Mikansei communication
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Typo, rush, humor gagal, romance gagal, dll
part 7
Ino tak bisa fokus saat pelajaran berlangsung padahal dia berencana untuk tidak membolos hari ini agar bisa mengalihkan pikiran dari masalah keluarganya namun yang terjadi dia makin kehilangan fokusnya setelah mendapat beberapa surat tanpa nama di lokernya. Tak seperti tempo hari dimana lokernya dipenuhi dengan sampah dan sejenisnya, hari ini Ino mendapat kejutan yang tak pernah dia duga sama sekali, tentu saja itu bukan surat cinta yang selalu jadi cirri khas kehidupan remaja pada umumnya, surat-surat itu memang menyatakan perasaan beberapa orang tentang dirinya tapi bukan perasaan suka melainkan justru sebaliknya, surat-surat yang ia temukan dilokernya pagi ini berisi pernyataan rasa benci dan ketidaksukaan mereka padanya. setelah membaca surat-surat itu Ino seperti kehilangan perhatian pada dunia disekelilingnya dan untuk sesaat masalah keluarga teralihkan, Ino bukan merasa sedih atau apa. Awalnya dia memang lumayan terkejut karena di beberapa bagian surat-surat itu terdapat umpatan-umpatan yang tak enak untuk dibaca dan membuatnya agak tersinggung, tapi setelah dipikir-pikir lagi kata-kata mereka justru seperti sedang mencoba menampar kesadarannya, bahwa selama ini dia sudah bersikap terlalu arogan dan menyebalkan dimata orang-orang, entah kenapa Ino tidak merasa terpukul dengan pernyataan mereka justru kelegaanlah menyusupi rongga dada dan selama sisa pelajaran pagi itu dia sukses bertingkah seperti orang kesurupan yang tiba-tiba tersenyum atau menahan tawa sendiri tapi untungnya tak ada yang menyadarinya kecuali satu orang.
Sasuke terlihat beberapa kali memperhatikan Ino dari tempat duduknya, tapi bukan karena terpesona seperti cerita-cerita cinta anak sekolah menengah atas yang seringkali digambarkan dikomik-komik shoujo pada umumnya, dia hanya penasaran apa rencana yang dipikirkan Ino saat ini karena tempo hari setelah Ino mengancamnya Ino belum juga menghubunginya sampai hari ini dan saat melihat sikap aneh Ino sasuke pun bertanya-tanya danmerasa aneh dengan semua itu,apa mungkin itu karena selama ini dia tak pernah berurusan dengan gadis seperti Ino. Sebelum dia tahu bahwa Ino merupakan anti fansnya sasuke pernah menganggap gadis itu manis, namun setelah mengetahuinya sebisa mungkin dia tak ingin berurusan dengan Ino karena dia tahu berurusan dengan orang seperti Ino takkan berdampak baik bagi reputasinya sebagaimana gosip-gosip yang didengarnya tentang gadis tersebut, tapi kali ini sasuke tak bisa menghindar lagi karena bagaimanapun ancaman Ino tempo hari sangat mengganggunya meski dia penasaran bagaimana gadis itu mendapat gambar itu padahal dia yakin saat itu tak ada orang lain yang melihatnya dan juga rencana apa yang dipikirkan Ino dengan menyuruh sasuke menjadi pacar bohongannya, karena sasuke bukanlah orang yang sabar apalagi untuk urusan yang menyangkut nama baiknya maka dia putuskan akan langsung menanyakannya nanti setelah jam makan siang.
. Shikamaru ingin tahu apa yang terjadi pada Ino karena kemarin setelah Ino menerima telepon dari kakaknya Ino tampak panik lalu pergi dengan sangat terburu-buru kemudian tak masuk sekolah dihari berikutnya.
"Apa yang terjadi? Kemarin kau tidak masuk sekolah?"
"Terjadi sesuatu dirumah." Shikamaru sudah hamper bertanya lebih lanjut sebelum Ino mendahuluinya.
" Apa kemarin ada pengumuman penting?"
"Tidak juga"
"Kalau begitu boleh kupinjam catatan Matematika dan Fisikamu?"
"Sepertinya kau lupa, aku juga tak pernah mencatat pelajaran di kelas."
"Ah iya aku lupa, kau kan anak jenius" Ino mengatakannya begitu saja tanpa ekspresi yang berarti, tapi kata-kata itu tetap terdengar menyebalkan meski Shikamaru tahu Ino tak berniat mengejeknya.
"Urusai…"
"Hei, seharysnya kau senang aku sedang memujimu"
"Tapi aku tak suka dipuji seperti itu"
"Haahh… ya ya ya, baiklah maafkan aku Nara-san."
"Mendokusai.."Shikamaru tak suka mendengar Ino memanggilnya dengan nama depan.
"Oh terimakasih, aku tahu aku memang merepotkan."
"Aaarrgh…kau ini" tiba-tiba Shikamaru mengacak-acak rambutnya frustasi, membuat kuncir nanasnya berantakan.
"Eeh.. kau kenapa Shikamaru" tanya Ino heran dengan tingkah Shikamaru yang menurutnya tiba-tiba aneh.
"Maksudku aku bukan mengataimu merepotkan."
"Aku tahu"
"Lalu kenapa kau terlihat marah?"
"Siapa yang marah?" Tanya Ino semakin tak mengerti.
"Tadi ekspresimu seperti orang marah."
"kapan, bukankah wajahku memang selalu begini?"
"Tapi tadi kau bilang terimakasih dan….?"
"Ha…?" hening, baik Ino maupun Shikamaru sama-sama masih bingung dengan arahpembicaraan mereka.
"Bhuahahaha…. Aku tidak marah Shikamaru."
"Jadi kau tidak marah?" lirih Shikamaru sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal karena malu.
"Haiisshh…ck ck ck…berapa lama kau mengenalku Shikamaru?"
"Hampir tiga tahun dan kita selalu sekelas."
"Tapi sepertinya kau belum mengenalku dengan baik."
"Kurasa tak ada yang mengenaklmu dengan baik juga disini."
"Yak au benar."
"Maaf…"
"Tenang saja, aku sama sekali tak tersinggung dengan hal tersebut,aku cukup sadar bahwa selama hamper tiga tahun sekolah di sekolah ini aku tak pernah bisa bersosialisasi dengan baik dengan orang-orang, jadi bukan salah siapapun jika banyak yang menilaiku negatif selama ini." Ino mengucapkannya dengan senyum getir tanpa menoleh kearah Shikamaru, pandangannya terlihat menerawang mengingat surat-surat yang didapatinya pagi ini.
"Aku tak menilaimu seperti itu."
"Aku tahu, itu karena kau menyukaiku." Kata Ino to the point tanpa sengaja.
"Itu…kupikir kau tak menyadarinya." Jawab Shikamaru yang tiba-tiba terlihat kikuk, namun Ino sama sekali tak menyadarinya.
"Jika bukan karena kau menyukaiku mana mungkin kau mau bicara banyak padaku seperti sekarang ini, kan." Tukas Ino menyimpulkan.
Mendadak suasana menjadi hening sejenak, Ino melirik ekspresi Shikamaru yang terlihat berpikir , seolah sedang mencerna kalimat Ino.
"Kau benar juga, jadi apa kau juga menyukaiku?"
"Tentu saja, itu sudah jelas kan, lagipula aku bukan orang yang bisa berpura-pura menyukai seseorang."
Hening, namun kali ini lebih lama dari yang sebelumnya. Karena merasa aneh dengan tingkah Shikamaru yang mendadak terasa canggung Ino pun bertanya pada Shikamaru.
"Kau kenapa Shika?"
"Hhhh….sepertinya kita tak sedang membicarakan hal yang sama"
"Eh… apa maksudmu?"
"Sudahlah tak perlu dibahas lagi, sebaiknya cepat habiskan makananmu sebentar lagi jam makan siang berakhir.
"Aku tak mengerti, apa ada yang salah dengan ucapanku"
"Tidak, bukan bukan itu…sudah lupakan saja." Shikamaru masih saja menahan senyum anehnya yang sama sekali tak Ino mengerti.
.
.
.
.
.
.
"Kita harus bicara Yamanaka!" Saat Ino dan Shikamaru berbelok melewati koridor yang menuju kelas mereka, tiba-tiba seseorang tepatnya Uchiha Sasuke menghentikan langkah mereka.
"Ino ada apa ini?" Shikamaru yang melihat kejadian ini pun reflek bertanya, dan Ino baru sadar kalau dirinya memiliki urusan dengan si Uchiha.
"Kau kembali dulu saja Shikamaru." Shikamaru menatap mereka penuh selidik, seolah member tanda takk ada masalah Ino pun mengangguk pada Shikamaru.
"ck, mendokusai…baiklah, aku ke kelas dulu kau begitu." Kata Shikamaru kemudian meninggalkan Ino dan Sasuke disana, lalu setelahnya mereka kembali kearah tangga untuk menghindari interupsi dari orang lain.
"Jadi kau benar-benar menantikan rencanaku tempo hari , itukah yang ingin kau bicarakan eh Sasuke-kun?" Ino bertanya dengan penuh percaya diri pada si bungsu Uchiha, seketika dilihatnya ada segurat rasa jengkel yang menghiasi wajah Si Uchiha kala mendengar pertanyaan itu. Ino berpikir sepertinya lagi-lagi dirinya berhasil melukai harga diri seseorang 'bagus sekali Ino, kau memang berbakat dalam hal memancing emosi seseorang' kata Innernya dengan jengah.
"Cih, aku hanya ingin urusan kita cepat selesai"
"Aaaa, begitukah?" Ino tersenyum tapi sayangnya itu lebih mirip dengan menyeringai, dan jelas sekali kalau Uchiha semakin kesal dibuatnya.
"Tentu saja, apa kau kira ini karna aku tertarik padamu? Mimpi saja kau." Akhirnya Uchiha Sasuke yang asli muncul juga, siswa angkuh dan tak mau kalah yang over percaya diri karena beruntung memiliki wajah tampan dan otak encer, namun sayang sifatnya yang sebenarnya sangatlah buruk, sehingga meskipun dia diidolakan banyak siswi perempuan tapi disaat yang sama dia juga tak disukai dikalangan para siswa laki-laki. Karena arogansinya itu dia banyak dijauhi siswa laki-laki. oh bukankah itu terdengar seperti Yamanaka sendiri Ino sendiri? 'ck, harus kuakui kami memang mirip dalap beberapa hal, tapi aku lebih tahu diri dibandingkan dengannya' piker Ino yang disertai dengan senyum getir.
"Berhentilah tersenyum mengejek seperti itu Yamanaka, itu sangat menjijikkan."
"oh ya..?! kalau begitu kau juga, berhentilah bersikap seolah kau satu-satunya laki-laki paling sempurna di dunia ini, karena tak semua perempuan tergila-gila padamu Uchiha"
"oh ya, kenapa tidak? kenyataannya aku memang sempurna, kau saja yang kurang normal" Sial, orang ini benar-benar menyebalkan, umpat Ino dalam hati.
"Hahaha...aku memanh kurang normal, tapi setidaknya mataku masih normal dan otakku masih cukup waras unt tak tertarik pada orang sepertimu." balas Ino.
"Kau, sudahlah cepat katakan apa rencanamu?" Sasuke menggemeretakkan giginya demi menahan emosinya yang sudah hampir meledak, tapi anehnya Ino justru merasakan perasaan aneh yang sangat menyenangkan karna bisa membuat sang Uchiha marah.
"Hahaha... Apa kau kesal padaku, eh?" Ino semakin senang memancing sang Uchiha.
"Apa itu harus kukatakan?"
"haaaahh...ya ya ya baiklah." setelah tak mendapat reaksi yang diharapkan akhirnya Ino menanggapi maksud awal Sasuke. Ino mengeluarkan ponselnya mencari foto-foto tempo hari yang ia gunakan untuk mengancam Sasuke.
"Ini kan?"
Cring..., terdengar bunyi pesan masuk dari ponsel sang Uchiha.
"Bukalah, aku sudah mengirimkan foto-fotonya padamu dan menghapusnya dari ponselku."
"Apa mak_?"
"Aku sudah tak berniat melanjutkan rencanaku untuk melibatkanmu hanya untuk membalas fans gilamu itu, jadi lupakan saja kesepakatan kita tempo hari, anggap saja aku tak pernnah bicara padamu."
"..." Sasuke hanya diam mendengar penuturan Ino.
Sebenarnya alasan Ino mengurungkan niatnya membalas perbuatan fans Uchihapadanya adalah karna dia benar-benar melupakan urusannya tempo hari dengan Sasuke karna keadaan ayahnya kemarin. lagipula jika dipikir-pikir lagi tak ada gunanya menanggapi kebencian fans Uchiha masih banyak hal yang lebih penting yang harus dia pikirkan dengan serius mulai saat ini. Dan Ino benar-benar berterimakasih pada siapapun yang menaruh surat-surat kaleng itu dilokernya tadi pagi.
"Dan...Maaf atas sikapku yang menyebabkan ketidaknyamananmu beberapa hari ini, ah bukan hanya beberapa hari ini tapi mungkin lebih tepatnya selama ini aku sudah bersikap menyebalkan padamu dan para fansmu juga." Ino mengatakannya dengan sangat tenang, benar-benar tak seperti dia yang biasanya. Dan rasanya seperti ada kelegaan yang luar biasa setelah mengungkapkan apa yang dia pikirkan sejak tadi pada seseorang, sepertinya Ino memang membutuhkan teman untuk berbagi seperti yang Sasori katakan.
"Tapi aku masih tak mengerti maksudmu." Ino tersenyum penuh arti, lalu menyandarkan punggungnya pada pembatas tangga yang berada dibelakangnya untuk menyamankan posisinya yang sejak tadi berdiri tegak.
"Kau tak perlu memaksakan diri untuk mengerti maksudku, sebenarnya aku benar-benar sudah lupa soal kemarin, dan setelah kupikir-pikir lagi tak ada gunanya memperpanjang urusanku denganmu dan fans-fans gilamu itu."
"..." Sasuke hanya diam menanggapi kata-kata Ino.
"Lagipula kulihat kau tak begitu terganggu dengan keberadaan para fansmu, malah sepertinya kau menikmatinya."
"Apa yang kau bicarakan?"
"Sudahlah Sasuke, akui saja bahwa sebenarnya kau menyukai pujian-pujian mereka padamu kan? aku bisa melihatnya dengan jelas." Ino melirik keara Sasuke, meneliti perubahan ekspresi wajahnya yang mulai terlihat mengeras, lagi-lagi Ino berhasil memancing emosinya.
"Ah sudahlah, bukankah urusan kita sudah selesai, kau tak ingin segera kembali ke kelas?" tanya Ino sambil melihat jam tangannya.
"Kau pergi saja dulu!"
"Aaa...baiklah aku mengerti, kalau begitu aku pergi dulu." Ino pun berbalik bersiap pergi dari tempatnya berdiri.
"Tunggu Yamana_"
"Ino, panggil saja Ino, itu namaku" Ino kembali berbalik menghadap kearahnya.
"Baiklah I-Ino" Sasuke terlihat sangat canggung saat mengucapkannya.
"Ya, ada lagi yang ingin kau katakan padaku Uchiha-san?"
"Kau juga boleh memanggilku Sasuke."
"Baiklah sasuke, ada lagi yang ingin kau katakan?" Ino mengulang pertanyaannya dengan senyum jahil. Ino menunggu jawaban dari mulut Sasuke, namun yang terlihat justru ekspresi OOC dari seorang Uchiha yang...oh, sialnya itu cukup menggemaskan dimata Ino, namun Ino berusa keras untuk menahan tawanya dan dia bersumpah ingin menggoda Sasuke lebih dari ini lain kali, pikir Ino.
"Trimakasih..." kata itu meluncur sangat cepat dan terlalu pelan dari mulut Sasuke apalagi dia mengucapkannya sambil menutup sebagian wajagnya dengan punggung tangannya dan senoleh kesamping demi menghindari kontak mata dengan Ino, terlihat sekali jika sang Uchiha sedang berusaha keras menggalkan rasa gengsinya. ooohh... betapa manisnya , Ino yakin jika fans sasuke melihatnya mereka pasti berteriak-teriak histeris sampai pingsan.
"Kau bilang apa? aku tak bisa mendengarnya." Ino tak bohong kali ini, dia memang tak mendengarnya dengan jelas jadi dia tak benar-benar sengaja menggoda Sasuke kali ini. namun sayangnya pertanyaan itu justru sukses membuat Sasuke semakin salah tingkah.
"Ck...kubilang terimakasih."
lalu dia berjalan mendahuli Ino dengan tergesa-gesa, dan akhirnya Ino tertawa.
"hihi...hahahaha..." Ino benar-benar tertawa, tertawa lepas untuk yang pertama kalinya di sekolah.
"Diamlah" kata Sasuke tiba-tiba berhenti didepan Ino, mencoba memberinya death glare andalannya tapi sayangnya itu gagal, wajahnya justru semakin merah dan demi apapun itu terlihat sangat manis menurut Ino.
"Haiisshh... tidak bisakah kau berhenti tertawa?!" kata Sasuke sebal, sambil melihat sekiling dan berusaha membungkam tawa Ino dengan membekap mulutnya. Ino mengangkat tangannya tanda menyerah.
"Ma-maaf...pffffffffbhaahhh" Ino masih hampir tertawa lagi, rasanya tertawa selepas ini membuat Ino tiba-tiba tertegub sejenak, lalu tiba-tiba Ino berkata
"Aku juga, terimakasih Sasuke" kali ini disertai dengan senyum tulusnya.
"Untuk?" tanya Sasuke bingung.
"Membuatku tertawa lepas" Jawab Ino jujur kemudian melangkah lagi meninggalkan Sasuke yang juga mengikutinya dibelakang menuju kelas mereka tanpa bicara lagi.
Dalam hati ino berpikir, mungkinkah ini artinya dia telah berteman dengan Sasuke Uchiha, entahlah. Ino tak ingin berharap karna dia sadar jika sampai dia berteman akrab dengan Sasuke Uchiha akan menimbulkan banyak masalah, mengingat Sasuke adalah salah satu siswa terpopuler disekolah terutama dikalangan siswa perempuan. lagipula juga belum tentu dia mau Sasuke mau berteman dengannya, haaahhhh...Ino menghela nafasnya pelan, dasar Ino baka, jangan berpikir terlalu jauh.
TBC.
owowowowowo...chao ini panjangnya hanya didominasi oleh dialog antara Sasuke dan Ino...
yah, semoga tak membuat mual sodara-sodara sekalian.
Dan seperti biasa, author abal ini masih mengharapkan RnR dari para pembaca yang sudah singgah untuk menambah amunisi hohoho...
arigatou to jya matta ashita... ^^/
