JINGGA
(Chapters 7)

.

.

Casht : Sehun, Luhan, HunHan, Kai, Chanyeol, Baekhyun, ChanBaek, Suho, lay, Xiumin, Chen, Chenmin

GS

NC 21

Chapters

Romance, Hurt Comfurt

.

.

Sehun masih memelukku erat, ia sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya. Terasa badannya bergetar hebat, dia meremas pinggangku dengan kuat, menenggelamkan kepalanya di pundakku.

"Sehun, tak apa. Itu hanya suara anjing"
"aku... takut..."

Dia berbisik di telingaku dengan bergetar, aku tak percaya bila dia sangat takut terhadap anjing kecilku.

"tenanglah, lebih baik kau kembali ke mobil"

Dia mulai bisa melepaskan pelukannya yang erat, menundukan wajahnya yang merah, aku hanya menuntunnya agar dia kembali ke dalam mobil.

"pergilah, kau butuh istirahat"

Ia hanya mengangguk kecil, wajahnya di penuhi keringat sampai membasahi kemeja putihnya, mesin mobil mulai menyala, dan tak lama kemudian dia memacu mobilnya dengan tenang, aku membalikkan badanku menuju gerbang, terlihat ada seseorang yang sedang membukakan gerbang untukku, kini orang itu menatapku dengan senyuman.

"maafkan aku, aku terlalu lama membukanya bukan?"
"tak apa ka Byun"
"siapa orang yang mengantarmu pulang? Aku tak mengenal mobilnya"
"dia bos ku"
"apa? Jadi kau berkencan dengan seorang pengusaha?"
"kami tidak berkencan, sungguh. Tadi kami kebetulan bertemu saat aku dan... dan temanku sedang mencari barang"

Hampir saja aku membuka rahasia ini, ka Byun tidak boleh sampai mengetahui kalau aku dan Yeol baru saja membeli hadiah untuknya.

"baiklah, alasan di terima"

Dia tersenyum, seakan-akan ingin meledek

"ka Byun, aku tak bohong"
"baiklah-baiklah, aku percaya. Lebih baik kita masuk, di luar sini begitu dingin"

Kami melangkahkan kami kami memasuki rumah, ini sudah larut malam, warga rumah pasti sudah tertidur lelap, nasib baik ka Byun belum tertidur, jadi aku masih bisa masuk ke dalam rumah ini. Malam sudah sangat larut, mata ini tak bisa lagi menahan kantuknya, membaringkan tubuh ini di atas tempat yang empuk adalah suatu kenyamanan yang sangat di tunggu-tunggu, di temani sang bulan yang menyinari bumi dengan sinar redupnya.

Aku harus berlari lebih kencang lagi agar tak tertinggal bus keberangkatan pertama, aku tak ingin pagi hariku di hiasi oleh omelan dingin Tuan Oh itu, memang kemarin dia berubah menjadi manusia normal, namun perubahannya itu mungkin tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Perjuanganku tidak bisa berhenti sampai sana, aku masih harus berlari kecil untuk sampai di tempat kerjaku secepat yang aku bisa.

Dan akhirnya kaki ini bisa beristirahat, punggung ini bisa dengan tenang ku sanderkan pada kursi yang berwarna hitam pekat ini, ku pandangi seisi ruangan namun tak ada tanda-tanda adanya Tuan Oh, suhu ruangan yang dingin akibat di tiupkannya angin dingin yang di keluarkan oleh AC membuatku harus menutup rapat-rapat sweater coklat yang tengah aku kenakan, dengan leluasa aku akan memulai aktifitas rutin yang selayaknya di lakukan oleh sekretaris magang, mata ini tak sengaja terusik dengan laci meja di sebelah kananku yang terbuka sedikit, seperti ada seseorang dengan sengaja membuka meja ini.

Perlahan laci ini kubuka dan terlihat dengan jelas mawar putih cantik dengan kertas jingga yang menggantung dengan benang putih tertata manis di dalam sana.

"terima kasih atas kerja kerasmu"
"K"

Dan sekali lagi aku mendapatkan secarik kertas dari seseorang yang tak ku kenal, dan kali ini ada huruf kecil bertuliskan huruf 'K' di pojok bawah kanan dengan ukiran yang manis tertulis jelas di atas kertas itu, otak ini tidak bisa mentelaah dengan baik berasal dari mana bunga cantik ini, ku simpan kembali bunga itu di dalam laci. Tak habis memikirkan siapa dalang di balik pemberian bunga ini, sungguh aku berterima kasih karna dengan bunga ini aku bisa merasakan manisnya hidup jika ada seseorang yang memerhatikan kita, walaupun entah itu siapa.

"pagi"

Suara Tuan Oh terdengar, beriringan dengan suara pintu yang ia buka, tampilannya sama seperti biasa, sangat rapih dan wangi, rambutnya yang tertata rapih serta bibir pinksoft nya mulai menghiasi ruangan ini.

"pagi Tuan"

Tak ada jawaban, firasatku berkata bahwa dia akan kembali menjadi manusia es seutuhnya.

"Nona Han, bisa bantu aku sebentar"

Dengan sigap aku menghampirinya, kini aku sudah berada tepat di hadapannya namun tangannya yang panjang menarik lenganku dan mengarahkan aku hingga berada tepat di samping kirinya.

"coba kau lihat ini"

Aku hanya terdiam setelah mata ini melihat dengan jelas bahwa ada sebuah email yang masuk menawarkan kerja sama dari perusahaan Taipei Grup yang sama-sama menggeluti bidang magazine, ini adalah suatu kabar baik untuk perusahaan ini karna dengan kolaborasi kedua perusahaan ini akan mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat, dan Teipei Grup meminta pertemuan secepatnya dengan pemilik saham Yoshioda Grup.

"aku akan segera kembali"
"kau akan pergi kemana Tuan Oh?"

Mendengar pertanyaanku dia berhenti dan membalikkan badannya, menatapku dalam-dalam. Tanpa ia mengeluarkan suara aku mengerti akan kemana dia akan pergi tentu saja dia akan pergi ke ruangan Direktur Ho. Tanpa aba-aba dia kembali meneruskan langkahnya dengan cepat dan menghilang dari pandanganku hanya dengan sekejap, tanpa perintah aku mulai meneruskan tugasku, mengetik dengan rapih semua jadwal pemotretan untuk hari esok, jari-jari ini mulai menari-nari di atas keyboard dengan handal dan tak lama kemudian aku telah menyelesaikan tugasku. Suara pintu terbuka kasar terdengar dengan jelas di sebelah kananku, kudapati sosok Oh Sehun yang tergesa-gesa menghampiri mejanya, mengeluarkan map-map berwarna kelabu dari dalam sana.

"kau bersiaplah, satu jam lagi kita akan mengadakan rapat dadakan"
"baik Tuan"

Aku mengerti perintah yang di ucapkannya, kurapihkah berkas jadwal pemotretan dan merapihkan penampilan yang sedikit berantakan, melangkah keluar dan menuju ruang utama di dalam gedung ini. Ruang utama tempat pertemuan rapat terpampang jelas di depan sana, dengan pintu kaca tebal yang sangat mengkilap terbuka lebar sehingga dari jarak lima meter terlihat jelas isi ruangan yang megah dalam sana, melangkah dengan pasti memasuki ruangan itu, mata ini tak bosan-bosan memandangi setiap sudut ruangan ini, meja kaca yang sangat panjang dengan di padu-padankan dengan kursi kelabu yang menambah nilai klasik serta lampu di atas sana menyala terang bak puluhan kristal yang menggantung di sana, aku terus mengelilingi ruangan yang masih sepi sampai langkahku terhenti saat tubuh ini menabrak postur tubuh yang bidang di hadapanku, kali ini aku hanya terguncang dan tangannya yang kuat berhasil menangkap kedua pundakku dengan sigap, menundukan sedikit wajahnya sehingga wajah kami saling bersahutan, matanya memandangi mataku tajam, melemparkan senyuman nakal dari wajahnya yang putih bersih.

"ceroboh"

Hanya sepetik kata saja yang ia keluarkan dari mulutnya yang tipis serta pink, ia menggenggam tangan ini dan menggandeng tanganku, menuntun, menarik kursi dan mendudukanku dengan manis.

"diam, dan berhenti bertingkah konyol"

Dia meninggalkan satu bungkus perment mint di tanganku dan meninggalkanku begitu saja, aku hanya bisa memandangi punggung Oh Sehun yang lebar saat meninggalkan ruangan ini dengan langkah yang lebar, beberapa menit kemudian dia kembali dan duduk tepat di sampingku, merapihkan jas serta kemejanya yang berwarna coklat muda, pandangannya hanya lurus kedepan sehingga aku bisa melihat dengan leluasa.

Rapat ini di akhiri oleh pidato Direktur Ho yang di sambut tepuk tangan meriah dari para karyawan, rapat kali ini cukup berhasil di laksanakan. Kini satu persatu para karyawan mulai meninggalkan ruangan ini hingga hanya ada aku dan kedua pria yang memegang peran penting di dalam perusahaan ini. Kulihat Direktur Ho dan Tuan Oh sedang berbincang asik tentang bagaimana perusahaan mereka akan bekerja sama dengan Teipei Grup, keduanya sama-sama bersemangat menunggu hari di mana kedua perusahaan besar akan bertemu menyatukan ide briliannya dan meraup untung hingga berlipat-lipat.

"Nona Han"

Ada yang memanggilku saat aku akan beranjak pergi dari tempat ini.

"anda memanggil saya Tuan Ho?"
"iya, malam ini kau tidak ada acara?"
"tidak ada Tuan"
"kebetulan kami akan merayakan atas kerja sama Teipei Grup dan Yoshioda Grup malam ini, apa kau ingin bergabung?"
"bolehkah tuan?"
"tentu"
"baiklah, jika begitu saya bersedia ikut"
"bagus, Tuan Oh yang akan mendampingimu pergi ke tempat acara itu"
"Tuan Oh?"
"iya, kenapa? Kau keberatan?"
"tidak Tuan"

Sore akan segera beranjak menjadi malam yang kelam, sedari tadi aku sudah memilih pakaian yang bagus untuk aku kenakan, namun semuanya tidak ada yang menarik untuk aku kenakan, hingga handphoneku berbunyi dan segera aku mengangkatnya.

"kau dimana?"
"di rumah Tuan"
"cepat keluar, aku sudah menunggu lama sekali di luar sini"
"anda di mana Tuan?"
"aku tepat berada di depan rumah mu"
"tapi aku belum selesai berganti pakaian Tuan"
"kenakan apapun yang ingin kau pakai, cepatlah kau membuatku mati kedinginan"

Pikiranku buntu, aku tak tahu harus memakai pakaian seperti apa untuk acara pesta itu, akhirnya pilihanku jatuh pada gaun toska dengan renda pink di bawahnya, segera aku menuruni tangga dan menghampiri Tuan Oh yang sedari tadi bersandar di depan pagar.

"maaf saya terlambat"
"cepatlah masuk"

Tuan Oh memacu mobilnya dengan sangat cepat, namun ketika sampai di dalam pusat perbelanjaan mobilnya sengaja di parkirkan.

"turunlah"
"kita mau apa Tuan?"
"cepat turun, kita hampir kehabisan waktu"

Tanpa di perintah dua kali aku langsung menuruti perintahnya itu, ia menggandeng tanganku dan memasuki sebuah butik ternama di kota ini.

"tolong pilihkan pakaian yang cocok untuknya"
"baik Tuan"

.

"Tuan Oh, kenapa kau mengajakku kesini?"
"lihatlah pada cermin"

Refleks aku langsung berkaca, terdapat pantulan diriku yang tak tentu arah, dandananku tak layak jika akan di katakan untuk pergi ke suatu pesta, kini aku mengetahui alasan mengapa Tuan Oh membawaku ke sini.

"cobalah semua gaun ini, dan perlihatkan satu persatu kepadaku"
"tapi ini terlalu banyak"
"ini perintah"
"baikah"

Sekali lagi aku mengikuti perintah yang ia katakan, kukenakan gaun ini satu persatu dan menunjukannya pada Tuan Oh yang sedang duduk manis tepat di depan ruang ganti pakaian sembari membaca koran yang telah di sediakan di butik ini. Ini sudah gaun yang kesekian kalinya di tolak oleh Tuan Oh, menurutnya tak ada gaun yang pas untuk di kenakan oleh ku.

"bagaimana dengan yang ini?"

Aku menunjukan gaun pinksoft dengan hanya ada gambar abstrak di bawah gaun yang hanya terurai sampai lututku, ujung gaun yang satunya lagi melingkar menutupi dada dan bagian punggung terbuka lebar seakan-akan aku tampak tidak memakai bra.

"hmm"

Dia hanya menganggukkan kepalanya, dan menyuruh staff di sana untuk memberikan nota padanya.

"kenakan itu, lalu kita akan pergi ke salon"
"salon?"
"tak usah membantah"

Tangannya yang kuat menarik tangan kecil ini, menyeret sesuka hati tanpa memikirkan tanganku yang keram karna genggamannya yang begitu kuat mencengkram tanganku. Kini tangan ahli sedang merias wajahku, melukiskan riasan manis di sana, tugasku hanya memejamkan mata dan lihat apa yang akan terjadi.

"bukalah matamu"

Mendengar perintah itu, mataku tergerak untuk membuka dan aku mendapatkan suatu keajaiban menimpah wajahku. Ini bukan seperti diriku, di hadapan cermin aku sangat cantik dengan riasan ini, dengan eyeliner yang mengkerucut membuat tatapanku menjadi tajam dan aku menyukainya.

"sekarang bolehkah kita berangkat?"

Aku menghampiri Tuan Oh yang tengah sibuk dengan handphone di tangannya, wajahnya beralih ketika mendengar suaraku memanggil namanya, dia hanya terdiam menatapku dalam tanpa bergerak sedikitpun, kemudian dengan cepat dia memalingkan pandangannya ke arah lain.

"cantik"

Ucapnya berbisik

"apa?"
"apa? Sudahlah kita terlambat"

Kembali kami menyelusuri jalan dengan sangat kencang, Tuan Oh terus memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, menatap setiap titik sudut jalan dengan tajam sampai akhirnya cahaya lampu pesta menyambut kedatangan kami dengan sangat meriah. Tuan Oh seketika menekuk tangan kanannya meminta tangan kiriku menggandeng tangannya, dengan ragu ku rangkul tangan Tuan Oh dan kami mulai memasuki ruangan mewah penuh dengan musik dan makanan, tangan kami terus bergandengan sampai tepat berada di tengah-tengah pesta.

"kalian serasi"

Terdengar suara yang sudah tak asing bagiku, kami serentak memalingkan pandangan menuju sumber suara, ternyata Tuan Ho di sana, sedang berdiri tegap sembari membawa secangkir bir di tangan kanannya. Terdengar suara Tuan Oh tersenyum kepadanya.

"ini tidak seperti yang kau bayangkan, aku"
"mari kita bergabung dengan yang lainnya"

Tuan Ho menuntun kami untuk memasuki ruangan yang di dalamnya sudah banyak sekali karyawan dari Yoshioda Grup.

"bergabung lah dengan mereka, dan nikmati pestanya"

Oh Sehun melepas gandengannya dan berbaur dengan rekannya yang lain, meninggalkan diriku yang hanya mematung berdiri di sini dan tak ada tujuan.

"di tinggal sang pangeran tuan putri?"
"Nona Yixing?"
"kenapa? Kau mengira aku tidak mengikuti pesta ini?"
"tidak Nona"
"kau di sini untuk apa? Tidak ada yang harus kau kerjakan bukan?"
"Tuan Ho yang mengundangku untuk datang kemari"
"Tuan Ho hanya berbasa-basi dengan mu, sebenarnya dia tak ingin mengajakmu kemari"
"aku permisi dulu Nona"
"kuperingatkan kau, lebih baik kau pulang"

Senyumannya yang licik menemani kepergianku, Nona Yixing bertambah kebenciannya terhadapku setiap harinya, entah apa yang aku perbuat sehingga dia sangat membenciku. Aku hanya berjalan-jalan mengintari seluruh ruangan yang penuh musik ini, hanya menundukan kepala dan di temani dengan segelas soda berwarna merah. Memang seharusnya aku tidak di sini.

"kau kenapa?"

Seseorang membuyarkan lamunanku, kepalaku terpaksa menenggak agar dapat melihat wajahnya. Kudapati pria yang sangat tinggi, bahkan tinggi badannya melebihi tinggi Yeol, dia menatapku dengan senyuman manis di sana, rambutnya yang pirang serta badannya yang tegap menambah ketertarikan dalam dirinya.

"aku Wu Yi Fan"

Dia mulai memperkenalkan diri

"Xi LuHan"

Tanganku menyambut tangannya yang ter-ulur. Pembicaraan kami di mulai saat kami mendapatkan kesamaan, dia dan aku pecinta anjing. Pria itu adalah pria yang berkebangsaan China, dia di sini hanya bekerja di suatu perusahaan tekstil di daerah Inceon yang jaraknya tak jauh dari sini, perkataannya yang ramah membuat aku bisa bertahan berbincang dengannya selama beberapa jam. Hingga kulihat samar-samar seseorang terbopoh-bopoh bersusah payah berjalan mendekat sebari membawa satu botol minuman beralkohol di tangannya. Aku berlari saat melihat orang tersebut ambruk dan tak bisa bangkit lagi.

"tuan Oh?! Astaga!"

Segera aku merangkul badannya, berusaha membangunkannya namun gagal setelah berkali-kali ku coba. Yi Fan berlari kecil menghampiriku yang sedang kesusahan untuk mengangkat tubuh Oh Sehun yang berat, dengan sigap dia menggendong Tuan Oh di punggungnya, membawanya ke taman yang tak jauh dari tempat ini, membaringkannya di bangku taman yang dingin, tak lama handphone yang berada di dalam saku Yi Fan berdering dengan keras, kemudian dia berlari tanpa pamit meninggalkanku dan Tuan Oh di sini. Ku angkat kepala Tuan Oh dan menyenderkannya di atas pahaku, menutupi badannya dengan jaket yang tengah aku kenakan. Oh Sehun sama sekali tidak menggerakkan badannya, sehingga aku berusaha membangunkannya karna ini sudah hampir larut malam, nasib baik Tuan Oh terbangun dengan keadaan yang buruk dan nafasnya sangat khas bau alkohol.

"Hannie"

Dia memelukku erat sampai aku tak dapat lagi merasakan oksigen untuk bernafas, dia terus memelukku dan mengelus-elus pucuk kepala dengan perlahan. Menatap wajahku, mendekatkan ujung bibirnya hingga menyentuh bibirku dan seketika tubuhnya ambruk kembali. Ciuman itu membuatku terkejut dan tak mampu untuk berkutik, itu adalah ciuman pertamaku yang di ambil oleh seorang Oh Sehun tanpa kesadarannya yang waras, jantungku berdegup kencang, tanganku seketika mengeluarkan keringat dingin, ini hanyalah ciuman tanpa kesengajaan namun dia berhasil membuat pertahananku melemah. Aku hanya terdiam memandangi Oh Sehun yang tertidur di atas pahaku, pikiranku terus mengulang adegan yang baru saja terjadi, membuat pikiran ini kacau tak menentu, sepertinya aku harus beristirahat untuk menenangkan pikiranku. Badanku yang kecil berhasil membopong Tuan Oh dengan selamat masuk kedalam mobilnya, mengenakannya sabuk pengaman mengatur GPS untuk melihat dari mana mobil ini bermula, dan kemudian dengan berhati-hati aku mengendarai mobil ini dengan perlahan.

Kendaraan ini mulai mendekati tujuan utama dalam GPS, membawa kami ketempat apartemen kelas pertama dengan suguhan bangunan yang glamour, tepat berada di depan pintu utama aku meminta bantuan petugas yang ada di sana untuk membawa Oh Sehun masuk kedalam ruangannya, nasib baik petugas itu mengetahui dimana letak kamar Oh Sehun, aku hanya membawa tas hitamnya dan hanya mengikuti petugas yang tengah membawa Oh Sehun di punggunya dari belakang. Kami berhenti tepat di hadapan pintu dengan nomor 94 yang terpampang di depannya, petugas itu memintaku untuk mengeluarkan kartu identitas dari dalam tas Oh Sehun untuk membuka pintu itu. Setelah petugas itu selesai dengan urusan mengantarkan Oh Sehun tepat di atas ranjangnya yang lebar dia berpamit untuk melanjutkan tugasnya kembali.

Ruangan yang didiami oleh Oh Sehun sangat besar dan sangat dingin, gaya ruangan yang klasik serta barang yang tertata rapih menjadikan ruangan ini ruangan idaman bagi yang ingin menyendiri, di dalam sini sangat hening dan hanya beberapa lampu yang redup yang menghiasi ruangan. Ini sudah sangat larut malam, waktunya untuk aku beranjak pergi. Aku mengmbil selimbut dan sengaja menyelimbuti Oh Sehun karna dia terlihat sangat kedinginan. Tangan Oh Sehun seketika meraih tanganku dan di genggamnya erat, dia menggenggam tangan ini dengan kedua tangannya yang besar, memberikan rasa yang hangat di sana, sengaja aku menarik perlahan tangan ini dari genggamannya namun semakin aku menarik, semakin kuat genggamannya.

"jangan"

'Apa baru saja dia berbicara?'

Mataku terbelalak ketika dengan kuat dia menarik tangan ini sehingga badanku mendarat tepat di atas badannya, kedua tangannya sigap memeluk erat pinggangku, menggulingkan badan ini hingga kami dalam posisi tidur bersebelahan.

"aku merindukanmu Han"

'Han? Apa baru saja dia memanggil namaku?'

Dia berbicara dengan mata tertutup, bau alkohol dari mulutnya belum kunjung padam. Dia memelukku layaknya tali yang mengikat tubuh ini kencang, sehingga aku tidak dapat lagi menggerakkan badanku sedikitpun. Oh Sehun kembali tertidur dan meninggalkanku jauh dari alam bawah sadarnya, ia tertidur namun pelukannya tak kunjung melemah.

Detak jantung ini berdegup lebih kencang, wajahku memerah layaknya kepiting yang sedang di rebus masak-masak, aku tak mengerti kenapa situasi seperti ini sama sekali tak ingin aku lewatkan sedetikpun, aku menikmati ketika tubuh kami berdekatan dan tangannya tak lepas dari genggaman, ini membuatku sangat nyaman berada dalam pelukannya. Oh Sehun yang dingin seketika menghilang lenyap begitu saja, hembusan nafasnya yang hangat sangat terasa di ujung keningku yang tak terhalang oleh rambut, hawa ini membuat mataku memberat tak terkendali. Alunan detak jam berhasil menghantarkan aku meninggalkan dunia nyata dan beranjak menuju dunia khayal yang lebih bisa di kendalikan, kami tertidur berhadapan dengan Oh Sehun yang masih memeluk badan ini erat, dengan aku yang masih mengenakan pakaian lengkap dan tak tertinggal wedges yang masih menempel pada kakiku di ujung sana.

.

.

.

Remang – remang cahaya mentari pagi mulai memberi cahayanya perlahan, memberikan cahaya hangat pada ruangan ini, mataku masih berat untuk di buka, untung saja aku ingat bahwa ini adalah hari libur sehingga aku dapat memejamkan kembali mataku yang sedikit terbuka.

Tunggu, aku mengintip sesuatu yang aneh di luar sana, aku merasa hawa ini sangat asing menghampiriku, kupaksakan kedua mataku membuka lebar – lebar untuk melihat apa yang tengah terjadi.

'ASTAGA!'

Aku berada dalam ranjang yang sama dengan Oh Sehun, kejadia semalam bukanlah sebuah mimpi belaka yang hanya melintas begitu saja, semalam adalah kejadia yang benar – benar terjadi, ciuman itu, genggaman itu, pelukan itu. Itu semua adalah suatu kejadian yang amat sangat nyata terjadi, tepat di sampingku terdapat Oh Sehun yang masih memejamkan matanya rapat – rapat, reaksi apa yang akan aku dapatkan ketika dia mendapati kami sedang berada dalam ranjang yang sama?

Perlahan aku menuruni ranjang ini.

'krek'

Sialnya ranjang kayu ini berbunyi ketika aku hendak meninggalkannya, suara itu berhasil membangunkan lelapnya tidur Oh Sehun disana, dia sedikit membuka matanya dan memaksa membuka matanya lebar – lebar ketika mendapati aku yang tepat berada di hadapannya.

.

.

.

To Be Continue