Disclaimer: I don't own KHR. KHR belongs to Akira Amano.

Peringatan ini berlaku untuk semua chapter di ff ini; OOC, AU, typo(s), sometimes drabble, alur kecepetan, aneh, abal, gaje, nggak nyambung. Don't like don't read. Like? Review. Multichap abal!

First A/N: ceritanya gak sesuai sama judul chapternya. Oh, well. Biarin aja. Semoga suka, ya~ maaf ya telat updet #bodoamat mesti nyelesain fanfic saya di fandom Vocaloid yang judulnya; 'The Story of Music' (dalam kurung promosi =w=v) semoga suka ya~ 8D oke, dari jauh (dari deket juga #plak) lice kira lice ngikutin cerita orang... tapi sebenernya pas post ff ini, lice gak berkeliaran di fandom KHR dulu, jadi baru tau setelah sekian lama berkeliaran di fandom KHR. Jadi maaf, ya... nah, kalo ini vers full of OOC OuO #kicked hope you like ya all~ ah, dan kali ini latar waktunya ultah Kyoya. Tapi bukan berarti sekarang ultah Kyoya, tapi iseng aja idenya nemu pake ultah Kyoya. Hyaha~ kiss~ efek karena kepengen bikin lime tapi gak berani~ wahaha.


Pairing: Dino x Hibari


Chapter VII: G for Give


"Hei, Kyouya, ulang tahunmu kapan?"

"Hari ini. Memang kenapa?"

"Yah, tapi aku tak punya hadiah. Gimana, dong, Kyouya?"

"Biarin. Aku tidak perlu hadiah."

.

Sore itu di sekolah Namimori. Sudah sore, sudah bubar jam sekolah. Pekarangan sepi. Matahari sudah mulai terbenam. Oke, sudah hampir malam sepertinya. Sudah hampir tidak ada orang di sekolah Namimori. Angin berhembus pelan. Seharusnya tidak ada murid lagi sama sekali, seharusnya semua telah pulang karena lelah seharian belajar. Tapi di dalam area sekolah itu masih ada satu mahkluk hidup yang tampan yang masih dengan setia berada di ruangannya.

Kyouya Hibari. Sang prefek sekolah Namimori yang terkenal galak ini masih dengan setia berada di ruangannya tercinta untuk mengurusi sekolahnya.

"Hoahm." Ia menguap. Seharian ia telah bekerja mengurusi segala macam dokumen penting sekolahnya. Lelah? Tentu. Siapa saja akan lelah jika sehari penuh harus bertarung dengan kertas-kertas dokumen sekolah yang menggunung sampai memenuhi ruangan. Hibari menutup mata dan menengadahkan kepalanya. Menarik napas dan menghela napas panjang. Ia memijit-mijit dahinya. Pusing. Agak pusing. Begini-begini juga Kyouya Hibari adalah manusia. Bisa merasa lelah. Setelah itu ia kembali lagi menatap tumpukan dokumen yang menggunung dan membereskan tumpukan konyol itu.

Tok! Tok!

Pintu ruangan Hibari terdengar di ketuk pelan dari luar. Aneh, pikirnya. Ini sudah di luar jam sekolah, kenapa masih ada yang berada di dalam sekolah?

Baginya ini aneh, soalnya, selain murid yang terpaksa datang, guru-guru nyaris tidak pernah memasuki ruangan itu.

"Ya?" kata Hibari menjawab ketukan pintu. "Silahkan masuknya." Lanjutnya.

"Kyouya~" kata Dino Cavallone dengan manis seketika ia memasuki ruangan Hibari. Dino Cavallone, home tutor Hibari, satu-satunya orang yang bisa dengan cukup mudah beradaptasi dengan sifat Hibari. Orang pirang yang... aneh. Jika tidak ada subordinate-nya satupun, ia akan menjadi sangat useless, kau tau.

Syung!

Sebuah tonfa khas milik Kyouya Hibari melayang dengan manis ke arah Dino yang seketika panik. "Wuah!" untung saja sang don Cavallone ini sempat menghindar. "K-Kyouya! Apa kau tau itu berbahaya?" katanya panik. Bahkan sang tutor ini pun agak sulit menghadapi Hibari dan kadang-kadang ketakutan sendiri pada Hibari.

"Diam, Haneuma." Kata sang prefek sinis dan sukses membuat sang tutor itu terdiam ketakutan. Setelah diam beberapa saat, akhirnya Hibari angkat bicara. "Ngapain kau di sini pada jam segini, hah?" tanyanya sinis. Sangat sinis.

"Aku hanya ingin menemui muridku yang tercinta ini." Katanya sambil tertawa pelan. Dasar don Cavallone ini, masih sempat-sempatnya saja tertawa disaat seperti ini.

Seketika rona merah muncul di wajah manis seorang Kyouya Hibari saat sang tutor mengatakan 'Muridku yang tercinta'. "Kenapa Kyouya?" tanya Dino yang menyadari bahwa Hibari terdiam dengan wajah sedikit memerah. "Wajahmu merah. Kenapa? Panas, ya?" tanyanya.

Dan seketika sebuah tonfa lagi-lagi melayang dengan manis. Tentu saja tonfa yang di lempar penuh cinta oleh Hibari untuk Dino. (author ngakak)

"Sudahlah, Haneuma. Kalau kau tidak mau pergi, diamlah. Atau kugigit kau sampai mati. Aku serius." Kata Hibari mengancam.

Dino tertawa. Ancaman biasa dari sang prefek. "Ahaha, Kyouya, bahkan kau tak tau cara menggigit dengan benar, kan?" godanya. Dan seketika sambitan dari tonfa Hibari nyaris mengenainya. "Aku serius, Haneuma!"

Duk!

Sikutan keras Dino mengenai tumpukan dokumen Hibari yang langsung terjatuh dan berserakan. "Haneuma! Bodoh! Diam dan jangan pernah sentuh apapun lagi!" teriak Hibari marah sambil melempar tonfanya pada Dino. Don Cavallone ini langsung ngibrit.

.

Hening beberapa saat. Dino duduk terdiam, udah nyerah mengajak muridnya itu bicara. Apa lagi tanpa subordinate miliknya. Dia takut membuat Hibari marah lagi. Hibari diam juga. Asik dengan tumpukan dokumen mengesalkan.

"... Hei, Kyouya." Panggil Dino takut-takut. "Apa?" jawab Hibari sekenanya tanpa menatap sang tutor itu. "Kapan sih ulang tahunmu?" tanya Dino blak-blakan. Hibari diam. Berjaga-jaga, diambilnya tonfa kesayangannya. "Apa maumu dengan bertanya hal itu, Haneuma?" tanyanya sambil mengarahkan tonfa ke arah Dino yang lagi-lagi ketakutan. "T-tidak, aku hanya ingin tau." Jawab Dino. "Umurmu seharusnya bertambah, kan? Jadi aku ingin tau saja... siapa tau aku bisa memberimu hadiah." Katanya.

Hibari menghela napas. "Oke, kalau itu maumu, Haneuma. Akan kujawab." Kata Hibari dan sekarang menatap mata tutornya itu. "Ulang tahunku... ya sekarang." Lanjutnya.

"Yaah... kenapa kau tak mengatakannya dari dulu? Aku jadi belum menyiapkan hadiah apa-apa untukmu, kan?" kata Dino kecewa.

"Aku tak perlu hadiah." Kata Hibari ketus.

"Tapi aku ingin memberimu hadiah. Kalau besok-besok sudah tidak bisa dianggap ulang tahunmu dong. Jadi bagaimana?"

"Aku tidak perlu hadiah." Hibari memalingkan kepalanya. Rona merah di wajahnya muncul. Sejujurnya ia senang karena Dino menanyakan ulang tahunnya, sejujurnya ia menginginkan hadiah dari sang tutor ini, tapi ia tak mau mengakuinya. Juga ia tak mau dan tak akan mau mengakui perasaan terlarangnya pada sang tutor kesayangnya ini.

Hm, sebenarnya aku menginginkan dirimu, sih. Kata Hibari dalam hati.

"Oh, kalau begitu begini saja." Dino bangkit dan berjalan mendekati Hibari. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah murid kesayangannya itu. Mendekatkan bibir mereka dan memberikan ciuman hangat pada muridnya ini.

"He–" kata-kata Hibari tertahan karena mulutnya telah ditutup dengan bibir hangat dari sang tutor. Wajahnya sudah semerah tomat. Ciuman yang panjang bagi Hibari.

Akhirnya Dino melepaskan ciumannya. Melihat wajah muridnya yang sudah merah padam itu membuatnya ingin menciumnya lagi. Tapi ia bisa menahannya.

Ia membiarkan Hibari mengatur napasnya yang tertahan karena ciuman itu. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga muridnya itu.

"Buon compleanno, caro." Katanya. Wajah Hibari merah padam. Dino tersenyum. "Maaf aku tidak bisa memberikan hadiah."

"Tidak apa..." wajah Hibari pelan.

-Fin-


Buon compleanno, caro : Happy birthday, dear.