.

Kaichou wa Ojou-sama

Chapter 7 : Durandal Bestrayer

Disclaimer : Yang pasti bukan punya saya

Author : ini baru saya~ Anggarda sang EL23

Rating : T

Pair : Sona X Naru,Sasu,Saji

Warning : Crack, gaje, aneh, OOC (mungkin), typo(tak luput), mungkin masih ada yang lain jadi waspadalah.

.

.

.

Sudah 3 menit Tsubaki dan Tomoe mulai bergerak setelah mendapat perintah dari Sona. Tsubaki yang ditugaskan untuk memimpin penyerangan rute dua terus bergerak maju kewilayah lawan secara hati-hati melalui tempat parkir. Suasana dikawasan parkir yang begitu sunyi senyap membuat Tsubaki yang berjalan didepan begitu waspada.

[Mentri pertama Rias Gremory-sama , kalah]

Suara speaker yang mengumumkan tumbangnya salah satu dari delapan lawannya membuat Tsubaki menghentikan kewaspadaannya sejenak hanya untuk tersenyum kebelakang pada pendamping penyerangannya, Tomoe. "Sepertinya semuanya menjalankan tugasnya dengan baik."

"Um, kita juga harus berjuang Tsubaki-senpai!" Tomoe menampakkan kepalan tangannya kedepan, memperlihatkan simbol bahwa dirinya bersemangat. Tsubaki hanya mengangguk dengan senyuman lalu kembali fokus pada tugasnya.

Kembali bergerak, mata Tsubaki dan Tomoe menangkap sebuah siluet sosok laki-laki. Ketika mereka menghampiri ketempat sosok itu, dua sosok berpedang nampak familiar bagi mereka. Laki-laki berambut pirang dengan pedang eropa dan gadis bersurai biru dengan beberapa helai didepan yang berwarna hijau membawa pedang yang sudah melegenda didunia sebagai pembunuh Naga.

Tomoe yang melihat pedang yang dibawa gadis didepannya itu menunjukkan ekspresi terkejut. "Ascalon!"

"Sepertinya Durandal tak akan beraksi mengingat tebasannya dapat menghancurkan area parkiran ini sekaligus." Tsubaki berusaha menyimpulkan atas pengamatan apa yang didapatinya tersebut. Melihat bahwa sebentar lagi dirinya akan segera menyalami pertempuran, Tsubaki mencoba untuk menyapa lawannya tersebut selayaknya kawan seolah tak merasa mereka merupakan musuh dalam pertandingan ini. "Apa kabar, Kiba Yuuto-kun, Xenovia Quarta-san. Aku sudah menduga kalian adalah lawan kami disini."

'Bukankah yang menduga hal ini adalah Kaichou. Tsubaki-senpai sepertinya lagi cari perhatian sama Kiba-kun.' Tomoe yang melihat pernyataan Tsubaki tadi nampak tak setuju dan menganggap bahwa Tsubaki hanya ingin membuat Kiba kagum padanya.

"Maafkan aku karena membuat ketegangan, tapi kabarku kali ini sungguh tak baik bagi kalian. Aku pasti akan membalas kekalahan Kouhai imutku!" Tanpa lebih lama berbasa-basi, Xenovia meningkatkan tekanan kekuatannya.

Tomoe dengan katananya, Tsubaki dengan Nagitananya. Bersama mereka berempat mempersiapkan senjata spesial mereka dan mulai mengambil posisi menyerang.

Dengan kecepatan mereka sebagai bidak Kuda dan Ratu, mereka melaju menyerang dan saling menyilangkan senjata mereka pada masing-masing lawannya.

Triiiing

Suara dentingan senjata mereka yang bertemu menggema sepanjang area parkir. Setelah itu pertarungan empat macam senjata tajam dengan kecepatan tinggi terjadi. Tsubaki dan Kiba yang tadi saling bersilang senjata melompat secara bebarengan untuk kembali bersiap-siap menyerang. Kemudian dengan gaya bertarung mereka masing-masing, mereka saling mengadu teknik bersenjata mereka pada lawannya, berusaha menumbangkan satu sama lain.

Sementara itu Tomoe dan Xenovia yang sedang mengambil posisi kuda-kuda, masih berdiri kokoh ditempat mereka tadi melompat untuk bersiap. Mata mereka penuh dengan fokus sebagaimana petarung yang mencari celah dan kesempatan untuk memberikan serangan.

"Kau akan terkejut melihat ini." Mengatakan itu, Xenovia mengucapakan beberapa kata yang terdengar seperti mantra, lalu setelahnya udara disampingnya terdistorsi dan menampakkan lubang dimensi yang gelap gulita. Didalam lubang itu terlihat sebuah pedang yang mempunyai bilah berwarna biru dengan tepi berwarna emas dan memancarkan energi yang begitu besar. Aura dari pedang itu menguar keluar, kearea parkir dari celah dimensi yang terbuka bebas diudara.

"I-itu, Durandal." Wajah manis Tomoe itu terlihat terkejut, karena sebelumnya dia sudah terlanjur mengira Xenovia tak akan memakai Durandal. Wajah terkejutnya kini berganti dengan ekspresi cemberut. "Kau bilang kau tak akan memakai Durandal."

Mendengar itu Xenovia mengangkat alisnya. "Siapa yang mengatakannnya?"

"Tsubaki-senpai." Jawab Tomoe polos sambil menuding Tsubaki yang bertarung dengan Kiba menggunakan telunjuknya.

"DAN KAU MENGAJUKAN KOMPLAIN PADAKU?!" Teriak Xenovia dengan nada tak percaya dan setetes keringat sebesar jempol kaki yang tiba-tiba menghiasi belakang kepalanya.

"Mou, lupakan ini. Aku akan memberitahumu seperti apa kecerdasan Raja kami, Rias Buchou dengan menunjukkan strateginya dan aku akan memperlihatkan hasil latihanku dari Azazel-sensei." Setelah mengatakan itu, aura Durandal yang tadi menguar kini membungkus bilah Ascalon yang digenggam erat oleh Xenovia. Ini merupakan cara unik yang disarankan gubenur malaikat jatuh Azazel dalam menggunakan Durandal dalam situasi seperti ini.

"Rasakan ini!" Bersamaan dengan ucapan Xenovia barusan, Xenovia menebaskan Ascalon pada udara kosong dan dengan itu aura sucinya yang bercampur dengan Durandal melaju cepat kearah Tomoe. Itu hanyalah aura suci saja yang tidak bersifat destructif karena mengingat peraturan mengatakan tidak boleh menghancurkan arena, namun aura suci saja itu sangat berdampak besar bagi iblis.

"Kau akan tahu bahwa strategi Kaichou itu tak akan bisa dikalahkan dengan strategi semacam ini, kau akan tahu hasil latihanku!" Meskipun melihat aura suci yang sedikit lagi mengenainya, Tomoe tetap bicara santai tanpa bergeming dari tempatnya. Dia mengacungkan tangan kosongnya yang tak memegang katana pada aura suci yang melaju cepat padanya. "Reverse!"

Seketika aura suci yang dilepaskan Xenovia berubah menjadi aura iblis dan kini berbalik kearahnya. Reverse, teknik membalikkan sifat serangan yang dikuasai semua gadis anggota OSIS minus Tsubaki. Salah satunya karena teknik inilah kelompok Sitri dikenal sebagai tipe serangan balik. Inilah yang dilatih Tomoe selama ini dan sesuai dengan strategi Kingnya, teknik ini tepat berguna untuk melawan kelompok Gremory yang dikenal sebagai tipe serangan langsung.

Xenovia yang dilanda kebingungan menerima serangan itu tanpa mencoba menghindar sedikitpun.

Tidak sampai disitu, Tomoe kini kembali memperagakan sebuah gerakan untuk serangan tambahan. Katana Jepang yang dipegang tangan kanannya ia acungkan keatas. Lalu seolah waktu melambat, dia memutar katananya searah jarum jam hingga kembali keposisi semula, yakni diatas. Dari pola lingkaran yang dibuat Tomoe barusan, energi abstrak yang terlihat seperti hologram yin dan yang menjadi latar belakang Tomoe berdiri. Lalu setelahnya, dengan kecepatannya sebagai kuda, dia berlari bak bayangan yang tiba-tiba sudah berada dibelakang Xenovia dengan pose habis menebas sesuatu.

Beberapa saat pola yin dan yang muncul ditubuh bagian depan Xenovia, lalu setelah pola itu menghilang luka melintang dibagian perut muncul secara tiba-tiba.

"Aaaaaargh!" Xenovia menjerit kesakitan.

Bugh

"Uhuk."

Dia jatuh terduduk sambil memuncratkan darah pada mulutnya.

"XENOVIA!" Kiba berteriak melihat partnernya ambruk sambil terbatuk darah seperti itu.

Xenovia mencoba meraba lukanya. Luka melintang yang berupa cahaya putih itu membuat matanya terbelalak. "I-ini, lu-luka yang disebabkan aura suci." Ujarnya dengan kesusahan.

"Ya, kau benar. Keluargaku merupakan keluarga yang memiliki spesialis dalam menghancurkan roh-roh jahat dan tentu saja aku juga memiliki kemampuan itu, karena itulah aku bisa mengeluarkan kekuatan suci yang merupakan kelemahan roh jahat dan juga iblis."

Darah keluarga Meguri yang merupakan pembasmi roh jahat mengalir pada Tomoe. Roh jahat yang sama-sama memiliki kekuatan gelap seperti iblis, merupakan mangsa bagi makluk pemilik kekuatan suci.

[Rock Rias Gremory-sama , kalah]

Suara speaker pengumuman menggema sepanjang area parkir.

Mendengar itu Tomoe tersenyum. "Sepertinya Naruto-kun menyelesaikan tugasnya dengan baik." Dengan masih tersenyum senang, Tomoe mengacungkan katananya pada Xenovia yang nampak kesakitan. "Dan selanjutnya, giliranku untuk menyelesaikan tugasku dengan baik."

Luka akibat serangannya sendiri yang diubah menjadi kebalikannya tidak terlalu berdampak pada Xenovia karena memang kekuatan iblis tak kan membuat iblis terluka parah, namun beda lagi dengan luka serangan berbasis kekuatan suci yang diterimanya barusan.

"Gahg." Xenovia kembali memuncratkan darah pada mulutnya lalu jatuh tergeletak dipermukaan jalan.

Melihat Xenovia yang tergeletak tak berdaya seperti itu Tsubaki berkata pada Tomoe. "Sepertinya kau tak perlu melakukannya Tomoe. Dia akan segera kalah dengan luka-luka itu." Dia lalu mengarahkan tatapannnya yang dingin itu pada lawannya yang menunjukkan ekspresi keras yang tak biasa dipakai wajah casanovanya. "Sekarang tinggal dirimu Kiba Yuuto-kun."

"Cih." Kiba mendecih. Tak punya pilihan lain, dia harus mundur sekarang. Dengan cepat Kiba berlari melewati Tsubaki dan Tomoe ketempat Xenovia tergeletak, kemudian dia memungut tubuh tergeletak itu dan pergi secepatnya jauh dari kedua musuhnya itu. Kiba pergi kebayangan terdekat. Mobil-mobil yang tertata rapi dan memiliki jarak penataan yang rapat membuat keberadaan mereka begitu sulit ditemukan Tsubaki dan Tomoe.

Kiba membaringkan Xenovia dibawah bayangan mobil dan mengeluarkan obat-obatan medis yang tadi diambilnya dari toko obat dimarkasnya sebelum penyerangan.

Mereka benar-benar kalah barusan. Dua tipe serangan balik yang sangat menyusahkan bagi pengguna serangan berskala besar dan kekuatan suci seperti mereka benar-benar membuat mereka tak bisa berkutik. Sona telah menutup kelemahan mereka dengan menempatkan dua orang seperti Tsubaki dan Tomoe pada mereka. Dia benar-benar berniat menghancurkan Kiba dan Xenovia karena dia sudah memprediksi bahwa merekalah penyerang utama. Kiba pun merasa demikian, dia merasa bahwa Sona telah memprediksi segalanya sampai point ini.

Keterbatasan informasi merupakan salah satu faktor yang membuat Kiba dan kelompok Gremory lainnya tak bisa memberikan perlawanan berarti seperti ini. Itu berbeda dengan Kelompok Sitri yang sudah mengetahui sebagian besar kemampuan beserta cara berpikir dari anggota kelompok Gremory. Seperti kata orang; terkadang informasi lebih berbahaya dari pada senjata. Bukti dari kata-kata itu telah dirasakan oleh Kiba dan lainnya. Kelompok mereka yang memiliki kekuatan besar tak lebih dari lidi bagi kelompok Sitri.

"Kiba, abaikan aku. Aku akan segera lenyap dari tempat ini."

Mendengar suara Xenovia yang terdengar menahan sakit membuat tangan Kiba yang sedari tadi bergerak mengobati lukanya tiba-tiba melemas dan berhenti melaksanakan tugasnya. Dengan wajah yang menunduk hingga wajah tampannya tertutup poni rambutnya, Kiba membalas perkataan Xenovia. "Ya, aku tahu itu. Tapi tahukah kamu, aku berjanji kalau aku takkan mudah mengabaikan rekanku sendiri."

"Lunak sekali, kamu jadi seperti Issei."

Mendengar itu Kiba tersenyum. "Itu membuatku senang, karena bagian dariku menginginkan menjadi seperti dia."

Ditengah wajahnya yang pucat, Xenovia menunjukkan wajah mengejek pada Kiba. "Menjadi seperti Issei? Maksudmu menjadi seorang yang mesum."

Seketika Kiba sweatdrop mendengarnya. "Tentu tidak begitu. Itu merupakan sifat alami Issei-kun, yang kumaksud adalah keberanian dan semangatnya."

Oleh kata-kata Kiba, Xenovia tertawa kering. "Itu sama sekali tidak cocok untukmu."

"Kau benar. Namun, selama aku bisa menggerakkan meski hanya satu jari, aku tetap akan melawan." Kiba tak membantah perkataan Xenovia barusan, namun wajah tampannya itu menunjukkan kemantapan bahwa dia benar bersungguh-sungguh ingin menjadi seorang yang penuh tekad seperti laki-laki yang sudah dia anggap sebagai sahabatnya itu.

"Sou ka. Apa kau menyuruh orang sepertiku untuk bergerak karena aku masih bisa menggerakkan jariku? Kau lelaki kejam."

"Hm." Kiba tersenyum lembut pada Xenovia. "Tugasmu sudah selesai, sekarang biar aku yang menyelesaikan ini."

Tap tap tap

Suara langkah kaki semakin mendekat ketempat Kiba dan Xenovia berada.

Kiba tiba-tiba berdiri. Dia menatap Xenovia dengan wajah yang penuh tekad. "Aku pinjam kekuatanmu."

Xenovia tersenyum dan mengangguk menanggapi Kiba.

"Sudahkah kau menyiapkan dirimu, Kiba-kun." Tsubaki muncul dari balik mobil dengan membawa Nagitananya.

Tiba-tiba robekan kecil diudara muncul dibelakang Kiba. Sebuah lubang dimensi yang menyimpan pedang suci yang setara dengan kekuatan penuh Exclaibur mengeluarkan aura sucinya yang berintensitas lebih besar dari yang dikeluarkan Xenovia tadi. Karena letaknya yang berada tepat dibelakang Kiba, Tsubaki dan Tomoe tak dapat melihatnya karena itu merupakan titik buta bagi mereka yang berada didepan tubuh Kiba.

Aura Durandal yang menguar menyelimuti tubuh Kiba. Kekuatan pedang iblis yang dimiliki sacred gearnya bercampur dengan kekuatan suci berintensitas besar dari Durandal. Seperti halnya dengan Balance Breakernya, dua kekuatan yang memiliki sifat berlawanan yang seharusnya tak dapat bertemu kecuali dalam bentuk permusuhan kini dapat bertemu dengan tujuan bersatu untuk menciptakan kekuatan baru.

"Durandal Birth!"

Dengan ucapan Kiba barusan, pedang iblis yang bercampur aura Durandal menyembul dimana-mana didalam tempat parkir. Aura suci yang intensitasnya lebih banyak dari aura iblis itu tentu akan berakibat fatal bagi iblis yang terkena serangan tersebut.

Namun kecepatan dari bidak Ratu dan Kuda membuat Tsubaki dan Tomoe dapat melompat dan berhasil menghindari serangan tersebut.

Kiba dengan cepat mengambil 2 pedang yang mengacung didepannya dan melompat mengejar Tsubaki. Kecepatannya itu memang tak dapat dibantah lagi melampaui kedua gadis budak Sitri tersebut. Seketika dia sudah berada didepan Tsubaki yang melayang diudara. Satu pedang yang berada ditangan kanannya dia tebaskan secara vertikal dari atas pada Tsubaki.

Triiing

Tsubaki menahannya dengan Nagitananya. Tak sampai disitu, Kiba kembali menyerang Tsubaki menggunakan pedang ditangan kirinya dengan tebasan horizontal.

Melihat itu, dalam posisinya yang berada diudara Tsubaki membungkukkan badannya hingga mencapai sudut 90 derajat membuat tubuhnya selamat dari tebasan Kiba. Namun sepertinya arah menghindar Tsubaki salah, dengan membungkuk kedepan itu sama saja dia menyerahkan wajahnya pada Kiba. Dengan kakinya yang bebas bergerak Kiba menendang wajah Tsubaki tanpa ampun hingga membuat kacamata yang bertengger dihidungnya itu pecah dan tubuhnya meluncur deras kepermukaan.

"Tsubaki-senpai!" Tomoe berteriak melihat wakil ketuanya meluncur deras kepermukaan.

Tap

Kiba mendarat dengan sempurna dan kembali melaju menyerang. Tujuannya hanya satu, ketempat lawan terkuatnya saat ini, yakni Tsubaki. Jika Tsubaki dapat dikalahkan maka lawannya yang memiliki kekuatan dibawah Tsubaki seperti Tomoe itu dapat dengan mudah dikalahkannya karena mengalami tekanan mental setelah melihat secara langsung pemimpinnya dikalahkan. Dan inilah kesempatan Kiba, kondisi Tsubaki yang masih terbaring lemah karena terkena serangannya barusan memungkinkan Kiba menghabisi Tsubaki tanpa adanya perlawanan.

Namun Tomoe yang melihat fokus serangan Kiba hanya tertuju pada Tsubaki tak membiarkannya begitu saja, dia berlari untuk menghadang Kiba menuju tempat Tsubaki.

Kiba yang melihat Tomoe mendekat padanya tetap berlari kearah Tsubaki. Tanpa mengurangi kecepatan berlarinya dia melemparkan aura iblis dan aura suci Durandal dengan menebaskan pedangnya pada udara kosong kearah Tomoe.

"Cih, Kusoo." Melihat serangan Kiba itu terpaksa Tomoe menghindar dengan melemparkan paksa tubuhnya kesamping kiri hingga membuat tubuhnya membentur permukaan dengan kasar. Dikarenakan aura suci bersatu dengan aura iblis, Tomoe tak mungkin menggunakan teknik reverse seperti yang dilakukannya pada Xenovia tadi. Tak ada artinya menggunakan teknik itu karena tak ada yang bisa dibalikkan ketika kekuatan suci dan kekuatan iblis tergabung bersama. "Tsubaki-senpai." Ucap Tomoe lirih.

'Satu Tebasan saja!' Bagai Singa yang memburu mangsanya, mata Kiba tak sekalipun lepas dari Tsubaki yang menjadi targetnya, berharap dapat menyarangkan serangan meskipun hanya sekali. Satu saja serangan yang sudah dilumuri aura suci pasti sudah cukup untuk menghabisi satu iblis seperti Tsubaki.

Begitu jaraknya dengan Tsubaki tinggal 3 meter, Kiba melompat dan mengangkat kedua pedangnya tinggi-tinggi. "SATU SERANGAN SAJA, HAAAAAAAAAAA!"

Tsubaki yang baru saja bisa menegakkan tubuhnya sebatas bersimpuh, kini harus dikejutkan dengan teriakan Kiba yang melayang didepannya dan mengangkat tinggi-tinggi kedua pedangnya yang dia yakin akan digunakan untuk menghabisinya. Karena tendangan Kiba tadi dan benturan tubuhnya dengan permukaan tanah, Tsubaki tak mampu bergerak gesit untuk menghindari tebasan Kiba yang akan segera diterimanya. Kacamatanya hancur, pelipisnya berlumuran darah, sekujur tubuhnya dipenuhi lecet, menggerakkan tubuhnya secara perlahan saja Tsubaki merasa kesakitan. Dia sama sekali tak mengelak dan tak mencoba menangkis.

"TSUBAKI-SENPAAAAAII!" Tomoe berteriak tegang melihat Tsubaki yang sedikit lagi menerima tebasan dari kedua pedang Kiba.

"SATU SERANGAN SAJA, HAAAAAAAAAA!"

'Gomen, Kaichou.' Tsubaki memejamkan matanya, pasrah akan apa saja yang diterimanya.

.

.

.

Triiiing

Tak merasakan sakit apapun dari tubuhnya, kening Tsubaki berkerut kebingungan. Dia berpikir, mungkinkah karena aura suci Durandal yang terlalu besar membuat tubuhnya tidak sempat memberi sinyal kepada otaknya untuk merasakan sakit. Namun itu tak mungkin, sepengetahuannya serangan yang berbasis kekuatan suci merupakan rasa sakit yang teramat luar biasa untuk kaum iblis. Jika begitu, lantas apa yang terjadi?

Dengan takut-takut Tsubaki memberanikan dirinya untuk membuka matanya dan melihat apa yang terjadi.

Saat mata itu terbuka, apa yang pertama kali tertangkap iris light-brown milik wanita cantik itu adalah sesosok laki-laki berambut reven berwarna hitam yang berdiri tegak membelakanginya. Mencoba melihat keatas, mata Tsubaki melihat kedua pedang yang tadinya membuat dirinya memejamkan matanya pasrah kini tertahan sebuah katana yang dipegang laki-laki berambut reven didepannya.

"Sasuke-kun!" Teriak Tomoe girang melihat rekan laki-lakinya datang tepat disaat-saat dibutuhkan seperti ini. Rasa lega tiba-tiba menyelimutinya karena melihat Tsubaki telah selamat dari serangan Kiba.

Tap

"Maaf mengganggu acaramu, tapi si Teme itu yang memaksa kemari." Tiba-tiba sosok Naruto berada disamping Tomoe dan menepuk kepalanya pelan.

"Um, tidak apa-apa, justru aku berterima kasih, karena kedatangan kalian, Tsubaki-senpai tertolong." Tomoe tersenyum pada Naruto dan Naruto membalas senyuman itu dengan ikut tersenyum padanya.

Tsubaki yang mendengar apa yang dikatakanTomoe barusan membelalakkan matanya. Sosok laki-laki yang membelakanginya menolehkan wajahnya kebelakang, menatap Tsubaki yang masih bersimpuh dengan wajah syok.

Wajah datar itu, poni rambut itu, dua mata yang berbeda itu, "Sa-Sa-suke-kun." Tsubaki terbata dalam mengeja nama lelaki yang berada didepannya. Tiba-tiba saja pipinya memanas, melihat wajah datar Sasuke yang sebelumnya tertutup bayangan poni rambutnya kini diterpa cahaya entah dari mana.

Sasuke tak membalas, dia tetap diam dan memandang wajah Tsubaki yang terkejut melalui ekor matanya.

Kiba mengambil kembali kedua pedangnya yang berhasil ditangkis Sasuke dan melompat menjauh dari sana. "Cih, bala bantuan, kah?"

Sriing

Sasuke kembali menoleh kedepan, memandang datar Kiba dengan satu Sharinggan dimatanya yang berputar sekali. "Bala penghancur, lebih tepatnya." Ujarnya dengan nada yang terdengar dingin.

"Cih." Lagi-lagi Kiba mendecih. Sejenak matanya menoleh kesamping, melihat Xenovia yang berbaring tak begitu jauh dari tempatnya.

Tubuh Xenovia yang terbaring mulai diselubungi cahaya. Ekspresinya diselimuti oleh senyum seiring tubuhnya yang semakin memudar. Kiba memaksakan untuk ikut tersenyum dan melihat kepergiannya. Sebelum tubuh Xenovia yang benar-benar menghilang, lubang dimensi yang menyimpan Durandal meledakkan aura suci Durandal dengan jumlah intesitas sangat besar. Dan akhirnya lubang itu menutup bersamaan dengan Xenovia yang telah menghilang dari arena game.

[Ksatria kedua Rias Gremory-sama , kalah]

'Dia memberikan aura suci Durandal pada Kiba-kun sebelum dia keluar dari game.' Tomoe yang melihat kejadian tadi membatin begitu.

Ledakkan dari aura suci Durandal itu kini menyelimuti tubuh Kiba dan menambah jumlah aura suci yang sedari tadi menyelimutinya. Api dan air, kedua pedang iblis berelemen berlawanan yang dibuatnya kini terasa haus akan tubuh iblis. Kiba mendongkak menatap musuh didepannya dengan mata penuh kebencian. "Minna, aku pasti akan membalas kekalahan kalian semua!"

Siiiing

Triiing

Setelah mengatakan itu tiba-tiba Kiba menghilang dan muncul dibelakang Sasuke dengan tebasan horizontal oleh pedang ditangan kirinya namun dapat ditahan Sasuke dengan menaruh posisi Kusanagi yang dipegang tangan kanannya kesamping lengan kirinya tanpa sedikitpun mengubah posisi berdirinya. "Lambat." Ujar Sasuke dingin ditengah Kusanaginya yang menyatu dengan pedang Kiba.

Wajah Kiba sempat menunjukkan keterkejutan melihat serangannya dapat dengan mudah ditahan Sasuke tanpa mengubah posisi berdirinya, namun beberapa saat kemudian dia menunjukkan ekspresi kemarahan. "JANGAN MEREMEHKANKU!"

Siiiing

Kiba kembali menghilang dan kini berada diatas Sasuke. Tak puas dengan satu pedang, kini Kiba menggunakan kedua pedangnya sekaligus untuk menyerang, dengan sekuat tenaga dia tebaskan kedua pedangnya yang teracung tinggi itu pada Sasuke yang berada dibawahya.

Triiing

Lagi-lagi Sasuke berhasil menahannya dengan mudah tanpa mengubah posisi berdirinya, posisinya dan Kiba kini sama persis ketika dirinya menahan serangan Kiba yang ingin menyerang Tsubaki tadi. Sasuke mendongkak untuk menatap pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya itu. "Masih lambat."

Suara meremehkan Sasuke membuat rahang Kiba mengeras. "HAAAAAAAA!"

Siiiing.. Triiing...

Siiiing.. Triiing...

Siiiing.. Triiing...

Siiiing.. Triiing...

Siiiing.. Triiing...

Kecepatan Kiba kini menggila. Begitu sampai disatu tempat dan menyarangkan serangannya dia sudah berpindah kesatu tempat lain dan kembali menyarangkan serangan. Bunyi demi bunyi terdengar telinga. Suara dentingan akibat benturan antara dua benda tajam yang selalu berulang tanpa berhenti adalah salah satunya. Percikan api kecil nampak dari setiap kali kedua pedang itu bersentuhan satu sama lain.

"Lambat."

"Lambat."

"Masih lambat."

"Sangat lambat."

Entah kenapa suara dentingan pedang ataupun suara lainnya tak terdengar sama sekali oleh telinga Kiba. Satu-satunya suara yang dapat didengarnya hanyalah suara meremehkan yang keluar dari lelaki yang menjadi lawannya itu. Suara itu sangat memuakkan baginya.

Kiba mulai menunjukkan gerakan yang tak berarti. Kecepatannya memang semakin bertambah, namun serangan yang dilakukannya entah kenapa sangat mudah dibaca. Pikirannya kini kalap karena mendengar kata yang terus keluar dari lelaki dihadapannya itu setiap kali dia melancarkan serangan. Tanpa disadari tujuannya berganti, tujuannya kini hanya untuk membungkam mulut yang meremehkannya itu.

Disela serangannya, dia mendapat serangan balasan yang menyebabkan luka-luka kecil dibeberapa bagian tubuhnya. Kecepatannya meminimalisir luka yang diterimanya. Dengan kembali berpindahnya tubuhnya setelah melakukan serangan, senjata lawannya itu hanya dapat memberikan goresan tipis yang tak begitu fatal baginya.

Tapi, luka demi luka yang terus bertambah akhirnya membuat Kiba mulai menunjukkan ciri-ciri kewalahan. Bukan hanya gerakannya yang tak berarti, namun juga kecepatannya kini mulai melambat.

"Lambat."

"Brengseeeek!" Kiba murka, dengan semua tenaganya dia menebaskan kedua pedangnya pada Sasuke.

Bzz.. cip.. cip...

Pyarrr!

Mata Kiba membulat, keringat bercururan ditengah tubuhnya yang mematung. Barusan dia mendengar suara kicauan burung bersamaan dengan cahaya biru yang tiba-tiba muncul dan selanjutnya adalah suara besi yang hancur berkeping-keping. Mata membulatnya itu bergerak ketelapak tangannya yang menggenggam gagang pedang, lebih keatas dia melihat bilah dari kedua pedangnya yang hanya tersisa seperempat dari aslinya. Sebagian besar besi-besi dari bilah pedang itu kini sudah hancur menjadi serpihan-serpihan kecil yang kini bertaburan dibawahnya.

Namun insting bahaya yang diterimanya menyadarkan Kiba dari rasa keterkejutannya. Ujung tajam pedang yang telah menghancurkan kedua pedangnya kini dengan cepat bergerak kewajahnya.

Kiba memiringkan wajahnya kesamping kiri membuat wajahnya selamat dari tusukan meski hanya meninggalkan luka berupa goresan kecil dipipinya. Kemudian, dengan cepat Kiba melompat kebelakang untuk menjauh.

Wajah lelaki yang menjadi lawannya itu tetap sama. Datar tak berekspresi seolah tak terdapat emosi satupun darinya.

Kiba merasa dirinya terlalu gegabah. Dia terlalu membawa emosinya disetiap gerakan yang dilakukannya dan itulah yang membuatnya kehilangan tujuannya untuk melawan. Diterpa kesadaran, Kiba menstabilkan deru nafasnya yang masih memburu bersamaan dengan otaknya yang bekerja mencari cara untuk mengalahkan lawannya.

"Wauw, Sasuke-kun, dia hebat." Tomoe yang melihat pertarungan tadi berucap kagum dengan wajah melongo. Naruto hanya tersenyum melihatnya. Sedangkan Tsubaki, matanya yang kini tak terhalang kacamata tak sedetikpun lepas melihat setiap gerak-gerik Sasuke dalam bertarung, mata itu penuh akan rasa kagum dan terpesona sebagaimana putri yang melihat pangerannya bertarung.

Kiba kemudian memunculkan pedang iblis didepannya. Aura suci Durandal yang masih mengelilinginya kini membungkus pedang itu. Kiba kini lebih sedikit mengatur emosinya, kemarahannya tak boleh sampai mempengaruhinya, dia hanya boleh mengeluarkan amarah pada serangannya saja dan tidak untuk kecepatannya. Jika dia terlalu berlebihan dia akan menguras banyak tenaga dan akan berpengaruh besar terhadap ritme dan pengembangan serangannya nanti.

Kiba memasang kuda-kuda serangan.

Selanjutnya sepuluh lingkaran sihir muncul mengelilingi Sasuke. Bersamaan dengan aura Durandal yang hadir pada lingkaran sihir itu, pedang-pedang dengan jumlah yang sama dengan lingkaran sihir itu terbang melaju ketempat Sasuke berdiri.

Namun, sebelum pedang-pedang itu sampai, tiba-tiba saja pedang-pedang itu berhenti seolah ada dinding tak kasat mata yang menghalaunya.

Triiing

Serangan dari belakang yang sama seperti tadi dan ditahan pula oleh Sasuke dengan cara yang sama. Dengan santai Sasuke menahan tebasan Kiba dengan menaruh posisi Kusanagi yang dipegang tangan kanannya kesamping lengan kirinya tanpa sedikitpun mengubah posisi berdirinya.

Tangan kanan Kiba mengambil sebuah pedang dari lingkaran sihir yang diciptakannya, kemudian dengan pedang itu Kiba mengarakan sebuah tusukan yang tertuju pada belakang kepala Sasuke yang masih belum berubah. Namun seolah dapat melihat kebelakang, Sasuke memiringkan kepalanya kesamping dan sukses membuat kepalanya terhindar dari tusukan Kiba.

"Masih belum!" Sebuah pedang tercipta didepan Kiba, dan dengan menggunakan mulutnya Kiba memberikan tebasan horizontal pada Sasuke dengan tubuh yang membungkuk, berusaha menjangkau target semaksimal mungkin.

Dengan gerakan slow motion, Sasuke berhasil menghindar dari tebasan itu dengan membungkuk sembilan puluh derajat dan membuat tebasan itu hanya mengenai seluruh bagian belakang seragam sekolahnya. Seragam sekolah yang lepas dari bagiannya secara rapi itu membuktikkan seberapa tipisnya jarak antara pedang Kiba dan kulit Sasuke. Lalu untuk pertama kalinya Sasuke mundur dari tempatnya untuk menjauh.

Kalau orang melihatnya, Sasuke pasti sudah dianggap sebagai peraga busana gila yang mencoba mempopulerkan tren baju setengah jadi dikarenakan pakaian yang dikenakannya kini hanya menyisakan kain dibagian depan dan tubuh bagian belakangnya yang tak ditutupi sehelai kain apapun.

Tak mau dianggap begitu, Sasuke merobek bajunya sekalian hingga kini tubuh bagian atasnya sebatas pinggang lepas dari sehelai benang apapun. Tsubaki yang sedari tadi memerhatikan Sasuke tiba-tiba saja pipinya merona melihat tubuh Sasuke yang setengah telanjang.

Sasuke yang kini hadir dalam mode baru kini kembali mengarahkan wajah datarnya pada Kiba yang masih berada ditempatnya meskipun kini ditinggal kedua pedangnya dan hanya menyisakan satu pedangnya yang dipegang tangan kirinya.

Kiba merasa jengkel sedari tadi serangannya dapat diantisipasi Sasuke. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, wajah Kiba yang menunduk itu kini nampak datar seolah bosan memasang ekspresi marah. Namun justru ekspresi inilah puncak amarahnya terlihat. Api dingin yang merasukinya membuat Kiba berniat melepaskan seluruh kekuatannya tanpa batasan. Dengan masih menunduk, suara kecil berupa bisikan keluar dari mulut Kiba, dan entah kenapa suara yang tak lebih keras dari angin lewat itu sangat jelas terdengar semua telinga makluk yang ada disana.

"Balance Break."

Swuuuusshh

Siiiiiiiiing

Bersamaan dengan angin yang bertiup lebih kencang dari biasanya, aura hitam pekat dan aura putih menyilaukan saling bergerak keatas dengan pola spiral hingga membentuk pilar. Lalu sisa-sisa aura Durandal yang masih mengitari Kiba dan pedang-pedangnya yang menjembul dikawasan parkir kini menjadi penengah diantara kedua aura berlawanan tadi. Aura Durandal yang mempunyai warna biru terang itu menjadi pengisi kekosongan ditengah antara celah dari dua aura yang membentuk pilar spiral tersebut. Beberapa saat kemudian aura itu memadat, tinggi ketiga aura tersebut yang tadinya hampir mencapai langit-langit area parkir kini hanya sebatas separuh badan Kiba. Dari ketiga aura yang memadat itu pedang hitam bertepi putih dengan corak api berwarna biru tepat melayang didepan Kiba.

Kiba menggenggam gagang pedang yang melayang didepannya. Perlahan wajahnya mendongkak dan menunjukkkan mata yang penuh dengan niat menghabisi lawannya. "Tebaslah, Durandal Betrayer."

Kini dihadapan Sasuke berdiri sosok pendekar dengan pedang suci iblisnya yang memancakan aura suci iblis mengerikan yang sangat tak baik bagi iblis maupun malaikat.

Kekuatan suci dan iblis yang bercampur membangkitkan Balance Breaker Kiba yang dikenal dengan Sword of Betrayer. Dan sekarang, kekuatan suci iblis dari Balance Breakernya bercampur dengan aura Durandal menciptakan kekuatan baru yang begitu mengerikan yang disebut Kiba tadi sebagai Durandal Betrayer. Mungkin aura Durandal hanya sebagian kecil saja yang bercampur pada pedang itu, namun aura yang terasa kini mungkin setara atau bahkan lebih dari Durandal sekalipun.

Dengan sedikit ancang-ancang, Kiba mengayunkan pedang suci iblisnya pada udara kosong dan aura mengerikan dari pedangnya meluncur deras kearah Sasuke. Melihat itu Sasuke menghindar dengan melakukan salto kedepan hingga melewati tempat Kiba berdiri.

BLAAAAAR

Aura itu menghancurkan sebagian besar kawasan parkir beserta mobil-mobil yang ada.

Sasuke yang habis melakukan salto depan kini menegakkan tubuhnya untuk kembali bersikap. Pedangnya teracung lemas disamping tubuhnya. Wajah datarnya tetap tak menunjukkan ekspresi sama sekali meskipun telah melihat dampak besar yang telah terjadi ketika aura mengerikan dari pedang Kiba bertemu dengan permukaan.

Kiba berbalik dan menatap Sasuke dengan mata yang menajam penuh kebencian. "Sasuke, kupastikan aku akan menghabisimu." Ujarnya dengan nada yang teramat dingin.

"Jangan menggunakan kata-kata seperti itu, itu akan membuatmu kalah ditanganku dengan mudah." Sasuke membalas tak kalah dinginnya.

"HMMMHAAAAAAAAA!" Aura mengerikan terpancar dari tubuh Kiba berdiri. Kemudian ketika Kiba berlari semua yang ada disekelilingnya terhempas menyisakan tempatnya berpijak. Kecepatannya begitu luar biasa dan kini telah berada tepat didepan Sasuke dengan pedangnya yang sudah siap ia tusukan.

Jleeb

BLAAST

Pedang itu tepat menembus tengah jantung Sasuke dan sisa dari serangannya menghabisi segalanya yang ada dibelakang Sasuke tanpa sisa.

Wajah Sasuke sama sekali tak menunjukkan ekspresi kesakitan meskipun telah ditusuk oleh pedang yang telah memporak-porandakan area parkir dengan mudahnya.

Wajah Kiba tiba-tiba terbelalak kaget melihat Sasuke menghilang dari hadapannya dan secara ajaib kini berada jauh dibelakangnya dengan berdiri santai dan tangannya yang seperti habis menebas sesuatu dengan Kusanaginya.

Jraaaaaash

Tiba-tiba bahu bagian kanan Kiba muncul luka tebasan lebar dan darah segar yang sangat banyak keluar dengan deras. "U-uso... Da-rou?" Dalam keadaan kebingungan Kiba mematung dengan segala ketidak percayaannya.

Bugh

Sedetik selanjutnya Kiba jatuh tak berdaya dengan darah mengalir membasahi sekujur tubuhnya.

Sasuke tetap berdiri ditempatnya dan mendongkak memandang cahaya-cahaya samar dari lampu tempat parkir dengan wajah yang masih tetap datar seolah tak merasa habis menghabisi lawannya. Darah yang nampak masih baru bertetesan dari Kusanaginya.

.

.

TBC

Lama tak jumpa Minna!

Bagaimana kabar kalian? Semoga sehat dan banyak uang!

Hmm, berapa lama fic ini kutinggalkan?

Saya minta maaf banget, kalau chapter ini adalah chapter terlama updatenya dari chapter sebelum-sebelumnya.

Kesibukanlah yang dulunya membuat fic ini update lama. Namun sebenarnya sudah mulai dari seminggu lebih yang lalu saya mulai menganggur.

Lantas apa yang membuat ini kembali molor?

Yah, ini merupakan kesalahan saya. Waktu itu saya sudah berniat memulai pengerjaan fic. Namun karena keinget lagu kesukaan saya dan saya juga kebetulan gak punya lagunya, saya buka-buka koleksi anime saya untuk melihat judul lagunya untuk saya download. Lagu dari anime BLEACH ending ke-3 yang berjudul Houkiboshi(Meteor). Karena melihat judul dan melihat vidio endingnya, gak sengaja saya juga melihat animenya. Sebelumnya hanya melihat, dan setelah melihat saya mulai menikmati dan pada akhirnya saya tergoda untuk kembali melihatnya. Dan setelah itu saya mulai menghabiskan animenya mulai dari episode 16-82. Dan jreng-jreng, saya selesai pada hari minggu kemarin dan besoknya pada hari senin saya sakit karena dalam sebulan saya kurang tidur karena terlalu banyak aktifitas dan nonton anime. (tidak patut dicontoh)

Dan karena sakit, saya tidak masuk sekolah selama 2 hari. Dan dalam 2 hari itu saya menggunakannya untuk istirahat dan membuat kelanjutan fic ini. dan entah karena posisi saya yang lagi sakit atau karena kemampuan menulis saya sudah menurun, saya membutuhkan waktu selama 3 hari untuk menyelesaikan satu chapter ini yang hanya terdiri dari jumlah bersih 4500K. Biasanya jika hanya segini 3 sampai 4 jam saya sudah selesai dan paling poll paling Cuma satu hari. Namun ini, pusing banget mikirinnya.

Tapi yah, akhirnya jadi juga.

Itulah peristiwa yang telah terjadi dalam terciptanya chapter kali ini. Dan kalian tahu, seminggu lebih yang saya habiskan untuk menonton anime Bleach kemarin itu tidak sia-sia, salah satunya adalah chapter kali ini dan kalian akan tahu yang lainnya dichapter-chapter lainnya yang akan datang.

Kalian akan terkejut melihat chapter yang akan datang. (mungkin)

Ok waktunya balas review.

Namefrenz : Ok, terima kasih udah mau review.

MATAkami : hahaha, lebih parahnya lagi ngompol diarmor. Terima kasih udah mau review.

Guesst : Sory. What you really read? If no, myadvice read again and anderstand all. thanks for you review.

Guesst : emm, so. If you talk that, it means you have not read chapter 3. So, my advice if you read, please do not half, read to complate. In chapter 3 already describbed, the conversation time Naruto and Sasuke in Ounclit room.

Gakuro kuso : sangkyuu. Iya ini memang masih berlanjut untuk haremnya Naruto. Terima kasih udah mau review.

Febi : yah sebenarnya niat awalnya sih gitu, tapi bisa dilihat sekarang sedikit bergeser. Jadi Shojou dan Shonennya imbang. Terima kasih udah mau review.

DarkShinobi : Ok, terima kasih udah mau review.

Ciwod : hahaha haduh, sepertinya aku perlu memberikan obat sakit ketawa untuk setiap chapter yang aku update. Bisa ngeri ini kalau aku dituntut gara-gara telah membuat korban berjatuhan karena mati ketawa hahaha. Terima kasih udah mau review.

Renji : hahaha, emang parah mereka. Pastinya, thanks udah mau review.

Gea : hahaha, ok thanks reviewnya.

Hn : Hahaha hmm kritikan yang bagus. Aku tak bisa banyak bicara oleh kritikanmu, tapi yah menurutku semua kata yang di tujukan untuk warning boleh apa saja. Ada yang kata formal bahasa ffn seperti AU,typo,OC,dll, dan ada kata santai yang digunakan author untuk memeberitahukan kekurangan dari ceritanya seperti bahasa kurang baku, cerita pasaran, aneh, gaje,dll. Semua sama-sama bisa dipakai diwarning karena sama-sama berguna memberitahukan peringatan-peringatan dari isi cerita tersebut, yah kurang lebih seperti itulah. Dan terima kasih banget hahaha, jadi fic ini derajatnya high chuniin ya, hmm apa masih jauh dengan Mayor atau Kopral? Hahaha abaikan.

Hahaha kamu juga cukup berani lo, memberikan kritikan yang menurut orang ini tak terlalu diperhatikan tapi kamu begitu memperhatikannya. Cobalah mampir dificnya Galerians-senpai, dia juga pakai tanda warning yang lebih dari aku lo. Dan kembali ketopik, hmm berani-berani aja, lagian ini sesuatu yang baru dan aku kebetulan lagi bersemangat bikin cerita persaingan cinta hahaha. Aku gak punya niatan gitu tapi aku juga tidak tahu hal seperti ini membuat sensasi didunia ffn. Haha terima kasih, saya senang kalau kamu senang, saya berencana membuat ini sebagus mungkin agar suatu saat pair reverse harem seperti ini menjadi populer.

Hadeh, sepertinya bakal heboh kalau dia sudah tahu(saya bahkan sampai terbesit ingin bunuh Masashi Kishimoto disini agar dia tak merilis Naruto chapter 700 hahaha) tapi yah kita lihat saja nanti.

Hoo, itu hanya kebetulan, saya udah lama gak lihat/baca anime/manga one piece, bahkan saya hampir lupa dengan ceritanya.

Cukup NaruSasu aja yang tinggal, disini aja Sona Cuma kebetulan bisa manggil mereka. Tapi yah mungkin aja, kita lihat saja nanti. Terima kasih ya atas reviewnya yang panjang :D

rozinamikaze : Ok pastinya, terima kasih udah mau review

.

Itu saja yang bisa saya sampaikan pada chapter kali ini dan terima kasih bagi semuanya yang sudah review,fav,Foll dan menunggu fic ini, kalian semua luar biasa hahaha.

Silahkan kalian berikan tanggapan yang kalian pikirkan tentang chapter kali ini!

.

Jaa mata, di Chapter 8!