"Hyung! Mau tahu rahasiaku?"

"Ngga-"

"AKU MENCINTAIMU!"

:

:

"… Heh?"

:

:


My Secret

.

A BTS Fanfic

.

MinYoon/YoonMin

.

©Siwgr3

.

Main Cast: Park Jimin/Min Yoongi

.

Other Cast: BTS Members, Yoonji, Other

.

Pair: MinYoon/YoonMin, Bott!Suga, Uke!Suga

.

Genre: Romance, Fluffy (Hopefuly), slow burn, angst, hurt/comfort

.

Rated: T

.

Warn:Producer!Yoongi, Colleger!Jimin, Crossdress at the later chapter, Full of cursing, Time Skip(5 years), newbie author


Kehidupan Min Jungkook berubah sejak saat itu.

Malam itu ketika hyungnya pulang, Yoongi hanya tersenyum padanya.

Berkata,

"Aku lelah."

Dan langsung masuk ke kamarnya, tak menunggu balasan Jungkook.

Esoknya, dan esoknya lagi, Yoongi hyungnya menjadi lebih tertutup dan muram.

Hari demi hari.

Hyungnya semakin menjauh.

Sejak hari itu pula, Min Jungkook kembali sendirian di kampusnya.

Park Jimin tidak bicara padanya.

Melihatpun tidak.

Park Jimin kembali berbaur dengan teman kelas lainnya.

Dan Min Jungkook kembali ke kebiasaannya dulu, sebelum Park Jimin datang mengganggu hidupnya.

Di perpustakaan, membaca buku.

… Dia kesepian.

:

:

"Hyung."

Yoongi tak membalas panggilan Namjoon. Matanya masih terpaku pada layar komputernya.

Namjoon menghembuskan napasnya, tampak sekali kekhawatiran di wajahnya. "Hyung…"

"… Mm…"

Namjoon melangkah mendekati sang hyung yang masih sibuk membuat lagu, lalu menepuk pelan bahunya. "… Sudah tengah malam, hyung."

"… Terus…?"

Namjoon beralih meremas bahu Yoongi, kesal dengan jawaban hyungnya. "Kau sudah dua hari tidak pulang, hyung."

Yoongi menepis tangan Namjoon di bahunya, tak berkata apapun, kembali fokus pada pekerjaannya.

Hoseok yang sedari tadi memperhatikan dari sofa dengan khawatir, akhirnya angkat bicara.

"Kau tidak menyentuh makananmu yang kubelikan tadi, hyung. Kau tidak lapar? Makanlah dulu, setelah itu kau benar-benar harus pulang, hyung. Yoonji dan Jungkookie terus-terusan menghubungiku. Mereka sangat khawatir…"

Yoongi tetap tak merespon.

"… Sudah cukup."

Sejurus setelah bisikan Namjoon itu, namja tinggi itu membalik kursi Yoongi kasar sampai menghadapnya, kemudian menarik paksa Yoongi untuk berdiri dari kursinya.

"Yak! Lepaskan aku, bocah!" marah Yoongi sambil berusaha menarik tangannya.

"Kau harus pulang, hyung!" kata Namjoon, rahangnya mengeras, pertanda dia marah.

"Kau pikir kau siapa, hah?!" bentak Yoongi sambil masih berontak. "LEPAS!"

Namjoon menggigit bibirnya. "… CUKUP, HYUNG!"

BUAGH

Yoongi langsung jatuh terduduk di lantai begitu mendapat bogem mentah Namjoon di pipinya. Tak terima, dia segera berdiri dan balas memukul Namjoon, membuat sahabatnya itu menabrak dinding.

Namjoon dengan sigap kembali membalas pukulan Yoongi.

Walau tubuh Yoongi lebih kecil daripada Namjoon, tetapi dia tetap seorang namja yang punya kekuatan!

"BRENGSEK!"

Sejurus kemudian hanya terdengar bunyi pukulan yang membahana.

Hoseok yang tadinya terpaku di tempatnya, sontak berdiri menghampiri kedua sahabatnya itu. "YAK! HENTIKAN!" dia berusaha menahan Namjoon yang hendak kembali menghajar Yoongi.

Tapi Namjoon mendorongnya kuat sekali sampai dia terjatuh, dan tanpa basa-basi kembali menghajar Yoongi yang mulai kepayahan.

Rasa lapar dan kantuk yang sedari tadi Yoongi tahan, segera tumpah menghancurkan kesadarannya. Pukulannya semakin melemah, sementara pandangannya mengabur.

"NAMJOON!"

BUAGH

Satu hantaman Namjoon di perutnya membuat Yoongi jatuh tersungkur di lantai.

"Uhuk…" Yoongi memegangi perutnya yang terasa nyilu. Dia mendongak, berniat memaki Namjoon, tetapi lidahnya seketika terasa kelu saat melihat ekspresi Namjoon.

… Ini pertama kalinya Yoongi melihat wajah Namjoon seperti itu.

Kabur, tapi Yoongi bisa melihatnya.

Marah, sedih, tapi yang paling kentara,

Kecewa.

"Kenapa kau begini, hyung…?" Namjoon mengepalkan tangannya. "Kau bukan hyung yang kukenal. Hyungku bukan pengecut yang melarikan diri dari kenyataan. Bersikap sok kuat begitu. Aku benci melihatmu seperti ini, hyung."

Yoongi masih menatapnya, tak bersuara.

"Kalau kau mau menangis, menangislah. Kalau kau kecewa, jangan ditahan. Kalau kau ingin memukul seseorang, kau bisa memukulku, hyung. Jangan sembunyikan apapun dariku. Dari Hobi. Kami di sini, hyung."

"…"

Namjoon menggeleng. "… Mungkin kami hanya bawahan untukmu, hyung… tapi bagiku, kau adalah sahabat sekaligus hyung terbaik yang pernah kumiliki."

"… Siapa bilang kalian bawahanku?" Yoongi membuang muka. "… Bocah bodoh."

Namjoon tetap pada tempatnya berdiri, masih menatap kosong Yoongi.

Yoongi perlahan berusaha berdiri –dibantu oleh Hoseok. Setelah menyeimbangkan tubuhnya, Yoongi mendongak menatap Namjoon.

Dan tanpa basa-basi langsung memukulnya tepat di wajah.

Namjoon yang sama sekali tidak siap, langsung tersentak ke belakang.

Namjoon mengaduh kecil, sebelum kembali menatap Yoongi.

Yoongi menatap kosong ke arah lantai, mulutnya terbuka, tapi tak ada suara. Sepertinya memikirkan sesuatu.

"… Aku gay."

Hening.

Yoongi tersenyum meremehkan. "… Aku gay, Joon ah…"

Perlahan pertahanannya runtuh.

"Aku kacau, Joon ah…"

Semua yang ditahannya beberapa hari ini seakan tumpah begitu saja.

"Aku bodoh… bodoh…"

Yoongi benci menangis di depan orang lain.

"… Aku benci diriku sendiri…"

Tapi di sinilah dia, menangis seperti bocah cengeng.

"… Aku muak, Joon ah…"

Yoongi menatap Namjoon, masih menangis.

"Aku mengatakan banyak hal jahat pada orang yang kucintai." Suaranya bergetar, tapi dia masih berusaha tegar. "Orang yang selama ini begitu cerah, hangat… dia… dia membuatku lebih bahagia, Joon ah…"

Namjoon hanya membisu, begitu juga Hoseok di samping Yoongi.

"Aku membuatnya… marah… kh… aku…" Yoongi mengepalkan tangannya, berusaha menjaga suaranya agar tidak berantakan.

Tapi gagal.

"… Dia membenciku, Joon ah… hiks… aku membuatnya… membenciku… aku bodoh… hiks… bodoh…"

Min Yoongi benar-benar rapuh.

Dirinya yang selama ini dia sembunyikan bahkan dari Jungkook dan Yoonji sekalipun.

Kini dia pertontonkan pada kedua sahabatnya.

Yoongi benar-benar merasa malu pada dirinya sendiri.

Terutama karena dia gagal mengontrol emosinya.

Yang ada di kepalanya hanya senyuman Jimin.

Sejak hari itu.

Sejak hari dimana Jimin meninggalkannya sendirian di kedai crepes itu.

Sejak hari Yoongi menyakiti Jimin dengan kata-katanya.

Kebohongannya.

Kenangan manis dengan Jimin seakan lenyap tak bersisa.

Suara lembutnya yang dulu selalu menemani tidur Yoongi, kini sudah masa lalu.

… Rasanya baru kemarin Jimin menciumnya.

Mengatakan bahwa dia mencintai Yoongi.

… Ani.

"… Jimin mencintai Yoonji… bukan aku… hiks… aku tidak- kh… aku tidak pernah ada… aku hanya pengganti- hiks… Yoonji… aku merindukannya, Joon ah…" tangis Yoongi semakin menjadi. "… Aku merindukannya…"

Yoongi terus meracau.

Dia tidak bisa berhenti.

"Aku mau dia menyanyi lagi, Joon ah… untukku… hanya untukku… aku ingin mendengar –kh… suaranya… hiks… aku mau pelukannya… ciumannya… hiks… aku benci perasaan ini, Joon ah…"

"…"

"Aku bukan yeoja… bu-kan… hiks… tapi aku ingin… dicintai seperti itu, Joon ah… aku ingin Jimin… aku merindukannya… aku ingin… mendengar suaranya lagi…"

Hoseok perlahan maju dan memeluk erat hyung kecilnya yang gemetaran.

Yoongi tetap tak berhenti.

"Aku bahkan- kh… mengatainya jelek… dia membenciku… aku menyuruhnya- hiks… untuk mati- d-dan… aku bilang… tidak mau dia ada d-di dunia ini… aku mengerikan… aku benar-benar kotor…"

"Hyung…" gumam Namjoon, merasa perih di hatinya melihat Yoongi seperti ini.

"H-harusnya dia yang memakiku- hiks… dia harus memukulku… a-aku yang harusnya mati-"

"HYUNG!"

Yoongi tersentak di tempatnya berdiri, langsung menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah berantakan dengan air mata.

Namjoon perlahan maju dan ikut memeluk Yoongi erat.

"Gwenchana, hyung…" bisik Namjoon lembut. "Memang tak semua cerita cinta berakhir bahagia…"

Yoongi masih sesenggukan.

"Tapi bukan berarti kau langsung menyerah, hyung… masih ada banyak cinta di sekelilingmu… kau akan bertemu dengannya, cepat atau lambat… kau akan menemukan cinta sejatimu, hyung…" bisik Namjoon sambil mengelus punggung Yoongi.

Yoongi menggigit bibirnya. "… Aku… mau Jimin…"

Hoseok perlahan melepas pelukannya –mengundang perhatian Yoongi. "Jika kalian memang berjodoh, kau pasti akan bersama dengannya lagi, hyung." Hoseok tersenyum menenangkan. Tangannya terangkat mengusap air mata di pipi Yoongi. "Apapun yang terjadi, kau pasti akan dicintai, hyung. Oleh seseorang. Yang sempurna. Yang mampu menjadikanmu satu-satunya dalam hidupnya. Kebahagiaannya. Dunianya. Kau bisa pegang kata-kataku, hyung."

Yoongi menatapnya, mulutnya terbuka, sepertinya kehabisan kata-kata.

Tapi sebuah senyuman perlahan mengembang di wajahnya.

"… Gomawo, Hobi…"

Hoseok tersenyum manis.

"… Dan… kalian bukan bawahanku, bodoh…" Yoongi menarik Hoseok untuk kembali memeluknya.

"Kalian dongsaengku yang sedikit bodoh dan kikuk… gomawo…"

Namjoon tersenyum sambil mengeratkan pelukannya, sementara Hoseok cengengesan.

Mereka terdiam begitu untuk beberapa lama, sampai suara Namjoon memecahkannya. "… Bagaimana perasaanmu sekarang, hyung…?"

Yoongi tersenyum, menengadah untuk memandang langit-langit studio.

Merasa nyaman dalam pelukan kedua dongsaengnya.

"… Kurasa aku sudah mengerti." Suaranya masih serak. "Mungkin aku dan Jimin memang tidak bisa bersama. Dan… aku harus menerimanya, 'kan…?"

Hoseok dan Namjoon membisu.

"… Aku masih harus melanjutkan hidup, kan…?" Yoongi tertawa.

Tapi terdengar menyakitkan di telinga Namjoon dan Hoseok.

"Aku tidak akan pernah bisa melupakannya… tapi aku tak bisa memaksanya… lagipula aku sudah menghancurkan hubungan kami sepenuhnya." Yoongi tersenyum pahit. "Aku sudah tidak punya muka untuk bertemu dengannya."

"… Hyung…"

"Aniya. Aku merasa sudah lebih baik sekarang. Sudah lebih lega. Gomawo."

Hoseok dan Namjoon perlahan melepas pelukannya, tersenyum hangat pada Yoongi.

Yoongi balas memberi senyuman manisnya.

"Kalian tidak jijik?"

Namjoon dan Hoseok terkekeh.

"Jika kami jijik, apa kami akan memelukmu, hyung?" ujar Namjoon geli.

Yoongi mengedikkan bahunya. "Kukira kalian lupa."

Hoseok kembali memeluk erat Yoongi, menggoyang-goyangkan tubuh mereka dengan gemas.

Yoongi tersenyum kecil saat mendapat perlakukan begitu. Apalagi Namjoon kembali mengusap-usap kepalanya sambil tersenyum hangat.

… Dia merasa jauh lebih baik sekarang.

BRAK BRAK

Ketiganya tersentak kaget saat mendengar bunyi gebrakan di pintu studio mereka.

"Yoongi hyung?! Tolong buka pintunya!"

"Jungkookie?" Hoseok melepas pelukannya dan buru-buru berlari ke arah pintu untuk membukanya.

Tepat ketika Hoseok membuka pintu, Yoongi bertemu mata dengan Jungkook yang tampak berantakan.

Sangat khawatir dan ketakutan.

"Y-Yoongi hyung…" Jungkook melangkah masuk, tampak sangat sedih melihat keadaan Yoongi. "… Kau menangis…?"

Yoongi tak bisa berkata apa-apa. Dia benar-benar bingung bagaimana cara menghadapi Jungkook.

Jadi dia tetap berdiri di sana dalam diam, mengalihkan pandangannya ke lantai.

Jungkook semakin terluka.

"Hyung… kenapa kau menghindariku?"

Yoongi tersentak. Dia mendongak, dan menemukan Jungkook sudah menangis.

"M-maafkan aku, hyung… ugh… ini semua salah… ku…" Jungkook mengepalkan tangannya. "Aku bodoh, hyung… maafkan- aku…"

Yoongi benci melihatnya.

Min Jungkook yang selama ini begitu kuat, kini menangis di hadapannya seperti bocah cengeng.

"K-kau memang pantas membenciku, hyung… t-tapi kumohon… maafkan aku… kh… maaf…"

Yoongi sudah tidak tahan lagi. Dia melangkah mendekati Jungkook dan langsung memeluknya erat.

"… Ya, kau memang bodoh, bocah."

Jungkook tetap menangis.

"… Tapi kalau kau tidak bodoh, maka aku tidak akan pernah bertemu dengan Jimin."

Suara Yoongi masih serak.

… Tapi dia bahagia.

Jungkook sendiri kebingungan.

"Karena kau, aku bisa… merasa lebih bahagia dalam hidupku, Kook ah… uljimma."

Jungkook menggigit bibirnya. "… Tapi kau menangis…"

"Ya, memang." Yoongi menepuk-nepuk punggung Jungkook. "Itu karena aku terluka."

Jungkook menunduk, semakin menyalahkan dirinya.

"Tapi setelah kupikir lagi… aku tidak akan mengganti hari pertama aku bertemu Jimin dengan apapun juga." Yoongi tersenyum. "… Karena aku bahagia bisa bersama dengannya. … Walau singkat."

Jungkook tak berkata apa-apa lagi.

"… Kau kira aku marah padamu, hm…" Yoongi terkekeh. "Satu-satunya orang yang membuatku marah di ruangan ini ya aku sendiri."

"… Hyung…"

"Gomawo Kookieya."

-MY-

Park Jimin kembali pada hidupnya yang dulu.

Berpesta di sana sini.

Menemui yeoja-yeoja cantik.

Memacari siapapun yang menarik baginya.

Kembali menghabiskan masa mudanya dengan sembrono.

Tapi kau tak bisa menyalahkannya.

Dia kalut.

Dia bingung.

Dia marah.

Dia ditipu.

Dipermainkan.

Dia bahkan sampai mencium namja.

Jimin bersumpah dia tidak akan berhubungan lagi dengan Jungkook ataupun Yoongi.

Dan itulah yang dia lakukan.

Menjauhi Jungkook.

Menghapus kontak Yoongi.

Semuanya lancar. Semuanya kembali seperti semula.

Tapi satu pesan merubahnya.


YoonJiMon: "Oppa! Ini Yoonji!^^ kau ada waktu? Ayo bertemu!"


:

:

Di sinilah Jimin, sebuah café tempat dia janjian dengan Yoonji.

… Yoonji.

Yeoja yang sangat Jimin cintai.

Mampu merubah dunia Jimin.

Yang paling bisa membahagiakannya.

Kini dia akan bertemu yang asli.

Bukan yang palsu.

… Jadi harusnya dia senang, 'kan…?

"Oppa! Maaf aku terlambat!"

Jimin menoleh, dan menemukan pujaan hatinya sedang tersenyum padanya.

Yoonji tampak cantik sekali dengan kaos merah muda dan rok a-line hitamnya.

… Jimin harusnya terpesona 'kan…?

"Oppa?"

Jimin tersadar. Dia buru-buru tersenyum pada Yoonji yang sudah duduk di hadapannya. "N-ne! gwenchana! Oppa juga baru datang kok!"

Yoonji tersenyum manis. "Kau sudah pesan, oppa?"

"Ah belum-"

"Kalau begitu biar kupesankan! Hitung-hitung karena aku terlambat! Kau mau apa?"

"Ne?! biar aku saja-"

"Aku tidak menerima penolakan!" Yoonji menggembungkan pipinya lucu.

Jimin akhirnya menyerah. "Cola dan crepes keju…"

"Oke~!" Yoonji berdiri kemudian melangkah ke kasir.

Jimin memandangi yeoja itu dari belakang.

Yoonji sungguh cantik. Baik. Perhatian. Tidak jaim.

Dia berbeda dari yeoja lainnya.

Tepat seperti tebakan Jimin.

… Tapi kenapa Jimin masih merasa kosong…?

'… Ah… pasti gara-gara aku marah… pada Yoongi hyung…' Jimin mengalihkan pandangannya memandang meja. "… Mereka mirip sekali…" lirihnya.

Setelah itu Yoonji kembali ke meja mereka.

Mereka mulai ngobrol, hanya hal-hal remeh. Sampai makanan mereka datang.

"Maaf ya oppa, aku memanggilmu mendadak begini." Yoonji tertawa kecil.

Jimin tersenyum. "Aniya, gwenchana. Apa sih yang nggak buat Yoonji~?"

Tidak bisa menghilangkan kebiasaan ngardusnya.

Yoonji nyengir. "Oppa bisa saja~!"

Jimin tertegun, walau bibirnya masih tersenyum.

… Jika yang di depannya ini 'Yoonji' palsu, pasti Jimin sudah diberi tatapan jijik.

… Memang berbeda sekali…

Jimin terkesiap. Aniya! Park Jimin! Hentikan itu! Yang itu palsu! Yang asli ya yang di depanmu ini! Yeoja cantik yang baik dan lembut! Bukan namja kasar yang bermulut kotor!


"… Apa oppaku bisa dicintai…?"


Seketika, Jimin merasa kosong.


"… Kau pasti akan membenciku, Park Jimin…."


Wajah Yoongi terngiang.

Malam itu.


"Kau akan membenciku."


Ekspresi terluka Yoongi, walau dia tersenyum.


"… Aku tahu pada akhirnya kau akan membenciku."


Matanya malam itu berkaca-kaca, memancarkan sakit yang begitu kentara.


"Karena aku palsu."


Harusnya dia tahu.

Harusnya malam itu dia tahu.

Itu bukan Yoonji.

Kenapa Jimin tidak pernah menyadarinya?

Yoonji yang pertama kali dia temui adalah yeoja manis yang lembut juga murah senyum.

Bukan yeoja kasar, jutek, bermulut kotor, serampangan-


"… Saranghae…"


… Jimin tidak mengerti kenapa dia merasa seperti ini…

Dia marah.

Dia ingin memaki Yoongi.

Harusnya dia memaki Yoongi waktu itu.

Di kedai itu.

Harusnya dia memukulnya.

Mempermalukannya.

Menghinanya.

Mengatakan hal buruk padanya.

Meludahinya.

Mengatakan betapa menjijikan perbuatan Yoongi itu.

Membantahnya saat dia mengatai Jimin.

Membungkamnya saat dia terus menerus mengeluarkan hinaan-hinaan itu.

… Harusnya.

Tapi apa yang dia lakukan…?

Melangkah pergi begitu saja.

Apa yang dia rasakan…?

Kosong.

Dia malah melampiaskan semuanya pada Jungkook.

"Oppaa?"

Jimin tersadar dari lamunannya. "N-ne? mian oppa melamun!"

Yoonji tersenyum. "Gwenchana~! Aku tahu kau pasti lelah karena tugas kampusmu!"

Jimin memaksakan diri tersenyum.

"Ah, tapi oppa… boleh aku tanya sesuatu padamu…?" Yoonji memelankan suaranya, menatap Jimin penuh serius.

"Ne?" sahut Jimin bingung.

"Kau dekat dengan Kookie oppa 'kan? Apa dia punya pacar?"

Jimin terdiam.

Sama sekali tak menyangka Yoonji akan menanyakan itu.

"… Setahuku… tidak ada…"

Senyuman di wajah Yoonji mengembang. "Jinjja?!" soraknya, kelihatan bahagia sekali. "… Tapi yeoja yang kulihat waktu itu siapa…?" gumamnya pada dirinya sendiri.

Jimin memilih untuk memandangi colanya. Tak tahu harus berkata apa.

Tak tahu apa dia harus memberitahu Yoonji soal kelakukan kedua oppanya.

Bahwa salah satu oppanya menyamar jadi dirinya hanya untuk mempermainkan Jimin.

Menghabiskan waktu Jimin.

… Harusnya Jimin marah.

… Tapi dia hanya… merasa kosong.

"Oppa~! Bagaimana pendapatmu soal Yoongi oppa~?"

Jimin melotot, jelas kaget dengan pertanyaan mendadak Yoonji. "N-ne?!"

"Kau sudah bertemu dengannya 'kan?" Tanya Yoonji bingung.

Jimin memutar matanya dalam hati. Ya, jelas sudah. Berkali-kali malah.

Jimin berpikir sejenak, sebelum menjawab. "… Sepertinya dia membenciku…"

Yoonji mengernyit. "Oh? Kenapa kau bilang begitu?"

Jimin tersenyum kecil. "… Aku hanya merasa begitu…"

Yoonji menatapnya prihatin. "Mian, Jimin oppa… Yoongi oppa memang tampak dingin, tapi sebenarnya dia sangat lembut dan baik!"

Jimin kembali memutar matanya dalam hati. Yeah, right. Lembut dan baik. Lol. Lucu sekali.

"Yoongi oppa mungkin memberimu tatapan-tatapan dingin dan penuh jijik seakan-akan kamu ini sampah yang tak berguna."

Jimin tertohok.

"Tapi dia selalu perhatian pada orang yang disayanginya!"

Jimin kembali melamun.

Kencan keempat mereka.


FLASHBACK: ON


"Yak, Park Jimin, kau yakin ini aman?"

Jimin sudah memberi jempolnya kepada 'Yoonji'. "Tenang saja, Yoonjiya~! Lihat ya!"

Jimin yang sudah merencanakan atraksi skateboard secara matang-matang demi memukau Yoonji, percaya bahwa dia akan berhasil melakukannya.

Menyusuri taman dan melakukan beberapa trik di atas pegangan tangga dan pinggiran kolam.

… Tak akan sulit 'kan?

"Lihat!" Jimin mulai memacu skateboardnya diikuti tatapan Yoonji di belakangnya. Begitu sampai di depan pegangan tangga, Jimin melompat dan bermaksud melakukan trik putaran di udara, tapi keseimbangannya goyah dan-

BRAK

BRUK

BRUAGH

"… Ouch…"

Jimin tersungkur di bawah tangga dengan tidak elitnya.

"Yak Park Jimin!"

Dia bisa mendengar suara Yoonji yang berlari menujunya.

Jimin gagal lagi. Padahal dia sudah latihan. Dia sudah berusaha.

Tapi dia gagal lagi.

Jimin memandang tanah dengan sedih. "Mian Yoonjiya… aku gagal lagi-"

"Yak! Lupakan itu! Bagaimana keadaanmu?!" Yoonji langsung berlutut di samping Jimin sambil memeriksa wajah dan tubuh Jimin. "Apa kau terluka?!" tanyanya panik.

Jimin hanya memandanginya. Wajah panik sekaligus khawatir Yoonji.

"… Manis."

PLAK

"AUH!"

"BERHENTI LAKUKAN HAL BODOH, PABBO!" murka Yoonji setelah menggamparnya.

Jimin memegangi pipinya yang nyilu. "A-aku 'kan hanya ingin membuatmu terkesaan~…" rengeknya. "Aku ingin terlihat keren…"

Yoonji mendengus. Dia diam sejenak, sebelum mengangkat tangannya dan meletakannya di depan mata Jimin, menutupi pandangannya.

"… Yoonji?"

Jimin tidak bisa melihat wajah Yoonji.

Tapi tangan Yoonji terasa hangat.

"… Kau sudah keren, bodoh… kau… hanya perlu tersenyum saja… itu sudah cukup… untukku…"

Jimin perlahan tersenyum lebar mendengar gumaman pelan itu.

Yoonji membuatnya jatuh cinta lagi hari ini.

"… Gomawo, Yoonjiya…"


FLASHBACK: OFF


… Jika Yoongi memang membencinya…

… Kenapa dia seperti itu…?

Padahal harusnya dia senang 'kan, karena Jimin jatuh.

… Aniya. pasti karena dia ingin berpura-pura jadi Yoonji. Mau membuat Jimin tergila-gila padanya agar saat dia memutuskan Jimin akan lebih memuaskan.

… Ya. Pasti itu.

"Yoongi oppa sangat manis." Yoonji menerawang dengan senyuman di wajahnya. "Bersikap sok kuat, padahal dia begitu rapuh di dalam."

Jimin memandanginya.

"… Dia juga sangat cocok dengan Kookie oppa…"

Jimin mengernyit saat Yoonji berbisik begitu.

"Ne? Kau bilang apa tadi?"

Yoonji hanya nyengir. "Aniya~! lupakan saja!"

Kemudian dia mulai menyantap crepesnya.

Meninggalkan Jimin yang kembali melamun.

Yoongi… manis…?

… Tentu saja manis… wajahnya 'kan sama dengan Yoonji.

… Tapi Yoongi namja.

Jimin tidak mengerti kenapa seperti ada beban berat di hatinya.

Seperti ada sesuatu yang terus bertanya tanpa henti.

Tapi Jimin tidak punya jawabannya.

:

:

Ketika pulang, Jimin bersikeras mengantar Yoonji kembali ke rumahnya. Walau awalnya menolak, akhirnya Yoonji mengiyakan.

Perjalanan mereka menuju rumah Jimin dipenuhi musik yang Jimin putar. Sesekali Yoonji bernyanyi (walau suaranya ancur) dan melontarkan candaan.

Jimin hanya tertawa sebagai respon, dan sesekali ikut bernyanyi.

Yoonji benar-benar yeoja yang menyenangkan.

Ketika sampai, Jimin turun dari mobilnya dan mengantar Yoonji sampai depan rumah.

"Gomawo Jimin oppa~! Karena sudah menemaniku hari ini, juga karena sudah repot-repot mengantarku~!"

Jimin membalas senyuman ceria Yoonji. "Gwenchana~! Aku menikmatinya~!"

"Kuharap kita bisa melakukannya lagi lain kali~! Dan- oh! Yoongi oppa!"

Tubuh Jimin sontak membeku mendengar nama itu.

"Selamat datang, oppa~! Tumben kau pulang cepat?"

Sesungguhnya Jimin ingin langsung cabut dari situ, tapi entah kenapa tubuhnya bergerak sendiri menoleh ke arah Yoongi.

Namja itu di sana. Tampak sama terkejutnya dengan Jimin.

Mereka bertatapan sejenak, sebelum Yoongi memutuskannya.

"Ah… ne." Yoongi melangkah, bermaksud masuk ke dalam rumah.

Tapi Yoonji menahannya. "Yak oppa! Kok kamu tidak sopan begitu sih?"

Yoongi menggigit bibirnya. Dia akhirnya berbalik menghadap Jimin yang masih menatapnya datar.

"… Annyeong." Lirihnya, wajahnya terlihat tegang dan gelisah.

"…" Jimin tak membalas.

Masih menatapnya tepat di kedua maniknya.

Yoongi sepertinya merasa tak nyaman, terbukti dia langsung mengalihkan pandangannya ke samping.

"Hari ini aku nongkrong dengan Jimin oppa! Dia baik sekali~!" lapor Yoonji gembira.

Yoongi hanya ber 'oh…' kecil.

"Iya! Dia namja yang baik! Jadi jangan bersikap dingin lagi padanya, ya? Ya? Ya?" rengek Yoonji manis.

Yoongi melirik Jimin sekilas, sebelum menjatuhkan pandangannya ke tanah. "… Arraseo."

Yoonji cemberut. "Mukamu kok datar sekali oppa? Ayo senyuuum!"

Yoongi ingin mendamprat Yoonji, seandainya dia bukan putri kecilnya yang dia cintai.

Percayalah.

Dia benar-benar ingin.

"…"

Akhirnya Yoongi mendongak menatap Jimin.

Dia harus berani.

"… Gomawo, Jiminsshi... karena sudah menemani… Yoonji…"

Dia tersenyum.

Dan Jimin lagi-lagi hanya menatapnya datar.

… Yoongi merasa terluka. Tapi memangnya dimana letak kesalahan Jimin?

Yoongi pantas mendapatkannya.

"Ne, bukan masalah… hyungnim."

Yoongi kembali menggigit bibirnya.

"… Oppa masuk dulu."

:

:

Jimin memandangi langit-langit kamarnya. Sesekali dia berguling-guling di ranjangnya.

Rasanya ada sesuatu yang begitu mengganjal di hatinya.

Tapi Jimin tidak tahu apa.

LINE!

Tubuh Jimin sedikit tersentak. Dia menoleh ke samping, memandangi ponselnya. Tidak memiliki niat untuk mengeceknya.

Paling-paling dari mantan-mantannya.

Jadi Jimin hanya mendiamkannya.

LINE!

LINE!

LINE!

Oke, sudah cukup.

Dengan gusar, Jimin menyambar ponselnya. Siap memarahi siapa saja yang berani mengganggu malamnya. Tapi gerakannya terhenti saat menemukan siapa pelakunya.


JungKookMinXX: "Maafkan aku"

JungKookMinXX: "Ini semua salahku, bukan Yoongi hyung. Aku memaksanya. Awalnya dia tidak mau"

JungKookMinXX: "Aku tidak pintar mengetik pesan, tapi aku bersungguh-sungguh minta maaf"

JungKookMinXX: "Semoga malammu menyenangkan. Aku juga mau bilang, Yoongi hyung sangat menyukai suaramu"


Jimin masih memandangi pesan dari Jungkook itu. Dia kira segampang itu?

Jimin bahkan sampai mencium namja!

Jimin melempar ponselnya dengan kesal.

Jimin tidak akan memaafkan Jungkook! apapun yang terjadi!

"… Hahhh…" Jimin memejamkan matanya.

Dan dia membencinya.

Karena yang terbayang hanyalah Min Yoongi.

"… Dia suka suaraku, katanya…?" Jimin tertawa meremehkan. "… Penipu."

Jimin membuka matanya, memandang langit-langit.

LINE!

Jimin menghembuskan napasnya kasar, sebelum meraih ponselnya.


JungKookMinXX: "Dia benar-benar menyukaimu"


Jimin benar-benar merasa sakit hati dipermainkan begini.


JiminJiminJam: "Lucu sekali, Jungkooksshi"

JungKookMinXX: "Oh! Akhirnya dibalas juga"


Sial, Jimin kena jebakan.


JungKookMinXX: "Kau benar-benar akan mendiamkanku lagi?"


Jimin tak membalas.


JungKookMinXX: "Kau playboy. Yeodongsaengku anak SMA yang cantik baik dan polos. Kau kira aku akan membiarkanmu memacarinya?"

JungKookMinXX: "Sinting"


Sialan bocah ini.


JiminJiminJam: "Kau bisa menolakku!"

JungKookMinXX: "Sudah, bantet. Kaunya yang emang kepala ngotot"


Seandainya bisa, Jimin pasti sudah melancarkan serangan cekik onlinenya.


JungKookMinXX: "Yoongi hyung juga awalnya tidak tahu soal ini, tapi kubujuk-bujuk sampai mau"

JungKookMinXX: "Dia juga awalnya membencimu dengan sepenuh jiwanya"


Jimin memicingkan matanya.


JungKookMinXX: "Tapi lama kelamaan, dia jadi menyukaimu"

JungKookMinXX: "Kau sudah membuatnya jadi gay. Tanggung jawab"


Jimin mendelik.


JiminJiminJam: "Bukan urusanku!"

JungKookMinXX: "Setelah kedatanganmu di rumah waktu itu (semata-mata untuk melampiaskan emosimu padaku) Yoongi hyung jadi lebih pendiam. Murung. Aku benci melihatnya seperti itu. Sampai aku menemukan dia menangis di studionya. Aku benar-benar membenci diriku sendiri karena sudah membuatnya seperti itu"


Jimin membaca kata demi kata dari Jungkook.

Dia merasa kosong.


JungKookMinXX: "Tapi Yoongi hyung bilang tidak apa-apa. Dia memang merasa sakit, tapi dia sudah merelakanmu. Dan dia bilang jika kau memang menginginkan Yoonji, dia akan merestuinya (walau aku tetap tak terima)"


"…"


JungKookMinXX: "Aku sudah mendengarnya dari Yoongi hyung, soal di kedai itu. Dia hanya sedang emosi. Dia sangat marah pada dirinya sendiri. Dia tak bermaksud mengeluarkan kata-kata itu. Tapi katanya, mungkin tanpa sadar dia melakukannya, karena memang ingin kau membencinya"

JungKookMinXX: "Dia bilang ini demi yang terbaik"


Kamar Jimin masih hening.

Sang pemilik masih sibuk dengan pikirannya.


JungKookMinXX: "Jadi… kita baikan…?"


Jimin memandangi pesan itu.

Tangannya kemudian bergerak sendiri.


JiminJiminJam: "Akan kupikirkan"


Setelah mengirim pesan tersebut, Jimin langsung mematikan ponselnya. Dia duduk lalu menatap dua lembar foto yang tergeletak di atas meja belajarnya.

Fotonya bersama Yoongi.

Foto yang masih belum bisa dia buang.

Entah kenapa.

Jimin bangkit, dan berjalan perlahan menuju meja belajarnya.

Ditatapnya kedua foto itu sejenak.

Yang satu fotonya sedang mengangkat dagu Yoongi dan membuat mereka bertatapan, sementara yang satunya Jimin berpose hati dengan jarinya.

Tangan Jimin perlahan mengambil salah satu foto dimana dia bertatapan dengan Yoongi.

Ditatapnya foto itu dengan kosong.

"… Memang harusnya dirobek saja."

-MY-

"… Jimin…"

Jimin menatap Yoongi yang berdiri di hadapannya. "… Mwo…?"

"… Saranghae."

Jimin masih memandangnya. Wajah manis Yoongi yang tampak sangat terluka.

Perlahan tubuh Jimin bergerak sendiri menghampiri Yoongi. Begitu sampai tepat di depannya, kedua tangan Jimin perlahan terangkat menangkup kedua pipi Yoongi.

Jimin tersenyum.

"Nado saranghae."

Perlahan dia mendekatkan wajah mereka berdua.

Dan satu kecupan itu perlahan berubah menjadi lumatan.

Dan tanpa bisa Jimin cegah, dia sudah mendorong Yoongi ke atas ranjang sebelum ikut merangkak di atasnya.

… Mereka melakukannya.

:

:

Jimin memandang langit-langit kamar.

Bunyi burung kecil di luar bisa dia dengar dengan jelas, sementara sinar mentari pagi meringsek masuk ke kamar Jimin.

Jimin masih melamun.

… Mimpi macam apa itu…?

Perlahan dia menunduk sementara tangannya menyibak selimutnya.

Dengan hati-hati dia mengangkat celana bagian depannya –dan

"… Shit…"


TBC


Halo!^_^

Tepat setelah menonton festa, saya mendadak sangat terinspirasi untuk melanjutkan FF ini. Salahkan Min Yoongi yang harus bersikap seimut itu.

Chapter ini 3700-an words, lol, saya sangat terinspirasi sampai ndak sadar kalo ngetiknya sudah sebanyak ini XD semoga gak pegel matanya ya!^_^" ini saya ngerjain setelah festa, ngebut pengen di post kemarin, tapi ternyata memerlukan lebih banyak waktu dari dugaan, jadi maaf kalau ada typo-typo yang bertebaran^_^"

Jadi chapt ini… ya masih ada angstnya (hehe) semoga bahasa saya tidak belepotan ya, semoga juga ngefeel, karena pas ngetik ini saya sakit hati bangetTwT

Happy 5th Anniversary buat BTS!^_^ (walau telat sehari) semoga bisa kembali terbang seperti tahun 2017;) dan juga selalu sehat dan kompak~!

Saya sudah membaca review yang masuk, maaf sudah membuat angst ^_^" chapt ini masih ada^_^" setelah ini langsung skip 5 tahun, awalnya mau langsung chapt ini, tapi saya keenakan ngetik XD

Dan saya bisa dipanggil Siw! Atau Siwgr juga boleh! Hehehe!^_^

Terima kasih karena sudah memberi review di karya saya!^_^

Selamat hari raya lebaran! Saya mohon maaf jika ada kesalahan kata atau tulisan! Semoga tahun ini berkah!^_^

Sekian dulu dari saya.

Terima kasih banyak!^_^

-Siwgr3_/14-06-2018/