Kediaman Emiya.

Teitoku tampak terbaring di kamarnya, matanya menatap lurus ke langit-langit kamarnya. Perkataan Crystal tadi masih terngiang dipikirannya.

"Itu tidak mungkin bukan?"

"Kemungkinan besar, Tsumugi Rika adalah hasil percobaan dari keluarga Kitougamine."

"Kemungkinan terburuknya adalah Tsumugi Rika yang asli dibunuh dan tubuhnya di gunakan sebagau wadah untuk heroic spirit."

"Itu tidak mungkin..."

The Holy Grail War

A Fate/Series fanfiction.

I don't own Fate.

Language: Indonesia

Genre: Supernatural, Action, Shounen.

Warning: OOC! Oc, as bad as shit. Don't read don't read. Flame for character(s) is unacceptable.

Chapter 05: Kisaragi Joe, Master Baru Berseker!

Taman Fuyuki.

"Hmm, begitu ya. " Crystal nampak membaca sebuah buku diatas ayunan besi di taman dekat Stasiun Fuyuki.

"Kau sedang apa master?" Tanya Rider sembari duduk di ayunan sebelah.

"Sedang membaca buku, ini tentang yang kubicarakan kemarin dengan Teitoku dan Karin kemarin." Ujar Crystal sembari memperlihatkan bukunya ke Rider muda itu.

"Oh, tentang percobaan Demi-Servant yang dilakukan keluarga Kitougamine?" Tanya Rider, Crystal menutup bukunya lalu menatap lurus ke tanah di depannya.

"Kuharap itu hanya sekedar percobaan demi-servant." Ujarnya penuh keraguan.

Demi-servant adalah sebutan untuk manusia yang melakukan kontrak dengan servant dan mendapatkan kekuatan servant tersebut—bisa dibilang menjadi servant sementara—tentu saja mereka hanya mendapat kekuatan saja.

Namun yang Crystal takutkan adalah kalau yang mereka lakukan tidak seperti itu, melainkan memindahkan jiwa pahlawan secara paksa ke dalam sebuah tubuh manusia.

Jika dalam literatur dituliskan bahwa, itu nyaris mustahil. Namun keluarga Kitougamine dikenal selalu membuat gebrakan yang bisa membungkam panduan sihir.

Bisa jadi itu bukanlah sesuatu yang mustahil bagi mereka.

"Tsk, kalau saja aku punya cukup bukti. Aku pasti akan melaporkan hal ini ke dewan sihir."

"Ah, Master! aku merasa ada servant lain disini." Crystal refleks bangun dari posisi duduknya dan menatap kemana arah telunjuk Rider mengarah.

"Itu."

Seorang anak kecil yang sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang servant berambut panjang.

"Dia... master yang sering dibicarakan itu, Gil Illyvich Petrovsky." Gumam Crystal.

"Bagaimana, master? hm? Kurasa sebelah juga merasakan kehadiran kita—Servantnya." Crystal menganggukkan kepalanya.

"Peka sekali dia."

"Mau kita samperin?" Tawar Rider, Crystal menatap servant kecilnya itu.

"Kurasa itu bukan ide yang buruk." Ia berjalan menuju tempat dimana Gil dan servantnya bermain—yang bermain hanya Gil, sedangkan Lancer duduk menemani.

"Hoo—jadi ini yang sering dibicarakan para penyihir Clock Tower." Gil menatap wajah Crystal polos.

"Hai, Gil Illyvich Petrovsky." Sapa Crystal.

"Oh, jadi Crystal-nee ini teman dari Teitoku-nii ya?"

"Eum." Crystal mengangguk membenarkan. Kini mereka sedang duduk santai di taman tadi.

Ya, pada dasarnya mereka tidak bermaksud untuk menyerang—setidaknya tidak di tempat seperti ini.

"Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa ya. Gil." Crystal berdiri dari posisi duduknya lalu berjalan meninggalkan taman.

"Eum! Sampai jumpa lagi Crystal-nee!"

"Baiklah, saat menuju tempat yang sudah dijanjikan." Crystal menoleh ke handphonenya, lalu sosoknya menghilang di ujung jalan.

Pembatas Keren.

"Kenapa kau tiba-tiba mengajakku keluar begini, Saber?" Tanya Teitoku pada Saber, hari ini mereka sedang berjalan-jalan di game center.

"Umu, kupikir kau terlalu banyak pikiran jadi aku mengajakmu keluar, Teitoku." Jawab Saber dengan penuh optimis, Teitoku menggaruk tengkuknya dengan senyum canggung.

"Ahaha, begitu ya... Makasih ya, Saber." Saber hanya ber-umu-ria sembari melihat-lihat arena permainan.

"Teitoku, ayo kita main itu!" Ajak Saber, Teitoku hanya menganggukkan kepalanya. Baru saja ia akan berjalan menuju tempat yang di maksud—ujung matanya menatap sosok yang familiar.

"Tsumugi—tunggu dulu Saber, aku harus pergi—"

"Teito—" Belum selesai Saber berbicara sosok itu sudah pergi terlebih dahulu, Saberpun jelas mengikuti kemana Teitoku pergi.

Rika yang menyadari kalau ia dikejar langsung saja berlari menjauh dari sana—keluar dari game center, terus hingga—

"Tunggu dulu!" Sebuah tangan menggenggam tangannya.

"Apa maumu Emiya Teitoku! Kita ini musuh, kau tahu—"

"Aku tidak mengerti!" Rika terdiam menatap sosok yang memegang tangannya itu.

"Kenapa... kenapa kita harus menjadi musuh...?" Suara Teitoku terdengar sedikit bergetar, ia menundukkan kepalanya dan mulai melonggarkan pegangan tangannya pada tangn Rika.

"Apa yang sebenarnya terjadi...? Tidak bisakah kita seperti dulu lagi?—Kenapa... padahal..."

Padahal aku dapat bertemu denganmu lagi.

"Aku sudah bukan Tsumugi Rika yang kau kenal—Tidak lebih tepatnya aku bukan Tsumugi Rika." Respon singkat keluar dari mulut Rika.

"Apa maksudmu?"

"Kemungkinan besar, Tsumugi Rika adalah hasil percobaan dari keluarga Kitougamine."

Teitoku menatap kaget Rika, gadis itu kembali membuka mulutnya.

"Gadis itu sudah mati 4 tahun yang lalu..." Teitoku mundur kebelakang, ia mulai memegangi mulutnya.

"Kemungkinan terburuknya adalah Tsumugi Rika yang asli dibunuh dan tubuhnya di gunakan sebagai wadah untuk heroic spirit."

"Kau tidak benar-benar..."

"Tsumugi Rika hanyalah nama untuk menutupi identitasku sebagai seorang roh pahlawan." Rika mengalihkan pandangannya, enggan menatap mata Teitoku.

"Kalau kau sudah tidak ada urusan lagi denganku, aku pergi." Tsumugi melepas tangan Teitoku lalu berjalan melewati Teitoku, tepat setelah itu Saber muncul di samping Teitoku.

"Maaf, aku hanya merasa tidak enak ikut dalam urusanmu dan gadis itu... Kau tidak apa?" Teitoku hanya terdiam—ia tidak merespon kata-kata Saber.

"Maaf Saber, tapi kurasa hari ini kita pulang saja."

"Umu..."

Pembatas Keren.

Gil berjalan bergandengan dengan Lancer, kini mereka berjalan di daerah pusat perbelanjaan. Membeli hadiah ulang tahun kepada salah satu sahabat Gil, Rei Kawasaki.

"Hm... bagusnya aku kasih hadiah apa ya untuk Rei." Gumam Gil, baru saja ia akan menuju sebuah toko tiba-tiba peluru yang tertembak tepat beberapa sentimeter melewati kupingnya. Sementara Lancer langsung siaga. Sementara orang-orang yang berada disana panik dan berlarian ke segala arah.

"L—Lancer-san... yang tadi itu." Dari depan Gil muncul seorang pemuda berambut kemerahan dengan seorang pemuda kekar yang berdiri tanpa suara.

"Ahahaha~" Ia menyeringai dan mendekati Gil, sementara Lancer sudah siap dengan tombak peraknya. Dan Gil refleks bersembunyi di balik punggung Lancer.

"Bisa aku tanya apa maumu?" Tanyanya dengan senyum ramah.

"Ahahaha—" kembali hanya tawa yang keluar dari mulut pemuda itu.

"Tidak, yang aku lakukan hanyalah memberi sapaan kecil padanya." Ia menunjuk Gil kini menggenggam erat pakaian Lancer, ia melihat pemuda itu dengan senyum yang tak bisa diartikan.

"Senang bisa bertemu denganmu, Raja Para Pahlawan. Namaku Kisaragi Joe, dan aku adalah master dari Berseker."

Crystal kini sedang menunggu seseorang di sebuah cafe di Fuyuki, sesekali ia melihat handphonenya, sampai akhirnya seorang pemuda datang menghampirinya.

"Oh, Akhirnya kau datang juga. Kenapa kau tiba-tiba menghubungiku seperti itu..." Ia menatap pemuda itu, kini ia menatap Crystal dengan tatapan kecut.

"Emiya Teitoku."

Teitoku hanya terdiam sembari duduk di kursi depan Crystal, kedua servant merekapun saling berhadapan.

"Ini tentang yang kau bicarakan kemarin—tadi aku baru saja bertemu dengan Tsumugi." Ekspresi Crystal berubah serius mendengar kata-kata Teitoku.

"Ternyata, dugaan terburukmu benar Crystal...:" Lanjut Teitoku, Crystal mendecak kesal—namun ia kembali tenang.

"Lebih baik kita bicarakan ini dengan Karin juga—tunggu aku akan menghubungi Karin—kau belum memesan minuman atau makanan kan? Pesanlah.. aku yang bayar." Tawar Crystal, Teitoku menganggukkan kepalanya sejenak sebelum akhirnya memesan minuman.

"Ah, Karin-chan. Ini aku..."

"Huh?" Gil menatap bingung Kisaragi, Lancerpun begitu. Ia menurunkan tombaknya dan bertanya pada Kisaragi.

"Apa maksudmu? Raja Para Pahlawan?"

"Ahahahahaha!!! Ya~ Raja Para Pahlawan ya Raja Para Pahlawan. Kau pasti tahu bukan? Ahahahahahaha!" Jawaban gila keluar dari bibir Kisaragi. Lancer masih menatapnya bingung.

Tentu saja ia tahu siapa yang dimaksud dengan Raja Para Pahlawan—ia adalah sahabatnya, Gilgamesh. Tapi—

"T—tapi, aku bukan Raja—apalagi Raja dari para pahlawan." Elak Gil, anak berambut emas itu menatap Kisaragi takut.

"Oh kasihan sekali kau—bahkan kau tidak mengingat siapa kau yang sebanarnya, aku kasihan. Sangat kasihan padamu, wahai Raja Para Pahlawan." Kisaragi menatap miris Gil, sementara yang ditatap hanya bisa terdiam.

"Aku..."

"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan namun bisakah kau berhenti berkata yang tidak-tidak, Gil bukanlah Raja Para Pahlawan. Setidaknya aku bisa memastikannya." Kata Lancer, namun Kisaragi kembali tertawa renyah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Lancer.

"Pastikan? Kau sendiri saja ragu pada kata-katamu! Ahahaha, kau pikir aku tidak tahu? Jauh di lubuk hatimu kau pasti ragu—ragu akan eksistensi anak yang berdiri di belakangmu itu!"

"Itu tidak benar—aku sama sekali tidak meragukan Gil."

"Hoo—kurasa kali ini kau sedikit serius, namun apa kau yakin itu. Bagaimana kalau kita buktikan." Ia mundur, lalu pria berbadan kekar itu menggantikkannya.

"Kihihihihihi."

Gil berjalan mundur kebelakang.

Itu adalah sebuah tantangan bertarung.

Dan Gil tidak tahu harus berbuat apa...

Namun apakah itu benar?

TBC

Maaf Chapter ini sangat menyedihkan pendeknya, aku usahain chapter depan akan lebih panjang. Aku juga tumben ngebut nulis karena semua gameku pada maintenance #plak.

Kalau begitu sampai jumpa chapter depan ya! Kemungkinan bakal Full Lancer vs Berseker aku juga tidak tahu ya! Aku ndak bisa bikin adegan bertarung.