Last chapter!
Hope you will enjoy it!^^
Cerita sebelumnya: Seharusnya display gambar itu menunjukkan Tyki sedang duduk di bawah pohon. Tapi sebaliknya, diplay itu menunjukkan pohon tempat Tyki duduk tanpa ada sosok ada! Sosoknya tidak ada di dalam gambar!
Chapter 7: Dalam Senyumnya
"Dia nggak punya bayangan di kamera." Lenalee menggertakkan giginya.
Allen melirik takut-takut pada Tyki –yang sibuk melamun sambil merokok di bawah pohon. "Pantas dia selalu menjauh dari kita. Dia pasti nggak bisa bersentuhan dengan kita."
"Trus gimana caranya melawan dia…!" Wajah dan dan sweater Lenalee sudah basah dipenuhi keringat dingin.
"Nggak bisa, mungkin sulit sekali. Katana dan peluru nggak mungkin melukai dia." Allen menggeleng.
"Tunggu dulu!" tahan Kanda, "Kalau kita tidak bisa menyentuhnya, berati dia juga tidak bisa menyentuh kita!"
Allen menggeleng tidak setuju. "Mungkin dia tidak menyentuh kita, tapi dia bisa mencelakai kita."
Lenalee menatapnya tidak mengerti. "Maksudmu…?"
"Coba saja kalian ingat saat pertama kali kita bertemu dengan dia." Allen menggali ingatan anggota kelompoknya yang tersisa. "Kalimat yang diucapkan Tyki sesaat sebelum dia pergi.
Serentak Kanda dan Lenalee menaikkan bola mata mereka sebatas garis atas mata –menandakan keduanya tengah berpikir.
"Sebelum api menyembur, membakar rambut dan wajah Lenalee…" pancing si ketua tim.
Lenalee meraba rambutnya –yang sangat pendek dengan ngeri. "Dia bilang ; Api kecil adalah kawan dan Api besar adalah musuh."
"Dan saat Haru menyerang kita di air terjun lalu membunuh Lavi…" pancing Allen lagi.
"Nanti bisa-bisa kalian saling menyerang dan membunuh." kata Kanda yang masih mengingat kata-kata Tyki saat mereka hampir menuju air terjun.
"Tapi gimana dengan kasus Reiya?" Lenalee masih tidak mengerti. "Apa kita akan menarik kesimpulan kalau kata-kata Tyki adalah malapetaka cuma dari dua kejadian itu?"
"Memang nggak bisa disimpulkan gitu aja. Tapi kita tahu satu hal yang pasti…" Allen menghembuskan nafasnya perlahan sehingga membentuk uap putih di sekitar wajahnya. "Dia nggak punya bayangan di kamera, yang berarti-"
" –dia bukan manusia…"
Kengerian mencekam masih menenggelamkan tiga sejoli itu.
"Hey, sampai kapan kalian mau di sini?" Tyki setengah berteriak.
Allen terlonjak.
Lenalee memekik kecil.
Kanda bergidik.
"Ano…" Allen menahan suaranya agar tidak bergetar. "Bisa kamu mencarikan kami air?"
Lenalee dan Kanda memandangnya dengan tidak mengerti.
Allen menatap Lenalee dan Kanda sekilas dengan tatapan; "Diam, aku tahu apa yang kulakukan." Lalu dikeluarkannya sebuah botol kosong dan beberapa lembar uang.
"Aku akan menunggu di sini, akan kuberi lebih banyak saat kamu datang dengan airnya."
"Bukankah lebih baik kita berangkat sekalian sambil mencari air?" usul Tyki.
"Aku masih agak capek…" Lenalee dengan sigap menolak usul Tyki.
Allen menatap Lenalee dengan pandangan yang berkata: "Bagus!"
"Oke."
Dan 'makhluk itu' melenggang pergi.
Tyki Mikk melenggang kembali dua puluh menit kemudian dengan senyum di wajahnya dan sebotol penuh berisi air di tangannya, ia berjalan kembali ke tempat Allen, Kanda dan Lenalee duduk.
"Ini airny…a…" kata-kata Tyki terputus. Botol yang dibawanya jatuh ke tanah.
Allen, Kanda dan Lenalee sudah tidak ada. Yang tertinggal hanyalah ransel mereka.
Tyki menghela nafas berat. Buruan yang berhasil dijebaknya telah kabur.
Bulan tiga perempat tidak tampak. Di jalan beraspal di tengah hutan gunung Makeru yang sunyi terdengar derap langkah tegesa-gesa tiga orang remaja yang berusaha menyelamatkan hidup mereka. Barang bawaan mereka ditinggalkan sepenuhnya kecuali beberapa barang yang menurut mereka berharga.
Allen sebagai ketua kelompok berlari di paling depan, ia hanya membawa pistolnya.
Kanda berlari di belakang Allen, tangan kanannya menggenggam mugen dengan erat sementara tangan kirinya memengang sarung katana itu, bersiap menebas apa saja yang menghalangi jalannya.
Lenalee berlari di belakang Kanda, ia tidak membawa apapun agar bisa berlari lebih kencang.
Allen tiba-tiba berhenti, Kanda yang berada di belakangnya mengerem mendadak dan langsung jatuh terjengkang.
"Bejad lu!" umpat Kanda sambil setengah berbisik dan membersihkan pantatnya yang baru saja mencium tanah. "Baka! Inu!" cercanya sadis. "Ngapain berheti sega…"
"Dengar!" Allen memasang sikap waspada, setengah membentak Kanda.
Lenalee menangkap nada cemas di kata-kata Allen, ia merapat ke balik punggung Kanda.
Drap…drap…drap…
Mereka berdua bisa mendengar suara langah seseorang yang berlari kea rah mereka.
"Siapa itu?" bisik Lenalee.
"Ssshhh!" Kanda mendesis, menyuruh Lenalee diam.
Drap…drap…drap…
Derap langkah itu makin dekat.
Kanda memejamkan mata, berkonsentrasi dengan indera pendengarannya. Dia mengambil ancang-ancang.
SRING!
"Uwaaa!" terdengar teriakan seseorang di depan mereka.
Mata Kanda melebar melihat sosok di depannya. Ujung mugen hampir mencapai hidung orang itu, kalau Kanda tidak menghentikan gerakannya pastilah orang itu sudah terpotong menjadi dadu.
Rambut hitam berombak yang dikucir miring itu…, mata hitam yang selalu tampak depresi itu… anak yang selalu membawa gundam kemana-mana...
"REIYA!" Allen, Lenalee dan Kanda berteriak bersamaan.
"Baka-Mecha Moya!" umpat Kanda. "Kamu habis dari mana? Kita bingung tahu!"
Reiya cuma pasang muka innocent. " kalian bisa kutemuin." gumam Reiya.
Kanda langsung men-death glare gadis itu. Masih mending dia dicari dan di khawatiriin, tapi balesannya? Cuma muka gak bersalah. Kesabarannya sudah habis sekarang.
"Kalian makin jauh dari jalan pulang, makanya aku misahin diri! Tyki itu menyesatkan! Dia bukan manusia!" Reiya langsung bicara tanpa basa-basi.
"Kita juga baru tahu." Jelas Allen.
"Nggak ada waktu njelasin lebih lanjut. Dia bisa aja ngejar kita, ayo jalan lag-" Reiya menghentikan omongannya, dia mentap sesuatu di balik punggung Lenalee. Kedua pupilnya membesar dalam hitungan detik. Allen mengerutkan dahi. Kanda yang melihat perubahan raut wajah Reiya menoleh, begitu juga Lenalee. Di kejauhan, kota yang diterangi cahaya bulan yang tertutup awan itu tiba-tiba seperti dilahap sesuatu. Menggelap seluruhnya tanpa ada tanda-tanda warna lain selain warna hitam. Kegelapan itu mendekat.
"…?" Allen, Kanda, Lenalee, dan Reiya keheranan. Mereka bertiga mematung tanpa bergerak sama sekali.
Keempat remaja itu mundur. Ini jelas bukan pertanda baik. Nyawa mereka kembali di ujung tanduk. Mereka merapatkan diri satu dengan yang lain. Allen dan Kanda di depan sementara Lenalee dan Reiya terlindung di balik keduanya.
Tawa aneh menyambut.
Tawa dingin
Buka tawa manusia…
Setitik cahaya muncul dari kegelapan pekat yang makin mendekat.
Bukan! Dua titik cahaya! Dua titik cahaya kuning langsat.
Kuning langsat.
"A… a… ahh…" Reiya memekik terbata. Tubuhnya bergetar. Dia berjalan mundur menjauhi teman-temannya.
Kanda menatapnya bingung.
"Rei-chan?" Lenalee menatap gadis yang tampak ingin menangis itu.
"Ada apa?" Allen melirik Reiya.
"Tyki, Itu Tyki!" Suara Reiya naik beberapa oktaf meski sambil berbisik, nyaris menangis. "Matanya kuning langsat!" Dia menunjuk dua cahaya kuning itu. Kegelapan itu mulai membentuk sepotong wajah manusia, Tyki!
Memang tidak ada pilihan bagi mereka. Semua jalan sudah buntu –termasuk pikiran mereka. Situasi membuat keempatnya tidak dapat berpikir jernih. Lari lalu dikejar dan mati, atau bertarung dan mati? Keringat dingin mengucur deras, meski udara dingin tapi tetap tidak bisa menghalangi peluh mereka yang bercucuran.
"Dalam hitungan ketiga…" Bisik Kanda, ia mundur perlahan dan membuat Lenalee yang berada di balik punggungnya ikut terdesak mundur. Kegelapan itu makin mendekat.
"Satu…"
"Dua…"
"Lari!"
Reiya berlari sekencang yang ia bisa, buir-bulir air mata sudah berlomba-lomba berjatuhan dari matanya. Ia ketakutan. Terlalu ketakutan. Ia tidak lemah! Ia bukan anak lemah! Tapi kali ini ketakutannya membocorkan bendungan air matanya. Ia tidak bisa lagi berpikir.
Lenalee tak kalah takutnya. Ia berlari di sebelah Reiya dan ia nyaris menangis juga.
"Lebih cepat!" Suara kanda naik beberapa oktaf. "Lebih cepat!"
Lenalee menoleh. Kegelapan itu makin mendekat, berjarak satu meter dari Allen yang berlari paling belakang. Di kegelapan itu mulai tampak sesosok samara tubuh manusia… Tyki Mikk…
"Lari terus!" Allen ikut berteriak.
"AAAAHHH!"
"!"
Lenalee, Kanda, dan Reiya menoleh.
Allen!
"ALLEN!" Lenalee menjerit sekuat tenaga. Ketiganya berhenti berlari.
Allen lenyap dari pandangan. Ditelan kegelapan yang kini mendekati mereka.
Jeritan remaja berambut putih itu menggema dalam kegelapan.
"LARI! TINGGALKAN AKU… AAARRGHH!" Sunyi… Itu jeritan terakhir sekaligus perintah terakhir dari ketua kelompok mereka.
Kegelapan itu kian mendekat.
Gerbang tua pembatas hutan dan desa itu telah tampak di depan mata mereka. Tiga sejoli itu mempercepat lari mereka, sedikti lagi, sedikit lagi, mereka akan keluar dari jebakan Tyki.
Namun nasib baik tidak memihak mereka, saat Lenalee hendak keluar, gerbang itu tiba-tiba tertutup.
"Ah!" Lenalee memekik.
CLANG! Gembok besar berkarat yang menggantung di gerbang itu justru terkunci.
"Hei!" Kanda menggoyang-goyangkan gerbang itu.
"Nee-sama!" Reiya menjerit. Lenalee menoleh ke belakang.
"A-a…" Lenalee bahkan tidak mampu menjerit. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Kegelapan itu mendekat. Dari dalamnya bau anyir darah dan daging busuk menguar. Dan ratusan mayat hidup menampakkan dirinya. Bahkan Haru, Lavi, dan Allen ada di antara mereka.
Tubuh Lenalee bergetar hebat dan dia jatuh terduduk dan mulai menangis.
Bahkan Kanda dan Reiya terpaku. Kengerian itu melumpuhkan seluruh otot dan syaraf mereka.
"Hi-hi-hiiiyy!" Lenalee menjerit keras saat tangan Allen yang berlumuran darah menyantuh bahunya. Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
"Lenalee…" bisik Allen dan mulai memeluknya. "Tinggallan bersamaku di sini, Lenalee…"
"Jangan tinggalkan aku, nee-sama…" Haru juga mendekat.
"LARI REI-CHAN, KANDA!" Lenalee menjerit sementara mayat Allen memeluknya makin kencang. Ia mual. Bau darah dan daging menguar di hidungnya.
"Lari sekara-AAAHHH!"
Allen membenamkan giginya ke kulit leher jenjang Lenalee. Haru, Lavi, dan semua mayat hidup itu mengeroyoknya, merobek dangingnya, menyantap daging segar itu.
Dan kegelapan melahap semuanya. Gerbang itu ikut menghilang. Kota itu menghilang. Digantikan pepohonan biasa.
"Ilusi…" bisik Kanda. Ia benar-benar ketakutan.
"Ayo…" Reiya mulai berlari dan berlari menjauhi gerbang penuh derita itu, meski ia mulai meneteskan air mata lagi. Mengakhiri pertemuan terakhir mereka dengan gadis berdarah China itu.
Tak terelakkan, entah berapa kali Kanda dan Reiya jatuh bangun untuk menyambung nyawa mereka yang berada di ambang hidup-mati. Pakaian mereka tersobek dan kulit mereka tergores ranting dan batu sepanjang jalan.
"Ah!" untuk kesekian kalinya Reiya terjatuh, Kanda hendak membantunya, tapi Reiya sudah bangit sendiri.
"Seberapa jauh lagi?" tanya Kanda.
"Dikit lagi… dikit lagi…" Reiya ngos-ngosan. Tepat sesudah Reiya berkata begitu terdengar adzan subuh berkumandang, Reiya menatap Kanda sejenak. Seolah memahami apa yang dipikirkan Reiya, Kanda menarik tangannya dan berlari menyibak semak-semak.
Di depan mereka tampak persawahan yang menghijau.
Mereka selamat!
"Aaaahhh." Reiya tersenyum lega.
Kanda menyeringai… tidak… Kanda tersenyum… untuk pertama kalinya ia menyeluarkan senyuman yang benar-benar keluar dari lubuk hatinya yang dingin.
"Vila Lavi ada di balik gunung ini." Reiya menunjuk ke belakang. "Tyki menyesatkan kita! Kemarin Kita berjalan makin menajuhi jalan pulang. Untuk sampai ke desa inilah jalan tercepat."
"Ayo. Kita nyari bus ke villa Lavi." Kanda setengah berlari mengitari pematang sawah, Reiya mengikutinya dari belakang. Langkah kaki mereka diiringi pandangan heran beberapa orang yang berangkat hendak menggarap sawah dan… seorang pedagang keliling yang menghela nafas sedih saat menyadari wajah kedua orang itu adalah dua dari enam wajah yang ia lihat di depan sebuah villa mewah sekitar seminggu lalu…
Mata pedagang itu menyipit kemudian balik membulat terkejut, ia seperti menyadari sesuatu…yang aneh... Ia terus menatap Reiya.
Anehnya, Reiya menyadari tatapan itu, padahal jarak mereka sekitar dua ratus meter. Ia menoleh dan tersenyum pada pedagang keliling itu dan meletakkan jari di bibir sebagai isyarat diam sambil menggeleng dengan tatapan sedih meski senyum tulus mengembang di bibir mungilnya.
Pedagang itu membalas senyuman Reiya dan mengangguk, seolah mengerti maksud Reiya. Lau bergumam…
"Semoga bahagia di duniamu yang baru…"
Kanda dan Reiya menghempaskan pantat mereka ke kursi bus yang robek-robek. Bus itu masih kosong, hanya ada Kanda dan Reiya.
"Berarti Tyki adalah penunggu gunung itu?" Kanda tiba-tiba bertanya.
"Hm'm…" Reiya mengangguk. "Lavi membangunkan dia…"
"Hn?"
"Nenekku pernah cerita. Saat terlihat kilatan petir di langit, percayalah saat itu seluruh makhluk halus keluar dari dalam bumi, dan saat guntur menggelegar, percayalah saat itu mereka kembali ke dalam bumi." Jelas Reiya. "Dan mereka terpanggil oleh lampu Blitz dari kamera Lavi karena saat itu tidak ada suara guntur. Lo inget kan, setelah itu tiba-tiba terjadi gempa. Tyki Mikk bebas berkeliaran di hutan ini… Gimana caranya lo nyadar terus ninggalin Tyki?"
"…" Kanda tidak menjawab. Reiya menoleh. Samurai itu sudah tertidur, bahkan dengkuran halusnya terdengar. Mungkin kelelahan. Mereka sudah tidak tidur dan terus berlari hampir dua malam.
Reiya menghela nafas pendek. Matanya berkaca-kaca, Ia mentap langit-langit bus bobrok itu. Dari sudut matanya, beberapa titik air mata menetes… dan gadis itu menangis tanpa suara…
EPILOG
Sebuah bus bobrok berwarna putih dan sepi penumpang melaju dengan cukup kencang, membuat penumpang di dalamnya terguncang-guncang. Di sebuah lubang yang cukup besar bis itu meloncat keras, beberapa orang menggerutu.
Kepala Kanda terkantuk kursi di depannya, matanya seketika terbuka. Ia menggelengkan kepalanya sebentar, mencoba mengembalikan kesadarannya. Ia menoleh ke samping kanannya, yang ada di kursi di sebelahnya hanya mugen kesayangannya. Reiya? Reiya tidak ada di sampingnya!
Dan memang tidak pernah berada di sana…
-THE END-
Thanks to you, fic ini tidak akan selesai tanpa dukungan kalian semua… Terima kasih sudah menemani sampai sejauh ini, sampai fic pertama saya ini selesai. Saya terharu benget waktu bikin ending dan epilognya… Ohhh! So sweeettt! Saia senyum-senyum sendiri kayak orang gila… :P Tapi kok tulisan –THE END-nya kesannya maksa gitu ya?
Na~na~na~na~ *nari-nari gajhe* Gimana? Review ya? Saya pingin tahu komentar pembaca semua tentang endingnya… Sbetulnya saia gag rela, sodara-sodara! Reiya yang selelu bikin rusuh di black order n ngompor-ngomporin Kanda malah nyelametin Kanda! *ditendang Reiya* Tapi entah kenapa tangan saia gerak n nulis kayak gitu tanpa saia sadari. Tapi karena saia liat bagus juga, ya udah deh…
Untuk aneka saran, review, kritik, saya akan terima semuanya sebagai bahan pembangun fondasi imajinasi saya, jadi jangan ragu-ragu mengungkapkan isi hati kalian untuk fic ini dan fic-fic saya berikutnya…
Mari mengembangkan dunia fanfiksi berbahasa Indonesia…
BEHIND THE SCENE
Allen: Endingnya…
Lenalee: …nggantung gak jelas…
Author: *death glare* Maaf Allen-san, Lenalee-san, saya tidak minta komentar anda…
Allen, Lenalee: … *mati kutu*
Reiya (OC): Jadi gue mati nih? Kok g diceritain matinya dimana n kenapa?
Author: Itu terserah saya, Rei-chan. Di paragraf pertama chap 6 itu sebenernya nyeritain kamu, tapi entah ya pembaca ngerti ato ga, saya gak peduli… *readers ngelempari tomat*
Readers: Dasar Author ga bertanggung jawab!
Author: Maap…
Lavi: Truz fic-mu berikutnya udah di publish?
Author: Udah… *masuk-masukin barang ke koper* saya pindah fandom ke KHR… *tampang gag berdosa*
All: WTF! Author #$%^%&!
SUPER THANKS TO:
Arif Ra'ain: pengarang novel HANTU (yang bikin saia merinding cuma gara2 kover-nya yang nyeremin)
Rudiyant: pengarang novel BLITZ (yang bikin saia gag bisa tidur sampe 3 hari)
Hoshino Katsura-sensei: pengarang komik D. GRAY-MAN
Karakter D. Gray-Man yang berpartisipasi: Allen, Kanda, Lavi, Lenalee, Miranda, dan Tyki.
OC yang berpartisipasi: Reiya Sumeragi dan Haru
Reiya Sumeragi-sensei: Atas sumbangan OC, dukungan pada saia yg amatir ini, dan terima kasih sebesar-besarnya karena mengajukan diri untuk membuat komik dari fic ini. Saia ga akan lupa. Saia memujamu! *cipika-cipiki ke Reiya* -digampar-
Helena Tara (Belom punya pen name), Renzy-san: Atas sumbangan OCnya.
Yula Lala-san: Untuk ide-ide sadisnya.
Seluruh kru (?) emang ada ya? Kayaknya nggak deh…
Semua yang udah nge-favorit story ini ataupun saya.
Dan juga semua pembaca~
ARIGATO GOZAIMASU!
ttd
~Meimei Kurotsuji, Queen of the Death~
