Disc: BoBoiBoy © Animonsta Studios
Enjoy!
=oOo=
Halilintar adalah orang yang kuat sebenarnya. Apapun yang ia usahakan pasti akan tercapai dengan cepat. Air bahkan sudah hafal lama bakat terpendam dari pecahan yang mendominasi rasa takut itu.
Namun apa yang membuat Halilintar terlihat lemah dari Taufan, hanya rasa tidak ingin melukai orang yang disayanginya—sehingga menahan ia mengerahkan semua kekuatannya. Halilintar sedikit ceroboh untuk memperhitungkan timbal balik serangannya. Maksudnya, kadang kekuatannnya justru menyerang balik kawannya. Makanya itu yang membuat Taufan memandangnya remeh.
"Mode tiga tanduk trident, GEMPA HALILINTAR!"
DHUAAARRRR!
Tanah tergoyang, bergetar dengan sebelumnya beberapa kilat besar menghantam tanah kuat. Diiringi asap gelap yang menyelimuti agak tipis. Semua elemental yang berada di arena mengerang.
"WUUAAAHHHHHHH!"
"HALI—HENTI—AAAHHHHH!"
Air dan Taufan kini hanya bisa diam, menikmati detik-detik mereka yang kemungkinan besar bukan hanya kalah. Percuma berteriak. Halilintar telah menutup daun telinganya bagi suara-suara memelas yang meminta ia berhenti.
Entah telinga atau hati yang ditutupnya.
Dan Halilintar masih menikmati kesuksesannya. Mana ada orang yang mau jatuh setelah menggapai apa yang didambakannya, dimana sebelumnya hanyalah angan.
"AHAHA—AKU BISA MEMBUAT SEMUA MUSUHKU TAKUT!" Halilintar mengambang di udara. Ia tertawa melihat keempat pecahan hanya bisa terbaring menikmati sengatan-sengatan yang lebih kuat dari beda potensial sang petir merah sebelumnya.
"Musuh?!" Fang meninju pohon yang sebelumnya menjadi tempat persembunyiannya. Meluapkan kekesalannya atas suara iblis dari pecahan rival—Boboiboy. "Kau kira pribadi dan elemen bedamu yang lain itu apa?!"
"Fang! Jangan gegabah!" Ying menarik untaian jaket yang dipasang manis pada pinggang pengendali bayang.
"Seharusnya aku tidak menyelamatkannya saat itu! Lepaskan, Ying!" Fang memberontak dengan wajah masam.
"Kau buta atau apa?! Halilintar sekarang kuat!" bentak Yaya yang dalam posisi belakang dari Fang kemudian Ying.
"Persetan..."
Namun Fang kembali melemaskan kedua lututnya untuk duduk kembali. Ya, ucapan Yaya benar apa adanya. Ia menahan pelupuk matanya karena nyaris menangis. Ia sadar dia adalah sosok laki-laki, tidak boleh terlihat cengeng di depan para gadis. Itu membuat mereka semakin panik jika ia sendiri takut. Walau memang Fang didera gelisah, sebenarnya.
Gempa mencoba bangkit walau masih bertatih-tatih. Mengeluh padahal waktunya ia beraksi—setelah melepasnya sulur oleh bantuan air—tapi malah dikalahkan telak oleh orang yang harus dia selamatkan. Naas sekali.
"Cih, kau kuat," Gempa mengusap pelipisnya yang penuh keringat. Sejenak setelahnya, kedua tangannya terbungkus material tanah bernuansa ungu dengan gemerlap kuning. Ia meninjukan tangannya pada tanah sekejap, bergetar dengan kemudian muncul sosok golem melompat hendak memukul manusia di bawahnya.
Halilintar hanya tenang dari udara, "Trik murahan. Tombak petir!"
Blarr!
"Sial, dulu yang hanya keris berubah menjadi pedang, lalu tombak?!"
Fang masih dalam kawasan tersembunyi jauh dari jangkauan musuhnya itu memberi analisis dengan nada panik. Tercipta tombak hitam dengan nuansa petir merah memberi aura apa yang ia pegang itu siap menyengat. Panjang dengan hanya berbentuk tongkat dimana salah satu ujungnya lancip. Diputarnya tongkat hitam tersebut, kemudian menghunuskan ujungnya ketika memutar badannya seperempat derajat. Golem yang tadi sudah mengenggam kedua tangannya menjadi satu ke atas tertusuk wajahnya. Puing-puing materialnya hancur lebur.
Halilintar tersenyum sejenak menikmati debu-debu yang menerpa ada sosok laki-laki—lawannya—ada di belakang sang golem. Kedua tangannya yang awalnya hanya bermaterial ungu berubah menjadi emas.
"Tinju titan!"
Bukh! Halilintar terlempar oleh salah satu tinjuan material berselimut emas berkilau itu. Menabrak pohon yang dijadikan Fang dan kawan-kawan berlindung. Nyaris sang pohon tumbang karena kuatnya hantaman Gempa kepada pecahannya—alias Halilintar sendiri.
"Taufan!"
"Aku maju!"
Hover board Taufan melesat mengikuti jejak arus Halilintar tadi terpukul. Tangannya ia bentang, dan disaat itu udara yang seharusnya hampa kini terasa kuatnya membentuk angin sepoi. Memutar mengikuti arus dari bawah menuju atas, melebar seiring ruas demi ruas menjadi angin deras. Lamban laun, hover board seperti terhalangi angin deras pada sekitarnya.
"TORNADO!" seru Taufan. Gempa mendarat pada tanah saat itu juga, kemudian mendetumkan sebelah kakinya pada apa yang dipijaknya. Sebuah batu dengan ujung runcing terangkat.
"Serangan batu besar!"
Sebelah tangan berselimut emas tersebut menghantam sisi batu, hingga yang terhantam melesat menyusul pusaran angin dari Taufan. Entah bagaimana, bongkahan batu tadi terpecah menjadi lima kemudian tahu akan posisinya membentuk formasi bintang ketika sampai pada tempat Taufan.
Halilintar yang masih menempelkan punggungnya pada dahan pohon tersenyum, walau kedua matanya tidak tampak karena terlindung topi. Taufan sempat merasa janggal dengan ejekan pecahan tertua tersebut.
"Kau tahu, aku paling membencimu. Seharusnya kau tidak pernah ada di dunia!"
ZWUUUNNNGGG! Kumpulan listrik terkumpul membentuk sebuah palu besar dengan ukuran lima kali tubuhnya sendiri. Halilintar meregap pangkalnya menggunakan kedua tangan—memeluk, setelah ia meraihnya dalam jarak satu meter.
"Hancurkan apapun di depanku. PUKULAN PALU THOR!"
"Apa?!"
Palu tersebut terayun cepat menuju bawah. Pukulan keras ditempak Halilintar segera menuju dataran. Pohon yang dijadikan tempat berlindung teman Boboiboy yang lain langsung oleng. Sebelumnya pangkal sang pohon patah karena salah satu batu yang dibuat Gempa untuk kolaborasinya terhantam.
Mereka semua—Fang dan kawan-kawan—yang bersembunyi jatuh bersama. Gempa yang sebelumnya berlari hendak menyusul serangan Taufan—yang jika berhasil mengenai Halilintar, saat melihat teman-temannya jatuh segera ia melompat laju untuk membungkus mereka dengan bola tanah dengan bantuan lemparan lengan tanah untuk mengayunkan tubuhnya. Mereka tengah terbungkus, dan Ying membentangkan tangannya segera mengaktifkan kuasa waktunya. Sesuatu membentuk bola transparan hingga melambatkan apa dalam areanya.
"Kita butuh rencana," ucap Fang yang berusaha mungkin menyeimbangkan badannya pada sisi bola tanah. "Bagaimana cara mengalahkan Halilintar. Kita perlu Ochobot."
Gempa mengangguk membenrkan, "Ying, kau bisa mengarahkan jammu pada dimana lokasi Ochobot bukan?"
"Aku hanya berani melakukan teleportasi saat ada Ochobot," balas Ying.
"Kau harus mencobanya!"
Ying tampak berpikir sejenak. Dalam waktu yang sempit, ia pun terpaksa ikut. Kepalanya dianggukkan tanda setuju, "Teleportasi!"
Semua dalam ligkup lingkaran tersebut menghilang diikuti pohon yang tadi mendarat tumbang. Palu Halilintar itu juga ikut menghilang. Halilintar dengan santainya turun mendarat dengan pelan. Sesudahnya langkahnya ia tuntun menuju tempat dimana orang yang mencoba menyerangnya itu tersungkur—akibat tolakan keras arus dentuman palu juga tornado.
Halilintar sampai di depan Taufan yang kini memposisikan telungkup. Ia terhenti di depan tubuh Taufan, mengabaikan butiran pasir dan serpihan batu yang mengenai wajahnya. Taufan mendongak, dengan di sampingnya kini hover board miliknya terbelah menjadi beberapa bagian.
"... aku tahu, aku yang salah."
"Kau terlambat untuk meminta ampun dariku," ucap Halilintar dingin. Taufan membalas dengan tersenyum kepada Halilintar.
"Aku merasa terhina dikalahkan oleh orang yang menyerupai rivalku. Kamu... doppelganger saudaraku, ya?"
"APA?!"
Halilintar langsung menyepak wajah Taufan geram. Api dan Air yang baru memulihkan tenaganya setelah disengat, melihat tragisnya Halilintar memperlakukan persona mewakili elemen angin.
"Taufan...," lirih Api takut.
"... Jangan sakiti Taufan ..." Air sudah menampakkan raut wajah pesimis.
"Kalian yang tidak bisa melakukan form level dua, lebih baik diam," tegas Halilintar sadis. Tubuhnya ia rendahkan untuk menggapai topi Taufan. "Sudah kalah, tidak terima masih kalau aku lebih KUAT darimu, Taufan?"
Topi miring kebanggaan Taufan dilambungnya ke udara. Tombak petir lagi-lagi muncul dari tangannya setelah ia ayunkan. Ia lempar ke udara, dan ujungnya menusuk tepat pada bagian depan topi tanpa menoleh.
"Sekarang anggota Boboiboy hanya ada empat. Kau dibuang."
Sepasang mata masing-masing Api dan Air terbelalak, menampakkan iris mereka mengecil. Namun daritadi pupil tersebut bergerak atas turun secara diagonal. Tubuh mereka bergemetar syok.
"Hhh, kau memang... orang yang selalu bertindak... dan ingin dipandang sempurna... aku tidak perlu, melihat wajah burukmu lagi... ya..." Taufan menyempatkan mengoceh ketika Halilintar sudah mengarahkan tangannya ke atas.
Halilintar merupakan sosok kebalikan dari Taufan. Halilintar berusaha untuk terlihat berani, beda dengan Taufan yang bisa saja jujur untuk pesimis. Halilintar condong untuk selalu serius dalam apapun, beda dengan Taufan yang menganggap semua hanya angin lalu yang tidak perlu dianggap. Halilintar yang jarang tersenyum, dan Taufan yang mudah manja untuk merasa dekat dengan orang lain.
"Ingat tidak saat kau menjadi Taufan, betapa sombongnya kau mengatakan kami hanya mau menggunakan kekuatanmu saja?"
"Aku menyembunyikan ketakutanku dari sana. Iya, aku tahu aku peduli dengan hal yang mengancam harga diriku. Aku benar-benar masih belum tahu kalian."
"Kulihat juga Halilintar sebenarnya selalu peduli denganmu. Dia seperti menghargai ucapanmu, walau cara ia menangkap kata-katamu seperti orang yang tersinggung."
"Aku juga berharap, Halilintar akan jadi kuat—ADUH GEMPA SAKIT!"
Taufan mengingat kembali obrolan mereka setelah Taufan disiksa habis oleh rivalnya setelah mencemooh dahulu. Gempa yang baru bisa melerai mereka segera mengobati Taufan, dan Halilintar yang ikut terluka malah dipanggil jam kuasa agar Boboiboy bisa meminjam kemampuannya. Dan di dalam bawah alam sadar itu, Taufan berbincang dengan Gempa tentang apakah menganggap Halilintar lemah dulu salah.
Kini yang dapat Taufan lakukan, hanya menyambut kematiannya. Ia menutup matanya pelan.
'Aku juga merasa, sepertinya aku harus kembali hanya menjadi emosi Boboiboy—atau mugkin aku akan mati dalam hatinya selamanya...'
"Bola es!"
Tombak Halilintar terpenntal dari tangannya saat ada bola padat berhawa dingin membenturnya. Halilintar menoleh ke kiri—dimana bongkahan itu berasal—kemudian menemukan kedua pemuda berparas sama sepertinya dengan topi tertutup penutup jaket. Kedua orang tersebut sudah dalam posisi kuda-kuda hendak memberontak.
"Sejak kapan kalian bisa berubah?!" Halilintar tercengang.
"Jangan bunuh Taufan!" Api dalam mode Blaze melompat menuju Halilintar. Sebelah kaki kanannya ia buat ke atas memutari tubuhnya. " Lidah lava!"
Kakinya ia ayunkan seiring memutar tubuhnya dan langsung keluar api berhawa panas dengan nuansa merah hitam juga kuning. Halilintar menggunakan gerakan kilat untuk menghindar, namun sayang ia hanya bisa mengelak sedikit hingga topi letak ke depan kesayangannya terbakar sedikit.
"Berani kau main-main, Blaze?!" Halilintar mengeluarkan lagi tombaknya lalu berniat menghunus tubuh Blaze yang masih di udara.
"Sadarlah Halilintar! Javelin ais!"
Trak! Kedua tombak saling beradu. Air yang berubah mode menjadi Ais dengan Halilintar saling menatap. Dan disaat sensasi menegangkan mulai tercipta, Air masih bisa tersenyum remeh kepada Halilintar. Sepertinya dia menanggap apa yang di depannya mainan.
"Senyum palsu yang memuakkan. Menyembunyikan rasa ketakutan dibalik senyum. Aku ingin tahu seberapa lama kau bisa seperti itu terus. Pelindung halilintar!"
"AISSS!"
Ais tersengat kuat pada listrik yang mengitari tubuh Halilintar dimana mengenainya telak. Elemennya memang paling lemah jika dihadapkan pada elemen tertua yang muncul pada diri Boboiboy ini—dari ketiga elemen lain.
"Serangan api panas!"
Halilintar turut terkena serangan telak karena sibuk menyerang Ais. Blaze yang memanfaatkan lengahan lawannya—atau mungkin berusaha melindungi Ais—menyerang Halilintar membabi buta. Rentetan lemparan api terus menerus dikerahkan Blaze.
"TEGANYA MENYAKITI KAWANMU SENDIRI! KAU TAKKAN KUMAAFKAN! "
=oOo=
"Hahaha~ Aku senang melihat perpecahan saudara seperti ini. Ups salah, maksudku adalah perpecahan antar diri sendiri."
Eclair melayangkan tubuhnya mendekat pada pilar yang masih menjulang menembus langit. Kedua tangannya ia angkat, lalu merentang dengan lebar. Ochobot sebagai wadah kekuatan tersebut muncul hanya bisa diam dari tempatnya.
"Sang necromancer atau ilmuwan gila. Aku meminta mahakaryamu untuk membuktikan penemuan mutakhirmu," para arwah-arwah yang tadi turun mulai bergentayangan untuk mengelilingi ratu iblis. Eclair masih memfokuskan kepalanya mendongak. "Aku meminta—"
"Hyaa!"
Satu lesatan gundukan besar dihindari Eclair cepat. Ia menoleh ke asal dimana batu tersebut meluncur, menemukan sosok Gempa dan kawan-kawannya dalam posisi hendak menyerang.
"Kalian para bocah, berhenti utnuk ikut campur dalam ritualku!" Dua buah lengan memaksakan keluar dari permukaan tanah dekat dimana Gempa dan kawan-kawan berpijak. Kemudian dari sana bangkit dua mayat dengan tubuh berotot berlapis tanah juga daging yang memerah. Kedua mata mereka putih tanpa pupil. Mulut mereka terlalu banyak memproduksi liur sampai merembes keluar.
"Lepaskan Ochobot! Berhenti untuk menguasai galaksi!" kecam Gempa yang tidak getir melihat dua mayat hendak mendekati mereka. Mewakili teman-temannya yang lain.
Eclair tidak mengindahkan ucapan Gempa, "Para undead, urus para bocah itu."
"Graaaa!"
Mereka mendekat laju pada Gempa. Semua yang dalam lingkup area dimana undead ada melangkah mundur. Eclair pun menjauh dari para bocah yang ia lawan menuju langit ujung pilar melayang. Tidak ada yang tahu untuk apa ia kesana.
"K—kita akan mati...," ucap Ying ketakutan. "Dan musuh utama kita kabur."
"Uhh... oh! Fang!"
"A—apa?!" Fang juga sedang dalam jaga jarak waspada, jadi ia agak ragu untuk menoleh pada Gempa.
"Kekuatanmu dan rumah sampai sikapmu 'kan berhubungan dengan hantu, coba—"
"APA KAU BILANG?!" Fang membentak memotong ucapan Gempa. Segera Yaya menepuk pundak Fang menegur.
"Orang belum selesai ngomong!" tukas Yaya.
Fang berusaha mendamaikan rasa kesalnya. "Sudahlah. Jadi, apa?"
"Bunuh mereka."
Fang mendumel, "Kau gila apa menyuruhku membunuh setan?! Kau kira aku exorcist nyasar?!"
"GRAAAAAA!"
Kedua undead menarik kaki Gopal kepada mereka selagi ketiga bocah masih bersahut-sahutan. Terikaan dari laki-laki berbadan gempal tersebut membuat semua anggota dari sana panik.
"JANGAN-JANGAN GOPAL AKAN BERUBAH MENJADI ZOMBIE!" teriak Gempa ketakutan.
"Alay," sahut Fang.
"TOLONG AKU TEMAN-TEMAAAANNNN!" teriak Gopal tidak kalah takut. Fang memamg masih takut melihat pemandangan yang tampak seperti cerita zombie-zombie ala Hollyw*od, tapi membiarkan satu anggota temannya mati dalam tangan musuh baginya adalah tindakan pengecut.
Laki-laki bermata empat tersebut segera mengayunkan tangannya ke depan, membentuk pola wajah harimau, "Harimau bayang!"
Satu undead diterjang harimau bayang, lalu mencakarnya begitu ganas saat mangsanya sudah tergeletak di tanah. Sedang undead yang lain masih juga menarik tubuh gempal Gopal.
"Mau dibawa kemana mereka hah?! Tanah tinggi!"
Satu lainnya terlempar ke udara. Gopal yang sedari tadi gemetaran akhirnya bisa bernapas lega.
"Terima kasih Fang, Gempa," ucap Gopal. Ia pun bangkit kemudian berlari mendekat pada Gempa. Yang dibalas hanya senyuman dari dua laki-laki yang punya hubungan rival tersebut. "Selamat aku..."
"Sekarang selamatkan dulu Ochobot, atau dia akan ditarik musuh," ucap Gempa kemudian berbalik menuju sebuah wadah yang mengambang. Fang menoleh pada Gempa, kemudian ikut menggiring yang disusul Yaya, Ying, dan Gopal. Bola kuasa memandang mereka dibalik kaca transparan.
"Jangan mendekat..."
Lirihan sang robot pemberi kuasa membuat Gempa sejenak menghentikan langkahnya.
"OCHOBOT?! KAU DISANA?" teriak Gempa yang baru tahu Ochobo sedari tadi ada di dekat mereka. Masalahnya, wadahnya memang lumayan terlindung.
"Daripada begitu, segera saja kita mengeluarkan Ochobot dari sana!" Fang mengeluarkan elang bayang lalu terbanng menuju dimana tabung berada. Tubuhnya ia dirikan hendak menjamah Ochobot. 'Aku beruntung bisa mengeluarka bayanganku karena langit menjadi cerah padahal waktu sudah malam.'
"Jangan... jangan selamatkan aku, Fang..."
"Kau bicara apa?! Kami kesini untuk menyelamatkanmu!"
Fang langsung menggapai sang tabung. Tapi baru saja ia mau menarik, tangannya tembus.
"A—apa ini?!"
"Lebih baik kalian kalahkan Halilintar lalu Eclair... itu kuncinya untuk sukses menghentikan permainan pertahanan hidup ini..."
"Kenapa?" tanya Fang dengan nada suara kecil. "Kau kunci kami untuk bisa keluar dari dunia aneh ini, Ochobot..."
Itu hanya alasan sampingan. Daridulu, Fang tidak pernah bisa membiarkan Ochobot dalam kesulitan. Ia rela mengabaikan teman-temannya untuk menarik Ochobot agar tidak ditangkap PETAI—robot Ejo Jo. Mana bisa ia meninggalkan makhluk yang membuat hidupnya cerah seperti sekarang?
"... aku tidak lama lagi, pasti menjadi musuh kalian..."
Dan saat itu wadah yang ditempati Ochobot retak dengan sendirinya. Puing-puingnya luluh turun, memperlihatkan tubuh Ochobot yang sudah mendominasi tidak lagi kuning—tapi hitam dan ungu juga putih merah.
"Keempat penerus elemen datang untuk menyaksikan kematian mereka..."
Suara perempuan yang diyakini Gempa dan kawan-kawan sebagai Eclair bergetar memenuhi lingkup udara begitu menggelegar. Dua adegan yang membuat semua anggota pahlawan super tercengang.
"Oleh satu elemen yang ditakdirkan menjadi pengkhianat antara keempat elemen..."
"Dari awal Eclair membeli pecahan Boboiboy pada Adu Du karena kalian manusia... lemah... dan itu rencana kami..."
Semua yang mendengar susulan lirih Ochobot terpaku di tempat.
"Kau dipihak siapa, Ochobot? Apa maksudmu 'kami'?! Kenapa kau baru bilang alasannya karena aku dan diriku yang lain lemah?!" murka Gempa.
"Maaf Gempa—aku tidak tahu awalnya aku memang berasal dari buatan musuh! Aku tidak bisa... aku tidak sanggup menentang kehendak pembuatku..."
"Musuh?!" semuanya berseru. Kedua lensa mata Ochobot yang biru berubah sekejap menjadi merah. Semua bergidik dengan perubahan drastis dari robot pemberi kuasa.
"Bersama karyamu, izinkan saya untuk melaksanakan cita-citamu yang terhalang oleh keempat spirit pada masa lalu!"
["Aku adalah karya yang tercipta antara sihir dan teknologi," ucap Ochobot dengan suara yang menggema menggiring.]
"Membalas dendam penghinaan dari para pemimpin keempat elemen, membuat dunia baru, sihir dan teknologi yang tergabung!"
["Mengabulkan cita-cita pembuatku adalah arti kehidupanku."]
Sang bola kuasa langsung melayang pergi menuju tempat Halilintar terkulai akibat serangan Blaze barusan. Disusul oleh sosok cahaya besar yang tampak seperti ekor meteor, menuju tempat dimana Halilintar ada.
"DENGAN LAHIRNYA SANG PEMIMPIN ELEMEN BARU YANG LEBIH KUAT!"
"AAAAAAAA!"
Blaze dan Ais terpental oleh adanya serangan mendadak yang diluncurkan lebar dengan titik tengah Hailintar. Taufan yang masih ikut terbaring ikut terpental, menyusul kedua pecahan baru yang merupakan dirinya yang lain.
Cahaya yang begitu kuat membuat seluruh bocah pahlawan super menutup mata mereka. Tidak hanya mereka, bahkan seluruh makhluk seperti ppara gnome, sylph, dan semua makhluk aneh lain ikut kaget kemudian memejam mata mereka.
"Ahaha..."
Cahaya memudar tergantikan suara tawa menggema. Ais menurunkan matanya sejenak, mencoba melihat kejanggalan suara yang menurutnya aneh karena suara perempuan menggiring. Langit tergantikan cerah bagaikan siang. Pilar enggan lagi muncul. Arena yang berupa hitan berubah menjadi tanah yang dijatuhi meteorit. Bulan bahkan tampak seperti matahari.
Ada kepulan hangus mengitari lingkaran tanah gersang tersebut. Dan dari tengah, bocah laki-laki dengan nuansa merah kehitaman menunduk tersenyum. Ia tertawa kecil menggema, kemudian membesar, lambat laun menggelegar seakan mendominasi udara seluruhnya.
"AHAHA—HAHAHHAHAHAHAHAHAHA! "
Tawa Halilintar yang tidak berat lagi seperti laki-laki biasanya. Lebih menyeramkan, membuat semua pecahan Boboiboy selain Halilintar merinding di tempat.
"Tch! Sial!"
Taufan berusaha menguasai tubuhnya yang kaku dengan melangkahkan kakinya laju. Ia hanya mampu berlari karena hover board miliknya patah. Menggertakkan giginya kesal, "Gerudi Taufan—AKKKHHHH!"
Masih dalam jarak 10 meter jauhnya dari Halilintar, Taufan bisa merasakan sengatan listrik yang bahkan lebih pedih berkali-kali lipat dari terakhir ia rasakan. Padahal orang yang Taufan hendak serang masih dari tempatnya berdiri begitu angkuh. Tidak ada suara atau tangan yang mengomando mengeluarkan elemen dominannya.
"Teleportasi!"
Gempa dan kawan-kawan yang terpisah dari Ais, Blaze, dan Taufan muncul sekejap. Segera Gempa menarik Taufan dengan lengan panjang tanahnya.
"Halilintar!" tegas Gempa dengan aura pemimpinnya berkarisma. Yang dibalas Halilintar hanya bergumam meremehkan. "Kau—INGAT SIAPA KAU! Kembali pada kami! Ayo kita bersatu!"
Duarr! Petir-petir langsung menggelegar menuju arah Gempa. Fang, Ais, Blaze, melindungi Gopal, Yaya, dan Ying secepat yang mereka bisa. Namun tidak ada satu diantara mereka bisa lolos. Taufan yang juga dekat dengan Gempa terkena imbasnya.
Semua terlontar kemudian mendara secara keras. Ais, Gempa, Blaze, dan Fang paling merasakan dampaknya karena mereka memeluk orang yang mereka lindungi. Dari jauh, Halilintar masih menundukkan kepalanya dengan sunggingan senyum.
"... Halilintar itu, siapa? Aku adalah 'dewa' yang akan menguasai galaksi ini."
=oOo=
"Apakah bumi dan seluruh galaksi akan berakhir?!" panik Adu Du yang melihat jauh dari arena pertarungan. Mereka—Adu Du dan Probe—memandang dari atas gunung cukup tinggi. Mengambil jarak berkilo-kilo dari wilayah mengancam nyawa tidak ada salahnya bukan?
"Entahlah incik bos. Ini semua ide incik bos yang jahat sih."
"Ini terpaksa Probe! Daripada kesadaranku ikut diambil alih karena memberontak!" tukas Adu Du. "Tapi... kalau seperti ini, dari awal aku tidak perlu menyarankan Boboiboy menjadi penggantinya. Awalnya aku merekomendasikan Boboiboy karena sekaligus ingin mengalahkan musuh abadiaku."
"Tinggal tekan tombol reset saja, 'kan bisa," balas Probe kemudian.
"Alatnya hancur."
"APA?! BAGAIMANA BISA INCIK BOS INI?!"
Probe panik seketika. Adu Du terduduk sembari memegangi kepalanya.
"Aduh—seharusnya aku membaca ringkasan sinopsis cerita kaset game itu! Kalau aku bisa tahu bagaimana mengalahkan tokoh antagonis disana..."
"Maksud incik bos kaset ini?"
Probe mengeluarkan sebuah bungkusan kaset dengan sampul tokoh fantasi. Adu Du segera bangkit lalu menyambarnya.
"KUKIRA INI HILANG!" Adu Du menangis terharu. "Huhuhu—terima kasih—dengan ini aku tahu bagaimana mengalahkan Eclair—"
"Ya dong, Probe gitu~"
Adu Du membacanya begitu khusyuk. Kemudian menjadi setengah serius, dan berakhir dengan wajah kusut. Probe heran dibuatnya. Tidak jadi bertingkah senang lama-lama.
"Jadi, bagaimana?" tanya Probe penasaran.
"Intinya adalah..."
=oOo=
"Serangan bayang!"
"Tumbukan padu—AKHHH!"
Gopal, Yaya, Ying, dan Fang seketika lumpuh di tempat saat hendak menyerang.
"Jangan paksakan diri membantu kami! Tombak es!"
"Halilintar! Sadar! Semburan api!"
Semua serangan kolaborasi Ais dan Blaze tidak dapat menembus pelindung transparan yang dibuat.
"Percuma dengan apa yang kalian kerahkan. Sekali lemah, tetap lemah!"
Semua sekejap terkena aliran listrik. Tidak ada yang tahu bagaimana bisa ada perbedaan potensial yang tinggi bisa mendekat pada posisi mereka yang jauh dari Halilintar—atau siapa itu. Gempa dan Taufan yang sudah kehabisan tenaga hanya bisa diam, tidak dapat membantu.
"Biar kuberitahu sesuatu sebelum kalian mengunjungi neraka kalian..."
Halilintar pun melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Gempa dan kawan-kawan. Gopal yang biasanya akan mengambil langkah konyol, benar-benar tidak bisa berkutik untuk setidaknya meminta bantuan Gempa. Entah sejak kapan pikirannya terus bergelayut, bahwa mereka takkan bisa selamat.
"Dahulu..."
.
.
Everyone has weakness, but take the risks for save one more of you make your sacrifice be usefull than just escape
.
.
A/N: Akhirnya Sebenarnya ini mau dibuat tanggal 23, tapi kakak saya dari tanggal itu berkunjung lalu meminjam lappy sampai tanggal 28. Terus saat tanggal 28 sampai sekarang sibuk ngurus anak UTS dan pendataan para guru PNS.
Dan maaf untuk para pembaca yang awalnya mengira saya bakal hiatus menulis di fandom ini. Saya umumkan, bahwa saya masih MENETAP untuk menulis. Tapi menulis memang hanya hobi, sehingga saya tidak mungkin menulis secepat seperti dulu. Saya punya tuntutan kerja juga di dunia nyata. ^^ kemungkinan besar akan update sebulan sekali. Paling cepat seminggu atau dua minggu sekali.
Yah... dan karena itu juga fanfic ini resmi didiskualifikasi sebab tenggat waktu yang sudah habis. Maaf untuk panitia karena saya ingkar janji. Tapi karena itu, saya menambahkan dua chapter untuk ke depan dari story ini. Insya Allah, saya akan menyelesaikannya sebelum pertengahan bulan. Untuk yang mengrequest adegan pairing etc, saya tampung dulu apakah cocok dengan alur yang akan saya buat nanti ^^
Ada yang mau review?
