Disclaimer : Everything written in this blog is creation of my imagination. The characters belongs to their mangaka, but the plot belongs to me. Please DO NOT REDISTRIBUTE!

Title : Kocchi Muite Baby!

Author : _kadzuki_ aka fate_aram

Rating : T

Pairing : Akakuro, Aoki, MidoTaka, MuraMuro

Genre : AU, Shonen-ai, Crack, Failed! Humor, Romance

Length : Series

Cast : Kiseki no Sedai, Kazunari Takao, Himuro Tatsuya

Summary : Ketika perjalanan hidup Himuro nyaris berakhir dengan Himuro penyet, tak disangka sang pujaan hati pasang badan untuk melindunginya! Purple Lollipop Knights, to the rescue!

A/N : Sabtu kemaren habis nonton Rurouni Kenshin Kyoto Inferno, dan gara-gara itu gw jadi fangirling-an lagi sama Ryunosuke Kamiki~ Dulu waktu jadi Kyu di Tantei Gakuen Q imut-imut gimanaaa gitu, dan sekarang tambah ganteng aja~ *mimisan* Well, itadakimasu~


[Part 7]


Himuro perlahan menurunkan kedua tangannya. Matanya mengerjap-ngerjap tak percaya.

Murasakibara.

Murasakibara Atsushi.

Atsushi-nya.

Ia mencubit pipinya sendiri, memastikan bahwa ini adalah realita, bukan khayalan semata. Dan kala rasa sakit mendera sarafnya, ia tahu bahwa apa yang ada di hadapannya ini nyata.

Sang titan tukang makan berambut ungu berdiri dengan gagah, menyembunyikan tubuh Himuro dari pandangan liar fans-nya yang mirip korban kesurupan massal. Matanya menatap tajam penuh intimidasi dan nafsu untuk meremukkan lawan, persis ketika ia sedang masuk Zone. Kerumunan itu berhenti, tidak berani maju lagi meski hanya sesenti. Ngeri kalau mendadak sang titan ungu mengayunkan tangan raksasanya dan melempar seorang yang kurang beruntung.

Jika di mata fans liar itu Murasakibara adalah coloss*l titan yang siap mengamuk, lain halnya dengan Himuro. Bagi sang pemuda berambut legam, Murasakibara adalah ksatria berkuda putih yang siap menyelamatkan sang putri, dan ketika marabahaya telah terlewati mereka akan hidup bahagia, happily ever af—

Oke, siapa saja tolong tampar cowok ganteng satu ini biar sadar. Kondisinya masih gawat darurat, nih.

Penyelamatan yang dilakukan pemuda berambut ungu itu akan terlihat keren seandainya ia mengenakan armor besi lengkap dengan pedang terselip di pinggang kanan atau seragam polisi layaknya sang sepupu, Matsu*ka Rin, hiu seksi dari fandom sebelah. Sayang, kenyataan tak selalu sesuai dengan yang diharapkan. Sang titan tukang makan itu hanya membawa dua buah karung bekas beras cap Roj*lele lima puluh kilo made in G*rut yang menggembung penuh.

Hening.

Baik Murasakibara maupun kerumunan fans liar tersebut sama-sama terdiam, melempar pandangan permusuhan. Tidak ada yang berani memecah keheningan mencekam tersebut. Satu gerakan saja berarti memulai perang antara manusia dan sang titan.

Mendadak Murasakibara membuka sebuah karung, memegang kedua ujung bagian bawahnya, dan dengan kekuatan luar biasa ia melemparkannya ke atas kerumunan di hadapannya. Dari dalam karung itu berhamburan permen berbentuk kelereng berbagai ukuran dan warna, berkilau layaknya permen F*x yang populer di sebuah negara Asia Tenggara, membentur kepala-kepala di bawahnya meski dengan kekuatan tak seberapa. Meski begitu, ada beberapa yang tak beruntung karena permen tersebut lengket di rambut mereka.

Seolah belum puas, sang pemuda berambut ungu melempar karung satunya lagi dengan cara yang sama, isi yang sama pula. Matanya amethyst-nya tetap menunjukkan tekad untuk berdiri tegak di sana, walau kini di sudut matanya ada setitik kecil genangan air mata.

Di balik punggung besar itu, sang tuan pu—Himuro, hanya bisa tercekat melihat apa yang barusan terjadi. Pasalnya yang barusan di lempar sang pujaan hati adalah salah satu dari sepuluh cemilan favoritnya. Namanya memang agak pasaran sih, Crystal Candy, tapi rasanya memang luar biasa, enak dipandang sebelum dimakan dan meleleh perlahan begitu menyentuh lidah. Hanya dijual di ujung komplek pertokoan dekat Teikou Gakuen dan cuma diproduksi dua ratus lima puluh kilo sekali dalam sebulan.

Bagaimana Himuro bisa tahu? Tentu saja karena ialah yang selalu menemani Murasakibara saat sang pujaan hati membeli permen itu semenjak pertama kali diproduksi. Obsesi Murasakibara akan Crystal Candy bisa dibilang nyaris menyamai obsesinya terhadap cemilan nomor satu favoritnya, Maiubo. Bahkan Murasakibara tak ragu untuk bolos pelajaran hanya untuk menunggui proses produksi permen itu agar tidak kehabisan. Sebagai anak yang baik dan rajin makan, ia selalu membeli dua karung lima puluh kilo tiap kali permen itu dijual. Luar biasa, bukan?

Efek samping dari produksi yang cuma sebulan sekali membuat sang titan tukang makan nyaris tidak membagi permennya. Himuro yang terhitung sebagai (calon ib—pacar) orang terdekat Murasakibara saja hanya pernah diberi sekali, ukuran paling kecil pula. Sekarang pemuda itu melempar seluruh cadangan permennya selama sebulan begitu saja?! Kepalanya barusan terbentur atau apa?

"Hei! Ternyata badan gede tapi nyali seuprit! Beraninya lempar kayak ginian!" teriak seseorang dari barisan belakang.

"Nggak usah sok pahlawan, Himuhimu nggak butuh tiang berjalan kayak kamu! Minggir sana!"

Mendengar kalimat barusan, spontan Himuro kepingin ngamuk. Kata siapa dia tidak membutuhkan Murasakibara?! Justru pemuda super jangkung berambut ungu itulah pusat dunianya. Hidupnya takkan berarti jika pemuda itu tidak pernah hadir dalam kehidupannya.

Oke, agak lebai memang. Tapi itu kenyataan dari sudut pandang seorang yang dimabuk cinta, bung.

Baru saja sang motherly uke mengepalkan tangan dan hendak melabrak seorang yang berani mengatai bayi besar tercintanya, tiba-tiba tangan kiri Murasakibara terentang, seolah melarangnya maju dan tetap berlindung di balik tubuh raksasanya. Belum selesai sampai disitu, Murasakibara menyelipkan tangan kanan ke dalam saku depan celananya, menarik keluar sesuatu dari sana, kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi.

Hening seketika.

Himuro terpana. Para fans liar berjengit, takut sang pemuda berambut ungu mengeluarkan sesuatu yang kali ini bisa membuat mereka celaka. Berpasang-pasang mata yang ada disana perlahan menatap ke atas—jangan lupakan tinggi Murasakibara yang sudah melewati dua meter, ditambah dengan panjang tangannya yang nyaris satu meter, maka benda misterius tersebut serasa digantung di puncak tiang panjat pinang—, mulai membayangkan macam-macam, dan ternyata benda itu adalah...

Sebuah peluit.

Berbentuk bebek, warna ungu.

Tambahan lagi, digantungkan pada seutas pita warna hitam kucel, sepertinya sih dipungut di pinggir jalan.

Sementara kumpulan manusia di hadapannya beserta sang ib—tuan putri masih tercengang, Murasakibara menyisir lawannya satu per satu. Tatapannya tetap bengis meski masih ada setitik air mata di sudut pelupuknya, efek berpisah dari cemilan tercinta. Dengan segenap kewibawaan dan kedigjayaan hasil meniru raja (kontet) dari neraka, ia mendekatkan peluit bebek itu ke mulut, meniupnya sekeras mungkin.

Terdengar suitan melengking panjang—ya, suitan melengking yang sempurna, bukan suitan mirip suara knalpot motor tahun 80-an hasil tiupan peluit tukang parkir Ind*maret dan sejenisnya—membelah keheningan. Semua menatap sang raksasa berambut ungu, kemudian saling menatap satu sama lain, menunggu sesuatu terjadi.

Satu detik.

Dua detik.

Sepuluh detik.

Satu menit.

Hening. Tidak terjadi apa-apa. Murasakibara tetap berdiri bak ksatria dengan tatapan penuh intimidasi, melindungi sang ib—tuan putri. Masih memegang peluit bebek tentunya.

"Ha! Ternyata cuma gertak sambal doang!" sahut seorang pria berambut hitam yang sedari tadi bolak-balik menjulurkan lidahnya disertai muka super licik. "Biar tubuhnya mirip raksasa, tidak ada gunanya kalau melawan kita semua! Ayo rebut Himuro kita!"

Berbagai sahutan menyetujui terdengar di sana-sini. Barisan paling depan mulai maju selangkah demi selangkah, megeliminasi jarak antara sang ksatria berbaju lolipop dan musuhnya. Tuan putri berupa pemuda berparas manis dengan tahi lalat di bawah mata kiri, masih dalam balutan kostum Meg*rine Luka, hanya bisa memegang ujung seragam ksatrianya.

"Singkirkan raksasa itu!"

Akhirnya kerumunan fans liar itu serempak bergerak maju. Murasakibara masih berdiri diam di tempat, tidak terlihat takut sedikit pun. Ketika jarak diantara mereka tinggal dua meter lagi, sebuah bola bulu berwarna hitam mendadak jatuh dari langit.

TUK.

"AW!"

TUK.

"Aduh!"

TUK.

"Argh!"

TUK.

"Celana dalamku!"

Sori, yang satu ini agak absurd, bung.

Semakin banyak bola bulu hitam yang jatuh ke arah kerumunan liar tersebut, melesat persis ke arah mereka yang ditempeli Crystal Candy yang lengket. Anehnya, sesaat setelah menghantam kerumunan di bawahnya, bola bulu hitam itu kembali terbang, melesat ke langit.

Eh, terbang?!

"Di atas!" jerit seorang cowok penuh tato yang berdiri di barisan depan.

Sontak semua langsung mengarahkan tatapan mereka ke langit. Tampak sepasukan bola-bola berwarna legam yang terbang mendekat dengan kecepatan tinggi. Mereka yang tidak rabun menyipitkan mata, meneliti benda asing tersebut. Tidak butuh waktu lama bagi para fans liar itu untuk menyadari bahwa bola bulu hitam yang melaju ke arah mereka memiliki sayap, paruh tajam, mata licik berkilat, dan dikenal sebagai pencuri barang berkilau.

Gagak.

Iya, gagak. Gagak yang paling dibenci Murasakibara. Gagak yang biasa menggangu dan mematuki pemuda jangkung itu kalau sedang lengah dan berjalan berdua dengan cemilannya yang segunung. Gagak yang sengaja mangkal di taman dekat Teikou Gakuen demi mencegat korban empuknya yang bertubuh besar tapi bermental anak esde.

Biasanya Murasakibara segera memasang pose defensif, hartanya berada dalam pelukan protektif, memandang penuh rasa permusuhan pada makhluk tersebut. Tak jarang nyaris menangis kalau musuhnya datang dalam bentuk pasukan dan berhasil mencuri kekas—cemilannya. Namun kali ini Murasakibara tetap berdiri diam, mengawasi kawanan gagak yang terus menyerang gerombolan fans liar Himuro untuk mendapatkan Crystal Candy yang menggoda.

Musuh dari musuh adalah teman.

Itulah isi kepala Murasakibara saat ini. Demi menyelamatkan Muro-chin-nya dari kemungkinan babak belur karena diinjak-injak fansnya sendiri, ia rela melakukan gencatan senjata dengan musuh bebuyutannya sedari kecil. Hanya kali ini saja ia menyerahkan harta negara bulanannya pada sang begundal cilik.

Pemuda super itu jangkung menyusut hidungnya sesaat, kemudian berbalik dan mengangkat pemuda berambut legam yang masih terpana dengan kejadian tidak biasa di hadapannya. Setelah memastikan ib—teman terbaiknya itu aman dalam gendongannya, Murasakibara mulai berlari, meninggalkan para fans yang sedang bertahan dari serangan pasukan gagak. Tepat sebelum tubuh raksasanya menghilang di tikungan antar koridor, ia berhenti dan berbalik, melihat musuhnya yang masih asyik berpesta.

"Gagak-chin! Arigatou! Fighting! "

"KAAAAAAK!"

Murasakibara Atsushi, tujuh belas tahun, ternyata bisa berbicara bahasa gagak saking seringnya bertempur dengan makhluk tersebut.

Himuro masih bengong, otaknya dalam proses mencerna semua rentetan kejadian yang terjadi begitu cepat. Yang bisa direkam oleh benaknya hanyalah patah hati, fans yang lepas kendali, kemudian kedatangan sang pujaan hati, dan dibawa lari.

Entah berapa lama sang pemuda jangkung berambut ungu berlari dengan crossdresser (dadakan) Meg*rine Luka dalam gendongannya. Yang jelas, ia sudah kabur sangat jauh, mengingat langkah kakinya yang panjang, sesuai dengan tinggi badannya yang menjulang. Akhirnya di sudut taman belakang sekolah paling rimbun, tersembunyi, tak terawat, tapi sering dipakai 'nganu-nganu' oleh beberapa pasangan yang cenderung exhibisionist, Murasakibara berhenti berlari dan menurunkan ib—tuan putrinya.

Nyawa Himuro seolah langsung kembali begitu kedua kakinya menyentuh tanah. Kesadarannya pulih, membuat otaknya kembali bekerja dengan semestinya. Dikedip-kedipkan matanya perlahan, tak percaya bahwa pujaan hatinya baru saja melakukan aksi penyelamatan yang—menurutnya—heroik.

"Atsushi, terimakas—"

Kata-katanya terpotong saat ia berbalik dan mendapati sang pemuda berambut ungu sudah berjongkok disertai aura suram. Telinganya menangkap gerutuan pelan yang nyaris tak terdengar. Ia mendekati Murasakibara, menyentuh pundaknya lembut, kemudian perlahan melongokkan kepala dari bahu pemuda jangkung itu, melirik ekspresinya dari sudut mata.

"Atsushi?"

Kali ini Himuro mengeraskan panggilannya, membuat Murasakibara mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Wajah tampan yang biasanya terlihat malas tanpa tujuan itu kini dihiasi beberapa ekspresi sekaligus. Air mata menggenang di sudut mata, siap mengalir deras kapan saja. Bibir yang bergetar, setengah manyun-setengah menahan tangis. Desah nafas yang berat dan pendek. Mirip kayak anak TK yang jajanannya disita.

"Atsushi tidak apa-apa?" Himuro bertanya sekali lagi, lebih lembut, sembari mengusap-usap punggung pemuda itu.

"...chin..."

"Hmmm?"

"...chin... Crystal-chin... Crystal-chin... Jatah bulan ini..."

Seketika Himuro kepingin menjeduk-jedukkan kepalanya di pohon terdekat sekeras mungkin. Seharusnya dia yang nangis, bukan Murasakibara. Sudah cinta bertepuk sebelah tembok selama setahun, tampil di festival sekolah dengan bayaran rasa malu seumur hidup, bahkan nyaris dihabisi oleh fans-nya sendiri, tapi sang pujaan hati sama sekali tidak menyadarinya. Secuil upil pun tidak. Dan sekarang pemuda yang mencuri hatinya itu malah memilih untuk menangisi cemilannya dari pada dia.

Ngenes kuadrat.

Seandainya dia adalah seorang pemuda berumur tujuh belas tahun sehat jasmani-rohani dengan mental normal, seharusnya kini ia sudah meninggalkan Murasakibara. Toh, perasaannya sama sekali tidak digubris, mending cari baru. Namun—hei, dia adalah Himuro Tatsuya, motherly uke yang tidak mungkin meninggalkan orang terkasihnya begitu saja, meski yang bersangkutan sudah mengabaikan perasaannya.

"Atsushi, tenanglah." Himuro berpindah ke hadapan sang raksasa berambut ungu, setengah berjongkok untuk menyejajarkan pandangan mata. "Jangan sedih, nanti aku belikan gantinya."

"Crystal-chin... Tiga minggu lagi baru ada..."

Untuk pertama kali hidupnya, seorang Himuro yang dikenal ramah, ganteng, kece, dan punya 'senyum-sejuta-watt', ingin memaki-maki si pembuat Crystal Candy, mengantungnya terbalik, dan menyiksanya sampai puas. Kenapa permen favorit pujaan hatinya cuma diproduksi sebulan sekali?! Dan alasannya hanya demi membuat permen itu populer di kalangan pelanggan, persetan sekali. Terus di saat darurat begini dia harus melakukan apa coba?!

"Kalau Atsushi sayang—" Sang motherly uke agak tercekat, tidak rela menerima kenyataan kalau pemuda super jangkung itu lebih mencintai benda mati bernama makanan. "—sama Crystal-chin, kenapa tadi dibuang-buang?"

Desah nafas berat dan pendek itu terhenti, digantikan oleh helaan nafas panjang tak biasa. Perlahan Murasakibara mendongak, mencoba menatap ib—orang terdekatnya. Manik mata sewarna amethyst berusaha menghujam manik di hadapannya, namun gagal. Ia menggigit bibir bawahnya, otaknya masih merangkai kata yang akan meluncur.

"Atsu—"

"Buat menyelamatkan Muro-chin."

Himuro langsung terdiam, membiarkan Murasakibara mengambil waktu untuk mengatakan semua yang ada di pikirannya. Mengingat mental pemuda itu yang delapan puluh persen mirip anak kecil, ia tidak keberatan untuk menunggu.

"Muro-chin tadi hampir penyet."

Ya, meski miris, mau tak mau Himuro mengakuinya. Kalau tadi Murasakibara tidak datang, ia yakin dirinya akan berakhir seperti tempe penyet di warung tenda khas Ind*nesia tempat ayahnya biasa kumpul-kumpul. Akhir yang nggak elit sekali untuk uke tampan sekaliber dirinya.

"Aku 'kan juga cowok. Aku bisa menyelamatkan diriku sendiri."

Bohong, padahal tadi dia cuma bisa bengong. Seandainya tidak ada panitia yang bertahan dengan pagar besi portabel, sudah pasti dia akan 'habis' dalam sekejap. Syukur-syukur cuma digrepe-grepe, kalau sampai dibius, diculik, dan diperkosa mau bagaimana?

"Tidak. Aku harus menyelamatkan Muro-chin."

"Atsushi, denga—"

"Soalnya Muro-chin sama kayak maiubo. Aku suka."

Himuro langsung terdiam. Kata 'suka' yang terlontar dari mulut Murasakibara itu bergaung di benaknya. Sudah rahasia umum kalau yang nomor satu di hati Murasakibara adalah jajanan bernama maiubo diikuti antek-anteknya yang juga sebangsa cemilan dan makanan manis. Tapi jika ada yang disamakan dengan maiubo, berarti...

"Bingung, aku nggak ngerti. Kalau disuruh milih antara Muro-chin atau maiubo, aku nggak bisa. Aku suka dua-duanya."

Tanpa sadar pemuda berambut legam itu menahan nafasnya, menanti rentetan kata dari bibir pujaan hati tercinta. Ucapannya, suasananya, bolehkah hatinya yang sudah berupa serpihan berkumpul kembali dan menerima setitik asa?

"Tapi aku nggak suka kalau harus berbagi Muro-chin sama orang lain. Rasanya aku jadi kepingin menghancurkan orang itu."

Semburat merah perlahan muncul di kedua pipi Himuro. Rona yang timbul karena ucapan romantis sederhana, bukan karena salah paham seperti biasa. Jantungnya mulai berdetak dengan kecepatan yang meningkat tiap detiknya.

"Muro-chin, aku ingin kita kayak Tou-chin sama Kaa-chin, sama-sama terus."

"..."

"Pokoknya Muro-chin tidak boleh dekat-dekat sama yang lain."

"..."

"Aku maunya sama Muro-chin terus sampai tua, serumah sama Muro-chin, tiap hari makan bento Muro-chin—suer, aku nggak akan bosan. Muro-chin tidak keberatan, 'kan?"

Hening.

Himuro berkedip pelan, tidak melepaskan tatapan ke arah amethyst di hadapannya.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga puluh detik.

PLAK!

Mendadadak pemuda berambut legam itu menampar pipinya sendiri sekuat mungkin, bentuk reaksi alami dari tubuhnya untuk meyakinkan otaknya bahwa kata-kata yang tertuju padanya itu nyata, realita, bukan mimpi di siang bolong semata. Ataukah ini hanya sekedar imajinasi tanpa sadar karena saking parahnya patah hati yang melanda?

Tangan kiri Himuro setengah terangkat, siap memberikan tamparan susulan. Namun ketika tangan itu mulai terayun, sebuah tangan besar dan hangat menahannya. Pemuda itu tersentak, dan saat manik sewarna amethyst menghujam ke dalam matanya, seolah ada ribuan kupu-kupu beterbangan di perutnya dibarengi gelenyar kehangatan yang luar biasa.

Ini nyata.

Pernyataan cinta dari Murasakibara Atsushi yang selama ini cuma bisa dinikmati tiap malam Minggu di dunia mimpi—harap maklum, di saat yang lain asyik kencan, dia cuma bisa berdelusi karena cinta bertepuk sebelah temboknya—, kini menjadi nyata. Ternyata tidak sia-sia cadangan rasa malu seumur hidupnya dipakai untuk performance nista bersama tiga sahabat uke-nya.

Dan jangan lupa untuk berterimakasih pada fans fanatikmu, bung. Seandainya mereka tidak nyaris menjadikanmu Himuro penyet, adegan barusan tidak mungkin terjadi.

"Atsushi..."

"Ya~?"

"Ini bukan mimpi, 'kan? Atsushi su-suka padaku?" Himuro tergagap, rona merah di wajahnya makin kentara.

Murasakibara mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti mengapa sahabat baik—bukan, orang terspesialnya itu tidak yakin bahwa ini realita. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh pelan pemuda itu dan mengelusnya dengan lembut. Yang pertama terlintas di otaknya adalah pipi Muro-chin-nya itu semulus kulit bakpao.

Oke, yang terakhir itu mohon dimaklumi. Yang kita bicarakan itu Murasakibara Atsushi, kawan.

"Neee~ Pokoknya aku suka Muro-chin seperti aku suka maiubo. Tapi aku nggak mau berbagi Muro-chin. Muro-chin cuma boleh sama aku, sampai kita jadi kakek-kakek nanti. " Untuk pertama kalinya sang pemuda berambut ungu tidak melepaskan tatapan mata pada lawan bicaranya, bahkan hanya sedetik pun. "Muro-chin janji, ya~?"

Entah reaksi apa yang harus Himuro berikan. Emosinya bercampur aduk menjadi satu, membuatnya bingung antara kepingin nangis karena terharu cintanya tidak bertepuk sebelah tembok lagi atau jerit-jerit kesenangan karena akhirnya sang pujaan hati menyatakan cintanya. Yah, intinya sama saja, sih.

"Te-tentu, Atsushi." Himuro mengeluarkan senyumannya—bukan 'senyum-sejuta-watt' yang biasa ia tebar, melainkan senyuman tulus nan lembut yang hanya ditujukan untuk Murasakibara Atsushi seorang. "Aku janj—"

Sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, sang pemuda berambut ungu menautkan kedua bibir mereka. Awalnya Himuro agak terkejut, namun seiring detik berlalu, ia perlahan memejamkan matanya dan hanyut dalam ritme ciuman tersebut.

A sloppy kiss.

Itu yang ada dalam kepalanya saat kedua bibir mereka beradu. Kecupan-kecupan kecil, intens, kikuk, namun penuh makna. Ciuman itu bagaikan lem perekat untuk hatinya yang sempat menjadi serpihan, menyatukannya, dan menjadikannya lebih utuh dari semula. Tidak ada pertarungan lidah untuk memperebutkan dominasi, hanya rasa manis yang menjalar pelan. Persis seperti pasangan anak sekolah dasar yang baru pertama kali berciuman, malu-malu tapi penuh rasa ingin tahu.

"Muro-chin..." panggil Murasakibara pelan ketika bibir mereka tidak lagi bertaut. "...Aku suka Muro-chin~"

Tiga kata ajaib sudah diucapkan. Seandainya Himuro adalah sebuah robot, bukan manusia, bisa dipastikan dia akan mengalami overheat parah. Mukanya langsung semerah kepiting rebus hanya dalam waktu tiga detik, dan kelihatannya ada segaris asap tipis keluar dari telinganya.

"Araaa? Muro-chin kenapa?"

Dengan muka polos malasnya sang pemuda berambut ungu menelengkan kepala. Dan dimata sang pemuda berambut legam, hal itu menaikkan level ke-unyu-an Murasakibara. Kali ini tanpa ragu ia memeluk pemuda di hadapannya, menenggelamkan wajah di tengkuk sang pujaan hati, menghisap aroma tubuh yang disukainya dalam-dalam.

"Aku suka... Suka sekali sama Atsushi..." bisiknya pelan.

"Nee~ Nanti Muro-chin mau menemaniku jajan di stand depan, 'kan?"

Oke, dari suasana yang romantis dimana akhirnya tokoh utama wani—sori, uke, mendapatkan pernyataan cinta dari seme pujaan, keadaan langsung berbalik seratus delapan puluh derajat. Seandainya ini hanyalah sebuah hari normal dimana Himuro masih bertepuk sebelah tembok, mungkin yang bersangkutan cuma bisa mengumpat kesal dalam hati karena lagi-lagi kalah dari sebuah benda mati bernama makanan. Namun kali ini—

"Tentu, Atsushi. Kemanapun akan kutemani. Aku 'kan sudah janji."

—ia akan senang hati menerimanya. Karena kini ia tahu, ia juga memiliki sebuah tempat spesial di hati Murasakibara Atsushi-nya tercinta.

"Yay~ Muro-chin numero uno!" Sang pemuda berambut ungu sekali lagi memberikan kecupan kecil di bibir, membuat sang pemuda berambut legam nyaris mimisan saking bahagianya. "Tapi Muro-chin ganti baju dulu. Aku nggak suka Muro-chin dilihat-lihat sama orang lain."

"Oke~!"

Himuro Tatsuya, musim gugur di usia tujuh belas, memulai kisah cintanya yang semanis gula-gula.

.

.

.

.

Di taman samping sekolah yang agak sepi, seorang uke kece berambut pirang sedang berjalan dengan kepala tertunduk. Wajah supermodel kebanggannya terlihat kusut, bibir manyun jelek-able, air mata alay menggantung di pelupuk mata. Ujung kakinya menyaruk-nyaruk kasar, sesekali menendang kerikil kuat-kuat dan membuatnya melayang terbang ke arah orang-orang yang tak terdosa.

Memang tadinya ia berniat untuk mengobati patah hatinya dan beranjak menatap masa depan baru, bahasa kerennya sih, move on. Apa daya egonya berkhianat, ia malah mengutuki sambil mengenang sosok pujaan hati berupa pemuda deki—maaf—agak hitam, ketek bau kambing, suka ngupil, sering kentut sembarangan, tapi memang ganteng.

"Aominecchi jahat-ssu..." gumamnya pelan. "Padahal aku sudah memberikan segalanya, tapi sekarang aku dicampakkan begitu saja-ssu... Tega sekali kau..."

Errr, nak? Kalimatmu terdengar ambigu. Sangat ambigu.

"Apa sih kurangnya aku-ssu? Kece, seksi, ganteng... Malah aku juga sudah siap buat 'nganu-nganu' sama Aominecchi kalau diminta." Sisi narsis dan mesum sang anak ayam berambut pirang mendadak muncul, efek dari cinta bertepuk sebelah tembok yang diakhiri patah hati. "Iya, aku tahu memang punya kekurangan. Aku agak alay. Tapi aku nggak se-alay Reo-nee!"

Yah, barangkali menurut Kise memang begitu. Tapi apakah dia sadar kalau di beberapa sisi dirinya jauh lebih drama queen dibandingkan banci Taman L*wang Teikou Gakuen itu? Tentu saja jawabannya tidak. Layaknya pepatah semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak terlihat. Dengan kata lain, si pirang cengeng ini butuh cermin ekstra besar buat ngaca.

"Umm, maaf, Kise-san..." Seorang pemuda berambut brunette tiba-tiba menghampiri sang anak ayam pirang dengan wajah ketakutan, mencoba mengimbangi langkahnya yang kasar. "Maaf mengganggu... Maaf kalau suaraku jelek tapi—"

"—dahal sudah kuberikan seluruh rasa cintaku padanya, kau tahu!" Mendadak Kise memegang kedua pundak pemuda itu—sebut saja Sakurai Ryo, pemuda malang yang kebetulan sekelas dengan sang calon raja preman berkulit tan—dan mulai mengguncangnya histeris. "Aku nyata, bukan sekedar delusi yang cuma bisa dijam—"

" ...iya, dia ganteng banget! Kulitnya memang agak dekil sih, tapi masih bisa ditoleransi..."

Kepala Sakurai maupun Kise sama-sama menoleh begitu mendengar kata 'dekil' terucap. Siapa lagi sih yang punya trademark 'dekil', 'preman', dan 'ketek-bau-kambing' selain Aomine Daiki? Manik emas Kise langsung mengarah pada sepasang gadis yang entah kebetulan berjalan melewati mereka. Pendengarannya mendadak tajam, menangkap sinyal yang tidak mengenakkan dari kedua gadis tersebut, terutama karena keduanya masuk spesifikasi cewek favorit sang pujaan hati; badan montok, bibir penuh, dan yang terpenting adalah dada dengan cup E.

"Hei, seharusnya tadi kauperhatikan secara menyeluruh! Abs-nya itu loh! Benar-benar bikin ngiler!"

"Oh ya? Apa perlu aku mencoba untuk mengajaknya kencan buta? Lumayan kalau dapat, dia 'kan masuk cowok level S~"

"Serius?! Memangnya dia bakal mau sama kamu?"

"Who knows? Sekedar info, tadi dia pegang dadaku, dan rasanya~ Ahn~ Seandainya dia bukan cowok level S, sudah pasti kulaporkan atas kasus pelecehan..."

DUARRRR!

Bukan, itu bukan suara sesuatu yang meletus. Itu suara emosi Kise yang meledak.

Bagaimana tidak? Sementara Kise mencurahkan cintanya sepenuh hati, tidak protes disodori bau kambing dan bau kentut setiap hari, susah payah meyakinkan tiga teman seperjuangannya untuk melakukan performance nista dengan bayaran rasa malu seumur hidup demi seorang Aomine Daiki, yang bersangkutan malah asyik pegang dada pengunjung cewek. Tidak salah 'kan kalau Kise mengamuk?

Tolong seseorang ingatkan dia kalau dia tidak berhak ngamuk. Dia belu—bukan siapa-siapanya Aomine.

"PREMAN DEKIL BAU KAMBING SIALAN!" maki Kise alih-alih berteriak. Ia mengencangkan cengkramannya di pundak Sakurai yang sama sekalu tidak ada sangkut-pautnya. "APA SIH BAGUSNYA DADA?! APA SIH BAGUSNYA MAI-CHAN JELEK ITU!" Sang anak ayam pirang mulai mengguncang-guncang tubuh Sakurai dengan histeris. "AKU TAMPAN. AKU KECE. AKU SEKSI. AKU SUPERMODEL. KEKURANGANKU APA, HAH?"

Kekuranganmu adalah terlalu narsis dan agak alay, nak.

"DADA SILIKON KAYAK GITU DIPUJA?! SEPULUH TAHUN LAGI JUGA KEMPES, DASAR BRENGSEK!" Sakurai sudah mulai hilang kesadaran, guncangan yang ia terima semakin kencang. "AKU MEMANG COWOK, TAPI AKU LEBIH SEGALANYA DARI CEWEK ITU! LEBIH FAMOUS! LEBIH SEKSI! LEBIH KECE! DAN KARIR MODELLING-KU JAUH LEBIH MELESAT! UANG JUGA SUDAH DATANG SENDIRI! BAHKAN KALAU DIA MAU MAKAN EMAS TIAP HARI AKU JUGA MAMPU MEMBERI!" Pemuda malang yang salah timing itu kini pingsan dengan mulut berbusa, namun sang anak ayam pirang terlanjur kalap. "KENAPA AKU BISA JATUH CINTA SAMA DIA?! KENAP—"

"Oi, Kise!"

Pemuda berambung pirang itu otomatis menghentikan gerakan tubuhnya yang kelewat brutal begitu mendengar namanya dipanggil. Tubuhnya mendadak membeku, sadar siapa pemilik suara yang memanggilnya. Ya, ia mengenalinya. Sangat kenal malah. Karena suara itu tidak pernah absen sekalipun dalam mimpinya, apalagi dalam mimpi basahnya.

Sekali lagi kepalanya menoleh, manik emasnya menangkap sesosok pemuda berkulit gelap berambut sewarna langit malam yang cerah. Nafasnya seolah terhenti saat manik safir pemuda itu menghujam ke arahnya. Hatinya terasa sakit, seluruh emosi yang muncul selama dua puluh empat jam terakhir bercampur menjadi satu, siap mendobrak akal sehatnya yang tersisa.

Di satu sisi, ia senang melihat Aomine berada di hadapannya. Berarti pemuda itu tidak sepenuhnya mengabikannya dan masih mau bersusah payah mencari dirinya. Di sini lain, ia sangat ketakutan. Takut sang pujaan hati akan menolak perasaannya, kemudian mengacuhkan dirinya selamanya, berakhir sebagai dua orang yang tidak saling mengenal.

"Kenapa malah diam di situ? Sakurai sudah menyampaikan pesanku, 'kan?"

Kise terdiam, kedua telinganya mendadak tuli, menolak mendengar apa pun lagi. Ini terlalu menyakitkan untuknya. Sudah cukup dengan cinta bertepuk sebelah tembok selama setahun. Ketika Aomine mulai berjalan ke arahnya, kepanikan bercampur rasa takut segera menguasainya. Cengkeramannya di pundak Sakurai terlepas, membiarkan pemuda malang tersebut tergeletak tak sadarkan diri begitu saja. Kedua kakinya mulai melangkah mundur tanpa ia sadari.

"Kise?!"

Pemuda berambut pirang itu tidak sanggup lagi. Ia membalikkan tubuhnya, kemudian mulai berlari ke arah lapangan parkir berada. Otaknya sudah tidak mampu berpikir, yang diingatnya hanyalah berlari dan menghindari Aomine Daiki. Tentu saja yang bersangkutan tidak tinggal diam, turut berlari mengejar sang crossdresser dadakan.

Dan dimulailah adegan kejar-mengejar antara tokoh utama wanita dan tokoh utama pria ala telenovela.

"KISE! OI, KISE! BERHENTI!" seru Aomine alih-alih berteriak, lebih mirip preman tukang palak yang sedang mengejar mangsanya.

"NGGAK MAU!" jerit Kise tak kalah keras. Sudah cukup ujian lahir-batin yang dirasakannya hari ini. Hatinya takkan sanggup bertahan jika harus mendengar penolakan langsung dari sang pujaan hati. Untunglah kakinya masih kuat diajak berlari.

"KISE! BERHENTI KATAKU!"

"NGGAK! POKOKNYA NGGAK MAU! AOMINECCHI PERGI SANA! URUSI SAJA SI DADA SILIKON SIALAN ITU!"

"KAMU NGOMONG APA, SIH?! BERHENTI!"

"AOMINECCHI BERISIK, DAKIAN, NGGAK PEKA!"

"KISE! AWA—"

CKIIIT! BRAKK!


~~~~~TBC~~~~~


Kadzchan End-Note :

Free! Akhirnya tamat, dan berakhir dengan MakoHaru~ Sayang si Sousuke-nya pisah dari Rin, entah ngegalau dimana lagi.

Eniwei, ada pasukan Baozi-Hana disini? Ayo ikut project buat ultahnya Baozi 1 Oktober nanti :3 Gw juga ikut, meski Cuma sekedar bikin foto ucapan selamat via Instagram~

Akhir kata, kritik, saran, like, follow, apapun itu bentuknya bakal gw hargain banget :'v Dan buat review yang masuk bakal gw reply semampu gw sebelum di usir si bos :'D Cheers~