MY NAMJA
By : Han Kang Woo
Cast : Xi Luhan, Oh Sehun, etc
Main Cast : HunHan
Genre : Romance
Warning : BL (Boys Love), NC, Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja
Rated : M
DLDR
= Happy Reading =
O…O…O…O…O…O…O…O…O
o
o
o
o
Deg.
Luhan mengungkapkan perasaannya, rasa yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia mencintai Sehun.
"Aku... Aku ingin kau menjadi kekasihku." ulang Luhan, dengan tetap memeluk Sehun erat.
Luhan tidak peduli lagi dengan komitmennya selama ini, tidak peduli lagi dengan rasa hina yang dirasakannya, tidak peduli lagi dengan semuanya, yang ada hanya Sehun. Only Sehun, bukan yang lain.
Hening.
"Jadi kau memang menyukaiku?" tanya Sehun, nyaris seperti bisikan, dia membiarkan Luhan memeluknya dengan erat.
Luhan mengangguk cepat, anggukan yang tentu saja dirasakan oleh Sehun, karena anggukan itu menggesek punggung namja putih tersebut.
Sehun menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya sangat pelan.
Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua, hanya suara isakan tertahan Luhan yang sesekali terdengar. Namja asal China itu menunggu tanggapan Sehun, ah bukan tanggapan, tapi jawaban.
"Aku menghargai perasaanmu. Perasaan memang tidak bisa dibohongi. Kau bisa mencintai dan jatuh cinta pada siapa saja, termasuk aku. Tapi ceritanya tidak sesederhana itu. Ini sangat sulit." gumam Sehun, menanggapi pernyataan cinta Luhan untuknya.
Luhan sedikit tersentak dengan tanggapan Sehun, dia dengan enggan melepaskan pelukannya.
"Mak... Maksudmu?" tanya Luhan, belum paham.
Sehun berbalik, mengarahkan wajahnya agar berhadapan dengan wajah Luhan, mata mereka bertemu untuk kesekian kalinya.
"Maksudku semuanya tidak sederhana. Kau namja dan aku namja. Kau tahukan? Ini tidak wajar." jelas Sehun.
Mata Luhan berkaca kaca lagi mendengar perkataan Sehun, mata yang sudah merah karena menangis itu sepertinya harus rela berurai air mata lagi. Dia paham, sangat paham.
"Tapi, aku masih tetap dengan kata kataku padamu. Kau bisa meminta sesuatu padaku, dan sesuatu itu sudah kau katakan. Kau ingin aku menjadi kekasihmu kan?" Sehun perlahan menaikkan kedua tangannya dan memegang bahu Luhan.
"Kita menjadi sepasang kekasih sekarang, tapi hanya untuk beberapa jam kedepan..." lanjut Sehun.
Sakit, sakit dan sakit, itu yang dirasakan Luhan sekarang. Sehun hanya menjadikannya kekasih dalam beberapa jam kedepan saja. Dan seperti dugaan sebelumnya, air mata Luhan menetes membasahi pipinya.
'Aku tahu, sangat tahu. Aku sadar diri Sehun ah.' Luhan membatin, lalu menghapus air matanya.
Luhan berusaha keras terlihat tegar dan tidak rapuh.
"Ap.. Apa kau juga mencintaiku?" Luhan memberanikan dirinya bertanya. Salah satu pertanyaan penting yang harus diketahui jawabannya.
Sehun tidak menjawab, namja itu diam.
"Jawab aku. Apa kau juga mencintaiku?" ulang Luhan, ingin segera mendapatkan jawaban.
Sehun mendesah, dan membuka mulutnya.
"Aku sudah mengatakan bahwa semuanya tidak sederhana. Dan yang pasti aku masih normal dan punya kehidupan sendiri." jawab Sehun, dengan terpaksa.
Luhan semakin merasa tertusuk mendengar jawaban Sehun itu. Jawaban yang sudah jelas maksudnya. Air matanya menetes terus menerus, dihapus, namun menetes lagi.
Luhan berusaha agar tidak jatuh tersungkur, dia mendadak lemah dan hilang tenaga dengan semua jawaban Sehun untuknya. Sehun tidak mencintainya, dia tahu itu.
Suasana hening dan mencekam lagi lagi tercipta diantara mereka berdua.
o
o
o
o
Diluar ruangan tempat dimana Luhan dan Sehun berada, sudah ada Baekhyun dan Kyungsoo yang mengintip. Mereka memanfaatkan celah dan lubang kecil didekat pintu ruangan tersebut.
"Apa kubilang. Luhan itu sama seperti kita. Yuhuu... Yes, akhirnya mereka bisa bersatu. Aku tahu jika selama ini Luhan jatuh cinta pada Sehun." pekik Baekhyun, lebay, mata sipit bereyelinernya terbuka lebar sambil mengintip.
"Sepertinya tidak seperti itu Baek." timpal Kyungsoo yang ada disampingnya, berseberangan.
"Tidak apanya. Sehun memegang bahu Luhan. Mereka terlihat sangat mesra." Baekhyun masih kekeuh dengan penglihatannya.
"Luhan menangis. Dan jika kau memperhatikan ekspresi wajahnya, dia terlihat tidak betul betul bahagia." jelas Kyungsoo, mengutarakan pengamatan versinya sendiri.
"Oh, itu hanya pura pura saja. Supaya terlihat tidak jual mahal." celutuk Baekhyun.
"Ahh, kau menceritakan dirimu sendiri Baek." balas Kyungsoo.
Baekhyun tidak menimpali lagi, mendadak namja cabe itu menghentikan aksi mengintipnya. Dia menoleh kebelakang dengan cepat.
"Kyung, lupakan sejenak Lohan dan Bihun. Ayo kita keluar, ada penampakan yang bisa dijadikan pencuci mata." Baekhyun berseru, dan langsung menarik tangan Kyungsoo.
"Akh. Tanganku sakit." Kyungsoo mau tidak mau mengikut lagi.
o
o
Baekhyun dan Kyungsoo tida diberanda depan, mereka berdua menemui dua namja yang menunggu tuan muda mereka. Mereka adalah Chanyeol dan Jongin.
"Hai tampan, sendirian saja..." sapa Baekhyun, bernada centil yang berlebihan. Dia menyapa namja yang lebih tinggi, Chanyeol.
"Oh tidak... Aku bersama rekanku, Jongin." balas Chanyeol, dan menunjuk Jongin yang ada disampingnya.
"Oh, aku tidak melihatnya. Maklum saja, disini terlalu gelap." Baekhyun berkata lagi.
"Apa? Kau mengataiku gelap?" Jongin berseru tiba tiba, tersinggung dengan kata gelap itu. Terlebih Baekhyun langsung meliriknya.
"Oh, kau terlalu sensitif. Kyung, hadapi dia." balas Baekhyun, dia dengan cepat menarik Kyungsoo dan mendorong namja itu kearah Jongin.
Brugh.
Kyungsoo menabrak tubuh Jongin,
"Ah, kau tidak apa apa?" tanya Jongin, sesaat dia menadah tubuh kecil namja bermata bulat itu.
"Ti.. Tidak apa apa." jawab Kyungsoo, wajahnya memerah dengan cepat, malu.
Baekhyun tertawa melihat apa yang dilakukannya itu.
"Temanku kesakitan dan tidak bisa bernafas. Cepat berikan nafas buatan." cerocos Baekhyun, cetar halilintar.
"Baek, diam..." Kyungsoo membentak, dengan wajah masih merah.
Kyungsoo dengan cepat memperbaiki posisi, menjauhkan diri dari Jongin. Namja itu menggaruk kepalanya dan menunduk malu malu.
Chanyeol yang sejak tadi hanya sebagai penonton setia, langsung mendekati Baekhyun, ingin mengatakan sesuatu.
"Terima kasih. Kau memberikan nomor ponsel tuan muda kepada kami. Jadi kami bisa menyelamatkan tuan muda dari seseorang yang ingin berbuat jahat padanya." kata Chanyeol, tersenyun.
Chanyeol dan Jongin memang sempat kembali ke kost Sehun, untuk menyelidiki apakah memang tuan besar mereka itu tinggal disana. Dan ternyata benar. Info itu mereka dapatkan dari Baekhyun, yang begitu mudah dibuat bicara, hanya dengan sekali kedipan mata.
"Uu lala, itu bukan masalah untuk namja yang tinggi dan tampan sepertimu." timpal Baekhyun, tersipu sipu.
"Terima kasih." Chanyeol menganggap kata kata Baekhyun itu adalah suatu pujian saja.
"Kemarin kau terlalu cepat pulang. Padahal kita belum minum minum, potong kue dan tiup lilin." kata Baekhyun, dengan gaya biji cabe yang khas.
"Maaf, kami juga sangat sibuk. Lain kali kita pasti melakukannya."
"Benar yaa. Awas kalau kalau kau bohong." Baekhyun berseru mendadak, yang membuat Jongin dan Kyungsoo yang ada didekatnya kaget.
"Tentu saja." Chanyeol meyakinkan. Dia menggaruk dagunya sambil memandang Baekhyun, dia merasa tingkah Baekhyun terlalu ajaib dan tidak tertebak.
Baekhyun girang bukan main, dia melompat lompat seperti orang gila. Kyungsoo tidak enak melihat tingkah sahabatnya itu, lalu dengan cepat dia menginjak kaki Baekhyun.
"Aww, Satansoo. Itu sakit." Baekhyun menjerit seperti yeoja, kakinya tepat terinjak oleh Kyungsoo saat kakinya itu menapaki lantai.
"Kau harus tenang Baek. Jangan sampai mereka menjauhi kita karena melihat kau sudah tidak waras dan stress." bisik Kyungsoo, tepat ditelinga Baekhyun.
"Ohh, jadi kau tidak ingin dijauhi oleh namja gelap itu. Oh so sweet sekali." Baekhyun mencolek dagu Kyungsoo.
Kyungsoo menyerah, dia tahu bahwa sia sia saja mengingatkan Baekhyun untuk tidak bertingkah over. Sifat Baekhyun memang sudah dari sananya, dan malaikat manapun tidak bisa merubahnya.
Mereka berempat mulai saling bercakap lagi. Percakapan yang normal terjadi antara Kyungsoo dan Jongin, misalnya Kyungsoo yang menanyakan kenapa Sehun dipanggil dengan sebutan tuan muda, umur Sehun memang masih muda, tapi kenapa ada embel embel tuan. Dan Jongin menjelaskan bahwa Sehun adalah anak tuan besar mereka dan sebutan tuan muda sudah ditentukan oleh oleh ayah Sehun sendiri. Kyungsoo paham dengan penjelasan itu.
Sedangkan percakapan sedikit nyeleneh terjadi antara Baekhyun dan Chanyeol. Misalnya Baekhyun yang bertanya apakah Chanyeol pernah mengunjungi tempat prostitusi, sejak kapan mimpi basah dan apakah Chanyeol biasa memakai celana dalam ukuran XL. Juga pertanyaan sejenis dan sepertinya kurang pantas ditanyakan. Chanyeol hanya bisa menjawab dengan tersenyum, mengangguk atau diam saja.
Begitulah.
o
o
o
o
O...O...O...O
Sejam kemudian.
Baekhyun, Kyungsoo, Chanyeol, Jongin, Luhan dan Sehun pamit pulang. Mereka berpamitan pada si empunya rumah, Jungkook. Minus Taehyung tentu saja.
Luhan kembali menyampaikan terima kasihnya kepada Jungkook dan juga Taehyung karena sudah menolong dan menampungnya. Terima kasih itu disampaikannya tanpa semangat.
Beberapa menit kemudian, keenam namja itu sampai di jalan besar, dengan terlebih dahulu mereka berjalan kaki kesana.
Sehun memandang Jongin dan Chanyeol bergantian.
"Kalian berdua pulanglah kerumah appaku." kata Sehun, memberikan perintahnya.
"Tapi tuan muda..."
"Aku akan segera menyusul kalian. Aku janji." potong Sehun cepat.
"Baiklah, kami menunggu tuan muda di rumah." Jongin dan Chanyeol mengangguk bersamaan. Bersiap memisahkan diri.
"Call me, dobby..." celutuk Baekhyun tanpa disuruh, namja itu memberikan kode pada Chanyeol, menaikkan jarinya ke telinga, seperti orang menelfon. Kecentilan.
Chanyeol mengangguk, memberikan senyuman lima jarinya yang cling.
"Sampai bertemu lagi Jongin." Kyungsoo juga tidak mau kalah. Namun dia tidak seagresif Baekhyun tentunya.
"Pasti kita akan bertemu lagi." balas Jongin, juga tersenyum.
Kedua namja pesuruh atau bisa dikatakan bodyguard minus body berotot itu meninggalkan Baekhyun, Kyungsoo, Luhan dan Sehun. Mereka berdua menghentikan taksi untuk menuju ke parkiran Recidance hotel, tempat motor mereka terparkir sejak tadi.
Mobil taksipun melaju dengan tempo sedang.
Sehun juga menghentikan taksi yang melintas.
"Ayo kita pulang..." kata Sehun, memandang pada tiga namja didekatnya. Menyuruh untuk naik dan masuk kedalam taksi.
"Siapa yang kau ajak bicara?" Baekhyun menoleh kiri dan kanan, tentu saja hanya bercanda.
"Kepada kalian bertiga." jawab Sehun.
"Ohh, aku kira hanya pada Luhan." Baekhyun terkekeh seperti nenek, Kyungsoo yang ada disampingnya lalu memukul punggungnya, yang membuatnya terbatuk.
"Baek, berhentilah membuat lelucon. Kau tidak tahu situasi." tegur Kyungsoo, berbisik. Dia tentu saja bisa merasakan bahwa hubungan Luhan dan Sehun masih ada masalah, tidak baik baik saja.
"Ok, tuan putri." Baekhyun mengunci mulutnya dan tidak mengatakan apa apa lagi.
Akhirnya, keempat namja itu menaiki taksi, untuk kembali ke kost mereka yang jaraknya lumayan jauh dari posisi mereka kini. Dalam perjalanan, Luhan sama sekali tidak mengatakan apa apa, namja China itu terus saja mengarahkan pandangannya keluar jendela mobil, tidak memandang Sehun yang ada disampingnya.
Semuanya belum betul betul clear sepertinya.
o
o
o
o
O...O...O...O
Hanya tiga puluh menit saja yang diperlukan bagi taksi yang ditumpangi Sehun, Luhan, Baekhyun dan Kyungsoo untuk tiba di kosan mereka.
Kyungsoo dengan cepat permisi untuk istirahat di kamarnya, dia menarik Baekhyun juga bersamanya, mencegah namja cabe itu mengatakan hal hal yang tidak tidak lagi. Selain itu untuk memberikan waktu dan ruang bagi Luhan dan Sehun.
"Bye Luhan... Bye Sehun..." Kyungsoo dan Baekhyun berucap bersamaan, lalu berlari, membuka kunci pintu kamar mereka, dan masuk kedalamnya.
Hening.
Kini, lagi lagi hanya tinggal Luhan dan Sehun berdua saja.
Luhan menundukkan wajahnya, meremas tangannya yang berkeringat. Sehun memandangnya dengan pandangan sulit diartikan. Mereka berdua bergumul dalam keheningan yang mencekam, belum ada yang mengatakan apa apa. Hingga kemudian Sehun lah yang membuka percakapan.
"Hm, aku... Aku akan pulang kerumahku." gumam Sehun, dengan cadel yang terdengar jelas.
Luhan sontak mendongak mendengar kalimat Sehun, cairan bening dimatanya siap lolos lagi.
"Kita cukup sampai disini, ada kehidupan lain yang menantiku diluar sana." lanjut Sehun, ekspresi wajahnya datar.
Luhan terdiam, bibirnya bergetar dan tubuhnya menegang. Sambaran petir seakan muncul didepannya dan menghancurkan semuanya.
"Aku pergi." tutup Sehun, memegang bahu Luhan, sangat singkat. Kemudian namja tampan itu berpaling, tanpa mengucapkan apa apa lagi. Berjalan meninggalkan Luhan sendirian.
Luhan semakin bergetar, berusaha keras untuk tidak menangis. Tapi apa daya, air matanya jatuh, berlinang.
'Aku paham, aku sadar. Se.. Selamat tinggal Sehun ah, Hiks... Hiks...' Luhan tersungkur ditanah, dengan ditopang lututnya. Sehun meninggalkannya, tanpa kecupan, tanpa pelukan, tanpa ciuman dan tanpa pengharapan. Semuanya sia sia.
Semua hilang.
Semua pergi.
Bagai asap.
Angin malam berhembus lumayan kencang.
o
o
o
o
O...O...O...O
Sehun memegang pelipisnya, sambil memandang keluar kaca mobil. Dia untuk kesekian kalinya dalam beberapa waktu terakhir kembali menggunakan taksi, untuk pulang ke rumahnya sendiri.
Namja bermarga Oh itu terlihat menarik nafas dalam dalam. Keputusannya untuk pulang kembali kerumahnya sudah bulat.
Dan keputusan itu tentu saja membuat seseorang kecewa dan terpukul. Luhan.
'Maafkan aku Luhan, maafkan aku...' Sehun membatin, wajah imut Luhan muncul dibalik kaca, tentu saja hanya ilusi.
Dia memegang dan meraba kaca itu, wajah Luhan menghilang setelahnya.
'Aku tidak bisa menjalani hubungan seperti itu. Aku harap kau bisa mengerti.'
Taksi yang membawanya terus melaju, mengantarnya sampai ketempat tujuan.
o
o
o
o
Sehun sampai didepan rumahnya beberapa saat kemudian, namja itu lekas turun, dan membayar ongkos taksi.
Dia berdiri dan memandang rumah megah keluarganya, rumah bercat putih dengan 3 lantai. Pekarangan luas, ditambah dengan kolam renang dibagian belakang. Juga fasilitas lain yang sangat panjang jika dijabarkan.
Namja itu melangkah masuk, melewati dua penjaga gerbang yang memberi hormat padanya. Si tuan muda sudah kembali ke rumah lagi.
Sudah ada Jongin dan Chanyeol yang menunggu diruang tamu. Mereka tidak berdua, karena si pemilik rumah alias ayah Sehun juga ada disana, menunggu.
"Appa..." kata Sehun, menyapa ayahnya. Itu adalah sapaan pertama kalinya sejak dua bulan lalu meninggalkan rumah.
"Sehun... Anakku..." tuan Oh berdiri dari duduknya, melepaskan bacaan ditangannya dan lekas memeluk anak satu satunya itu.
Pria tua paruh baya itu melampiaskan kerinduannya.
"Kau dari mana saja. Syukurlah kau baik baik saja." tuan Oh melepaskan pelukannya, bernafas lega karena tidak terjadi apa apa pada anaknya itu.
Sehun juga tentu saja senang bertemu kembali dengan ayahnya. Dia juga merindukannya.
"Kerja kalian bagus. Aku akan menambah gaji kalian." tuan Oh berpaling pada Jongin dan Chanyeol, memuji anak buahnya itu.
"Ka..kami tidak melakukan apa apa. Tuan besar sendiri yang ingin pulang." timpal Chanyeol, cepat.
"Tidak juga appa. Mereka berdua sangat berjasa selama ini. Aku harap appa akan terus memperkerjakan mereka." Sehun berujar, tersenyum pada Jongin dan Chanyeol, lalu menatap ayahnya lagi.
"Sudah... Sudah.. Aku paham. Mereka akan selalu menjadi anak buahku." kata tuan Oh, tegas.
Ketiga namja itu tersenyum.
"Kau sudah pulang anakku. Jadi kita bisa membicarakan lagi mengenai pernikahanmu yang tertunda. Sepertinya lusa adalah waktu yang baik dan..."
"Appa, aku baru pulang, baru kembali. appa langsung membicarakan pernikahan yang tidak akan pernah terjadi itu. Dimana hati appa?" potong Sehun, kesal karena ayahnya mulai lagi dengan pembahasan basi tersebut.
"Tidak Sehun. Pernikahan itu harus terjadi. Kenapa kau menolak? Hah.. Apa alasanmu? Katakan pada appa." tuan Oh menggeleng, tidak habis pikir dengan penolakan anaknya itu.
"Wanita itu cantik, baik, pintar, dewasa... Dia pantas men.."
"Tidak apppa tidak. Dia bukan wanita yang tepat untukku. Aku tidak menyukainya, aku tidak cinta padanya." jelas Sehun, lagi lagi memotong kalimat ayahnya.
"Cinta bisa hadir setelah kalian menikah."
"Appa. Tidak semudah itu. Eugene bukan wanita baik baik."
"Apa buktinya?"
"Jongin, tunjukkan buktinya." Sehun menoleh pada Jongin, memberikan perintah kepada namja itu untuk menunjukkan bukti bahwa Eugene bukan wanita baik baik.
Jongin lekas mengeluarkan ponselnya, mencari sebuah file video disana, dan menunjukkan video itu kepada tuan Oh.
"Tuan besar. Ini rekaman video Eugene disebuah kamar hotel. Wanita itu menjebak tuan muda." jelas Jongin.
Tuan Oh menonton video itu. Video yang hanya berdurasi 45 detik saja, tapi sangat jelas menampilkan Eugene dan Sehun. Dimana Eugene terbelalak kaget saat pintu kamar hotel dibuka, dia nyaris bugil. Sedangkan Sehun terbius diatas ranjang dengan mata terpejam. Jongin melakukan sesuatu yang tepat saat memutuskan mengambil video detik detik pintu dibuka oleh dua satpam hotel. Itulah buktinya.
"Eugene pasti tidak hamil tuan besar. Tapi seandainya saja hamil, aku bisa pastikan bahwa anaknya itu bukan anak tuan muda. Eugene sangat licik tuan besar." kali ini Chanyeol yang berkata, menjelaskan apa yang diketahuinya.
Tuan Oh selesai menonton video singkat itu, pemilik perusahaan aksesoris ponsel itu memegang pelipisnya, nampak mencerna dan berpikir keras.
"Appa sudah lihatkan. Apa appa tega menikahkan anak appa satu satunya dengan wanita lebih tua dan licik seperti itu. Appa tega?" tukas Sehun, lalu duduk atau menjatuhkan dirinya di sofa.
Hening sejenak.
Tuan Oh mendesah beberapa kali, kemudian menatap anaknya.
"Maaf, appa tidak ada pilihan lain. Appa sudah janji dengan ayah Eugene. Appa juga tidak bisa berbuat banyak. Ayah Eugenelah yang selama ini membantu usaha dan perusahaan appa, hingga besar seperti ini. Kau harus tahu itu." terang tuan Oh, yang baru kali ini menjelaskan alasan utamanya mau menikahkan anaknya dengan wanita lebih tua.
"Ohh, jadi appa mengorbankanku hanya untuk balas budi. Begitu? Appa egois." nada suara Sehun meninggi beberapa oktaf, dia geram.
"Kau yang egois Sehun. Appa hanya menginginkan kau menikah. Menikah sebagai formalitas. Setelah itu appa akan mengirimmu ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan manajemen bisnis. Eugene akan tinggal disini dan kau diluar negeri. Status suami istri kalian hanya untuk memenuhi janji appa pada ayah Eugene. Hanya itu." tuan Oh kembali mengungkapkan sesuatu yang seharusnya disimpan sendiri.
Sehun memandang mata ayahnya dengan pandangan sulit diartikan, namja itu berdiri dari duduknya.
"Aku tidak habis pikir dengan appa. Appa selama ini tidak membicarakan hal itu padaku, appa memutuskan sendiri." Sehun menggeleng, kecewa dengan ayahnya sendiri.
"Ini untuk kebahagiaanmu Sehun."
"Terserah appa. Lakukanlah apa yang appa mau." tutup Sehun, meninggalkan ruang tamu, dia berjalan cepat menuju kamarnya, dilantai dua. Ada pelayan yang menanyakan apa dia lapar, tapi dia tidak menggubrisnya.
Tuan Oh menatap anaknya yang mulai menghilang dilantai dua.
"Pernikahanmu akan dilangsungkan lusa Sehun. Kau tidak ada pilihan." seru tuan Oh, masih tetap dengan pendiriannya.
Bukti kebinalan Eugene sama sekali tidak mengubah keputusan ayah Sehun untuk menikahkan anaknya dengan wanita itu. Alasannya sudah jelas dan tidak bisa diubah.
Kali ini tuan Oh mengira bahwa Sehun akan menuruti dan tidak memberontak lagi. Tapi, sepertinya pikiran itu salah. Salah besar.
o
o
o
o
Sehun masuk kedalam kamarnya, dan menutup pintu kamar itu dengan keras.
Brak.
Dia langsung menjatuhkan dirinya diranjang king size yang selalu dibersihkan oleh pembantu. Suasana kamarnya masih sama, tidak ada yang berubah.
"Aaaaaakkkkhhhh..." Sehun berteriak sekencang kencangnya, meluapkan emosi dan kekecewaannya. Teriakannya tentu saja tidak terdengar keluar, karena kamarnya itu mempunyai peredam suara kualitas tinggi.
Kepulangannya kerumah sepertinya adalah pilihan yang salah. Dia menyesal.
"Aku tidak akan menikah dengan wanita itu. Never." tukas Sehun, berbicara sendiri.
Hening.
Wajah namja itu menengadah kelangit langit kamarnya, dan tiba wajah imut Luhan muncul dan tergambar disana, wajah yang tersenyum padanya.
"Luhan..." Sehun sontak terduduk, menggapai kearah langit kamarnya, dan kemudian wajah Luhan itu menghilang.
'Ah, kenapa wajah namja China itu membayangiku.' Sehun menutup wajahnya dengan bantal.
Namja itu terdiam lama, fokusnya bukan lagi pada rencana pernikahannya yang tetap akan dilangsungkan, tetapi pada Luhan.
Sunyi.
'Apa aku bersalah padanya?'
'Apa aku menyakitinya lagi?'
'Seks pertamaku terjadi dengannya. Tapi... Tapi aku malah meninggalkannya.'
Teringat kembali saat dimana dia pertama kalinya bertemu Luhan, dia waktu itu menghindari dua suruhan ayahnya (orang Jepang) dan masuk bersembunyi di kamar kost Luhan. Saat itulah mereka bertemu dan bertatapan lama, nyaris berciuman.
Dia juga teringat ketika Luhan masuk tanpa sadar kedalam kamarnya, dan hampir saja menjamah namja polos itu. Dan tentu saja puncaknya adalah hubungan seks tanpa ikatan yang terjadi disebuah kamar hotel. Dia klimaks dan menikmatinya. Seks perdana yang tidak akan dilupakannya seumur hidup.
Hening.
Sehun perlahan mendudukkan dirinya di sisi ranjang, dia mengusap kasar wajahnya. Dia berpikir keras.
Kontroversi hati menyelimutinya.
Dan kemudian...
Namja itu bergegas berdiri, memeriksa uang simpanan hasil dari pekerjaannya sebagai penari semi telanjang di klub malam.
'Masih cukup. Baiklah, aku sudah mengambil keputusan.' batin Sehun, mengepalkan tangannya.
Dan tanpa buang buang waktu lagi, dia langsung naik keatas jendela kamarnya. Melompat turun, dan mendarat ke tanah dengan mulus.
'Selamat tinggal.'
o
o
o
o
O...O...O...O
Sunyi, sepi dan sendiri. Itulah yang dirasakan oleh Luhan saat ini. Malam sudah semakin larut. Jam menunjukkan pukul 11 malam.
Luhan terduduk di pojok kamar kostnya, kamar minimalis yang sangat sempit. Dia melipat lututnya, dengan wajah kebawah.
Tes tes tes.
Air mata Luhan menetesi lantai kamarnya. Sudah setengah jam lamanya dia menangis dalam kesendirian.
"Hiks... Hiks..."
Luhan menangisi nasibnya. Nasib yang sama sekali tidak beruntung. Sehun meninggalkannya, pergi dan tidak mungkin kembali.
'Aku tidak seharusnya mencintainya. Aku tidak seharusnya jatuh cinta padanya. Dia normal dan tidak mungkin menerima cintaku. Aku yang salah... Aku... Aku...' rutuk Luhan dalam hati, dia memegang dadanya, mencengkramnya keras. Rasa sakit itu semakin terasa.
'Harusnya aku sadar siapa aku. Dia tidak mungkin bisa mencintaiku.. Hiks.. Hiks...' Luhan terisak isak pilu. Matanya sudah sangat sembab.
Dia pernah memimpikan akan menemukan tambatan hati yang lebih tua darinya. Maka dari itu dia sedapat mungkin memalsukan umurnya yang sudah kepala dua. Dia sangat menginginkan memanggil kekasihnya dengan sebutan 'kakak' atau 'oppa'. Dan sayang sekali, kata oppa hanya tepat ditujukan bagi yeoja kepada namja. Itu tidak berlaku padanya, karena dia namja.
Dan sekarang dia mencintai namja yang umurnya lebih muda. Dan tidak mungkin memanggil kekasihnya itu dengan sebutan kakak, apalagi hyung atau oppa.
"Hiks.. Hiks.. Hiks..."
Rasa sakit dan sedih itu semakin membuncah, sekelilingnya seakan terlihat gelap gulita. Kehidupan seperti meninggalkan raganya.
'Kematian mungkin akan mengakhiri semuanya.' Luhan membatin lagi. Pikiran pendek itu tiba tiba muncul begitu saja.
Namja itu beranjak pelan, penampilannya terlihat sangat kacau dan berantakan. Dia mencari cari sesuatu yang bisa digunakannya untuk mengakhiri hidup, seperti pisau dapur untuk memotong urat nadi atau tali tambang untuk gantung diri. Namun setelah mencari, dia tidak menemukan benda benda itu.
Waktu terus berjalan,
Namja China tersebut menuju pintu, membukanya. Ingin mencari benda tajam disekitar kosnya. Pintu kosnya terbuka, dan...
Deg.
Ada seseorang yang berdiri tepat didepan pintunya. Berdiri mematung.
"Se.. Sehun..." gagap Luhan, dia melihat bayangan Sehun tepat didepannya. Dia menggeleng cepat, berharap bayangan itu hilang.
Hening.
"Ini aku... Aku kembali." kata bayangan itu.
"Kau..." ternyata yang dilihat Luhan bukanlah bayangan Sehun, tapi Sehun yang sebenarnya, bukan halusinasi.
Mereka berdua saling tatap. Lama.
"Maafkan aku Luhan, maaf... Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu." kata Sehun, masih dengan posisinya, tidak beranjak kemana mana.
Luhan diam.
"Aku akan pergi jauh. Sangat jauh, meninggalkan kota Seoul ini..." lanjut Sehun, matanya fokus menatap mata rusa Luhan yang berkaca kaca lagi.
Luhan memejamkan matanya, menunduk. Air matanya tumpah lagi, entah untuk keberapa kalinya. Sehun hanya datang memberitahukan sesuatu yang membuatnya semakin sakit.
Sehun menarik nafas dalam, berniat melanjutkan kalimatnya yang belum selesai.
"Aku akan pergi. Dan aku akan... akan membawamu bersamaku. Kita berdua." lanjut Sehun, melengkapi kalimatnya. Itulah tujuannya datang kembali ke kost Luhan.
Luhan sontak mendongak lagi. Kaget dengan pernyataan Sehun tersebut. Dia tidak tahu harus menimpali apa.
"Aku tidak main main. Aku serius... Aku akan membawamu serta." ulang Sehun, meyakinkan.
Luhan mengumpulkan tenaga dan suaranya, bibirnya bergerak gerak, ingin mengucapkan sesuatu.
"Per.. Percuma Sehun ah, percuma. Untuk apa kau membawaku. Ki.. Kita tidak ada ikatan apa apa. Kita..." Luhan tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, energinya seakan hilang.
Sehun menggeleng, sambil melangkah beberapa langkah. Mempersempit jaraknya dengan Luhan.
"Tidak. Kau salah... Aku tahu ini terlambat, sangat terlambat... Tapi aku ingin mengatakan satu hal..." Sehun menjeda penuturannya, menarik nafas dalam dalam.
"Aku ingin kau tahu, bahwa aku juga mencintaimu. Aku menerima cintamu." ungkap Sehun, kalimat emas yang ditunggu Luhan itu akhirnya terucap juga.
Deg.
o
o
o
o
o
o
o
TBC
O...O...O...O...O...O...O
Mudah mudahan chap ini tidak kepotong lagi yaa. Maaf jika ceritanya membosankan dan jelek. Aku mempublish chap ini khusus bagi pembaca setia dan yang telah memberikan Review, terima kasih.
Udah fast update kan? Tinggal satu atau dua chapter lagi FF ini tamat.
Salam
Han Kang Woo
