PAIR : YUNJAE gs dll sebagai pendukung
WARNING : cerita ini dari NOVEL berjudul
The Proposal
(The Proposition #2)
By
KATIE ASHLEY …
ini asli kopy paste dan replace untuk nama tokoh (yang berubah nama pemeran) ,,, …. Entah ada nya perubahan tidak nya tergantung Mood ….. toh saya tidak bias mengarang … jd sepertinya tidak ada perubahan ..
YANG TIDAK SUKA TAK USAH BACA OKE !
...
Bab 5
...
Dada Yunho mengencang pada prospek membiarkan Jaejoong jauh darinya bahkan cuma sedetik. Mereka telah banyak berbicara beberapa jam terakhir ini, sehingga Yunho takut semuanya akan memudar seperti mimpi jika mereka tidak tetap bersama-sama. Dia nekat melakukan apapun agar tetap bersamanya. Sebuah pemikiran terlintas di dalam benaknya, dan ia berseru, "Bisakah aku melihat Taepoong?"
Jaejoong menatap pangkuannya. Yunho tahu Jaejoong sedang bertempur hebat di dalam pikirannya sendiri tentang apakah dia akan membiarkan Yunho datang."Please!" Desak Yunho.
Bahu Jaejoong merosot, tapi ia mengangkat kepalanya dan tersenyum.
"Tentu saja. Maksudku, dia merindukanmu."
Yunho tertawa keras. "Aku meragukan hal itu. Dia lebih memilihmu daripada aku, bukan?" Kemudian dia seakan diserang memori menyakitkan pada malam itu ketika Jaejoong memergokinya dengan Ahra. Menyaksikan Taepoong mengejar Jaejoong, menyenggol perutnya dan merengek ingin ikut dengannya, telah merobek-robek hatinya sama seperti malam itu. Dengan gemetar, Yunho memaksakan sebuah senyum di wajahnya. "Aku yakin dia terlalu sibuk memakan sisa makanan dan berbaring di sekitar sofamu untuk merindukan aku."
"Tidak, dia benar-benar merindukanmu. lagipula, kau sudah menjadi ayahnya selama dua tahun."
"Bagus karena aku merindukannya." Yunho membungkuk bergeser ke arahnya. "Aku merindukannya setiap saat setiap harinya." Mata bulat Jaejoong melebar baik karena kedekatannya atau fakta bahwa mereka berdua tahu Yunho tidak berbicara tentang Taepoong lagi. Aliran listrik berderak di sekitar mereka berdua.
"Kau bisa mengikuti aku pulang."
"Terima kasih."
Dia menunggu sampai Jaejoong sudah aman di dalam mobilnya dan memutar mobilnya sebelum Yunho mengeluarkan mobilnya sendiri dari tempat parkir. Dalam perjalanan ke rumah Jaejoong, Yunho mengetuk-ngetukkan jari-jarinya dengan cemas di setir. Meskipun perjalanannya tidak lebih dari sepuluh menit, Yunho merasa sangat lama untuk sampai kesana. Sebuah harapan berdenyut merasuki dirinya karena Jaejoong akhirnya memaafkannya dan sepenuhnya membiarkan dia kembali ke dalam hidupnya.
Saat ia mulai memasuki jalanan masuk kerumahnya, sebuah tanda di halaman menarik perhatiannya. Menyipitkan mata dalam kegelapan, dia tersentak mengenali tanda makelar. Kata-kata Dijual telah melemparkan sebuah pasak menembus jantungnya. Rasa kebencian menutupi perasaan cinta kasih yang tadi merasuki dirinya.
Yunho berhenti mendadak sampai ban berdecit nyaris keluar dari jalan. Darahnya memukul telinganya saat ia keluar dari mobil dan membanting pintu. Dia berada di samping Jaejoong sebelum dia punya waktu untuk menutup pintu mobilnya.
"KAU AKAN PINDAH?"
Menciut karena kemarahan Yunho, Jaejoong menempelkan dirinya ke mobil. "Ya," bisiknya.
Yunho merasa malu karena reaksinya telah membuat Jaejoong ketakutan. "Maafkan aku karena berteriak padamu, tapi bagaimana bisa kau tidak memberitahuku?"
"Aku akan memberitahumu," bantahnya.
"Kapan? Pada saat mobil van untuk pindahan datang? Ya Tuhan, Jaejoong, kita sudah bersama-sama sepanjang malam! Aku sudah mengungkapkan hati dan jiwaku, tetapi kau tidak memberitahuku satu detail kecil ini?"
"Maafkan aku."
Yunho takut untuk mengajukan pertanyaan berikutnya karena jauh di lubuk dia sudah tahu jawabannya. "Dan ke mana kau akan pergi?"Aku akan pindah kembali ke rumah - ke Ellijay. Aku akan tinggal dengan Grammy dan Granddaddy untuk sementara waktu sampai rumah terjual, kemudian aku mungkin akan menemukan tempat yang dekat dengan mereka. Mereka semakin tua. Granddaddy jatuh dari tangga seminggu yang lalu dan baru saja menjalani operasi penggantian pinggul. Mereka membutuhkan aku, tetapi yang lebih penting, aku membutuhkan mereka."
Yunho menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan membiarkan kau menjauhkan anakku dari aku!"
Mata bulat Jaejoong menyipit menjadi kemarahan. "Jangan coba-coba mengancamku seperti itu! Kau tahu aku tidak akan pernah menjauhkanmu dari Changmin. Hanya karena aku tidak tinggal disini, tidak berarti kau tidak akan bisa melihat dia."
"Ellijay satu setengah jam sialan jauhnya! Bagaimana aku akan bisa melihat dia ketika dia jauh dariku? Apakah kau akan membuat jadwal kunjungan untukku? Seperti setiap akhir pekan atau hari-hari sialan yang lain?"
Jaejoong mengusap pelipisnya. "Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Aku hanya tahu aku tidak bisa tinggal disini lagi. Sendirian."
"Sialan, Jaejoong, aku tidak percaya kau bisa begitu tidak berperasaan."
Jaejoong menyentakkan dagunya ke atas dan memelototinya begitu keras membuat Yunho melangkah mundur. "Kau keparat! Berani-beraninya kau menuduhku tidak berperasaan! Aku bukan orang yang berselingkuh dan menghancurkan semuanya di antara kita!"
"Aku tidak tidur dengan dia," protes Yunho.
Jaejoong mengangkat tangannya. "Fakta kau tidak bisa ereksi atau aku menginterupsimu tidak relevan, Yunho! Kau membawa orang asing ke rumahmu dengan tujuan menipuku agar keluar dari hati dan pikiranmu!"
Dia meringis. "Aku sudah minta maaf jutaan kali dalam sejuta cara yang berbeda!"
"Aku tahu, tapi seperti yang sudah aku katakan kembali di O'Malley, aku akan berusaha memaafkanmu, dan itu akan membutuhkan sialan banyak waktu. Jadi jangan berharap aku jatuh ke dalam pelukan yang kau sediakan seperti tidak pernah ada yang terjadi dalam waktu dekat ini. Aku punya kehidupan sebelum bertemu denganmu, dan aku akan memilikinya setelah bertemu denganmu!" Jaejoong berbalik dan berjalan menjauhinya.
"Jae, tunggu!" Ketika dia terus berjalan, Yunho berseru, "Baik, kau ingin tindakan yang lebih besar? Ini yang satu lagi." Dia berlutut di trotoar.
Ketika Jaejoong berbalik, matanya melebar. "Apa yang kau lakukan?"
Yunho menatap sekeliling mereka. "Terlihat seperti apa yang kulakukan ini? Aku berlutut, benar-benar dan sungguh-sungguh memohonmu untuk memaafkan aku."
"Berdirilah!" Desis Jaejoong ketika ada pasangan sedang berjalan dengan anjing mereka lalu berhenti untuk menatap mereka berdua.
"Tidak sampai kau memaafkan aku."
Jaejoong menggeram frustrasi. "Aku sudah mengatakan itu akan membutuhkan waktu, jadi berhentilah bertindak dramatis."
Yunho mengangkat bahu. "Baik, panggil aku Ratu Drama. Panggil aku nama sialan apapun dalam buku! Hanya saja buang semua kemarahan dan kebencian dari sistemmu, jadi kau bisa memaafkan aku malam ini." Yunho membuka tangannya lebar. "Aku sudah menuliskannya di kartu, di pesan teks, dan pesan suara, dan bahkan dalam buku puisi yang aku kirimkan untukmu. Tapi sekarang aku akan mengatakan itu di hadapanmu karena itu satu-satunya kesempatan yang aku miliki."
Tiba-tiba pada saat itu Yunho tidak merasa begitu yakin pada dirinya sendiri. Dia menarik napas dengan kasar. "Aku minta maaf, Jaejoong. Aku sangat menyesal karena menyakiti hatimu. Aku minta maaf karena menjadi bajingan yang takut menyuarakan perasaanku kepadamu. Yang paling penting, aku minta maaf karena telah mengacaukan kehidupan sempurna yang kita miliki dengan mendorongmu pergi dan berselingkuh di hadapanmu."
Wajah Jaejoong memerah dengan kehangatan saat wanita yang ada di trotoar itu tersentak. Yunho berpaling ke arah wanita itu. "Ya, memang benar. Aku salah satu bajingan tak terhitung jumlahnya yang telah menghancurkan hati para wanita. Aku tidak bisa mengatakan pada Jaejoong kalau aku mencintainya, dan aku hampir meniduri wanita lain karena mencoba untuk mendorong Jaejoong menjauh." Yunho memukulkan telapak tangannya dengan keras ke dadanya. "Tapi dari lubuk hati dan jiwaku yang terdalam, aku sangat, sangat menyesal!"
"Ya Tuhan bung, apakah kau telah kehilangan harga diri?" Pria itu mempertanyakan, yang menyebabkan wanita disebelahnya memukul lengannya.
Yunho tertawa. "Ya, memang. Karena aku bersedia melakukan apapun untuk memenangkan dia kembali," Yunho menunjuk ke arah Jaejoong dan tersenyum padanya.
Ketika Jaejoong melangkah ke arahnya dengan tatapan penuh tekad, Yunho merasa harapannya meningkat. Dengan cepat memudar saat Jaejoong mencengkeram rambut dan menarik kepala Yunho.
"Berdirilah dari jalan masuk rumahku dalam satu menit, atau aku akan memanggil polisi!" Jaejoong menggelengkan kepalanya seperti orang sinting. "Aku tidak percaya kau baru saja mempermalukan aku di depan tetanggaku seperti itu!"
"Kupikir kau menginginkan seorang pria yang mau mengatakan bagaimana sebenarnya perasaan dia?"
Jaejoong memutar matanya. "Ini," katanya, sambil menunjuk dengan liar kepada Yunho, "bukan apa yang ada dalam pikiranku."
"Baik," katanya sambil berdiri. Yunho mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Jaejoong dan memiringkan alisnya. "Tapi bisakah kau jujur mengatakan kau agak sedikit terkesan dengan ini?"
Sudut bibir Jaejoong tertarik ke atas, dan Yunho tahu Jaejoong berjuang untuk tidak tersenyum. "Mungkin sedikit."
"Aha, aku tahu itu!"
"Ayolah. Mari kita masuk ke dalam sebelum kau bisa menjadi lebih dari seorang twatwaffle malam ini."
Yunho tertawa terbahak-bahak. "Baru saja kau panggil apa aku?"
"Itu salah satu dari kata-kata Junsu."
"Hmm, biar kutebak. Mungkin ini salah satu kata Junsu untuk aku?"
Jaejoong mengangguk sambil membuka pintu depan. "Ya, tapi dengan sejumlah kata makian yang lebih kasar bersamaan dengan itu."
"Aku menyadarinya."
"Silakan duduk. Aku akan melepaskan Taepoong dari basement."
Ketika Yunho turun pelan-pelan di atas sofa, sebuah memori terlintas di dalam pikirannya ketika ia bercinta dengan Jaejoong di sofa ini sebelum pergi menemui kakek-neneknya untuk pertama kalinya. Dia mendengar Taepoong dari jauh sebelum ia melihatnya berlari dari sudut rumah.
"Hey boy!" Teriaknya, sambil berdiri dari sofa.
Saat melihat Yunho, Taepoong benar-benar kehilangan kendali, terlihat dari seluruh tubuhnya yang menggeliat saat ia mendengking dan menggonggong. Dia berlari menuju Yunho, menjatuhkannya kembali ke sofa. Lalu ia menjilati wajah Yunho, serta tangannya, dan bagian tubuh lainnya yang bisa dia jangkau dengan lidahnya.
Jaejoong tertawa. "Lihat, aku sudah bilang kalau dia merindukanmu."
Taepoong menyalak beberapa kali seolah-olah setuju, kemudian lidahnya kembali menjilati wajah Yunho. "Oke, boy, aku juga merindukanmu."
Yunho menggosok atas punggung Taepoong kemudian menepuk kepalanya.
"Sekarang duduk, Taepoong, dan jadilah anak yang baik," instruksi Jaejoong.
Yang mengejutkan Yunho, Taepoong menurut dengan patuh meluncur turun ke lantai dan duduk dan tidak bergerak sama sekali saat Yunho membelainya. "Sialan, aku tidak percaya kau sudah membuatnya patuh."
"Dibutuhkan beberapa waktu."
"Apakah kamu merawat Mommy dengan baik sementara aku pergi?"
Tanya Yunho, sambil menggaruk-garuk telinga Taepoong. Mendengar itu Jaejoong menarik napas tajam, Yunho melirik ke arahnya dan mengedipkan matanya.
"Dia sudah menjadi teman yang luar biasa. Terutama pada malam hari," jawab Jaejoong lirih.
"Aku bisa membayangkan. Malam sendirian seperti neraka bagiku."
Jaejoong membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi kemudian tiba-tiba menggoyang-goyangkan jarinya ke Taepoong. "Berhentilah menjilati dirimu sendiri, atau aku akan menempatkan cone of shame kembali padamu."
Yunho tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Taepoong. "Jangan terlalu tegang, Jae. Dia hanya seekor anjing. Biarkan dia menjilati dirinya sendiri jika dia ingin."
Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Jika dia terus menjilati seperti itu, dia akan menyebabkan infeksi pada jahitannya setelah operasi."
"Operasi?" Ulang Yunho dengan lemah. "Apa yang terjadi padanya?"
Ketika Jaejoong tidak menjawab, Yunho mendongak dan melihat muka Jaejoong memerah sambil merundukkan kepalanya. Oh tidak. Dia tidak bisa melakukan itu. Dia tidak akan melakukan hal itu. Meraih kalung di leher Taepoong, perlahan-lahan Yunho membalikkannya. Begitu melihat kejantanannya hilang, dia menghela napas. "Kau telah mengebirinya?"
Jaejoong menggigiti bibir bawahnya. "Dokter hewan menyarankan itu. Dia mengatakan itu akan membantu menenangkan Taepoong dan membuat lebih mudah baginya untuk menyesuaikan diri saat Changmin lahir."
Yunho bangkit dari lantai. "Ya Tuhan, Jae, pada awalnya kau ingin bolaku di tusuk seperti sate, dan sekarang kau mengebiri anjingku!"
"Aku tidak pernah ingin bolamu...!" Protesnya dengan gusar.
"Secara simbolis kau ingin melakukannya."
Jaejoong memutar matanya. "Tapi lihatlah bagaimana dia sudah jauh lebih tenang."
Yunho melirik Taepoong. Walaupun ia benci mengakuinya, Taepoong terlihat lebih santai. "Yeah, well, kau seharusnya berkonsultasi denganku terlebih dahulu. Dia anjing miliku!"
Jaejoong mengernyit seperti kesakitan. Dia perlahan-lahan melangkah sebelum pelan-pelan duduk di kursi. "Whoa, tunggu sebentar. Jangan pergi dulu. Kita belum selesai membahas hal ini."
"Jae?" Ketika dia tidak menjawab, Yunho berjalan mengitari sisi kursi. Dia berjongkok di depan Jaejoong. Jantungnya tersentak berhenti dan berdetak kembali saat melihat ekspresi menderita terukir di wajah Jaejoong. "Jae, ada apa?"
"Aku...kram." Jaejoong menutup matanya, dan dadanya naik turun dengan napas yang berat. "Sakitnya benar-benar buruk."
Rasa ketakutan jatuh di atas kepala Yunho. "Ayolah. Ayo kita ke rumah sakit." Sebelum Jaejoong bisa memprotes, Yunho mengambil tangannya dan membantunya berdiri dari kursi. Jaejoong merintih dan mencengkeram perutnya. "Aku akan menggendongmu jika kau mau," katanya.
"Tidak, aku bisa berjalan," jawabnya.
Yunho memeluk pinggang Jaejoong untuk menyeimbangkannya. "Tetap disitu Taepoong," Yunho memerintahkan dari balik bahunya. Taepoong merengek, tapi dengan enggan, ia duduk di beranda. Ketika mereka mulai keluar pintu, Jaejoong membeku. "Tasku."
"Aku akan mengambilnya." Yunho berbalik dan berjalan meraih tas yang di tempatkan di atas lantai. Kemudian ia kembali ke samping Jaejoong untuk membantunya keluar dari pintu dan menuruni tangga teras. "Kau ingin naik mobilmu karena itu lebih dekat? Aku bisa memindahkan mobilku."
Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak, mobilmu saja tidak apa-apa."
"Bagaimana rasa sakitnya?"
"Sangat intens," jawabnya terengah-engah.
"Apa kamu perdarahan atau kau merasa air ketubanmu pecah?"
"Tidak, ini hanya kontraksi saja."
Secercah sedikit rasa lega memenuhi diri Yunho. "Ini akan baik-baik saja, Jae. Aku akan membawamu ke rumah sakit, dan apapun itu, mereka akan menolongmu."
Hatinya hancur ketika Jaejoong menatapnya dengan mata penuh air mata. "Aku harap begitu."
"Percayalah."
Yunho membuka pintu mobil dan pelan-pelan membantu Jaejoong duduk ke jok mobil. Begitu ia menutup pintu, ia berlari ke sisi pengemudi. Dia masuk ke dalam dan memutar. Setelah mempercepat mobilnya menuju jalan raya, ia melirik Jaejoong.
Mata Jaejoong tertutup dan alisnya berkerut sementara dia menggigit bibirnya. Melepaskan satu tangannya dari setir ia meraih salah satu tangan Jaejoong. Mata Jaejoong langsung terbuka, dan dia menatap ke arah Yunho. "Aku disini untukmu, Jaejoong."
"Terima kasih...aku senang." Dia meremas tangan Yunho dengan ketat. Tidak mau membiarkan tangan Yunho lepas, Jaejoong menggunakan tangannya yang lain untuk mengeluarkan ponsel dari tasnya. Dia menyodorkannya ke arah Yunho. "Tolong telepon Junsu," gumamnya.
Dengan satu tangannya tetap di setir, ia menggunakan tangan satunya untuk menggeser kontak di ponsel Jaejoong. Dia mempersiapkan dirinya untuk menghadapi amarah yang akan di terimanya saat jarinya menekan dial. Junsu menjawab pada dering ketiga. "Hey Mama Seksi, maaf aku belum punya kesempatan untuk meneleponmu lagi," katanya tanpa Halo.
"Um, ini Yunho."
Sebuah jeda panjang di ujung di telepon. "Apa sih yang kau lakukan dengan ponsel Em? Tolong jangan bilang kau telah melakukan sesuatu yang benar-benar gila untuk mencoba mendapatkan dia kembali? Karena jika benar, aku akan memastikanmu akan masuk penjara sampai lama sekali dimana seorang pria yang sangat besar dan berbulu dapat membuatmu menjadi suruhannya!" Ia menjerit cukup keras bahkan Jaejoong bisa mendengar.
"Junsu, dengarkan aku. Aku tidak menculik Jaejoong. Kami sedang dalam perjalanan ke ER di Wellstar."
Junsu terkesiap. "Oh Tuhan, apa ada yang salah?"
Yunho melirik Jaejoong yang matanya sekali lagi terpejam sementara rahangnya terkatup kesakitan. "Dia mengalami beberapa kontraksi."
"Dia tidak pendarahan, kan?"
"Tidak, hanya kontraksi."
Yunho mendengar suara laki-laki yang dia duga Youchun sedang berbicara di latar belakang sana. "Kedengarannya seperti pertanda baik bahwa dia tidak pendarahan. Youchun berpikir mungkin saja Braxton Hicks, tapi kami akan berada disana segera mungkin."
"Oke. Bisakah kau menelepon Siwon, juga?"
Mata Jaejoong langsung terbuka, dan dia menatap Yunho dengan kaget. Yunho pikir Jaejoong kagum karena dia tidak perlu diberitahu untuk melakukan semua itu, dan ia benar-benar bisa memikirkan apa yang dirasakan Jaejoong.
"Ya, tentu."
"Bye."
Junsu hanya mendiamkannya, jadi Yunho mematikan teleponnya."
Ada lagi yang ingin aku telepon? Virginia?"
Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin membuat Grammy khawatir lagi jika kasus ini adalah sesuatu seperti Braxton Hicks."
"Oke, jika kau yakin."
Mereka melakukan seluruh perjalanan dalam keheningan yang menegangkan. Setelah membelokkan mobil sampai berdecit memasuki halaman parkir rumah sakit, Yunho meluncurkan mobilnya ke pinggir jalan di ruang gawat darurat dan mematikan mesinnya. Ketika ia keluar dan mulai berjalan ke sisi Jaejoong, seorang petugas keamanan bergegas menghampirinya. "Sir, Anda tidak boleh parkir disana."
"Dengar, is..." Yunho terdiam ketika dia menyadari bahwa dia tidak tahu bagaimana harus menyebut Jaejoong. Dia jelas bukan istrinya dan status hubungan mereka juga tidak memenuhi syarat sebagai pacar.
"Dia," akhirnya ia menekankan, "mengalami kontraksi dini, jadi aku harus membantunya masuk. Jika Anda tidak menyukainya, maka derek saja mobil sialanku!"
Petugas keamanan mengangkat tangannya ke atas. "Maaf Sir. Setelah Anda mendaftar, tolong segera keluar dan memindahkan mobilnya. Mercedes bagus seperti itu kalau di derek butuh biaya banyak untuk menebusnya."
Yunho menggeram dengan frustrasi saat ia mengulurkan tangannya pada Jaejoong. "Baik. Tapi aku tidak akan kembali kesini sampai aku tahu dia dan anakku baik-baik saja!" Dengan tangannya yang bebas, ia mengeluarkan seratus dolar dari dompetnya. "Awasi mobilku, oke?"
Petugas itu menoleh kanan kiri sebelum ia buru-buru menyambar uangnya. "Ya, Sir."
Mengalihkan perhatian kembali ke Jaejoong, Yunho membantunya keluar dari mobil. Jaejoong meringis saat ia melangkahkan kakinya.
"Bersandarlah padaku," instruksi Yunho sambil mengambil langkah dengan tentatif ke pinggir jalan.
Dengan satu lengan melilit di pinggangnya, Yunho menuntun Jaejoong melewati pintu ganda otomatis dan masuk ke lobi ER. Dia mencengkeram tangan Yunho dengan erat dan dari ekspresi wajahnya, Yunho bisa tahu rasa sakitnya lebih buruk. "Sedikit lagi, Jae," katanya.
Di meja pendaftaran, Yunho pelan-pelan mendudukkan Jaejoong ke kursi. Ketika petugas tidak segera datang, ia memukulkan kepalan tangannya di atas meja. "Tolong, dia mungkin akan mengalami persalinan prematur disini!"
Resepsionis mengangguk ke arah perawat. "Kami akan membawanya masuk kedalam."
"Terima kasih," kata Yunho.
Seorang perawat keluar dari pintu dengan membawa kursi roda.
Yunho menolong Jaejoong berdiri kemudian membantu dia duduk di kursi roda. Ketika ia akan ikut masuk kedalam dengan mereka, resepsionis memanggilnya. "Anda tidak bisa masuk kedalam sampai kami memiliki semua data medisnya."
"Saya sebelumnya sudah terdaftar di OB/GYN disini," gumam Jaejoong, dengan gigi terkatup menahan rasa sakit.
"Dia harus tinggal sampai kami mendapatkan informasi asuransinya."
Yunho menatap putus asa ke arahnya saat Jaejoong menyerahkan tasnya. "Kartuku ada di dompetku."
Yunho segera mengisi dokumen. Sebagian besar ia biarkan kosong, berharap mereka sudah memiliki data itu karena ia tidak tahu itu. Ironi itu tidak hilang pada dirinya karena Jaejoong mengandung bayinya, tapi Yunho tidak tahu apakah dia sudah pernah melakukan operasi besar atau punya penyakit pada masa kanak-kanak. Pada waktu yang sama saat ia mulai memencet tombol untuk membuka pintu, seseorang berdeham.
Ternyata petugas keamanan. "Brengsek!" Teriak Yunho. Beberapa orang di ruang tunggu menatapnya. Mengambil kunci dari saku, Yunho berlari melewati petugas keamanan dan menuju mobilnya yang telah menunggu. Ban berdecit saat dia memutari pintu masuk dan kembali mengikuti jalur ke tempat parkir yang tersedia.
Ketika Yunho kembali ke dalam, ia menekan tombol pintu "Hanya untuk Petugas yang Berwenang". Tatapannya berputar-putar dengan putus asa di sekeliling lorong kamar-kamar. Perasaannya rasa aneh seperti deja vu pada hari ini sebelumnya, ia baru saja akan melambaikan tangannya pada perawat ketika Dr Choi muncul di hadapannya, wajahnya tegang tampak khawatir. "Dia berada di kamar lima," katanya.
Meskipun ia benci mengatakan itu, Yunho bergumam, "Terima kasih."
Yunho mendorong ke depan untuk membuka pintu dan menemukan tirai tertutup. Suara detak jantung bayi bergema di dinding. "Jae?"
Teriaknya.
"Aku di sini."
Dia bergegas melangkah maju, lalu menyibakkan tirai ke samping.
Saat melihat kaki Jaejoong naik ke stirrups dan seorang dokter di antara kedua kakinya, Yunho membeku.
"Yunho" desaknya, sambil memberi isyarat agar dia ke sisinya. Nada suaranya mendesak yang membuatnya bergerak dengan cepat. Dia melangkah ke samping dokter lalu ke sisinya. Dia meraih tangan Jaejoong dan meremasnya.
"Maafkan aku. Aku harus mengisi semua dokumen itu kemudian harus memindahkan mobilku."
"Tidak apa-apa."
Yunho menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak. Kau seharusnya tidak harus kembali kesini sendirian. Kau membutuhkan aku." Dia menatap ke arah Jaejoong. "Aku butuh bersamamu."
"Kau disini sekarang. Itu saja yang paling penting."
Yunho tidak bisa menahan diri untuk membungkuk dan mencium kening Jaejoong. Tapi dia harus menujukkan rasa terima kasih pada rumah sakit. Mereka baru saja disana hampir dua puluh menit, dan Jaejoong sudah memakai baju rumah sakit dan sedang diperiksa oleh dokter. Dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya apakah hanya kondisinya yang sangat serius, atau karena Dr Choi juga membantu menangani masalahnya.
Sang Dokter, yang mengenakan jas putih dengan bordir warna biru bertuliskan "Dr Pendleton", turun dari kursinya. "Anda bisa menurunkan kaki sekarang." Pelan-pelan Jaejoong menarik kakinya dari stirrups saat Dr. Pendleton menarik meja kembali dibawah untuk Jaejoong. Setelah ia melemparkan sarung tangan karetnya ke tempat sampah, ia berbalik menghadap mereka.
"Meskipun anda mengalami persalinan prematur, Anda tidak mengalami pembukaan, dan plug serviks Anda masih utuh."
Melihat Yunho yang bisa diasumsikan ekspresinya kosong, Dr Pendleton mengatakan, "Itu adalah faktor yang baik. Saya akan meminta seorang perawat datang dan memberikan Turbutaline, yang akan menghentikan sisa kontraksi yang Anda alami. Saya akan datang kembali dan melakukan USG untuk melihat bagaimana kondisi bayi Anda. Dari detak jantungnya, tampaknya ia menjadi sedikit gelisah, tapi itu bisa dari dinding rahim yang berkontraksi."
Dia berbalik berjalan menuju pintu. "Karena kondisi Anda sekarang stabil, aku akan kembali beberapa saat lagi untuk memeriksa Anda."
Kaki Yunho terasa seperti tidak bisa mendukung dia berdiri lagi, sehingga ia jatuh ke kursi di samping tempat tidur. Membebaskan rasa mualnya. Untuk sementara, tampaknya Changmin akan baik-baik saja, dan sebaliknya, Jaejoong juga.
"Terima kasih Tuhan," gumam Jaejoong.
Sebuah keributan datang dari luar pintu. "Apa s—" kata Yunho terpotong karena Junsu dan Siwon berhamburan masuk ke dalam ruangan.
...
...
twatwaffle: Vagina atau idiot.
Cone of shame : Bentuk seperti corn yang di pasang di leher anjing agar kepalanya tidak bebasbergerak.
Braxton Hicks: Kontraksi palsu/ kontraksi rahim secara sporadis yang terkadang di mulai sekitar 6minggu, meskipun tidak semua orang merasakan itu.
OB/GYN: Gynecologist (OBstetrics and GYNecology) bagian kandungan.
Stirrups: Alat berupa sepasang logam untuk menyangga pergelangan kaki wanita selamapemeriksaan ginekologi dan melahirkan.
plug serviks: Lubang leher rahim.
Turbutaline: Obat anti kontraksi untuk mencegah persalinan prematur.
