Bleach © Tite Kubo (Mau pake gelar Eyang, Aki, Om, UncLe takut salah xixixi maklum belom kenalan)

My Stories © udah tau punya my, apa perlu disebutin sodara"nya.. I, me, mine, myself, aye halah..

Pairing : Ichiruki dkk,

Genre : sedikit Romance, sedikit Humor, and sedikit ga jelas ^^a

Rated : K menjurus T

Warning : AU, agak OC, OOC, typos, gaje


Note : "Italic" - isi pesan dalam secarik kertas. Italic - isi undangan.

Chap 7

Rukia PoV

"Astaga, lihat apa yang telah kau lakukan pada kamarku, Shiro? Tidak, aku tidak mau pakai yang itu bu, terlihat terlalu tua, shiro! Letakkan jam tangan itu, aku mendapatkannya dengan susah payah, Argghh.. sudah hentikan!" teriakku pada adik semata wayangku ini. Beginilah jadinya jika aku dan keluargaku berkumpul aku, ibu dan juga adik kesayanganku, minus ayahku tentu saja. Beliau sedang ada di perusahaan, lebih memilih untuk rapat di kantor dibandingkan harus ikut campur kekisruhan yang anak-anaknya lakukan.

Ibuku –Hisana Kuchiki, seorang ibu rumah tangga yang sangat mencintai keluarganya, saking cintanya pada putra putrinya ibu pendiam yang satu ini dijuluki ibu cerewet oleh kedua anaknya. Well, semua ibu akan bersikap yang sama bukan jika itu sudah menyangkut buah hatinya. Sebenarnya, ibuku tidak akan serepot ini jika ada sebuah acara pesta atau perjamuan makan malam, hanya saja jamuan kali ini terasa berbeda, apalagi kalau bukan karena ini adalah 'perjodohanku'.

Sedangkan adikku – Toushiro Kuchiki, seorang pemuda yang berkepribadian ganda – itu menurutku. Karena perilakunya di dalam dan di luar rumah jelas jauh berbeda. Jika kalian mengenal Toushiro sebagai teman, sahabat, tetangga, ataupun hanya sekedar melihatnya sekilas maka kalian akan berpendapat bahwa Toushiro adalah orang yang angkuh, pendiam, sombong, dingin, berpendirian teguh, tidak pedulian, mandiri, egois, sok kaya dan sok bangsawan, benar-benar khas keturunan Kuchiki. Tapi jika dia di rumah, dan hanya di depan ibu, ayah dan aku, Toushiro biasa bersikap manja, suka mencari perhatian, cerewet, jahil, suka merajuk, pokoknya sikapnya benar-benar seperti anak bungsu pada umumnya, dan itu terlihat lebih menyebalkan untukku.

Tapi, aku menyayangi, sangat menyayanginya, karena dia satu-satunya adik yang kupunya tentu saja. Kami saling memiliki, saling melengkapi dan saling menghargai. Apalagi setelah bertahun-tahun kami tidak bertemu akibat permintaanku yang ingin menetap di Karakura tentunya, hubungan kami jadi bertambah dekat.

"Keluar kau Albino! Bukannya membantuku kau malah merusak kamarku, Ibu… lihat, Arrgghh taruh itu ditempatnya semula, Toushiro!" Oh, tidak usah heran membuatku kesal merupakan suatu kebanggan besar untuk si bungsu. Yup, memang tidak seperti Kuchiki pada umumnya yang memiliki ciri fisik rambut hitam sekelam malam, rambut Toushiro berwarna cerah seputih salju sejak lahir, itu dikarenakan kekurangan pigmen pada struktur rambutnya, jadilah warna rambut Toushiro seperti itu. Jika orang lain yang menyebutnya seperti itu tentu Toushiro akan merasa sangat marah, tapi berhubung aku adalah kakak tersayangnya maka itu merupakan 'kehormatan besar' untuknya, karena setelahnya dia akan membalas perkataanku seperti saat ini.

"Hay pendek, kusarankan kau memakai sepatu yang putih ini, lumayan kan kau bisa bertambah 15 centi." Ucap Toushiro sambil melempar sepasang sepatu itu padaku. Dan sudah bisa ditebak apa yang akanku lakukan bukan? – Yup, aku melempar balik sepatu itu ke arahnya yang meyebabkan 1 guci dan 1 vas jatuh bebas ke arah lantai, membuat isi kamarku semakin tidak karuan.

"Shiro! Berhenti mengganggu kakakmu, lebih baik kau bantu ibu mencocokkan baju ini, lihat bagus yang mana? hitam, merah maroon, atau yang gold ini juga terlihat bagus, Kalau yang pastel bagaimana? Rukia lihat? Kau sendiri ingin yang mana?" Tanya Ibuku pada kami berdua, membuat aku dan adikku berhenti sejenak dari aktivitas keseharian kami. –bertengkar.

"Yang pastel bagus tapi Rukia tidak suka dengan rendanya, seperti kembali ke tahun 60-an, lagipula kenapa longdress seperti ini, aku kan tidak suka pakai longdress, bu?" jawabku menanggapi pertanyaan ibuku.

"Oh begitu ya? Jadi kau mau yang mana?" tanya ibu lagi sambil menyingkirkan baju pastel dari pilihannya.

"Bukannya kemarin Ibu membeli gaun baru untuk nee-chan? Mana gaun itu, coba aku lihat?" Kali ini Toushiro ikut berbicara.

"Ini yang maroon, menurutmu bagaimana Shiro-kun?" Tanya ibu pada Toushiro.

"Mmm… bagus, aku suka yang ini, bagaimana menurutmu nee-chan? Nee-chan? NEE-CHAN!" Teriak Toushiro saat melihat ku termenung melihat gaun itu. –mungkin?

"Ah, eh… apa? Iya bagus, pilihanmu memang bagus, aku pakai ini saja." Jawabku saat tersadar dari sedikit lamunanku. Ya, aku sedikit melamun mengingat warna maroon gaun ini, mengingatkanku padanya –si rambut senja.

"Kau baik-baik saja? Apa yang sedang kau pikirkan? Apa yang sedang kau rencanakan?" Toushiro mencoba untuk menebak isi pikiranku.

"Em, tidak ada apa-apa, hanya saja… aku sedang berpikir seperti apa calon suamiku itu? Kenapa dia bersedia menikah denganku? Apa tidak salah dia memilihku sebagai istrinya? Entahlah… mungkin hanya perasaanku saja." Jawabku sambil berbaring di sofa, sedangkan Toushiro berbaring di atas ranjangku, sementara ibu beralih memilih aksesoris yang berada di meja riasku sambil sesekali mendengarkan perbincangan kami –aku dan Toushiro- sepertinya.

"Lalu apa yang kau rencanakan sekarang? Ingin kabur lagi seperti tempo hari?" tanya adikku itu.

"Hahhaha inginnya sih begitu, tapi ayah sudah mengancam akan membuang seluruh koleksi Chappy-ku, payah! Hey, apa kau tidak punya bocoran tentang pria itu? Dia tampan tidak? Apa dia bisa menyanyi? Kali ini orang Jepang atau seorang pangeran lagi? Hey, shiro-chan… ayo beritahu aku." Tanyaku penuh antusias.

"Nee-chan! Sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu?" Ucap Toushiro sambil memalingkan wajahnya dari ku, tanda dia sedang merajuk. Oh great Rukia, kau tahu betapa sulitnya membujuk si manja ini jika dia sudah merajuk seperti itu, salahkan aku yang terbiasa menggoda adikku ini dengan 'sebutan kesayangannya'. – shiro-chan.

Aku tahu, adikku ini pasti tahu sesuatu, dia sedang menyembunyikan 'sesuatu' dariku, aku tahu itu. Tapi, entahlah hanya perasaanku saja mungkin. Sejujurnya, aku memang penasaran pada 'calon'ku kali ini, karena ayahku bilang ini adalah pilihan terakhir maka mau tidak mau aku pasti diharuskan untuk memilihnya kali ini. Karena itu aku hanya bisa pasrah, dan memilih membiarkan adik semata wayangku merajuk, daripada harus memohon padanya dan sudah bisa dipastikan aku yang akan rugi, jadi aku hanya bisa menghela nafas untuk yang kesekian kalinya dihari ini.

"Baiklah, aku akan bersiap-siap, bisakah kalian meninggalkanku sekarang, ibu, Shiro?" Ucapku sambil membawa gaun merah maroon itu untuk kupakai di kamar ganti.

"Tentu saja sayang, untuk aksesorisnya ibu rasa berlian mungil itu cocok untukmu, jangan terlalu lama ya sayang, ingat kami menunggumu disana, apa perlu kupanggilkan Nemu untuk membantumu berias?" Ucap ibuku sambil melangkah pergi meninggalkan kamarku, dia menoleh saat aku menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaannya.

"Baiklah pukul 4 sore kau harus sudah rapih, Iba-san akan mengantarmu ke tempat Kakek." Lanjut ibu lagi sebelum dia benar-benar meninggalkanku. –Ke tempat Kakek?

"Tenang saja kali ini orang Jepang, dan jangan lupa pakai sepatu 15 centi- ," Dia tidak dapat menyelesaikan kata-katanya karena sudah lebih dulu menutup pintu sebelum vas bunga dikamarku melayang ke arahnya.

Sekarang, aku hanya bisa diam membisu melihat bayanganku sendiri di cermin membuatku bertambah merana. Masih pukul 2 petang, itu artinya masih ada waktu 2 jam lagi. Bukannya bersiap aku malah membaringkan diri di atas ranjangku sambil memperhatikan gaun maroon di atas wajahku. Kenapa harus gaun maroon ini yang jadi pilihan mereka? Warna ini? Warna yang sama ketika aku menemani Ichigo di acara pernikahan temannya waktu itu, warna ini? Saat di mana hidung kami bersentuhan dan kami hampir… hampir… Argghh! Rasanya aku hampir gila!

Rukia Kuchiki, berhenti memikirkannya! Berhenti memikirkannya! Dia saja tidak pernah memikirkanmu, untuk apa kau memikirkannya! Sudah jelas dia tidak mencintaimu, dan dia bukan jodohmu! Sadar Rukia, kau akan bertemu dengan jodohmu sebentar lagi, sebentar lagi, kurang dari 6 jam, dan kau akan mengetahui pemuda mana yang berani melamarmu pada keluargamu itu! Jadi, lupakan pemuda jeruk itu dan mulailah memikirkan pemuda jodohmu itu, calon suamimu! – ucapku frustasi pada sebentuk bayangan kembarku dihadapan cermin.

Kuputuskan untuk menutup mataku untuk sekedar berimajinasi memikirkan 'calon suami'ku itu. sambil berjalan tak tentu arah dan masih memegangi gaun yang akan ku pakai hari ini. Dan bergumam tidak jelas menerka seperti apa 'orang itu' di pikiranku. – calon suamiku.

'Orang itu… pasti tampan, kalau tidak tampan mana mungkin ibu setuju. Orang itu… pasti seorang yang sangat hebat hingga ayahku setuju dengan lamarannya, tapi apanya yang hebat? Lalu, Orang itu… pasti penyayang keluarga, karena shiro tidak mungkin melepaskanku jika orang itu tidak merasa sayang dan menyukaiku. Menyukaiku? Siapa orang yang menyukaiku sampai dia berani nekad melamarku pada ayah dan kakek? Kakek? Benar tumben mereka mengadakan perjamuan di rumah kakek? Oh, mungkin karena kali ini orang Jepang. Memang ada orang Jepang yang menyukaiku seperti ini?'

Aku masih saja terus bergumam.

"Arrgghh! Sudahlah siapapun orang itu, aku harap dia bisa bernyanyi seperti Kyuhyun, setampan Lee Min Ho, setia seperti Domiyouji Tsukasha, sebaik Kang Heechul, penyayang keluarga seperti Lee Dong Hae, dan bisa mencintaiku setulus hati seperti Hong Ki Hoon pada Goo Eun Jo, dan cinta kami bisa abadi seperti pasangan Yungjai dan Han Ji Eun, juga pangeran Lee Shin dan Shin Chae Kyung." Ucapku sambil memohon pada langit.

Tapi… saat kubuka mataku, kenapa lagi-lagi wajahnya yang ada dihadapan pandanganku? Argh! Sial, aku benar-benar gila! Lebih baik aku mandi dan mempersiapkan diriku lebih cepat, agar bisa bertemu 'orang itu' lebih cepat juga, jadi aku tidak perlu terbayang-bayang wajahnya lagi. Ya, sudah kuputuskan untuk menerima 'orang itu' siapapun orangnya.

O0O

Normal PoV

Sekali lagi Rukia memperhatikan dirinya dicermin. Gaun maroon pilihan ibunya memang nampak pas dan cocok sekali di tubuh mungilnya, Aksesoris pilihan ibunya juga tidak tertinggal anting, kalung, gelang semuanya satu paket, jam tangan emas pemberian sahabatnya Ran, tidak tertinggal. High heels maroon 7 cm, Rukia rasa cukup untuk menunjang penampilannya kali ini. Tatanan untuk rambut sengaja dia gerai dengan hiasan bando permata sederhana membuatnya nampak semakin anggun.

"Perfect." Gumamnya sambil berlalu meninggalkan kamarnya, karena jam dinding kamarnya sudah menunjukan pukul 4 tepat, yang artinya dia harus segera pergi karena supirnya pasti telah menunggunya dibawah. Menyambar cepat mantel luar dan tas kecil yang juga sudah dipersiapkan sedari tadi, dia akan pergi menuju tempat tujuannya.

Baru saja membuka pintu kamar dia tertegun mendapati buket mawar merah tergeletak begitu saja di depan lantai kamarnya. Dia ambil buket mawar itu, memperhatikannya sejenak, seperti ada sesuatu yang menarik perhatiannya, dia mengerutkan sedikit dahinya karena bingung dan mengambil secarik kertas yang berada di dalam celah mawar itu.

Dibukanya kertas itu, lalu dibacanya perlahan tulisan yang tertera di dalam sana, tapi setelahnya dia menunjukkan wajah keheranan yang semakin mendalam.

"Apa kau merindukanku? Aku selalu merindukanmu, setiap detik, disetiap helaan dan hembusan nafasku."

"Ini punya siapa? Kenapa menaruhnya di depan kamarku?" Ucap Rukia sambil melanjutkan perjalanannya, tapi baru 3 langkah dia berjalan kakinya malah menginjak sesuatu, dia mundur sedikit untuk melihat apa yang sudah di injaknya secara tidak sengaja, lagi-lagi dia mengerutkan keningnya.

"Mawar Ungu?" Ucap Rukia sambil mengambil buket bunga yang kedua, lagi-lagi ada kertas yang terselip diantara bunganya. Dan lagi dia membaca tulisan di atas kertas itu.

"Aku telah kehilanganmu dua kali, dan tidak akan kubiarkan ketiga kali itu terjadi, karena itu aku disini."

Rukia mengedarkan pandangannya setelah dia membaca isi tulisan itu, 'tidak ada siapa-siapa.' Ujarnya pada diri sendiri. Rukia berusaha tidak menghiraukan bunga dan isi pesan itu dan kembali melanjutkan langkahnya, tapi begitu dia akan menuruni anak tangga lagi-lagi buket bunga itu menyambutnya – Bunga Lily. Dan seperti sebelumnya dia menemukan secarik kertas itu dan membacanya lagi.

"Kau tahu? betapa hancurnya aku saat kau meninggalkanku disaat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku hampa tanpamu. Apa kau tahu? rasa hampa itu selalu menyerangku saat kau tidak disisiku, walau saat itu kau meninggalkanku beberapa saat untuk sekedar menghilangkan lelah hari. Dan apa kau tahu, aku selalu berdoa agar lelah hari itu segera berganti esok hari agar aku dapat melihatmu kembali disisiku hari itu."

"lelah hari? Malamkah maksudnya?" Rukia kembali membaca isi kertas itu, mencoba memahami maksud perkataan yang tersirat di dalamnya.

Oke, mau tidak mau Rukia benar-benar merasa bingung kali ini. Pertama buket bunga mawar merah, mawar Ungu, Lily, lalu dibawah anak tangga yang sedang dia pijak ada buket bunga Matahari, lalu bunga Aster, di anak tangga paling bawah ada buket Tulip merah akan menyambutnya.

Rukia benar-benar penasaran, tidak mungkin ini hanya ulah usil adiknya. Tadi dia memang sempat berpikir bahwa ini salah satu kerjaan jahil sang adik yang sengaja membuatnya agar datang terlambat karena 'sandungan-sandungan kecil' ini. Tapi setelah membaca kertas ketiga mau tidak mau dia berpikiran bahwa ini memang sengaja di arahkan padanya agar mengikuti langkah jejak buket bunga yang ditinggalkan. Yang membuat dia heran adalah kata-kata puitis yang berada dalam kertas itu. Adiknya memang tipe orang romantis tapi tidak puitis seperti ini. Ingin bertanya pada pelayannya tapi dari tadi tak ada satupun pelayannya yang lewat.

Akhirnya dia memutuskan untuk memecahkan teka-teki ini sendiri. Di dalam rumah ini yang wanita hanya dia dan ibunya saja, memberikan bunga untuk ibunya mungkin saja tapi pesan yang ada didalamnya jelas bukan dari sang ayah. Karena sang ayah –Byakuya Kuchiki bukanlah tipe melankolis seperti ini. Bisa saja tadi dia tidak menghiraukan buket mawar itu dan pergi meninggalkannya begitu saja, tapi mana mungkin dia tega membiarkan bunga kesukaannya tergeletak begitu saja kan?

Tapi, Mungkin saja untuk salah satu pelayan wanita dirumahnya, makanya dia mengambil buket itu hanya ingin memastikan siapa orang yang dituju, karena biasanya sang pengirim pasti menuliskan namanya bukan? Tapi ternyata perkiraan Rukia salah. Surat kecil itu tidak bernama dan tidak bertuan membuatnya mengerenyit bingung berkali-kali.

Kali ini setelah mengambil bunga Matahari, kembali dia menekuni isi pesan yang ada di dalam sana.

"Seperti bunga Matahari, kau datang bermekaran, menyinari kuncup bunga disetiap taman hatiku. Merekah indah seperti bunga ini" – 'Bunga Matahari'. Gumam Rukia.

Saat pesan bunga Aster dia buka, Rukia membacanya.

"Egois, untuk kali ini saja, untuk mendepatkan mu. Aku akan egois tanpa tahu apa keinginan hatimu."

Tanpa Rukia sadari sendiri, jantungnya telah memacu dengan cepat membaca kata per kata isi pesan itu. dia makin tidak mengerti dengan maksud si pembuat isi pesan. Apa benar kata-kata ini ditujukkan untuknya? Jika benar, siapa pengirimnya? Rukia tidak suka dibuat penasaran karena itu segeranya disambar isi pesan yang terdapat pada bunga Tulip.

"You give me hope,The strength, the will to keep on,

No one else can make me feel this way,

And only you Can bring out all the best I can do,

I believe you turn the tide,

And make me feel real good inside.

You pushed me up, When I'm about to give up,

You're on my side when no one seems to listen,

And if you go, You know the tears can't help but show,

You'll break this heart and tear it apart,

Then suddenly the madness starts.

It's your smile, Your face, your lips that I miss,

Those sweet little eyes that stare at me,

And make me say, I'm with you through all the way.

'Cause it's you, Who fills the emptiness in me,

It changes ev'rything, you see,

When I know I've got you with me.

You – Rukia Kuchiki"

Kini Rukia tahu, bahwa semua pesan ini memang ditunjukkan untuk dirinya. Dan Rukia juga tahu isi pesan kali ini adalah lirik sebuah lagu. Lagu yang selalu dia putar saat mereka sedang terdiam, Rukia hafal sekali dengan liriknya karena dia memang selalu berharap bahwa You yang dimaksud lagu ini hanya untuk dirinya, seperti judul lagu itu You.Mau tidak mau dia menyunggingkan senyum terbaiknya kali ini.

Dia mencari kesekeliling dimanakah letak bunga selanjutnya, sedikit kebingungan karena dia mengira bunga itu habis dibawah anak tangga terakhir, tapi matanya langsung berbinar saat melihat kelopak bunga Sakura bertebaran menghiasi lantai koridor menuju taman belakang rumahnya. Rukia berjalan pelan memandang takjub akan pemandangan yang sedang dia lihat sambil mencari secarik kertas yang akan menjadi petunjuk selanjutnya. Itu pikirnya. Dan pada akhirnya dia menemukannya terselip di daun pintu yang menghubungkannya dengan dunia luar tersebut.

"Maaf aku tidak bisa memenuhi keinginanmu."

Kali ini apalagi maksudnya? Sesaat dia merasa senang dengan kata-kata pesan ini, Lalu dia akan diabuat bingung, dibuat senang lalu dibuat bingung lagi. Karena sejak tadi dia jadi berharap, benar-benar berharap bahwa harapannya kali ini buka impian semata. Jantungnya semakin memacu cepat seperti langkah kakinya saat menyusuri taman belakang rumahnya yang bisa dibilang tidak kecil itu.

Di taman ini juga ditanam berbagai macam bunga, jadi Rukia berpikir dimanakah bunga selanjutnya? Dia mencari di atas tanah tidak ada buket bunga atau tebaran bunga lagi. Bunga yang ada ditamannya hanya ada bunga Mawar, Anggrek, Sakura, bonsai, dan Jasmine yang kesemuanya memang sudah ada ditempatnya semula, selagi dia berfikir memutar dari awal, dia melihat ke anehan di dalam kolam renangnya – Bunga Teratai.

Semua bunga Teratai itu bermekaran dengan sangat indahnya, tetapi ada satu teratai yang masih kuncup, dia melihatnya di dekat tangga samping. Rukia berlari kecil dan mengambil bunga yang terjepit tiang itu. Benar seperti dugaannya, masih ada isi pesannya. Dia tidak lagi menghiraukan waktu yang telah lewat, tidak memikirkan apa dirinya akan datang terlambat atau tidak, yang dia tahu dia ingin menemukan orang yang dengan berani menyatakan bahwa dirinyalah 'sang pengisi kekosongan hati'.

"Semoga kejutan ini tidak membuatmu bersedih."

Kenapa harus bersedih? Bukankah kejutan ini membuatnya sangat bahagia? Rukia benar-benar bingung sekarang. Si pembuat pesan benar-benar membuatnya bingung. Tidak tahu lagi kemana dia harus mencari patunjuk bunga selanjutnya karena berakhir dikolam renang, arah selanjutnya adalah tembok pembatas yang sangat tinggi, di sebrangnya adalah pintu masuk kedalam rumah yang telah lewati, atau menyusuri taman ini dan berakhir pada pekarangan depan rumahnya.

Rukia memilih menyusuri pilihan terakhir sambil memikirkan isi-isi pesan itu, dia membacanya sekali lagi sambil menerka-nerka sebenarnya apa yang telah terjadi. Dia benar-benar bingung, satu-satunya clue yang bisa dia dapat hanya pada lirik lagu itu, karena disana jelas-jelas tertulis namanya. Dia memang berharap jika yang melakukan semua itu adalah 'pria senja' yang selalu dia nantikan, tapi sebagian hati dan pikirannya mengatakan bahwa tidak mungkin Ichigo orangnya, karena Ichigo benar-benar tidak mencintainya, itu yang selalu diyakininya dalam hati.

Rukia menengadah melihat pemandangan di atasnya. Senja telah datang, dan lagi-lagi itu mengingatkannya pada pemuda itu. Berkali-kali dia menggelengkan kepala pertanda dia benar-benar harus mengkahiri pikiran liarnya, karena jam tangan sudah menunjukkan angka 5, pertandia dia suda terlambat dari waktu yang sudah dia janjikan pada keluarganya. Rukia memejamkan matanya, mengambil nafas dalam-dalam, dan dalam hitungan ketiga dia benar-benar harus menghapuskan bayangan Ichigo.

Tapi yang terjadi ketika dia membuka kedua matanya, lagi-lagi dia melihat pemuda itu berada dihadapannya. Ternyata pada kenyataannya memang sulit untuk melupakan orang yang kita cintai, apalagi orang itu adalah sang cinta pertama. – Aneh.

Ya, Rukia merasa aneh ketika dia sadar bahwa bayangan dihadapannya tidak dapat pergi begitu saja dari penglihatannya, biasanya dengan sekali menutup mata bayangannya itu sudah berubah jadi hembusan angin, lalu ada apa dengan kali ini? Rukia menutup matanya kembali, menghitung sampai tiga dan ketika membukanya lagi-lagi bayangan itu tetap tidak menghilang melainkan terasa semakin dekat dengannya.

Rukia benar-benar panik! Dia benar-benar seperti orang gila saat ini, berkali-kali menggelengkan kepala dan berkali-kali menepuk-nepuk wajahnya sendiri agar dia tersadar, bahwa saat ini adalah mimpi atau kehidupan nyatanya? Saking paniknya, dia melangkah mundur sambil bergumam tidak jelas, tidak memperhatikan langkahnya sampai dia merasa bahwa kakinya baru saja terkilir dan mengakibatkan keseimbangan tubuhnya jadi labil dan terjungkang kebelakang.

"AAhhhh.." Teriaknya.

Rukia pikir dia akan mengaduh setelah ini akibat kecerobohannya seperti biasa. Biarpun dia terjatuh tapi setidaknya dia tidak akan merasa malu karena tidak ada seorangpun yang sedang melihat kejadiannya kali ini. Tapi lagi-lagi dugaannya salah, tubuhnya tidak terasa sakit dan mendengar suara seseorang memanggilnya penuh kekhawatiran.

"Rukia, Rukia, bangun, kau tidak apa-apa? Kau baik-baik saja? Adakah yang terluka?" ucap suara itu cemas sambil membantu membetulkan posisi berdiri Rukia, tapi yang dipanggil masih memejamkan matanya ketakutan. Tapi saat dirasanya dia bisa berdiri dengan tegak dia buka mata itu perlahan, sambil menerka apa yang telah terjadi sesaat tadi.

Dan tiba-tiba Rukia merasa dirinya berhenti bernapas seketika, dia melihatnya, dia merasakannya. Dia melihat pemuda itu benar-benar ada dihadapannya, dia merasakan sentuhan pemuda itu dengan sangat jelas, hangat… Rukia tidak bisa mempercayai ini. Dia hanya bisa memandang takjub dan penuh kebingungan melihat orang yang selama ini dia rindukan kini benar-benar ada di hadapannya.

"Rukia?" Panggil pemuda itu lagi.

Rukia tidak merespon untuk menjawabnya, dia hanya menggerakkan tangannya berusaha menyentuh wajah pemuda itu. Perlahan Rukia menyentuhkan jari telunjuknya pada wajah pemuda itu, menempel tidak tertembus. Dengan tangan bergetar dia menyentuhkan jari selanjutnya dan masih menempel, dan dengan kelima jarinya dia mengusap halus perlahan wajah kekar pemuda itu.- Hangat.

Sang pemuda sedikit terheran melihat kelakuan wanita dihadapannya ini, benar-benar wanita yang sulit ditebak –itu pikirnya. Tapi dia tetap menyunggingkan senyuman pada wanita dihadapannya kini, walau dia tahu Rukia sedang tidak memperhatikan senyumannya, dia pikir wanita itu akan bahagia ketika bertemu dengannya kembali tetapi pada kenyataanya wanita itu malah menitikan air matanya perlahan saat sedang mengusap wajahnya.

Pemuda itu, tentu sangat kaget melihat pemandangan yang tidak diharapkannya.

"Rukia? Kau menangis? Ada apa? Apa karena kedatanganku?" Tanyanya cemas sambil berusaha menghapus jejak air mata Rukia dengan kedua ibu jarinya. Lagi-lagi Rukia memberikan respon yang tidak dapat dia duga, kali ini wanita itu tersenyum sambil memanggil namanya.

"I-chi? Kau benar-benar Ichigo? Kau disini?" ucapnya masih ragu.

Ya, Ichigo Kurosaki. Pemuda itu memang datang untuk bertemu dengan Rukia.

"Ya, ini aku. Rukia. ku kira kau sudah melupakanku." Ucapnya sambil menarik Rukia kedalam pelukannya.

Rukia benar-benar tidak tahu apa yang dirasakannya kali ini, karena lagi-lagi dia malah menangis dalam pelukan Ichigo. Haruskah dia senang atau sedih? Rukia benar-benar tidak tahu, pikirannya hari ini benar-benar kalut. Belum dapat dia menjawab siapa pengirim bunga dan pesan itu, dia diharuskan bertemu dengan calon suaminya, dan ketika dia akan melangkah menapaki jalan baru, pemuda itu malah datang mengusik kembali pikirannya.

Kenapa Ichigo ada disini? Kenapa dia datang disaat yang tidak tepat? Kenapa semua ini terasa membingungkan untuknya? Kenapa dia harus menangis saat melihat Ichigo kembali dihadapannya? Untuk apa Ichigo ada disini sekarang? Haruskah Rukia meninggalkannya dan pergi begitu saja, mengatakan padanya bahwa Rukia akan segera bertemu dengan calon suaminya, tapi Rukia tidak mau pergi begitu saja dari hadapannya, Rukia masih ingin merasakan Ichigo berada disisinya, sebentar… hanya sebentar saja… Rukia ingin egois, sebentar saja… - egois?

O0o

Pada akhirnya egois selalu menang. Rukia meminta Iba-san, sang supir pribadi keluarga Kuchiki untuk menunggunya sebentar lagi, walau Rukia tidak yakin 'sebentar' itu berapa lama untuk takaran kebutuhannya saat ini. Dia hanya ingin egois sekali lagi, untuk bisa sedikit lebih lama dengan pemuda itu, karena dia tahu setelah malam ini tidak akan ada kata kebebasan untuk hidupnya yang akan berstatuskan 'calon istri' dari seseorang.

Kini, keduanya masih terdiam, duduk di bangku taman, menikmati habisnya senja beberapa saat lagi yang akan berganti dengan kelamnya malam. Rukia sudah sepenuhnya sadar dan sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri kali ini. Sedangkan Ichigo masih setia menunggu Rukia bersedia berbicara dengannya, karena sejujurnya dia jadi hilang kata begitu melihat Rukia kembali untuk sekian waktu, apalagi dengan penampilannya kali ini, Ichigo selalu dibuat terpana olehnya, hingga dia lupa akan tujuan awalnya semula.

"Kapan kau tiba di London, Ichi?" tanya Rukia berusaha memecah keheningan di antara mereka berdua.

Ichigo sedikit tersentak dari keterpanaannya dan dengan cepat dia langsung menjawab, "Hah? Sebulan yang lalu."

Rukia mengerenyitkan dahinya sebagai tanggapan jawaban dari Ichigo. "Sudah sebulan dan baru sekarang kau menemuiku? Pantas aku seperti melihat bayangan hantu." Cibirnya. - khas Rukia.

"Hey, aku ini masih makhluk hidup cebol, Aww…" Sesaat Ichhigo lupa akan kata tabu itu, tapi Rukia tidak akan pernah lupa untuk menghajarnya seperti biasa.

"Maaf, tapi rasanya rindu sekali memanggilmu seperti itu." ucap Ichigo menerawang dan tersenyum. Sama seperti yang sedang Rukia lakukan.

"Maaf, baru sempat menemuimu sekarang karena ada beberapa urusan yang harus ku urus." Sambung Ichigo lagi.

"Ku kira, karena jet leg yang berkepanjangan." Lagi cibiran khas Rukia muncul.

Ichigo hanya bisa menggaruk kepalanya, karena ucapan Rukia memang sedikit ada benarnya juga.

"Lalu kenapa kau datang tiba-tiba hari ini? Tidak memberiku kabar, ku kira kau sudah melupakanku?" Ucap Rukia masih setia dengan pandangan jauh menerawangnya, karena dia benar-benar tidak berani untuk menatap Ichigo kali ini, air matanya pasti dengan sangat senang untuk mengalir walaupun Rukia sudah melarangnya. Rukia juga tidak mengerti dengan keadaannya kali ini.

"Em, tidak sepenuhnya tiba-tiba juga sih, karena aku memang sudah berencana untuk datang padamu saat ini, setelah aku yakin semua urusanku sudah beres, baru aku akan berani menemuimu lagi, aku sudah merencanakan ini dari awal." Lagi-lagi Ichigo berbicara sambil tersenyum, entah untuk yang keberapa kalinya hari ini, tapi yang jelas senyum Ichigo selalu terkembang hari ini, andai Rukia berani menyaksikannya sedari tadi.

Tapi yang sekarang dia lakukan malah menundukkan kepalanya, berusaha menahan detak jantungnya yang semakin cepat dan membuat dadanya terasa sakit. Rukia ingin bebrhenti dari pikiran spekulasi di dalam kepalanya, karena itu dia beranikan dirinya bertanya lebih cepat, agar semua rasa sakit ini segera berakhir dan Rukia dapat menangis sepuasnya ketika hari ini dinyatakan berakhir.

"Begitukah? Lalu apa yang sudah kau rencanakan dari awal itu? Jika boleh aku tahu…" Kali ini Rukia mencoba untuk memandang lawan bicaranya, yang Nampak terkejut karena tiba-tiba Rukia menengadahkan wajahnya.

Lagi-lagi Ichigo dibuat terkejut oleh perubahan sikap Rukia yang sangat cepat itu, lalu dengan sedikit kikuk dia mengeluarkan sebuah amplop berwarna senada dengan gaun yang Rukia pakai dari dalam saku mantelnya. Ichigo menyodorkannya perlahan pada Rukia.

Rukia terlihat sedikit bingung dengan sikap Ichigo tapi saat Ichigo memberikannya amplop itu, dia memandang pemuda itu dengan tatapan super terkejut dan tidak percaya. Namun, dia masih berusaha untuk bersikap biasa dihadapan pemuda jeruk itu, walau keadaan sebenarnya dia tahu dia tidak akan pernah sanggup untuk menerima amplop itu. Dengan tangan bergetar Rukia berusaha meraih amplop itu sambil memberikan sedikit senyum terbaiknya, walau dia tidak tahu ini tarikan sebuah senyum atau bukan dari bibir mungilnya itu, setidaknya dia berusaha.

Rukia tahu kejadian seperti ini akan terjadi. Dia tahu itu, tapi dia tidak menyangka kejadiannya akan terjadi secepat ini. Baru 2 bulan mereka berpisah, sekarang apa yang dia bayangkan menjadi kenyataan, apa yang dia pernah tulis dalam surat terakhirnya menjadi kenyataan. Rukia tahu itu, pada akhirnya Ichigo akan datang padanya untuk menyerahkan sendiri - Undangan Pernikahannya.

Rukia terpaku menatap amplop berwarna maroon itu, dia masih bimbang haruskah dia membukanya saat ini atau melemparkannya saat pemuda itu sudah tidak ada dihadapannya lagi? Apa yang harus dikatakannya sekarang? Ucapan selamatkah? Jangankan mengucapkan selamat, memanggil namanya sendiri rasanya dia tak sanggup.

Rukia membaca tulisan disampul depannya dengan hati miris di lubuk hati, - 'Invitation'

Hanya tulisan itu yang mampu dia baca, dia tidak akan sanggup membaca tulisan lainnya karena itu dia memilih diam untuk menenangkan hatinya sendiri.

"Undangan? Kau akan menikah?" Ucapnya memaksakan diri masih sambil menatap amplop itu, tidak berani mentap pemberinya sama sekali, kini pikirannya melayang kembali entah kemana.

"Em," hanya itu yang Ichigo jawab sambil menganggukan kepalanya yakin.

"Kau tidak membukanya?" Tanya Ichigo saat melihat respon yang Rukia berikan, sama seperti perkiraannya. – Rukia tidak bahagia melihat undangan itu, dan itu membuat Ichigo merasa bersalah.

"Maaf, jika aku tahu kau akan bersedih seperti ini aku tak akan pernah melakukannya." Ucap Ichigo sambil menundukkan kepalanya menatap pada bumi tempatnya menginjak.

Rukia yang mendengarnya jadi merasa tidak enak hati sendiri, dia sadar tidak seharusnya sikapnya seperti ini jika dia memang menginginkan kebahagiann Ichigo. Bukankah selama ini, itu yang di inginkan Rukia – kebahagiaan Ichigo.

Tapi kenapa saat kebahagiaan itu datang malah justru dirinya merasa kecewa. Ya, dia memang kecewa karena ternyata pada akhirnya bukan dialah kebahagiaan Ichigo, berarti terjawab sudah tentang siapa pemuda yang memberikannya buket dan pesan padanya hari ini, jelas bukan Ichigo, musnah sudah harapannya. Tapi pantaskah dia memperlakukan Ichigo seperti ini, yang sudah susah payah untuk mengatarkan undangannya sendiri pada dirinya? Setidaknya pemuda itu sudah melewati lautan dan meyebrangi benua hanya untuk memeberikan sesuatu yang sudah direncanakannya dari awal itu, sungguh tidak sebanding pikir Rukia.

Karena itu, dia berusaha benar-benar menekan perasaannya kali ini, entah sakit ataupun senang, pemuda itu tidak boleh mengetahui perasaan Rukia yang sebenarnya seperti biasa, karena itu kembali Rukia berusaha membuat suasana ini kembali seperti sedia kala, setidaknya tidak setegang saat ini.

"Kau bicara apa? Kenapa harus bersedih? Tentu saja aku ikut bahagia untukmu Ichigo, hanya saja aku berpikir siapa wanita bodoh yang mau menikah dengan pria menyebalkan seperti dirimu?" ucap Rukia sambil kembali menyeringai.

Ichigo benar-benar dibuat kaget oleh pernyataan Rukia kali ini, tapi bukannya marah karena Rukia mengatakan calon istrinya dengan 'wanita bodoh' pemuda itu malah membalas menyeringai menyebalkan yang dia punya – itu menurut pandangan Rukia.

"Jika kau ingin tahu siapa orangnya, kenapa tidak kau buka dan kau baca sendiri isi undangan itu? pasti kau tidak pernah menyangka siapa wanita pilihanku itu." Jawab Ichigo meremehkan Rukia.

"Memang kau tidak bisa menebak siapa orangnya? Coba kau perhatikan inisial nama itu, menurutmu bagaimana?" Ucap Ichigo lagi, mencoba memberi Rukia petunjuk.

Rukia mengerutkan dahinya lagi, berusaha membaca dua huruf yang mungkin sengaja dibuat dengan sangat indah, tapi membuat Rukia sulit mengartikan dua huruf itu. Dia bisa membaca huruf satunya, tapi untuk yang satu lagi membuat Rukia ragu sampai dia memutar-mutar arah untuk menjelaskan satu guaratan yang membuatnya tidak yakin.

"Kau saja yang buka, tanganku licin." Jawabnya mencari alasan. Dan Ichigo tahu tentang hal itu, Rukia selalu mencari alasan untuk menyuruhnya melakukan ini dan itu jika dia sudah merasa malas mendera tubuhnya, Ichigo sangat hafal dengan sifat Rukia yang satu itu. Tapi untuk kali ini, dia ingin egois dan meyuruh Rukia untuk membukanya sendiri. Karena undangan tersebut memang dia sengaja buat hanya untuk Rukia seorang.

"Itu kan undangan untukmu, jadi harus kau buka sendiri." Ucap Ichigo setengah jengkel, karena Rukia tidak juga merespon niat baiknya.

Rukia benar-benar enggan untuk membukanya, sejujurnya dia tidak mau tahu tentang 'wanita' itu karena akan membuatnya bertambah sakit hati, karenanya dia memilih untuk tetap diam. Bagian dada kirinya benar-benar terasa sakit, dan Rukia tidak dapat menahannya lebih lama dari ini.

"Sudah malam Ichigo, aku harus segera pergi." Ucap Rukia pada akhirnya, dia tidak bisa berlama-lama lagi untuk terus berada disisi Ichigo, satu-satunya cari adalah dengan membiarkan dirinya sendiri terluka lagi dan membiarkan ichigo berlalu pergi dari kehidupannya. Itu yang terbaik –pikir Rukia saat melihat langit senja sudah berganti dengan gelapnya malam.

Sama seperti dirinya yang akan ditinggalkan oleh sang senja disisinya.

"Tidak, tunggu setidaknya kau harus menjawab undanganku dulu baru kau bisa pergi." Ucap Ichigo panik, ini benar-benar jauh diluar dugaannya.

"Maafkan aku, tidak bisa sekarang aku harus pergi." Jawab Rukia lemah.

"Kenapa? Aku membutuhkan jawabanmu sekarang." Ucap Ichigo memelas.

Rukia benar-benar tidak tahu bagaimana menyikapi pemuda dihadapannya ini. Wajahnya kali ini, adalah wajah yang sama seperti saat mereka bertemu terakhir kali, dan Rukia benci jika melihat Ichigo dengan tatapan sendu itu, seolah mengatakan padanya bahwa dia sedang –putus asa.

Rukia menggigit bibir bawahnya untuk mencari alasan yang tepat untuk Ichigo. Alasan yang tepat agar mereka berdua sama-sama tidak terluka, tapi Rukia tidak tahu apa yang harus dikatakannya kali ini. Pikirannya benar-benar sudah tertutup. Dia tidak mau berpikiran apapun lagi untuk pemuda dihadapannya ini, tidak mau, cukup untuk hari ini, saat ini, walaupun Rukia tahu pada kenyataannyanya benar-benar sangat sulit.

"Aku berusaha untuk datang." Ucap Rukia pada akhirnya, yang malah membuat Ichigo menjadi kesal sendiri dengan jawaban yang terasa hambar dari bibir mungil wanita itu.

"Apanya yang berusaha untuk datang, tentu saja kau harus datang bahkan wajib datang, makanya buka undangannya dan baca isinya dengan benar!" Kesal ichigo sambil mengacungkan isi tulisan undangan itu dihadapan wajah Rukia, karena saking kesalnya menati respon Rukia yang menurutnya sangat lamban, akhirnya malah dia sendiri yang membukanya – seperti kehendak Rukia.

Rukia sangat terkejut saat diacungkan undangan itu dihadapan wajahnya, belum sempat dia menutup mata karena tidak ingin tahu dengan siapa Ichigo akan menikah, dia merasa ada yang salah dalam tulisan isi undangan tersebut.

Direbutnya undangan itu dari tangan Ichigo, dibacanya berulang kali, ditelitinya kembali, hanya kebingungan yang semakin bertambah yang dia dapat. Jika Undangan biasanya akan berisi penuh dengan tulisan yang terdapat nama kedua mempelai, waktu dan tempat pelaksanaan pernikahan, kata-kata mutiara, dan sebagainya. Di undangan Ichigo kali ini hanya terdapat tiga baris kata yang tertulis dengan huruf besar dan bold.

Marry Me, Rukia?

Ichigo Loves You – Rukia Kuchiki

-IR-

Rukia benar-benar bingung, dia masih tidak percaya dengan tulisan yang sedang dibacanya. Berulangkali dia membacanya lalu memandang ichigo, membacanya lagi dan kembali memandang Ichigo, sampai Ichigo gemas sekali melihat tingkahnya.

"Jadi, apa jawabanmu nona Kuchiki? Ck, tak kusangka wanita pilihanku benar-benar bodoh." Ucap Ichigo sambil mendekatkan dirinya pada Rukia, Merangkul pinggul kecil Rukia agar wanita itu berada segera dalam rengkuhannya kapanpun dia inginkan.

Lagi-lagi air mata menjawab semua pertanyaannya.

Benarkah isi tulisan ini? Benarkah undangan pernikahan ini untuknya? Ichigo mengundangnya untuk menikah, dengan dia Rukia Kuchiki, bukan dengan wanita lain yang sempat terlintas di otaknya, saat dia membaca inisial huruf 'I' disampul depan? Benarkah ini huruf 'R' bukan 'K' seperti dugaan sebelumnya? Benarkah semua ini nyata untuknya, bukan hanya sekedar harapan, impian dan khayalannya semata?

Pertanyaan itu terjawab dengan cepat hanya dengan satu pelukan. Ya, lagi-lagi Ichigo memeluknya, rasanya masih hangat seperti tadi, dan pelukan ini rasanya seperti sebuah kerinduan yang dia rasakan saat tadi pertama kali Ichigo memeluknya, rasanya masih sama,- tenang, damai dan begitu menentramkan.

O0o

Rukia PoV

"Sudah terima bunga dariku?" Tanya Ichigo masih sambil memelukku.

"Bunga?" Tanyaku kebingungan, karena Ichigo memang tidak memberikan bunga padaku setangkaipun saat dia datang tadi.

"Em," jawabnya sambil menganggukan kepala diatas bahu kanananku.

"Aku benar-benar rindu sekali padamu Rukia, sangat rindu, rasanya ingin sekali berlari mengejarmu sampai sini, saat rasa itu sedang datang, aku menjadi gila saat kau tidak ada, rasanya benar-benar kosong dan hampa." Kurasa Ichigo sedang menumpahkan isi pikirannya.

"Kau tahu hatiku benar-benar hancur saat menerima suratmu, hari itu sebenarnya aku memang sudah berencana untuk menyampaikan isi hatiku padamu, ingin melamarmu tepat saat hari lahirmu, tapi kau malah pergi dengan hanya meninggalkan sepucuk surat yang terus kuratapi dari saat itu juga. Menyesal karena telah menjadi pria terbodoh sedunia karena membiarkanmu lepas begitu saja dari genggaman tanganku ini. Aku benar-benar hancur tanpamu, Rukia." Ucap Ichigo semakin mengeratkan pelukannya padaku.

"Maaf, karena tidak bisa memenuhi semua keinginanmu. Karena aku tidak bisa bahagia tanpamu, aku tidak bisa tersenyum tanpa memikirkanmu, aku tidak bisa menjaga kesehatanku dengan baik, dan aku tidak ingin memiliki istri selain dirimu, Rukia. Aku hanya ingin kamu yang menjadi ratu dalam hidupku dan menjadi ibu untuk anak-anakku kelak, anak-anak kita." Kali ini Ichigo melepaskan pelukannya sambil memandang wajahku dengan lekat, dia tersenyum. gawat kenapa wajahku mendadak terasa panas di saat seperti ini?

Hah, dasar pencuri! Lagi-lagi dia mencium keningku se-enaknya, ditambah dengan mencium pipi kananku, membuat wajahku semakin terasa panas! Dasar perayu gombal!

Dia terkikik geli melihat tingkahku yang seperti ini. Bagaimanapun aku tetap merasa malu diperlakukannya seperti ini, tapi senang sih karena ternyata semua jawaban pengharapku terjawab sudah. Ternyata Ichigo merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan, tapi kenapa dia butuh lama sekali untuk mencintaiku! Akan kutanyakan lain kali, tapi tidak untuk saat ini. Sekarang aku hanya ingin merasakan bahwa kebahagiaanku nyata.

"Kau suka bunganya?" Tanya Ichigo lagi, belum sempat aku menjawab pertanyaannya yang membingungkan itu Ichigo sudah kembali berbicara.

"Ku harap aku tidak salah mengingat semua bunga kesukaanmu itu, mawar merah, mawar ungu, lily, aster, tulip merah, sakura, teratai, matahari, tapi maaf bunga Agaphanthus, Anyelir dan dandelionnya tidak dapat kutemukan disini, akan kupenuhi lain kali boleh?"

"Jadi, Bunga-bunga itu darimu? Juga isi pesan di dalamnya?" Tanyaku ragu, malah mendapat anggukan pasti dari Ichigo.

Tidak ada yang lebih baik dari ini, sekarang giliran aku yang memeluknya, menyampaikan padanya bahwa betapa bahagianya hatiku saat ini, benar-benar bahagia. Jiakalaupun kiamat tiba hari ini, aku akan rela karena sekarang Ichigo ada bersamaku dan tidak ada yang perlu kutakutkan karenanya, semua penantian dan harapanku benar-benar terjawab sudah. –Aku bahagia. Benar-benar bahagia.

"Lalu kenapa aku harus bersedih menerima kejutan ini?" Tanyaku padanya saat teringat pada isi kertas yang terakhir.

Ichigo tampak berpikir sejenak, sambil memandangku sendu –lagi.

"Maaf, karena untuk mendapatkanmu saat ini aku harus egois. Aku tahu, kau masih 'mencintainya' tapi aku akan berusaha membuatmu mencintaiku. Maaf, karena aku harus egois dengan memintamu untuk melupakannya, karena hanya akan ada aku yang boleh mencintaimu." Jawab Ichigo serius.

Aku mengerutkan sedikit keningku sambil memandangnya, siapa 'dia' yang dia maksud? Kaien-kah? Atau 'dia' cinta pertamaku?

"Dia, maksudmu?" tanyaku lagi untuk sekedar meyankinkan diri sendiri.

"Dia yang ada dalam suratmu, siapapun orang itu aku tidak ingin tahu dan tidak mau tahu, dan yang aku tahu kau hanya boleh mencintaiku mulai detik ini."

"Egois." Ucapku sambil memberikan senyum penuh arti padanya.

"Benar, tidak ingin tahu siapa orangnya?" aku hanya ingin menggodanya saja, sangat lucu melihatnya menggerutu seperti itu.

"Tidak." Jawabnya cepat sambil menarik tanganku untuk mengiringi langkah cepatnya. Aku hanya tersenyum geli melihat tingkahnya yang sedang menahan cemburu, untung dia sedang tidak menancap gas, jika tidak aku pasti sudah dibuatnya mati mendadak karena kecepatan gilanya itu!

O0o

"Ayo Iba-san, kita berangkat." Ucap Ichigo pada Iba Tetsuzaemon - sang supir keluarga Kuchiki. Dan membuat kening Rukia berkerut untuk kesekian kalinya dihari ini.

"Kau kenal dengan Iba-san?" Tanya Rukia keheranan sambil memasuki kursi belakang mobilnya itu.

"Tentu saja, Iba-san yang mengantarkanku berkelana beberapa hari terakhir ini, bukan begitu Iba-san?" dan dijawab anggukan patuh oleh Iba dan memulai perjalanan mereka menuju kediaman tetua Kuchiki.

"Lalu, mau kemana kita sekarang?" tanya Rukia masih tidak mengerti situasinya sendiri kali ini.

"Tentu saja bertemu dengan seluruh anggota keluargamu." Jawab Ichigo menyeringai, ternyata berberapa bulan berpisah dengan wanita ini, Rukia sama sekali tidak berubah.

"Hah!" Raut kebingungan masih tampak jelas diwajahnya. Dan itu makin membuat Ichigo tertawa lebar melihat tingkahnya.

"Tapi ngomong-ngomong, sepertinya kau belum menjawab undanganku, Rukia?" Yang ditanya malah membulatkan tatapannya, berusaha bersikap wajar malah mengalihkan pandangannya kearah pemandangan diluar jendela kendaraan yang melaju kencang – bagaimanapun mereka sudah benar-benar telat dari waktu yang dijanjikan.

Saking asyiknya, dia tidak menyadari bahwa Ichigo semakin mendekatkan posisi duduknya pada Rukia, berusaha memojokkannya agar Rukia mau berkata jujur padanya.

"So,MarryMe,Rukia? Be my real wife?" Ujar Ichigo saat dirinya berhasil merengkuh Rukia kembali dalam dekapannya. Jika sebelumnya dia tidak mengetahui reaksi Rukia saat dia sedang memeluknya, tapi kali ini Ichigo bisa melihatnya dengan jelas, senyum Rukia yang terkembang dipantulan cermin kaca jendela mobil. Mau tidak mau Ichigopun kembali tersenyum diatas bahu wanita mungilnya.

Rukia mengambil jarak sedikit dari wajah Ichigo agar dia datap membisikkan kata, " I do." Jawab Rukia sambil mengecup pipi dihadapan wajahnya.

Benar-benar tidak ada yang lebih baik dari saat ini, saat dua jemari bertaut menjadi satu, saat dua hati menjadi satu, dan saat satu kehangatan dibagi bersama sama dalam satu pagutan cinta. Rukia dan Icigo hanya bisa bergumam dalam hati tanpa mereka sadari melafalkan kalimat yang sama dan bersamaan, sambil tetap berpagutan sepanjang perjalanan ke kediaman tetua kuchiki di sudut tersepi kota London. "Aku mencintaimu, sangat."


Beuuh...akhirnya selesai juga nyh chap!

Pojok curhat nenk kate :

lagi-lagi meres keringet se ember -fyuh *panas, kipas anginnya rusak semua wkkwkw

minna-san nenk comme back nyh~ jah gak ada yang peduli kayaknya xixiix... maap ya kelamaan ngilangnya, biz apa mwu dikata nenk bener" payah, baru bener" ngerasaian Syndrom Moodiest Author itu ternyata mank benar" ada rupanya hahahh... nenk baru ngerasain soalnya hehhe, maap yua ^^a

episod di atas hasil semedi sebulan terakhir pasca selesainya 'data menyebalkan' yang berakibat masih adanya perbaikan disana kemari, hah bener-benar payah nenk, ntu Adegan bertebarannya buket bunga ma isi pesen yang merupakan jawaban isi hati Ichigo buat suratnya Rukia, sebenernya udah ada idenya dari kapan twu, tapi rasa malas payah ketikan akan memulai satu kata berakibat fatalnya chap ini molor berkepanjangan.

beneran deyh, susah banget nyari kaliamat awal pembuka, tapi pas udah bisa nyelesain sepertiga bagaian biasanya nenk udah bisa langsung lancar, tapi buat kalimat pembukanya bener-benar kacau, itu aja yang nenk masih ngerasa ada yng kurang, tapi tancaplah biasa modal nekad, drpada strez nyari gak ketemu dimana letak salah and kekurangannya, jadi kan lebih baik dibagi ma semuanya ya gak hehhe biar bisa di riview gtu ^^,

episod kali ini, apakah sudah sesuai dengan permintaan minna-san semua. nenk udah berusaha membuat gak bikin kayak diary lagi, tapi jadinya agak sulit nenk nuanginnya, makanya butuh waktu lama buat meditasi, chap di atas hasil 5 kali ngerombak, beneran deyh, nyh masih ada coret-coretan gak jadinya di si 'lembek' my lepi hehhe... mudah"an mendingan ya minna-san daripada mendingin jadi menggigil hahah...

Jiaahh,, nenk maksa masukin Toushiro jadi adeknya Rukia, coz Toushiro bakal punya peran penting disini, pake OOC lagi, maap Om Tite, demi kelancaran my stories, gpp ya Toushironya dipinjem bentar,,,Apa ada yang bertanya, gmn caranya Ichigo bisa sampe London, and lamaran Ichigo bisa diterima ma Byakuya? hahah tunggu chap depan aja ah, biar ichigonya sendiri yang cerita... And jika ada yang bertanya beapa lama Ichigo n Rukia berpisah, jawabannya 2 bulan lebih, hampir 3 bulan, coz diceritanya Rukia pergi tgl 14 jan, and sekarang lgi mwu akhir bulan maret. seinget nenk tadi di ats nenk ngetik 3 bulan ada 2 kali, tapi yang satu lagi gak ketemu, jadi jika ada yng menemukan dan sempet bingung, taukan jawaban yang benernya, yup 2 bulan lebih pokoknya.

so, gimana? gimana? nenk sendiri sih masih ngerasa ada yang kurang tapi gak twu deyh dibagian mana, jadi klo minna-san ada pertanyaan tentang chap ini, and menurut minna-san masih ada yang kurang pendeskripsiannya, silahkan tinggalkan saran dan kritiknya di kota review, biar nenk bisa perbaiki and nenk jawab di Ichigo PoV.

xiixixi, yup, chap terakhir rencananya nenk mwu coba bikin pake Ichigo Pov, sesuai saran yang minna-san berikan. mudah"an di chap terakhir bisa terjawab semuanya yua, hehehe... and mohon maap ya, klo dichap ini masih terdapat banyak kekurangan, nenk bener" minta maap yang sebesar-besarnya. ^^,

Yosh, seperti biasa bagian yang paling penting adalah mengucapkan terima kasih banyak 4:

- Lirik lagu YOU dari eyang Basil Valdes, biasa lagu jadul yang masih cihuy, salah satu lagu kaporit nenk -upz, favorite maksudnya. coba dengarkan lagunya, dijamin membuat kekuatan mata berkurang 98% -alias ngantuk, hahhah

- Entah dapet wangsit dari mana tuh isi pesan Ichigo, benar" menyesatkan otak nenk, bikin ngiler ngebayanginnya, masih setia lagu" melow dari Suju, Shania Twain, BoA, IU, its true -Backstreet Boys, Coco Lee, Earnest, Howl, Tim - saranghamnida, Vic Zhou, beuh.. berasa kaya lagi berada diatas mimbar biz dapetin award hahhaha

- Fafa Cute, darling ini udah update cin~, maaf ya kelamaan nunggunya, maklum ambil wangsitnya jauh di pulau kapuk (?) ^^a hehehh, nyh udah update, so bagaiman menurut dirimu sejauh ini, sesuai harapankah?

- Zanpaku-nee, senpai~ gimenong chap ini? gimana maksudnya hehehe... nenk kelampau strezz nyh, lebih 1 lebar dari yg kemaren, mudah"an gak bosen bacanya saking panjangnya hehehe ^^a, Ichi PoV'nya semester depan yua *ditimpuk senpai* chap depan maksudnya ehehhe, udah kejawabkah pertanyaannya disemester ini? chap ini? tgl 14 januari, sbnernya ichi mwu ngelamar tapi keburu ditinggal pergi Rukia, jadi gagal dah, wkwkwk -nenk ketawa nista, biz si ichi bener" lemodh kebanyakan mikir jdi gtu deyh hahah, yosh, masih mohon bimbingannya senpai ^^,

- Rukianonymous, tenang nony, belom tamat, klo chap yang ini, sedih gak? pasti gak dunk xixiix -pede tingkat taichou

- Jee-Zee Eunry, Jee~ gimenong? udah gak diary kan? pe masih berasa diary ^^a, believe me jee, nenk udah usaha sekeras kapas (?) Ichigo Pov'nya nenk usahain bikin chap depan, mwu dibikin curhatannya Ichigo tpi masih bingung gmana nuanginnya, bisa" 10x edit nyh wkwkkwk -benar" payah nenk.

- Riruzawa Hiru 15, cloudy~ yang ini juga kepanjangan, negbosenin gak? lebih selembar dri yang kemaren, hahha -selembar aja bangga, payah- he'eh mwu tamat, tenang aja clody, selama ide mengalir dengan deras dan mood ngetiknya lgi pas bae, itu bisa di atur, -sok bet, aslinya mah Author payah nenk wkwkwk.

- Arashi males log in -w, gpape males log in, yg penting jangan males buat ngomelin nenk diripiu (?) hahha, biasa gelo kumat say, hahha.. hoho tentu saja pasangan Rukia selalu Ichigo buat nenk hahha, gak ada yang bisa ngalahin posisi keduanya dihati nenk -semangat membara, keliatan apinya gak?- Yoyoy, betul itu si goyang kepret yang ntu, yang baru aje dapet pengharggaan the best album, the best male group ma artis ngetop se singapore -MAMA 2011- hahha makin bangga aye jadi bininya kyuhyun -diserbu ELF langsung *Kyyaaa.. kabur, hah? bikin yg udah punya anak ^^a liat sikon ya cin~, nyh aja moodnya masih angot"an xixiixi

- Poppycholic Uki, beuh.. uki keren tendangannya nyampe tuh ke London ^^d -jempol Uncle Ishin *good job, uki! hahah selow dirimu nyempetin mampir aja nenk udah seneng, Arigatou uki..

- Rukiberry si silent rider, Hug..Hug.. hee maap kelamaan nongolnya, biasa susah nyari wangsit kelamaan betapa dibawah poon toge (?) hahah, yah, baru hampir mau nangis, tadinye mwu nenk kasih bonus tisu lumayan gratisan beli 2 dapet 1 gitu, ahhah -abaikan, biasa lakon gak penting. okz chap depan bnr" last kyknya, and pake Ichigo Pov, tapi gmane cra bikinnya ya? mesti nyari si ilham klo gini, tpi tuh anak biasa ngumpet disaku baju -haah, bakal riweuh nyari nyh. oke nenk rukiberry, doakan nenk kate ini berhasil, semangat!

- Nakamura Chiaki, klo gtu drimu harus mengucap maap kpada dirimu, karena chap ini masih blom end, coz nenk masih ngerasa ada yang kurang, jadi mwu dilengkapi di chap depan kayknya heheh, wah benarkah begitu mirip? Asoy setidaknya tingkat ngayal nenk masih bisa dijangkau ma real world heheh yosh, bersediakah dirimu untuk tetap memberi pendapat buat cerita nenk yang semakin gaje ini?

Buat semuanya, bersediakah kalaian semua untuk tetap memberi riview pada Author gaje nan payah ini? Jika ya, please press the blue button in the bottom of my line, okz, Riview kalian sangat berharga untuk nenk, apalagi buat my stories ini. fic pertama, yang nyata ancurnya, pas nenk baca chap pertama jadi malu sendiri udah bikin cerita gajel, ancur plus berantakan kaya gini, tapi berkat dukungan, saran dan kritik dari semua senpai dan readers, nenk jadi bisa memperbaikinya dari chap ke chap, nenk jadi tambah belajar biar jadi Author yang baik, walaupun pada kenyataannya pasti masih jauh dari harapan ^^a tapi yakinlah nenk berusaha sedikit demi sedikit okeh,

so, jika kalian berkenan juga, adakah yang tahu cara mengedit cerita yang telah dipublish? jika ada, tolongin nenk ya, gmn caranya? coz nenk juga udah berusaha memperbaiki agar ga typo, and salah tanda baca, udah baca berulang kali dari atas mpe bawah, klo masih ada yng salah ya, mohon dimaapkan, oke, ^^,

sekali lagi, Arigatou Minna-san, RnR Please ^^,