I'M BAAACKKK !
Boundary by Vythica
Chapter 7 – A Place To Belong
Jika ada orang yang mencari keberadaan Nakiri Erina, hanya ada dua tempat yang dapat dipikirkan sebagian besar murid Totsuki. Yang pertama adalah ruangan pribadinya yang terletak di sebelah aula khusus untuk pertemuan Elite 10, ia menghabiskan waktunya untuk berkutat dengan dokumen penting yang merupakan kewajibannya sebagai Kursi Pertama, Erina hampir selalu terlihat di sana setelah kelas selesai.
Namun kalau Erina tidak ada di ruangannya—terutama pada hari libur—bisa dipastikan kalau Erina sedang berada di Asrama Polar Star, tempat yang sudah ditinggalinya selama hampir tiga tahun. Dan tidak, Erina tidak berada di kamarnya. Berbeda dari dugaan orang-orang, Erina tidak terlalu suka untuk berdiam di kamarnya sendiri. Gadis berambut panjang itu lebih memilih untuk berada di ruang tengah, bermain kartu bersama member lain ataupun sekedar mengobrol dengan Ryoko ataupun Megumi.
Dan hal tersebut rupanya juga berlaku untuk hari ini. Meskipun hampir semua murid di Polar Star pulang ke kampung halaman untuk menghabiskan liburan mereka, kebiasaan Erina untuk menghabiskan waktu di ruang tengah masih tidak berubah. Erina menyenderkan punggungnya ke sofa, TV di depannya menyala tapi Erina hanya mengabaikannya, mata amethyst-nya terpaku pada shoujo manga yang ia pegang.
Erina mendengar suara channel yang berubah-ubah diikuti gerutuan laki-laki di sampingnya. "Kenapa tidak ada acara yang menarik?" keluhnya entah pada siapa.
Erina tidak menjawab. Ia membalik halaman manganya, penasaran dengan adegan selanjutnya.
"Hei, Nakiri." Panggil Yukihira Soma, laki-laki berambut merah di sebelahnya. "Apa kau yakin tidak punya DVD lain?"
"Tidak ada," Erina menggeleng, masih tidak menoleh. Mereka berdua sudah menghabiskan empat hari liburan mereka untuk menonton semua film yang mereka punya dan sekarang mereka kehabisan tontonan. Erina sendiri tidak mempermasalahkannya karena ia masih punya banyak manga yang harus dibaca. "Dan bisakah kau tidak bicara padaku, Yukihira-kun? Aku sibuk."
"Tapi aku bosaaann..." keluh Soma, meskipun Erina tidak menoleh ia tahu kalau Soma sedang cemberut sekarang. "Apa yang harus kulakukan?"
Erina menghela napasnya. "Aku tidak tahu. Baca manga, memasak, kerjakan tugasmu, TIDUR..." Erina menekankan kata yang terakhir, sekarang memang masih terlalu awal untuk tidur tapi tidak ada salahnya untuk beristirahat lebih awal. Bahkan Fumio-san sudah kembali ke kamarnya.
"Majalah JUMP tidak terbit minggu ini," beritahu Soma dengan nada kesal, "Dan aku sama sekali belum mengantuk."
"Itu masalahmu." Kata Erina datar. Dirinya benar-benar tidak ingin diganggu sekarang, ia sedang memasuki adegan klimaks di manga yang sedang ia baca. Soma berkata sesuatu tapi kali ini Erina memilih untuk tidak mendengarkan. Entah karena Erina terlalu berkonsentrasi atau apa, Erina tidak menyadari kalau dari tadi Soma melihatnya, tepatnya ke arah manga di tangannya.
Erina bahkan tidak merasakan apapun saat Soma tiba-tiba mendekat, bahu keduanya bersentuhan saat Soma bicara, mengulangi kata-kata yang sdang Erina baca. "Aku selalu memperhatikanmu dari dulu, aku senang saat kau mencemaskanku dan tanpa kusadari ak—"
"Whoaaaa!" Erina langsung menutup bukunya, menatap galak pada Soma. "Apa yang kau lakukan?"
"Membaca." Sahut Soma santai. "Kau sendiri yang bilang aku harus mencari kesibukanku sendiri."
"Baca buku lain!" Erina memprotes. Ini memang bukan rahasia kalau hobi Erina adalah membaca shoujo manga, tapi saat Soma membaca dialognya keras-keras entah mengapa dirinya merasa malu sekali. Erina tidak ingin Soma tahu apa yang sedang dibacanya. "Lagipula sejak kapan kau suka shoujo?"
Soma nyengir. "Aku hanya penasaran. Salahmu sendiri sudah mengabaikanku."
"Lalu kau ingin aku ngapain?" Mood Erina untuk membaca sudah hilang, ia melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Soma jengkel.
"Setidaknya bicara padaku. Banyak perempuan yang ingin berduaan denganku malam-malam begini asal kau tahu."
Erina mendengus. "Sayangnya aku bukan mereka. Cepat katakan apa maumu atau aku akan kembali ke kamar."
"Baiklah, ojou-sama." Sindir Soma yang membuat Erina semakin kesal meskipun ia tidak menunjukkannya. "Liburan kita sudah hampir berakhir, kau punya rencana sampai tahun baru?"
Erina tidak ingin mengakuinya, tapi ia memang tidak punya rencana apapun. Kakeknya, Nakiri Senzaemon, bersikeras untuk membiarkan Erina tidak bekerja selama liburan musim dingin kali ini. Jadi Erina menjawab jujur. "Tidak ada, aku benar-benar bebas sampai semester terakhir."
Senyum Soma melebar. "Katakan, Nakiri. Kau lebih memilih menghabiskan sisa liburmu sendirian di sini atau ikut bersamaku?"
"Kau ingin mengajakku ke mana?" Erina bertanya heran.
"Jadi kau lebih memilih ikut denganku, eh?" goda Soma yang membuat wajah Erina memerah, tapi ia tidak bisa membantahnya. Bukankah itu sudah jelas kalau ia lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman nya dibandingkan sendirian? Soma terkekeh melihat reaksi Erina. "Aku ingin mengajakmu ke Yukihira, bagaimana?"
Erina berpikir sebentar. "Maksudmu kedai Yukihira?"
"Memangnya apa lagi?" Soma memutar kedua bola matanya, seolah-olah itu sudah jelas dan tak perlu lagi dikatakan.
"Aku mau!" Erina menjawab antusias, ia sudah lama ingin sekali ke sana namun sayangnya ego yang dimilikinya tidak membiarkan Erina untuk bicara terus terang pada Soma. Membayangkan bagaimana ia bisa melihat tempat dimana chef favoritnya—Saiba Jouichirou—memasak sudah cukup membuat Erina tertarik untuk datang.
Soma mengernyit curiga melihat sikap Erina. "Huh? Kenapa kau tiba-tiba semangat begitu?"
"T-Tidak apa-apa..." Erina mengalihkan pandangannya, ia tidak mungkin mengatakan alasannya pada Soma.
"Sekedar informasi, ayahku sedang tidak ada di sana." Soma memberitahu, seolah ia bisa membaca pikiran Erina.
"Aku tahu. Kau tidak perlu menjelaskan."
Erina tidak tahu apa ini hanya perasaannya saja atau tidak, tapi setiap kali mereka membicarakan ayah Soma, wajah pemuda berambut merah itu terlihat lebih ketus dari biasanya. Ini seperti Soma tidak terlalu suka saat Erina membicarakan ayahnya sehingga sebisa mungkin Erina menghindari topik tersebut.
Tapi kali ini bukan salah Erina, Soma sendiri yang menyinggung topik tentang ayahnya.
"Aku punya firasat kalau kau hanya ingin datang ke Yukihira karena ingin melihat langsung tempat ayahku memasak."
"Hmm..." Erina bergumam, tidak mengerti kenapa dari cara Soma bicara, seakan-akan itu adalah hal yang salah untuk datang hanya demi melihat tempat chef yang dikaguminya itu bekerja. "Aku tidak menyangkal kalau itu adalah salah satu alasannya. Kau keberatan?"
"Tidak, tidak juga." Soma menggelengkan kepalanya. "Tapi rasanya menyebalkan sekali melihat kau lebih tertarik pada ayahku dibandingkan denganku sendiri."
"Eh?" Erina mengerjapkan matanya bingung.
"Tapi tidak apa-apa." Kata-kata Soma membuyarkan lamunan Erina, kerutan dahi yang tadi diperlihatkan Soma sudah menghilang, digantikan dengan cengiran yang biasa Soma pakai. "Tunggu saja sampai aku bisa membuktikan kalau aku lebih baik dari ayahku!"
"Jangan konyol, kau tidak perlu membuktikan apapun." Erina ingat kalau Soma pernah bercerita bahwa itu adalah mimpinya sejak kecil untuk mengalahkan ayahnya dan mengambil alih Yukihira, tidak peduli kalau ia sudah dikalahkan ratusan kali dalam duel mereka—yang menurut Erina itu luar biasa bagaimana Soma masih tidak menyerah. "Kau berbeda dengan ayahmu, kau sudah menjadi koki yang hebat dengan caramu sendiri."
"Yeah, tapi kau masih tidak pernah mengakui masakanku 'enak' satu kali pun."
Erina diam, "Apa itu menganggumu?"
"Tidak juga. Tapi saat ayahku kembali, aku akan menantangnya sekali lagi dan membuktikan kalau masakanku lebih hebat darinya. Bersiaplah, Nakiri!" Soma berkata dengan penuh percaya diri.
Erina tidak tahu apa yang membuat Soma begitu yakin akan memenangkan pertandingannya dengan sang ayah nanti, tapi melihat keantusiasan yang Soma tunjukkan, Erina membalas. "Baik. Tapi ingat, aku selalu bersikap adil dalam penjurian. Jangan ngambek padaku kalau kau kalah, mengerti?"
"Siap." Soma memberikan sikap hormat konyolnya ke arah Erina, gadis itu tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa geli. Soma beranjak dari sofa seraya merentangkan tangannya ke atas. "Kalau begitu aku harus tidur sekarang, ada banyak pekerjaan yang menungguku besok pagi."
"Oh, oke. Selamat malam, Yukihira-kun."
Soma melambaikan salah satu tanganya ke arah Erina seraya berjalan menuju pintu. Erina berdebat dalam pikirannya apa ia akan kembali ke kamar atau melanjutkan bacanya di ruang tengah. Setelah beberapa lama, ia memutuskan untuk tetap berada di sini.
Sayangnya, yang Erina lupakan adalah, dirinya sama sekali tidak bertanya kapan mereka akan berkunjung ke Yukihira.
Esok paginya, Erina dibuat terkejut ketika pemuda berambut merah itu mendadak lenyap dari kamarnya. Erina mencoba mencari ke luar bangunan tapi hasilnya nihil, sosok Soma tidak ditemukan di manapun. Menyerah, ia lalu bertanya pada Fumio yang sedang memasak sarapan di dapur.
"Oh," Fumio terlihat sedang mengaduk sesuatu di dalam panci begitu Erina masuk, "Katanya dia ada urusan penting di luar dan tidak akan kembali sebelum makan malam." Ujarnya tenang.
Jawaban Fumio tidak membuat Erina puas. "Apa dia bilang akan ke kedai Yukihira?"
"Bocah Yukihira tidak bilang apa-apa." Kini Fumio menatap Erina, wajahnya menyiratkan kebingungan. "Apa dia tidak memberitahumu?"
"Dia bilang akan pergi ke sana, tapi..." Erina tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa kesal, Soma sudah berjanji padanya untuk menghabiskan waktu liburan bersama tapi pemuda itu malah meninggalkannya dan tidak memberi kabar apapun.
"Jangan khawatir, aku yakin Yukihira tidak bersama perempuan lain." Fumio menambahkan begitu melihat Erina yang masih diam di depan pintu.
"B-Bukan itu masalahnya!"
Setelah sarapan, Erina memutuskan untuk menghubungi ponsel Soma langsung, tapi bukannya suara Soma yang menjawab, Erina malah mendengar suara operator yang mengatakan kalau ponsel pemuda itu dimatikan.
Erina berusaha tidak memikirkannya, ia mulai menjalani rutinitasnya yang biasa. Mandi, menyiram tanaman di dekat jendela, memeriksa kotak surat. Namun hal itu rupanya tidak berhasil mengalihkan perhatian Erina karena satu jam kemudian, ia sudah menemukan dirinya kembali ke kamar dan sekali lagi mencoba menelepon ponsel Soma.
Masih suara operator yang sama.
Erina mulai jengkel.
Melempar ponselnya ke atas tempat tidur, Erina berpikir untuk mengunjungi Hisako saja di kediaman Arato, mereka berdua bisa mengobrol atau belanja bersama, terdengar lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu seharian di kamar sambil mengutuk Yukihira Soma.
Dan hal itulah yang dilakukan Erina. Ia mengajak Hisako pergi ke pusat perbelanjaan, keduanya datang ke salon, melakukan perawatan spa, belanja berbagai macam baju dan sepatu hingga waktu makan malam tiba. Mereka—lebih tepatnya Hisako—merekomendasikan restoran mewah yang terletak di lantai paling atas, tempat itu terkenal karena menyajikan pemandangan kota Tokyo dari balik dinding kaca besar, menampakkan suasana kota malam hari dengan gedung-gedung tingginya.
Restoran itu nampak ramai begitu Erina dan Hisako masuk, seorang pelayan langsung menyambut keduanya dan mengantar mereka menuju meja yang terletak di sudut ruangan. Setelah selesai memesan, pelayan laki-laki tersebut pergi, meninggalkan meja keduaya.
Erina menopangkan dagunya dengan satu tangan, matanya menatap suasana malam dimana sumber cahayanya hanya berasal dari bangunan tinggi yang berdiri di kota Tokyo. Awan mendung masih terlihat di langit sejak dua hari lalu dan belum ada tanda-tanda ingin menghilang. Akan bagus sekali kalau salju akhirnya turun, pikirnya.
"Dari kecil aku selalu mendambakan White Christmas tapi itu sepertinya tidak akan terkabul." Ujar Hisako, matanya mengikuti pandangan Erina ke luar.
White Christmas adalah perayaan hari Natal yang bersamaan dengan turunnya salju, hal itu adalah sesuatu yang setiap orang selalu impikan. "Sudah 30 tahun sejak terakhir kali Tokyo mendapatkan salju di hari Natal." Ujar Erina. "Kurasa kita harus pergi ke Hokkaido atau semacamnya untuk merayakan White Christmas."
Hisako tersenyum kecil. "Terdengar menyenangkan, kita juga harus mengajak yang lain."
"Kau benar. Kuharap tahun depan kita bisa melakukannya."
Hisako diam, hal tersebut tak luput dari perhatian Erina. Ia menoleh ke arah Hisako, tak bisa menahan rasa penasarannya setelah melihat raut tak biasa dari wajah sahabatnya itu. "Hisako, ada apa?"
Hisako menggeleng, tidak ingin membuat Erina khawatir. Tapi Erina masih bisa melihat bayangan sedih di mata gadis berambut ungu tersebut. "Aku hanya tiba-tiba berpikir, apa kita bisa menghabiskan waktu seperti ini setelah lulus nanti."
Erina tersentak, ia tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Hisako sudah bersamanya sedari ia kecil dan Erina tidak bisa membayangkan kalau suatu hari mereka harus berpisah, tidak akan ada lagi Hisako yang selalu mendampinginya. Erina tidak tahu harus bereaksi bagaimana. "Mmmm... tentu saja bisa. Mungkin jadwalku akan lebih sibuk setelah lulus tapi aku yakin bisa meluangkan waktu untuk pergi."
"Aku senang mendengarnya."
Senyum Hisako tidak bisa membodohi Erina, ia tahu masih ada sesuatu yang disembunyikan gadis berambut sebahu itu. Erina menatap Hisako lurus, ia bicara pelan."Hisako, kau bisa bercerita apapun padaku."
Jika Hisako masih tidak ingin menceritakan apapun, maka Erina akan menyerah dan melupakan topik ini. Bagaimanapun juga, Erina bukanlah tipe yang suka memaksa orang lain untuk bicara tentang privasi mereka. Tak peduli kalau dirinya merasa khawatir, Erina mengerti kalau ada saatnya seseorang tidak ingin bicara.
Namun sepertinya itu tidak diperlukan, karena pada akhirnya Hisako lah yang memutuskan untuk bercerita. "Musim semi tahun depan, aku akan pergi ke Beijing bersama Tou-san."
Huh?
Tubuh Erina kaku. "Apa maksudmu?"
Hisako menarik napasnya dalam-dalam. "Aku juga baru mengetahuinya dua hari lalu. Tou-san mengajakku untuk belajar lebih banyak tentang masakan pengobatan di sana."
Butuh waktu lama bagi Erina untuk menangkap kata-kata yang diucapkan Hisako. Setelah akhirnya ia mengerti apa yang dimaksud temannya itu, Erina akhirnya menemukan suaranya kembali. "Berapa lama kau akan belajar di sana?"
"Tiga tahun, kurasa."
Erina berusaha untuk tetap tenang sebelum kemudian tersenyum. "Itu bagus, aku tahu seberapa besar minatmu dalam mempelajari masakan medis. Kau akan belajar banyak di sana, Hisako."
Hisako tidak menjawab, gadis itu malah menatap Erina dengan pandangan sedih. Erina membenci dirinya sendiri, ia sadar kalau senyumnya tidak benar-benar tulus. Ia seharusnya senang mengetahui kalau sahabatnya itu dapat selangkah lebih dekat untuk menjadi ahli dalam bidang yang disukainya, ia tahu seberapa besar keinginan Hisako untuk terus belajar untuk menjadi koki yang hebat. Tapi memikirkan tentang bagaimana mereka berdua harus berpisah selama tiga tahun... ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya, seakan ia tidak... rela?
Keheningan cukup lama mengelilingi keduanya, tapi Hisako lah yang lebih dulu membuka suara. "Maafkan aku."
Erina mengerutkan kening bingung. "Untuk?"
"Apakah ini tidak apa-apa?" Hisako tidak menjawab, ia balik bertanya ragu. Erina menduga kalau Hisako sedang gugup, mungkin gadis berambut ungu itu menganggap kalau Erina tidak menyukai keputusannya. Erina menghela napas, merasa ia bukan teman yang baik bagi Hisako.
Ini adalah salah Erina sendiri, ia tidak pernah memikirkan tentang kemungkinan masa depan mereka setelah lulus nanti dan menganggap kalau semuanya akan tetap sama seperti sekarang. Dirinya terlalu naif, pikirnya.
"Kita sudah bersama sepuluh tahun ini, aku bohong kalau aku bilang tidak sedih setelah mendengar kau akan pergi." Mata Erina mengarah pada vas bunga di tengah-tengah meja mereka, meskipun begitu ia tidak benar-benar fokus melihatnya. Pikirannya seolah kembali pada saat pertama kali dirinya bertemu Hisako. "Setelah Alice pergi, kau satu-satunya teman yang kupunya dari kecil. Aku senang saat kau bilang kalau kau ingin berjalan di sampingku sebagai seorang teman, dan bukan hanya di belakangku."
Tatapan Hisako melembut. "Ya, aku senang Yukihira Soma mengingatkanku soal itu."
Hisako pernah memberitahunya tentang pengalaman Stagiaire dirinya dan Soma di tahun pertama mereka, yang mana pemuda itu mengatakan kalau tidak seharusnya Hisako terus berada di belakang Erina melainkan berdiri di sampignya. Erina sangat berterimakasih pada Soma karena hal tersebut, meskipun ia tidak pernah membicarakannya.
Erina kembali melanjutkan. "Aku paham kau sangat menginginkan hal ini, Hisako. Dan sebagai temanmu, tentu saja aku harus mendukungnya. Kau berhak memutuskan apa yang harus kau lakukan nanti, aku tidak ingin menghalangimu."
Hisako tersenyum. "Terima kasih, itu berarti sangat banyak untukku."
Erina balas tersenyum, kali ini ia tidak memaksakan senyumnya lagi. Ia masih merasa sedih memang, tapi tidak seharusnya ia memperlihatkannya di hadapan Hisako. Mereka masih punya waktu untuk membuat kenangan bersama, lagipula mungkin dirinya dan Hisako masih bisa saling berkunjung nanti, bagaimanapun juga jarak Jepang-Cina tidak terlalu jauh.
Tiga bulan ya?
Itu adalah sisa waktu mereka di Totsuki sebelum kelulusan datang. Erina tidak pernah menyangka waktu akan berjalan secepat ini. Memikirkan bagaimana satu persatu teman-temannya akan pergi seperti Hisako membuat Erina tidak bisa menahan rasa kesepiannya. Menurutnya, ini adalah tiga tahun terbaik dalam hidupnya, tahun dimana ia mempunyai banyak orang-orang berharga baginya, mereka lah yang telah mengajarinya sesuatu yang selama ini Erina hiraukan karena posisinya sebagai pewaris Nakiri.
Apa dirinya akan baik-baik saja setelah lulus nanti?
Erina meragukannya.
Malam masih tidak terlalu larut begitu Erina sampai di Polar Star. Lampu di ruang tengah masih menyala saat Erina berjalan menuju tangga sambil membawa tas belanjaan di kedua tangannya. Ia baru sadar kalau dirinya membeli terlalu banyak barang. Erina menghela napas melihat kantung belanjaannya sendiri yang berat, akan menyusahkan sekali membawanya ke atas.
Erina bersiap menaiki tangga ketika suara dari arah belakang memanggilnya. "Dari mana saja, Nakiri?"
Erina menoleh ke balik punggungnya, ia melihat Soma berjalan ke arahnya. Rambut pemuda itu masih basah dengan handuk kecil di bahunya. Erina bersyukur karena setidaknya Soma tidak lagi berjalan dengan hanya ada handuk di pinggangnya seperti yang pemuda itu lakukan musim panas lalu, alasannya adalah karena tidak ada siapapun yang ada di Asrama. Saat itu Erina berpikir kalau Soma memang sengaja tidak memasukkan Erina ke dalam hitungan.
Mengingatnya saja sudah menyebalkan.
Tapi sekarang itu tidak penting. Dia senang Soma ada di sini. Erina mengulurkan salah satu tangannya yang memegang dua kantung belanjaan ke arah Soma. "Dari mall. Bisa bawakan ini?"
"Tentu." Soma mengambil kantung yang diulurkan Erina. Tapi tidak hanya itu saja, Soma juga mengambil kantung belanjaan di tangan Erina yang satu lagi sehingga saat ini gadis itu tidak membawa apapun. "Ke kamarmu, kan?"
Erina mengangguk, sedikit heran dengan sikap baik yang ditunjukkan Soma. "Kau tahu, kau tidak perlu membawa semuanya. Aku bisa—"
"Apa kau meremehkan kekuatanku?" Soma menyeringai.
Gadis berambut panjang itu cemberut mengetahui kalau sekarang Soma sedang pamer. Memutar bola matanya bosan, Erina melangkah mendahului Soma menuju kamarnya di lantai tiga. Erina mendengar langkah kaki Soma yang mengikutinya dari belakang, tapi itu tak bertahan lama karena Soma berhasil menyamai kecepatannya dan sekarang berjalan di sampingnya.
Sebelum Erina sempat mengatakan apapun, pemuda itu bicara. "Jadi, ada acara apa kau belanja sebanyak ini?"
"Tidak ada," Erina mengangkat kedua bahunya ringan. "Aku bahkan tidak sadar sudah membeli banyak barang."
"Oh," Soma melirik tas belanjaan yang dibawanya. "Apa kau juga membelikan sesuatu untukku?"
Wajah Erina memerah ketika mengingat ia tanpa sadar juga membelikan baju untuk Soma. Saat berbelanja, Erina melewati bagian baju laki-laki dan matanya tanpa sengaja melihat manekin yang memakai sweater hitam dengan pola garis putih. Entah karena kerasukan apa, saat itu Erina langsung membelinya sambil berpikir kalau Soma akan cocok memakainya.
Dan ini juga bukan pertama kalinya Erina membelikan baju untuk pemuda Yukihira itu.
Apa aku ini aneh?
Mengutuk kebiasaan buruknya, Erina cepat-cepat mengganti topik. "Daripada membicarakan hal itu..." ia menatap galak pada Soma, kedua tangannya berada di pinggang. "Kemana saja kau seharian ini, Yukihira?"
"Hmm... ke Yukihira, tentu saja." Jawab Soma seolah-olah itu adalah hal yang sangat jelas. "Bukankah aku sudah memberitahumu semalam?"
"Memang, tapi yang kuingat adalah kau mengajakku ke sana. Aku tidak ingat kalau kau bilang akan pergi sendirian!" Mereka sudah mencapai lantai tiga sekarang, Erina mengeluarkan kunci kamar dari tas kecilnya untuk membuka pintu.
"Aku mengajakmu, tapi bukan hari ini. Membuka Yukihira butuh persiapan, seharian ini yang kulakukan hanya bersih-bersih."
"...seharusnya kau memberitahuku dari awal." Kata Erina sebal. Ia memutar badannya menghadap Soma. "Aku bisa membantumu, kau tahu."
Soma menatapnya heran. "Kau ingin membantuku?"
Erina mengangguk.
"Kenapa?"
"Apa itu aneh?"
"Tidak juga. Akhir-akhir ini kau bersikap sangat baik hingga hampir membuatku takut." Soma mengangkat kedua bahunya ringan.
Erina menggembungkan pipinya jengkel sebelum kemudian mengambil kantung belanjaannya dari tangan Soma. "Kalau begitu lupakan saja!"
"Eeehh, tunggu dulu." Soma memegang pergelangan tangan Erina, mencegah gadis itu yang akan masuk ke kamarnya. "Aku senang dengan bantuanmu, Nakiri."
Erina menunggu Soma menyelesaikan kalimatnya, tapi kata yang ditunggunya masih tidak keluar dari mulut pemuda itu. Erina mengangkat alisnya, Soma balas menatap bingung. Sadar kalau keheningan diantara mereka mulai terlihat konyol, Erina membuka suara. "Jadi, bagaimana?"
"Huh? Oh ya... benar juga." Soma seperti baru sadar sesuatu. Melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Erina, pemuda berambut merah itu memamerkan cengiran khasnya. "Besok kau ikut bersamaku, oke? Kau bisa kan?"
Jika tadi Erina merasa jengkel, maka rasa jengkelnya tersebut sudah menghilang entah kemana hanya dengan melihat senyum Soma ke arahnya. Malu dengan pemikirannya sendiri, Erina membuang muka. Laki-laki di depannya ini benar-benar berbahaya. Menghela napas pasrah, Erina bicara pelan. "Tentu."
Esok paginya, Erina menuruni tangga Polar Star untuk menemui Soma yang sudah menunggu di pintu depan. Setelah selesai sarapan, mereka sepakat untuk bertemu di sana setengah jam kemudian sebelum berangkat menuju halte bus terdekat. Lengkap dengan mantel merah muda dan sarung tangannya, Erina mendekat ke arah Soma yang masih tidak menyadari kedatangannya.
"Yukihira-kun, maaf memb—" Erina menghentikan kata-katanya begitu menyadari ekspresi serius yang ditunjukkan Soma. Pemuda itu masih tidak melihat ke arahnya, seperti sedang melamun. Erina menepuk bahu Soma. "Hei,"
Soma mengerjapkan matanya kaget dan menoleh—sesuatu yang aneh sebenarnya, mengingat Soma jarang sekali bisa dibuat terkejut. Senyumnya muncul ketika melihat Erina. "Hei, kau sudah siap?"
"Apa ada masalah?"
"Tidak, tidak." Soma menggeleng. Tampak ragu, Soma bicara. "Ayo berangkat."
Meskipun Erina masih curiga terhadap sikap Soma, tapi Erina memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Sepanjang perjalanan, semuanya sudah kembali normal dengan Soma yang bersikap seperti biasanya. Pemuda itu bercerita tentang semua orang yang menyambutnya kemarin saat dirinya sampai di distrik perbelanjaan Sumire, tempat kedai Yukihira berdiri. Bagaimana mereka antusias melihatnya sejak nama Yukihira Soma sering terlihat di majalah kuliner selama dua tahun terakhir ini, dan bertanya padanya tentang rencananya untuk meneruskan kedai Yukihira nanti setelah lulus.
"Lalu kau menjawab apa?" tanya Erina penasaran. Mereka sekarang sudah menaiki bus. Bagi Erina, ini sudah ketiga kalinya ia menggunakan bus bersama Soma. Pemuda itu selalu menolak jika Erina menawarkan untuk pergi bersama supir pribadinya. Erina tidak tahu apakah ini termasuk hal baik atau tidak, dengan dirinya yang kini sudah tidak asing lagi dengan kehidupan normal seperti sekarang.
"Kubilang aku tidak tahu." Jawab Soma santai. "Bukankah aku pernah memberitahumu minggu lalu?"
Erina ingat. Soma pernah mengatakan padanya kalau meneruskan kedai Yukihira bukan lagi tujuannya, meskipun pemuda itu juga masih belum bisa sepenuhnya memutuskan entah karena alasan apa.
Memandang jalanan sibuk dari balik jendela bus, Erina berpikir tentang percakapannya dengan Hisako kemarin malam. Ia menghela napas pelan, ternyata bukan dirinya saja yang masih belum dapat memutuskan apa yang akan dilakukannya setelah lulus nanti, Soma pun juga berpikiran sama dengarnya.
Mungkin dirinya tidak perlu terlalu memikirkan hal ini, nikmati saja waktu mereka selama tiga bulan ke depan.
"Apa kau akan menginap di kedai Yukihira?" tanya Erina pada laki-laki di sampingnya.
Soma menggeleng. "Tidak, aku akan pulang ke Polar Star tentu saja. Aku hanya berencana membuka Yukihira untuk beberapa hari."
"Sampai liburan kita selesai?" Yang mana masih tersisa lebih dari satu minggu seingat Erina.
"Setidaknya sampai tahun baru." Jawab Soma. "Ada kompetisi yang harus kuikuti tanggal tiga nanti, aku harus berlatih."
Mata Soma nampak berbinar ketika bicara tentang kompetisi mendatang yang akan ia ikuti, dimana setiap peserta harus memasak resep baru tentang masakan Barat untuk meraih skor tertinggi. Erina sendiri kadang mengikuti perlombaan seperti itu meskipun tidak sesering Soma, namun setelah beberapa kali bertanding dirinya sudah merasa bosan dan tidak tertarik. Ekspetasi para VIP yang menjadi tamu di kompetisi membuatnya lelah, kadang Erina heran bagaimana Soma bisa bertahan dengan mereka semua.
Dari halte, mereka berdua harus berjalan sedikit lebih jauh untuk sampai di Yukihira. Pertokoan yang berada di kanan kirinya rupanya menarik perhatian gadis itu, mereka kini sudah berada di distrik perbelanjaan Sumire, tempat dimana Yukihira Soma dibesarkan dari kecil. Erina sedikit takjub meelihat betapa sederhananya lingkungan di sekitar sini.
Toko-toko masih belum buka namun beberapa sudah ada yang bersiap-siap pagi itu. Soma bercerita di sampingnya bagaimana ia dan Nikumi menyelamatkan distrik Sumire yang hampir bangkrut karena bersaing dengan pusat perbelanjaan di dekat stasiun. Ini adalah pertama kali Erina mendengarnya.
"Maksudmu Ikumi-san di sekolah kita?"
"Memangnya ada berapa Nikumi yang kita kenal?" Soma bertanya bingung, keningnya berkerut mencoba mengingat-ingat lagi. "Tapi... ya. Aku memintanya untuk membantuku membuat Kaarage."
"Aku kaget kalian cukup dekat saat musim panas." Ujar Erina pelan. Sejujurnya ia tidak terlalu suka membahas topik ini, bayangan tentang dirinya yang dulu mengirimkan Mito Ikumi untuk mengeluarkan Yukihira Soma dari Totsuki masih membuat perasaan Erina tidak nyaman. Apalagi setelah mengingat bahwa ia dengan kasar memutuskan hubungannya dengan gadis berkulit tan tersebut karena kekalahannya dalam Shokugeki melawan Yukihira.
Meskipun mereka sudah berteman baik sekarang, tapi rasanya Erina masih menyesalinya.
"Begitulah, kurasa kami cukup dekat setelah dia bergabung dengan klub Don." Kata Soma santai. "Tapi ngomong-ngomong tentang Nikumi, apa kau pikir dia menghindariku akhir-akhir ini?"
"Eh?" Erina mengangkat alis heran. Interaksi mereka terlihat biasa saja di mata Erina. "Apa yang membuatku berpikir begitu?"
Soma diam sebentar, nampak berpikir. "Entahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Kami memang masih bicara dengan normal, tapi sepertinya itu tidak sama seperti sebelumnya."
"Mungkin tanpa sadar kau membuatnya marah atau apa."
"Hmmm..." Soma bergumam tidak jelas, "Kau tahu, sebe—"
"SOMA-KUN!" Kalimat Soma terpotong oleh teriakan seseorang yang memanggilnya. Baik Soma maupun Erina otomatis menoleh ke sumber suara. Di sana—di depan sebuah toko yang teralinya masih menutup—berdiri seorang pria berkacamata, berpenampilan sedikit berantakan sedang melambaikan tangan ke arah mereka, atau tepatnya Soma.
Soma balas melambai sebelum mengajak Erina mendekati pria itu. "Oi, Tomita-san." Sapa Soma begitu keduanya sudah mendekat. "Semangat seperti biasanya?"
"Tentu saja." Pria berambut cokelat yang bernama Tomita itu menjawab dengan antusias "Kukira rumor yang mengatakan kalau kau kembali kemarin adalah palsu. Ternyata itu benar."
Soma menggaruk bagian belakang rambut merahnya gugup. "Kemarin aku hanya bersih-bersih saja... maaf kalau aku belum sempat mampir menemuimu."
"Tidak masalah, Soma-kun. Aku tahu kau sibuk, aku sering melihatmu di majalah kuliner yang menyebutmu murid berbakat dan—"
"Ya ya ya, simpan saja itu dulu." Soma terkekeh ringan, "Daripada itu... aku ingin memperkenalkan temanku dari Totsuki."
Erina tersentak kaget ketika Soma mendorongnya maju—ia memang dari tadi berdiri di belakang pemuda itu agar tidak kelihatan. Erina melotot ke arah Soma. Erina memperhatikan pria di depannya, jika dilihat lebih dekat, laki-laki bernama Tomita itu terlihat lebih kusut dibanding dugaan Erina. Ada apa dengan baju tradisional yang tak diikat rapi itu?
Namun sebelum Erina sempat mengatakan apapun, pria itu tiba-tiba melompat ke belakang setelah melihat Erina, memutar tubuhnya ia tiba-tiba berkata histeris. "O-oh tidak, kukira kau sendirian. T-tunggu sebentar!"
Pria berkacamata itu lari memasuki rumahnya, meninggalkan Soma dan Erina yang berdiri heran di depan pintu.
"Apa dia selalu begitu?" tanya Erina.
Soma mengangkat bahunya tidak mengerti. "Ini pertama kali aku melihatnya."
Beberapa menit kemudian, pria itu sudah muncul dengan penampilan yang sudah jauh lebih rapi dari sebelumnya. Rambutnya disisir rapi dan bajunya juga diganti. Saat pria itu mendekat, Erina bisa mencium wangi parfum yang mungkin agak berlebihan untuk seleranya.
"Selamat pagi, Nona." Pria itu sedikit membungkuk, bergaya seperti laki-laki Eropa saat memperkenalkan diri. "Maafkan saya karena tidak terlebih dulu menyadari keberadaan anda."
Soma dan Erina bengong.
Laki-laki itu melanjutkan dengan satu tangannya di depan dada. "Nama saya Tomita Yuya, bisa dikatakan saya sudah seperti figur seorang kakak bagi Soma."
"Apa?" tanya Soma langsung, tapi Tomita mengabaikannya.
Tomita tiba-tiba mengeluarkan setangkai bunga mawar—entah dari mana—dan memberikannya pada Erina. "Boleh saya tahu nama dari nona cantik ini?"
"T-Terima kasih." Erina mengambil mawar tersebut seraya berusaha untuk tersenyum, meskipun agak canggung. Otaknya masih belum bisa memproses keanehan laki-laki depannya. "Nakiri Erina, senang berkenalan denganmu."
"Nakiri Erina..." Tomita bergumam. "Nama yang ind—tunggu dulu." Matanya terbelalak seakan baru menyadari sesuatu. "Jangan katakan kalau kau pewaris dari Grup Nakiri."
"Mmm, apa itu masalah?" Erina bertanya ragu.
"Tidak, tidak sama sekali." Tomita menggelengkan kepalanya cepat. "Permisi sebentar, Nona." Pria itu mendadak menyeret Soma agak jauh dari Erina. Dari kejauhan, Erina bisa melihat kalau Tomita berbisik pelan pada Soma—Erina tidak bisa mendengarnya—dan reaksi pemuda Yukihira yang terlihat bosan saat menjawabnya.
Itu butuh sekitar lima menit sampai percakapan mereka selesai sebelum akhirnya Soma kembali.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Erina penasaran. Dari sudut matanya, ia melihat Tomita yang berdiri gugup saat mengikuti Soma di belakangnya.
"Dia suka padamu." Kata Soma datar sambil menunjuk Tomita dengan ibu jarinya. "Begitu kan?"
"Bukan maksudku 'suka' seperti itu." Tomita meralat ucapan Soma yang terdengar ambigu. Sekarang adalah musim dingin, Erina merasa heran mengapa pria di depannya berkeringat begitu banyak. "Aku juga sering melihatmu di majalah dan TV, Nakiri-san. Suatu kehormatan Nona Nakiri berkunjung ke distrik sederhana kami."
Erina tidak tahu harus berkata apa, ini membuatnya canggung, Erina sama sekali tidak menyangka bahwa di sini ada seseorang yang mengenalinya. Ia baru saja ingin merespon, tapi Soma sudah membuka mulutnya.
"Sudah kubilang, Nakiri di sini hanya sebagai temanku yang kuajak ke Yukihira." Soma meletakkan satu tangannya di pundak Erina. "Dan kalau kau ingin meminta tanda tangan, tanyakan pada manajernya atau tunggu sampai dia melakukan fanmeet atau apapun itu."
Tomita menghela napasnya, "Baik, aku tidak akan menganggu kalian." Katanya pasrah.
Setelah Soma berpamitan, keduanya melanjutkan perjalanan mereka ke kedai Yukihira. Erina memutar-mutar mawar di tangannya seraya berjalan di samping Soma. "Apa aneh kalau aku berada di sini? Aku tidak menyangka Tomita-san mengenaliku."
"Aku tidak akan kaget kalau dia bukan satu-satunya yang mengenalimu di sini." Ujar Soma, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku mantel. "Bagaimanapun juga namamu sering muncul di media."
Ucapan Soma memang terbukti benar. Tidak hanya Tomita-san saja, beberapa kali mereka harus berhenti saat seseorang memanggil nama Soma dan semuanya terkejut saat Erina memperkenalkan dirinya. Namun meskipun begitu Erina tidak keberatan, melihat wajah Soma yang sumringah ketika bicara dengan orang-orang terdekatnya membuatnya juga ikut tersenyum. Dari pengamatannya, ia bisa melihat kalau Soma cukup terkenal di daerah ini dan orang-orang menyukainya.
Bahkan saat mereka melewati sebuah toko roti, pemilik roti tersebut—wanita yang berumur 40an—memanggil keduanya, memaksa mereka untuk memilih satu roti yang baru keluar dari panggangan, mengatakan bahwa ia senang saat Soma memutuskan untuk kembali membuka Yukihira di sini.
Itu membutuhkan waktu lebih dari tigapuluh menit sampai akhirnya Soma dan Erina sampai di kedai Yukihira.
"Maaf membuatmu berjalan cukup lama." Ujar Soma sambil membuka kunci pintu..
"Tidak masalah," Mata Erina memandang bangunan dua lantai di depannya, ini cukup besar dari yang ia bayangkan sebelumnya.
"Silakan, selamat datang di Yukihira."
Soma membuka pintu, mempersilakan Erina masuk lebih dulu. Kesan pertama yang gadis berambut panjang itu dapatkan saat masuk adalah... dingin? Erina menoleh ke arah Soma. "Yukihira-kun, kenapa di sini dingin sekali?"
"Oh, akan kunyalakan penghangatnya sebentar."
Seraya Soma menyalakan penghangat, Erina melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia memperhatikan pemandangan yang dapat dilihat dari tempatnya berdiri, membayangkan kursi-kursi yang kosong terisi oleh banyak orang, suara mereka yang mengobrol dan memesan, sekaligus suara khas masakan dari dapur yang melebur menjadi satu.
Jadi di sinilah tempat Yukihira Soma tinggal?
"Jadi, kau ingin memesan sesuatu, Nakiri?" suara Soma membuyarkan lamunan Erina. Pemuda yang duduk di kursi Kedua Elite 10 itu sudah membuka mantelnya, kini hanya memakai kaos biru Yukihira yang dulu selalu dipakainya.
Rasa nostalgia memasuki Erina. "Sudah lama sekali aku tidak melihatmu memakai baju Yukihira," komentarnya.
"Bagaimana penampilanku? Apa nampak aneh?" Soma merentangkan kedua tangannya, meminta Erina untuk melihatnya baik-baik.
"Hmm, kau terlihat seperti Yukihira Soma." Kata Erina sambil melepaskan mantelnya.
"Apa maksudnya itu?"
"Terlalu sulit untuk dijelaskan." Ujar Erina. "Dan Yukihira-kun, aku di sini untuk membantumu, bukan menjadi pelanggan. Jadi katakan saja apa yang harus kulakukan karena kau adalah bos ku hari ini."
Soma tertawa. "Dengan senang hati, Nakiri."
"Ayolah, kita harus ke sana sekarang."
Koganei Aki adalah salah satu teman sekolah Yukihira Soma sebelum pemuda berambut merah itu pindah ke Totsuki. Kini, ia bersama teman-temannya yang lain berniat untuk mengunjungi kedai Yukihira setelah mendengar bahwa pemuda itu sudah kembali sejak kemarin. Namun sayangnya, salah satu teman mereka berpikiran lain.
Masih memeluk tiang listrik, Kurase Mayumi bersikeras untuk tetap berada di tempatnya. "A-aku belum siap bertemu dengannya. Ini sudah dua tahun sejak aku melihatnya, aku benar-benar gugup."
Aki menghela napas lelah, kedua tangannya ia letakkan di pinggang. Entah sampai kapan sahabatnya itu bersikap malu-malu pada cowok yang disukainya. Teman-teman mereka yang lain sudah pergi lebih dulu menuju kedai Yukihira sementara dirinya masih sibuk menyeret Mayumi ke sana.
"Kalau kau terus begitu, kita tidak akan sempat bertemu dengannya sebelum dia pergi lagi." Ujar Aki kesal.
"Tapi..."
Mayumi masih terlihat ragu, meskipun sebenarnya Aki tak bisa menyalahkannya. Yukihira Soma adalah laki-laki yang hebat, dan hal itulah yang selalu menghalangi Mayumi untuk menjadi lebih dekat dengan pemuda itu, merasa dirinya terlalu sederhana dan tidak pantas berjalan di samping Soma. Apalagi selama tiga tahun ini, mereka selalu mengikuti perkembangan Yukihira lewat majalah kuliner yang dibelinya. Tentang bagaimana Soma adalah murid cemerlang yang selalu memenangi banyak kompetisi dan berhasil menjadi koki kedua terbaik di sekolah terkenal seperti Totsuki. Bakatnya diakui oleh para Elite, bahkan Soma pernah diminta unuk menjadi salah satu asisten chef untuk menjamu pesta besar dimana Perdana Menteri adalah tamunya.
Intinya ialah, Mayumi berpikir bahwa jarak diantara keudanya semakin jauh, dan hal itu membuatnya semakin merasa rendah diri karenanya.
"Tak perlu dipikirkan, oke?" ujar Aki mencoba sabar. "Kita disini untuk menemuinya sebagai teman, ini bukan seperti kau ingin mengakui perasaanmu atau apa, kan?"
Tepat setelah Aki mengatakan hal itu, rombongan anak laki-laki yang merupakan teman sekelas mereka muncul dan melewati keduanya, tampak tidak sadar dengan keberadaan Aki maupun Mayumi karena terlalu sibuk bicara.
"Apa kau serius?"
Aki bisa mendengar suara mereka.
"Ya, aku mendengarnya dari kakakku sendiri. Katanya dia benar-benar cantik, seperti supermodel. Kita harus melihatnya!"
"Tapi bagaimana bisa seorang supermodel bekerja di sana?"
"Karena itu aku ingin membuktikannya. Apa menurutmu dia pacar si Yukihira?"
Suara rombongan laki-laki itu tidak terdengar lagi. Baik Aki maupun Mayumi saling memandang bingung. Apa yang dikatakan laki-laki tadi maksudnya adalah Yukihira yang mereka kenal?
Tahu kalau ini satu-satunya kesempatan, Aki menarik Mayumi yang sedang lengah dari tiang listrik dan menyeretnya menuju tujuan awal mereka.
Erina berpikir dirinya tidak pernah merasa selelah ini.
Menjadi Kepala Koki sekaligus mengerti kebutuhan pelanggan di sebuah restoran adalah sesuatu yang mudah bagi Erina, hal itu dapat dibuktikan dari restoran yang dibukanya selama Moon Banquet festival pada tahun pertama dan keduanya, dimana ia berhasil memasuki tiga besar berdasarkan pendapatan tertinggi. Erina menjalankannya dengan profesional dan tak ada satupun dari para tamunya yang komplain. Karena pengalamannya itulah Erina yakin bahwa bekerja di Kedai Yukihira adalah hal yang mudah, tidak ada bedanya dari festival saat itu.
Namun dugaannya salah.
Tidak seperti di restoran mahal yang biasa ia kelola ataupun kunjungi bersama Hisako, di sini tidak ada banyak pelayan yang akan mengarahkan mereka ke meja yang tersedia, ataupun seseorang yang mengantarkan menu dan mencatat pesanan sehingga hal ini membuat Soma dan Erina harus melakukan pekerjaan tiga orang sekaligus. Oh, tentu saja Erina bisa menanganinya, dirinya cuma sedikit lelah. Meskipun begitu, ada satu hal yang ada di luar perkiraannya dan itu membuatnya heran.
"Apa biasanya kedai Yukihira seramai ini?" Erina bertanya penasaran pada pemuda di sebelahnya. Soma sedang mengaduk kaldu Ankake Udon—menu andalan Yukihira hari ini—sementara Erina sedang menambahkan irisan telur rebus pada mangkuk Oden yang akan diantarkan ke meja.
"Kedai kami memang cukup terkenal di sekitar sini, tapi aku tidak menduga kalau mereka akan datang secara bersamaan seperti sekarang." Soma sekarang menambahkan jamur shitakke ke dalam kaldu. "Apa kau kesulitan, Nakiri?"
Erina lebih memilih memakan kodok daripada mengakui ketidakmampuannya pada Yukihira. "Tidak sama sekali, aku hanya penasaran." Erina mengantarkan empat mangkuk Oden yang dibuatnya ke arah meja lima.
"Terima kasih sudah menunggu," Erina tersenyum—senyum profesional yang selalu ia tunjukkan—seraya menaruh makanan yang dipesan.
"Terima kasih," pemuda berambut cokelat sebahu tersenyum ke arahnya, "Apa kau baru di sini? Ini pertama kalinya kami melihatmu."
"Ya, ini pertama kalinya aku datang ke mari."
"Kau pacar Yukihira?" Giliran laki-laki berkuncir yang bertanya.
"Tidak." Bantahnya langsung. "Apa ada lagi yang bisa kubantu?" Erina masih mempertahankan senyumnya.
"Siapa namamu?"
"Erina." Jawabnya singkat, tidak ingin orang-orang mengetahui nama belakangnya. Erina baru saja ingin kabur ketika suara pintu restoran yang terbuka membuatnya menoleh. "Ah, selamat datang di Yukihira." Sambutnya otomatis sebelum kemudian menghampiri pelanggan mereka—yang kini berjalan menuju konter yang baru saja ditinggalkan oleh kedua pria paruh baya.
Erina tidak tahu sudah berapa kali dirinya meneriakkan kalimat 'selamat datang', mengantarkan makanan dan menjawab banyak pertanyaan yang diajukan padanya—kebanyakan dari laki-laki yang menanyakan nama dan juga hubungannya dengan Yukihira, ia tidak mengerti kenapa orang-orang selalu menanyakan hal yang sama.
"Apa kau pacar Yukihira?"
"Tidak."
"Apa kau mempunyai hubungan khusus dengan Yukihira?"
"Tidak."
"Kau pacarnya, kan?"
"Tidak!"
"Kalian sudah menikah?"
"A-APA!"
Menyebalkan.
Erina tidak sadar waktu yang terlewat sampai akhirnya memasuki waktu sore. Kedai Yukihira tidak lagi ramai jika dibandingkan tadi, hanya ada beberapa orang yang bertahan di sana. Erina melihat ponselnya, sekarang sudah jauh melewati waktu makan siang. Ia lapar. Erina melirik Soma dari sudut matanya, ia melihat pemuda itu sedang memasak sesuatu di dapur. Entah karena kebetulan atau apa, saat Erina melihatnya, mata Soma tiba-tiba juga mengarah padanya, menangkap basah gadis itu yang memerhatikannya dari tadi.
Sebelum Erina sempat mengalihkan pandangannya, Soma sudah bicara duluan seraya nyengir lebar. "Tunggu sebentar, Nakiri. Makananmu segera siap. Kau lapar, kan?"
Erina tidak bisa membantahnya. Sambil menunggu Soma selesai, Erina memilih duduk di kursi konter dimana ia bisa jelas melihat punggung pemuda Yukihira itu. Aroma dari kaldu Ankakke Udon yang dimasak Soma membuatnya tambah lapar. Suara pintu Kedai yang terbuka hampir membuat Erina mengalihkan pandangannya, tapi Soma lah yang menjawab.
"Selamat datang di Yuki—" Soma menghentikan kalimatnya begitu melihat siapa yang datang. "Obaasan?"
Kata Obaasan yang keluar dari mulut Soma berhasil menarik perhatian Erina, gadis itu memutar tubuhnya untuk melihat 'Nenek' yang dimaksud pemuda itu. Di depan pintu, berdiri wanita tua yang tersenyum ke arah Soma, tubuhnya sedikit lebih pendek dari Erina. Tangan wanita itu berada di belakang punggungnya seraya mendekat ke arah konter.
Soma meninggalkan masakannya, berjalan ke arah Obaasan seraya tersenyum lebar. "Senang melihatmu lagi, Obaasan."
"Selamat datang kembali, Soma-kun." Wanita tua itu tersenyum hangat. "Kuharap aku tidak menganggumu."
"Tentu tidak. Tunggu saja, obaasan, akan kutunjukkan kemampuanku yang sudah semakin hebat." Kata Soma bangga, ia lalu menatap Erina.
Tatapan Soma menunjukkan kalau pemuda itu memintanya untuk mendekat. Untuk sesaat Erina tidak mengerti, sebelum akhirnya Erina turun dari kursi dan berjalan menuju mereka.
"Kenalkan, obaasan. Ini adalah Nakiri Erina, temanku dari Totsuki." Soma memperkenalkan Erina. "Dan Nakiri, dia adalah Kiyo-obaasan. Kiyo-obaasan sudah seperti nenekku sendiri dari kecil."
Gadis itu tersenyum sopan. "Senang bertemu denganmu, Kiyo-obaasan." Erina sedikit membungkukkan badannya.
"Terima kasih sudah menjaga Soma-kun selama di Totsuki," Balas Kiyo-obaasan ramah. "Apa aku boleh memanggilmu Erina-chan?"
Erina agak terkejut dengan kedekatan yang Kiyo-obaasan tunjukan padannya, namun Erina tidak mempermasalahkannya. "Tidak, tentu saja tidak. Aku senang mendengarnya."
"Nakiri, bisa kau antarkan Kiyo-obaasan ke meja? Kita bertiga akan makan bersama, bagaimana obaasan?" Soma berkata antusias.
"Kalau itu tidak merepotkan."
Erina memilih meja yang tidak jauh dari dapur, dimana ia bisa melihat Soma dengan jelas dari sini. Erina duduk di hadapan Kiyo-obaasan, sedikit canggung setelah ia menyadari kalau ia tidak tahu topik apa yang harus mereka bicarakan. Hanya berdiam diri akan membuat suasana semakin aneh. Tapi untungnya Kiyo-obaasan lah yang memulai topik.
"Bagaimana Soma-kun selama di sekolah, Erina-chan? Kuharap Soma-kun tidak membuat masalah di sana."
"Mmmm, tidak, Yukihira-kun... murid yang cukup baik?" Erina menjawab ragu, ia tidak bisa bilang kalau Soma seringkali bersikap ceroboh, entah berapa kali pemuda itu mempertaruhkan pengunduran dirinya dari Totsuki demi menantang orang lain untuk Shokugeki. "Kiyo-obaasan tenang saja, Yukihira-kun adalah murid yang cemerlang di sekolah kami, bagaimanapun juga dia berhasil masuk ke E10."
"Elit 10?" Kiyo-obaasan bertanya bingung.
"Ah, itu bisa dibilang peringkat chef terbaik di Totsuki. Jadi..." Untuk beberapa menit kedepan, Erina menjelaskan tentang sistem di sekolah mereka yang memberi peringkat pada sepuluh chef terbaik dan bagaimana cara mendapatkannya. Erina juga bercerita tentang perihal Shokugeki yang mana Soma berhasil meraih rekor kemenangan paling banyak di angkatan mereka, dan hal itu menjadi faktor terbesar bagaimana Yukihira dapat meraih kursi kedua.
"Totsuki terdengar menyeramkan. Kalian berdua sangat hebat bisa bertahan di sana, Erina-chan." Pujinya. "Aku baru tahu kalau hanya ada sedikit orang yang dapat lulus dari Totsuki."
"Begitulah. Meskipun sepertinya tahun ini jumlah murid yang lulus akan lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya." Erina mengingat teman-temannya di Polar Star, ditambah anggota Kursi Sepuluh Elite yang lain, maka jumlah yang lulus pada bulan Maret nanti akan lebih dari sepuluh orang.
"Selamat untuk kelulusan kalian nanti," ujar Kiyo-obaasan tulus. "Apa kau ingin membuka restoranmu sendiri setelah lulus nanti, Erina-chan?"
"Aku masih belum tahu." Ujar Erina tidak yakin. "Mungkin, entahlah."
"Terima kasih sudah menunggu." Suara keras Soma memotong pembicaraan mereka, pemuda itu menaruh nampan yang dibawanya di atas meja. Asap mengepul dari tiga mangkuk udon yang masih panas. "Silakan dinikmati, Obaasan." Cengir Soma seraya menaruh salah satu udon di hadapan Kiyo-obaasan, ia lalu mendudukkan dirinya di sebelah Erina.
Erina memisahkan sumpit yang menempel, matanya tertuju pada Ankake Udon yang dimasak Soma. Ia menahan diri untuk tidak langsung menyantapnya, Erina menunggu Kiyo-obaasan untuk makan lebih dulu.
"Sepertinya kau lapar sekali, Nakiri." Goda Soma, seolah bisa membaca pikiran Erina.
Pipi Erina memerah. "D-Diam."
"Itadakimasu."
Mereka bertiga mulai makan, tidak, lebih tepatnya Erina dan Kiyo-obaasan karena Soma belum menyentuh mangkuknya. Matanya sibuk memperhatikan ekspresi kedua perempuan di dekatnya.
"Bagaimana rasanya, obaasan?" Soma bertanya tidak sabar setelah Kiyo-obaasan memakan suapan pertamanya.
Kiyo Obaasan tersenyum. "Enak sekali. Kemampuanmu sudah benar-benar meningkat, Soma-kun. Ini sama seperti yang dibuat Jouichirou."
"Eeeh? Jadi maksud Obaasan aku masih belum melampaui masakan ayahku?" Soma mengerucutkan bibirnya kesal.
Wanita tua di depannya hanya tertawa. "Kau harusnya bangga, Soma-kun. Jouichirou adalah koki yang luar biasa."
Soma menghela napasnya. "Aku harus berusaha lebih keras." Ia lalu menatap Erina di sebelahnya, ingin tahu pendapat gadis itu tentang masakannya—atau mungkin saja dirinya bisa mendengar pujian Erina. Tapi tampaknya gadis berambut panjang itu tidak berniat untuk berkata apapun.
"Kenapa?" tanya Erina bingung begitu sadar Soma melihatnya.
Soma menghela napasnya seraya menggeleng. "Tidak ada." Mengikuti mereka, Soma juga memakan udonnya. Setelah beberapa saat, Soma tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa bangga. Ini adalah masakan udon terbaik yang pernah dibuatnya, ia yakin itu. Udon lembut dan kenyal dipaduh kuah panas yang menghadirkan kolaborasi rasa asin, manis dan gurih, ditambah tambahan kaldu dari kepiting sebagai topping. Yup, ini benar-benar enak.
Selama mereka makan, Soma bercerita tentang pengalamannya di Totsuki, dengan sesekali Erina menambahkan—atau lebih tepatnya memberitahu pengalaman memalukan pemuda itu. Mereka bertiga sama-sama tidak menyadari waktu sudah lewat, ketika tanpa sengaja Erina melihat jam, Erina terkejut karena ini sudah waktunya mereka mempersiapkan bahan-bahan untuk makan malam.
Nampaknya Soma juga menyadari hal tersebut karena selanjutnya pemuda itu berdiri, sebelum kemudian menumpuk mangkuk mereka menjadi satu tumpukan. Ekspresinya terlihat bersalah. "Maaf obaasan, aku harus—"
"Biar aku saja!" Erina memotong kalimat Soma, ia ikut berdiri. "Kau temani Obaasan, aku yang akan melakukan persiapan." Bisiknya pelan.
"Tidak bisa begitu, aku tidak ingin membuatmu repot."
"Apa kau meremehkanku?" Erina mengulurkan tangannya, Soma menyererahkan mangkuk yang dibawanya. "Aku akan membuatkan teh untuk kalian berdua, kalian santai saja dulu." Erina tersenyum ke arah Kiyo-obaasan sebelum kemudian berjalan ke arah dapur.
Soma menghela napasnya, ia tahu kalau Erina bisa melakukannya, tapi tetap saja ia tidak ingin membuat Erina melakukan semuanya sendirian.
"Erina-chan perempuan yang baik, Soma-kun. Aku merestui hubunganmu dengannya."
Soma hampir saja terjatuh saking kagetnya. Ini memang bukan pertama kalinya ia mendengar kesalahpahaman orang-orang tentang hubungannya dengan sang pewaris Nakiri, tapi mendengarnya langsung dari sosok yang sudah Soma anggap sebagai neneknya sendiri membuatnya sedikit salah tingkah.
"Aku dan Nakiri... hubungan kami tidak seperti itu..." Soma membantah. "Dia temanku, aku hanya memintanya untuk membantuku hari ini."
Kiyo-obaasan menatap Soma tidak percaya, pemuda itu mengalihkan pandangannya. Kiyo-obaasan kembali tersenyum, ia lalu berdiri seraya mengeluarkan dompetnya. "Jadi berapa yang har—"
"Oh, tidak perlu, Obaasan. Aku yang traktir hari ini." Kata Soma cepat-cepat melihat Kiyo-obaasan yang ingin membayar. "Ini pertama kalinya Obaasan mencoba masakanku setelah aku berada di Totsuki, aku senang karena Obaasan menyempatkan diri untuk datang."
"Terima kasih banyak, Soma-kun." Kiyo-obaasan lalu melihat punggung Erina yang berada di dapur. "Kau ingin membantunya, bukan?"
"Huh? Aku—"
"Sampaikan salamku pada Erina-chan nanti." Kiyo-obaasan memotong kalimat Soma yang terdengar bersalah. Kedua tangan Kiyo-obaasan terulur, ia tersenyum seraya memegang satu tangan pemuda di depannya. "Sekali lagi, terima kasih sudah kembali ke mari, Soma-kun. Aku menantikan masakanmu lagi setelah kau lulus nanti."
Perasaan bersalah tiba-tiba mengelilingi Soma, ia mengalihkan pandangannya, tidak melihat Kiyo-obaasan. Dirinya bahkan tidak yakin apa ia akan kembali atau tidak setelah lulus. Kiyo-obaasan melepaskan genggamannya. "Sampai nanti, Soma-kun."
Soma tetap berdiri di tempatnya, ia melihat sosok Kiyo-obaasan yang pergi. Ia menghela napasnya sebelum kemudian berbalik menuju dapur untuk membantu Erina.
Malam sudah sangat larut ketika Soma dan Erina berada di Kedai Yukihira. Meja dan kursi telah selesai dirapikan, keduanya kini sedang menunggu mobil jemputan datang. Erina bersikeras kalau menunggu bus di jam seperti ini akan memakan waktu yang lama hingga Soma akhirnya mengalah, membiarkan Erina menelepon supir pribadinya untuk mengantarkan keduanya kembali ke Totsuki.
Baik Soma dan Erina sudah memakai mantel masing-masing, sehingga yang perlu mereka lakukan hanyalah menunggu. Soma menyenderkan punggungnya ke tembok, kedua tangannya ia lipat di depan dada. Erina juga berdiri di sebelahnya, namun kedua tangannya ia letakkan di balik punggung. Keduanya diam, tidak banyak bicara.
Erina tidak tahu apa yang sedang Soma pikirkan, tapi menurutnya ini bukanlah kediaman yang canggung, mereka berdua sudah cukup nyaman satu sama lain untuk tidak lagi mempersalahkan keheningan di antara mereka.
Erina memandang ke sekelilingnya. "Aku menyukai tempatmu ini, Yukihira-kun."
Erina dapat merasakan pandangan Soma ke arahnya, mungkin pemuda itu heran mengapa dirinya tiba-tiba bicara seperti ini, Erina bisa menduganya. Namun Erina tetap melanjutkan. "Tidak seperti restoran mewah yang biasa kukunjungi, di sini aku bisa merasakan perasaan orang-orang yang memakan masakan buatanmu. Berada di Yukihira, sepertinya aku sudah mengerti koki seperti apa dirimu itu, dan alasan kenapa kau ingin melindungi Yukihira."
"Kau mengerti?" Soma akhirnya merespon.
Erina mengangguk. "Awalnya aku tidak paham kenapa ayahmu memilih untuk bekerja di sini, tapi aku tahu sekarang. Di Yukihira kau merasa bebas, semua orang bisa datang untuk mencoba masakanmu. ...Emm... apa itu terdengar konyol?"
Soma tertawa. "Ya, tapi aku mengerti maksudmu, Nakiri. Tidak seperti di restoran berbintang, di tempat seperti Yukihira, aku tidak perlu memuaskan tamu VIP dan membuat menu baru setiap saat. Mungkin itu alasannya kenapa awalnya Tousan tidak ingin aku masuk ke Totsuki."
"Apa kau pernah merasa tertekan seperti ayahmu, Yukihira-kun?"
"Tidak juga." Soma mengangkat kedua bahunya ringan. "Mungkin karena aku bukan jenius sepertinya, lagipula..." Soma menghentikan kata-katanya.
Erina menoleh ke arah pemuda di sebelahnya, pipinya memerah menyadari kalau Soma juga sedang memperhatikannya. Erina sadar wajah mereka terlalu dekat. Gugup, Erina memundurkan tubuhnya.
Mengalihkan matanya, Erina bertanya. "K-Kenapa kau melihatku begitu?"
"Bukan apa-apa. Hei, sepertinya mobilmu sudah datang." Kata Soma tiba-tiba, ia mendengar suara mobil yang terparkir di depan. "Ayo, Nakiri." Soma mengulurkan tangannya ke arah Erina.
Tanpa berpikir lama, Erina menyambut uluran Soma. Dan saat itu Erina baru menyadari, entah sejak kapan, melihat Soma yang mengenggam tangannya seperti sekarang nampaknya telah menjadi hal yang natural baginya.
TBC
Next Chapter: The Boy Who Shines Like a Sun
