-You, and The Time-

Cast : Cho Kyuhyun as Kim Kyuhyun

Kim Kibum as Kim Kibum

Lee Donghae as Kim Donghae

Choi Siwon of Super Junior as Choi Siwon

Kim Ji Won [OC]

Choi Seung Hwan [OC]

Kim Jae Rim [OC]

Warning : sorry for typo(s).

.

.

.

.

CHAPTER 7

Siwon membuka kotak itu dengan perlahan, wajahnya tersenyum lega ketika ia melihat isi kotak itu—masih sama seperti yang ia lihat terakhir kali. Siwon kemudian mengeluarkan seluruh isi kotak itu, senyumnya tampak semakin lebar saja.

"Kyuhyunie, sebentar lagi kau akan punya Hyung yang sangat tampan, hm? Apa kau bahagia?" Siwon bergumam lirih sambil memandangi beberapa lembar foto usang di tangannya. "Aigoo, kenapa kau terlihat imut sekali di sin-"

"Siwon-ah.."

Siwon membulatkan matanya ketika ia melihat Sang Appa memasuki kamarnya. Cepat-cepat Ia mengemas barang-barang itu kedalam kotak yang ia ambil tadi, lalu menyembunyikan kotak itu dibalik tubuhnya.

"Untuk apa Appa kemari?" Siwon berucap dingin.

"Siwon-ah, dengarkan Appa. Baiklah, lakukan apa saja yang kau mau, Appa benar-benar tak bisa menghalangimu lagi. Tapi tolong, tolong dengarkan Appa, untuk terakhir kalinya, benar-benar terakhir kalinya Siwon-ah, setelah itu lakukan saja sesuai keinginanmu."

Siwon menatap sang ayah dengan mata berkaca-kaca, ia hanya terdiam. Baiklah, kali ini Ia akan mendengarkan, namun setelahnya Ia akan benar-benar melakukan apa yang dia mau.

"Sebelum kau memberitahu ini semua pada Donghae, Kyuhyun, dan Kibum, tolong lakukanlah hal ini terlebih dahulu. Kau harus membuat mereka terbiasa, pergilah ke rumah mereka sesering mungkin selama beberapa waktu, atau kalau perlu ajak mereka berlibur juga, dengan begitu semua akan terasa lebih mudah Siwon-ah."

"Appa...aku hanya menginginkan Kyuhyun, lalu kenapa aku harus membuat mereka semua terbiasa? Kyuhyun akan terbiasa jika kita sudah bersama kita, tolong percayalah padaku, Appa."

"Siwon-ah, ya.. Appa sangat yakin Kyuhyun akan baik-baik saja, Appa sangat yakin dengan hal itu. Tapi-"

"Jika Appa telah yakin mengapa Appa harus menyuruhku melakukan hal itu? Jika Appa sudah yakin maka kita hanya perlu membawa Kyuhyun pulang sekarang juga! Apa lagi, huh?!"

"Choi Siwon! Apa kau tau apa artinya jika Kyuhyun berkata 'aku baik-baik saja'? Apa kau tau, huh? Jika ia berkata seperti itu, maka artinya ia sedang menyembunyikan begitu banyak luka di hatinya. Ya, aku tau Kyuhyun tidak akan jatuh sakit bahkan setelah kau membuka semua rahasia itu tepat di depan matanya, dia tidak akan marah lalu mengurung diri bahkan setelah tau ternyata hidupnya begitu menyedihkan. Dia tidak apa-apa, Kyuhyun memang tidak apa-apa, tapi tidak dengan tubuhnya. Apa kau tau itu, huh?"

"Iya, aku tau. Appa pikir aku siapa sehingga aku tidak tau kondisi Kyuhyun? Tapi jika itu benar-benar akan memperburuk kondisi Kyuhyun, bukankah aku juga yang harus menolongnya? Aku mau bertanggung jawab atas kondisi Kyuhyun, Appa. Aku sudah memikirkan segala resikonya, aku bahkan sudah belajar bagaimana cara menangani pasien seperti Kyuhyun dengan baik dan tepat, aku sudah mempersiapkan semuanya, Appa. Dan yang paling penting adalah... aku tak akan membiarkan... adikku sendiri mati di depan mataku." Mata Siwon berkilat, wajahnya sudah merah padam. Tanpa ingin berdebat lagi dengan Sang Ayah, Siwon akhirnya mengambil kotak berisi barang-barang rahasia itu, lalu keluar secepat mungkin tanpa menoleh ke arah Sang Ayah yang tampak terpaku setelah mendengar perkataan Siwon.

.

.

.

.

Kibum cepat-cepat berlari menuju pintu ketika ia mendengar suara bel berbunyi, ia bahkan masih memakai handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya—tepat sekali, ia baru saja keluar dari kamar mandi.

"Aish Hyung, aku bahkan bel-"

"Kibum-ssi?"

"Eh?"

Kibum dengan panik berusaha menutupi tubuh bagian atasnya dengan menyilangkan tangannya lucu.

"Ah.. Maafkan aku, Hyung. Ku kira tadi Donghae Hyung yang datang."

"Aku memang sudah datang. Aish, kau membuatku malu, Bum."

Kibum dan Siwon seketika menoleh ke arah Donghae yang tampak baru saja keluar dari mobilnya sambil membawa bungkusan besar.

"Kebetulan sekali Siwon juga datang, kita bisa makan bersama. Aku mendapat banyak makanan dari kantor, jadi aku membawanya pulang." Donghae tersenyum ringan sambil melangkah masuk diikuti oleh Siwon.

"Kibum-ah, cepat ganti baju dan siapkan makanannya, oke? Aku lapar sekali. Ah, aku akan mandi dulu. Dan di mana Kyuhyunie? Dia baik-baik saja kan?" Donghae menaruh bungkusan yang dibawanya di atas meja makan.

"Dia baik-baik saja, entahlah dia tadi berkata padaku kalau dia mengantuk. Mungkin saja Kyuhyun masih tertidur."

"Bolehkah aku membangunkannya? Aku ingin sekalian memeriksa kondisinya." Siwon tersenyum lebar.

"TIDAK!"

Mata Siwon terbelalak lebar ketika pertanyaannya dijawab serempak oleh kedua kakak-beradik di depannya.

"Kenapa tidak bol-"

"Hyung kenapa kalian berteriak seperti itu?! Aish, mengagetkanku saja! Oh, Siwon Hyung, kau di sini?"

Ketiganya seketika menoleh ke arah Kyuhyun yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan pakaian rapi.

"Kenapa kau berpakaian seperti itu?" Tanya Donghae langsung.

"Aku mengajak Changmin pergi keluar." Jawab Kyuhyun sambil memperlihatkan ponselnya—ia sedang menelepon Changmin.

"Tidak, suruhlah Changmin ke sini. Kita akan bersama, aku membawa banyak sekali makanan." Donghae kemudian berjalan menuju Kyuhyun yang memang masih berdiri di dekat tangga, tanpa berkata-kata ia merebut ponsel adiknya.

"Changmin-ah?"

"Donghae Hyung?"

"Cepatlah kemari, aku punya banyak makanan. Kau pasti suka, hm? Mari kita memakannya bersama-sama."

"Kau serius, Hyung?"

"Tentu saja. Aish, sudahlah, cepat datang kalau tak ingin kehabisan makanan."

PIP!

"Hyung kenapa kau tak bilang kau akan membawa makanan sebanyak ini? Jika tau seperti ini, aku tidak usah menelepon Changmin, anak itu pasti akan menghabiskan semuanya!"

"Aigoo, apa Hyung mengajarkan sikap seperti ini kepadamu? Cepat ganti bajumu dan bantu Kibum menyiapkan makanannya."

Kyuhyun kembali ke dalam kamarnya dengan bibir mengerucut, sedangkan Donghae hanya berdecak melihat tingkah adik terkecilnya itu—benar-benar bayi besar!

"Siwon-ah, kau lihat kan? Dia baik-baik saja, sangat baik!" Ucap Donghae sambil menunjuk kamar Kyuhyun.

Siwon terkekeh mendengar ucapan Donghae.

'Tidak apa-apa walaupun kau merengek seperti itu di depanku, Kyu. Sama seperti Donghae, aku juga tidak akan marah walaupun kau amat menyebalkan seperti ini. Kuharap kau bisa selalu baik-baik saja seperti itu ketika kau sudah bersamaku dan Appa nanti.'

.

.

.

.

Flashback.

"Kau tunggu di sini dulu, aku tidak akan lama."

Kyuhyun hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Donghae yang sudah berlari secepat kilat menuju kantornya. Kyuhyun tampak sedang memperhatikan sebuah kedai yang ada di depan kantor sang hyung dengan tatapan penasaran.

Kyuhyun akhirnya tak bisa menahan rasa penasarannya pada satu menu baru di kedai itu, terlebih lagi dengan promosi yang tertera di sana—dia akan mendapat 3 buah minuman, untuknya, untuk Donghae Hyung, juga Kibum. Kyuhyun tersenyum lebar sambil membuka pintu mobil Donghae, ia kemudian berjalan dengan langkah ringan menuju kedai itu.

Tepat setelah ia masuk ke dalam kedai, Kyuhyun terkejut dengan antrian yang ada di dalam, namun Kyuhyun tak mengurungkan niatnya untuk membeli minuman itu. Ia kemudian mengambil ponsel di saku jas sekolahnya, dan mengetikkan sesuatu.

'Hyung, aku di kedai depan kantormu. Aku ingin membeli sesuatu, ternyata antriannya banyak sekali, tunggulah di dalam kantormu dulu.'

Kyuhyun kemudian tersenyum lega, ia baru saja akan melangkah maju mengikuti antrian ketika seseorang anak laki-laki menyerobot masuk ke dalam antriannya, Kyuhyun hanya diam dan melangkah mundur, ia benar-benar tak ingin membuat ulah hanya karena masalah sepele seperti ini.

Beberapa saat berlalu ketika perhatian Kyuhyun akhirnya tak bisa terlepas dari bocah laki-laki yang berada di depannya itu, bocah itu bergerak gelisah di tempatnya. Hingga Kyuhyun sadar bahwa bocah laki-laki itu sudah menggenggam sebuah pisau kecil di tangannya, dahi Kyuhyun berkerut melihat hal itu. Bocah itu perlahan mengarahkan pisaunya ke bagian bawah tas seorang pembeli yang mengantri di depannya, dan untuk yang satu ini.. mungkin Kyuhyun tak bisa membiarkannya.

"Apa yang kau lakukan?"

Bocah itu perlahan menoleh ke arah Kyuhyun dengan tatapan tidak suka.

"Bukan urusanmu, lebih baik kau diam." Bocah itu berkata lirih tapi tegas.

"Kau tidak bisa melakukan itu!" Kyuhyun kemudian berteriak setelah ia melihat bocah laki-laki itu sudah menggenggam sebuah dompet hitam yang berhasil ia ambil dari tas pembeli yang sengaja ia robek tadi.

Kyuhyun berusaha menarik seragam sekolah milik bocah itu dan seketika itu juga ia merasa sebuah tangan memukul wajahnya dengan sangat keras—mengabaikan rasa terkejutnya, Kyuhyun refleks menarik seragam bocah itu lebih erat lagi sambil berusaha merebut dompet hitam yang digenggam bocah itu dengan erat.

Suasana di dalam kedai mulai terlihat kacau, semua pembeli memilih mundur menjauhi Kyuhyun dan bocah laki-laki yang sedang menodong Kyuhyun dengan pisau kecil yang dibawanya tadi. Keduanya terlalu fokus pada satu sama lain tanpa menyadari keadaan sekitar sudah berubah kecau.

"Itu dompetku! YAK! Dia pencuri!" Tiba-tiba terdengar sebuah teriakan.

Perhatian Kyuhyun teralihkan dengan suara teriakan dari seseorang dan si bocah laki-laki itu rupanya berusaha mencuri kesempatan dengan mengayunkan pisau kecilnya ke arah tangan Kyuhyun yang tengah menarik kemejanya dengan erat. Kyuhyun tak kehilangan fokus, ia berusaha menjatuhkan tubuh bocah yang lebih kecil darinya itu, bocah itu akhirnya terjatuh dan secepat kilat berlari dari tempat itu tanpa mempedulikan dompet hitam yang juga turut tergeletak di lantai—Kyuhyun tersenyum lega.

"Kau tidak apa-apa?" Kyuhyun menoleh ketika seorang lelaki yang tampak seumuran Donghae mendekat dan membantunya berdiri.

"Kyuhyun!"

Belum sempat Kyuhyun menjawab pertanyaan lelaki itu, Donghae sudah berlari padanya lalu menariknya dengan kasar.

"Maafkan aku.. boleh ku tau di mana toiletnya?"

"Di sebelah sana."

"Ah terimakasih. Sekali lagi aku minta maaf."

Donghae membungkuk sopan sambil cepat-cepat merengkuh Kyuhyun kedalam pelukannya, lalu dengan cepat ia berlari ke arah toilet. Setelahnya semua tampak kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing tanpa curiga pada tingkah Donghae yang terkesan aneh.

.

Donghae langsung mengunci pintu kamar mandi rapat-rapat, ia kemudian mendudukkan Kyuhyun di lantai kamar mandi. Seolah tak peduli dimana ia sekarang, Donghae langsung merogoh saku celana Kyuhyun dengan tidak sabaran untuk mencari tabung obat Kyuhyun. Begitu ia berhasil mendapatkan benda itu, Donghae berusaha mengambil dua butir pil dari tabung itu, lantas memberikannya pada Kyuhyun. Namun begitu Donghae melihat Kyuhyun, ia tampak terdiam.

"Wah Hyung, aku merasa keren sekali barusan!"

Donghae menghela napas panjang setelahnya, ia lalu memeluk Kyuhyun dengan amat erat. Kyuhyun tampak terdiam karena tingkah Donghae yang tiba-tiba memeluknya, tapi setelahnya ia juga membalas pelukan Donghae dengan erat sambil mengelus punggung sang Hyung yang hampir terisak di pundaknya.

"Kau pasti khawatir. Maafkan aku." Kyuhyun tertawa kecil.

Donghae tidak menjawab, rupanya ia masih sibuk dengan rasa khawatirnya, ia masih tetap memeluk Kyuhyun dengan erat bahkan sambil mengelus-elus kepala Kyuhyun.

"Hyung, apakah setelah ini kita akan berciuman? Aigoo, kau mesum sekali."

End of Flashback.

.

'Kau tau Kyu, kau benar-benar tak bisa kutebak. Di saat aku yakin kau tidak baik-baik saja, kau justru tertawa lebar-lebar di depanku. Lalu di saat aku yakin kau akan baik-baik saja, nyatanya aku selalu menemukanmu dalam keadaan yang mengerikan.' –Donghae

.

.

.

.

"Jeongha-ya, ayo makan bersamaku saja, Kyuhyun Hyung tidak bisa makan kalau kau ajak bermain terus seperti itu."

Changmin mendengus keras ketika Jeongha—keponakannya itu tak meresponnya sama sekali. Ia hanya meliriknya sekilas lalu kembali 'menempel' pada Kyuhyun. Bocah kecil itu sedang duduk tenang di pangkuan Kyuhyun sambil memegang PSP milik Kyuhyun. Changmin terpaksa membawa Jeongha ikut ke rumah Kyuhyun karena memang ia hanya tinggal berdua dengan Jeongha untuk beberapa hari ke depan, kedua orang tua Changmin juga Jeongha sedang pergi ke luar kota, dan tentu saja ia tidak mungkin meninggalkan keponakannya itu seorang diri.

"Aish, kenapa kau nakal sekali, sih?!" Ucap Changmin kesal sambil mencubit tangan bocah kecil itu.

Bocah kecil itu akhirnya menoleh pada Changmin lekat-lekat setelah ia merasa mendapat 'serangan' kecil yang membuat tangannya terasa sakit. Bocah itu terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia memeluk Kyuhyun erat-erat sambil menangis keras karena takut dan kesakitan—benar saja, Changmin memang tengah memelototinya dengan tajam.

"Kau membuatnya takut, Chang." Ucap Kyuhyun sambil berdiri menggendong bocah kecil itu menjauh dari Changmin. Changmin seperti tidak peduli dengan perkataan Kyuhyun, dia tetap melanjutkan acara makannya.

Sementara Donghae, Kibum, dan Siwon hanya terdiam melihat kelakuan Changmin dan Kyuhyun. Mereka tetap melanjutkan acara makan malam mereka dalam diam, sesekali Donghae dan Siwon saling bergantian menatap Kyuhyun yang tengah membawa Jeongha keluar menuju halaman depan. Donghae sedikit merasa khawatir, adiknya itu belum ingin makan sejak pulang dari Rumah Sakit tadi pagi. Donghae berharap Kyuhyun akan memakan makanannya dengan lahap malam ini, tapi nyatanya adiknya itu menolak mentah-mentah makanan yang ia bawa dengan alasan semua makanan itu mengandung 'sayur-sayuran', Kyuhyun justru memilih menemani adik Changmin bermain game.

"Hyung, aku sudah selesai, aku akan menyuruh Kyuhyun makan dulu."

"Tidak perlu, aku yang akan menyuruhnya setelah ini. Lanjutkan makanmu Changmin-ah, kau bahkan belum menghabiskannya."

"Kyuhyun tidak bisa makan karena adikku, jadi aku harus menyusulnya. Aku sudah kenyang Hyung, aku benar-benar makan dengan baik malam ini."

Tanpa menunggu Donghae menanggapi, Changmin segera berdiri dan berjalan menuju pintu. Namun baru beberapa langkah ia menuju halaman luar, ia tiba-tiba mematung di tempatnya.

"Kyuhyun! Tidak.. oh, jangan!"

Donghae, Siwon, dan Kibum seketika menatap ke arah luar saat mendengar teriakan Changmin yang terdengar sampai ke ruang makan. Refleks Kibum berjalan lebih lambat daripada Donghae dan Siwon yang kini terlihat terburu-buru mengusap mulut dan tangan mereka kemudian juga turut berlari menyusul Changmin.

Kibum memandang Donghae dan Siwon yang tampak berlomba menyusul Changmin, Kibum masih tetap terdiam di tempatnya, ia memandang meja makan yang seketika tampak kosong dan hening, Kibum menghela napas berat.

'Ayolah Kibum, kau baru saja berubah, jangan seperti ini lagi.' Kibum memejamkan matanya sejenak, lalu ia perlahan berdiri dan turut menyusul mereka.

Kibum berlari menghampiri Kyuhyun dan Donghae yang kini tengah beradu mulut di tengah halaman rumah yang cukup luas itu.

"Kubilang jangan berlarian seperti itu, Kyuhyun! Kenapa kau tetap membantah, huh? Apa maumu sebenarnya?!"

"Aku hanya bermain dengan Jeongha! Kenapa kau jadi overprotektif seperti ini?!"

"Terserah kau berkata aku overprotektif atau apa, aku tidak peduli karena aku memang harus memperlakukanmu seperti itu!"

"Ck, apa Hyung tidak tau betapa tidak nyamannya aku diperlakukan seperti itu? Itu justru membuatku semakin sakit, Hyung. Berhentilah bersikap seperti itu padaku."

"Kau juga berhentilah bersikap baik-baik saja seperti itu. Aku tau kau tidak baik-baik saja."

"Aish, kenapa aku punya Hyung sepertinya? Ya Tuhan.."

Kyuhyun memutar bola matanya malas, kemudian pergi dengan tidak peduli meniggalkan Donghae dan Siwon yang masih sedikit terkejut dengan perkataan Kyuhyun. Sedangkan Kibum tampak menyusul Kyuhyun masuk ke dalam rumah, ia berlari secepat kilat untuk mengejar Kyuhyun.

"Kau tidak apa-apa?"

Kyuhyun yang sudah akan memasuki kamarnya itu menoleh pada Kibum yang tampak berdiri di bawah tangga dengan raut wajah kacau.

"Kau lihat sendiri kan? Aku hanya menemani Jeongha bermain, dia suka berlari-lari jadi aku mengikutinya agar dia tidak terjatuh. Apa aku salah, Bum!? Dia bahkan belum bisa berlari dengan baik!"

"Bukan itu jawaban yang ku mau, Kyu."

"Ya, aku baik-baik saja. Aish, benar-benar!" Kyuhyun mengacak rambutnya kasar.

"Kalau begitu cepatlah masuk dan istirahat." Kibum mendorong pelan tubuh Kyuhyun untuk masuk ke dalam kamarnya.

.

.

.

.

"Kyuhyun belum bangun?" Kibum mengusap matanya kasar—berusaha menyadarkan diri sepenuhnya.

"Kau kesiangan, Bum?" Donghae menyahut tanpa menoleh ke arah Kibum.

"Tadi malam aku menemani Kyuhyun hingga larut." Kibum mendudukkan diri di meja makan sambil menatap sang Hyung yang masih sibuk menyiapkan sarapan.

"Kenapa kau malah duduk di sana? Cepat cuci mukamu lalu setidaknya lakukan sesuatu." Donghae berkata dengan nada datar.

"Kau juga marah padaku, Hyung? Aigoo.." Kibum tersenyum lucu.

"Tidak. Bukankah Kyuhyun baik-baik saja semalam?"

"Tidak. Dia terlihat sangat terkejut dan emosi sekali."

Donghae menghentikan acara memasaknya sejenak, ia kemudian memandang ke arah Kibum yang masih duduk di sana dengan rambut yang masih acak-acakan.

"Entahlah, kupikir tadi malam ia tidak meminum obat yang biasanya, dia meminum obat yang lain. "

Donghae mendesah lega setelah mendengar perkataan Kibum.

"Bagus, kupikir dia benar-benar bisa mengurus dirinya sendiri sekarang. Jadi aku tak perlu susah payah lagi mengingatkan Kyuhyun."

"Aish Hyung, kenapa kau seperti ini sih?" Kibum mengerutkan bibirnya.

"Aku? Memangnya ada apa denganku?"

"Aish..!"

"Kuliahmu masih libur, kan? Cepat cuci mukamu dan makan sarapannya. Aku harus berangkat lebih awal hari ini. Nanti malam jangan menungguku pulang, kalau lapar pergilah mencari makan bersama Kyuhyun."

Kibum hanya terdiam dengan tatapan kosong. Ia mendengar semua perkataan Donghae, tapi ia terlalu malas untuk menyahutnya. Kibum juga tidak tau mengapa Donghae Hyungnya bertingkah seperti ini—seperti bukan Donghae Hyung yang biasanya.

'Aish, mungkin Donghae Hyung hanya perlu waktu.' Aish! Donghae Hyung pasti bercanda.'

"Apakah besok kau ada acara, Bum?"

"Hm? Aku? Aku tidak ada." Kibum terdiam sejenak, "Ada apa?"

"Bukan hal yang serius, aku hanya ingin mengajak kalian makan bersama. Sejak Eomma dan Appa tidak ada, aku bahkan belum sempat mengajak petinggi perusahaan untuk makan bersama. Kau tau sendiri, pengalihan posisiku menggantikan Appa membuat perusahaan menjadi sangat sibuk. Aku berpikir untuk mengadakan acara makan bersama sebagai rasa terimakasihku atas kerja keras mereka."

"Baiklah, kurasa itu hal bagus."

"Tanyakan juga pada Kyuhyun."

"Tanyakan saja sendiri padanya. Ah Hyung, apakah kau juga tidak akan membangunkannya hari ini?"

Donghae menggeleng yakin.

"Aish, aku tidak bisa membangunkannya!"

"Sudah kujelaskan padamu bagaimana cara membangunkan Kyuhyun, aku yakin aku pernah mengatakan itu padamu."

"Ah Hyung... aku belum terbiasa dengan Kyuhyunie. Aku tidak bisa..." Kibum merengek.

"Kalau begitu tunggu saja sampai dia bangun dengan sendirinya." Donghae mengangkat bahunya sambil berjalan meninggalkan Kibum yang sedang menggerutu.

Kibum akhirnya berjalan dengan malas menuju kamar mandi. Kibum masih hendak membasuh wajahnya ketika ia mendengar teriakan Donghae.

"Kibum-ah, aku berangkat!"

Kibum tak menjawab teriakan Donghae, ia hanya segera membasuh wajahnya, kemudian berjalan menuju kamar Kyuhyun di lantai atas. Ia berniat membangunkan Kyuhyun dan mengajaknya memakan sarapan bersamanya. Kibum akhirnya memasuki kamar Kyuhyun dengan langkah perlahan—takut membuat sang adik terkejut.

Kibum menggaruk kepalanya malas, jujur saja ia tidak suka dengan adegan 'romantis' seperti ini.

Romantis?

Tentu saja, biasanya Donghae akan mengelus tangan Kyuhyun agar dia bangun dengan tenang. Bukankah itu terlihat 'romantis'? Oh ayolah, Kibum bukan tipe orang seperti itu.

"Aish, bagaimana ini?" Kibum menggaruk kepalanya.

Kibum akhirnya mendekat ke arah Kyuhyun lalu mulai mendangi adiknya yang memang masih tertidur pulas itu.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

"Yak! Kenapa kau bisa setampan ini, sih? Padahal aku dan Donghae Hyung tidak begitu tampan. Appa dan Eomma benar-benar 'membuatmu' dengan sempurna."

Kibum terkekeh sendiri setelah menyelesaikan kalimatnya. Ia kembali memandangi Kyuhyun dengan tatapan lucu, ia tampak masih berpikir mencari-cari cara untuk membangunkan Kyuhyun.

"Kyuhyun-ah.." Kibum mengguncang bahu Kyuhyun pelan.

"Kyuhyun-ah..." Kibum berganti menepuk pipi Kyuhyun.

"Aish, bangunlah..." Ia masih berbisik pelan disamping Kyuhyun.

Kibum menghela napas setelah tidak mendapat respon sama sekali dari sang adik. Ia kemudian mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah Kyuhyun, lalu mencoba kembali berbisik.

"Bangunlah jelek..."

"Kenapa kau cepat sekali berubah? Tadi kau berkata aku tampan, tapi baru saja kau mengataiku jelek. Apa maumu?"

Kibum tersentak ketika tiba-tiba Kyuhyun membuka matanya, dan langsung mengatainya dengan cerewet.

"Sejak kapan kau bangun?"

"Sejak tadi."

"Jadi kau mendengar semuanya?"

Kyuhyun tersenyum lebar-lebar setelahnya.

"Kenapa wajahmu memerah, Bum?"

Kibum kemudian merengut sambil menutupi wajahnya yang memang memerah karena gugup dan malu.

Dan tanpa sadar, kedua hati kakak-beradik itu semakin menghangat saja..

.

.

.

.

Kyuhyun dan Kibum terlihat sangat kebosanan ketika mendengarkan beberapa sambutan dari petinggi perusahaan yang kini tengah mengadakan acara makan bersama. Bukan acara resmi sebenarnya, namun semua undangan tampak dengan serius mendengarkan sambutan dari beberapa orang yang ditunjuk.

"Kau pikir berapa lama lagi kita akan menunggu seperti ini?" Lirih Kibum tanpa menoleh ke arah Kyuhyun yang memang duduk disampingnya.

"Entahlah, aku sudah sangat lapar. Aish, aku mengantuk sekali." Kyuhyun juga menjawab dengan suara lirih sambil melirik Donghae yang memang tengah berdiri di atas panggung kecil di sebuah Hall Room yang memang disewa untuk acara makan bersama.

"Bagaimana kalau kita makan dulu?"

"Ck, Hyung! Aku tau kau bosan tapi jangan berlebihan seperti itu."

"Aku belum makan sejak pagi."

"Tahanlah sebentar. Donghae Hyung pasti tau kalau kita sudah kelaparan, dan dia tidak mungkin mengulur-ulur acaranya. Lagipula dia juga mulai terlihat kebosanan berdiri di sana." Kyuhyun dan Kibum terkekeh kecil.

Setelah 15 menit berlalu, akhirnya acara sambutan itu berakhir. Donghae langsung melanjutkannya acaranya dengan mempersilakan para petinggi perusahaan kembali ke mejanya masing-masing sambil menunggu makanan datang.

Sementara Kyuhyun dan Kibum bersemangat menunggu makanan diantar ke meja mereka. Mereka tampak menunggu Donghae dan dua orang lagi yang mempunyai posisi tertinggi setelah Donghae.

Makanan mulai diantarkan ketika Donghae juga dua orang lain mulai kembali duduk di meja mereka. Kyuhyun dan Kibum yang memang sudah sangat kelaparan langsung saja memakan makanan yang tampak sangat lezat itu.

"Selamat makan." Kyuhyun dan Kibum tampak mengangguk sopan pada dua orang pria berjas yang duduk di sebelah Donghae. Kedua pria itu merupakan petinggi perusahaan yang baru saja kembali dari luar negeri setelah sekian lama bekerja di sana.

Donghae tampak tersenyum bangga melihat tingkah kedua adiknya, setidaknya walaupun mereka terlihat 'gila' dirumah, namun kedua adiknya itu tetap berlaku baik ketika bertemu orang lain. Donghae kemudian mengamati Kyuhyun yang mulai memakan makanannya, dan setelah itu ia menyadari sesuatu.

"Kau yakin akan memakan itu?"

"Aku tidak memakannya setiap hari, Hyung?"

"Jangan memakannya terlalu banyak."

Donghae tampak tersenyum canggung ketika ia menyadari bahwa percakapan kecilnya dengan Kyuhyun ternyata mampu menarik perhatian dua orang pria yang duduk se-meja bersamanya.

"Apa dia sepupumu, Hae? Kau belum memperkenalkannya pada kami."

Seketika itu Donghae, Kibum, dan Kyuhyun menatap heran ke arah pria yang tiba-tiba bersuara itu.

"Ah, tidak. Mungkin karena Ahjussi terlalu lama berada di luar negeri, dan ini sudah sangat terlambat, tapi perkenalkan dia Kim Kyuhyun, adik kandungku juga Kibum."

Kyuhyun tampak mengangguk sopan ketika Donghae memperkenalkannya kepada dua orang pria yang kini menatapnya dengan tatapan bingung.

"Tunggu, tapi bukankah Kim Jiwon hanya memiliki dua orang putra?" Salah satu pria bertanya secara tiba-tiba.

"Apa maksud anda?" Kibum sedikit menggeram pada pria itu.

"Kim Kibum, jaga sikapmu." Donghae menatap tajam Kibum.

"Apa yang kau bicarakan? Mungkin kita terlalu sibuk sehingga kita sampai tak mendengar bahwa Nyonya Kim telah melahirkan putra ketiganya." Salah satu pria yang lain mencoba meluruskan.

"Mungkin saja begitu. Karena tepat pada saat Eomma mengandung Kyuhyun, perusahaan juga sedang dalam persiapan membuka sebuah kantor baru di Seoul dan di Jepang. Pasti Ahjussi saat itu juga sedang sibuk mengurus perusahaan kita di sana." Donghae tersenyum.

"Ah, aku ingat. Waktu itu adalah waktu tersulit bagi perusahaan kita. Tapi itu sudah sangat lama sekali, dan sekarang aku merasa melewatkan sebuah momen penting."

"Maafkan aku, Hae. Aku benar-benar tidak tau tentang ini."

"Ah, tidak apa-apa, Ahjussi. Ini adalah keadaan yang wajar mengingat Ahjussi adalah orang yang mempunyai tanggung jawab besar terhadap perusahaan Appa di sana."

"Kau mirip sekali dengan Nyonya Kim, Kyuhyun-ssi."

Kyuhyun hanya tersenyum kecil mendengar perkataan itu, entahlah hatinya tiba-tiba saja gelisah dan tidak tenang setelah mendengar pertanyaan tentang putra sang Appa tadi. Selera makannya juga menghilang, Kyuhyun merasa ada yang perlu dijelaskan oleh Kibum dan Donghae saat ini.

"Hyung, Ahjussi, aku permisi sebentar." Kyuhyun berkata lirih sambil beranjak dengan cepat dari meja makan itu—tak mempedulikan empat orang yang tampak memandangnya dengan ekspresi yang berbeda-beda. Saat ini Kyuhyun hanya ingin pulang.

"Aku juga permisi." Kata Kibum dengan cepat sambil setengah berlari mengejar Kyuhyun yang tampak baru saja keluar dari ruangan itu.

"Ah, silakan lanjutkan saja. Kyuhyun memang tidak sedang dalam kondisi yang baik."

"Adikmu sakit?"

"Tidak, hanya kelelahan."

Donghae tersenyum tenang kepada dua orang pria di hadapanya. Jujur saja, ia tak setenang yang terlihat, rasa jengkel dan khawatir mulai menggeluti pikirannya, ia begitu terkejut mendengar pertanyaan itu. Donghae berusaha berpikir positif, bukankah itu hanya salah paham saja? Satu lagi, dia juga mengkhawatirkan Kyuhyun yang terlihat merenung setelahnya, sepertinya malam ini dia akan menghabiskan banyak waktu untuk menenangkan adik terkecilnya itu.

.

.

.

.

"Kyuhyun-ah, kau sudah tidur?"

Kibum mendekatkan telinganya di depan pintu kamar Kyuhyun. Sudah lebih dari 3 jam tepatnya ia hanya berjalan kesana-kemari dengan perasaan yang gelisah. Kibum benar-benar tak tau apa yang ada di pikiran Kyuhyun setelah kejadian di acara makan malam tadi. Adiknya itu hanya berkata bahwa ia ingin pulang dan benar-benar bungkam setelahnya. Sungguh, ini adalah pertama kalinya Kibum melihat Kyuhyun marah seperti itu.

"Kyu, aku tau kau belum tidur. Bukalah pintunya, sebentar lagi Donghae Hyung datang, dia pasti lelah dan jika kau se-"

Suara Kibum terhenti ketika pintu kamar yang sedari tadi ia ketuk itu tiba-tiba dibuka dengan kasar oleh sang pemilik. Kibum mengurungkan niatnya bertanya ketika sang adik nyatanya hanya membuang muka kemudian kembali menuju meja belajarnya. Kibum hanya mengikuti langkah sang adik menuju ke dalam kamar.

"Kau belajar? Kau baru boleh masuk kuliah 3 hari lagi, kau tidak membaca surat doktermu?"

"Jadi aku tidak boleh belajar ketika sedang tidak kuliah? Baiklah, aku tidak akan belajar."

Kyuhyun segera menutup buku, catatan, dan laptopnya dengan kasar. Ia kemudian beranjak dari meja belajarnya dengan langkah kasar menuju ranjangnya.

Kibum tercengang melihat tingkah Kyuhyun yang benar-benar tidak seperti biasanya, ia hanya bisa berkedip lucu melihat sang adik menghempaskan tubuhnya dengan kasar di ranjang besarnya.

"Ayolah Kyu, kenapa kau jadi diam begini ? Orang itu mungkin benar-benar tidak tau, jadi dia berkata seperti itu. Ini bukan masalah besar."

Kyuhyun tak juga menanggapi, ia malah mengangkat selimutnya tinggi-tinggi, seolah meng-kode Kibum untuk segera keluar dari kamarnya.

"Haishh, benar-benar. Baiklah... baiklah.. aku akan keluar, cepatlah tidur dan jangan lupa dengan janjimu mengajakku berolahraga besok pagi."

Kibum kemudian berjalan keluar dari kamar Kyuhyun sambil mengacak rambutnya. Kibum sedikit heran bagaimana Donghae selalu berhasil membujuk Kyuhyun untuk berbicara ketika adiknya itu tengah marah seperti sekarang.

Kibum menutup pintu kamar itu dengan perlahan kemudian berbalik, dan tiba-tiba saja Donghae sudah muncul di depannya.

"Dia sudah tidur?"

Kibum menggeleng, "penyakit manjanya sedang kambuh," bibir Kibum mengerucut.

"Ya sudah, aku harus berbicara dengannya. Kau segeralah kembali ke kamarmu, Bum."

Kibum hanya mengangguk pelan sambil melangkah menuju kamarnya yang memang bersebelahan dengan kamar Kyuhyun.

Sedangkan Donghae yang bahkan masih berpakaian kantor itu langsung masuk ke kamar Kyuhyun. Ia sudah menyangka pemandangan yang ia lihat ketika memasuki kamar Kyuhyun adalah adiknya itu hanya diam berbaring sambil bergelung selimut.

"Bangunlah, aku ingin bicara."

Satu.

Dua.

Tiga.

Tidak ada respon.

"Kim Kyuhyun."

Dengan gerakan malas, Kyuhyun akhirnya bangun dan menatap wajah sang Hyung dengan ragu-ragu.

"Aku lelah sekali, jadi tolong bicaralah. Jangan seperti anak kecil seperti ini."

Kyuhyun menghela napas kasar setelah mendengar perkataan Donghae. Ia kemudian membuang muka di hadapan Donghae.

"Menurutmu mengapa mereka sampai tidak tau jika orang nomor satu di perusahaannya telah memiliki seorang putra lagi? Apa aku benar-benar bukan bagian dari keluarga Kim, sehingga Appa dan Eomma menyembunyikan itu?"

"Baiklah, aku yakin kau pasti akan berbicara seperti itu. Tentu saja.. aku juga punya pemikiran yang sama. Dan setelah aku mengingat-ingat saat itu, kupikir Appa dan Eomma—meskipun secara tidak langsung—memang menutupi kehamilan anak ketiganya."

Donghae menghentikan perkataannya ketika ia merasa Kyuhyun telah tertarik dengan perkataannya. Adiknya itu kini tengah menatapnya dengan mata yang memerah.

"Mengapa kau berkata seperti itu, Hyung?" Kyuhyun berbicara dengan suara bergetar, ia menggenggam tangannya erat-erat.

"Kau sendiri tau Appa adalah seseorang yang tegas."

Donghae memberi jeda sejenak.

"Appa sengaja menyembunyikan kehamilan Eomma karena satu alasan. Bahkan sampai kau lahir pun Appa dan Eomma jarang membawamu pulang ke rumah. Itu karena Appa begitu menyanyangimu, Kyu. Kelainan jantung itu telah terdiagnosa sejak kau masih dalam kandungan. Saat itu, kau lahir dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan sehingga kau harus tetap berada di Rumah Sakit."

Donghae menghentikan kata-katanya lagi. Donghae memalingkan wajahnya, Ia benar-benar tak sanggup menatap mata Kyuhyun.

"Karena Appa tak ingin banyak orang tau tentang apa yang terjadi padamu, karena Appa tak ingin orang lain senang melihatmu kesakitan, karena Appa... karena dia tak ingin menyerah dengan kondisimu di saat orang lain telah berkata tak mungkin bagimu untuk hidup. Karena itu semua, Appa tak menceritakan tentangmu kepada banyak orang. Appa berkata mereka tidak perlu tau tentang itu semua." Donghae mengakhiri kata-katanya dengan suara lirih.

"Apa kau masih merasa kau bukan anak kandung Appa dan Eomma? Atau kau ingin melakukan tes DNA?" Donghae tersenyum sedih.

"Kau keterlaluan, Hyung." Jawab Kyuhyun lirih.

"Baiklah, baiklah aku tidak akan berkata seperti itu lagi. Lupakan kejadian hari ini, hm? Maafkan aku."

Donghae kemudian menghampiri Kyuhyun, mendekap adiknya itu sambil menepuk-nepuk kepalanya pelan.

"Maafkan aku juga, Hyung."

Donghae hanya mengangguk pelan lalu tersenyum samar setelahnya. Ia mencoba menepis segala pikiran buruk tentang kejadian beberapa jam yang lalu, ia juga sudah mencoba untuk tenang, tapi lagi-lagi rasa takut Donghae mengalahkan itu semua.

"Semoga saja ini hanya perasaanku saja, Kyu."

.

.

.

.

Flashback

"Jae Rim-ah, kurasa kita tidak perlu memberitahukan hal ini pada siapapun."

"Aku juga berpikir seperti itu, Ji Won-ah. Aku tak tau apa yang harus kulakukan saat ini."

Kim Jae Rim memandang kosong seorang bayi di ruangan kaca itu, ia hanya bisa bersandar pada seorang pria disampingnya yang juga tengah memeluknya dengan erat. Jejak air mata masih tergambar jelas diwajah pucatnya, belum lagi tubuh yang sedari tadi bergetar karena terkejut ditambah lagi lelah yang bahkan sudah tak ia hiraukan lagi.

"Ji Won-ah, kenapa doa kita tidak didengar?"

"Jangan berbicara seperti itu Jae Rim-ah. Kita tak pantas berbicara seperti itu."

"Setiap hari aku selalu berdoa, berharap kalau anak itu baik-baik saja. Tapi nyatanya, dia tak baik-baik saja." Jae Rim tersenyum sedih.

Ingin rasanya Jae Rim pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi melihat sosok kecil yang harus terbaring dengan tidak nyaman di dalam sana, hatinya terasa sesak setiap ia melihat sosok kecil itu bergerak gelisah. Namun Jae Rim sadar, ia hidup bukan untuk menjadi seorang pengecut yang hanya bisa pergi begitu saja dari kenyataan, namun ia harus menghadapi kenyataan itu, entah bagaimanapun keadaannya.

"Jae Rim-ah, Kyuhyun sangat membutuhkan kita saat ini, bukan hanya aku dan kau saja, tapi juga Choi Seung Hwan. Aku telah mengambil keputusan, aku akan berhenti dari perusahaan sampai kondisi Kyuhyun benar-benar stabil."

"Apa yang kau katakan? Kau harus tetap bekerja di perusahaan, biarkan aku dan Choi Seung Hwan yang merawat Kyuhyun di sini. Bagaimanapun juga Kyuhyun adalah anak kandungku dan Choi Seung Hwan."

"Jaerim-ah, ku mohon jangan kau kaitkan hal ini dengan posisi Kyuhyun. Aku tak peduli tentang siapa orang tua kandung Kyuhyun saat ini. Tolong jangan mengatakan hal itu lagi di depanku, aku tidak suka. Aku tetap akan berhenti dari perusahaan Jaerim-ah, aku sudah memikirkannya dengan hati-hati, dan kali ini jangan menghalangiku."

Air mata Jaerim kembali menetes ketika ia mendengar perkataan Jiwon—suara lembut namun tegas itu berhasil mebuat hati Jaerim seperti tercabik-cabik. Bagaimana bisa ada orang baik seperti Kim Jiwon di dunia ini.

"Sungguh aku benar-benar merasa menjadi orang yang paling tidak tau malu sekarang. Berdiri di depan orang baik sepertimu tanpa rasa bersalah—aku benar-benar bodoh."

"Jaerim-ah, dengar, kau tak boleh berputus asa. Jika memang seperti ini yang terjadi, maka terimalah itu semua dengan lapang hati. Sudahlah, kita jalani saja semuanya, lagipula kau tak pernah sendiri Jaerim-ah. Aku dan Choi Seung Hwan akan selalu mendampingimu menjaga Kyuhyun."

Wanita itu hanya menatap Kim Jiwon dengan tatapan lelah. Benar, ia memang tak boleh berputus asa, tapi apakah bangkit dari itu semua bisa Ia lakukan dengan mudah? Jaerim mengkhawatirkan banyak hal, ia tau mulai sekarang hidupnya tak bisa sama lagi seperti dulu.

"Untuk saat ini jangan terlalu khawatir dengan banyak hal. Aku berjanji hanya aku, kau, dan Choi Seung Hwan yang tau keadaan Kyuhyun saat ini. Bersabarlah Jaerim-ah, akan ada waktu yang tepat untuk memberitahukan kondisi Kyuhyun, nanti setelah ia siap dengan segalanya."

Jaerim mengangguk yakin ketika mendengar perkataan Jiwon, ia mendekap pria itu erat-erat. Jiwon tersenyum lega ketika ia menatap mata Jaerim, setidaknya ia melihat sedikit ketenangan terpancar di sana.

End of Flashback.

.

.

.

.

"Kau sudah bangun? Tumben sekali."

Donghae bergerak memasuki kamar Kyuhyun, Ia tersenyum lebar ketika melihat sang adik tengah duduk membelakanginya—menghadap jendela. Donghae hanya terkekeh kecil ketika ia tak juga mendapat jawaban dari Kyuhyun, Donghae kira kesadaran adiknya itu belum terkumpul sepenuhnya.

"Cepatlah bersiap, kau tidak lupa dengan janjimu, kan? Aku sudah membuatkan sarapan, Kibum juga sudah dibawah, ia sudah menunggumu sejak tadi, kau tau? Dia terlihat bersemangat sekali."

Donghae tertawa sedikit keras ketika ia teringat dengan tingkah Kibum beberapa saat yang lalu. Kibum juga bangun pagi hari ini, bahkan Kibum membantunya untuk membuat sarapan—benar-benar bukan Kibum yang biasa ia kenal.

"Kyu? Kau mendengarkanku, kan?"

Donghae memustuskan mendekati Kyuhyun ketika ia tak melihat gerakan apapun dari Kyuhyun, sejak tadi Kyuhyun hanya diam di sana. Dongahe melangkah pelan, jantungnya mulai berdetak cepat.

"Kyu-"

Donghe terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia berjongkok sambil menatap Kyuhyun lekat-lekat. Otak Donghae bekerja lebih lambat, ia belum dapat menangkap apa yang terjadi pada Kyuhyun. Ia masih berpikir apa yang telah terjadi ketika ia melihat Kyuhyun hanya terdiam dengan tatapan sendu dan kosong.

"Kau kenapa?"

Donghae baru menyadari ada yang salah dengan adiknya itu setelah ia memegang tangan Kyuhyun, ia baru menyadari jika tubuh Kyuhyun begitu kaku dan dingin.

"Kenapa kau seperti ini? Kyuhyun! Kyu! Dengarkan aku! Kau tak boleh seperti ini!"

Donghae berteriak-teriak dengan brutal di depan wajah adiknya, tangannya bergetar hebat ketika ia memegang wajah Kyuhyun yang masih tak menunjukkan ekspresi apapun. Merasa tak bisa mengatasinya sendiri, Donghae segera mencari ponsel milik Kyuhyun, setelah menemukan benda itu ia lalu menggeser-geser layarnya dengan tidak sabaran.

"Dokter Choi, aku tidak tau ada apa dengan Kyuhyun, dia sadar tapi dia sama sekali tak meresponku, seluruh tubuhnya terasa dingin dan-"

"Ya, baiklah aku akan sampai dalam 5 menit. Kau harus menenangkan dirimu terlebih dahulu, Hae. Tenanglah, aku akan segera sampai, terus ajak Kyuhyun berbicara. Aku akan datang bersama Siwon."

Donghae hanya terdiam sampai terdengar suara sambungan telepon terputus dari ponsel itu, hatinya sedikit lebih tenang ketika ia mendengar perkataan Dokter Choi yang tidak membuatnya semakin panik. Donghae mencoba menghela napas dalam-dalam kemudian kembali beralih pada Kyuhyun.

"Kyu, ada apa denganmu? Semalam aku yakin kau baik-baik saja, dan kau juga sudah berjanji untuk baik-baik saja padaku."

Donghae tersenyum kecil ketika ia mengingat kejadian semalam, Kyuhyun sempat bergurau dengannya sebelum adiknya itu tertidur pulas. Ia yakin tak ada apapun yang terjadi semalam. Donghae hanya memperhatikan Kyuhyun dalam diam, ia sudah lebih tenang. Ia kemudian mendekat ke arah Kyuhyun sambil merengkuh tubuh adiknya itu ke dalam pelukannya, Donghae juga baru menyadari sesuatu, tubuh Kyuhyun sedikit menggigil dan Donghae juga tidak begitu yakin apakah adiknya itu bisa bernapas dengan normal atau tidak karena ia tak merasakan gerakan apapun dari tubuh Kyuhyun.

'Tuhan, aku masih ingin bersama Kyuhyun.'

Donghae memejamkan matanya, ia tetap berada dalam posisi memeluk Kyuhyun dengan erat, tangannya dengan setia mengelus punggung sang adik. Donghae terdiam—menghitung detik yang terasa berjalan begitu lambat. Pikiran-pikiran buruk masih saja terlintas di kepalanya.

1 menit berlalu.

"Tunggu sebentar, Kyu. Sebentar lagi."

2 menit.

3 menit.

"Apa kau merasa sakit? Cobalah untuk bernapas perlahan." Titah Donghae yang menurutnya percuma saja.

4 menit.

5 menit.

"Dokter Choi sudah datang, kau mendengarnya kan, Kyu?" Suara Donghae bergetar—ia berbohong.

6 menit.

7 menit.

8 menit.

Donghae menghitungnya, itu hampir mendekati menit ke-9 ketika Dokter Choi bersama Siwon dengan sedikit tergesa masuk ke dalam kamar Kyuhyun dan langsung menuju ke arahnya.

"Masih tidak ada respon?" Siwon bertanya sambil mengeluarkan alat medisnya.

"Dia tetap seperti ini sejak tadi." Mata Donghae berkaca-kaca.

"Tubuhnya dingin sekali. Siwon-ah tolong siapkan suntikannya."

Dokter Choi sudah akan menyuntikkan sesuatu pada lengan Kyuhyun ketika ia mendengar suara lirih.

"Appa, akhirnya kau datang." Kyuhyun tersenyum kecil.

"K-Kyuhyun?" Ucap Siwon sambil menatap Kyuhyun tidak percaya.

"Iya, benar, Appa disini Kyu. Kau membutuhkan sesuatu? Apakah ada yang sakit? Ayo katakan pada Appa." Dokter Choi menatap Kyuhyun dengan tatapan teduh.

"Appa?" Bibir Siwon bergerak pelan, ia sungguh tak percaya dengan apa yang dilakukan sang appa kepada Kyuhyun, ini sungguh diluar dugaannya.

"Apa yang kau lakukan, Appa? Oh Tuhan, bagaimana bisa Appa ceroboh seperti ini di depan Donghae?" Siwon menghela napas berat.

Kyuhyun hanya terdiam—senyuman samar masih terlihat pada wajahnya yang pucat. Ia hanya menatap Dokter Choi dengan tatapan yang tak bisa ditebak.

"Ayo katakan pada Appa, Kyu."

"Appa..."

Dokter Choi mengangguk—masih menatap Kyuhyun.

"Appa, apakah aku benar-benar anak kandung Appa?" Raut Kyuhyun berubah sendu.

"Tentu saja, tentu saja Kyuhyun-ah. Kau boleh memukul Appa jika Appa berbohong."

Dokter Choi tersenyum hangat. Sakit—hatinya sudah seperti ditusuk ratusan pisau saja. Ia berusaha keras menahan air mata yang mendesak keluar, ia tak boleh menangis, sama sekali tak boleh.

"Pegang tanganku, Appa." Kyuhyun mengulurkan tangannya yang terlihat bergetar.

Dokter Choi hanya menghela napas sebelum ia benar-benar menggenggam tangan Kyuhyun begitu erat. Ia benar-benar tak bisa menahannya lagi—dipeluknya Kyuhyun begitu erat, diciumnya sayang kepala Kyuhyun.

"Akhirnya Appa bisa memelukmu lagi, Kyuhyunie." Dokter Choi memejamkan matanya.

.

.

.

.

"To be Continued"

.

.

Lah, kok Kyuhyun manggil Dokter Choi dengan sebutan Appa? Jangan-jangan.. Kyuhyun tau kalau Dokter Choi itu Appa kandungnya? Terus bagaimana reaksi Donghae dan Siwon melihat itu semua?

.

Chaaangg! Ada yang kangen sama saya? Semoga chingudeul makin penasaran ya sama ceritanya. Maaaaf saya update nya telat banget, banget, banget.. :'( saya habis ikut ujian SBMPTN dan sebulan yg lalu hampir gk lakuin apapun selain belajar dan belajar. Mian kalau chapter ini gk jelas banget karena banyak hal mengganggu pikiran saya, saya jadi susah fokus.. :'(

Hope you enjoy this chapter.. Jangan lupa REVIEW-nya,, ayook yang banyak biar saya semangat!

Salam cinta dari saya, :D terimakasih banyak buat doa-doa dari kalian semua, semoga teman-teman tercinta juga selalu dalam bimbingan dan lindungan Yang Kuasa.. :')

Yang lagi puasa semoga tetep kuat sampek buka yaa, ayo semangat! Semoga bulan ini puasanya bisa full.. :D Amin..

.

.

.

Balasan review ch 6

Nenthie : sudah diupdate!

: iya, Kibum dulu tak sebaik sekarang.. :D tunggu terus yaa! Terimakasih doanya.. :D

sparkyuNee13 : Terimakasih juga sdh mau membaca. Chapter 7 sudah diupdate, semoga tdk mengecewakan ya? Hehe. Saya usahakan happy ending.. :D

kyuhae : iya nih, siwon ngebet banget pengen 'ngambil' kyu dari hae dan bum. Sdh diupdate! :D

lia : sdh diupdate!

phn19 : mungkin siwon udh geregetan pengen hidup sama kyu, ya? semoga kibum jga gk jahat2 sama kyu ya.. :D Sudah di update!

Kyunoi : betuuull... :D

Dindaa : amiin,, terimakasih doanya.. :D

Songkyurina : surat itu berisi permintaan 'polos' kyuhyun pada kibum (?) intinya kyu ingin kibum segera jadi dewasa lalu bisa menyembuhkan dia. Ingat? ada di bagian flashback di ch 5 :D

Guest : sudah lanjuut.. :D

dek indah : Intinya kyu ingin kibum segera jadi dewasa lalu bisa menyembuhkan dia, dan ya mungkin kibum jadi greget gitu kali, ya? 'enak banget kyu nyuruh2 hyungnya' jadi kibum marah deh *sad*

angel sparkyu : syukurlah kibum sdh berubah.. :D

Walaupun dulu kibum jahat sama kyuhyun tapi sekarang dia sudah sayang lagi sama kyuhyun...

Dd : kibum jadi baik itu karena beberapa hal sbenernya, tapi yg paling mempengaruhi adalah karena appa dan eomma nya sdh meninggal, jdi mungkin dia sadar, dia gk boleh jahat lagi sama dongsaengnya.. ikuti terus yaa.. :D

Wonhaesung : big thanks yaaa.. semoga gk bosen.. :D

Lily : walah seneng baca review chingu panjang banget.. :D saya Cuma bisa ngangguk2 di depan laptop.. kekeke.. maaf ya kalau updatenya lama2.. saya gk bisa janji bakal update cepet, tapi saya janji ff ini akan saya tulis sampek selesai.. :D jeongmal gomawoo.. *hug*

octakyuu : sudah diupdate yaa.. :D

hyunnie02 : kibum keterlaluan yaa *sad* sudah diupdate.. :D

Tyas1013 : semogaa.. :D sudah di-next!

Tiktiktik : terimakasih yaa.. maaf sya gk bisa janji update cepet, tapi saya janji akan menyelesaikan ff ini kok.. :D

Dewidossantosleite : pastinya mereka akan rebutan kalau udh tau kyuhyun sebenarnya anak siapa... kekeke.. :D maaf ya ch ini malah lamaa bgt update nya, saya lg sibuk ngurusin kuliah.. sabar yaa.. :D

HyukRin67 : toss kalau gitu.. :D kyu disini sakit jantung, tapi nggak yg parah2 gitu kok.. :D biarin aja penasaran.. :P *peace*

ladyelf11 : Intinya kyu ingin kibum segera jadi dewasa lalu bisa menyembuhkan dia.. :D sdh update!

MissBabyKyu : sepertinya kita harus tes kejiwaan bersama kak.. wakakakak XD doain yaa kak, ini masih berjuang cari univ.. tapi selalu nyempatin ngetik ff kok.. :D kecup baliikk.. :*

Pcyckh : waduh, terus authornya apa dong? Psikopat? :D *joke*

Anna505 : kibum tegaaa... :'( sudah next yaa :D

Awaelfkyu13 : semoga nggak bosan menunggu yaa.. semangaat jugaa! :D

riritary9 : semoga bisa tetep penasaran dan gk bosen yaa.. :D

Apriliaa765 : sudah diupdate! :D

Choeunrong : aduhh, gk rindu sama authornya juga? :D

Yolyol : makasih yaa.. jangan bosen ngikutin ff ini yaahh... :D

Dewiangel : gimana kalau kibum bohong? :'(

annisah563 : semoga gituu terus ya bumm.. :D

Cuttiekyu94 : amiiiiinnn... :D

Gnagyu : sudah di updateee.. makasihh :D

AtikahSparkyu : makasih banyak yaa chingu.. semoga selalu sabar menunggu ff sayaa.. :D

Jihyunelf : bermuka dua? Di depan kyu jahat, tapi kalau di depan hae pura2 baik sama kyu? :D sebenanya sdh saya jelaskan secara tersirat knp kibum bisa berubah di chapter-chapter sbelumnya. Kibum berubah semenjak appa dan eommanya meninggal, jadi ya mungkin saat itu kibum sadar dia gk boleh jahat lagi sama kyuu... :D

Desviana407 : authornya aja kadang lupa, apalagi readernya? Maaf ya update paling 'pol' Cuma bisa sebulan sekali.. :'( tunggu terus yaa.. :D

Cinya : yes, tebakan bener kan berarti paham sama ceritanya.. :D gak kok, saya gk lagi sakit, Cuma sedikit stress aja.. *apasih* sudah dilanjut, terimakasih.. :D

kyuli 99 : sudah updatee.. :D

michhazz : sunbae (?) :D aduh saya jadi malu.. panggil kakak aja :D :D sdh di next yaa

readlight : mungkin mayoritas author di sini SMA kali ya? ch ini sdh saya usahakan 6k lo.. :D bakal lanjut di surabaya atau malang.. doain eonni yaa.. :D

Sparkyubum : setujuu.. :D gk asik kalo kibum jadi baik.. *walah* :D

KALAU ADA YANG MERASA NAMANYA BLM DISEBUT, PM YAA. ATAU KALAU ADA YG INGIN DITANYAKAN, ATAU MAU KENALAN :D, SILAKAAN PM AJA.. Sampai ketemu chapter depan cintaa.. :*