How Can It Gonna be Worse?

Ino sedikit tersentak oleh suara bangku yang ditarik di sampingnya. Ia mengalihkan perhatiannya dari bekalnya ke arah pemuda berambut merah yang baru saja duduk di sampingnya. Ia sedikit terkekeh melihat manik jade yang menatapnya jengkel.

"Aku bersumpah, Ino?" Gaara menghembuskan nafasnya kesal, melihat gadis di sampingnya terkikik geli. "Sekali lagi kau meninggalkanku, aku akan mengikatmu." Ia meletakkan makan siangnya di samping bekal Ino. "Dan berhentilah tertawa."

"Harusnya kau senang melihat pacarmu bahagia, Gaara-kun~." Ino menyuap bentonya, mengacuhkan Gaara yang menyuap makanannya kesal. "Lagipula kau tidak pernah memintaku untuk menunggumu, kan?"

"Waahh... aku tersanjung, Ino-chan." Gaara mengeluarkan nada datar dari mulutnya. "Akhirnya kau mengakuiku sebagai pacarmu." Bibirnya sedikit tersungging mendengar gadis di sebelahnya tersedak. Ia kemudian melanjutkan ucapannya dengan nada sama. "Sepertinya akan ada badai malam ini."

Ino hanya mendengus sebal. Ia tidak ingin menanggapi perkataan panda merah di sampingnya. Ia tidak ingin memberikan alasan Gaara untuk menggodanya.

"..." Ino menoleh ke arah Gaara. Pemuda itu berdiri kemudian beranjak dari tempatnya. "Kau mau kemana?"

"Aku lupa membeli minuman. Kuucapkan terima kasih padamu." Gaara membalas santai. "Lagipula, kenapa kau peduli?" Ujung bibirnya terangkat melihat wajah kesal Ino. "Tenang saja, girlfriend-chan." Ia menyeringai. "Aku hanya pergi 5 menit. Aku tidak akan membuatmu merindukanku terlalu lama."

"Ya...ya, boyfriend-kun." Ino membuang wajahnya. Ia benar-benar menyesal telah bertanya. "Bisakah kau pergi dan jangan kembali?" Ia dapat mendengar Gaara terkekeh sambil melangkah menjauh dari tempatnya. Baru beberapa langkah pemuda itu berjalan, Ino kembali membuka suaranya. "Oh iya, Gaa-"

"Iya, aku tahu." Gaara memotong ucapan Ino. Ia sudah tahu apa yang akan diucapkan gadis itu. "Jus jeruk, kan?"

*

Bunyi bel pulang menyelamatkan Ino. Ia benar-benar bersyukur jam pelajaran telah berakhir. Mata pelajaran matematika di jam terakhir benar-benar bagai mimpi buruk baginya. Ia kemudian merapikan mejanya.

Ia menatap pemuda berambut merah di sampingnya. Sudah sebulan sejak 'deklarasi' panda itu. Ia mulai merasa terbiasa dengan kehadiran pemuda itu. Ia bahkan kadang merasa bahagia merasakan tatapan iri dari gadis-gadis yang melihatnya bersama Gaara. Mereka bahkan saling memanggil dengan nama depan sekarang. Perkembangan yang benar-benar tidak terduga, kan?

Sudah lebih dari dua minggu Ino tidak pernah bertemu lagi dengan Sasori. Ia telah bertekad menghilangkan perasaannya pada senpai berambut merahnya itu. Bisa dikatakan ia cukup berhasil melakukan hal itu. Salah satu penyebabnya adalah kehadiran Gaara.

Ino menatap Gaara yang tengah merapikan mejanya. Menurutnya, terlepas dari mulut tajam dan kelakuan menyebalkannya, Gaara sebenarnya cukup menarik. Tidak heran banyak gadis di sekolahnya mengidolakan pemuda itu. Ia juga sebenarnya cukup tertarik dengan pemuda itu, saat pertama kali bertemu di tempat karaoke dulu. Hingga akhirnya panda merah itu menc-.

Ino menggeleng cepat. Ia ingin menghilangkan ingatan tentang kejadian itu, saat bibir basah Gaara menempel di bibirnya. Memikirkan hal itu membuat pipinya memerah. Matanya entah sejak kapan terfokus pada bibir pemuda itu.

Ino berdiri lalu meraih tasnya. Ia kemudian mengayunkan tasnya ke arah Gaara. Tasnya sukses mendarat di kepala merah pemuda itu. Matanya kemudian bertemu dengan jade pemuda itu yang menatapnya tajam.

"Oi, darling." Gaara melotot tajam ke arah Ino. Ia dapat melihat wajah gadis itu memerah. "Aku harap kau punya alasan yang bagus atau aku akan melakukan hal yang buruk padamu."

"Aku hanya merasa ingin memukulmu." Ino menjawab santai. "Itu saja." Kekesalannya sedikit menghilang melihat tatapan tidak percaya Gaara. "Kau tidak mungkin marah pada pacarmu, kan."

"Kau tahu," Gaara menghela nafasnya. Tatapannya tajamnya digantikan dengan tatapan menggoda. "Sepertinya aku benar-benar harus mendisiplinkanmu, girlfriend-chan."

"Harusnya aku yang mengatakan itu, Panda-kun." Ino balas menatap Gaara dengan tatapan menantang. "Lagipula, apa yang akan kau lakukan?"

"Hmm..." Gaara mengalihkan pandangannya dari wajah Ino ke arah dada gadis itu. Ia menyeringai melihat sepasang 'benda' milik gadis itu. "Kau penasaran?"

"Matilah, hentai!" Ino mengayunkan tasnya ke arah Gaara, yang sukses dihindari oleh pemuda itu. Ia kemudian berbalik kesal, ingin cepat-cepat menjauh dari panda merah itu. Sebelum ia sempat berjalan, tangan Gaara menarik rambut pirangnya. Ia menoleh kemudian menatap tajam pemuda itu. "Apa?"

"Tunggu aku!" Gaara berdiri kemudian meraih tasnya. "Aku ingin kau pulang bersamaku."

"Eh, kau ingin pulang bersamaku?" Ino menatap bingung ke arah Gaara. Baru kali ini pemuda itu mengajaknya pulang bersama. "Kau ingin pulang bersamaku? Apa aku tidak salah dengar?"

"Tidak." Gaara berjalan ke arah Ino yang kebingungan. "Aku tidak ingin pulang bersamamu." Ia kemudian berhenti di depan gadis itu. "Aku ingin kau pulang bersamaku, Ino."

*

"Ne, Gaara." Ino membuka suaranya, membuat pemuda di sampingnya sedikit menoleh. Ia dapat mendengar gumaman Gaara. "Kau tidak ada kegiatan klub hari ini?"

"He..." Gaara menyeringai. "Sejak kapan kau memperhatikanku, darling?"

"Lupakan pertanyaanku." Ino membuang wajahnya. Ia benar-benar menyesal bertanya pada panda merah itu. Wajahnya merengut mendengar kekehan Gaara. "Aku lupa kalau kau itu panda yang menyebalkan."

"Kalau kau benar-benar penasaran." Gaara membuka suaranya. "Aku bolos dari kegiatan klub." Ia melirik Ino yang saat ini menatapnya. "Aku yakin kapten akan sangat murka padaku. Tapi aku tidak terlalu peduli." Ia menghentikan langkahnya, membuat Ino juga berhenti. Ia dapat melihat tatapan bingung gadis itu. Ia kemudian mendekati gadis itu sambil tersenyum lembut. "Aku ingin sesekali pulang bersama pacarku."

Ino tercekat. Ia dapat merasakan wajahnya memanas. Ia yakin, jantungnya pasti tengah menggila saat ini. Senyum pemuda itu membuatnya benar-benar terbungkam. Baru kali ini ia melihat Gaara tersenyum seperti itu. Ia bahkan sampai menahan nafasnya.

"Tunggu dulu." Ino menyadari sesuatu. "Kau akhirnya mengakuinya, kalau kau ingin pulang bersamaku."

"Aku tidak pernah berkata seperti itu." Senyum Gaara digantikan dengan seringai. Ucapan Ino sebenarnya tidaklah salah. Tapi tidak mungkin mengakuinya, kan. "Kau sepertinya harus memeriksa telingamu ke dokter, darling."

"Maksudmu aku tu-"

"GAARA..."

Ucapan Ino terpotong oleh seorang gadis yang tiba-tiba memeluk Gaara dari belakang. Matanya terbelalak menatap gadis itu. Entah kenapa hatinya terasa panas melihat hal tersebut.

"Temari?" Gaara menoleh ke arah gadis yang memeluknya. Ia menggeliat mencoba melepaskan pelukan Temari. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Oh ayolah, Gaara." Temari mengerucutkan bibirnya setelah melepaskan pelukannya. Gaara telah berbalik menghadapnya. "Apakah kau tidak merindukanku?"

Ino hanya terdiam di tempatnya menatap percakapan dua orang di depannya. Ia meremas tali tasnya. Hal yang paling ia inginkan saat ini adalah pergi dari tempat ini.

Ino memperhatikan gadis yang tengah berbicara dengan Gaara. Rambut pirang gadis itu dikuncir empat. Tubuh gadis itu lebih tinggi beberapa centi darinya. Meskipun ia wanita, Ino mengakui gadis yang bernama Temari itu sangat cantik. Ia merasa sedikit tersisihkan karena hal itu.

Ino mengalihkan perhatiannya ke arah Gaara. Wajah pemuda itu saat ini terlihat kesal. Tapi dibalik itu, Ino dapat melihat wajah bahagia dari pemuda itu.

Ino menggigit bibir bawahnya. Rasa tidak nyaman di dadanya entah kenapa semakin menjadi-jadi. Ia benar-benar harus pergi secepatnya dari tempat ini.

"Harusnya kau memberitahuku kalau kau akan kesini, Temari." Gaara menghela nafas. "Jadi aku bisa punya cukup waktu untuk menjauh darimu."

"Oh ayolah, Gaara." Temari terkekeh mendengar ucapan Gaara. "Kau harusnya bahagia Onee-chan tercintamu repot-repot mengunjungimu, lho."

"E-eh?" Ino secara tak sadar mengeluarkan suaranya, membuat perhatian dua orang di depannya tertuju kepadanya. "Onee-chan?"

"Oh maafkan aku. Aku lupa mengenalkan diri." Temari tersenyum ke arah Ino. "Aku Sabaku Temari...," Senyumnya melebar melihat ekspresi lucu gadis di depannya. "...Kakanya Gaara."

Saat itu juga, Ino ingin mengubur dirinya sendiri.

*

"Oi, Danna." Pintu ruang OSIS terbuka. Sesorang gadis berambut pirang memasuki ruangan itu. "Ayo kita pulang."

"Kau bisa pulang duluan, Deidara." Sasori menjawab tanpa menoleh ke arah Deidara. Ia melirik jam dinding. 15 menit lagi hingga sekolah ditutup. "Masih ada berkas yang harus aku selesaikan."

"Oh ayolah, Danna." Deidara menarik bangku di depan meja Sasori. Ia meletakkan tangannya di atas meja, kemudian memangku kepalanya di atas sana. "Berhentilah mengurung diri gara-gara patah hati." Ia akhirnya mendapat perhatian pemuda di depannya. Ia hanya mengacuhkan tatalan tajam Sasori. "Lagipula kau bisa menyelesaikan itu besok."

"Kau tahu kan, aku tidak suka mengulur-ulur waktu. Apa yang bisa aku selesaikan hari ini, tidak akan kutunggu hingga besok." Sasori menghela nafas, kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti. "Dan siapa bilang aku patah hati?"

"Kalau begitu, kenapa kau tidak menyelesaikan masalahmu dengan gadis itu?" Deidara mengangkat kepalanya, menatap pemuda di depannya. "Apa yang kau tunggu?"

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan Deidara." Sasori mencoba mengacuhkan ucapan Deidara. "Aku tidak pernah punya masalah dengan Yamanaka Ino."

"Jadi gadis itu bernama Yamanaka." Ucapan Deidara sukses membuat Sasori terdiam. Ia menyeringai menatap wajah sahabat berambut merahnya itu. "Kau melukai prinsip yang selalu kau banggakan itu, Danna." Matanya kembali bertemu dengan mata Sasori. "Kau hanya perlu menemuinya, kemudian mengutarakan apa yang ada di kepalamu. Mudah kan."

"Tidak sesimpel itu, Deidara." Sasori melepas pekerjaannya. Ia tidak lagi bisa berkonsentrasi. "Gadis itu sudah mempunyai kekasih. Aku tidak mungkin mengutarakan perasaanku padanya kan." Ia kemudian mendongakkan kepalanya, sambil menutup mata. Hatinya benar-benar berkecamuk saat ini. "Selain itu, aku sudah berjanji padanya untuk tidak mendekatinya lagi. Aku hanya menyakitinya, Deidara. Aku tidak ingin menyakitinya lagi."

"Kau mungkin tidak menyakitinya, Sasori. Kau menyakiti dirimu sendiri." Perkataan Deidara membuat Sasori menatapnya. Deidara tidak pernah memanggil namanya kecuali gadis itu tengah serius. "Oh ayolah. Kemana perginya Sasori yang cerdas itu. Aku hampir tidak mengenalimu, lho."

Sasori hanya terdiam mendengar ucapan sahabat pirangnya itu. Ia ingin menyanggah tiap kata yang diucapkan pemuda itu. Tapi ia tahu, tak satupun dari kata-kata itu yang salah. Ia tidak sebodoh itu untuk tidak menyadarinya.

"Dengar, Danna." Deidara berdiri dari tempatnya. "Kau mungkin mengaggapku berbeda dari gadis pada umumnya. Tapi aku juga mengerti perasaan seorang gadis." Ucapannya membuat Sasori menoleh ke arahnya. "Saat aku mengutarakan perasaanku pada seseorang, aku lebih baik ditolak daripada tidak mendapatkan kepastian.

"Kau mungkin berpikir dengan menjauhinya, kau tidak akan menyakitinya. Itu hanya pemikiran naif, Danna." Deidara tersenyum getir. "Kau sudah menyakitinya lebih dari yang kau bayangkan."

Sasori hanya menunduk. Ia ingin Deidara berhenti membaca dirinya. Ia benar-benar mengerti semua yang diutarakan gadis itu.

"Baiklah. Aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi, Danna." Deidara meraih tasnya. "Jika bukan karena tidak ingin melihatmu terpuruk seperti ini, aku tidak akan melakukan hal merepotkan seperti menceramahi tentang hal merepotkan pada orang yang merepotkan." Ia berbalik lalu berjalan ke arah pintu keluar. "Aku duluan."

"Tunggu, Deidara." Sasori menghentikan Deidara yanf baru saja membuka pintu. Ia kemudian membereskan berkas-berkas yang berserakan di mejanya. "Aku ikut."

Deidara hanya tersenyum menanggapi ucapan, atau lebih tepatnya permintaan sahabat berambut merahnya itu. Ia mengangguk ke arah Sasori lalu keluar dari ruangan itu. Ia menunggu di luar ruangan.

Setelah mengunci ruang OSIS, Sasori dan Deidara berjalan santai keluar dari gedung sekolah. Mereka hanya berbincang tentang perbedaan pendapat mereka terhadap seni. Mereka berdua menghindari topik pembicaraan menyangkut masalah Sasori dan Ino.

"Ne, Danna." Deidara memanggil Sasori, membuat pemuda itu menoleh ke arahnya. "Aku mau mampir ke Akatsuki Caffe. Kau mau ikut?"

Sasori hanya menjawab dengan anggukan. Ia juga ingin menenangkan pikirannya dengan segelas moccachino di sana. Sudah lama ia tidak pergi ke tempat itu.

"Hey, Deidara." Sasori membuka suara setelah beberapa saat terdiam. "Kau benar-benar perhatian padaku. Apa kau yakin kalau kau tidak menyukaiku?"

"Bisakah kau simpan sifat playboymu untuk orang lain, Danna. Itu menjijikkan." Deidara hanya tersenyum lebar ke arah Sasori. Ia senang suasana hati sahabatnya itu telah membaik. "Merasa lebih baik bukan berarti kau bisa merayuku semaumu, sialan. Lagipula kau tahu sendiri kan...," Ia memotong ucapannya. "...Kalau aku tidak tertarik pada laki-laki."

*

Ino duduk dengan grogi di bangkunya. Ia saat ini berada di kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat ia bertemu dengan kakak perempuan Gaara. Temari menyeret ia dan Gaara masuk ke sini.

Ino saat ini duduk du samping Gaara. Di depannya Temari duduk sambil tersenyum ke arahnya. Ia kemudian menyeruput teh hijau yang beberapa saat lalu ia pesan.

"Jadi, Ino-chan." Temari membuka suaranya. "Sudah berapa lama kalian berdua pacaran?"

Ino tesedak munumannya. Ia bahkan hampir menyemburkan teh yang sedang ia minum. Hal itu membuat Temari terkikik geli.

"Selain itu, apa yang kau lihat dari adikku yang menyebalkan itu." Temari menyuap es krim pesanannya. "Bakatnya hanya sebagai laki-laki menyebalkan. Kau yakin tidak salah pilih, Ino-chan?"

"Aku setuju dengan ucapanmu, Sabaku-san." Ino tersenyum lembut ke arah Temari. "Adikmu benar-benar menyebalkan."

"Benar kan." Temari terkikik geli. "Oh iya. Kau boleh memanggilku Temari, Ino-chan." Ia kemudian menyeringai ke arah Gaara. "Kau juga boleh memanggilku Onee-san kalau kau mau."

"Berhentilah membicarakanku seolah-olah aku tidak ada di sini, sialan." Gaara mendengus kesal. Inilah kenapa ia tidak ingin bertemu kakak perempuannya itu. "Dan Temari. Berhentilah mencoba memasukkan orang ke keluarga Sabaku."

"Aku hanya ingin Ino terbiasa sebelum kau membawanya ke rumah, adik kecilku." Temari hanya menyeringai melihat kekalahan di wajah Gaara. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah Ino. "Bukankah begitu, Ino-chan."

Ino menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ucapan Temari membuatnya seolah-olah akan dilamar oleh panda merah di sampingnya. Hal itu membuat debaran di dadanya dua kali lebih cepat.

Entah kenapa, Ino merasa suasana hangat dari dua bersaudara di depannya. Meskipun terlihat berselisih, tapi itulah yang membuat hubungan mereka menjadi akrab. Ino tidak pernah merasakan hal itu karena ia adalah anak tunggal. Hal itu membuat ia merasa sedikit iri.

Ino mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Ia menatap kagum pada arsitektur kafe yang sedang ia tempati itu. Ia tidak sempat memperhatikannya saat pertama ia masuk tadi. Hingga akhirnya ia menatap seseorang yang sangat familiar, seorang pemuda berambut merah yang baru saja memasuki kafe tersebut.

"Hey Sasori."

Temari sedikit berteriak ke arah Sasori. Ia rupanya menyadari keberadaan pemuda itu. Hal itu membuat Ino tersentak. Ia tahu Gaara kenal dengan Sasori, tapi ia tidak pernah menduga Temari juga kenal dengan pemuda itu.

Ino sebenarnyabingin segera menyembunyikan wajahnya. Tapi entah kenapa, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Sasori. Hingga akhirnya aquamarinenya bertemu dengan tatapan terkejut hezelnut pemuda itu.

'Aku yakin ini akan menjadi hari yang buruk', batin Ino.

TBC

Mind to RnR??