Setiap orang berhak atas kesempatan kedua, tapi akankah kesempatan itu datang untukku?

Untuk kita kembali bersama?

.

.

.

A Story From The Bottom of My Heart

Chance

.

.

Diclaimer: Pandora Hearts © Jun Mochizuki

Genre: Angst/Romance

Pairing: Vincent/Sharon

Warning: 4 POVs (Author, Oz, Vincent, Sharon)

Typo (?)

Italic words: Memories

ENJOY!

Aku ingin kesempatan kedua, aku ingin memutar waktu dan memilih yang lain...

-Flync-


Oz's POV

Cinta...

Bayaran untuk permintaanku adalah cinta.

"Cinta... , " bisikku pelan.

"Ya, mudah saja bukan? aku hanya akan meminta cinta sebagai bayaran dari permintaanmu"

Cinta...

Lagi-lagi aku meragu.

Tapi Jika aku menolak, maka kamu akan mati.

Kesadaran itu menghantamku, membuatku semakin bingung.

Alice...

Alice...

Katakan, apa yang harus aku jawab?

Aku menghela nafas, membuka mataku.

"Kau sudah tahu apa jawabanku untuk penawaranmu itu Isla Yura, aku tidak akan kemari jika aku hanya berniat untuk menolak tawaranmu"

Pria di hadapanku tersenyum mengerikan, dan tak lama kemudian ia mulai meloncat-loncat kegirangan.

Aku kembali memejamkan mata.

Maafkan aku, Alice...


Author's POV

Seorang pemuda berjalan sempoyongan di tengah keremangan, tangan kanannya memegangi tangan kirinya yang berdarah.

Sesekali bahunya menabrak keras dinding nan lembab, namun ia terus berjalan tanpa memperdulikan darah yang mengalir semakin deras dari sela-sela jemarinya.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang gadis, disertai dengan suara tawa seorang pria.

Langkah pemuda itu terhenti, lututnya terasa goyah saat mendengar teriakan itu, dan ia pun terjatuh ke lantai.

Kedua tangannya terangkat -menutupi telinga- ia menyerit, matanya terpejam erat-erat.

"Maafkan aku... Maafkan aku... ," bisik pemuda itu sambil menggelengkan kepala, seolah ingin mengenyahkan suara teriakan itu.

Selama beberapa saat suara itu terus terdengar, lalu menghilang dengan sendirinya seolah tidak pernah ada satu orangpun yang berteriak.

Pemuda itu terdiam dengan nafas memburu, ia membuka mata, menatap kearah suara teriakan tadi terdengar.

"Alice... ," bisiknya parau.

Suatu kesadaran menghantam pikirannya, ia kemudian berdiri lalu berlari menuju sumber suara tadi berasal.

"Alice!, " teriak pemuda itu saat mencapai sebuah ruangan berbentuk lingkaran sempurna nan bermandikan cahaya.

Mata pemuda itu tertuju kepada sebuah pintu kayu, dengan cepat ia melangkah menuju pintu itu, namun belum sempat ia mencapai pintu itu, sebuah tangan kasat mata mendorongnya ke meja batu.

Pelipis pemuda itu menghantam ujung meja, dan darah mengalir dari luka di pelipisnya.

"Kau tidak boleh menemui gadis itu lagi Oz, belum waktunya ," kata sebuah suara.

Mata zamrud pemuda berambut pirang itu menjelajahi isi ruangan, namun ia tidak menemukan satupun di ruangan itu selain dirinya.

Ia sendirian...

"Si... Siapa?, " tanya Oz dengan suara bergetar.

"Oz yang malang, kau tidak dapat melihatku huh?, " tanya suara itu disusul dengan tawa dingin.

Oz terdiam, perlahan ia berdiri, matanya tetap menjelajahi isi ruangan itu, hingga seseorang mendorongnya ke atas meja batu.

Pandangannya memburam, dan ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi hingga sesuatu yang berat menimpa tubuhnya.

Saat ia membuka mata, ia melihat seorang gadis berpakaian putih tengah memeluknya erat.

"Aku ada di sini Oz, mulai sekarang aku akan selalu ada di sini, " bisik gadis itu di telinga Oz.

Pemuda itu mengejapkan mata lalu bertanya, "Siapa kau?"

Pelukan gadis itu mengendur, lalu ia menatap wajah pemuda itu, menatap kedalam mata zamrudnya, seolah ingin mengorek keluar setiap bagian dari jiwa pemuda itu.

Pemuda itu menahan nafas, keringat dingin menuruni tengkuknya.

"Apa kau masih belum mengenaliku, Oz?, "tanya gadis itu sambil membelai lembut pipi pemuda itu.

"A... Alice?, " bisik Oz tidak percaya.

Wajah gadis itu mengerut, tangannya beralih menuju leher Oz.

"Alice, Alice dan Alice! Tidak bisakah kau berhenti memikirkan gadis itu?!, " teriak gadis itu sambil mencengkram erat leher Oz.

"Mulai sekarang tidak ada lagi Alice kecilmu, Oz... Apa kau ingat? Kau sudah menukar cintamu, jadi mulai sekarang yang ada hanyalah aku... Sekarang kau milikku selamanya, " gadis itu mengendurkan cengkramannya.

Oz terbatuk-batuk, ingin rasanya ia mendorong gadis itu, tapi kedua tangannya terasa lemas.

"Lain kali, saat kita bertemu, panggil aku Alyss... Bukan Alice," bisik gadis itu sebelum ia mencium bibir pemuda itu.

Pemuda itu menegang, matanya membulat, sejenak keingininan untuk mendorong gadis itu terasa kembali, namun kemudian tubuhnya me-rilex, dan ia pun terhanyut dalam ciuman gadis itu.

Saat itulah tubuhnya terasa panas, dan sesuatu yang berat terasa menimpa dadanya.

Pemuda itu ingin berteriak, namun bibirnya terlalu sibuk membalas ciuman gadis itu, dan rasa sakit yang ia rasakan di dadanya tidak seberapa dengan perasaan yang ia rasakan saat bibir gadis itu terus memanjakan bibirnya.

Saat ia memejamkan matanya, gadis itu menarik diri dari pemuda itu dan rasa sakit itu kembali menusuk-nusuk dadanya.

Pemuda itu menekan dadanya, berteriak dengan suara nyaring dan berguling hingga terjatuh dari meja batu.

"Tidur nyenyak, Oz, " bisik gadis itu saat membungkuk di atas pemuda itu lalu ia pun menghilang, meninggalkan pemuda itu dengan rasa sakitnya...


Saat pemuda itu terbangun, kepalanya terasa berat, dan tangan kirinya terasa kaku.

Ia mencoba beradaptasi dengan cahaya di ruangan tempat ia terbaring, dan saat ia berhasil melakukannya, ia mendapati dirinya tengah meringkuk di samping sebuah meja batu.

Pemuda itu kembali memejamkan mata, mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi...

Ahh...

Dia ingat...

Teriakan gadis itu, tawa gadis itu, lalu bibir lembut gadis itu yang membuatnya takut dan senang, serta rasa sakit di dadanya...

Rasa sakit...

Tanpa membuka mata, ia membuka kancing kemejanya, lalu berguling terlentang di lantai nan dingin.

Ia mencoba untuk duduk, lalu membuka mata, menatap dadanya.

Matanya membulat...

Di tempat panas itu tadi terasa, kini terlihat sebuah lingkaran dengan 9 garis di sekeliling lingkaran itu...

Sejenak ia teringat akan perkataan pria bermata ... itu.

"2 yang dulu menjadi satu kini harus terpisah... Satu tidak dapat hidup sendiri sementara yang lain bisa melewati semua sendiri... Dua tidak bisa lagi bersama, saat satu berada dalam terang yang lain akan tenggelam dalam kegelapan... Jika satu muncul ke permukaan, maka yang lain akan menghilang di dalam kegelapan..."

Pemuda itu menggeleng pelan, ia tidak dapat menebak keseluruhan mantra Isla Yura, tapi satu hal yang pasti, ia dan Alice tidak akan pernah bisa bersama lagi...

"Lalu apa yang dimaksud dengan cinta sebagai balasannya?, " pikir pemuda itu sambil merebahkan tubuhnya lagi.

Pemuda itu kembali memejamkan matanya, mencoba mengingat perkataan lain Isla Yura...

"Cinta, harapan dan darah disegel melalui satu tindakan... Di atas hati akan muncul sebuah pengingat akan harapan sang peminta... Saat Sembilan tahap terlewati, satu yang tenggelam akan muncul ke permukaan, sementara yang lain akan tenggelam... Cinta bayangan yang satu akan menghilang, tergantikan yang lain, sementara benang nasib memperpanjang diri... Suatu hari nanti akan ada masa dimana kutukan bisa terpecahkan, tapi sanggupkan keduanya membayar harga yang pantas?"

"Alice, " bisik pemuda itu...

Ahh...

Belum-belum ia sudah merindukan gadis itu lagi...

Entah bagaimana caranya ia bisa menjalani sisa hidupnya tanpa bisa melihat senyum gadis itu lagi...


Sementara itu, di Blackwood Mansion seorang gadis tampak duduk mematung menatap langit senja. Tatapannya kosong, seolah jiwanya tengah mengembara di tempat lain...

"Nona Sharon, " sebuah suara mengejutkan gadis itu, menyeretnya kembali ke alam sadar.

"Ada apa Echo?, " tanya gadis itu dengan nada bosan.

"Tuan Gilbert Nightray ingin bertemu dengan anda, " jawab Echo.

"Suruh dia masuk, " jawab Sharon pelan.

Echo menutup pintu dengan perlahan, dan dalam sekejap pandangan Sharon kembali menerawang.

"Oz..., "bisik Sharon.

Oz...

Ini adalah kali pertama ia melihat pemuda itu pergi meninggalkan dirinya dalam keadaan sakit demi gadis lain.

Pemuda itu sudah berubah...

Dan hatinya tidak bisa menerima itu...

Oz, pemuda itu tidak sempat tahu...

Gadis itu belum sempat memberitahukan pemuda itu seberapa besar penyesalannya karna memilih untuk meninggalkan pemuda itu demi pemuda lain yang kini meninggalkannya juga...

Ia menyesal, sangat menyesal, dan karna itulah dia ingin memperbaiki semuanya, ia ingin menggunakan kesempatan yang pernah ditawarkan pemuda itu...

Kesempatan yang ia buang dengan sia-sia...


Mata zamrud pemuda itu terlihat semakin bulat setelah mendengar perkataan gadis di hadapannya.

"Vincent Nightray..., " bisik pemuda itu

Gadis di hadapannya mengangguk, senyum menghiasi bibirnya.

"Oh Oz, kau harus melihatnya! Dia... Dia sempuna!, " kata gadis itu dengan wajah berseri-seri.

Oz hanya terdiam mematung, membiarkan gadis di hadapannya bercerita mengenai pemuda yang belum pernah ia temui sebelumnya.

"Lalu bagaimana dengan kita?, " tanya pemuda itu, membuat gadis di hadapannya berhenti berbicara dan terdiam menatap pemuda di hadapannya.

"Kita?, " tanya gadis itu pelan.

Oz menghela nafas, membiarkan rasa sakit yang ia tahan mengalir di tubuhnya.

"Tampaknya Vincent Nightray sangat berarti bagimu, karna itulah aku bertanya, lalu bagaimana dengan kita? Apa kau menganggap kita tidak memiliki hubungan apa-apa?"

Gadis itu terdiam, rasa bersalah dan bimbang menghantamnya.

Oz, atau Vincent?

Ia sudah mengenal Oz sejak mereka kecil. Mereka selalu bersama, kemanapun mereka pergi, hingga gadis itu datang...

Alice Bakersville.

Gadis itu sempat menghilang setelah kebakaran yang menewaskan sebagian besar anggota keluarga Bakersville di Red Moon Pavilion...

2 tahun setelah kejadian itu, Shelly Rainsword menemukan gadis itu dan Xerxes Break, salah satu kenalan jauhnya di dekat Blackwood Mansion.

Sejak kejadian itu, entah mengapa Sharon mulai menjalani hidup dibawah atap yang sama dengan Oz, Xerxes Break dan Alice Bakersville...

Lalu suatu malam, di tengah pesta dansa ia melihat Oz memberikan jas kesangannya kepada gadis itu...

Detik itu juga, rasa benci menguasai otaknya...

Oz adalah miliknya, bukan milik gadis itu dan dia bersumpah, gadis itu tidak akan pernah bisa bersama dengan Oz...

Dan disaat kesedihan dan kepedihan memenuhi hatinya, pemuda permata emas dan merah itu datang, mengulurkan tangannya, meraih dan menyelamatkannya dari penderitaan...

Pria itu adalah Vincent Nightray...


"Sharon, Sharon!, " suara itu terdengar begitu keras di telinganya...

"Hhmm?, " gadis itu menggumam pelan, membuka matanya, dan terkesikap.

"Vince?, " bisiknya tak percaya.

"Syukurlah kau sudah sadar!, " pemuda berambut pirang itu memeluk gadis itu erat-erat.

"A... Apa yang terjadi?," tanya Sharon dengan suara bergetar.

Vincent mengendurkan pelukannya, menatap kedalam mata gadis itu dan berkata, "Kau tidak ingat apa-apa?"

Gadis itu menggeleng pelan, ingatannya terasa buram...

Apa yang terjadi?

Yang dia ingat adalah saat Arthur Barma pergi meninggalkannya sendirian, beberapa kali setelah itu ia merasa telah pergi ke beberapa tempat tanpa bisa ia ingat kemana ia pergi, namun yang pasti rasa dendam di dadanya terhadap Alice tak pernah berkurang...

Ahh, itu dia...

Alice...

Gadis yang telah merebut pemuda yang...

"Sharon... ," suara Vincent menyeret Sharon kembali terfokus akan mata pemuda itu...

"Ada apa? Apa kau mendapat masalah? Kenapa kau menangis?, " tanya pemuda itu sambil mengusap pelan air mata yang bergulir di pipi gadis itu...

Masalah...

Itu dia masalahnya...

Hatinya sakit, sangat sakit...

Rasanya seperti ada yang mencoba memisahkan hati dan jiwamu...

Rasa sakit karna ia merindukan Oz, namun ia merasa bersalah saat melihat kedalam mata Vincent dan merasakan ada sesuatu di dalam dirinya yang bersorak gembira.

"Apa yang kau lakukan di sini?, " tanya gadis itu dengan suara serak.

Vincent Nightray menegang, perlahan melepaskan gadis itu.

"Sharon, aku..."

"Bukankah kau sudah bilang tidak akan menemuiku lagi? Kenapa kau ada di sini?"

"Sharon, biarkan aku..."

"Kau bohong Vince, BOHONG!, " teriak gadis itu frustrasi.

"Sharon, Sharon, tenangkan dirimu, " mendadak Gilbert Nightray muncul dan menengahi mereka berdua.

"Gilbert, kenapa kau membawanya kesini?, "tanya Sharon dengan suara bergetar

"Sharon, maafkan aku, tapi ini adalah satu-satunya cara, apa kau..."

"Cara apa?!"

"Sharon, apa kau benar-benar tidak ingat apapun?"

Gadis itu menggeleng cepat, matanya menunjukkan kebencian yang mendalam.

Masih teringat di dalam ingatannya akan penghianatan yang pemuda itu lakukan...

"Itu tidak mengherankan, tapi ini sudah hampir satu bulan sejak terakhir kali kau berbicara sehidup ini..."

Kini giliran gadis itu yang terpaku...

"Satu ... Bulan?," tanya gadis itu dengan nada tidak percaya.

Gilber mengangguk pelan.

Satu bulan...

Apa yang terjadi?

Ahh..

Rasanya otaknya menemukan penjelasan yang cukup logis...

"Oz... ," bisik gadis itu

Air mata kembali bergulir di pipinya, dan dalam sekejap dunianya menggelap...

"Sharon!, " dengan sigap Vincent Nightray menangkap gadis itu sebelum ia ambruk ke lantai.

"Baringkan dia Vince, tampaknya dia masih shok, " kata Gilbert.

Vincent membaringkan Sharon, lalu menatap wajah gadis itu.

"Maafkan aku..., " dan pikiran pemuda itu pun melayang ke 1 tahun yang lalu...


Vincent's POV

Aku benci pesta, pesta selalu identik dengan kerumunan orang-orang bodoh yang berlagak pintar, terutama kaum pria yang mencoba mencari keuntungan dibalik tawa dan wine yang mereka tegak...

Hal yang sama juga berlaku bagi para wanita yang berdandan seperti badut parade, yang membedakan hanyalah mereka tidak membuat orang tertawa, melainkan mereka menggoda setiap pria yang ada, mencari mangsa, lalu membiarkan para pria itu terperangkap riasan wajah mereka sebelum mereka menggunakan para pria seperti boneka sekali pakai... Cih...

Namun kali ini aku mendapati diriku berada di pesta lainnya, dengan harapan pesta ini akan berlangsung lebih hidup dibanding pesta-pesta lainnya...

Dan benar saja, aku menemukan sesuatu yang unik dan tidak biasa ada di pesta ini...

Gadis itu...

Gadis dengan rambut pirang dan senyum seperti seorang malaikat...

Ahhh, siapa namanya?

Nah , sekarang dia berjalan kemari, apa yang harus aku lakukan?

"Halo , " gadis itu menyapaku dengan senyumnya.

"Halo, ini kali pertama kita berjumpa bukan?, " tanyaku sambil turut tersenyum.

"Ya, kenalkan, namaku Sharon Rainsword, " kata gadis itu sambil mengulurkan tangan.

Oh... Namanya Sharon...

"Namaku Vincent, Vincent Nigthray, " kataku sambil menjabat tangan gadis itu...

Nah, sekarang kenapa aku merasa ada sesuatu yang hangat menyebar di tubuhku?

"Nightray? Apa kau adiknya Gilbert?," tanya gadis itu

Ehh?

"Kau mengenal kakakku?, " tanyaku bingung

"Ya, aku mengenalnya, Vince, " kata Gilbert yang mendadak muncul di sampingku

Gilbert! Kenapa ia tidak pernah menyebut nama gadis ini sebelumnya?!.

"Oh, jadi ini adikmu?, " tanya Sharon

Gilbert hanya mengangguk, dan mereka pun mulai berbincang-bincang, sementara aku hanya menjadi penonton, hah... Hebat sekali...

Tapi tidak apa-apa, setidaknya ada banyak hal yang bisa aku ketahui, seperti kenyataan bahwa Gilbert adalah dokter keluarga Rainsword (well, aku tahu dia itu dokter, tapi di keluarga Rainsword? Hei, itu berita baru!), dan pesta kali ini diadakan untuk memperkenalkan Alice Bakersvile yang baru saja ditemukan beberapa bulan lalu, sekaligus perayaan 70 tahun berdirinya Blackwood Mansion dan...

"Kau akan tinggal di sini dengan Alice, Break dan Oz?, " tanyaku tidak percaya.

Gadis itu tampak terkejut, seolah baru teringat bahwa aku juga berada di antara dia dan kakakku selama mereka berbincang.

"Ya, Oz adalah teman masa kecilku, dan Alice serta Break merupakan kenalan jauh ibuku, " jelas Sharon.

Oz?

Kenapa rasanya nama itu menggangguku?

"Ahh... Aku harus pergi sekarang, lain kali kita berbincang lagi ya, " kata gadis itu sambil membungkuk pelan, lalu berlalu...

"Dia sangat dekat dengan Oz, " kata Gilbert saat melihatku menatapi kepergian Sharon.

"Lalu apa hubungannya denganku?, " tanyaku sambil menatapnya.

Namun Gil tidak menjawab, ia hanya menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Oz...

Ya, aku kini tahu kenapa pemuda itu menggangguku...

Ternyata ucapan Gil benar!

Hubungannya dengan Sharon sangatlah dekat! Bahkan mereka terlihat seperti sepasang kekasih!

Kemanapun Sharon pergi, disitu Oz ada...

Tapi rasanya hati ini tidak ingin menyerah...

Tidak...

Aku ingin mendapatkan cinta gadis itu...

Hingga tanpa kusadari, mataku terus mengekor gadis itu, bahkan saat ia berlari menembus kerumunan orang sambil menangis...

"Sharon...," panggilku saat ia menabrakku.

Ia menggumamkan permintaan maaf sebelum hendak berlalu, tapi aku menangkap tangannya, lalu memeluk bahunya dan menuntunnya ke beranda yang sepi...

Di sana, di balik pilar dan hingar bingar pesta, ia mencurahkan seluruh kesedihannya, membiarkan aku memeluknya, dan menemaninya.

"Terima kasih, " kata gadis itu setelah ia merasa lebih tenang.

Aku hanya tersenyum.

Keheningan menyelimuti kami, sementara dari dalam ruangan terdengar para pemain biola memainkan lagu dansa...

"Apa kau bisa berdansa?, " tanyaku tanpa bisa kucegah.

Gadis itu mengangguk, tatapannya terlihat bingung.

Yah, mau apa lagi, aku sudah memulainya, aku juga yang harus mengakhirinya...

Aku berdiri lalu membungkuk sambil mengulurkan tangan, "apa kau mau berdansa denganku?"

Saat itu, aku berani bersumpah, walau cahaya yang menerangi kami tidak banyak, tetapi aku bisa melihat pipinya merona sebelum ia mengangguk dan menerima uluran tanganku.


Semenjak kejadian itu, kami sering bertukar surat, dan sesekali aku bertemu dengannya di restoran untuk makan siang.

Suatu siang, saat kami tengah menyantap santapan siang di sebuah restoran...

"Vince, apa kau mempunyai kekasih?, " tanyanya

Saat itu, aku hampir tersedak wine yang aku minum, tetapi aku berhasil mengendalikan diri dan menjawab, "Tidak..."

Gadis di hadapanku hanya mengangguk pelan, tatapannya muram dan ia kembali menatap makannya.

"Bagaimana denganmu?, " tanyaku pelan

Entah mengapa perasaanku mengatakan bahwa pembicaraan ini akan berakhir pada satu orang...

"Entahlah, " jawab gadis itu, ia tampak tidak nyaman dengan pembicaraan ini.

"Bagaimana dengan teman masa kecilmu itu? Kupikir kalian..."

"Tidak, kami tidak seperti itu!, " potong Sharon dengan nada panik.

Sejenak waktu seolah berhenti, lalu wajah gadis itu memerah, ia kembali menatap makanannya.

"Apa ada yang mengganggumu?, " tanyaku

Sharon hanya diam, ia menggigit bibir bawahnya, sebuah kebiasaan (yang baru-baru ini kuketahui) saat ia merasa gelisah.

"Bisakah kita berbicara di tempat lain?, " tanya gadis itu.

Aku mengangguk pelan, dan ketegangan di wajahnya pun kian mencair...


Jam saku perak yang Gilbert berikan padaku menunjukkan pukul 7 malam, biasanya aku akan duduk di samping perapian sambil membaca buku atau bermain catur dengan Zwei, tapi kali ini aku tidak sedang bersama Zwei ataupun membaca buku, bahkan aku masih ada di luar rumah.

Ini karna sekarang aku berada di sebuah bar pribadi (ini adalah jenis bar yang menyediakan ruangan khusus untuk kau minum bila kau menginginkan lebih banyak ruang pribadi) di dekat rumahku, dengan Sharon yang tampak setengah mabuk.

"Dia berkata seperti itu Vince, dia menagih jawabanku!, " kata gadis itu sambil menutup wajahnya.

Aku hanya bisa menghela nafas, lalu menegak wine di gelasku sendiri.

Oz, pemuda itu tampak menginginkan kejelasan dari hubungan mereka, bahwa mereka bukan hanya sekedar teman masa kecil yang kemudian menghilang di telan zaman, melainkan mereka memiliki ikatan lain, ikatan yang lebih...

"Jadi apa yang kau katakan padanya?, " tanyaku dengan sedikit was-was.

Sharon menatapku dengan tatapan mengantuk, lalu menjawab, "Aku tidak tahu".

Keheningan menyelimuti ruangan kami, Sharon baru saja akan menegak isi gelasnya lagi saat tanganku meraih gelas itu dari tangannya, "Jangan minum lagi"

Sharon seperti akan memprotes, namun yang terjadi adalah ia nyaris menumpahkan wine yang kuambil darinya.

"Kemarikan Vince"

"Tidak, kau sudah hampir mabuk"

Bibir gadis itu menekuk, ia menyipitkan matanya.

Hhh... Kurasa ia tidak akan menyerah...

HUP

Ia kembali mencoba mengambil gelas dari tanganku, untungnya aku lebih sigap, dan kemudian dengan bodohnya aku meneguk isi gelas gadis itu.

"Ahhh... , " gadis itu tampak kecewa, ia kembali duduk dengan pandangan menerawang.

Aku menggelengkan kepala, itu adalah pertama kalinya aku menegak wine sebanyak itu dalam satu tegukan, dan mendadak wajah Gilbert yang kesal muncul di hadapanku.

"Kau tidak boleh banyak minum wine Vince, kau bisa menjadi orang lain jika minum terlalu banyak"

Ups...

Menjadi orang lain?

Akankah aku menjadi orang lain?

"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?, " tanyaku dengan suara gemetar

Astaga, kenapa rasanya pandanganku terasa memburam?

"Aku tidak tahu, " sahut gadis itu sambil menuduk menatap lantai.

"Bukankah kau mencintai pemuda itu? Katakan saja yang sebenarnya"

Entah kenapa aku merasa kesal kepada diriku sendiri...

Kenapa aku meminta gadis itu menyatakan perasaannya kepada pemuda itu? Bukankah akan lebih baik jika ia bersama denganku?

Gadis itu menggeleng, ia berdiri dengan cepat, dan gerakan itu membuatnya agak limbung.

Akupun turut berdiri, dan itu merupakan keputusan yang bodoh, karna aku pun turut limbung dan menarik tangannya lalu kami pun terjatuh ke lantai.

Suara tawa Sharon memenuhi kepalaku saat ia terbaring di sampingku, dan entah kenapa aku pun turut tertawa dengannya.

"Jadi, kalau bukan pemuda itu yang kau cintai? Lalu siapa yang kau cintai?, " tanyaku saat aku duduk bersender kepada dinding.

Gadis itu duduk di hadapanku, matanya tampak tidak fokus.

"Siapa yang kucintai?"

Ia menarik kerah kemejaku dengan pelan, namun cukup kuat untuk membuat jarak diantara kami menyempit.

"Yang kucintai adalah..."

Wangi peach dan wine memenuhi penciumanku, membuat kepalaku terasa melayang, aku tidak bisa berfikir dan terus mempersempit jarak diantara kami...

"Kau, Vincent Nightray..."

Saat itulah rasanya seperti ada batu bata yang dijatuhkan di atas kepalaku, membuat pikiranku kembali fokus.

Sharon mencintaiku? Ia benar-benar mencintaiku?!

Lalu pikiran-pikiran itu menghilang saat kusadari gadis itu telah tertidur di pundakku.

Aku mengelus kepalanya pelan, menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya, menatap wajahnya lekat-lekat sebelum mencium pipinya.

"Aku juga mencintaimu, Sharon"


Setelah kejadian di bar itu, hubungan kami semakin baik, dan ia tidak lagi menyebut-nyebut Oz atau mungkin bisa dibilang ia tidak ingin membahasnya.

Tapi satu hal yang kudengar dari Echo (yang merupakan saudari kembar Zwei, ia bekerja di Blackwood Mansion), Oz menjadi pemurung.

Itu bisa berarti dua, Sharon menolaknya, atau Sharon mengabaikannya.

Tapi kurasa Sharon mengabaikannya, karna sesekali saat aku dan Sharon tengah berbincang-bincang di kebun, aku bisa menangkap bayangan pemuda itu di balik rerumputan, jelas ia masih sangat perduli dengan Sharon.

Tapi Sharon bukan miliknya, ia milikku dan aku tidak berniat melepaskan ataupun membuatnya pergi meninggalkanku seperti Oz membuatnya melakukan hal itu...


Sharon's POV

Pada akhirnya aku memilih Vincent, namun tidak mempergunakan kesempatan yang Oz berikan...

Lalu kehidupan yang baru pun dimulai...

Kehidupan tanpa Oz, kehidupan dengan Vince yang dipenuhi dengan hal-hal baru yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya...

Kehidupan yang didasari dengan sebuah janji bahwa ia tidak akan pergi, ia akan selalu berada disisiku...

Kehidupan yang kemudian hancur karna janji itu dihancurkan dengan sebuah penghianatan...

Vincent Nighray...

Setelah 9 bulan aku dan dia melalui hari-hari bahagia, ia membuka tangannya, dan memeluk wanita lain di hadapanku...


Vincent's POV

"Vince, ia akan baik-baik saja, " kata Gilbert dari ujung ruangan.

"Tapi ia tak kunjung sadarkan diri!, " protesku.

Saat ini kami berada di kamar Sharon, kakakku tengah menatap keluar jendela, ke arah hujan yang kini mengguyur bumi, sementara aku duduk di samping gadis itu, menantinya terbangun dan menjelaskan kesalahpahaman yang kubiarkan berlarut-larut hingga hari ini...

"Tapi apa kau yakin kau ingin tetap berada di sisinya saat ia terbangun nanti? Bisa saja ia malah menolakmu dan tetap ingin kembali kepada Oz"

Oz...

Nama itu selalu menggangguku, bahkan saat aku dan Sharon masih bersama...

"Lagi pula kenapa kau menghijinkan Lotti datang hari itu? Kau tahu sendiri bagaimana sifatnya kan?, " tambah Gilbert.

Lotti, ya...

Gadis yang membuat hubunganku dan Sharon berantakan...

Hhh...

Tapi kini Lotti sudah bukan menjadi masalah, ia sudah menemukan sosok penggantiku di dalam diri Fang, dan yang tersisa hanyalah Oz Vessalius...

Hei, Sharon...

Apa kau mau mendengarkan penjelasanku?

Apa kau mengijinkanku menjelaskan semua padamu?

Lalu, jika aku sudah meluruskan semuanya, apa kau akan tetap memilih pemuda itu?

Apa aku akan benar-benar kehilangan dirimu?

Jariku baru saja menyentuh tanganmu, saat kurasakan sesuatu yang tidak beres tengah terjadi...

"Gil! Suhu tubuh Sharon sangat tinggi!, " kataku cepat.

Gilbert langsung muncul di sisi lain ranjang, ia meletakkan tangannya di kening gadis itu, lalu cepat-cepat memanggil pelayan.

"Oz... Oz..., " suaramu terdengar memanggi nama pemuda itu...

Oz Vessaliuz...

Rupanya gadis itu masih memikirkan pemuda itu...

Bahkan disaat ia sakit, saat ia sudah kembali bertemu denganku...

Setelah satu bulan yang ia jalani dengan rasa sakit, dengan pikiran kosong, dengan sepatah dua patah kata yang keluar dari bibirnya saat seseorang mengajaknya berbicara...

Saat akhirnya ia kembali 'hidup' setelah bertemu denganku...

Ia masih saja memilih pemuda itu, pemuda yang kini meninggalkan dirinya.

Tidak...

Tidak...

Tidak bisa dimaafkan...

Tidak bisa dimaafkan...

Oz Vessaliuz!

Akan kupastikan kau menghilang dari pikiran Sharon, akan kupastikan kau tidak akan pernah bisa mengambil gadis itu...

Tidak akan pernah!


Author's POV

Beberapa hari setelah Oz tersadar, pintu kayu yang terdapat di ruangan itu terbuka, menampakkan cahaya redup berwarna keemasan.

Oz berdiri dengan susah payah, lalu berjalan menuju cahaya itu dan mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang tak asing lagi...

Ruangan luas yang tidak memiliki perabot apapun...

"Apa kabar Oz? Bagaimana perasaanmu?, " sapa Isla Yura dengan senyum ganjilnya.

Oz menghela nafas, sejenak ia merasa kesal karna ia harus menghadapi Isla Yura lagi.

"Aku baik-baik saja, " jawab pemuda itu pelan.

Isla Yura menyeringai, "Kalau begitu kau sudah siap dengan ritual selanjutnya bukan?"

Pemuda itu terbelalak menatap Isla Yura, "Apa maksudmu dengan ritual selanjutnya?"

Tubuh pemuda itu menegang, masih teringat jelas di kepalanya bagaimana ritual yang nyaris merenggut nyawanya itu terjadi beberapa hari yang lalu...

Pisau perak di tangannya berkilau tertimpa sinar obor, gadis di hadapanya terbaring dengan mata terpejam dan raut mukanya menunjukkan bahwa ia kesakitan...

Ia mengangkat pisau itu di depan matanya, tepat saat gadis itu membuka matanya...

Gadis itu berbisik pelan, memanggil namanya dengan nada panik, namun pemuda itu mengabaikan gadisi itu dan mengiris pergelangan tangannya sendiri, membiarkan darah meluncur deras menuju sebuah benda spiral yang berujung pada sebuah gelas perak.

Gelas itu mengeluarkan cahaya keemasan, ia membuang pisau bernodakan darah ke lantai, mengabaikan kenyataan bahwa tangannya masih berdarah, meminum cairan di gelas perak itu tanpa meneguknya.

Dengan tatapan sendu ia menatap wajah gadis itu lekat-lekat.

Gadis itu menatap pemuda itu dengan tatapan tidak mengerti, ia duduk dengan dibantu pemuda itu.

Gadis itu baru saja akan mengajukan protes atas tindakan pemuda itu saat pemuda itu menempelkan bibirnya di bibir gadis itu...

"Kau kira semua akan berakhir sampai di situ? Hahaha... Oz, kau ini begitu naif, ingin rasanya aku memakanmu hidup-hidup, " bisik Isla Yura yang kini sudah berdiri di belakang Oz.

Dengan cepat Oz berbalik, dan saat itulah Isla Yura mengayunkan pisau di tangannya.

"Ughh..."

Pisau perak panjang itu kini dinodai cairan merah gelap...

"Nah, sekarang semua sudah beres, kau bisa pergi Oz... Pergi, dan aku akan memastikan jalinan nasibmu telah berubah dimulai sejak kau keluar dari rumah ini..."

Oz berjalan menuju dinding dengan langkah sempoyongan, tubuhnya terasa berat, lukanya terasa perih.

Dan dengan langkah pendek ia berjalan keluar, menyongsong masa depan yang ia pilih...


Terbengong menatap layar...

Akhirnya beres juga TT_TT #guling-guling di lantai...

#d tendang Sharon

Sharon: u knapa sih, tiap beres bikin fic selalu guling-guling?

Author: hobi! eh! Sharon, btw ngapain u deket-deket sama Vincent?! pair u kan Break! (author cemburu)

Sharon: -_-" gimana sih, kan u yg bikin ni chapter jadi slash begini...

Author: iya juga ya... #d kejar massa

nyahaha~~ abaikan perbincangan di atas...

Ja, sebelum author semakin melantur...

Minna, RnR plz?

BANZAI! XD