Saya kembali! ^^7
Terima kasih banyak bagi teman-teman yang telah mendoakan keselamatan saya... karena ketika pesawat sedikit mengguncang saya takut setengah mati... oTL
Sungguh pengalaman di Malaysia tak terlupa!
Seorang teman yang bekerja di Studio Animonsta mengajak saya berkeliling hingga bertemu dengan para dubber animasi Boboiboy, melihat proses kerja mereka dan mendapat spoiler (yang tak bisa saya beritahu siapa-siapa xD) termasuk proses kerja episode 19, 20, dan The Movie ^^
Saya merasa benar-benar kagum melihat etos kerja mereka yang luar biasa. Mereka bahkan tak mempermasalahkan saya berbahasa Malaysia patah-patah... karena ternyata ada beberapa orang Indonesia yang bekerja di situ xD Semoga teman-teman sekalian bisa mengunjungi studio yang menakjubkan ini suatu saat ^^7
Dan kali ini saya update agak panjang, sebagai rasa syukur saya telah kembali dengan selamat berkat doa teman-teman sekalian...
Semoga kalian tak bosan pada fanfic ini. Salam kenal juga untuk pembaca baru ^^7 Semoga kalian suka dan menikmati membaca fanfic ini ^^ Mohon maaf sebesarnya jika saya tak sanggup membalas review kalian. Tapi saya begitu senang membaca setiap review yang kalian berikan... memberi semangat dan inspirasi saya dalam menulis fanfic ^^
Sayang saya tak bisa memberikan kontak pribadi saya secara bebas di sini. Tapi saya akan senang mengenal kalian via FB (asal FB sendiri ya xD Jangan punya ortu ato sodara xD), DENGAN SYARAT: kirim private message kepada saya dahulu untuk memperkenalkan diri kalian.
Dan SELAMAT kepada shirokuro 00, Charllotte-chan, dan pikaa-fanny yang sudah mendapatkan kesempatan free request FangBoy sebelumnya ^^ Sudah saya upload dalam instagram ^^7
Akhir kata, selamat menikmati fanfic ini ^^
White Rose Angel
Fang mengikuti Nenek Foglia keluar dari gerbang yang akhirnya kembali menutup dan dirambati akar membentuk batang pohon raksasa seperti semula. Sang werewolf bergegas menemui gadis pujaannya yang masih duduk tenang di atas jamur raksasa. Hanya saja, kini ada beberapa peri terbang menemani bahkan mengenakan mahkota bunga pada kepala gadis yang masih tak sadarkan diri itu. Beberapa ekor kelinci, rubah, beberapa penghuni hutan lain, serta seekor rusa dengan tanduknya yang bagai mahkota penuh keagungan tengah duduk menemani di samping jamur raksasa, singgasana sang gadis. Di pangkuannya ada beberapa ekor tupai melingkarkan ekor mereka nyaman. Fang tersenyum geli melihatnya. Bagaikan seorang putri hutan yang mungil.
Berjalan dengan perlahan tanpa ingin menakuti para hewan di samping sang tuan putri, Fang kini berlutut di samping gadisnya. Dari sosoknya yang mungil, siapa yang tahu begitu besar dan kuat hatinya. Begitu murni dan suci doa yang dipanjatkannya. Malaikat mungil berbaju pelayan dengan hati yang begitu cantik. Werewolf muda yang tak bergerak dari posisinya mengelus lembut pipi gadis yang begitu dicintai dan disayanginya sejak pertama kali mereka bertemu.
Gadis pemberani yang rela melompat ke tengah jalan nyaris tertabrak truk karena mendengar lengkingan seekor serigala kecil yang ketakutan.
Gadis yang menyimpan kesedihan luar biasa di balik senyumannya yang hangat. Gadis yang begitu dicintai dan disayangi siapapun yang mengenalnya. Gadis yang membuat siapapun begitu ingin melindunginya. Gadis yang telah membuat sebuah keluarga terkemuka di dunia para halfter begitu jatuh hati padanya. Bahkan seorang nenek tua yang begitu dikenal di dunia penuh keajaiban bagai mimpi, tak bisa memalingkan diri dari gadis yang terus berdoa dan bersambut dengan sebuah bunga yang ia tolong bertahun-tahun yang lalu.
Nenek Foglia mengetukkan tongkat pada batang pohon tempatnya berpijak, "Panggillah namanya... ia akan kembali pada kesadarannya..."
"Boboiboy…," suara Fang yang memanggil perlahan menyadarkan diri gadis tersebut. Ia mengerjap-ngerjap beberapa kali dan menengadahkan wajah menemui sorotan tajam namun lembut milik pangerannya. "Fa, Fang…? Apa yang…?"
Boboiboy melihat nenek tua baik hati yang telah memberikan mawar putih tengah tersenyum hangat padanya sambil berdiri di belakang Fang, "Ah, nenek… A, anda…"
Dan kini gadis itu baru menyadari ia tengah duduk pada sebuah jamur raksasa dan dikelilingi hewan serta peri… di sebuah tempat yang asing, "Ini… di mana?"
Perlahan Boboiboy bangkit dengan hati-hati agar para tupai di pangkuannya tak jatuh. Justru mereka berlompatan menuju bahu dan kepala bermahkotakan bunga gadis berambut hitam pendek tersebut, "Oh, kenapa… A, apa ini…?"
Gadis polos tersebut semakin bingung menyentuh mahkota bunga di kepalanya dan mendapati beberapa peri terbang mengelilingi serta hewan-hewan yang duduk di sekitar jamur raksasa bangkunya.
Sang nenek tua terkekeh, "Para hewan ini pasti terpanggil karena aroma tubuhmu yang lembut dan aura damai yang kau pancarkan, sayang…"
Boboiboy semakin bingung tak mengerti. Wajahnya merona malu, gugup dan canggung berhadapan dengan seorang tua, terutama karena sebuah mahkota bunga di kepalanya tengah menghias entah dari mana.
Sang nenek berjalan mendekati gadis pengantin sang werewolf. Ia tersenyum ramah sambil membetulkan letak mahkota bunga di kepala Boboiboy agar menghias kepalanya dengan manis, tak ada keinginan membantu gadis itu melepasnya. Tentu saja maid mungil tersebut semakin tersipu.
"Kau memiliki kekuatan yang luar biasa, anakku… Namun kau belum bisa mengendalikannya… Berhati-hatilah menggunakannya…"
Fang terdiam mendengarkan pesan Nenek Foglia pada Boboiboy, "Apa itu akan menimbulkan efek negatif pada Boboiboy selain menjadi lemas…?"
"Tidak, Tuan Muda Fang… Hanya menjadi lemas karena mengeluarkan energi yang berlebih bisa diobati dengan cara berada di dekat bunga mawar putih saja sudah cukup… Tapi saat ini ada yang terjadi dalam dirimu yang telah disembuhkan oleh gadis ini…"
Boboiboy terkejut setengah mati. Ia bergetar hebat begitu mendengarnya. Kaki-kakinya lemas berlutut dan menggenggam jubah sang nenek dengan kuat, "Apa yang terjadi!? Apa yang akan terjadi pada Fang!? Kumohon… Apakah akan terjadi hal yang buruk!?"
Nenek Foglia menepuk pundak gadis di hadapannya sambil tersenyum, "Tidak, sayang... bukan hal buruk ataupun luka yang kumaksud... Tapi kau telah mengobati sebuah 'keresahan' dalam hati Fang... rasa damai yang kau berikan melalui kekuatan penyembuhmu itu juga bisa menyembuhkan luka batin... Sungguh doamu begitu murni sehingga kekuatanmu bisa mendamaikan siapapun..."
Boboiboy berdiri seiring Nenek Foglia menyentuh dagu sang gadis dan membantunya berdiri. Betapa lega maid berhati malaikat tersebut mendengarnya.
"Kekuatan yang kau pakai untuk menyembuhkan Fang kemarin sungguh besar hingga akhirnya kau tak sadarkan diri... Namun dengan besarnya kekuatan yang kau berikan pada Fang, ia kini memiliki energi yang lebih besar dari sebelumnya..."
Fang menaikkan alisnya terkejut, "Pantas saja...! Aku merasa tak lelah sama sekali meski kurang tidur...! Wow, ini keren...!"
Nenek Foglia mengelus pipi gadis mungil yang masih kebingungan menyerap apa yang dijelaskan sang nenek.
"Kau... bukan vampir biasa, sayangku... Vampir biasa tidak memiliki kekuatan penyembuh seperti ini... terlebih, bunga mawar putih yang kau rawat itu begitu menyayangi dirimu sehingga menginginkan dirinya untuk mendampingimu... Kau harus belajar untuk mengendalikan kekuatanmu agar tak berlebihan menggunakannya hingga tak sadarkan diri seperti sebelumnya..."
Boboiboy tak bisa mengeluarkan suara. Ia bingung harus bertanya, menjawab, atau berkata apa-apa. Semua yang dikatakan Nenek Foglia membuatnya merasa kembali menemukan keajaiban yang baru, tapi ia tak tahu apa itu. Hanya senyuman yang membalas kebingungan sang gadis dari seorang tua, "Aku akan meminta dewan para halfter agar kau bersekolah di sekolah Tuan Muda Fang sehingga ada yang membimbingmu..."
Fang nyaris bersorak sorai mendengar saran sang nenek. Tapi sebelum mengangkat tangannya untuk bersorak, ia mengrenyitkan alis melihat Boboiboy menggeleng dengan segera.
"Ta, tak bisa... Maaf, saya tak bisa... Saya harus bekerja di Kastil Keluarga Lang... Saya merasa tak nyaman jika tak melakukan sesuatu untuk keluarga yang begitu baik pada saya... Sungguh saya ingin sekali melayani Keluarga Lang dengan merawat kastil dan memasak untuk mereka..."
Tentu saja Fang kecewa mendengar tuturan gadis pujaannya. Tapi ia mengerti sifat Boboiboy yang begitu ingin menolong dan amat sangat lembut. Ia hanya diam saja sambil menggigit bibir, ragu ingin membujuknya.
Sang tua kembali tersenyum sambil mengelus kepala Boboiboy, "Aku tak akan memaksamu... tapi kumohon, pikirkan kembali saranku agar kau dibimbing untuk bisa mengendalikan kekuatanmu, sayang..."
Boboiboy hanya diam menunduk. Diikuti Fang yang hanya menatap gadis kesayangannya dalam bisu, penuh rasa kecewa di hati.
Tak lama, kedua insan tersebut berpamitan untuk kembali ke rumah meninggalkan Nenek Foglia di tengah hutan bersama para penghuni hutan lain. Boboiboy mengenakan mahkota bunga yang ada di kepalanya pada tanduk rusa yang telah menemaninya. Ia memberikan pelukan dan ciuman hangat pada kening rusa jantan yang penuh dengan keanggunan menundukkan kepalanya memberi hormat pada gadis setengah vampir.
Fang kembali mengubah wujudnya menjadi serigala membiarkan Boboiboy duduk di punggung, sambil menceritakan kisah di balik mawar putih yang telah diselamatkan Boboiboy bertahun-tahun yang lalu selama perjalanan kembali. Betapa terkejutnya gadis tersebut. Ia bahkan sudah melupakan kejadian yang kini kembali teringat karena Fang yang menceritakannya dengan detail. Selama perjalanan, gadis berambut hitam pendek yang duduk di atas serigala jejadian tersebut hanya diam mendengarkan. Tak berkomentar, bertanya, ataupun menjawab apa-apa. Fang yang tak mendengar suara kekasihnya sedikitpun mulai khawatir.
Keduanya kembali memasuki toko bunga yang telah membawa mereka ke dalam hutan melalui pintu misterius yang bersembunyi di antara akar rambat pada tembok. Bel berdenting kecil begitu pintu toko terbuka dan tertutup kembali. Setelah berjalan beberapa langkah dari pintu, Boboiboy mengeratkan mantelnya sebelum melangkah lebih jauh meninggalkan toko bunga yang sepi. Fang hanya bisa diam berdiri di samping gadis tersebut.
"Boboiboy... apa kau... mau pulang saja dulu...? Kita bisa berbelanja besok..."
Yang ditanya menggeleng kecil sambil tersenyum hangat. Kedua tangan lembut mengelus dan memeluk kepala serigala jejadian yang menemukan dirinya begitu menikmati pelukan hangat sang gadis.
"Kalau aku tak belanja sekarang nanti tak akan ada yang bisa kumasak... Maaf membuatmu khawatir, Fang... tapi aku tak apa-apa..."
Fang merasa dirinya begitu mudah dibaca seperti buku bergambar. Boboiboy tahu, werewolf tersebut sangat mengkhawatirkan dirinya. Sang pemuda serigala terus terdiam dalam pelukan gadis mungil pujaannya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengeluarkan apa yang ada dalam isi hatinya.
"Boboiboy... kumohon, lakukan apa yang disarankan Nenek Foglia... Aku akan merasa tenang jika ada yang membimbingmu menggunakan kekuatan... Aku... sangat khawatir begitu kau pingsan setelah menyembuhkanku... Aku takut sekali..."
Kata-kata dengan nada yang bergetar membuat Boboiboy semakin ragu. Ia merenggangkan pelukannya sambil membiarkan dahi keduanya tetap bersentuhan. Sorot mata tajam seekor serigala diselimuti kelembutan dan kekhawatiran yang begitu jujur terpancar dari bola mata Fang.
"Ta, tapi, Fang... Aku..."
Fang membenamkan kepalanya kembali dalam pelukan Boboiboy, "Kumohon... Kau tak perlu setiap harinya membersihkan kastil, bukan? Kau tak harus memasak setiap saat untuk kami... Kau tak perlu melayani dan menaruh statusmu sebagai pembantu di kastil... Aku tak menyukai itu..."
Tentu saja diamnya Boboiboy membuat Fang berharap gadis itu memikirkan kembali keputusan yang dibuatnya menolak saran Nenek Foglia. Hanya sebuah elusan lembut pada leher Fang yang membalas sebagai jawaban tak terucap dari gadis tersebut.
Pemuda berwujud serigala yang kini menghela napas tak ingin membuat hati kekasihnya gundah dan terus menerus galau. Fang menjilat sedikit pipi Boboiboy dan tersenyum padanya, "Sudahlah... jangan dipikirkan sekarang... Bagaimana kalau berpikir apa menu makan malam nanti yang bisa membuat perutku kenyang dalam kelezatan masakanmu...?"
Boboiboy kembali tersenyum dan mengangguk. Senyuman di wajah Fang menjadi permulaan sebelum keduanya melangkah menuju pasar di tengah desa.
"Selamat pagi, Boboiboy..."
"Selamat pagi, Boboiboy! Ah, kau bersama Fall kali ini...!"
"Hai, Boboiboy...!"
"Selamat pagi...!"
Sapaan hangat dan senyuman dari para penduduk mengiringi perjalanan Boboiboy dan Fang. Betapa kagumnya serigala jejadian itu melihat gadis berbaju maid yang kini telah banyak dikenal dan mengenal nyaris semua orang di desa. Kelembutan hati dan keramahan Boboiboy membuat semua orang begitu menyayanginya dalam waktu singkat. Fang mulai berpikir, apakah ada hubungannya dengan mawar putih yang 'mendampingi' Boboiboy...
Tapi Fang sendiri menyadari, sejak pertama kali keduanya bertemu Boboiboy memang memiliki aroma khas dari tubuhnya. Wangi mawar putih yang mendamaikan jiwa siapapun. Bagi serigala jejadian dengan penciuman yang tajam, Fang bisa membedakan aroma dari orang-orang. Dan wangi tubuh Boboiboy begitu menenangkan hatinya.
Sejak Boboiboy mendapatkan mawar putih dari Nenek Foglia serta memakannya setiap hari, gadis itu bagai bisa memberikan aura penuh rasa damai pada siapapun yang berada di dekatnya. Fang kembali mengingat bagaimana hewan-hewan di sekitar kastil rajin sekali menyapa sang gadis dan berada di sampingnya. Dan setelah Boboiboy mengkonsumsi mawar tersebut, ia seakan bisa berkomunikasi dengan mudahnya pada hewan-hewan serta para peri.
"Apa orang-orang yang mengenal Boboiboy juga merasakan apa yang kurasakan karena menghirup wangi tubuhnya, ya...?"
"Merasakan apa...?"
Fang terkesiap mendengar pertanyaan tiba-tiba dari gadis yang menyadari bahwa ia melamun sedari tadi, "Ah, ng...! Ti, tidak...! Oh, kita sudah sampai...! Ayo, Boboiboy! Kau akan beli daging, kan? Ya, kan? Kan?"
Fang berlompatan girang melihat tukang daging di sebelah gadis kesayangannya berdiri. Tentu saja pria dengan pisau besar di tangan yang sedang melayani pembeli mungilnya tersenyum geli melihat serigala jejadian berlompatan girang menunggu Boboiboy memasukkan daging pesanannya ke dalam keranjang belanja. Boboiboy tertawa melihat Fang yang mengibaskan ekor tak henti sambil menghirup wangi daging segar. Bahkan ia enggan pergi dari situ hingga harus diseret Boboiboy sambil mengeluh ingin meminta sepotong kecil daging untuk camilan, seperti seorang bocah yang merengek meminta permen pada ibunya. Malang bagi gadis bertubuh mungil, tubuh Fang terlalu besar dan berat ia tarik menjauh dari toko daging. Boboiboy menyerah, ia membelikan Fang sepotong kecil yang akhirnya diberikan gratis oleh tukang daging sambil tertawa melihat kedua insan yang telah menghiburnya.
Pemandangan indah nan damai desa dengan orang-orang yang sibuk menyambut pagi tak pernah membuat penduduknya bosan ataupun jenuh dengan kegiatan mereka. Terutama gadis berbalut seragam maid dan mantel merah maroon yang tak pernah absen dari senyuman hangatnya, menikmati dunia yang begitu ia sayangi.
Makhluk-makhluk yang jelas tak berwujud manusia berjalan-jalan saling menyapa. Seorang penyihir tengah membersihkan toko sihirnya dari debu, dibantu oleh seekor burung hantu. Dengan telinga lancip yang khas, para elf menikmati waktu mereka berbincang dengan manusia lain. Para dwarf saling membantu mengangkut bahan tambang dari gerobak.
Jauh di atas ujung jalan menanjak, sebuah gerobak terikat pada tembok diisi tumpukan jerami. Tak ada yang menyadari bahwa tali yang telah rapuh tersebut mulai tak kuat menahan beban berat gerobak.
Sementara di ujung jalan bawah sana, seorang anak tengah berdagang bunga sambil memeluk sekeranjang penuh bunga-bunga indah bermekaran. Boboiboy senang melihatnya, lain dengan Fang yang asyik mengunyah tulang di moncongnya, sisa dari camilan yang ia dapat dari tukang daging tadi. Gadis berkepang dua dengan tudung di atasnya mendekati Boboiboy sambil memberikan bunga dari keranjangnya. Tentu saja gadis berbusana pelayan tersebut sedikit kaget menerima bunga yang indah dari pedagang bunga yang turut memberikan senyuman hangat padanya.
"Ah, te, terima kasih... Berapa harganya...?"
Gadis penjual bunga hanya menggeleng tanpa menghilangkan senyuman di bibir, sembari menggerakkan tangan dan jemarinya, "Tak... uha... u... mu..."
Kalimat tak jelas yang dikeluarkan gadis tersebut menyadari Boboiboy, ia tak bisa mendengar sama sekali dengan telinganya. Boboiboy memberikan senyuman sambil menggenggam bunga indah di tangannya. Dari kantong belanja, ia mengambil sekantong kue yang baru ia beli untuk Elizabeth nanti.
Gadis tuna rungu penjual bunga sedikit kebingungan menerima sekantong kue kering di tangannya dari Boboiboy yang mendekatkan sedikit tubuhnya sehingga gadis di hadapannya dapat membaca bibir dengan jelas, "Bunga ini sangat indah, terima kasih... Aku ingin memberikan ini padamu sebagai rasa terima kasihku..."
Senyuman hangat kembali menghias bibir gadis berkepang. Ia melambaikan tangannya pada Boboiboy dan Fang yang mulai berjalan meninggalkan pasar.
Putusnya tali yang menahan beban berat membuat orang-orang menyadari sebuah suara keras berujung menggelindingnya roda-roda gerobak dan tak ada yang bisa menghentikan. Semua orang terkejut melihat gerobak besar berisi tumpukan jerami di atasnya menggelinding menuruni tanjakan dengan cepat.
"AWAAAAAAAAAS!"
Teriakan orang-orang yang melihat peristiwa tersebut membuat para penduduk desa lain di bawah ujung jalan sana menjerit ketakutan. Tak ada yang bisa menghentikan lajunya gerobak besar dan berat tersebut. Para Gollem berusaha lari menyusul untuk menahan gerobak yang melaju di turunan, namun kalah cepat.
Boboiboy tersentak dan membalikkan tubuhnya melihat apa yang terjadi.
Gadis tuna rungu penjual bunga tersebut tak menyadari gerobak besar yang tengah melaju kencang menuju dirinya. Ia tak bisa mendengar suara orang-orang berteriak.
Fang terkejut bukan main begitu Boboiboy tanpa ragu berlari dan melompat melindungi gadis penjual bunga yang panik kebingungan karena ditarik Boboiboy. Bunga-bunga berserakan jatuh dari keranjang. Keduanya tak sempat menghindar...
"BOBOIBOY…!"
Dalam wujud serigalanya, Fang berlari kencang dan melompat. Wujud serigala jejadian langsung berubah menjadi seorang pemuda berkacamata begitu ia menapakkan kaki di hadapan kedua gadis yang tak sempat menghindar tepat pada saatnya.
BRAKKKK!
Jeritan orang-orang terdengar panik.
Boboiboy dan gadis penjual bunga memejamkan mata mereka erat-erat, hingga akhirnya sadar bahwa tubuh mereka sama sekali tak terasa apa-apa... Keduanya selamat.
Begitu membuka mata, Fang yang sedang menahan gerobak dengan kedua tangannya adalah pemandangan yang dilihat Boboiboy pertama kali, "Fa, Fang!"
Tak disangka, dalam tubuh seorang remaja belasan tahun terdapat kekuatan luar biasa yang bisa menahan laju kencang gerobak bermuatan besar. Nampak kayu-kayu gerobak yang ditahan Fang mulai retak dan nyaris patah karena digenggam begitu kuat.
"GHAAAAAHHH!"
Dengan usaha keras, Fang menggulingkan gerobak besar tersebut ke samping dan terjatuh miring mengeluarkan isinya. Jerami yang telah terikat rapi menggelinding dan berserakan.
"Hufff... Kalian tak apa-apa...!?" Fang bergegas mendekati Boboiboy yang masih memeluk gadis tuna rungu penjual bunga. Gadis berkepang tersebut bergetar hebat, ketakutan. Boboiboy mengangguk menjawab Fang dan kemudian menenangkan gadis dalam pelukannya yang mulai menangis panik.
"Ssh... tak apa-apa... semua baik-baik saja..."
"FANG! BOBOIBOY!"
Kedua insan tersebut menoleh mendengar panggilan nama mereka. Fang membulatkan matanya melihat Hao dan Elizabeth berlari dari kerumunan warga desa menuju mereka.
"Ayah...? Ibu...? Oufh! Ke, kenapa kalian di sini…?" Elizabeth memeluk anaknya erat, "Fang... Oh, Tuhan... Kau baik-baik saja...? Aku terbangun dan ingin melihat kondisi Boboiboy tapi kamarnya kosong… Kami tak menemukan kalian di manapun, maka kami mencoba kemari… ternyata benar kalian berada di sini…" Hao menghela napas panjang kemudian meminta para warga untuk membereskan segala kekacauan yang telah terjadi.
Para warga berkerumun bahu membahu membereskan gerobak dan jerami-jerami yang berserakan, tanpa bisa menahan kekaguman mereka melihat Tuan Besar Hao Lang dan istrinya berada di tengah-tengah bersama anaknya yang sudah bertahun-tahun tak mereka lihat. Barulah mereka menyadari bahwa serigala sahabat gadis berbusana maid bernama Fall itu adalah Tuan Muda Fang Lang.
"A, astaga... Tuan Muda Fang... ini pertama kali aku melihatnya sejak ia tak pernah keluar kastil..."
"Sudah sebesar ini rupanya... Ia semakin tampan…"
"Ke, kenapa ia bersama gadis itu...?"
"Siapa Boboiboy sebenarnya...?"
"Kenapa ia bisa begitu dekat dengan Keluarga Lang yang terkemuka ini...?"
Para warga desa semakin keheranan melihat Elizabeth dengan panik yang lebih hebat memeluk erat Boboiboy sambil memeriksa apakah ada luka di tubuh gadis itu, "Sayang! Boboiboy! Kau tak apa-apa!? Oh, astaga... rasanya jantungku berhenti berdetak tadi...! Kau tak apa-apa, sayang!?"
"Sa, saya tak apa-apa...," Mata Boboiboy kembali menatap gadis yang masih ketakutan dalam pelukannya. Perlahan sang pelayan mungil mengelus kepala dan bahu gadis penjual bunga. Tanpa disadari orang-orang bahwa tatapan mata Boboiboy kembali kosong.
Tak lama sebuah sinar putih kebiruan terpancar membuat semua warga terkagum. Wangi mawar putih tersebar ke mana-mana, membuat siapapun yang menghirupnya merasa damai.
Dalam waktu singkat, gadis tuna rungu tersebut merasakan sebuah kedamaian luar biasa seperti apa yang dirasakan orang-orang yang menghirup wangi bunga dari pancaran kekuatan Boboiboy.
Begitu sinar tersebut menghilang perlahan, semua orang kembali dikejutkan oleh gadis berbusana maid yang kini pingsan tak sadarkan diri dalam pelukan Elizabeth. Tentu sang nyonya berteriak panik memanggil nama malaikat kecilnya, "Boboiboy!"
Fang berhambur memeluk gadis pujaannya dari pelukan ibunya sambil memanggil-manggil. Ia menyadari kondisi Boboiboy sama dengan ketika baru menyembuhkan dirinya yang terluka. Kini yang ia butuhkan adalah mawar putih... yang tak ada di situ.
"Bagaimana ini...?" desah Fang panik.
Seorang wanita paruh baya yang pernah ditolong Boboiboy membuat sarapan untuk para pelanggan di kedainya langsung mendekat dan menawarkan kedainya sebagai tempat istirahat sang gadis, "Nyo, Nyonya Elizabeth, Tuan Muda Fang...! Gunakanlah kedai saya untuk gadis ini beristirahat...!"
Fang langsung menggendong Boboiboy dalam pelukannya dan mengikuti wanita tersebut bersama ibunya. Gadis tuna rungu penjual bunga yang kini telah kembali tenang tak ingin jauh dari penolongnya. Ia turut mengikuti bersama para penduduk desa yang lain.
Dalam kedai yang telah dibuat senyaman mungkin untuk gadis setengah vampir berbaring, beberapa warga desa, manusia dan haflter tengah menunggu gadis kesayangan mereka untuk bangun, termasuk gadis penjual bunga yang enggan meninggalkan Boboiboy.
Fang mengelus dahi tunangannya sambil terus menggenggam tangan ramping yang lentik. Suasana dalam kedai begitu hening. Suara air dituang pada mangkuk menjadi satu-satunya suara yang menggema. Ibu pemilik kedai memeras handuk pada air panas dari mangkuk dan membasuh wajah serta leher gadis yang terbaring pada kursi-kursi yang dijejer serta diberi alas bantal agar nyaman.
Sementara di luar kedai, Hao akhirnya memberikan penjelasan siapa sebenarnya Boboiboy pada para warga yang mengenal gadis berbusana maid yang selalu mengunjungi pasar dan menyapa mereka dengan ramah. Tak ada yang menyangka sama sekali bahwa gadis berbusana pelayan tersebut adalah seorang setengah vampir, tunangan dari putra tunggal Keluarga Lang yang terkemuka dalam dunia halfter.
Para petani pemilik gerobak tengah kebingungan melihat tali tebal nan kokoh yang tiba-tiba putus tak sanggup menahan beban. Hao turut memeriksanya dan menemukan kebingungan yang sama. Berbondong-bondong para petani meminta maaf pada Sang Kepala Keluarga Lang, namun Hao hanya menggeleng, "Ini bukan salah kalian… kecelakaan mungkin terjadi, tapi kumohon berhati-hatilah setelah ini… Periksa segala alat-alat kalian…"
"Sungguh, tuan… bukan maksud saya lancang… tapi tali ini baru saja dipintal dengan serat terbaik yang kuat… Oh, sungguh kami minta maaf…"
Para ibu-ibu pemintal turut kebingungan. Mereka panik dan khawatir pada gadis yang rajin menemui mereka setiap berkunjung ke pasar. Sekedar memberi kue-kue buatannya dan menyapa penuh hangat. Bahkan terkadang memberi pijitan pada tangan mereka yang pegal karena terus memintal.
Beberapa ibu-ibu yang mengenal Boboiboy sebagai pelanggan setia mereka di pasar kini memandang khawatir pada Elizabeth yang mondar-mandir cemas.
"Ayolaaaah...! Kenapa lamaaa...! Kumohon...!"
"Nyo, Nyonya Elizabeth... tenanglah dahulu... Setidaknya dokter desa sudah memeriksa keadaan Boboiboy..."
"Tapi... ia sendiri tak dapat mendiagnosa keadaannya... Tentu harus Tabib Besar yang memeriksanya..."
Elizabeth menghela napas. Para ibu pedagang tersebut berusaha menenangkan Nyonya kesayangan mereka dengan mengajaknya duduk sambil menikmati teh di kedai tempat Boboiboy terbaring. Namun sebelum mereka beranjak menuju kedai, seekor burung hantu terbang melayang mendekat dan hinggap di pagar kayu dekat kedai.
Hao dan Elizabeth buru-buru mendekati dan membuka lembaran kertas dari kaki burung tersebut. Sebuah tulisan kaligrafi Cina yang ditulis oleh Tabib Besar membuat Elizabeth langsung menyerahkan lembaran tersebut pada Hao. Pria tersebut membacanya untuk sang istri.
"Kepada Hao dan Elizabeth...
Baru saja saya aku akan berangkat menuju tempat kalian karena panggilan kondisi Boboiboy. Tapi seseorang menghentikanku dan mengatakan ia sendiri yang akan menghampiri kalian...
Gadis itu akan baik-baik saja, percayalah..."
Elizabeth dan Hao saling berpandangan.
Angin kencang disertai dedaunan berterbangan membuat kaget para warga. Sosok nenek berjubah hijau muncul tiba-tiba dari inti angin yang kemudian berhenti membuat semua manusia dan halfter di desa tersebut membungkukkan tubuh mereka dengan hormat pada Sang Nenek Foglia.
Tubuh tua yang bungkuk berjalan mendekat menimbulkan suara derit kayu tua. Hao dan Elizabeth menundukkan kepala mereka sambil membungkuk begitu wanita tua tersebut berdiri di hadapan mereka.
"Aku yang meminta pada tabib agar tak kemari... Biar aku yang merawat gadis ini... Ia akan baik-baik saja..."
Tak ada yang berani membantah kata-kata Sang Nenek Foglia. Orang-orang dan para halfter bahkan kagum entah bagaimana gadis mungil berbusana maid kesayangan mereka bisa mengenal nenek yang amat sangat dihormati di dunia halfter tersebut.
Fang terkejut melihat Nenek Foglia memasuki ruang kedai dan duduk di samping Boboiboy. Dari balik jubah hijau tuanya, setangkai mawar putih tergenggam tangan renta dengan jemari-jemari ranting batang kayu tua yang tersulur akar tumbuhan.
Begitu mawar tersebut diletakkan pada dada sang gadis, pemuda serigala jejadian yang terus duduk di samping bisa melihat gadis pujaannya menghirup dalam-dalam aroma bunga tersebut. Semua orang tersenyum dan menarik napas lega melihat Boboiboy membuka mata perlahan.
"Makanlah bunga itu, nak… Kau akan merasa lebih baik…," Boboiboy agak terkejut melihat orang-orang tengah mengelilinginya dan Nenek Foglia yang berada di samping Fang. Ia mengangguk kecil dan menuruti kata-kata sang tua.
Gadis penjual bunga nampak kaget dan terkagum melihat Boboiboy memakan bunga mawar putih. Tentu saja gadis setengah vampir tersebut menyadari pandangan sahabat barunya. Ia menjelaskan dengan pelan dan berusaha sejelas mungkin pada gadis tuna rungu tersebut bahwa dirinya adalah setengah vampir, dan ia harus memakan bunga karena tak bisa menerima darah dalam tubuh. Gadis berkepang tersebut mengangguk mengerti dan memberikan senyuman hangat, menunjukkan bahwa Boboiboy tak perlu merasa aneh dengan keadaannya itu.
"Inilah yang kukhawatirkan…"
Suara Nenek Foglia mencuri perhatian semua orang yang berada di kedai. Sang tua menghela napas sambil menggenggam tangan mungil Boboiboy.
"Kau belum bisa mengontrol kekuatanmu sehingga setiap kau menggunakannya akan berlebih dan kau jatuh pingsan tak sadarkan diri… Kumohon, sayang… ikutilah saranku untuk bersekolah agar ada yang membimbingmu…"
Fang berganti memandang Boboiboy dengan sorotan memohon penuh harap. Hao dan Elizabeth saling memandang tak mengerti. Sang nenek tua kembali menceritakan kondisi anak asuh kesayangan Keluarga Lang pada sepasang suami istri orang tua Fang. Tentu saja keduanya langsung bersambut setuju pada saran nenek terhormat tersebut.
"Boboiboy… Kau akan kami sekolahkan… Kau tak perlu bekerja begitu keras di kastil… Kami akan baik-baik saja, sayang… Kumohon ikuti saran Nenek Foglia, ya…?"
Boboiboy semakin kebingungan. Ia tak ingin meninggalkan kastil kesayangannya yang ia rawat begitu penuh dengan perhatian. Namun ia juga tak ingin merepotkan siapapun jika terjadi kembali hal yang membuatnya tak sadarkan diri.
"Ta, tapi… biaya sekolah pasti sangat mahal…"
"Astaga! Sayang, kau tak perlu pikirkan itu…! Kalau kau mau kami bisa membangun kastil khusus untukmu…! Biaya sama sekali bukan masalah…!" Elizabeth memeluk erat gadis kesayangannya yang memasang wajah khawatir. Semua orang saling memandang sambil mengangkat alis. Elizabeth BISA SAJA nekat melakukan apa yang ia INGINKAN. Termasuk membangun kastil untuk gadis kesayangannya… tapi tentu saja Boboiboy tak menginginkan itu.
Boboiboy merasa begitu bersalah melihat semua orang mengkhawatirkan dirinya, berkeliling menunggu kesadarannya pulih. Akhirnya ia mengangguk menyetujui saran Nenek Foglia. Fang tak sanggup menahan kebahagiaannya berhambur sambil bersorak sorai memeluk Boboiboy.
"Fang! Apa-apaan kamu!? Boboiboy masih lemas, tahu!?"
"Huh! Ibu sendiri memeluknya terus! Dia' kan tunanganku!"
Perdebatan ibu-anak Keluarga Lang bukan lagi hal baru bagi para warga desa. Bahkan meski telah bertahun-tahun tak melihatnya secara langsung, hal tersebut bukan lagi hal yang mengherankan. Namun para warga yang berada di dalam kedai justru kasihan pada Boboiboy yang panik tak bisa bernapas karena dipeluk Fang dan Elizabeth begitu erat.
Wanita pemilik kedai memeluk gadis kesayangannya penuh kelegaan yang luar biasa mendapati Boboiboy telah sehat kembali. Gadis penjual bunga memberikan seikat bunga yang cantik sebagai tanda terima kasih pada penolongnya. Para ibu-ibu mengelilingi gadis yang ternyata tunangan Tuan Muda Fang mereka dengan bahagia karena akhirnya mereka tahu siapa gadis yang berhati malaikat itu. Boboiboy tersipu mendapat perhatian sedemikian rupa.
Sementara Fang hanya bisa pasrah dikelilingi para warga desa yang amat sangat penasaran padanya karena tak muncul bertahun-tahun lamanya hingga telah tumbuh tinggi rupawan, membuat para gadis manusia serta halfter mengaguminya. Para penggembala, petani, dan pedagang pasar mengingat jelas kenakalan-kenakalan Fang pada waktu masih kecil. Hao dan Elizabeth tak sanggup menahan tawa mereka ketika para warga menceritakannya dengan semangat membuat Fang malu setengah mati, terlebih karena Boboiboy turut mendengar.
Akhirnya kegiatan warga desa kembali normal setelah kejadian penuh kejutan membuat mereka berhenti melakukan aktifitas. Para pedagang begitu senang melihat Boboiboy dalam keadaan sehat dan baik-baik saja sehingga mereka memberikan sedikit dagangan mereka untuk dibawa gadis setengah vampir yang menjadi pahlawan. Tentu saja kini Boboiboy bingung tak bisa menolak segala pemberian tersebut… karena banyak yang memberi sehingga ia kerepotan membawanya.
Elizabeth tersenyum gemas melihat gadis kesayangannya tengah panik dikepung pemberian para pedagang. Bahkan Fang yang telah mengubah dirinya menjadi seekor serigala tak sanggup membawa kesemua pemberian tersebut.
Para petani dan para ibu pemintal tali meminta maaf begitu dalam pada Boboiboy, tapi gadis itu justru memberi mereka senyuman dan aura penuh damai, mensyukuri tak ada yang luka. Ia sama sekali menganggap hal tersebut bukan kesalahan mereka.
Boboiboy berbalik memandang Fang dan menyentuh kedua pipi serigala muda tersebut, "Fang... terima kasih telah melindungi kami..."
Fang tak sanggup menahan hasrat melihat wajah manis tunangannya yang tersipu. Fang tak memperdulikan lagi beban berat barang-barang yang ada di punggungnya langsung menyerbu heboh, mengibaskan ekor, dan memeluk erat sambil berteriak girang mengajak Boboiboy menikah malam itu juga... dan tentu saja sebuah ember kayu besar melayang menghantam kepala sang serigala jejadian. Tanpa ada rasa heran sedikitpun, semua orang tahu Elizabeth-lah pelakunya.
Di dekat gerobak, Hao masih berlutut memeriksa tali yang menjadi pertanyaan semua orang. Putusnya tali begitu wajar, tak ada bekas potongan yang disengaja sama sekali. Sang Kepala Keluarga Lang semakin bingung menghela napas sembari berdiri.
"Aku berhutang maaf pada keluargamu… terutama Boboiboy…"
Hao agak terkejut mendapati Nenek Foglia berdiri di sampingnya tiba-tiba. Ia mengrenyitkan alis mendengar kata-kata sang tua yang memandangi para warga di kejauhan yang masih mengelilingi Boboiboy, membantunya mengikat segala pemberian para pedagang di punggung Fang yang juga kepayahan. Sementara Elizabeth tertawa-tawa lepas melihat anaknya yang nyaris gepeng.
"Apa maksud anda…?"
"Akulah yang memutuskan tali itu dengan bantuan para peri…"
Tentu saja Hao terkejut setengah mati membulatkan matanya. Para peri yang terbang mendekat dan duduk di bahu Nenek Foglia tampak begitu bersalah atas apa yang telah mereka lakukan. Sebelum Hao bertanya, sang tua mendahulukan jawabannya.
"Aku yang meminta para peri ini melakukannya… bahkan harus memaksa, karena mereka tak mau melakukan hal yang membahayakan gadis kesayangan mereka… Aku terpaksa melakukannya, Hao… Agar Boboiboy mengerti akan kondisi dirinya dan mau mendengarkan saranku agar ada yang membimbingnya mengendalikan kekuatan besar yang ada dalam dirinya itu…"
Hao terdiam. Ia kembali memandangi keluarganya dari kejauhan. Sang pria mengerti jelas maksud baik Nenek Foglia meski wanita tua tersebut terpaksa harus nyaris melukai Boboiboy.
"Saya mengerti… Terima kasih telah 'memaksa' gadis itu…," senyuman sang werewolf dibalas senyuman renta dari wajah tua penuh kerut keriput batang kayu.
"Berikan ini pada gadis itu… sebagai permintaan maafku… Aku pamit dulu, Hao Lang…"
Hao membungkukkan tubuhnya sebagai pengantar kepergian Nenek Foglia yang diiringi angin serta dedaunan. Di tangannya, tergenggam sebuah kantong berisi batu-batu hijau berkilauan tak ternilai harganya. Sebuah daun tertoreh tulisan… "Ini untuk uang jajan Boboiboy ketika sekolah nanti…"
Hao tersenyum dan berjalan mendekati keluarganya, menawarkan bantuan pada Fang yang sudah ambruk tertimpa barang-barang pemberian warga. Tentu saja remaja itu mengeluhkan keterlambatan sang ayah menawarkan diri. Gelak tawa mengiringi siang hari yang cerah di sebuah desa mungil kesayangan seorang gadis setengah vampir, yang akhirnya menyadari bahwa dalam dirinya terdapat kekuatan luar biasa tertanam sejak lama ia berdoa…
TBC...
