lain dari dirinya sendiri. Dia lebih memilih menderita dari pada melihat orang lain terluka karena keegoisannya," sahut Grimmjow yang mempercepat langkahnya.
"Tapi kau tidak bisa memak-"
"ARGH!"
Ulquiorra terpaku di tempatnya saat mendengar suara kesakitan Grimmjow, segera saja ia melihat ke beberapa lantai di bawahnya, dan matanya membelalak seketika saat melihat tubuh Grimmjow berguling-guling di anak tangga tepat di bawahnya. Teriakan sakit Grimmjow tidak berakhir hingga ia mencapai anak tangga terakhir, dan pria berambut biru terang itu terkapar di lantai tak sadarkan diri.
"Grimm!"
.
.
.
Rukia tersentak bangun dari tidurnya, dia melihat sekeliling dan merasakan panas menjalari tubuhnya. Keringat mengalir dari dahi dan lehernya, mengirim perasaan ngeri itu ke seluruh jaringan kulitnya.
"Grimm…"
Ia menyentuh dada dan merasakan deburan jantungnya berdentum keras, mengejar cemas yang ia dapat dari hatinya.
Baru saja ia bermimpi buruk, tapi ia tidak begitu jelas apa dan bagaimana mimpi buruk itu. Yang ia ingat hanya rasa takut dan wajah Grimmjow langsung melintas dalam benaknya.
"Eng... Rukia, kau sudah bangun?"
Rukia menoleh pada Toushiro yang terbaring di sisinya, mereka terlelap di satu ranjang semalam setelah menghabiskan waktu dengan berdebat dan tangis Rukia yang membasahi baju Toushiro. Toushiro memeluknya hingga Rukia terlelap dalam pelukannya hingga mereka tertidur di tempat tidur Rukia. Toushiro tidak meninggalkannya, hanya memeluknya semalaman, berusaha memberikan Rukia kehangatan dari tubuhnya.
Sesungguhnya Toushiro mendengar dengan jelas nama yang Rukia gumamkan begitu terbangun tadi, namun ia menulikan hatinya sendiri, tidak ingin terluka karena hal sekecil ini.
"Toushiro, aku-"
Ucapan Rukia terhenti saat telepon di ruangan Rukia berdering, dan dengan cepat Rukia melepaskan rangkulan tangan Toushiro dari pinggangnya, memberi ruang agar ia bisa meraih telepon yang tergeletak di sisi meja samping tempat tidur.
Toushiro mengerutkan alis dalam-dalam, heran dengan telepon yang berdering sepagi ini, terlebih lagi di kamar Rukia.
"Iya, Iba?" jawab Rukia seraya melirik Toushiro yang setengah mengangkat badan dari tempat tidur, dia menopang tubuhnya dengan siku yang bertumpu pada tempat tidur.
"Ya, dia temanku," ucap Rukia lagi, dan ini membuat Toushiro ingin merebut gagang telepon dari tangan Rukia, mendengar sendiri orang yang menelepon Rukia.
"Siapa, Rukia?" Tanya Toushiro akhirnya, tidak sabar ingin tahu identitas si penelepon. Karena dia sudah melarang Iba menyambungkan telepon dari Grimmjow Jeagerjaquez ataupun Ulquiorra Scifer untuk Rukia.
"Iba bilang dari Isane, dia teman sekaligus editorku," jawab Rukia dengan alis berkerut dalam, sama herannya dengan telepon yang rasanya tidak mungkin ini. Tidak mungkin Isane tahu nomor telepon dimana ia tinggal sekarang, karena ia tidak pernah memberi informasi macam apapun pada Isane, Kakak saja tidak tahu, lalu bagaimana mungkin Isane bisa tahu?
Toushiro agak lega dengan jawaban Rukia, yang penting bukan dari keluarga Jeagerjaquez ataupun temannya.
"Ya, Isane?" ucap Rukia saat nada sambung berakhir.
"Rukia, ini aku," kata suara di seberang sambungan telepon.
Bibi Harribel?
Rukia tidak melafalkan nama itu langsung, ia menahan lidahnya untuk menyebut nama keluarga bangsawan itu. Dan orang di seberang sambungan pun seperti mengerti dengan diam Rukia.
"Aku tahu akan sulit menghubungimu, karena itu aku terpaksa memakai nama Isane. Maaf sebelumnya," kata Bibi Harribel tenang.
"Tidak apa," jawab Rukia hati-hati, dia menjaga sebaik mungkin agar tidak terlihat mencurigakan di mata Toushiro.
"Aku hanya ingin bilang kalau Grimmjow kecelakaan, dia sedang di rumah sakit sekarang," jelas Harribel tetap dengan suara tenang tanpa beban.
"Ru-rumah sakit?" ulang Rukia kaget, dan reaksinya ini sungguh menyita perhatian Toushiro. Rukia terlihat hampir menangis, sekujur tubuhnya gemetar seolah merasakan kembali mimpi buruk yang membangunkannya tadi. Dia cemas dan takut hal buruk terjadi pada Grimmjow.
"Iya, dia jatuh dari tangga. Dia memang keponakanku yang paling ceroboh! Kau bisa menjenguknya, Rukia? Sepertinya dia kritis, dan sangat membutuhmu," tutur Harribel datar.
"Benarkah dia kritis?" Tanya Rukia cemas.
"Siapa yang kritis?" Toushiro mendekat pada Rukia, berusaha mendengar pembicaraan Rukia dengan seseorang di seberang sana.
"Iya, dia masih perlu transfusi darah. Luka di kepalanya lumayan berat," kata Harribel lagi.
"Ya Tuhan…, aku akan kesana, Bi!"
Toushiro mengangkat alis tinggi-tinggi saat mendengar sapaan hormat di akhir kalimat Rukia sebelum menutup sambungan telepon.
"Kau memanggil temanmu dengan sebutan Bibi?" gumam Toushiro saat Rukia beranjak dari tempat tidur menuju lemari pakaiannya hendak mengambil jaket.
Rukia tersentak dengan ucapan Toushiro, tidak sadar sudah keceplosan bicara, tapi ia tidak bisa menunggu lagi, dia merasa harus pergi untuk melihat keadaan Grimmjow.
"Itu, tadi…" Rukia berusaha mencari alasan, tapi otaknya mendadak buntu karena cemas dan gelisah sudah terlalu menutup jalan pikirannya.
"Jujur padaku, Rukia. Siapa yang barusan meneleponmu?" desak Toushiro yang menghampiri Rukia, meraih tangan Rukia yang mencengkram jaket kuat-kuat. Toushiro tahu kalau Iba tidak mungkin berkhianat padanya, tidak mungkin Iba melanggar perintahnya untuk menutup semua hubungan Rukia dengan keluarga bangsawan Jeagerjaquez.
"Tadi… tadi…"
"Apakah itu Harribel? Bibi Si Bangsawan Arogan itu?" Tanya Toushiro tanpa memberikan waktu bagi Rukia mencari kebohongan lain.
"Toushiro, bisa aku jelaskan nanti saja? Aku harus pergi sekarang," jawab Rukia yang akhirnya lebih memilih untuk menghindar, tidak ingin berbohong tapi juga tidak ingin jujur.
"Aku tidak akan membiarkanmu melangkah keluar dari kamar ini jika untuk menemui Grimmjow Jeagerjaquez!" ancam Toushiro sungguh-sungguh.
Rukia mengerti dengan baik kata-kata Toushiro, tapi ia tidak bisa berdiam diri selamanya dalam kungkungan Toushiro. Grimmjow membutuhkannya, Grimmjow kritis, dia harus pergi untuk menjenguk Grimmjow, memastikan kondisi Grimmjow baik-baik saja.
"Touhsiro, ku mohon kali ini saja. Grimmjow kecelakaan, dan kondisinya sedang kritis saat ini," jelas Rukia cepat.
"Kecelakaan? Kritis?" ucap Toushiro sanksi, terlihat jelas raut jijik yang melintas di wajahnya. "Cih! Bahkan dia menggunakan cara licik seperti ini untuk mengambilmu dariku?" lanjutnya dengan mata membulat sempurna, menyatakan kemarahan yang amat sangat.
"Ini sungguh-sungguh, Toushiro! Tidak mungkin Bibi Harribel berbohong hanya untuk membuatku bisa bertemu dengan Grimmjow! Bibi Harribel tidak pernah berpikir untuk menyandingkanku dengan Grimmjow, jadi tidak mungkin Bibi berbohong!" Rukia berusaha meyakinkan Toushiro.
"Jangan harap aku akan percaya! Tidak mungkin mereka tidak bersekongkol!"
"Demi Tuhan, Toushiro. Aku bersumpah tidak akan kabur, aku hanya perlu melihat kondisi Grimmjow! Aku janji akan segera kembali setelah menjenguknya, atau perlu kau pergi bersamaku pun tidak apa-apa," tutur Rukia tidak sabar, dia tidak peduli jika Toushiro benar-benar mengurungnya sekalipun, karena ia ingin melihat Grimmjow sekarang juga.
"Jangan harap! Aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengannya, terlebih dengan kebohongan kelas teri begini!"
Rukia memicingkan matanya, merasa tidak akan pernah mendapat kelapangan hati Toushiro sampai kapanpun. Pria bermata aqua itu sudah tertutup kebencian, sudah tidak mampu menggunakan akal sehatnya lagi, karena itu penjelasan macam apapun tidak akan sanggup meyakinkan Toushiro.
"Aku tetap akan pergi! Dengan atau tanpa izinmu sekalipun!" tegas Rukia yang langsung menghentakkan tangannya dari cengkaraman jari-jari Toushiro.
"Rukia!"
Rukia tidak menghentikan langkahnya dan segera menjulurkan tangan untuk meraih knob pintu, tapi dia kalah cepat dengan Toushiro. Pria pucat itu berlari untuk menarik kunci yang menggantung di pintu, mencegah Rukia membuka pintu.
"Apa yang kau lakukan, Toushiro?" seru Rukia marah.
"Kau tidak akan pergi kemana-mana," ancam Toushiro yang langsung berdiri di depan pintu, menghadang Rukia dari pintu. Dia hanya merasa begitu takut, takut jika ia membiarkan Rukia pergi, maka selamanya Rukia tidak akan kembali, tidak akan pernah lagi ada dalam hidupnya.
"Toushiro!" pekik Rukia putus asa, tidak habis pikir dengan sikap Toushiro.
"Kau tidak akan pergi! Dia hanya membohongimu," Toushiro mencengkram tangan Rukia sekali lagi, dan dengan kasar ia menarik Rukia kembali ke tempat tidur.
"Sa-sakit! Lepaskan aku!" protes Rukia yang berusaha menahan tubuhnya ikut dalam gerak tarikan Toushiro, dia menggeliatkan tangan sekuat tenaga untuk terlepas dari cengkraman Toushiro, tapi tidak cukup kuat hingga saat Toushiro menghentakkan tangannya kuat, ia terjerembab di tempat tidur, kepalanya terbentur headboard tempat tidur.
"Akh!" keluh Rukia seraya memegangi kepalanya. Toushiro seperti tidak pernah melihat atau mendengar erangan sakit Rukia, karena kemudian ia mendorong Rukia hingga terhempas di tempat tidur, ia menahan kedua tangan Rukia di atas kepalanya dalam satu cengkraman tangan, sementara tangannya yang lain meraih wajah Rukia agar tetap menatap matanya langsung.
"Kau tidak akan pergi tanpa izinku!" seru Toushiro tepat di depan wajah Rukia, dia menekan tangan Rukia sangat kuat, hingga Rukia meringis kesakitan sambil menggingit bibir bawahnya, menahan erangan sakit lolos dari mulutnya.
"Lepas!" Rukia kembali menggeliat untuk melepaskan tangannya dari Toushiro. Rukia masih merasakan kepalanya yang berdenyut sakit, tapi ia tidak peduli, dia hanya ingin pergi dan melihat Grimmjow, memastikan keadaan Grimmjow.
"Diam!" sahut Toushiro dengan suara putus asa namun penuh amarah.
"Toushiro?" bisik Rukia lirih, dia tidak percaya pria yang ia kenal sangat cerah ini sekarang berubah menjadi seseorang keras dan kasar seperti ini. Pria ini telah berubah, benar-benar berubah.
Rukia memutuskan untuk tidak melawan lagi, dia hanya menatap mata Toushiro dalam-dalam. Kekerasan hati yang tergambar di wajah Toushiro adalah bukti sekaligus ancaman bagi Rukia, bahwa ia tidak akan bisa kabur dari pria ini.
"Aku tidak bisa membiarkanmu kembali padanya, Rukia…" bisik Toushiro cepat, dan segera saja ia berbalik menuju pintu, mengunci pintu rapat-rapat dari luar.
"Toushiro… Kenapa?" gumam Rukia yang kemudian merasakan air matanya menetes turun.
.
.
.
Toushiro berdiri di balik pintu, berusaha meredakan deburan jantungnya sendiri. Dia sadar sikap kasarnya pada Rukia, tapi ia tidak akan menyesalinya jika itu memang harus ia lakukan demi mempertahankan Rukia untuk tetap di sisinya.
Apapun akan aku lakukan untuk membuatmu tetap di sisiku, Rukia. Apapun.
.
.
.
Rukia menatap langit-langit kamarnya, menatap satu titik kosong di permukaan berwarna cerah itu, berusaha menenangkan dirinya sendiri, agar tangisnya berhenti.
Tangis yang hadir karena ketidakmampuannya untuk pergi dan melihat Grimmjow.
Air mata yang menetes karena melihat betapa kejam dirinya yang telah membuat Toushiro menjadi pria yang sangat posesif, menjadi pria yang bisa kehilangan akal sehatnya untuk mempertahankan sesuatu.
Racun itu sudah terlalu jauh menyebar pada dirinya, dan tidak ada penawar untuk racun itu selain diriku sendiri.
Rukia mengusap air mata yang hampir jatuh ke daun telinganya, dia terpejam dan mengingat dengan baik salah satu hipotesis yang pernah ia terima dalam benaknya.
Rasa nyaman yang hadir karena keberadaan seseorang di sampingmu adalah dua sisi mata uang yang bisa berakibat baik namun juga membawa bencana. Baik ketika rasa nyaman itu membuat seseorang lebih terbuka, lebih mudah berbagi, namun saat rasa nyaman itu mencapai tingkatan tinggi, ia pun akan merasa nyaman untuk menunjukkan segala sisi dalam dirinya, membuatnya berpikir untuk melakukan apapun di hadapan orang itu akan jauh lebih nyaman.
Inilah yang Rukia alami sekarang. Mungkin Toushiro memang pribadi hangat dan baik, tapi di saat ia merasa begitu nyaman di sisi Rukia, ia bisa menunjukkan sisi lain dari dirinya yang tidak pernah bisa ia buka pada orang lain. Baik itu sisi posesif yang begitu besar, maupun sisi egois yang rela melakukan apapun untuk mempertahankan Rukia.
Rasa nyaman yang ia berikan pada Toushiro justru menjerumuskannya dalam lubang hitam yang menguburnya hidup-hidup dalam dilemma ini.
.
.
.
A/N :
Minna! Gomen aku telah update.
Untuk Oda-san. Gomen, ini kado yang aku janjikan, telat ya? Tapi aku tetap memberikannya kan? *tetep aja narsis* Aku sampaikan selamat ulang tahun, ya. Semoga seluruh cita-citanya tercapai dan bisa menjadi pribadi terbaik untuk diri sendiri dan orang di sekitarnya. *ngomong apa sih Nakki?* #Nggak tahu juga deh# *-dilempar bola kasti satu truk-
Sebelumnya saya juga ingin minta maaf karena saya sudah menelantarkan fiction ini. Jujur saja ini pertama kalinya saya tidak update fiction saya selama hampir satu bulan. *bungkuk dalam-maaf sekali*
Berhubung deadline yang mendesak, jadi saya mohon maaf dengan typo (s) yang tidak terkoreksi.
Selamat menempuh tahun baru 2012 Minna-san.
Jangan lupa review ya…. Terima kasih.
Keep The Spirit On ^o^
:-:-:Nakki:-:-:
16-01-2012
