"Apa jangan-jangan kamu kakak ku yang terbuang?" Oh Hinata, sependek itukah pemikiran mu Hinata.
"Aku terlalu ganteng untuk menjadi kaka mu." Jawab Naruto membuat Hinata langsung bangkit dari duduknya
"Kalau bukan kenapa kau disini, kenapa kau tau namaku?" Hinata ternyata sedang berakting menjadi paparizi yang menyebalkan
Jelas Naruto tidak bisa menjelaskan apa alasannaya dia ada di rumah Hinata dan apa alasanya dia tau nama gadis itu padahal Hinata sama sekali tak mengenalnya "Itu," Naruto terbata-bata, bingung memikirkan alibi yang akan dia buat
"Kau bilang kau bukan orang jahat, lalu siapa kau?"
"Aku," Nauto bingung bagaimana dia bisa menjelaskannya. Haruskah dia jujur dan berkata bahwa dia dewa langit yang terkena hukuman. Konyol Hinata apa mungkin akan mempercayainya "Aku utusan Ibumu." Entah dapat darimana jawaban semacam itu. Tapi sudahlah, yang terpenting saat ini semoga saja jawaban itu bisa menyelamatkan Naruto.
"Utusan Ibuku?"
Handsome Cat
Created by Ryuzuma
Naruto merupakan karakter yang Ryu pinjam dari Masashi Kishimoto
NaruHina Fanfiction
Warning!
OOC, Alur speede, typo masih harus banyak diperbaiki
Rate T
Happy Reading!
Don Like? Why Read?
Chapter 7
'Reason'
"Kau bilang kau bukan orang jahat, lalu kau siapa?
"Aku," Naruto bingung bagaimana dia bisa menjelaskannya. Haruskah dia jujur dan berkata bahwa di adalah dewa langit yang terkena hukuman. Konyol. Mana mungkin Hinata akan mempercayainya "Aku- a-ku, aku utusan Ibumu," Entah dapat dari mana jawaban semacam itu, yang terpenting saat ini semoga jawaban itu bisa menyelamatkan nyawa nya
"Utusan Ibuku?" Hinata mengkerutkan keningnya sampai muncul lipatan-libatan bak gelobang laut "Kau?" Wajah Hinata tidak begitu terkejut mendengar apa yang diucapkan pria di dapanya itu. Tapi sudah muncul tanduk merah di kepala gadis lavender itu.
Naruto membalas dengan menarik alisnya satu lebih tinggi sejajar dengan gelombang laut Hinata, tatapan mereka beradu dan terlihat sengit.
"Kau pembohong ulung rupanya."
Dooooorrr sayang sekali Naruto belum beruntung, ternyata Hinata tidak mudah percaya. Ah ya, wanita itu memang mustahil untuk percaya bahkan jika dia berkata sejujur-jujurnya pun peremupuan keras kepala seperti Hinata tak mungkin percaya.
"Ibumu disana baik-baik saja." Naruto merancau sambil dalam hati membaca beberapa mantra semoga saja dalam rancauannya Hinata akhirnya bisa mempercayainya dan akhirnya mengizinkannya untuk beristirahat selama ia menjalanani hukuman di bumi ini.
"Dimana? Ibuku dimana?" Tanya Hinata tajam, pandangan Hinata begitu dingin membuat Naruto merasakan ketakutan dan nalurinya berkata bahwa ini zona berbahaya dan dia harus segera melarikan diri dari hadapan singa betina yang sedang mengamuk ini
Sorot mata Hinata terus mendesak Naruto "Kau bilang ibuku baik-baik saja, kalau begitu bawa aku menemuinya."
Plakkk tamparan penuh lagi langsung mengenai otak brilian Naruto. Bagaimana ini, jangankan pergi ke surga pergi kelangit saja dia sudah dilarang. Ah, otak Hinata ternyata jauh lebih bekerja daripada otak dewanya "Anu," Naruto menarik nafas sangat panjang hingga sejajar dengan sungai Nil.
"Anu," Kembali naruto hanya bergumam itu membuat Hinata menjentikan jari-jarinya dan menepuk lantai dengan kakinya, menunggu kelanjutan jawaban pria dihadapannya dan memberi nuansa seram seolah ia ingin memakan Naruto hidup-hidup. Di zaman sekarang siapa yang akan percaya dengan onecan macam itu. Dan Hinata jelas tidak akan mempercayai dongeng yang tengah d bacakan oleh pemuda dihadapannya ini. Kini Hinata yang mengambil alih keadaan, gadis itu menojokkan Naruto hingga Naruto harus merangkak mundur keluar dari kamar Hinata dan sekarang sudah berada di ruangan tamu.
Semakin panas tatapan Hinata maka Naruto merasa dirinnya semakin menciut "Oke, itu semua bohong," Pria berambut kuning itu akhirnya menyarah setelah mendapatkan teror dari tatapan gadis lavender di depannya dan setelah sekian kalinya dia memutar otaknya namun yang dia lihat hanya jalan buntu.
Hinata tidak menjawab, ia hanya mengetukan kaki-kaki nya kelantai membuat Naruto semakin terdesak. Ya Hinata memang hebat membuat Naruto kehabisan akal untuk menolak hanya dengan tatapan memakannya
"Emm," Hinata hanya menanggapi Naruto dengan deheman kecil lalu duduk di sofa diikuti Naruto yang diam-diam menjatuhkan bokongnya di sofa lainnya. "Menurutmu ini lucu?" Mulai Hinata setelah beberapa saat dia terdiam senggan menanggapi sikap aneh pemuda yang sangat jelas dia tak mengenalnya itu.
Dari yang biasanya dia banyak bicara, sekarang mulut naruto terkatup tak beralasan satupun. Pandangannya hanya menatap jari-jari kakinya yang ia gerakan mengayun. Mimik wajahnya bak anak kecil yang ketahuan tangah mencuri emas berlian milik Hinata, dia tak bisa berbuat apa-apa selain berusaha Hinata kasian pada dirinya.
"Dari mana kau tahu namaku?" Tanya Hinata lagi, kali ini tatapannya sedikit melonggar melihat Naruto yang dari tadi ketakutan padanya
Naruto tak menjawabnya, dia terus saja melihat jari-jari kakinya "Ah, malangnya jari-jari kaki ku." Gumam hati Naruto sedih dengan keadaan jari nya yang kotor dan beberapa luka lecet bekas gesekan benda-benda tajam di jalan. Seperti batu.
"Kenapa kau tahu tentang keluargaku?" Hinata terus mengintrogasi pemuda yang sudah dua kali kepergok masuk kedalam rumahnya itu. Namun, Naruto tetap tak menjawanya atau lebih tepatnya setelah Naruto menjawabnyapun Hinata tak akan mempercayainya. Jadi percuma saja dia menjelaskannya, lebih baik diam.
"Aah, sepertinya kau tak punya mulut. Mau ku pijamkan mulutku supaya kau bicara?" Ucap Hinata yang mulai kesal dua petanyaannya tak menjdapat jawaban dari orang di hadapannya itu.
Kruuuuyuuukkk
Perut Naruto tak tahu kondisi, dia malah berbunyi meminta jatah. Hinata tengah mengamuk begitu mana mau memberinya makan, apalagi dengan wujud yang tak ia kenal ini. Hnata mendengar suara itu tapi dia mengacuhkanya, sementara Naruto menatap Hinata dengan tatapan memohon sambil mengedipkan matanya beberapa kali dan memegangi perutnya yang tengan dalam dilema itu.
"Aku lapar." Ucap Naruto sedih
Hinata bangit dari tempat duduknya, pemuda itu kira dia mau mengambilkan makan untuk Naruto. Tapi itu salah besar, Hinata malah mengarahkan telunjuk nya kearah pintu keluar " Keluar kau sekarang juga!" Usir Hinata kejam
"Tapi sebelum itu aku ingin makan."
"Ku bilang keluar!" Teriak Hinata lagi, Naruto hanya melihat gadis itu dengan tatapan memohon. Dia tak berani mengeluarkan sepatah kata lagi setelah melihat Hinata seperti itu
"Jika aku keluar maka Naru-chan tidak akan pernah kembali." Ucap Naruto pelan sambil bangkit dari tempat duduknya
"Dari mana kau tahu kucing itu?" Tanya Hinata kembali merasa dibuat bingung dengan pemuda yang sama sekali tak dia kenal tapi tahu semua tentang nya.
"Dan sebaiknya kau istirahat saja, kondisimu sedang tidak baik. Dan jangan terlalu banyak marah-marah." Naruto bericara tanpa menjawab pertanyaan Hinata dan semakin membuat gadis itu geram.
Hinata menatap Naruto yang mulai melangkah kearah pintu keluar rumahnya. Pemuda itu terlihat tampan namun pakainnya tak menunjang ketampanannya. Baju putih dan celana putih yang dia kenakan terlihat kotor di beberapa bagian dan kakinya lecet. Sedikit rasa iba gadis itu mulai merasuki nurani Hinata membuatnya tak tega melihat kondisi Naruto saat ini, dia tahu rasanya sendirian seperti apa. Dan mungkin Naruto saat ini sendirian dan kesepian, seperti diriya.
"Tunggu," Naruto menghentikan langkahnya yang sudah sampai di muka pintu. Tatapan nya beralih pada gadis yang barusan berbicara
"Akan ku ambilkan makanan untukmu, duduk lah." Akhirnya gadis itu luluh juga setelah sekian lama kepala nya itu berubah menjadi bongkahan batu.
Tanpa basi-basi Naruto langsung berlari kearah sofa dan menjatuhkan tubuhnya disana. Dia terlihat riang lagi dengan memperlihatkan senyum lima jarinya dan mengedipkan mataya kearah Hinata yang tengah merasa menyesal menyuruhnya kembali duduk. "Cih!" Cibir Hinata melihat tingkah Naruto yang kemudian beranjak pergi ke dapur.
Naruto menunggu sambil sesekali mengayunkan kakinya yang jelas menapak pada lantai itu. Hatinya sedikit lega karna akan mendapat asupan makan "Aku ingin nasi yang banyak dan daging sapi bakar," Teriak Naruto seenak jidatnya memilih menu makanannya
"Ahh, jangan pakai benda pedas di dagingnya, aku juga tidak terlalu suka terlalu banyak benda manis" Teriak Naruto lagi. Sementara Hinata yang mendengarkan teriakan itu mendengus kesal
"Kesalahan besar, Hinata. Arrrg" Gumam Hinata kesal
"Jangan terlalu matang dibakarnya, aku suka bau amis dagingya."
Hinata keluar dari dapur dengan satu piring penuh dengan nasi berwarna cokelat dan beberapa benda hijau dan orange bertebaran bercampur dengan nasinya. Manusia menyebutnya dengan 'nasi goreng'
Naruto terlihat aneh melihat makanan yanng Hinata bawa "Mana daging api pesananku?" Tanya Naruto seperti anak kecil yang tidak diberi uang jajan
"Makan saja, jika kau tidak mau silahkan keluar dari rumah ini sekarang!" Ancam Hinata membuat Naruto langsung merebut piring itu dari tangan Hinata
"Apa ini makanan manusia?"
"Sepertinya kau bukan manusia, nasi goreng saja kau tidak tahu. Payah."
"Jelas bukan." Naruto terdiam setelah pengakuannya barusan. Ah, mulut ini terlalu ceriwis
Dan sayang nya Hinata mendengar perkataan pemuda itu tadi " Maksudmu?" Tanya Hinata dengan penuh selidik
"Ah, sepertinya enak. Itadakimasu." Naruto memasukan satu sendok penuh kedalam mulutnya dan mengunyahnya pelan, mernikmati rasa yang keluar dari makanan aneh yang pertama kali dia makan itu. Sebenarnya itu hanya untuk mengalihkan topik tadi. Naruto terdiam "Apa nama makanan ini?"
"Kau benar tidak pernah memakannya?"
Naruto menjawabnya dengan menggelengkan, sementara tangan dan mulutnya sibuk berkombinasi memasukan dan mengunyah makanan tersebut dengan sangat rakus.
"Ah, sepertinya memang belum pernah. Nasi goreng"
Naruto terus mengunyah dengan cepat, Hinata menyunggingkan sedikit senyum melihat tingkah pemuda di depannya itu "Pelan-pelan," Ucap Hinata sedikit merasa pemuda itu lucu.
Ukhu ukhu
Naruto akhirnya tersedak karena teralu bersemangat melahap makanan itu kedalam mulutnya
"Ku bilangkan pelan-pelan"Ucap Hinata yang kemudian menyodokannya segelas air
Hinata kembali mendudukan tubuhnya di sofa yang berbeda dengan Naruto dan memperhatikan Naruto secara detail.
"Apa kau punya tempat tinggal?" Pertanyaan itu keluar karena pakaian pemuda itu berkata bahwa dia adalah gelandangan. Ah, meskipun wajahnya berkata dia adalah artis yang bangkrut ditengah karirnya
"dwiikkaaaa" Jawab Naruto dengan mulut penuh
"Kau ada rencana tinggal dimana?"
"Disini" Jawabnya kembari setelah menelan suapan terakhir dan meminum air yang tadi Hinata berikan padanya
"Aku belum memberi izin kau tinggal disini" Tungkas Hinata
"Hanya belum, sebenar lagi aku yakin kau akan menyuruhku tinggal disini, karena kita itu sama-sama kesepian dan aku benci kesepian itu sama seperti dirimu." Ucap Naruto, kini pandangan mereka beradu.
Hinata jelas membenarkan perkataan pemuda di depannya, ya dia memang kesepian dan dia benci rasa kesepian itu.
Siapa dia? Kenapa dia tahu semua tentang ku? Bagaimana selama ini dia bisa masuk ke rumah ku?
"Siapa nama mu?" Apa semua rasa penasaran itu akan terjawab jika Hinata lebih lama mengenalnya? Entahlah, tapi untuk saat ini setidaknya ada sedikit kebahagiaan yang pemuda itu bagi kepadaya. Dan itu sangat, seperti diperhatikan oleh mendiang ibunya
"Naruto. Uzumaki Naruto"
"Apa kau bisa aku percaya?" Tanya Hinata ragu, meskipun iba tapi tetap saja pemuda ini adalah orang asing
"Akan ku beritahu satu rahasiaku" Ungkap Naruto serius
"Aku datang dari jauh, dan aku tak bisa menjelaskan dari mana tempat asalku dan disini tak ada yang aku kenal selain dirimu. Bukan ibumu yang memberitahuku, tapi mungkin karena Ibumu juga kita di takdirkan untuk bertemu, jadi percayalah"
Aku tahu menyembuhkan hatimu bukan perkara mudah, tapi aku akan mencoba semampu ku untuk membuat sedikit senyuman di wajah itu
TBC...
Holla, genki desuka?
Ryu baik-baik ko (Sembunyi takut di mutilasi)
File lama HandomeCat kehapus semua gara2 apgred PC
Jadi harus nyusun ulang alur ceritanya
Gomen ya kelamaan Apdet nya :)
Peluk Reader ({})
