-Talk Game-
*Ch 7*
Story by: Kiriko Alicia
Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp
Rating: T
Pairing (Main): Kagamine Rin X Kagamine Len
Genre: Romance, Humor.
Warning: Cerita gaje, alur lambat/ngebut, typo dimana-mana, dan cerita ini dapat mengakibatkan berbagai macam reaksi terhadap para pembacanya (Menangis terharu, tertawa ngakak, kesel-kesel sendiri karena pairing lainnya tidak sesuai harapan, dll), all in Normal PoV.
Summary: Rin Kagamire yang dijuluki sebagai 'Ratu Bicara' di kelasnya kini dihadapkan kepada murid pindahan yang 'menyebalkan' (menurutnya) di kelasnya, Len Kagamine.
Tampak seorang gadis berambut honeyblond dengan figur kecilnya berlari di koridor rumah sakit. Sorotan matanya terlihat senang, rona merah tampak di kedua pipinya, sebuah senyum kecil juga terukir di wajah kecilnya. Bagaimanapun juga, ia senang karena kakaknya diberitahukan sudah pulih dari komanya.
Derap langkah terus saja tercipta oleh kaki-kaki kecil miliknya. Ia membawa sekuntum bunga mawar merah di tangannya. Tak lama kemudian, ia pun berhenti di depan sebuah pintu berwarna putih pucat.
Tangannya segera menggengam kenop pintu dan memutarnya kesamping, menunjukkan sebuah ruangan kecil dengan bau obat-obatan dan juga seseorang yang berbaring dengan wajah pucat dan kesakitan.
"Lenka-nee?" Gadis itu bertanya pelan. Tak ada jawaban. Yang ada hanyalah suara AC yang berdengung pelan.
"Lenka-nee?"
"LENKA-NEE!"
.
.
.
"HAAH!" Rin pun terbangun dari mimpi buruknya. Wajahnya pucat pasi. Ia jadi teringat memori tersebut, namun bagaimanapun juga, ia tidak mau mengingatnya kembali. Karenanya, ia tidak pernah mencatatnya di dairinya –walaupun hal itu berakhir sama seperti di diary.
Tiba-tiba saja, ia merasa ada sesuatu yang basah jatuh ke selimutnya. Dengan pelan, Rin mengambil benda berbentuk persegi panjang tersebut lalu menyibakkan selimutnya dengan kasar, segera berdiri dan hendak pergi keluar kamar.
"Kompres?" Batinnya.
"Ah! Rin, kau sudah bangun?"
Rin pun mencari asal suara dengan wajah bertanya-tanya. Ia ingat jelas sudah mengunci semua pintu di rumah tersebut. Lantas, siapa? Namun orang yang mengatakannya belum sampai ke depan kamarnya.
"Rin! Jangan bilang kau sudah lupa pada suara ini?"
Rin mulai merasa bulu kuduknya naik. Ia cukup takut dengan hal berbau mistis, walaupun tidak terlalu takut. Ia langsung berjalan menuju meja dan meraba-raba permukaan meja, mencari senjata yang pantas. Walaupun begitu, penglihatannya masih saja buram.
"RRIIIIINNN!"
Oke. Entah mengapa sekarang Rin merasa tidak kuat, kepalanya serasa mau pecah. Ia masih mencoba untuk berjalan balik ke kasurnya, namun…
BRUK!
"Rin!" Jerit seseorang itu dengan wajah kaget ketika melihat Rin terjatuh ke tanah. Orang itu dengan cepat menopang Rin dengan tubuhnya lalu menggedongnya ala bridal style ke kasur lalu menyelimutinya dengan selimut.
"Si… Apa?" Rin menggumam dengan mata setengah terpenjam sebelum masuk sepenuhnya ke alam mimpi. Yang ia ingat hanya satu: Orang itu cukup berperan penting dalam masa lalunya yang pahit.
"Oyasumi, Rin…," Seseorang itu tidak menjawab pertanyaan Rin. Ia mengecup dahi Rin lalu menaruh kembali kompresnya sebelum keluar dari ruangan berbau jeruk tersebut –tak perlu mematikan lampu karena lampunya memang tidak menyala.
.
.
.
TING TONG! TING TONG!
Suara bel menggema di dalam rumah tersebut. Seseorang dengan wajah cemas berdiri di depan pintu, sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Karena tidak dapat respon dari dalam, ia pun menekan bel rumah sekali lagi.
TING TONG!
Sudah menunggu selama dua puluh detik, masih saja tidak ada yang datang membukakan pintu. Pemuda berambut honeyblond yang kalian pasti sudah tahu siapa, langsung menghela nafas.
Oke, jika kalian bertanya kepadaku mengapa ia berada di sini sekarang, maka jawabannya adalah:
Pertama, ia datang untung menjenguk Rin. Tentu, bagaimanapun juga, Len mulai menyadari jika perasaannya bukanlah hanya sekedar 'sahabat' terhadap gadis yang ahli dalam berdebat tersebut.
Kedua, ia dipaksa. Camkan itu, DIPAKSA oleh sahabatnya, Shion Kaito sang es krim maniak. Oh, semenjak kejadian di rumah Kaito, Len dan Kaito sudah menjadi sahabat baik. Dan Kaito yang sudah melihat 'pertanda' dari sahabatnya itu langsung menyarankannya untuk menjenguknya sepulang sekolah.
Flashback: ON
"AAPPPAAA?!"
"Iya. Jadi kau menjenguknya bisa kan, Len?" Tanya Kaito.
"Bi-Bisa sih… Tapi kan…"
"Ayolah!"
Len hanya terdiam, tidak berniat menjawab perkataan Kaito. Kaito pun mendengus kesal.
"Kau takkan sendiri kok, nanti aku dan Miku juga akan menyusul," ucap Kaito akhirnya, menyemangati Len. Modus biar Len bisa lebih dekat sama Rin, ehehe. Len terlihat terkejut, namun akhirnya menghela nafas pasrah.
"Baiklah…"
Flashback: OFF
Len sekali lagi menghela nafasnya. Sudah sekitar lima menit ia menunggu di depan pintu, namun tetap saja tak ada seseorang pun yang membukakan pintu baginya. Matanya memandang kesana kemari, bosan.
Hingga Len melihat kenop pintu.
"D-Dicoba juga tidak apa-apa kan? Lagian tidak ada yang membukakan…," batin Len lalu meletakkan tangannya di atas kenop pintu dengan gemetaran. Lalu memutar kenop tersebut kesamping, menunjukkan isi dari rumah tersebut.
"T-T-T-Terbu-Terbuka…," gumam Len dengan wajah pucat pasi.
"P-Permisi…," akhirnya Len memutuskan untuk masuk saja ke rumah itu. Ia pun masuk, melepaskan sepatu yang dikenakannya, menutup pintu, lalu mulai mengelilingi rumah itu. Rumah Rin cukup luas dan nyaman untuk ditinggali. Dengan tembok yang cukup tinggi.
"R-Rin?" Len memanggil Rin. Namun tidak ada jawaban. Len pun semakin yakin kalau tidak ada orang di dalam rumah.
"Tapi… Jika tidak ada orang, bagaimana mungkin pintunya terbuka?" Pikir Len. Maka, Len pun memutuskan untuk mencari kamar Rin. Siapa tahu Rin berada di dalam kamarnya, dan tidak mendengar ketokan pintu.
Tak lama setelah ia berkeliling, ia pun sampai di depan sebuah pintu. Pintu yang terbuat dari kayu. Entah mengapa, Len merasa inilah kamar Rin, maka, bermodal kenekatan, ia pun mengetok ruangan tersebut.
TOK TOK TOK!
Tidak ada jawaban. Yang ada malah pintu dihadapan Len kini terbuka, menampakkan ruangan gelap gulita. Refleks, Len pun mencari saklar lampu di tembok dan menekannya. Sejenak, ia menutup matanya karena cahaya yang menyilaukan.
Menampakkan sebuah ruangan dengan sebuah ranjang di dalamnya. Di sampingnya terletak sebuah meja dengan berbagai macam benda. Len mengedarkan pandangannya dan melihat Rin sedang tertidur dan berbaring di kasurnya.
Sejenak ia kaget, lalu menekan kembali saklar lampu, sehingga ruangan kini menjadi gelap (tidak segelap tadi karena terdapat cahaya lampu remang-remang). Len pun masuk ke dalam ruangan lalu menutup pintu dengan perlahan –takut jika ia membangunkan Rin.
Lalu berjalan mengendap-endap mendekati ranjang Rin, sehingga ia dapat melihat wajah bidadari Rin saat sedang tidur. Sejenak, wajah Len memerah. Namun tiba-tiba saja ia menangkap sesuatu yang asing di wajah Rin: kompres.
"Eh? Jadi dia sakit ya," pikir Len sambil mengambil kompres tersebut. Lalu ia keluar dan berjalan menuju kamar mandi di sebelah ruangan Rin -mengganti air kompres tersebut dengan air dingin- sebelum ia masuk kembali ke kamar Rin tanpa menimbulkan suara berisik.
Rin masih saja berbaring manis di kasurnya dengan deru napas yang teratur. Len menghela nafas, lalu meletakkan kompres tersebut di dahi Rin dengan lembut. Sejenak, perhatiannya teralihkan ke bibir mungil merah muda milik Rin.
"Hanya kali ini saja," gumam Len dengan wajah memerah. Lalu ia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Rin.
5 cm…
3 cm…
1 cm…
Dan…
Len pun mencium Rin.
Ciuman itu bertahan selama sekitar sepuluh detik, lalu Len melepaskan ciumannya. Wajahnya sudah sangat memerah. Untung saja Rin sedang tidur. Apa reaksinya jika ia sedang bangun saat itu, coba?
Len pun dengan cepat pergi meninggalkan kamar Rin dengan wajah masih memerah. Lalu ia segera pergi keluar dan duduk di sofa ruang tamu. Kini ia hanya bisa menunggu Kaito untuk datang menemaninya.
.
Alicia: Yow! Kayaknya lama-lama tambah OOC, bener ngak? .-.
Kyoko: Ini balasan reviewnya!
.
-Kei-T Masoharu
Iya, dan UAS-nya bagus kok (Erika: Narsis!) X3
Ini sudah lanjut, arigatou Kei sudah me-review! XD
-Kurotori Rei
Hehehe… Namanya juga alur cerita #disepak
Oke, ini sudah lanjut, arigatou sudah me-review! X3
-RizuStef
Iya… Nilainya bagus kok (Erika: Dasar, bagus darimana?!/Alicia: Urusai! *mukul Erika*)
Ok! Arigatou sudah me-review! X3
-RamenRider ChickenButt
Em… EnRi-san di rumah sakit? Cepat sembuh ya X3
Oke… Diusahakan ._.)/ Arigatou sudah me-review! XD
.
Buat semuanya yang sudah fav, fol, ataupun baca sampai sini, arigatou ne! Hontouni arigatou! Terakhir… Review please?
.
Lanjut atau delete?
