Title: My Love for You (sequel of A Gift to You)
Author: Besajoy
Disclaimer: The casts belong to God and this story is mine.
Genre: Romance, Friendship, AU, a bit family LOL
Rating: T
Cast:
- Main Cast: Cho Kyuhyun, Lee Sungmin.
- Supported Cast: Find by yourself.
Summary: Ketika Kyuhyun menyesali perbuatannya yang telah membuat sahabatnya sendiri menderita walaupun secara tidak sengaja, mampukah ia meraih kesempatan untuk bisa memperbaiki kesalahannya itu?
Warning: GS a.k.a Gender Switch. This changes uke's gender to girl.
If you don't like genderswitch fanfiction, go away. Thank you.
Clue: jangan mikir kejauhan, alurnya sederhana kok. Cuma emang dasar authornya aja yang gak bisa bikin FF pendek.
Alurnya pake alur maju mundur cantik yah jadi bacanya mesti diperhatiin baik-baik.
Dan authornya baper gara-gara nulis FF ginian, jadi maklumin yah kalau bahasanya lebay dan menjijikkan.
—o0o—
Air mata ini sudah siap untuk jatuh dan melukiskan penggambaran Sungmin akan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Kyuhyun bahwa memang ada alasan lain di balik itu semua.
"Tapi memang aku ingin menghindar dari lingkungan… Karena setiap kali aku melihat lingkungan sekitarku itu, aku selalu ingat akan kenangan-kenangan kita, yang membuatku sulit untuk melupakanmu. Dan ternyata bahkan saat aku sudah berada di sini pun aku juga merasa sulit. Bagaimana aku ingat betapa sulitnya menyembunyikan semuanya darimu, berusaha bersikap biasa saja," pada akhirnya Sungmin lebih memilih untuk membongkar semua rahasia yang ia pendam selama ini. Air matanya itu pada akhirnya meluncur juga ke pipi.
"Aku memang tidak menuntut apa pun darimu, tapi tetap saja hatiku tidak sanggup untuk menahan rasa sakit setiap kali kau berurusan dengan kekasihmu. Bagaimana aku ingat bahwa kau tidak pernah melirikku padahal aku sudah sangat mencintaimu yang menurutku itu merupakan suatu kebodohan yang besar. Banyak laki-laki di dunia ini tapi aku masih saja bertahan padamu, itu bodoh sekali. Tapi karena aku ingin menyayangimu dengan tulus jugalah makanya kebodohan itu tetap saja kulakukan. Dan saat kita akan berpisah itu… Itulah saat di mana aku harus berhenti melakukan kebodohan itu. Aku harus bisa benar-benar melupakanmu dan memulai hidup baru secara bersih dari semua hal yang membuatku sakit. Aku harus bisa benar-benar menganggapmu sahabat saat kita bertemu lagi di masa depan kala itu. Tapi di saat yang bersamaan aku juga tidak siap, Kyu. Biar bagaimana pun kau tetap merupakan sosok yang aku sayangi sehingga sulit bagiku untuk meninggalkanmu. Namun waktu semakin mendekatkanku untuk segera berkuliah di Inggris. Kalau kau tanya apakah ada alasan lain—iya, memang ada, Kyu. Aku memang ingin belajar di sini tapi ya itu, aku ingin menghindar dari lingkungan karena itu tadi—intinya aku ingin melupakanmu, Kyu. Akan tetapi, pada saat itu tiba, aku justru semakin tidak siap untuk melepaskanmu berikut semua kenangan kita. Oleh karena itu surat itu lahir," lanjut Sungmin yang suaranya sudah mulai serak. Bahkan tak terasa air mata sudah membanjiri kedua pipi Sungmin. Hatinya seperti sudah bernanah. Masa-masa kelam itu yang bahkan ia sendiri tidak mau mengungkitnya karena akan melukainya itu pun pada akhirnya terkuak juga bahkan di depan sang kekasih. Ia merasa malu sekali—tapi rasa tak berdayanya lebih besar. Jadi pada akhirnya ia pun pasrah saja.
"Ya… Seperti itulah," lanjut Sungmin lagi, seraya mengelap air matanya dengan menggunakan jemarinya. "Maafkan aku jika aku masih sensitif seperti ini, Kyu. Mengingat perjuanganku yang berat itu membuatku merasa seperti—"
"Tidak apa-apa, Minnie. Wajar sekali jika kau sensitif seperti ini," ucap Kyuhyun seraya berdiri dan mendekap Sungmin dengan seerat-eratnya. "Terima kasih kau sudah jujur seperti ini padaku. Aku senang karena pada akhirnya kau tidak berusaha untuk bersikap baik-baik saja dan menunjukkan bahwa kau tidak baik-baik saja. Sekali lagi aku minta maaf ya, Minnie," imbuhnya seraya mengusap-usap punggung Sungmin serta bagian belakang kepalanya secara bergiliran. Pada akhirnya ia berhasil membuat Sungmin menjadi pribadi yang benar-benar terbuka. Pertanyaan-pertanyaan yang memang sengaja ia kemukakan tadi memang menjadi dasar anggapannya bahwa Sungmin masih belum sepenuhnya bisa terbuka padanya. Walaupun memang sudah berangsur sedikit demi sedikit, tapi ia tidak mau tanggung-tanggung. Ia tidak mau Sungmin terus mengelak kenyataan bahwa ia baik-baik saja padahal sebenarnya tidak. Apalagi pada saat Sungmin menangis usai ia menyatakan cintanya padanya, keterlaluan sekali wanita itu masih bisa mengatakan bahwa ia tidak apa-apa. Itulah yang menyiksanya selama ini.
"Iya, Kyunnie," ucap Sungmin seraya mendekap balik Kyuhyun dengan kuat. Meski masih ada sisa-sisa serak pada nada bicaranya, namun sebenarnya ia mengucapkan rasa terima kasih lewat kuatnya pelukan ini. Entah mengapa ia jadi merasa lega sekali bisa berbagi rahasia kelam hidupnya mengenai perjuangannya dalam mencintai pria ini pada pria ini sendiri. Kini ia mengerti maksud Kyuhyun melempar berbagai pertanyaan tadi padanya. Pria ini tidak mau ada satu pun rahasia yang tak diketahui olehnya apalagi mengenai dirinya—yang berarti pria ini benar-benar menyayanginya. Ia benar-benar berterima kasih pada pria ini. Pria ini membuat dirinya benar-benar menjadi pribadi yang terbuka khususnya padanya.
Kyuhyun lebih dulu yang melepaskan pelukan antara dirinya dan Sungmin. "Sebagai rasa terima kasihku, aku punya sesuatu untukmu," ucapnya yang mengeringkan sisa-sisa air mata Sungmin namun tersenyum misterius.
"Eh? Apa itu?" refleks Sungmin bertanya demikian. Ia terperanjat—kejutan apa lagi yang Kyuhyun siapkan untuknya setelah ini?
"Sebentar…," ucap Kyuhyun yang masih meneruskan aktivitasnya. Usai menyelesaikan kegiatannya itu tak lama kemudian, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas kado warna merah muda dari saku celananya yang tertutupi oleh jas yang ia kenakan. "Ini. Selamat ulang tahun ya, Minnie! Walaupun sudah terlambat selama tiga minggu, tapi karena kau sudah memberikanku kado yang bermanfaat sekali untukku, maka aku juga harus memberikanmu kado," ia pun memberikan barang yang dipegangnya pada Sungmin dengan menarik kedua ujung bibirnya ke atas.
Sungmin menerima kado itu dengan terkekeh geli. "Hahaha. Kau ini lucu sekali, Kyu. Mana ada orang yang sudah lewat ulang tahunnya selama itu berhak untuk diberi kado," ucapnya. "Tapi terima kasih…," lanjutnya yang kali ini mengulas senyum senang.
"Buka coba," titah Kyuhyun kemudian.
"Sekarang?" tanya Sungmin seraya mengerutkan alis heran. Ia pikir ia akan membukanya nanti di rumah.
"Ya sekarang. Mumpung waktumu masih luang di sini dan hanya ada kau dan aku di sini," jawab Kyuhyun seraya tersenyum membujuk.
"Baiklah…," ucap Sungmin yang pada akhirnya mengabulkan permintaan Kyuhyun. Lagi pula tidak ada salahnya juga. "Apa ini ya, hm… Mentang-mentang aku memberimu kado yang kecil kau memberiku kado kecil juga," kedua tangannya pun mulai bergerak membuka bungkus kado.
"Ya itu seperti dirimu, kecil," sahut Kyuhyun dengan nada yang mengejek.
"Kyunnie!" seru Sungmin yang kesal mendengar gurauan Kyuhyun itu. Kyuhyun tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa mendengarnya.
Begitu kertas kado yang membungkus hadiahnya sudah terbuka, kedua alis mata Sungmin kembali mengerut melihat sebuah kotak kardus kecil yang menjadi pelindung hadiahnya yang berada di dalam. Masalahnya kotak tersebut berwarna biru muda polos sehingga ia tidak dapat menerka apa isinya selain jam tangan di dalamnya. Namun ternyata setelah kotak itu terbuka tampaklah sebuah tempat berbentuk kubus yang lebih kecil berwarna merah di dalamnya. "Eh? Apa ini? Cincin kawin?" tanya Sungmin seraya mengangkat kotak kecil itu dengan bertanya-tanya—pasalnya memang kotak merah ini bentuknya seperti tempat perhiasan.
Kyuhyun menahan tawa mendengar pertanyaan Sungmin itu. Hei—itu candaan yang ia lontarkan sepuluh tahun yang lalu.
Tangan-tangan Sungmin mulai bergerak membuka kotak itu. "Eh, benar-benar cincin…," gumam Sungmin yang melotot melihat sebuah cincin platina berwarna silver dengan batu permata kecil menyelip pada bagian tengah luar cincin. Ia kaget bukan main diberi kado yang semacam ini—astaga, untuk apa pria ini memberikannya perhiasan sebagus ini?! "Wah, bagus sekali…"
"Itu bukan cincin kawin, Minnie. Tapi cincin lamaran," ucap Kyuhyun dengan ringan seraya tersenyum usil. Namun sesungguhnya jantungnya sudah menambah kekuatan dentumannya.
"What?!" Sungmin berseru tidak percaya mendengar ucapan Kyuhyun itu. "Jangan bercanda, Kyu! Ini sama sekali tidak lucu!"
"Aku serius, Minnie. Aku memang melamarmu," ucap Kyuhyun mantap. Ia kemudian berlutut dan meraih tangan kiri Sungmin untuk digenggamnya.
"Apa?!" Sungmin masih saja berseru kaget. Ia benar-benar tidak percaya melihat aksi Kyuhyun yang sekarang terpampang jelas di depan matanya, sehingga refleks ia menarik kembali tangannya yang sempat digenggam Kyuhyun. Namun ternyata Kyuhyun justru menarik balik tangannya sehingga tindakannya tersebut gagal. Mendadak jantungnya berpacu cepat dan darahnya berdesir hebat. Jadi—
"Terima kasih ya, Sungminnie, atas semua kenangan yang telah kita ukir. Terima kasih kau telah mencintaiku selama ini dan tetap menemani hidupku hingga saat ini. Terima kasih juga kau telah membantuku untuk berubah sehingga aku bisa jadi jauh lebih baik sekarang. Walaupun kau sering merasa tersakiti karenaku namun kau tetap berusaha menyembunyikan itu semua demi diriku, demi kebaikanku, demi kebahagiaanku. Maafkan aku Minnie, aku benar-benar minta maaf. Seharusnya akulah sebagai seorang laki-laki yang lebih dulu melakukan semua itu padamu, tapi aku memang terlalu bodoh untuk menyadari bagaimana kau menganggapku begitu berarti di hidupmu sehingga kaulah yang harus melakukannya lebih dulu padahal kau seorang perempuan. Maafkan aku, karena aku kau jadi berlaku menyimpang dari kodratmu sebagai seorang perempuan, yang seharusnya dikejar laki-laki tapi justru mengejar, berjuang. Aku benar-benar minta maaf, Sungminnie," ucap Kyuhyun dengan nada yang melirih sembari mencium tangan Sungmin yang ia pegang dengan lembut dan dalam. Mati-matian ia menahan rasa sesaknya bahkan tangisnya atas kalimat yang ia ucapkan. Benar-benar ia curahkan segala yang ia rasakan dari dalam hatinya, meski ada yang sudah ia curahkan sebelumnya. Namun, ia harus kuat. Ia harus bersikap sebagai seorang pria sejati. "Selama dua puluh satu tahun lamanya kita sudah menjalani hidup kita bersama-sama, mulai dari pertemanan kita selama sembilan tahun, persahabatan kita selama dua belas tahun walaupun kita tidak berkomunikasi selama sepuluh tahun sepanjang masa itu, bahkan tadi kita sudah menjalani masa-masa menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Dan sekarang aku ingin hubungan kita naik lagi satu tingkat. Kau masih ingat bukan bahwa aku pernah bilang padamu kalau aku benar-benar ingin mencari jodoh yang terbaik untukku dan benar-benar bisa menemaniku seumur hidupku, dan sekarang aku ingin kaulah yang menjadi jodohku, sayang. Aku mohon, Lee Sungmin, menikahlah denganku dan jadilah istriku…"
Tangis Sungmin pecah seketika seiring dengan perasaan harunya yang membludak. Organ-organ yang seakan terlibat dalam memainkan emosinya seakan berpesta menyambut lamaran yang datang dari pria yang sudah membuat mereka semua bekerja keras selama ia mencintainya. Kyuhyun benar-benar melamarnya—ini benar-benar seperti mimpi. Rasanya baru saja tadi mereka berpacaran dan kini Kyuhyun sudah ingin menjadikannya istri—catat, ISTRI!
Sungmin hanya bisa mengangguk untuk menerima lamaran Kyuhyun karena ia sudah terlalu lemas atas semua kejutan yang diberikan pria ini hari ini. Mulai dari kedatangan pria ini ke kantornya, memeluk pertanda rindu setelah sekian lama tidak bertemu, berbincang-bincang hangat, berkenalan dengan kantornya, mengajaknya jalan-jalan, makan malam bersama, menjadikannya sebagai kekasih, mengajaknya ke London Eye ini, bernostalgia masa lalunya yang kelam, dan sekarang pria ini memberikannya sebuah kado berupa cincin yang alih-alih merupakan kado ulang tahunnya, namun ternyata pria ini justru kemudian melamarnya sebagai istri. Pertemuan dengan Tuan Marcus yang tadinya alih-alih hanya ingin berbisnis, namun justru berakhir seperti ini dengan identitas aslinya yang terbongkar. Rasanya ia benar-benar tidak menyangka semua itu akan terjadi hari ini.
Tangis haru serta anggukan yang datang dari Sungmin cukup memberi sebuah jawaban bagi Kyuhyun bahwa Sungmin menerima lamarannya. Dengan perasaan bahagia yang meluap-luap Kyuhyun mengambil cincin dari tempatnya lalu disematkan pada jari manis tangan kiri Sungmin. Kyuhyun pun segera berdiri dan memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat. Tangis harunya tak dapat tertahankan lagi.
Sungmin pun lekas membalas pelukan Kyuhyun dengan tak kalah erat sembari terus menangis. Akan tetapi, baru juga ia memeluk, Kyuhyun sudah melepaskannya lagi, yang membuat ia sedikit terperanjat. Namun, Kyuhyun segera menarik pinggang Sungmin dan mencumbu mesra bibirnya yang tentu saja membuat Sungmin lebih kaget lagi sehingga tanpa sengaja ia membuka sedikit bibirnya. Terbukanya celah bibir Sungmin justru membuat Kyuhyun mendapatkan akses untuk memperdalam ciuman mereka dan lidahnya segera masuk ke dalam untuk menyentuh setiap sudut dari bagian dalam mulut Sungmin.
Kyuhyun memang sengaja melakukan french kiss ini pada Sungmin tanpa menghentikan sedikit pun air matanya. Biarlah air mata mereka bersatu seiring dengan bibir mereka yang juga menyatu. Kyuhyun ingin melampiaskan semua perasaan cintanya pada wanita yang sukses ia jadikan sebagai calon istri dan menyatukan hati mereka satu sama lain. Pada akhirnya semua rencananya untuk hari ini berhasil. Ia merasa sangat bahagia karena mempersiapkan semua itu cukuplah berat baginya mengingat ia juga dikejar oleh waktu dan berbagai rutinitasnya.
Sungmin pun masih dilanda keterkejutannya selama merasakan french kiss akibat perbuatan Kyuhyun ini. Setiap sentuhan pada bibirnya bagaikan petir-petir kecil yang ia rasakan dari bibirnya, begitu menggelitik dan menggetarkan hatinya. Ini baru pertama kali seumur hidupnya ia berciuman namun ia sudah merasakan jenis ciuman yang seperti ini. Namun tetap saja rasa bahagia yang luar biasa tidak dapat ia mungkiri sehingga tangisnya tak sanggup juga ia hentikan. Ciuman pertamanya ini datang dari pria yang sangat ia cintai, bahkan ciuman ini datang saat pria itu sudah menjadi calon suaminya, bukan hanya sekadar kekasih. Pada akhirnya ia mencoba membalas ciuman itu dengan menarik tengkuk serta dagu pria itu meski ia belum berpengalaman sebelumnya. Ia ingin menikmati juga ciuman yang dalam ini. Ia ingin juga mencurahkan segala perasaan cintanya lewat ciuman ini pada calon suaminya ini.
Pada akhirnya perjuangan cinta mereka berdua mendekati akhir yang bahagia. Hanya tinggal selangkah lagi dan perjuangan mereka akan berhasil mencapai jalan yang pasti, yaitu pernikahan.
Merasa organ pernapasannya sudah mulai sesak, Kyuhyun melepaskan tautan bibir mereka. Ia pun kembali mendekap tubuh calon istrinya dengan segenap kasih sayang. Rasa harunya itu ingin ia lepaskan sepenuhnya untuk menenangkan dirinya setelah bergelora selama sekian lama dalam hatinya. "Terima kasih sayang, terima kasih…"
Tangan Sungmin kembali membalas dekapan Kyuhyun pada tubuhnya. "Terima kasih juga, sayang…," ucapnya seraya mengambil napas sebaik mungkin untuk merelakskan kembali dirinya setelah dibuat tidak karuan oleh pria ini. Ia melirik cincin yang melingkat pada jari manis tangan kirinya sejenak sebelum menutup kembali matanya. Kini ia mengerti maksud Kyuhyun memaksanya untuk pergi jalan-jalan hari ini. Pria ini benar-benar memberikan banyak kejutan hari ini. Ia senang sekali.
Diam-diam Kyuhyun mengeringkan air matanya yang sempat tumpah tadi dengan menggunakan tangan kanan, sembari menunggu Sungmin menghentikan kegiatannya membasahi jas yang ia kenakan dengan air matanya. Sudah cukup ia bersikap cengeng tadi dan sekarang ia harus menghilangkannya. Setelah dirasa sudah kering, ia pun melepaskan pelukan mereka dan membantu mengeringkan sisa-sisa air mata Sungmin. "Coba lihat—"
Kyuhyun hendak mengucapkan sesuatu, namun diinterupsi oleh aksi Sungmin yang tiba-tiba saja menarik lengannya dan menyentuh kelopak matanya seraya tersenyum. Rupanya wanita ini hendak mengeringkannya yang membuat Kyuhyun merasa terpaku. Jadi ternyata masih ada bekas-bekas tangisannya. Malu sekali. Namun ia pun senang juga diperlakukan seperti ini oleh sang calon istri. Manis sekali.
Dua manik mata Sungmin mengamati wajah Kyuhyun dengan nikmatnya. Pria tampan ini pasti menangis haru tadi. Ia tidak menyangka ternyata pria menyebalkan yang sering muncul sifat evil-nya ini bisa sampai menangis haru seperti ini karena masalah cinta. Senang sekali ia. Pria ini ternyata sudah benar-benar komitmen untuk bersamanya sampai berjuang seperti ini. Pria ini pasti sudah merencanakan semuanya demi dirinya. Ia tidak menyangka juga karena perjuangan cintanya bisa berakhir seperti ini, bisa membuat sasaran cintanya takluk akan dirinya.
"Coba lihat ke luar sana sebentar, kita sudah sampai mana…," ucap Kyuhyun usai mengeringkan air mata Sungmin. Sungmin yang juga ikut menghentikan kegiatan yang sama itu pun melakukan apa yang diminta Kyuhyun—penasaran juga. Ternyata mereka sudah sampai di posisi kedua paling atas. "Wah ya ampun, Kyu… Jadi tadi kau melamarku di posisi puncak sana?!" serunya yang kembali terkejut. Sudah berkali-kali ia dibuat kaget seperti ini. Astaga.
"Iya, sayang," balas Kyuhyun seraya tersenyum lembut. Wanita ini benar-benar bahagia dan ia senang bisa membuatnya merasakan itu.
"Ya ampun, Kyu. Kau benar-benar memberiku banyak kejutan hari ini," ucap Sungmin yang kedua matanya sudah ingin menangis haru lagi, namun dengan segera ia hilangkan berhubung ia sudah banyak menangis hari ini. Ia pun melampiaskannya dengan memberi kecupan ringan pada bibir Kyuhyun lalu ia pun memeluk kembali pria itu. "Terima kasih, Kyunnie…"
Kyuhyun sedikit terperanjat begitu ia mendapatkan sebuah kecupan ringan di bibirnya dari milik Sungmin. Wanita itu berani juga menciumnya lebih dulu. Namun ketika tak lama wanita itu memeluknya, ia segera membalasnya. "Kau harus hadir di pernikahanku nanti, sebagai istriku…"
Kata-kata Kyuhyun mengundang Sungmin untuk tertawa. Tentu saja ia masih ingat kapan kalimat itu diucapkan. Sepuluh tahun yang lalu saat mereka hendak berpisah, di mobil, dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Saat itu mereka memang membahas tentang jodoh.
o
o
When I guessed it wouldn't happen to me…
o
o
"Sungmin," Kyuhyun tiba-tiba memanggil seorang wanita yang ada di sebelah posisi kemudinya seraya terus mengendalikan mobilnya untuk berjalan menuju ke rumah orang yang ia panggil.
"Ya?" Sungmin—wanita itu—menoleh ke arah Kyuhyun bersamaan dengan kembalinya pikirannya ke dunia nyata usai memikirkan bagaimana saat-saat ketika mereka bersama dulu di sekolah.
"Di mana pun nanti kau kuliah, kau harus sukses di sana."
Walaupun Kyuhyun tidak menoleh ke arahnya saat mengucapkan hal itu karena masih menyetir mobil, namun perkataan yang terdengar tulus itu membuat Sungmin ingin menangis haru. Rasanya beruntung sekali punya sahabat seperti Kyuhyun yang mendoakan dia untuk sukses yang berarti dia peduli padanya. "Kau juga, Kyu," balasnya.
Dari ekor mata, Kyuhyun bisa melihat senyuman tulus dari bibir Sungmin. "Aku mendoakanmu yang terbaik," ucapnya seraya membalas senyum itu walaupun tanpa menggerakan kepalanya.
Rasanya Sungmin semakin ingin memeluk erat Kyuhyun dan menumpahkan air mata di bahunya. "Terima kasih. Aku juga akan mendoakanmu yang terbaik, Kyu. Belajar di sana yang benar, jangan pacaran terus kerjanya. Nanti putus kau galau lagi," rasanya cukup sakit ketika ia mengucapkan dua kalimat yang terakhir itu mengingat lelaki itu tidak pernah meliriknya sama sekali padahal ia selalu berusaha untuk tetap di dekatnya.
"Hahaha," Kyuhyun spontan tertawa mendengar nasihat Sungmin yang menyinggungnya. Wajar bila gadis itu tahu karena memang ia selalu menumpahkan setiap curahan hatinya kepadanya. "Siap, Sungmin! Kau tenang saja, sekarang aku benar-benar ingin mencari jodoh yang terbaik untukku yang benar-benar bisa menemaniku seumur hidupku. Yang berlalu biarlah berlalu."
"Tapi kau sudah melupakan mantanmu yang terakhir itu belum? Bullshit sekali itu, 'Yang berlalu biarlah berlalu'. Hahaha," ucap Sungmin seraya—berusaha—tertawa. Teringat mantan Kyuhyun yang cantik itu membuatnya merasa kalah karena ia tidak pernah berhasil merebut hati Kyuhyun.
"Kau ini," ucap Kyuhyun. Mengingat mantan kekasihnya membuat hatinya sedikit nyeri ketika mendengar perkataan dari Sungmin barusan. "Sejujurnya belum, tapi hanya tinggal sedikit lagi. Lagi pula, aku dengannya beda kampus dan jaraknya jauh sekali. Bersyukur sekali akan hal itu, aku jadi lebih bisa melupakan dia dan aku akan mencari jodohku yang sebenarnya," lanjutnya seraya tersenyum dengan artian menyemangati dirinya sendiri. "Kau harus hadir di pernikahanku nanti," pintanya pada Sungmin.
Kau harus hadir di pernikahanku nanti.
Bahkan dia sudah memikirkan hal yang terlalu jauh tentang jodoh yaitu mengenai pernikahan. Hati Sungmin sakit sekali mengingat ia tidak akan mungkin menikahinya—memacarinya saja tidak akan.
Tapi—"Tenang, aku akan berada di sana kalau kau mengundangku," pinta Sungmin setenang mungkin, walau sebenarnya sudah ada setetes air mata yang jatuh di pipi sebelah kirinya karena air matanya memang sudah meronta-ronta ingin keluar sedari tadi. Tapi ia segera menghapus air mata itu sebelum Kyuhyun melihatnya. "Hahaha. Jangan lupa," dan sekarang dengan bodohnya ia tertawa dan malah memintanya untuk tidak melupakan permintaannya itu. Sebagai seorang sahabat ia betul-betul menyadari kalau ia harus selalu mendukungnya di mana pun, kapan pun, dan dalam kondisi apa pun—walaupun hatinya sudah terseot-seot saking lamanya ia mengejar Kyuhyun namun tak kunjung dapat.
"Tenang, Sungmin. Aku tidak akan lupa kalau aku punya sahabat yang kecil yaitu dirimu. Hahaha," ucap Kyuhyun yang diselipi gurauannya, yang kembali membuat Sungmin merasa kesal akan gurauan itu.
"Heh Kyu! Aku diingatnya yang kecil itu saja. Terserahmulah," ucap Sungmin ketus seraya memalingkan pandangannya ke arah depan.
Menyadari Sungmin memalingkan muka dari Kyuhyun lewat ekor matanya sebagai pertanda bahwa ia kesal, Kyuhyun lantas berkata, "Aku bercanda Minnie. Ya ampun, jangan marah seperti yang tadi lagi, tolong."
Suara Kyuhyun yang terkesan memohon itu membuat Sungmin ingin menciumnya karena hal itu membuat kejengkelan Sungmin runtuh. "Fokuslah menyetir, Kyu. Aku tidak akan mengganggu aktivitasmu menyetir dengan bersikap marah padamu," ucap Sungmin seraya menatap Kyuhyun lagi, yang kali ini benar-benar tenang karena sudah terhibur oleh perkataan Kyuhyun barusan.
o
o
End.
o
o
Saat itu sesungguhnya Sungmin sangat tidak siap jika suatu saat nanti ia melihat Kyuhyun harus berjodoh dengan orang lain dan bukan dirinya—melepaskannya untuk berkuliah dengan beda tempat saja ia tidak siap, apalagi melepaskannya dengan wanita lain. Walaupun ia sudah sering menghadapi sifat Kyuhyun yang gemar menjalin hubungan spesial dengan para wanita, namun pada faktanya kala itu hatinya belum terbiasa sepenuhnya. Dan Kyuhyun sudah mengangkat tema mengenai jodoh saja padahal hatinya masih belum siap untuk mengangkat topik itu mengingat hatinya yang masih rawan menjelang perpisahan mereka.
Tidak terlintas sedikit pun bahwa jodoh Kyuhyun adalah ia sendiri.
"Tentu saja, Kyunnie. Aku memang sudah bilang bukan kalau aku akan berada di sana kalau kau mengundangku, sekali pun misalnya kau berjodoh dengan orang lain," ucap Sungmin.
"Tapi tetap saja kau ingin jodohku itu dirimu, bukan? Hahaha," Kyuhyun pun terkekeh mendengar ucapan Sungmin. Tentu saja ia masih ingat bahwa Sungmin pernah mengatakan itu sebelumnya.
Namun tiba-tiba jiwa Sungmin tersentak saat ia menyadari sesuatu. Ia pun segera melepaskan pelukannya. "Kyu, tapi kita akan menjalani long distance relationship mengingat kita saat ini sedang beda negara. Apa kau tidak apa-apa?" tanyanya seraya mengambil posisi duduk pada tempat yang sudah disediakan.
Kyuhyun pun ikut juga duduk di samping kiri Sungmin. "Apa kita harus selamanya beda negara, Minnie?" ia pun balik bertanya padanya berhubung hatinya yang sudah mulai mendung.
"Tentu saja tidak, Kyunnie," jawab Sungmin sembari menggenggam tangan Kyuhyun serta memberi senyum untuk menghiburnya. Ia tahu pasti pria itu sedih mengingat jauhnya jarak di antara mereka. "Setahun lagi Sungjin akan menjadi direktur perusahaan. Aku memang sudah berencana untuk menyerahkan jabatanku padanya usai ia menyelesaikan kuliahnya di Korea Selatan sana, dan rumah yang kutempati di sini akan menjadi miliknya. Tapi walaupun Sungjin kuliah di Korea, aku yakin ia dapat menjalankan tugasnya dengan baik di sini. Ia sudah latihan mengenali bisnisku sedikit demi sedikit seperti yang sudah kubilang tempo lalu dan memang prestasinya di tempat kuliahnya cukup bagus apalagi dengan jurusan Teknik Industri yang tidak terlalu melenceng. Jadi aku hanya membantu mendesain rancangan pakaiannya saja, and yes, of course, aku akan ikut denganmu nanti setelah itu," jelasnya.
"Enak sekali adikmu itu hanya tinggal menerima jerih payahmu saja," ceplos Kyuhyun sembari mengeluarkan ponselnya. "Seandainya saja Kak Ahra juga sepertimu aku pasti akan hidup makmur adil sejahtera dan sentosa tanpa harus bersusah payah membangun perusahaanku sendiri."
Sungmin tidak bisa menahan tawa mendengar keluhan dari Kyuhyun itu. "Tapi justru bagus kau membangun perusahaanmu sendiri Kyunnie. Kau bahagia berkat hasil kerja kerasmu sendiri," ucapnya sembari memeluk lengan Kyuhyun
"Tapi sejujurnya—percaya tidak percaya—aku belum punya rumah sendiri. Jadi selama setahun itu aku akan membangun tempat tinggal yang layak untuk kita dan juga anak-anak kita nanti," ucap Kyuhyun seraya memainkan ponselnya.
Sungmin sempat melirik ke arah ponsel Kyuhyun dan ia merasa lega pada saat ia tahu bahwa Kyuhyun sedang melakukan chatting kepada kakak kandungnya—setidaknya bukan pada wanita yang macam-macam. "Hei—jadi selama ini kau masih tinggal di rumah keluargamu?!" tanyanya kemudian seraya membelalakkan mata. Tentu saja ia terkejut mendengar penuturan jujur dari Kyuhyun itu—astaga, seorang pria yang sudah sangat mapan yang punya perusahaan sendiri yang punya harta seabrek ini masih menumpang rumah pada keluarganya?! Ia pikir Kyuhyun hidup mewah di Korea sana.
"Aku tinggal di apartemen, Minnie," jawab Kyuhyun sembari tersenyum geli. "Kau pikir aku pria seperti apa yang masih bermanja-manja menumpang hidup pada keluargaku?!"
"Ah… Kukira seperti itu," ucap Sungmin yang pada akhirnya paham. Oke—pria ini memang sejak dulu tidak suka hidup repot sehingga pria ini lebih memilih untuk tinggal di kawasan tempat tinggal yang kecil selama ia tinggal sendiri. "Ada pembantu?"
"Tidak," jawab Kyuhyun mantap. "Aku benar-benar hidup mandiri di sana tanpa dibantu oleh siapa pun."
"Wah sungguh?!" ucap Sungmin antusias. Harus berapa kali ia dibuat terkejut seperti ini. Ia pikir pria itu benar-benar tidak mau hidup repot—ternyata bahkan ia benar-benar mengurus rumahnya sendiri padahal ia seorang pria. Seperti mahasiswa jauh yang merantau sehingga butuh tempat tinggal sementara saja.
"Iya, Minnie. Memangnya kenapa? Kau terkejut, hm?" tanya Kyuhyun seraya tersenyum geli. Sudah ia duga wanita itu akan terkejut. "Apartemen itu memang sudah kutempati dari sejak pertama kuliah sampai sekarang dan aku memang malas untuk pindah-pindah lagi apalagi aku hanya tinggal sendiri. Memangnya dirimu, tinggal sendiri saja harus pakai rumah besar dan mewah seperti kau sudah berumah tangga saja," ejeknya.
"Hei—sudah kubilang itu rumah keluarga, Kyunnie!" seru Sungmin kesal.
"Cerewet kau, calon Mrs. Cho," celetuk Kyuhyun seraya memutar ponselnya sebesar 90 derajat. Kata-katanya itu tentu saja menggelitik hati Sungmin. Namun tak lama setelah itu Kyuhyun kembali angkat suara. "Yes, finally it's connected!"
"What?" tanya Sungmin kebingungan.
Tidak lama kemudian muncullah dua orang yang tertera pada layar ponsel Kyuhyun. Sungmin yang menyaksikannya pun membelalakan mata. Astaga—itu kakak Kyuhyun bersama adiknya?!
"Hai kaliaaaan!" sapa Ahra dengan ceria.
"Hai kak," Kyuhyun menyambutnya dengan senang hati pada kakaknya. "Oh—hi, bro!" sapa ia pada Sungjin.
"Hai kak Kyuhyun," balas Sungjin dengan ramah. "Eh, itu siapa yang ada di sebelahmu, kak? Seperti hantu cheuksin. Hahaha," godanya seraya menunjuk ke arah Sungmin.
"Sungjin!" seru Sungmin kesal. "Apa-apaan ini, Kyunnie?! Maksudnya ini apa?!" lanjutnya yang masih bertanya-tanya mengapa saudara mereka berdua bisa bertemu seperti yang ada di layar.
"Ow…!" seru Ahra dan Sungjin kompak.
"Jadi sekarang panggilannya 'Kyunnie' ya, hmm…," goda Sungjin sembari tersenyum usil.
"Kyu, jangan bilang kalau kau sudah melamar Sungmin?" tanya Ahra yang juga tersenyum sumringah.
"Sudah, kak. Baru saja. Hahaha," jawab Kyuhyun seraya tertawa kecil, malu.
"Apa?! Kyuhyun sudah melamar Sungmin?!" suara seruan seseorang tiba-tiba muncul yang bersumber dari tempat yang terpampang di layar sana. Kyuhyun yang tahu betul suara itu adalah suara sang ibu langsung berseru senang. "Ibuuu!"
"Taraaa! Lihatlah sekarang, keluarga kita semua sudah berkumpul!" seru Ahra dengan antusias, kemudian dalam sekejap muncullah pemandangan di mana orang tua dari Kyuhyun dan Sungmin serta Ahra dan juga Sungjin duduk bersama-sama. Sungmin yang kaget dengan pemandangan yang seperti itu bertambah kaget lagi saat menyadari bahwa suasana ruangannya itu adalah suasana ruang tamu di rumah keluarganya yang berada di negara asalnya. "Oh ya ampun, astaga!"
"Hallo…!" ibu dari masing-masing pihak menyapa anak mereka dari layar dengan kompak dan ramah.
"Ibu!" seru Kyuhyun dengan senyum yang melebar. Tampak di sana penampakan keluarga mereka sudah lebih besar daripada tadi. "Lihatlah sedang bersama siapa aku sekarang—calon menantu ibu!" serunya seraya memeluk tubuh Sungmin dengan menggunakan tangan kanannya secara seduktif. Sungmin yang diperlakukan seperti itu di depan calon mertuanya pun malu setengah mati.
"Ah… Anakmu romantis sekali ya, Bu. Beruntung sekali anakku Sungmin bisa berjodoh dengannya," ucap salah seorang ibu yang lain. Sungmin yang merasa jadi anak beliau hanya terkikik geli.
"Iya, Bu. Padahal awalnya hanya saingan peringkat kelas, sekarang saingan merebut hati satu sama lain," sahut ibu Kyuhyun. Kyuhyun dan Sungmin yang jelas mendengarnya spontan terkekeh malu mendengar gurauan dari beliau.
"Tapi anakmu itu menyusahkan keluarga kita, iya bukan, Pa?" tanya ibunya Sungmin kepada suaminya yang ada di samping beliau. Beliau lalu menoleh ke arah Sungmin. "Sungmin, kau tahu? Pagi-pagi bolong seperti ini kita sudah didatangi tamu-tamu ini dan tiba-tiba saja langsung membahas pernikahan! Bagaimana kita tidak kaget?! Ada Ahra lagi yang jauh-jauh datang dari Amerika."
"Hahaha. Mama ini. Tapi ada makan, bukan?" tanya Sungmin pada sang ibu.
"Tadi saat mereka datang, mama dan bibi sedang masak. Jadi tadi papa yang menerima tamu. Ya sudah, mama masak saja sekalian untuk mereka. Tadi baru saja selesai," jawab sang ibu. Bagus sekali, koneksi internetnya sedang lancar.
"Syukurlah," ucap Sungmin yang tersenyum lega.
"Kyuhyun… Kyuhyun…," tiba-tiba ada suara bernada bass terdengar, bersamaan dengan kemunculan sosok pria tua yang familiar terutama di mata Kyuhyun. Ayahnya. "Iya, ada apa, Yah?" tanya Kyuhyun pada beliau.
"Kami sudah setuju bahwa pernikahan akan dilaksanakan minggu depan tanggal 3 Februari, bertepatan dengan ulang tahunmu. Tinggal menunggu persiapan dari kalian," ucap ayah Kyuhyun.
"Apa?! Minggu depan?!" seru Sungmin refleks. Namun ia tidak begitu peduli lagi saat menyadari bahwa ia telah berlaku kurang sopan karena ia butuh penjelasan dari Kyuhyun. "Kyunnie, kenapa cepat sekali?! Masalahnya takutnya ada agenda penting yang diadakan pada hari itu," ucap ia seraya menatap Kyuhyun dengan was-was.
"Batalkan semua agendanya, Minnie. Aku tetap mau nikah di hari itu, tidak ada alasan. Pokoknya kau harus menjadi kado spesial di hari ulang tahunku nanti," ucap Kyuhyun tegas. Ia sempat mendengar ada seruan godaan dari kakaknya serta adik Sungmin namun ia tidak menghiraukannya. "Kalau nanti ada konsekuensi besar yang harus ditanggung, aku yang menanggung semuanya."
"Hei—tidak bisa begitu! Selalu kau yang menanggungnya," protes Sungmin.
"Jadi, mau menikah denganku atau tidak?" tanya Kyuhyun serius. "Aku tidak mau menikah di tanggal lain selain tanggal itu. Kalau kau tidak mau, ya sudah. Lamaran diba—"
"Mau Kyu, mau!" seru Sungmin seraya mendekap tubuh Kyuhyun dengan takut. "Astaga, kau selalu bisa membuatku tidak punya pilihan lain!" gerutunya yang sudah kesal setengah mati. Kontan semua orang yang menyaksikan tingkah laku Sungmin termasuk Kyuhyun sendiri tertawa.
"Sungmin," panggil sang ibu kepada anaknya. Kamera langsung mengarah pada beliau. "Busana pengantin kau sendiri yang merancangnya, bukan?"
"Tentu saja, Ma!" jawab Sungmin antusias yang sudah menatap kembali ke arah layar ponsel. "Sungmin sudah siapkan dari jauh-jauh hari. Jadi, sudah beres untuk yang itu."
"Rajin sekali," sahut ibu Kyuhyun dari balik sana. "Anakmu sepertinya ingin cepat-cepat dinikahi, ya. Kekeke," beliau pun terkikik.
"Bagus. Bagus. Jangan lupa segera siapkan cincin pernikahan, sebar undangan, serta tentukan hari di mana kalian akan melakukan foto prewedding, karena waktunya sudah sempit sementara kau harus ambil cuti sedini mungkin untuk itu mengingat kau harus segera balik ke sini. Kyuhyun sudah bilang ke orangtuanya bahwa pernikahan akan berlangsung di sini dan tempatnya juga sudah disediakan. Ingat itu," ujar ibu Sungmin pada anaknya.
Sungmin bergeming sesaat mendengar penjelasan ibunya. Kyuhyun sudah mempersiapkan tempat pernikahan untuk mereka—astaga. "Baik, Ma."
"Kyuhyun," panggil seseorang lagi dengan suara bapak-bapak. Kamera pun segera beralih menuju ke arah beliau. Kyuhyun menatap sosok yang memanggilnya dengan siaga. Ayahanda Sungmin. "Jaga anakku baik-baik. Persiapkan sebaik mungkin untuk anakku. Bapak sudah mempercayakanmu untuk mendampingi anakku."
Sungmin menatap sang ayah yang sudah ia rindukan dengan terharu. Mendapati ayahnya sudah merestui hubungannya dengan Kyuhyun ditambah lagi dengan penggambaran kasih sayang yang ditunjukkan beliau padanya membuat ia tersentuh. "Baik, Om," ucap Kyuhyun seraya mengangguk tanpa ragu. Tentu saja ia akan menjaga anak beliau sebaik mungkin.
"Panggil saja om itu ayah dan ibunya Sungmin itu ibu, sama seperti bagaimana kau memanggil ayah dan ibumu. Kau sudah menjadi bagian dari kami," ucap papa Sungmin kemudian.
"Hahaha. Baik, ayah," balas Kyuhyun seraya terkekeh.
"Sungmin," panggil ayahanda Sungmin kemudian, kali ini pada anak beliau. "Jaga dirimu baik-baik dan juga perusahaanmu. Usahakan perusahaanmu tetap stabil walaupun ada pernikahan dadakan seperti ini. Itu adikmu sudah siap sekali ingin menggantikanmu menjadi direktur," ucap beliau.
"Papa!" protes Sungjin dari seberang sana.
"Hahaha. Baik, Pa. Papa bisa percayakan Sungmin dalam hal itu," ucap Sungmin yang diawali dengan tawa kecil mengingat sang adik.
"Oke. Papa percaya padamu," ucap papa Sungmin seraya tersenyum pada anaknya.
Selanjutnya kembali tampak Ahra dan Sungjin pada layar ponsel. "Sudah puas bukan dapat kejutan dari kami?" tanya Ahra sembari tersenyum lebar. "Sungmin, berterimakasihlah pada Kyuhyun karena dialah keluarga kami semua bisa berkumpul di rumahmu. Dia telah mempersiapkan banyak hal agar bisa menjadikanmu sebagai jodohnya, termasuk hal itu tadi. Dia juga katanya sudah mempersiapkan segala hal yang akan dia lakukan untuk pertemuan kalian sehingga dia bisa melamarmu di London sana—entah yang disiapkan apa. Yang jelas banyak-banyaklah berterima kasih padanya. Saya sudah tahu bagaimana Kyuhyun mencintaimu dan dia sudah banyak berjuang atas pisahnya kalian selama sepuluh tahun itu. Banyak hal yang membuat Kyuhyun bertransformasi menjadi jauh lebih dewasa daripada yang dulu saya kenal, dan yang paling membuat saya berkesan adalah perubahannya agar bisa lebih menghargai segala hal yang ia punya dan berusaha membangun diri menjadi lebih baik—salah di antaranya adalah berprestasi di kuliahnya dengan meraih gelar cum laude dan juga bisa membangun perusahaan bank yang besar dan sukses. Salah satu penyemangat terbesarnya adalah dirimu, selain keluarga kami. Dia selalu bilang bahwa dia harus bisa membuatmu bangga atas dirinya beserta pencapaian-pencapaian besar yang dia lakukan. Jadi kau juga terlibat dalam kesuksesannya secara tidak langsung. Saya sebagai kakaknya mengucapkan terima kasih banyak. Saya sadar bahwa selama ini saya tidak banyak membantu Kyuhyun padahal saya kakaknya. Untuk itu saya mohon, tetaplah jaga Kyuhyun adikku, ya. Semoga kalian bisa melangsungkan pernikahan nanti dengan lancar dan sukses, dan bisa bersama hingga akhir nanti," ucapnya dengan serius.
"Kakak ini terlalu berlebihan, ah!" justru Kyuhyunlah yang lebih dulu menyahut perkataan sang kakak. Ia salah tingkah sendiri mendengar pujian yang kakaknya lontarkan pada calon istrinya itu. Pasalnya jarang sekali sang kakak melakukan hal seperti itu padanya baik secara langsung maupun tidak langsung.
"Iya, Kak. I know he has done the best. I really feel proud of him. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk mendampinginya hingga akhir nanti," ucap Sungmin yang menahan rasa haru mendengar penuturan dari kakak Kyuhyun. Bahkan kakak Kyuhyun sendiri sudah melontarkan testimoninya mengenai kekuatan cinta Kyuhyun padanya. Rasanya ia segera ingin cepat-cepat nikah saja.
Mendengar penuturan Sungmin yang sangat menggelitik hatinya membuat Kyuhyun segera memeluknya dengan menggunakan sebelah tangan dan mencium pipinya. Sungmin yang diperlakukan seperti itu otomatis tersenyum malu.
"Doakan saya bisa menyusul kakak ya. Hehehehe," ucap Sungjin seraya cengengesan.
"Heh! Kerja dulu yang benar baru nikah," ceplos Kyuhyun yang kembali lagi pada posisi biasanya.
"Amen. Hahaha," ucap Sungmin seraya tertawa kecil.
"Kami sudahi dulu, ya. Berhubung hari sudah semakin malam, kasihan bu direktur ini sudah kubawa kabur dari kantornya. Hahaha," ucap Kyuhyun.
"Kau memang menyebalkan!" protes Sungmin kesal pada orang di sebelahnya.
"Oke, oke. Kami tunggu pernikahan kalian!" ucap Ahra.
"Dan juga makan-makannya!" sahut Sungjin.
"See you!" seru Ahra dan Sungjin kompak.
"See you too!" seru Kyuhyun dan Sungmin yang tak kalah kompak. Video call pun ditutup oleh kedua belah pihak.
"Kyunnie, harus berapa kali aku kaget atas kejutanmu?!" seru Sungmin yang dipenuhi oleh rasa senang dari dalam hati. Ia lantas segera memeluk Kyuhyun dari samping. "Terima kasih banyak ya, sayang!"
"Sama-sama, Minnie," ucap Kyuhyun yang juga ikut tersenyum melihat Sungmin tersenyum. Ia pun mengelus pelan bagian atas kepala Sungmin. "Oh iya, Victoria juga mau menikah."
"Victoria mantanmu itu? Mau menikah?!" tanya Sungmin seraya menegakkan badan dan menatap Kyuhyun dengan kelopak mata yang terbuka lebih lebar. Untuk kesekian kalinya ia kembali kaget.
"Iya. Tunangannya dari China. Kau juga diundang ke pernikahan mereka," ucap Kyuhyun yang kemudian merogoh sesuatu dari dalam kantung jasnya. Sungmin terperanjat begitu sebuah undangan berwarna emas keluar dari kantung itu. Muat juga. "Ini untukmu. Undangan untukku sudah kusimpan," ucap Kyuhyun seraya menyerahkan undangan itu pada Sungmin.
"Wow… Kapan pernikahannya?" tanya Sungmin seraya memindahtangankan undangan pernikahan Victoria dari tangan Kyuhyun dan menatap undangan itu masih dengan tertarik.
"Dua minggu lagi," jawab Kyuhyun. "Dia pasti akan terkejut mengingat aku mengambil waktu pernikahan kita lebih dulu dari dia, mengingat dialah yang lebih dulu menyerahkan undangannya itu padaku pada saat reuni itu," ujarnya seraya tersenyum geli.
"Wow… Zhoumi namanya. Lumayan juga," ucap Sungmin ketika melihat-lihat isi undangan itu. "Akhirnya dia menemukan orang yang tepat."
"Yeah… Zhoumi juga ikut ke reuni itu bersama Victoria. Aku sempat berkenalan dengannya. Dan dia sudah tahu bahwa aku mantan kekasihnya dia," tutur Kyuhyun.
"What?!" ucap Sungmin seraya membelalakkan mata. "Bagaimana bisa?! Victoria yang memberitahukannya?! Aku yakin ia pasti cemburu."
"Iya. Lucu sekali wanita itu. Dia pun sangat terbuka pada Zhoumi. Semua mantannya katanya diperkenalkan olehnya pada tunangannya itu," balas Kyuhyun ringan. "And… Yeah… He's definitely jealous. It's funny. Hahaha. Terlebih lagi aku sedang sendiri ketika bertemu mereka."
"Kau datang ke reuni benar-benar sendirian?" tanya Sungmin yang hatinya mulai mengeruh.
"Yes," jawab Kyuhyun ringan. "Aku benar-benar menunggumu, tapi ternyata kau tidak datang. Padahal teman-teman—Eunhyuk, Donghae, Shindong, Ryeowook, sudah membawa kekasih masing-masing. Eunhyuk dan Donghae apalagi itu, mereka mesra-mesraan di depan umum. Victoria juga sudah membawa tunangannya. Sementara aku sendirian. Kalau kau datang aku jadinya tidak benar-benar sendirian."
"Maaf…," ucap Sungmin seraya meraih tangan Kyuhyun dan menggenggamnya dengan rasa bersalah. Rupanya ketidakdatangannya pada reuni sekolah tempo lalu benar-benar menjadi perkara besar bagi Kyuhyun. Ia merasa begitu berdosa jadinya sekali pun penyebab ketidakhadirannya itu karena masalah pekerjaan yang penting.
"Tidak apa-apa," ucap Kyuhyun seraya mengecup kening Sungmin untuk menenangkannya. "Yang penting sekarang kau sudah menjadi calon istriku," ucapnya seraya menatap Sungmin intens dan tersenyum tulus.
Sungmin terkekeh malu mendengar kata-kata Kyuhyun. Terlebih lagi saat pria itu menyebut dirinya sebagai calon istrinya, membuat ia semakin salah tingkah. "Setidaknya kita dulu yang lebih dulu menikah dibanding mereka."
"Hahahaha, benar," ucap Kyuhyun yang kini tertawa. Benar juga apa kata Sungmin.
"Aku pun senang karena ternyata pada akhirnya kau akur juga dengan Victoria," ucap Sungmin kemudian. "Kukira Victoria benar-benar tidak menganggapmu ada lagi. Konflik kalian saat putus membuatku takut."
Kyuhyun tertawa lebih keras lagi ketika gendang telinganya menangkap penuturan Sungmin yang sangat lucu baginya. "Pasti karena ia yang cemburu padamu saat itu. Aku minta maaf ya karena sempat menyalahkanmu waktu itu sampai-sampai aku hampir meretakkan persahabatan kita. Untung ada Eunhyuk…"
"Eunhyuk?!" ucap Sungmin seraya mengerjapkan matanya. "Apa yang ia lakukan? Aku tidak pernah tahu," tanyanya penasaran sekaligus juga was-was.
"Pokoknya dialah yang membuatku sadar kalau kehadiran sahabat itu penting. Apalagi dirimu. Kau benar-benar menjaga perasaanku padahal aku tahu bagaimana ketakutanmu pada saat persahabatan kita itu terancam sampai-sampai kau sempat menangis," jawab Kyuhyun.
"Apa?! Kau tahu bahwa aku sempat menangis itu?!" tanya Sungmin kaget. Astaga, ia mendadak malu.
"Iya," jawab Kyuhyun ringan.
"Astaga—Eunhyuk siaaaal!" seru Sungmin kesal. Ternyata sahabat wanitanya itu tidak bisa dipercaya.
"Tidak apa-apa, Minnie. Biar bagaimana pun dia juga berjasa. Kalau bukan karena dia mungkin aku akan benar-benar tidak mengacuhkanmu lagi dan kita akan menjadi seperti orang asing," ucap Kyuhyun seraya menatap Sungmin serius. Ia pun memalingkan pandangan menuju ke arah luar ruangan. Sebelum Sungmin angkat bicara ia yang lebih dulu memulainya lagi. "Kau tahu apa yang dia katakan waktu itu yang paling membuatku sadar? 'Pacar mungkin akan datang silih berganti sampai nanti kau menemukan jodoh yang tepat, tapi sahabat akan selalu setia menemanimu walaupun kau sudah mendapat jodoh'."
Hati Sungmin terenyuh juga begitu mendengar ucapan Kyuhyun mengenai quotes yang katanya bersumber dari Eunhyuk itu. Benar juga—salah satu buktinya adalah Eunhyuk. Lalu—Kyuhyun bagaimana?
"Lantas, bagaimana jika ternyata jodohmu adalah sahabatmu sendiri?" tanya Kyuhyun yang seolah-olah berbicara sendiri, namun Sungmin merasa bahwa ia sedang berbicara padanya dan ia merasa tersindir. "Berarti orang itu akan selalu setia menemanimu sampai akhir," ia pun memalingkan tatapannya ke arah Sungmin dengan intens dan senyum yang menggoda. Benar ternyata menurut Sungmin, orang itu menyindirnya. Jelas, calon suaminya.
"Amen," Sungmin pun membalas senyum Kyuhyun dengan tulus. Ya, semoga.
—o0o—
"Saudara Cho Kyuhyun, apakah saudara mengaku disini dihadapan Allah Bapa, Tuhan Allah Yesus Kristus sang Gembala Agung dan Allah Roh Kudus serta hamba-Nya dan disaksikan oleh keluarga dan jemaat Tuhan, bahwa saudara bersedia dan mau menerima Saudari Lee Sungmin sebagai istri saudara satu-satunya, untuk hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup, untuk mengasihinya sama seperti saudara mengasihi diri sendiri, untuk mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya hingga maut memisahkan kalian?"
Sang pendeta mengucapkan pertanyaan atas sesi pengakuan dan ikrar pernikahan Kyuhyun dan Sungmin kepada sang mempelai pria, di hadapan seluruh para jemaat yang menjadi saksi peristiwa ini, dan juga di hadapan Tuhan.
Tentu saja jantung Sungmin berdentum dengan kuat dan cepat ketika indera pendengarannya menangkap suara pendeta yang melontarkan pertanyaan keramat itu di depannya juga, selain di depan Kyuhyun juga. Apalagi saat jemari tangan Kyuhyun memperkuat genggaman tangan mereka yang sedari tadi tertaut, membuat darahnya semakin berdesir hebat. Ia pun menambah kekuatan tangannya juga dalam menggenggam tangan Kyuhyun. "Ya, saya bersedia," ucap Kyuhyun dengan mantap. Tentu saja ia bersedia menjaga bidadari dunia di sebelahnya ini. Sungmin pun yang berada di sampingnya merasa terharu.
"Saudari Lee Sungmin, apakah saudari mengaku disini dihadapan Allah Bapa, Tuhan Allah Yesus Kristus sang Gembala Agung dan Allah Roh Kudus serta hamba-Nya dan disaksikan oleh keluarga dan jemaat Tuhan, bahwa saudari bersedia dan mau menerima Saudara Cho Kyuhyun sebagai suami saudari satu-satunya, untuk hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup, untuk mengasihinya sama seperti saudara mengasihi diri sendiri, untuk mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya hingga maut memisahkan kalian?"
Kini giliran Sungminlah yang harus melakukan peneguhan pernikahan atas pertanyaan dari sang pendeta. "Ya, saya bersedia," ucapnya dengan senang hati.
Kedua mempelai merasa lega atas selesainya pengucapan pengakuan dan ikrar atas pernikahan mereka. Namun mereka berdua pun menyadari bahwa masih ada lagi satu sesi yang lebih menegangkan, yaitu pengucapan sumpah, sehingga mereka masih setia memautkan tangan mereka satu sama lain dan saling menguatkan.
Terdengar sang pendeta mengeluarkan ceramah beliau sejenak, dan didengarkan oleh seluruh jemaat dengan khidmat, termasuk kedua mempelai di depan beliau sendiri.
"Silahkan saudara saling berjabat tangan dan mengucap ikrar janjinya."
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya sesi yang paling menegangkan dimulai bagi keduanya karena membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Pengucapan ikrar janji setia suami istri, dengan didampingi oleh pendeta dan perhatian jemaat masih tertuju pada kedua mempelai. Kyuhyun dan Sungmin pun lantas segera berganti posisi menjadi saling berhadapan dengan kini kedua tangan merekalah yang saling terpaut antar keduanya. Sungmin langsung malu sendiri begitu di depannya disuguhkan dengan penampilan sang direktur perusahaan bank terkemuka yang begitu tampan dan menawan, yang pada hari ini resmi jadi suaminya. Kyuhyun yang menyaksikan kedua pipi Sungmin tiba-tiba saja memerah langsung menahan tawa. Wanita cantik di depannya ini memang mudah salah tingkah.
"Selama kalian mendengar satu sama lain berbicara, ingatlah bahwa kalian akan mengucapkan ikrar janji ini. Biarkan janji ini hidup di hati kalian, biarkan janji ini menjadi janji yang berarti bagi kalian, baik dalam saat-saat ini maupun untuk seumur hidup. Cho Kyuhyun, mohon untuk mengikuti apa yang saya katakan…"
Sungmin menatap Kyuhyun dengan penuh harap saat pendeta hendak memulai ikrar janji pernikahan padanya, agar bisa berjalan lancar tanpa hambatan.
"Saya, Cho Kyuhyun menerima engkau, Lee Sungmin menjadi satu-satunya istri dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, seperti Kristus mengasihi Jemaat-Nya hingga maut memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepada-Nya, kuucapkan janji setiaku kepadamu."
Rasanya Sungmin ingin menangis mendengar suara Kyuhyun saat ia mengucapkan ikar janji pernikahan dengan tegas padanya, dengan sorot matanya yang tak kalah tegas. Apalagi Kyuhyun menyuguhkan senyum tulus saat berada di ujung ikrar tersebut, membuat Sungmin semakin tak tahan. Namun tanpa diduga Kyuhyun mengusap pelan kedua tangannya selama sejenak dengan menggunakan jempolnya dan setelah itu ia menguatkan genggamannya, membuat Sungmin merasa sedikit tenang. Peka sekali pria ini.
"Saya, Lee Sungmin menerima engkau, Cho Kyuhyun menjadi satu-satunya suami dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, seperti Kristus mengasihi Jemaat-Nya hingga maut memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepada-Nya, kuucapkan janji setiaku kepadamu."
Pada akhirnya Sungmin merasa lega sekali karena ia berhasil mengikuti ucapan sang pendeta dengan baik penggalan demi penggalan kalimat dengan baik dan lancar. Kyuhyun pun merasa lega juga mendengarnya.
Selanjutnya adalah sesi pemakaian cincin kedua mempelai kepada satu sama lain. Dengan mengikuti instruksi yang diberikan pendeta, Kyuhyun memasukkan cincin pernikahan mereka yang merupakan cincin emas senilai 24 karat itu kepada jari manis tangan kiri Sungmin. Begitu pula dengan Sungmin kepada Kyuhyun setelahnya. Kedua mempelai itu diam-diam terharu begitu menyadari bahwa cincin pernikahan sudah tertaut pada jemari mereka masing-masing, yang merupakan bukti bahwa mereka sudah terikat dalam pernikahan yang berlandaskan cinta.
Mereka berdua terus mengikuti jalannya pernikahan, hingga pada akhirnya sesi final dibuka. Kyuhyun langsung berteriak kegirangan dalam hati.
"Cho Kyuhyun, silahkan mencium istri saudara."
Selintas Sungmin teringat akan french kiss yang ia dapatkan setelah Kyuhyun melamarnya tempo lalu, dan ia merasa ketakutan sendiri. Ia benar-benar tidak siap untuk mendapatkan ciuman panas itu kembali apalagi di depan umum seperti ini mengingat Kyuhyun adalah orang yang pervert.
Namun ternyata, Kyuhyun mencium bibir Sungmin dengan gerakan yang sangat lembut namun dalam. Sungmin bisa merasakan adanya sentuhan kasih sayang yang mengalir pada ciuman di bibirnya. Kasih sayang seorang suami kepada istrinya. Mengundang ia untuk membalas dengan gerakan yang serupa sebagai bukti kasih sayang kepada suaminya ini.
Memang Kyuhyun sendiri mengusahakan untuk memberikan sentuhan yang selembut mungkin pada bibir sang istri meski bibir tersebut begitu memabukkan yang mengundangnya untuk menuntut ciuman yang lebih liar lagi. Ia tidak mau Sungmin ikut menikmati ciuman di hari pernikahan mereka ini juga, sama seperti dirinya, tanpa adanya rasa risih sedikit pun. Ciuman pertama mereka sebagai sepasang suami istri. Ia merasa sangat bersyukur karena harapannya untuk mendapat kado spesial berupa Sungmin sebagai istrinya berhasil dikabulkan oleh Tuhan. Kado yang sangat berharga dibanding barang apa pun selain hidupnya sendiri.
Pada akhirnya semua berakhir bahagia. Kyuhyun dan Sungmin berhasil menjadi suami istri mulai hari itu juga. Memang setelah ini mereka berdua akan menjalani tantangan yang lebih berat dalam kehidupan rumah tangga, apalagi dengan keadaan mereka yang saat ini sedang menggeluguti pekerjaan mereka masing-masing pada negara bahkan benua yang berbeda. Namun halang rintangan telah mereka lalui selama belasan bahkan puluhan tahun sejak mereka masih belia. Kecintaan mereka terhadap satu sama lain pun telah teruji baik, dengan lamanya mereka pisah jarak selama sepuluh tahun tanpa adanya komunikasi apa pun namun tetap awet. Dengan adanya komitmen yang kuat, cinta mereka yang tak kalah kuat, serta Tuhan yang menguatkan mereka, Kyuhyun dan Sungmin yakin mereka bisa membangun rumah tangga mereka dengan baik sampai akhir hayat.
It doesn't matter, it doesn't matter…
Whatever you want baby I'll give…
Wipe away your tears…
It'll never be dark…
I'll be by your side everyday…
It doesn't matter, it doesn't matter…
Other than you who can I love?
Just hoping for the day when you'll see…
My love for you,
My love that I can't take back…
THE END.
—o0o—
A/N:
Akhirnya FF ini tamat sebelum saya masuk kuliah lagi YEAY.
Ada beberapa poin yang mau saya bahas:
- Ini FF ngepostnya emang kebut banget yah tanpa nunggu banyak reviewer muncul. Ini emang disiapin buat ultah Kyuhyun. Eh sebenernya awalnya buat ultah Sungmin sih, tapi ternyata gak keburu. Ya udah jadinya dimundurin sebulan dan akhirnya sempet.
((Yelah muna banget sih buktinya mau niat nyiapin sesuatu buat ultah Sungmin padahal udah unstan))
Ya so what? Saya waktu itu ngerasa timingnya deket buat ultahnya Sungmin, jadi klop aja gitu. Lagian juga saya udah move on dari dia kalo versi cowok, kalo versi ceweknya sih belom ;_; Jadi menurut gue, justru kalo udah move on itu ya bakal biasa aja jadinya kalo ngebahas Sungmin lagi, gak ngerasa sakit hati lagi. Eh tapi istrinya masih najong banget deh (?) #yahngebash #maapkeun
But the most important thing for me is, saya mau muasin hasrat nulis saya dan gak ada yang bisa ganggu gugat karena prinsip gue adalah nahan ide = nahan boker.
- FF ini emang based on my fckin true story, tapi yang part 1 nya aja, di bagian flashbacknya. Dasar ide yang menjadi patokan saya buat bikin FF A Gift to You dan My Love for You ini ya dari pengalaman pahit itu. Tapi saya udah bilang di FF AGTY kalo pada akhirnya saya cuma nyinggung dikit doang di sana DX ya udah, saya mutusin buat dicurhatin di sekuelnya aja. Walaupun sebenernya di part 1 itu udah BANYAK direkayasa lagi (jadi gak curhat mentah mentah), tapi bikinnya cukup nyes LOL bcs in fact nyatanya saya emang udah pernah ngegebet orang selama 6 tahun dan saya cuma deketnya setahun doang ama dia, pas kelas 5 SD. Dan emang ada lagi sih part yang based on true story juga, yaitu part 2B, walaupun BANYAK yang direkayasa juga, tapi ada bagian yang bikin saya bener-bener sakit hati sama mantan gebetan ((mantan gebetan)) saya itu sampai-sampai saya ogah buat deket sama dia lagi dan emang dianya ngejauh juga sih sampai sekarang udah gak kenal deh. Makanya saya emang gak mau ngeribetin banyak konflik juga di sini karena bikin saya sakit aja nginget kejadian-kejadian di mana saya ngegebet dia dulu, sakit dalam artian muak, bukan menampik fakta kalo saya masih suka sama dia, karena saya di posisi ceweknya. Makanya pula, yang pake sudut pandang ceweknya di mana ceweknya ngerasa lelah cuma di AGTY doang, sementara di MLFY ini saya lebih pengen ke harapan buat yah semoga ada deh cowok yang kayak Kyuhyun di FF ini, yang bener-bener kena karma sampe segitunya. Aamiin dah. EHE.
- Makasih banget buat semua yang udah review. Saya liat semuanya kok. Makasih semangatnya, kritik dan sarannya, saya liat semua komentar kalian kok. Makasih banget. Terharu karena masih ada juga yang mau baca FF KyuMin :^)
- Ini FF emang sederhana banget ceritanya jadi maapkeun kalo gak memuaskan. Eh udah saya peringatin kan di awal, jadi jangan protes kalo gak memuaskan yah.
Btw, HAPPY BIRTHDAY KYUHYUN MY ULTIMATE BIAS UNTIL NOW! I wish all the best for him, and….
And I hope someone in the army would say happy birthday to him also, even though only in his heart. Amen.
Btw, saya juga bentar lagi ultah tanggal 5 nanti #YATERUSKENAPA #BYE
