Copyright Mayonice08
2013
Someday in July
Haehyuk
Suatu hari di bulan Juli…
a/n: rewriting.
Akhirnya, sampai juga pada penghujung cerita. 10k word untuk last part, wow. Padahal awal mula tidak sampai segitu banyaknya. Saya suka menulis penuh deskripsi, i know is my bad. Kan jadi bertele-tele, hanya saja itu style menulisku. Susah untuk ngubah hal tersebut Xd
Semoga kalian menikmati bagian terakhir ini. Awas typo dimana-mana xD
.
Nah, untuk part terakhir, ada ost special ff ini: Passanger - Let Her Go.
Lagunya cukup menggambarkan cinta di ff ini. Nggak sepenuhnya sih, tapi suka aja ketika mengetik ff ini ditemani lagu ini. Pas saja. xD
.
.
Part 7
A faithfull daisy flower
Bunga daisy yang setia
.
.
Tidak ada yang pernah mengatakan menjalin sebuah hubungan itu mudah. Akan banyak sekali kerikil yang dilemparkan dalam jalanmu bersama seorang yang kamu sayang. Bisa jadi, dirimu lelah ketika sebuah kerikil baru terlempar di depanmu, menjatuhkanmu. Bisa jadi.
Bisa jadi pula, ketika puluhan kerikil yang membuatmu terjatuh itu tak lagi terasa menyakitkan. Karena, seseorang yang kamu sayang, kasihmu yang kamu perjuangkan lebih berharga daripada rasa sakit yang kamu rasakan.
Donghae meyakini satu hal. Ketika ia berada diutas tali kebimbangan. Antara maju ataupun mundur untuk bersama Hyukjae. Dia sudah tahu, rasa cinta saja tak cukup untuk membangun keberaniaannya memperjuangkan Hyukjae.
Menerima kekurangan seseorang apalagi orang itu orang tersayang untukmu bukanlah perkara mudah. Tidak seperti membalik telapak tangan ternyata. Ini tidak semudah dalam kisah ftv sekali tayang yang biasanya berakhir bahagia. Donghae harus berdamai dulu dengan hatinya. Rasa cinta memang tidaklah cukup, tapi cinta yang mendasari Donghae untuk memperjuangkan Hyukjae.
Berhadapan secara langsung seperti ini. Menatap Hyukjae yang terhenyak di hadapannya. Donghae dihadapkan pada satu kenyataan. Cinta yang mendalam untuk Hyukjae itu seolah sudah begitu kuat di hatinya. Ia tahu, perasaan bimbang dan takut menjalani hubungan dengan Hyukjae masih membayanginya. Tapi, semuanya serasa lenyap ketika manik indah itu melotot memandanginya.
Donghae membiarkan pipinya basah, bola matanya berair dan puncak hidungnya memerah. Ia tak malu menangisi lelaki di depannya ini. Ia memang tak pernah secengeng ini, hanya dihadapkan dengan lelaki sederhana bernama Hyukjae, Donghae mampu berubah. Untuk lelaki ini dia menangis.
Lengan Donghae yang berada di sisi tubuhnya terkepal. Ia ingin sekali menghapus jaraknya dengan Hyukjae. Mendekap tubuh lelaki itu dalam pelukan. Ia ingin menunjukkan pada Hyukjae jika ia mampu. Donghae mampu memperjuangkannya. Persetan dengan bimbang dan ketakutannya. Asal Hyukjae disisinya. Donghae akan melawan segala rasa takut itu.
Hanya saja ...
Air mata itu tak hanya miliknya yang menetes. Hyukjae menangis keras. Tubuhnya gemetar dalam tangis.
Teko yang sempat Hyukjae pegang jatuh di atas lantai. Ia mengabaikan teko tersebut. Membawa kedua tangannya di depan mulut. Menutup suara isaknya yang keras.
Ketika manik itu saling beradu pandang. Donghae merindunya dalam sedih. Hyukjae merindu. Ia juga merindunya dalam sedih.
Sedih yang masih saja tertinggal meski mereka telah dipertemukan.
Donghae memajukan tubuhnya satu langkah. Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh tubuh Hyukjae. memberanikan dirinya memulai sesuatu.
Bibirnya mengatup sebelum ia memberanikan diri untuk bersuara. Donghae semakin menatap ke dalam manik itu. Ia ingin meyakinkan Hyukjae. Lewat tatapan mata maupun sentuhan sayangnya.
"Hyukjae ..."
Nama itu tergerak tanpa suara. Bisikan kosong yang berupa gerakan bibir yang pelan.
Hyukjae menatap pergerakan bibir itu. Tak butuh satu detik baginya untuk menangkap ucapan Donghae. Ia mengerti sekali apa yang Donghae ucapkan.
Sebuah tangan hangat menyentuh lengannya. Hyukjae memejamkan kelopak matanya ketika telapak tangan itu terasa panas di atas permukaan kulitnya. Ia membiarkan indera perabanya merasakan hangat tersalur dari telapak tangan itu. Membiarkan tubuh gemetarnya perlahan menenang dalam usapan hangat itu.
Ada banyak hal yang sedang bergantungan di otak Hyukjae. Jika bicara tentang hati, hatinya kini tengah bergenderang keras karena Donghae yang berada begitu dekat. Hatinya meletup bahagia karena Donghae.
Namun ... dalam pikiran Hyukjae. Banyak sekali kemungkinan. Donghae pasti sudah mengetahui kalau Hyukjae cacat. Donghae tahu kalau Hyukjae tuli, tak bisa mendengar, Hyukjae itu kekurangan. Pengidap disability.
Lalu kenapa? Kenapa Donghae masih disini? Dihadapannya? Bukankah seharusnya Donghae jijik padanya? Risih dan menjauhinya?
Kenapa?
Dengan kondisinya sekarang, Hyukjae takkan pantas untuk Donghae. Donghae tak pantas disandingkan orang cacat seperti dia. Itu hanya akan menambah luka. Menambah penderitaan Hyukjae.
Kepala Hyukjae menggeleng cepat. Pemikiran-pemikiran itu melayang dan membuatnya semakin gusar. Gelisah. Ia melirik lengan yang tengah menyentuhnya. Ia ingin menggamitnya. Namun...
Hyukjae tak pantas bersanding dengan Donghae.
Kalimat itu menggema di kepalanya. Menggigit bawah bibirnya, Hyukjae menepis lengan itu. Ia menepisnya keras.
Bukan hanya dirinya yang tersentak dengan gerakannya. Donghae ikut terhenyak. Lelaki itu terlalu syok untuk bereaksi.
Hyukjae memandang lurus sebentar, membiarkan mata mereka bertemu pandang. Sebelum melangkah pergi.
"Jangan pergi," bisik Donghae.
Donghae merasakan lututnya lemas. Ia ingin meneriaki Hyukjae untuk tetap tinggal. Ia memberanikan dirinya lagi mengejar Hyukjae. Lelaki itu berlari di belakangnya. Donghae meraih lengan Hyukjae. Dengan sekali sentakan, ia mengungkung tubuh itu dalam pelukannya.
"Hyukjae, kumohon." Suara Donghae parau. Air matanya seperti tak punya malu, kembali mengalir. Tubuh Hyukjae gemetar dalam pelukannya. Beberapa kali Hyukjae memberontak untuk di lepaskan.
"Hyukjae..."
Nama itu Donghae bisikan terus-menerus di telinga Hyukjae. Donghae membiarkan lengannya memeluk erat lelaki itu. Tak ingin membiarkan Hyukjae terlepas.
"Kumohon, jangan pergi," ia akan memohon terus-menerus asal Hyukjae memenuhinya.
Hyukjae memberontak lagi. Dia mendorong tubuh Donghae untuk melepaskan pelukannya. Suara tangis Hyukjae tak kalah keras. Donghae merasakan hatinya ngilu mendengar seorang yang ia sayang menangis seperti itu.
Apa itu berarti Hyukjae tak menginginkannya? Kenapa ia terus-terusan memberontak seperti ini? Apakah Hyukjae mencintainya?
Dorongan di dada Donghae tak cukup kuat. Tapi, kali itu ketika Donghae menemukan wajah sedih Hyukjae yang menunduk tak berani menatapnya. Donghae menyerah. Ia membiarkan kedua lengannya lemas terjatuh di sisi tubuhnya.
Pelukan itu terlepas. Tubuh Hyukjae mundur secara cepat menjauhinya. Donghae ingin bertanya mengapa. Namun, Hyukjae berlari dengan terburu-buru. Lelaki itu meninggalkannya dengan perasaan ngilu. Dan hati penuh tanya.
.
.
Heechul terkaget ketika melihat sepupunya melangkah dengan tergesa-gesa. Wajahnya tampak kusut. Dia bahkan tak menyapa ataupun berpamitan dengannya sebelum menghilang pergi. Perasaan Heechul memburuk melihatnya.
Heechul baru akan berjalan menuju lantai atas. Mencari Donghae untuk dimintai pertanggungjawaban atas kejadian tersebut. Namun, langkahnya terhenti saat menatap wajah penuh air mata milik lelaki yang baru ia temui tadi.
Donghae melangkah dengan pandangan kosong.
Heechul tak bersuara. Mengingat ekspresi sedih lelaki itu seolah menggambarkan semuanya.
"Apa harus sesakit ini untuk mencintai seseorang?"
Pertanyaan itu diajukan Donghae.
Heechul paham. Mencintai seseorang itu sakit. Ia tahu betul, karena ia mengalami rasa sakit itu sendiri. Kisahnya bersama Hangeng tak melulu bahagia. Heechul harus memperjuangkan lelaki China itu, mengingat dulu Hangeng tak menyukai bahkan cuek sekali kepadanya. Heechul mendekati lelaki itu pelan-pelan. Berusaha mendapatkan perhatian dan hatinya. Meski Hangeng tetap cuek, tapi lama kelamaan lelaki itu mulai menyadari keberadaan Heechul.
Setelah ia mendapat perhatiannya, muncul masalah baru. Keluarga Hangeng tak menyetujui hubungan mereka. Hangeng yang asli China itu harus kembali ke China dan menikah dengan pilihan orang tuanya. Tapi Heechul tak berhenti berjuang, dia mengikuti Hangeng untuk bertemu keluarganya. Lelaki cantik itu mati-matian meyakinkan keluarga Hangeng untuk menerimanya. Walaupun sampai sekarang, keluarga Hangeng belum sepenuhnya menerima Heechul.
Rasanya sangat sakit, Heechul menyadari itu. Mencintai seseorang bukan perkara indah dan manis-manis saja. Pahitnya kopi bahkan terkalahkan.
Cinta itu sakit. Mencintai seseorang berarti kau memberi kuasa pada satu orang itu, dia bisa saja membuat hatimu sakit, begitu pula dia bisa saja membuatmu bahagia. Karena, ketika kamu mencintai seseorang. Orang yang kamu cintai itulah yang paling pandai menyakitimu.
"Kenapa ia tak ingin mendengarkanku?"
Heechul berjalan mendekatinya. Lelaki itu menepuk pundak Donghae. Lelaki di depannya ini tak tampak tegar sama sekali.
Setiap permasalahan selalu memiliki ujung. Semuanya hanya membutuhkan waktu. Seperti keluarga Hangeng, suatu saat Heechul yakin keluarganya akan menerimanya dengan tulus. Hanya butuh waktu.
"Apa aku salah? Apa Hyukjae tak mencintaiku?" Donghae bertanya resah. Ia semakin bimbang dengan perasaan Hyukjae.
Manik Heechul yang bulat itu memandang yakin pada Donghae. "Dengarkan aku Donghae-ssi."
"Waktu. Semua hal membutuhkan waktu. Perasaan sakit butuh waktu agar tak terasa sakit lagi. Perasaan cinta bahkan juga butuh waktu untuk mengembang. Perasaan dendam saja bahkan butuh waktu untuk terlenyapkan. Perasaan bimbang juga butuh waktu untuk teryakinkan. Kau, juga Hyukjae. Kalian membutuhkan waktu untuk saling menunggu. Entah apa yang terjadi di hari esok. Cukup berikan waktu untuk kalian Donghae-ssi. Jika kalian saling setia menunggu satu sama lain, dan memang telah ditakdirkan bersama, waktu pula yang akan menyatukan," terang Heechul.
"Jangan menyerah untuknya Donghae-ssi," tambah Heechul. Ia ingin menyemangati lelaki itu. Karena ia tahu, sepupunya sangat menyayangi lelaki ini.
.
.
Bohong jika Hyukjae mengatakan ia tidak takut. Pertemuan tak terduganya dengan Donghae mampu membuat Hyukjae merasakan ngilu di dada.
Setelah melarikan diri dari lelaki itu. Ia memilih untuk berdiam di rumah. Menghabiskan waktu mencari resep masakan di internet. Membeli beberapa bahan masakan di supermarket. Kembali ke rumah untuk memasak.
Hyukjae tidak tahu. Ia merasa lelah untuk menangis kembali. Air mata seakan ingin menitik dari manik bulatnya, tapi hanya kering. Dia merasa lebih sesak saat tak satupun kristal bening itu jatuh.
Sebagai pelarian, Hyukjae menyibukkan diri untuk memasak.
Kimchi stew yang dia buat kini seperti soup. Terlalu banyak kuah. Hyukjae tidak tahu berapa takar air yang ia tuangkan pada panci masaknya tadi.
Memasak juga rasanya tak mengalihkan pikiran ternyata. Ia mendengus sebal. Tak tahu ingin meluapkan perasaan di dadanya dengan cara apa.
Hyukjae menunggu kimchi stew atau soup buatannya matang. Ia melepaskan sarung tangannya. Kemudian, menanggalkan apronnya. Hyukjae melihat dapur kesayangan Ibunya acak-acakan. Hasil masakannya tadi, sebelum ia memasak kimchi ini tampak gosong dan mengendap di tempat sampah.
Biar sajalah.
Hyukjae mematikan kompornya dan menaruh panci berisi kimchi stew ke atas meja makan saat suara pintu rumahnya dibuka.
Hyukjae menyiapkan piring dan nasi untuknya makan. Ia tak berselera. Tapi, Hyukjae tak mau menyakiti dirinya sendiri dengan tidak makan. Itu sama saja dengan bunuh diri.
"Apa yang kau masak?"
Hyukjae menoleh saat merasakan tepukan di pundaknya.
"Hyung."
Heechul mendudukan diri di samping Hyukjae. Mengambil alih sumpit yang dipegang Hyukjae. Dia menyumpit masakan di piring Hyukjae.
Hyukjae mendecak. "Hyung, ada apa?"
"Apa tak boleh datang, huh? Aku bawa makanan untukmu, kupikir kau mati kepalaran." Heechul menunjuk pada rantang makanan yang ia taruh di atas meja.
Sebenarnya Heechul merasa khawatir. Ia takut Hyukjae bertindak aneh, ingat tentang kejadian Ryeowook kan? Setelah sore tadi Donghae berpamitan padanya. Lelaki itu mengingatkan Heechul untuk mengecek kondisi Hyukjae. Tak lupa untuk memberi kabar padanya. Heechul tersentuh dengan perhatian Donghae. Meski kondisi hubungan Hyukjae dan Donghae tengah buruk, tapi dia tak berhenti mempedulikan dan mengkhawatirkan sepupunya itu.
"Isinya apa Hyung?"
"Paha ayam," singkat Heechul. Ia menyendok kuah kimchi yang dibuat Hyukjae. Menyeruputnya dengan lahap.
"Terlalu berair," komennya masih mengunyah.
"Tidak usah dimakan kalau tidak enak," Hyukjae menghentikan tangan Heechul yang mau menyendok makan lagi.
"Biarkan sepupumu makan dengan tenang," celoteh Heechul melanjutkan makannya. "Paha ayamnya jangan lupa kau makan," ingatnya.
Hyukjae mengangguk. Membuka kotak berisi paha ayam. Ia mengambil satu potong untuk dia makan. Rasanya hambar. Tapi, Hyukjae tetap mengunyah masakannya.
Mereka melanjutkan makannya dalam diam.
"Aku kenyang Hyukkie, ayo kita jalan-jalan. Aku tak ingin masakanmu menjadi lemak di tubuhku yang langsing ini. Ayok," Heechul menengahkan piring makannya. Ia menarik tangan Hyukjae untuk berdiri mengikutinya.
"Tapi Hyung, ini harus diberesi dulu. Aku harus mencuci piring dan peralatan lainnya," elak Hyukjae.
Heechul menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Hyukjae. "Biarkan saja. Kau ikut aku. Titik," titahnya.
Hyukjae ingin mengelak lagi tapi tidak bisa. Heechul seperti menyeretnya begitu saja. Tak sampai lima menit saja dia sudah keluar dari rumah dan berjalan tidak jelas di sekitar rumahnya.
Pelukan Heechul di lengannya membimbing Hyukjae mengikuti langkah sepupunya. Mereka berjalan kesana kemari. Hyukjae manut saja.
Satu jemari Heechul menarik dagunya. Mengarahkan wajah Hyukjae padanya.
"Kau terlihat berantakan," ucap Heechul.
Hyukjae sadar ekspresi wajahnya tampak muram. Dia menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja, Hyung."
Heechul memutar bola matanya. Seolah ia bisa dibodohi lagi. "Ayo duduk disana Hyukkie," ia menunjuk pada lounge yang berada di salah satu sisi trotoar.
Kerlap-kerlip lampu jalanan mengalihkan perhatian Hyukjae. Ia memandang langit gelap yang bertaburan bintang. Bertanya-tanya, apa di balik langit itu ada tempat untuknya pergi. Hyukjae rasanya ingin bersembunyi dari semua ini. Ingin lenyap.
"Kenapa tak cerita kepadaku?" tanya Heechul.
Mereka telah duduk bersebelahan. Tangan Heechul meraih dagu sepupunya untuk berpandangan.
Jendela hati itu tak pernah berbohong. Heechul dapat melihat rasa sakit Hyukjae lewat tatapan matanya. Ia menunggu, Hyukjae membutuhkan waktu untuk memulai bicara.
"Kau tahu kan, aku sayang padamu," usapan itu menghangat di lututnya.
"Katakan padaku, Hyukkie," pinta Heechul lembut.
Dadanya ngilu saat mengingatnya. Hyukjae memejamkan kelopak matanya, dan setetes kristal bening itu lolos lagi dari matanya.
Rasanya sesak bercampur sakit. Hyukjae merasakan ada lega ketika ia bisa menitikkan air mata lagi. Meski di dada masih saja terasa sesak.
"Aku mencintainya, Hyung," lirihnya dengan suara parau. "Aku mencintainya, dan ini rasanya sakit Hyung. Aku sangat mencintainya Hyung, aku mencintai Donghae. Rasanya sakit sekali, Hyung. Ia tak mungkin mencintaiku seperti aku mencintainya Hyung. Ia tak akan mencintaiku," jelasnya.
"Kenapa? Mengapa dia tak mencintaimu? Apa kau sudah bertanya pada Donghae, huh?" Heechul bertanya dengan suara meninggi.
Hyukjae menggeleng. Maniknya bergerak gelisah.
"Bukankah, orang cacat sepertiku tak pantas di cintai kan, Hyung?" tanyanya dengan nada parau.
Pertanyaan itu mampu membuat Heechul terkejut. Hyukjae tak pernah sekalipun menyinggung hal ini. Heechul yang mendengarnya tak mampu menyembunyikan kesedihannya.
Heechul menggelengkan kepalanya, berusaha menyusun kata dan mengatakan tidak pada Hyukjae, Tapi air matanya ikut terjatuh.
"Kenapa ini semua terjadi padaku, Hyung?" suara serak Hyukjae itu mengucap tanya.
Heechul menyentuh
"Kenapa aku harus cacat? Kenapa aku tak bisa menjadi seperti yang lain? Aku sangat mencintainya Hyung. Aku cinta dia, kenapa aku harus menjadi tuli seperti ini?"
Selama ia mengenal Hyukjae. Sepupunya selalu berusaha menjadi seorang yang tegar dan mandiri. Heechul ingat saat ia dan keluarganya datang menjenguk Hyukjae setelah kecelakaan empat tahun lalu terjadi. Adik sepupunya itu diam dan berbaring di ranjang. Dia menangis sesengukan. Memeluk Ibu Heechul sambil bertanya kenapa Ayah dan Ibu meninggalkan mereka.
Hyukjae tak menyinggung tentang kekurangannya. Suara yang harus direnggut dari indera pendengarnya. Hyukjae tak bereaksi tentang keadaannya yang tuli setelah dokter menjelaskan kondisinya pasca kecelakaan. Ia lebih menangisi tentang kepergian orang tuanya.
Baru kali ini, adik sepupunya mengucap sedih tentang kekurangannya. Heechul terperangah kaget. Ia ikut merasakan sakit yang didera Hyukjae.
Heechul kebingungan dengan menyusun kata-kata yang ingin ia ucapkan. Ia sangat menyayangi sepupunya ini. Apapun kekurangan Hyukjae, ia sangat menyayanginya.
"Hyukkie, bagi Hyung, kau sempurna. Kau pantas dicintai, Hyuk. Kau juga pantas merasakan cinta."
Suara Heechul begitu lirih saat mengucapkannya. Hampir seperti bisikan. Jemari Heechul yang lentik menghapus air mata Hyukjae yang kembali turun perlahan.
"Kalau kau mencintai Donghae, perjuangkan dia. Buat dia juga mencintaimu, tak peduli tentang kekuranganmu Hyukjae. Kau sempurna, kau bukan orang cacat," lirihnya lagi.
Kening mereka bersentuhan. Suara tangis kembali terdengar. Untuk malam ini, Hyukjae ingin segala sakitnya menguap.
.
.
Sungmin melirik Boss-nya yang tengah duduk mencermati rekap laporan keuangan minggu ini. Lee Donghae tampak begitu serius, membalikkan kertas. Jika saja sedari tadi Sungmin tidak mengamatinya intens, Sungmin pasti akan terpedaya. Menduga Boss-nya itu tengah serius dengan laporannya.
Padahal Donghae hanya membolak-balikkan kertas berulang-ulang. Sesekali menatapinya lama, tapi pada satu titik. Bisa dibilang, Boss-nya tengah melamun. Pikirannya melayang kemana.
Sepertinya urusan penting Boss-nya masih belum selesai. Setelah kemarin membolos seharian, Boss-nya datang ke kantor hari ini. Secara fisik masih tampak tampan. Meski wajahnya kusut dan ada lingkaran menyerupai mata panda di bawah matanya.
"Boss," panggil Sungmin.
Dia berdeham saat Donghae tak bereaksi. Lelaki yang lebih tua dari Donghae itu mendengus, berdeham lebih keras lagi. Bersorak gembira saat Donghae menoleh.
Akhirnya.
"Bagaimana laporannya, Boss?" tanyanya.
Donghae menggumam tak jelas. Lalu, mulai fokus menatap Sungmin. "Oke. Tinggal aku tanda tangani," ucapnya. Ia menarik buplen di tengah meja. Membubuhkan tanda tangan pada laporan tersebut.
Dia menyerahkan laporan tersebut pada Sungmin. Lalu, menyandarkan punggungnya pada kursi empuk yang ia duduki.
"Terima kasih, Boss."
Donghae mengangguk.
"Jam istirahat sudah lewat, apa Boss tidak makan siang?" tanya Sungmin. Dia bisa saja memesan makanan dari restoran di depan dan meletakkannya di meja Donghae. Tapi, Sungmin agak sangsi melihat atasannya yang tak berniat makan seperti itu.
"Benarkah?" Donghae melirik jamnya. Tak menyadari jika saat ini sudah melewati jam makan siang.
"Iya Boss. Perlu aku pesankan makan untukmu?" tawar asistennya.
Donghae menggelengkan kepala. "Aku sedang malas."
Sungmin mengangguk. "Kalau begitu saya permisi keluar, Boss," pamitnya sopan.
"Sungmin-ah," panggilan Bossnya itu menghentikan langkah Sungmin.
"Iya Boss."
"Ketika pulang kerja, kau bisa mampir ke apartemenku?"
"Oke Boss. Apa yang perlu kukerjakan?"
"Kau hanya perlu merapikan beberapa ruangan."
Sungmin menaikkan sebelah alisnya. Merapikan ruangan? Bukankah itu pekerjaan asisten rumah tangga? Apakah kini ia menjabat menjadi asisten rumah tangganya juga?
"Aku tahu itu bukan pekerjaanmu. Tak seharusnya kau melakukan itu. Tapi, bantu aku kali ini. Kau bersihkan apartemenku. Sebagai gantinya aku berikan dua kali gaji untuk bulan ini," Donghae menawarkan. Dia jengah melihat kondisi apartemennya yang super berantakan.
Donghae sudah berusaha membereskan kekacauan yang ia buat sendiri. Tapi ternyata ia tidak berbakat dengan pekerjaan rumah. Benar-benar kacau kalau dilihat.
"Oke Bos. Ada yang lain? Apa perlu kucarikan asisten rumah tangga baru untukmu?" tawar Sungmin. Sejak asisten rumah tangga Boss-nya yang terakhir menyerahkan surat pegunduran diri. Sungmin memang belum sempat bertanya pada Donghae untuk mencari asisten rumah tangga baru. Pantas, Boss-nya sangat persistent memintanya untuk membersihkan apartemennya.
Donghae menggeleng. "Tidak perlu."
Semenjak Hyukjae meninggalkannya. Tak pernah ada orang lain yang datang ke tempat Donghae, kecuali Sungmin. Donghae merasa ia tak ingin ada orang yang mengambil alih posisi Hyukjae di apartemennya. Katakan, Donghae sedikit gila, ia hanya tak ingin gambaran Hyukjae yang tertinggal di apartemennya terhapuskan oleh orang lain.
Di dalam diri Donghae, masih ada harapan Donghae akan menemukan Hyukjae ketika ia pulang. Hyukjae akan berdiri di balik konter dapur, tengah menyiapkan masakan untuknya. Donghae akan menunggunya sambil memandang lelaki itu lekat. Donghae sangat ingin mengulang hal itu.
Donghae masih berharap jika suatu hari, Hyukjae akan menginjakkan kaki di apartemennya lagi. Suatu hari nanti.
"Sungmin, jangan menyentuh apapun di dapur dan jangan masuk ke dalam kamarku. Kau boleh membersihkan tempat lain selain dua tempat itu. Mengerti?"
Dapur itu, tempat Hyukjae memasak untuknya. Ia tak ingin ada orang lain menyentuhnya.
Sungmin mengangguk. Meski di dalam hati ia ingin mengajukan tanya. Dapur dan kamar? Oke. Boss-nya lama-lama agak aneh.
"Ada yang lain Boss?"
Donghae melirik kalender di mejanya. Ada satu tanggal yang sengaja ia lingkari di bulan ini. Satu tanggal yang begitu sakral di bulan ini. Suatu hari di bulan Juli. Donghae menghel nafas berat. Menatap ke langit-langit.
"Batalkan kegiatanku untuk besok pagi, ada satu tempat yang harus aku datangi."
.
.
Ryeowook menatap kakaknya yang bergerak gelisah. Raut wajahnya lebih muram dibanding beberapa hari yang lalu. Bahkan selama menemaninya, Hyukjae tak mengucapkan sepatah kata pun kecuali saat menyapa dan membantunya makan.
Sesuatu hal buruk pasti terjadi pada kakaknya. Ryeowook sangat peka. Ia mengerti pasti ada yang terjadi. Jika ini tak berhubungan dengannya, berarti dengan satu orang.
Donghae.
Duh, lelaki pengecut itu pasti sudah berulah. Ryeowook jengkel sekali, padahal dia sudah mengancamnya untuk menjauhi Hyukjae.
Ryeowook menelan masakan rumah sakit yang tidak menggugah selera itu dengan terpaksa. Rasa buburnya hambar.
Kakak lelakinya itu tersenyum saat piringnya tandas. Tapi, senyumnya tak pernah menyentuh mata. Tampak kaku dan dipaksakan.
Benar-benar, apa yang telah dilakukan lelaki pengecut itu? Apa ulah yang ia perbuat? Jika saja Ryeowook tak terkurung di kamar sempit ini, ia pasti akan berulah dengan menemui lelaki tersebut. Sudah cukup Ryeowook melihat Hyukjae menderita.
"Hyung."
Kakaknya tak fokus. Tengah membereskan piring makan Ryeowook.
Ryeowook memanggilnya lagi. Ia merutuki dirinya sendiri. Hyukjae tak mungkin mendengarkannya kalau kakaknya saja tidak melihatnya.
Tangan Hyukjae tengah ia gamit. Ryeowook menyentuhnya agar Hyukjae menengok kepadanya. Hyukjae menatapnya bingung saat mereka bertemu pandang.
"Hyung, bawakan aku makanan besok," ucapnya dengan pelan. Tenggorokan Ryeowook terasa tercekat ketika mengucapkannya.
Hyukjae terkesiap. Tangannya teracung untuk menutup mulutnya. Maniknya berkedip cepat. Selama Ryeowook dirawat, adiknya belum satu kalipun bicara padanya.
"Apa kau paham? Bawakan aku masakan rumah, aku bosan makan makanan itu."
Hyukjae mengangguk patuh. Rasa senang hinggap di dadanya. Meski itu tak menampik perasaan sesak yang menyelimutinya.
"Oke Ryeowookie. Hyung akan buat masakan terenak untukmu. Agar kamu cepat keluar dari sini," ucapnya dengan senyuman.
Padahal Hyukjae tahu, jika pengobatan Ryeowook membutuhkan waktu satu dua bulanan di bawah pengawasan psikiater Oh secara langsung. Ryeowook akan keluar dari rumah sakit, jika psikiater Oh sudah mengizinkan. Meski, secara fisik adiknya sudah sehat. Mentalnya masih dikhawatirkan. Mengingat, Ryeowook masih sering berhalusinasi mendengar suara-suara di kepalanya. Tapi, membahagiakan Ryeowook juga memberi impuls yang baik untuk kesehatannya.
Hyukjae merasa sedikit lega. Beban di dadanya ada yang terangkat.
Dia tak bisa menahan dirinya untuk merengkuh adiknya itu. Memeluk adik kecilnya dalam pelukan hangat. Hyukjae menangis untuk kesekian kalinya.
Perasaan rindu dan bahagia bercampur. Ia rindu hangatnya keluarga. Sudah saatnya mereka memulai dari awal.
Melepas pelukannya. Hyukjae menatap Ryeowook dengan wajah merah. Adik kecilnya itu ikut menangis. Pipinya basah dibanjiri air mata.
"Kita mulai dari awal, Ryeowookie. Meski hanya kau dan aku. Tapi, kita takkan pernah saling meninggalkan lagi. Apa kau mengerti? Berkali-kali akan selalu aku ucapkan, Hyung sangat menyayangimu," tekad Hyukjae.
Ryeowook menganggukkan kepala. Kembali menarik Hyukjae untuk memeluknya.
Di balik bahu kakaknya itu. Ryeowook menangis tersedu. Mengucapkan beribu kata maaf untuk sang kakak. Dalam hati dia telah berjanji, dia takkan membiarkan siapapun membuat kakaknya menderita. Tak satupun.
.
.
"Ah, aku tak melihatmu sampai disini, Hyukkie," ucap Heechul saat keduanya saling memandang.
Hyukjae mengulas senyum. Setelah menemani Ryeowook makan siang. Hyukjae buru-buru kembali ke toko bunga.
"Tadi Hyung sedang mengurusi bunga yang akan diantar, aku langsung masuk ," katanya.
"Apa kau sudah makan siang?"
Hyukjae mengiyakan dengan anggukan kepala. "Aku menemani Ryeowook makan Hyung."
Heechul mengamati bunga daisy yang tengah Hyukjae pegang. "Bagaimana kabar Ryeowook? Apa dia baik?"
"Dia semakin terlihat bahagia Hyung. Kau harus datang menemuinya sesekali,"
Heechul mendengus. "Adikmu itu terkadang menyebalkan. Tapi, aku rindu juga jika tak bertemu dengannya."
Hyukjae tertawa kecil. Heechul dan Ryeowook memang tak seakur dia dengan Heechul. Sama-sama bermulut pedas ternyata tak membuat mereka akur, Hyukjae malah keseringan melihat adiknya beradu argumen dengan Heechul. Keduanya kan tidak ada yang mau kalah.
Hyukjae memotong daun kering yang tumbuh pada bunga daisy-nya. Sembari menyemprotkan vitamin pada bunga tersebut.
"Kau sangat suka daisy," ujarnya.
"Ini kesukaan Ibu Hyung. Kau ingat kan pekarangan rumah dipenuhi bunga ini setiap musim semi, karena terbiasa, aku jadi ikutan suka dengan bunga ini."
Hyukjae mengulas senyum sambil membayangkan masa lalunya. Rumahnya yang benar-benar terasa rumah dulu, selalu dipenuhi dengan bunga daisy. Baik di dekat jendela maupun di pekarangan kecil.
Ibunya selalu suka warna putih bunga daisy. Ibunya mengatakan itu bunga pertama yang diberikan Ayah pada Ibu ketika Ayahnya mendekatinya dulu. Sehingga, bunga kecil dan sederhana itu selalu menempati spot penting di hidup Ibunya.
"Besok kau izin, kan?"
"Iya Hyung."
"Apa perlu besok kuantar kesana?"
"Tidak usah lah Hyung. Aku bisa naik bus saja. Kalau Hyung mau datang juga tak apa, kan?"
"Benar juga sih. Tapi, mungkin aku bisa datang agak sore. Kau tahu kan untuk besok banyak sekali pesananan bunga," ucap Heechul.
Sepupunya tertawa kecil. "Kenapa kau terdengar seperti mengeluh?"
Heechul mengerucutkan bibirnya. "Bukan mengeluh. Aku juga kan ingin menghabiskan waktu bersama Hangeng. Kalau sibuk seperti ini terus, kapan bisa pacaran?" gerutu lelaki cantik itu.
Hyukjae mengernyit. "Ayolah Hyung. Seharian sampai malam pun kau kan bertemu Hangeng Hyung terus. Kau berkata seolah tak pernah bertemu saja dan terpisah lautan yang jauh," sindirnya.
"Iya memang kenapa kalau setiap hari bertemu dan aku masih merindukannya? Setidaknya aku lebih jujur dibanding seseorang," Heechul balik menyindir.
Hyukjae menyerah saja. Dia tahu kemana pembicaraan ini akan berakhir kalau dilanjutkan. Menggigit bibir, Hyukjae berpikir untuk mencari topik lain. Dia baru ingat kalau ada satu hal penting yang ingin ia ucapkan pada Heechul.
"Hyung, boleh aku meminta sesuatu,"
"Apa?"
Sedikit gugup, Hyukjae menggigit bibir bawahnya lagi. "Tabunganku hampir habis untuk biaya rumah sakit Ryeowook. Apa boleh aku meminta gajiku bulan ini duluan? Aku ingin mendaftar kelas terapi bersama psikiater Oh, Hyung."
Suara rintihan terdengar saat Heechul menyentil kepala Hyukjae cukup keras.
"Dasar bodoh."
Hyukjae mengaduh kembali saat sentilan di dahinya berulang. Dia suka sepupunya yang lembut dan hangat seperti semalam. Yang menyemangatinya dan menghiburnya dengan kata-kata lembut.
Bukan sikap galak seperti ini. Ugh, tapi ini Heechul yang biasanya. Ceplas-ceplos dan berlaku agak kasar.
"Aku tidak bodoh, Hyung," sangkalnya sambil memandang Heechul dengan tatapan terluka.
Heechul melipat tangan di depan dada. "Sudah kubilang untuk segera mendaftar kelas terapi dengan psikiater Oh. Pantas saja, kau belum cerita apapun tentang terapimu. Ternyata kau belum melakukannya. Apa itu yang kau sebut tidak bodoh, huh?"
Hyukjae menyerah sekali lagi. Keningnya terasa ngilu ternyata. Sentilan Heechul cukup keras. "Iya-iya, aku bodoh."
"Kau tak usah memikirkan tentang uang. Segera daftar terapi dengan psikiater Oh. nanti untuk tanggungan biaya, pakai kartuku saja. Mengerti?"
Hyukjae merasa tak enak hati. "Tapi, Hyung, sekali mengikuti kelas terapi dengan psikiater kan cukup mahal."
Heechul melotot. "Memangnya kenapa kalau mahal? Kau pikir aku tak punya uang untuk membayarnya?"
Terkutuk mulutnya. Kenapa tidak diam saja. Heechul kalau sudah bertekad pasti tidak bisa terkalahkan. "Iya-iya. Secepatnya aku akan mendaftar kelas terapi. Terima kasih Hyung."
"Satu lagi, tingkahmu ini juga bodoh."
"Apalagi Hyung?" Hyukjae sebenarnya tak suka dikatai bodoh. Meski tak melanjutkan sekolahnya hingga jenjang kuliah, tapi saat sekolah dulu Hyukjae termasuk peringkat sepuluh besar.
"Kau, bersembunyi dari Donghae. Apa kau pikir itu tindakan yang tidak bodoh?"
Rasanya, Hyukjae seperti dipanah di bagian dada. Ucapan Heechul membuatnya kalah telak. Hyukjae ingin mengecilkan diri dan mengerut di sudut ruangan saja. Kenapa Heechul kembali mengucapkan nama orang itu setelah semalam ia menangis di depan Hyungnyae juga karena orang itu.
"Apa yang kau tunggu?"
Hyukjae tak tahu harus menjawab apa. Karena memang benar. Ia bersembunyi dari Donghae. Sikapnya ini tidak adil untuk lelaki itu. Jika Hyukjae tak menginginkan hubungan dengannya, Hyukjae seharusnya tidak menunda. Mengatakannya langsung pada Donghae. Sehingga, mereka bisa saling meninggalkan dan melangkah pada pilihannya masing-masing.
Hyukjae bahkan belum tahu apa perasaan Donghae terhadapnya benar-benar cinta? Atau Donghae sekarang jijik padanya? Atau perasaan itu hanya iba? Rasa kasihan.
"Kau memang butuh waktu. Tapi, bukan berarti kau seperti pengecut yang bersembunyi. Jika sudah siap dan memantapkan hati, segera bereskan urusanmu dengan Donghae. Kau tak kasihan jika Donghae benar mencintaimu, dan dia terluka dengan sikapmu, Hyukkie?" Heechul kembali lembut menenangkannya.
Manik Hyukjae terfokus ke arah lain. Jika ia terus-terusan memandang Heechul dan membaca gerak bibirnya. Hyukjae semakin tersudut dan merasa bersalah.
Binar matanya menatap bunga daisy yang tengah mekar. Kelopak putih bunga itu tampak sederhana tapi indah. Melambangkan sebuah kasih yang setia, Ibunya dulu bilang begitu.
Hyukjae tahu betul perasaanya pada Donghae juga sama dengan bunga ini. Perasaan cinta kasih yang setia. Meski, Donghae tak mencintai dan menerima kekurangannya pun. Lelaki itu takkan begitu saja lenyap dari hati Hyukjae. Karena, perasaan sayang ini semakin mendalam dari hari ke hari.
Memejamkan kelopak matanya, Hyukjae berharap. Kasih setianya itu terbalas.
.
.
Columbarium* itu tampak sepi ketika Hyukjae menginjakkan kaki di lantai putihnya. Ia menatap gedung bercat putih tersebut. Gedung yang sangat sederhana. Hyukjae menghembuskan nafas lega ketika memasuki columbarium. (*rumah abu)
Hanya ada beberapa pelayat yang berlalu lalang serta staf penjaga. Staf penjaga columbarium tengah sibuk, Hyukjae membungkukkan badan untuk menyapa. Ia melangkahkan kaki menuju salah satu ruangan dimana tempat peristirahatan Ayah dan Ibu Hyukjae berada.
Ruangan itu berupa lemari kaca yang tinggi. Dengan abu jenazah yang dimasukan ke dalam guci kecil di setiap rak lemari.
Hyukjae segera melangkah menuju tempat disimpannya abu jenazah Ibu dan Ayahnya yang berdampingan. Ia mengeratkan genggamannya pada bunga daisy yang tengah ia bawa. Hari ini ia merangkai bunga daisy dengan petal berwarnakan putih yang memiliki bundaran lebar berwarna kuning di tengahnya.
Di balik almari kaca itu, berjajar foto Ibu dan Ayahnya. Ada satu foto keluarganya saat mereka masih lengkap. Ia merasakan perasaannya campur aduk. Sedih, duka, dan merindu. Hyukjae menitikkan air mata meski wajahnya mengulas senyum ketika melihatnya.
Seandainya kecelakaan itu tak terjadi.
Seandainya.
Jemari Hyukjae menyentuh lemari kaca tersebut. Mengetuk tepat di bagian foto keluarganya terletak.
"Apa kabar Ibu, Ayah?" tanya Hyukjae dalam kesunyian.
Memejamkan maniknya. Hyukjae berkhayal, di balik sana suara Ibunya yang lembut membalas ucapannya. Serta suara berat Ayahnya itu ikut membalas.
Jika mereka masih disini. Hyukjae ingin memeluknya dengan erat. Hingga, tak ada alasan lagi Hyukjae dan Ryeowook ditinggalkan.
"Ayah pasti akan mengejekku kalau aku masih menangis seperti ini. Maaf aku tak bisa tersenyum seperti janjiku dulu. Maaf juga karena aku tak bisa datang beberapa bulan terakhir."
Setelah kecelakaan tersebut. Hyukjae menjadikan Ibu dan Ayah sebagai alasannya untuk hidup. Perasaan ingin menyalahkan dan kata seandainya masih menggantung di dalam dadanya. Tapi, setiap ia melihat Ryeowook, Hyukjae harus menekan perasaan itu. Berusaha menjadi kakak yang tegar dan bisa menjaid tempat bersandar.
Hyukjae berjanji untuk tidak menunjukkan air mata di depan Ayah dan Ibunya. Tapi, ternyata sulit sekali.
"Kalian tahu, rasanya begitu sulit untuk melalui hari-hari. Ryeowook sakit, adik kecilku sakit. Kalian pasti akan sangat khawatir. Tapi, tenang saja. Ryeowook itu anak yang hebat, dia bisa melewati semua ini. Aku akan berusaha menjaganya untuk kalian."
Hyukjae melanjutkan ucapannya. Menceritakan satu per satu yang dialami. Perasaan sakit dan bingungnya ketika ia dihadapkan pada seorang lelaki. Rasa sedihnya ketika mendapati kenyataan jika Ryeowook sakit. Banyak hal lain. Ia berceloteh panjang. Meski dia tak tahu, apa Ayah dan Ibunya benar-benar dapat mendengarkannya. Hyukjae tidak peduli.
"Ibu Ayah, aku rindu pelukan kalian? Apa kalian baik-baik saja di surga?"
Kening Hyukjae ia letakkan di depan lemari kaca. Jarinya masih mengetuk di spot yang sama. Melirik foto Ibu, Ayah, dirinya dan Ryeowook yang tengah tersenyum.
"Seharusnya aku tak boleh menangis, kan?" Hyukjae mengusap air matanya. Bibirnya masih bergetar menahan tangis.
Tarik. Hembuskan. Tarik. Hembuskan.
"Ayah dan Ibu. Kalian pasti masih mengamati kami, kan? Aku berjanji, setelah ini aku akan lebih menjaga dan menyayangi Ryeowook."
Bibir Hyukjae tertarik. Mengembangkan sebuah senyuman yang tulus. Di sekanya bulir air mata yang jatuh ke pipi. Masih memandang lama pada lemari kaca tempat abu Ayah dan Ibunya disemayamkan.
"Aku menyayangi kalian."
Hyukjae merundukkan kepala. Air mata masih setia jatuh. Jika dia terus-terusan menatap Ibu dan Ayahnya. Hyukjae tak kuasa membendung tangis.
Lewat maniknya yang mengabur. Hyukjae menatap sebuah pot bunga daisy yang ada di dekat sepatunya. Bunga daisy putih yang diletakkan di lantai. Seorang pelayat pasti ada yang datang dan meletakkannya disini. Sedikit unik, bukan rangkaian bunga yang dibawa. Melainkan bunga daisy beserta potnya yang berwarna biru.
Tubuh Hyukjae merunduk. Hyukjae meletakkan bunga daisy yang dia bawa di sebelah pot bunga daisy. Pot itu tampak begitu familiar, seolah Hyukjae pernah melihat. Tapi, ia mengenyahkan pikirannya.
Satu kali memandang Ayah dan Ibunya lagi. Hyukjae membungkukkan badan, memberi hormat.
"Ayah, Ibu. Aku pergi," pamitnya dengan sedih.
Kakinya melangkah keluar. Rasanya berat setiap kali ia pergi melayat Ibu dan Ayahnya. Hyukjae selalu merasa tak ingin pulang, tapi dia tak tahan merasakan dadanya sakit menahan rindu kepada keduanya.
Ketika ia akan mencapai pintu keluar. Seorang lelaki yang tengah berjalan dari arah berlawanan menarik perhatian Hyukjae. Bola mata Hyukjae membulat menatapnya.
"Cha Ahjussi," sapa Hyukjae. Ia membungkukkan badan saat melihat salah satu petugas kebersihan di columbarium ini. Dia kenal siapa Cha Ahjussi. Beliau merupakan teman mendiang Ayah Hyukjae. Cha Ahjussi ini salah teman satu tim Ayah ketika masih bermain sepak bola.
"Hyukjae-ah," lelaki tua itu menepuk bahunya sambil tersenyum. "Sudah selesai melayat?"
Hyukjae mengangguk. "Iya Ahjussi."
"Kemana adikmu? Apa dia tak ikut melayat?"
Kepala Hyukjae menggeleng. "Ryeowookie tengah sakit, Ahjussi. Dia belum diperbolehkan keluar rumah sakit. Jadi aku datang sendiri."
"Sungguh? Aku baru mendengar beritanya. Katakan pada adikmu aku mendoakan agar dia cepat sembuh."
"Terima kasih Ahjussi."
"Oh iya. Kupikir tadi pagi itu kau yang datang."
Hyukjae menyerap apa yang diucapkan Cha Ahjussi. "Aku baru saja datang Ahjussi. Tadi ada yang datang kesini sebelum aku?"
Cha Ahjussi mengangguk. "Saat aku akan membersihkan lemari kaca disini ada seorang lelaki tengah melayat. Dia meninggalkan satu pot bunga di bawah lemari Ayah dan Ibumu. Bahkan pot bunganya masih disana. Kupikir itu kau Hyukjae-ah, pantas ketika kau kupanggil tidak menyahut," sahut Cha Ahjussi.
"Lelaki Ahjussi?" Hyukjae berpikir sejenak. "Bagaimana ciri-cirinya?"
Cha Ahjussi menyipitkan mata, dahinya berkerut sambil mengingat kejadian tadi pagi. "Tingginya hampir sama denganmu, terlihat rapi dan gagah. Aku tak bisa melihat wajahnya secara langsung."
Ciri-cirinya sangat general. Banyak sekali laki-laki berpakain rapi dengan tubuh tegap dan gagah. Sangat umum, tapi entah mengapa Hyukjae membayangkan lelaki itu ketika memikirkannya.
Tidak mungkin. Itu hanya khayalan Hyukjae. lelaki itu tak mengenal Hyukjae sampai sejauh itu. Tidak mungkin jika dia yang datang.
"Apa pot bunga yang Ahjussi maksud itu bunga daisy putih?" tanyanya.
Cha Ahjussi mengiyakan. "Iya, jarang sekali ada pelayat yang membawa bunga serta potnya langsung. Kau mengenalnya, Hyukjae-ah?"
Hyukjae masih berpikir. Bibir bawahnya ia gigit. Jemarinya tengah bergerak gelisah menggamit ujung bahunya. Hyukjae berharap tebakannya benar. Bunga daisy yang ada di bawah lemari kaca Ayah dan Ibunya disemayamkan adalah dari lelaki itu.
"Aku harap aku mengenalnya Ahjussi. Kalau begitu, aku pamit dulu Ahjussi," ucapnya pada lelaki tua di hadapannya.
Hyukjae ingin harapannya benar.
.
.
Menginjakkan kaki kembali di tempat ini rasanya seperti mimpi bagi Hyukjae. Ia seolah tengah tertidur dengan mimpi yang begitu indah. Ia masih tak percaya, dirinya berani kembali ke tempat ini.
Hyukjae sempat dilanda rasa cemas dan kebingungan. Hatinya mengatakan iya selama kakinya berjalan tak berarah. Ia menggigit bibir dan meremas jemarinya selama perjalanan. Hyukjae ingin sekali mengikuti kata hatinya, meski ia takut.
Dalam peperangan melawan hatinya sendiri. Akhirnya akal sehat Hyukjae mengaku kalah. Untuk kali ini, ia ingin mengikuti hatinya, tanpa ada paksaan lagi.
Memantapkan hatinya, Hyukjae pun melangkah dengan sigap. Kaki-kakinya begitu cepat membawa Hyukjae ke tempat ini. Hyukjae sempat kebigungan saat berada di depan pintu apartemen.
Ia takut, jika password yang dulu dia hapal betul kini telah berganti. Takut-takut, jarinya yang basah menekan beberapa digit angka. Ia menarik nafas panjang sembari menunggu pintu tersebut.
Dan klik.
Suara pintu yang terbuka.
Senyum Hyukjae terulas cepat begitu pintu tersebut dapat terbuka. Ia masuk dengan perasaan cemas yang kembali melanda.
Dia
Mulut Hyukjae terbuka lebar saat ia sudah menginjakkan kaki ke dalam apartemen tersebut. Hyukjae merasa apartemen yang dulu selalu ia bersihkan dan ia rapikan tampak tak berbeda. Kecuali beberapa ruangan yang tampak kacau.
Kaki Hyukjae segera melangkah menghampiri ruang tengah yang berisikan sofa dan televisi. Ruangan pertama dimana Hyukjae dan lelaki itu dipertemukan. Manik Hyukjae berkaca mencermati ruangan ini.
Dari sofa, Hyukjae bisa melihat letak dapur dan meja makan. Dapur merupakan spot yang paling Hyukjae sukai dari apartemen ini. Dia telah berdiri di depan konter dapur. Apron yang dulu sering ia kenakan masih tergantung di sudut dapur.
Air mata Hyukjae menitik saat maniknya terfokus pada mesin pendingin di hadapannya. Dia ingat ketika awal pertemuan dengan Donghae. Pintu kulkas itu merupakan spot baginya untuk menuliskan memo untuk Donghae. Donghae, majikan yang tak pernah bertemu secara langsung dengannya.
Hingga, kejadian suatu pagi ketika dia menemukan Donghae tengah sakit. Terbaring menyedihkan di atas sofa.
Hyukjae menggigit bibirnya ketika angannya kembali ke saat itu. Saat dia masih bebas menatap Donghae dan memperhatikan majikannya.
Memo pertama yang Hyukjae baca bertuliskan kerinduan Donghae kepadanya. Memo-memo selanjutnya masih berisikan hal yang sama. Hal-hal yang tidak pernah Hyukjae impikan bisa dirasakan Donghae terhadapnya.
Sebegitu rindukah lelaki itu terhadapnya?
Tangannya ia bekap saat suara isaknya lolos. Hyukjae merasa ia semakin menjadi lelaki yang lemah. Menangis, mengingat, menangis, mengingat. Kenapa selalu begitu? Kenapa ia harus memiliki perasaan yang lebih peka daripada laki-laki lain di luar sana?
"Jangan menangis," bisiknya.
Meneguk ludahnya. Hyukjae menenangkan diri. Bibir bawah Hyukjae terasa anyir, dia terlalu kuat menggigitnya sampai menimbulkan sobekan kecil yang mengeluarkan darah. Ia berpegangan pada konter dapur. Mengatur nafasnya yang tersenggal.
Ketika pikirannya mulai tenang. Hyukjae kembali menatap sekeliling. Tak ada yang berubah. Kecuali, beberapa gelas dan piring bertumpukan di wastafel cuci. Hyukjae tersenyum kecil. Pasti dia kesulitan untuk membersihkan apartemen, sampai-sampai masih ada tumpukan peralatan makan di bak cuci.
Tangan Hyukjae mengambil sarung tangan cuci. Ia meletakkan tasnya di konter dapur yang kering. Mengenakan apron yang dirindukannya. Bergegas menuju bak cuci piring dan membersihkan satu persatu peralatan makan itu sampai kinclong dan berbau wangi.
Senyuman Hyukjae semakin mengembang ketika acara mencuci piringnya selesai. Ia melepaskan sarung tangannya. Entah kenapa Hyukjae merasa tidak puas. Kakinya tanpa sadar berjalan menuju kulkas kembali. Mengabaikan memo yang tertempel disana kali ini. Ia mengecek keberadaan isi mesin pendingin itu.
Suara dengusan Hyukjae terdengar saat kulkas melompong. Tak ada isinya, bahkan sayuran atau buah yang seharusnya ada disana pun tidak ada. Makanan kaleng saja tidak ada. Apa yang dimakan dia selama Hyukjae tak mengurusnya? Hyukjae merasa khawatir jika melihat ini.
Hati kecil Hyukjae sangat tertarik untuk memasak. Dia paling menyukai ekspresi Donghae ketika sedang menyantap masakannya. Entahlah, Hyukjae merasa bangga pada dirinya sendiri tiap lelaki itu menghabiskan piringnya sampai tandas.
Katakan saja, dia rindu memasak untuk lelaki itu. Sayang, Hyukjae harus menahan keinginannya. Mengingat kondisi kulkas yang tidak tersedia satu bahan pun, Hyukjae meringsut sedih. Tanpa melepaskan apron yang dikenakan, Hyukjae berkeliling kembali. Tangannya tergerak mengambil vacum cleaner. Secepat kilat Hyukjae tengah sibuk membereskan ruangan.
.
.
Bunga daisy itu memiliki satu keunikan. Kelopak bunganya yang lembut itu akan membuka setiap sang surya datang. Tampak indah dan bermekaran menatap matahari yang tengah menyinari dunia. Lalu, saat petang datang menggantikan pagi, kelopaknya akan mengatup dengan sendirinya. Mengikuti matahari yang turut pergi.
Di tangan Hyukjae kini ada pot kecil dari bunga daisy. Dia memandang bunga daisy yang petal-nya mulai melayu. Menutup karena siang sudah berganti dengan malam. Matahari sudah bergeser digantikan rembulan.
Hari sudah malam. Langit yang kelabu tanpa bintang serta kerlap-kerlip lampu penerangan di kota Seoul. Hyukjae menikmatinya. Dia membiarkan angin menampar wajahnya saat ia berdiri di dekat pagar balkon. Angin itu, membantunya untuk menenangkan pikiran. Jantungnya berdegup tak karuan beberapa saat terakhir ini.
Melangkah mundur. Hyukjae meletakkan pot bunga daisy itu di tempatnya semula.
Hyukjae sudah menghitung. Hanya ada dua pot bunga daisy di dekat pagar balkon. Padahal seingatnya, ada tiga bunga daisy. Ia masih ingat ketika ia memberikan vitamin dan menyirami bunga itu berminggu-minggu yang lalu.
Kemana perginya satu pot yang satunya?
Apa benar dugaan Hyukjae tadi?
Jika memang benar. Manik Hyukjae mengerling penuh dengan binar bahagia. Senyuman itu muncul malu-malu di wajahnya.
Bunga daisy ini merupakan bunga yang sengaja Hyukjae bawa dari toko. Hyukjae merawatnya dan meletakkannya di apartemen Donghae. Dulu, dia berpikir apartemen seindah ini pasti akan lebih cantik dengan adanya bunga. Karena itu, ia meletakkan tiga pot bunga daisy yang masih kecil di balkon.
Namun, semenjak dia menjauh dari kehidupan Donghae. Hyukjae tak pernah merawat bunga ini lagi. Dia cukup terkesan melihat kondisi bunga daisy ini. Masih tampak segar, sepertinya Donghae tak lupa menyiramnya setiap hari.
Bicara tentang Donghae. Kemana lelaki tersebut?
Awalnya, Hyukjae sempat was-was untuk datang kembali ke apartemen ini. Dia tahu, untuk memantapkan hati bertemu Donghae tidaklah mudah. Jujur saja, selama tadi dia masuk ke dalam apartemen. Hyukjae berdoa di dalam hati agar Donghae tidak ada.
Suara bersin terdengar dari mulutnya. Udara Seoul malam ini cukup dingin. Hyukjae memeluk tubuhnya sendiri. Mengusir dingin yang menusuk. Puncak hidungnya memerah karena dingin. Padahal ini musim panas, tetapi kenapa ketika malam sangat dingin?
Hyukjae memutuskan untuk kembali masuk ke dalam apartemen. Terlalu lama di luar bisa-bisa ia sakit. Hyukjae membiarkan pintu balkon terbuka. Dia memilih duduk di sofa ruang tengah. Sofa tempat dia pertama kali menemukan Donghae. Tangan Hyukjae menelusuri garis-garis sofa mengulang pertemuan pertama mereka lagi di dalam pikirannya.
Ia menekuk kakinya. Meletakkannya di atas sofa. Hyukjae kemudian meringkuk di sudut sofa tersebut. Menjadikan lengan sofa sebagai bantalan kepalanya. Hyukjae menatap ke atas, memandang langit-langit apartemen Donghae.
Maniknya melirik jam dinding. Saat ini sudah pukul delapan lebih. Tapi, Donghae tak juga nampak. Kemana dia? Apa lelaki itu tidak pulang?
Hyukjae menggigit bibir dengan cemas.
Berbaring di sofa ini, membuat Hyukjae merasa dekat dengan lelaki itu. Aroma tubuh Donghae seolah tertinggal di sofa tersebut. Seakan Donghae tengah memeluknya seperti saat pertemuan terakhir mereka. Hyukjae semakin meringkuk dalam nyaman.
Dia memejamkan kelopak mata. Menikmati lamunannya seakan Donghae memang nyata tengah memeluk tubuhnya.
Tuhan, Hyukjae tidak ingin mengelak lagi. Ia merindukan lelaki tersebut. Rasa rindu dan cintanya yang semakin dalam, rasanya tidak bisa ia bendung kembali. Hyukjae ingin mengungkapkannya. Tak peduli apapun yang terjadi setelahnya.
Yang paling penting, kasihnya untuk Donghae tulus.
.
.
Pagi-pagi sekali Donghae terbangun untuk pergi berkunjung ke suatu tempat spesial. Setelahnya, Donghae menghabiskan waktu untuk pulang ke Mokpo. Kota kelahirannya. Ibunya sangat kaget saat ia sampai di depan rumah. Donghae dapat menebak hal itu. Dia bukan tipikal anak yang sering berkunjung. Karena kesibukan dan jarak Seoul dengan Mokpo yang tidak dekat.
Dalam pelukan Ibunya, Donghae menenangkan hatinya. Wanita tua dengan senyuman ramah itu berkali-kali mengusak rambutnya.
"Apa kau sudah makan?" Ibunya bertanya.
Donghae menggeleng.
"Ibu siapkan makan dulu untukmu." Nyonya Lee bersiap untuk beranjak. Melepas pelukan anak bungsunya itu.
Donghae mengelak. Ia semakin mempererat pelukannya. Nyonya Lee cukup kaget, saat bahunya basah.
Anak bungsunya itu merpakan tipikal lelaki yang mandiri dan cuek. Donghae menunjukkan sisi manjanya hanya saat kecil, setelah ia beranjak remaja Donghae berubah menjadi sosok yang mandiri dan jarang terbuka dengan orang lain, berbeda dengan kakaknya Lee Donghwa.
Tapi, Nyonya Lee selalu tahu jika Donghae memiliki perasaan yang lebih sensitif dibanding kakaknya. Dia mengerti Donghae. Pasti ada sesuatu hal yang sedang terjadi.
Tangannya mengelus lembut rambut Donghae. Dia merasa seperti sedang menenangkan Donghae kecil. Donghae yang setiap hari pulang bermain dengan menangis sambil menenteng mainannya yang rusak.
Tidak mungkin kan, saat ini Donghae menangis karena mainannya yang rusak? Sejujurnya, Nyonya Lee sudah gatal ingin bertanya. Tapi, ia membiarkan anaknya itu mengaku sendiri.
Setelah selesai dengan pelukan mereka. Donghae sudah duduh di meja makan. Menghabiskan masakan Ibunya dengan lahap. Seolah, kejadian beberapa menit yang lalu tidak pernah terjadi.
"Seingat Ibu, terakhir kau menelpon lewat video call badanmu agak gemukan. Kau terlihat sehat, kenapa kau jadi kusut lagi seperti ini?" Nyonya Lee berkata. Ia ingat sekitar tiga mingguan yang lalu saat Donghae menelpon. Anaknya tampak bahagia dan terurus.
Donghae mengedikkan bahu. Kembali melahap ikan asapnya.
"Kenapa tidak menjawabku, Hae?" Ibunya memanggilnya dengan panggilan itu. Panggilan masa kecilnya. Hanya Ayah, Ibu dan Donghwa memanggilnya seperti itu.
"Tidak Ayah, tidak anak. Selalu diam saja kalau aku ajak bicara," keluh Ibunya.
Donghae meraih gelas minumnya. Setelah meneguk air tersebut, ia mengulas senyum. "Maaf Bu."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Habiskan makanmu, setelah ini temani Ibu ke kebun."
Putra bungsunya itu mengangguk. Mengunyah makannya dengan cepat.
.
.
Donghae mengikuti Ibunya menuju kebun. Di sisi samping rumah orang tuanya yang besar dan mewah itu, Ayahnya sengaja membangun sebuah kebun untuk Ibunya. Donghae tahu kesukaan Ibunya itu adalah berkebun.
Beberapa buket mawar yang ditata cantik di vas bunga rumah mereka adalah hasil mawar dari kebun Ibunya.
"Wah lihat Hae, bunga tulip milik Ibu sudah mekar. Mereka cantik, kan?" tunjuk Ibunya pada rangkain tulip berwarna biru.
"Indah sekali bu," jawabnya.
Aroma kebun itu sangat wangi. Semerbak bunga menguar dimana-mana. Terasa menenangkan.
"Kau harus membawa bunga saat pulang. Pasti apartemenmu kosong melompong tanpa bunga yang cantik."
Donghae tersenyum geli. "Kenapa Ibu bilang seperti itu? Di apartemenku juga ada bunga."
"Benarkah?"
Anggukan lagi yang ia terima.
"Pasti Sungmin yang menaruhnya kan?"
Kali Donghae menggeleng.
"Siapa?" Ibunya bertanya dengan nada jahil. Penasaran dengan tingkah anaknya.
Donghae mengedikkan bahu. Tidak tahu harus menjawab apa. Siapa lagi lelaki yang menaruh bunga di rumahnya. Lelaki itu Hyukjae. Ia tak tahu bisa menceritakan tentang Hyukjae pada Ibunya apa tidak.
"Merahasiakan sesuatu dari Ibu?" Ibunya menerka. Pasti seorang yang membawakan bunga di apartemen anaknya itu berkaitan dengan tingkah anaknya sekarang yang penuh rahasia. Jujur, ia ingin tahu siapa orang itu.
"Suatu saat aku akan bicara Bu. Bukan sekarang," tolak Donghae.
Ibu Donghae mendengus. Ia ingin menyudutkan Donghae sampai anak bungsunya itu bicara. Tapi, sepertinya Donghae belum siap.
"Kalau begitu. Jawab satu pertanyaan Ibu. Apa dia berharga untukmu?"
Manik Donghae menatap lurus Ibunya. Dia ingin mengalihkan pandangan. Tapi, rasanya tidak adil jika ia tidak jujur. Menelan ludahnya, Donghae mengangguk kecil. Hal ini menyebabkan Ibunya mengukir senyum.
"Apa Ibu punya bunga daisy?" Donghae mengalihkan pembicaraan. Dia teringat dengan bunga yang dibawakan Hyukjae. Ada tiga pot bunga indah tersebut. Satu sudah Donghae berikan untuk orang terkasih Hyukjae.
"Dia suka dengan bunga daisy?" Ibunya menebak. Mengabaikan tatapan horor dari putranya yang terkejut.
"Kau diam. Berarti benar tebakan Ibu," ucapan Ibunya itu diakhiri dengan tawa. Ibu Donghae menuntunnya ke sudut kebun. Disana banyak bunga daisy kecil yang tengah tumbuh. Beberapa sudah memekarkan kelopak bunganya.
"Meski kecil dan sederhana, bunga daisy tidak kalah indah, kan?"
Ibuny tidak menunggu Donghae menjawab. Beliau berjongkok di depan hamparan bunga daisy. Menunjuk pada bunga itu yang tengah mekar indah.
"Kau tahu apa arti bunga ini? Bunga daisy itu selalu membuka kelopak bunganya setiap matahari hadir. Dia juga turut menutupnya ketika matahari pergi. Setiap hari seperti itu, makanya ia dikenal dengan sebutan daisy. Itu berasal dari kata day's eyes. Mata hari." Ibunya menjelaskan. Nyonya Lee memang paham dengan sejarah bunga. Kesukaannya pada bunga itulah yang mengantarkannya pada keindahan dicipta Tuhan.
Donghae ikut berjongkok di sampingnya. Mencermati bunga kecil yang sederhana tapi tampak indah itu.
"Daisy itu seperti kasih yang tulus, Hae. Kasih yang setia. Dia lambang dari cinta kasih yang sederhana tapi setia. Apa kau mengerti?"
Donghae menoleh. Ia memandang Ibunya dengan tatapan ingin tahu.
"Siapapun yang membawakanmu bunga ini. Jangan pernah lepaskan dia."
.
.
"Setelah ini aku akan pulang Bu," ucap Donghae sambil melirik jam tangannya. Selama beberapa jam ia membantu Ibunya memberikan vitamin dan merawat bunga di kebun milik Ibunya. Donghae merasa sedikit lelah. Tapi, dia harus pulang. Besok banyak pekerjaan yang menunggunya.
"Kau tak menunggu Ayahmu pulang?"
Donghae menggeleng. "Ayah pasti akan terlalu malam saat sampai rumah Bu. Aku pulang saja."
Ibunya menggamit lengan Donghae. "Tidurlah disini, makan malam bersama Ayahmu. Kau kan jarang pulang ke rumah," pinta Ibunya.
"Tapi Bu..."
"Ibu akan menelpon Donghwa. Biar kakakmu juga datang kesini. Kalian jarang seklali mengunjungi Ibu. Ibu akan menolak jika kau pulang sekarang," Ibunya cemberut. Beliau selalu melakukannya ketika menginginkan sesuatu. Kekanakan memang, apalagi usianya sudah memasuki akhir kepala empat.
Donghae ingin menolak. Tetapi melihat manik Ibunya yang begitu hangat memandangnya. Donghae luluh.
"Baiklah Bu. Tapi, pagi sekali aku harus pulang ke apartemen. Hari ini aku sudah membolos bekerja,"
"Kau dan Ayahmu itu sama saja. Kau berangkat ke kantor dari sini saja. Di kamarmu kan masih banyak baju formal yang bisa kau kenakan."
"Aku harus pulang Bu. Kau ingat kan, aku punya bunga daisy yang perlu di rawat di apartemen?"
"Oke-oke baiklah. Tapi malam ini Hae harus tidur bersama Ayah dan Ibu," putusnya.
Donghae mendengus. Dia bukan anak-anak lagi. Ya Tuhan.
.
.
Mobil Donghae harum penuh aroma bunga. Ia melirik bangku belakang mobilnya yang dipenuhi rangkaian bunga milik Ibunya. Ibunya bilang, dia harus merawat atau setidaknya menjadikan bunga-bunga ini sebagai hiasan rumahnya.
Pagi sekali dia berpamitan. Ibu dan Ayahnya sebenarnya tidak mengizinkannya pulang sebelum sarapan. Semalam Donghae tidur larut sekali, lalu terbangun pagi sekali. Mereka takut Donghae kelelahan di jalan.
Donghae menolak. Meyakinkan kedua orang tuanya untuk pulang saat itu juga. Ayahnya memeluknya. Ibunya tak henti-henti menuntut Donghae untuk segera bicara tentang orang itu, sedang Donghwa―kakak lelakinya―masih bergelung di atas ranjang.
Ketika dia menyetir melewati jalanan menuju Seoul. Arus lalu lintas masih sepi. Donghae bernafas lega, melajukan mobilnya dengan kencang agar ia bisa sampai ke apartemennya cepat.
Setelah memarkirkan mobilnya di lantai parkir. Donghae mengambil rangkaian bunganya. Segera berlari kecil menuju lift untuk naik ke apartemennya.
Rasa kantuk menghampiri Donghae. Ia menguap ketika memasuki lift. Donghae menyandarkan punggungnya di dalam lift. Tubuhnya terasa pegal dan ingin diistirahatkan.
Donghae merasa lelah sekali. Ternyata menyetir lebih dari dua jam bisa membuatnya selelah ini. Ia ingin tidur kembali jika sudah sampai ke apartemen. Mungkin, dia bisa membolos untuk pagi dan datang ke kantor setelah jam istirahat.
Langkah kaki Donghae gontai dan pelan menuju pintu apartemennya. Ia mengucek kedua matanya agar terjaga kembali. Donghae merogoh kartu apartemennya. Kali ini dia malas untuk mengingat password pintunya. Kalau sedang lelah seperti ini, ingatan Donghae agak kacau.
Segera setelah pintu apartemennya terbuka, ia masuk dan menutupnya lagi.
"Aku pulang," ucapnya pada keheningan. Hal ini sudah menjadi kebiasaannya semenjak ada Hyukjae di apartemennya. Meski saat ini lelaki itu tidak mungkin ada disini kembali.
Donghae terheran beberapa saat. Seingatnya kemarin dia sudah mematikan seluruh lampu. Kenapa masih menyala?
Mengedikkan bahu. Dia melepas sepatu yang dia kenakan. Menaruhnya di atas rak sepatu di dekat pintu. Menggantinya dengan sandal selop untuk dikenakan di dalam rumah. Lelaki itu bergegas memasuki apartemennya. Ia ingin cepat-cepat mencari vas untuk meletakkan bunga yang dia bawa. Kemudian, minum air putih, mengganti baju dan pergi tidur.
Kaki Donghae berhenti melangkah. Tubuhnya membeku di tempat. Maniknya membulat menatap hadapannya dengan ekspresi kaget. Rasa lelah dan kantuknta menguap begitu saja.
Deru nafas Donghae tiba-tiba memburu. Bunga di genggamannya ia pegang erat.
Benarkah yang ditangkap maniknya? Apa ini hanya ilusi dan khayalan?
Kakinya yang semula seperti dilem di tempat kini melangkah pelan-pelan. Suara langkahnya nyaris tidak terdengar. Dalam tiap langkah, Donghae mengerjapkan mata berulang. Masih kebingungan apakah ini khayalannya semata.
Ia meletakkan bunga yang dia bawa di atas meja.
Apartemennya masih hening. Yang ia dengar hanya suara degupan jantungnya yang berdetak begitu kencang. Menelengkan kepalanya, Donghae memandang sosok yang tengah tertidur di atas sofa.
Menghadapi orang ini memang tidak semudah itu untuk Donghae. Perasaan Donghae selalu dibuat campur aduk setiap bersamanya. Dia seperti sedang menaiki wahana roller coaster. Merangkak naik, lalu dihujamkan turun, terpelanting ke samping. Berulang-ulang.
Dia berpikir, jika mereka bertemu kembali. Air matanya akan menitik seperti saat itu. Hanya saja.
Dada Donghae terasa sesak. Ada ngilu dan rasa sakit yang tertinggal. Namun, perasaan lega bercampur rindu yang mendalam juga muncul di permukaan.
Donghae duduk bersila di dekatnya. Sofa yang biasanya menjadi tempat kesayangan Donghae setelah ranjang dan meja makannya. Kini menjadi pusat perhatian Donghae.
Lelaki itu bergelung di atas sofanya. Tampak tertidur dalam keheningan. Dia sesekali meleguh kecil. Tubuh kurusnya meringkuk. Lengannya melingkari kedua kakinya yang dia bawa ke dalam dada. Memeluk dirinya sendiri dalam tidurnya.
Senyuman manis Donghae terulas. Lelaki ini tetap terlihat manis dan menggemaskan di mata Donghae.
Rasa rindu itu semakin membuat dada Donghae terpacu. Dengan hati-hati, Donghae meraih jemari lelaki itu yang masih melingkari tubuhnya. Ketika jemari mereka bersentuhan, Donghae menahan nafasnya. Mencermati reaksi yang timbul dari lelaki tersebut.
Lelaki itu mengerang kecil, tapi kembali bergelung lagi. Seperti kucing, batin Donghae.
Donghae meletakkan jemari yang ia genggam itu di pipinya. Mengusapkan jemari itu pada pipinya. Sentuhan dari tangan itu membuat pipinya hangat dan bola matanya memanas.
Kali ini, Donghae tak ingin menitik air mata. Ia meneguk ludahnya, menahan rasa haru yang menyeruak.
Tangan yang ia genggam, ia bawa ke dekat bibirnya. Donghae mengecupnya sayang. Menyalurkan rasa kasihnya pada lelaki itu.
Donghae memajukan tubuhnya. Meletakkan kepalanya di atas sofa, tepat di dekat kaki lelaki itu yang tengah bergelung. Dari sini, Donghae dapat melihat wajahnya begitu dekat. Dia bisa melihat kelopak matanya yang terpejam dengan bulu mata yang panjang tapi tidak lentik.
Kembali, Donghae menempelkan tangan itu di atas pipinya.
"Aku merindukanmu," bisiknya.
Manik Donghae kembali berkaca-kaca. Tapi, senyumannya masih terukir indah di wajahnya.
"Kali ini, kau tidak akan kubiarkan pergi. Aku janji," tekadnya sepenuh hati.
Suara nafas yang teratur itu, menjadi alunan melodi bagi Donghae. Melodi tentang rindunya pada seorang yang tulus ia kasihi.
.
.
Hyukjae tersenyum dalam mimpinya. Ketika ia mengerjapkan kelopak matanya. Wajah Donghae adalah yang pertama kali ia lihat. Senyuman Hyukjae semakin lebar.
Mimpi yang indah.
Donghae dalam mimpinya tidak mengucap apapun. Bibirnya tak bergerak. Tapi, dari bola matanya yang berbinar menatap Hyukjae. Hyukjae bisa merasakan aliran rindu itu tersalur lewat tatapan mereka.
Jemari mereka bertaut. Hyukjae merasakan hatinya menghangat dengan sentuhan itu. Rasa sentuhan dalam mimpinya tampak seperti nyata.
Hati Hyukjae yang merindu semakin terbawa ke awan-awan. Rindunya semakin mendaki ke puncak.
Tanpa pikir panjang. Hyukjae menegakkan tubuhnya. Dia bangun dari tidurnya. Meluruskan kakinya dan mengulurkan tangannya yang satu untuk menyentuh wajah Donghae.
Kedua telapak tangan Hyukjae menangkup wajah tampang lelaki tersebut. Mengusapnya dengan kasih. Membiarkan jemarinya menyentuh permukaan kulit Donghae.
"Aku merindukanmu. Pasti aku tertidur nyenyak sekali sampai-sampai bermimpi bisa bertemu denganmu," desah Hyukjae agak parau.
Hyukjae menggelengkan kepala. Mengusir kebimbangan yang tiba-tiba menggelayuti pikirannya.
"Aku bahagia bisa melihatmu, meski hanya dalam mimpi," akunya dengan sendu.
Karena, jika dia bertemu dalam dunia nyata. Hyukjae tidak tahu apakah ia bisa bicara dengan Donghae tanpa rasa sedih akan rindu, risih pada dirinya sendiri, dan rasa ingin cintanya terbalaskan.
Akan sulit sekali jika dia bertemu langsung. Meski seratus kali pun Hyukjae telah meyakinkan dirinya jika ia mampu.
Hyukjae mengusap pipi Donghae lagi. "Apa kabarmu baik? Apa kau makan dengan benar? Apa ada yang mengurus pola makanmu selama aku pergi? Apa ada yang mengurusi kebutuhanmu?" tanyanya.
Manik Hyukjae menatap lurus pada manik Donghae.
"Apa kau merindukanku juga?"
Pertanyaan itu terlontarkan. Rasa cemas dan tidka percaya pada dirinya sendiri begitu kentara. Hyukjae menggigit bibirnya dengan panik.
"Seharusnya aku tak bertanya seperti itu. Aku harus menikmati saat ini, ketika aku bermimpi tentangmu," keluhnya pada dirinya sendiri.
Dia mendongakkan wajahnya. Berharap maniknya yang berkaca-kaca, tak jadi menitikkan air mata.
"Kau begitu nyata Hae."
Jemari Hyukjae di pipi Donghae terasa hangat. Telapak tangan besar milik Donghae diletakkan di atas jemarinya. Seperti menyentuh Donghae sungguhan.
"Seandainya ini bukan mimpi," bisik Hyukjae. Memjemkan kelopak matanya. Berharap ucapannya itu terdengar dan dikabulkan oleh Tuhan.
Jemari Hyukjae bergerak turun. Dari pipi Donghae kini mengusap dagunya yang terasa kasar menggelitik telapak tangan Hyukjae. Hyukjae menikmati setiap sensasinya saat maniknya tertutup.
Wajah tersenyum Hyukjae itu berubah total saat sentuhan kecil menyapu bibirnya. Hyukjae membuka mata lebar. Di hadapannya, wajah Donghae dekat sekali.
"Buka matamu. Ini nyata Hyukkie," ucap Donghae. Kalimat itu tak terbaca oleh mata Hyukjae yang menatapnya terkejut.
"Ya Tuhan..."
Jemari Hyukjae yang berada di wajahnya akan berpindah, tapi Donghae tahan. Dia memperangkap jari-jari itu di bawah tangannya.
"Jangan lepaskan," pintanya.
Hyukjae tersihir. Hanya mengangguk saja, karena sebutir air mata lolos dari maniknya.
Tanpa ragu, wajah Donghae mendekat kembali. Bibirnya yang tipis menyentuh bibir Hyukjae dengan lembut. Mengecupnya dengan penuh kasih.
"Apa kau merasakannya?"
Pertanyaan itu diajukan oleh Donghae.
Kecupan itu berulang selama lebih dari tiga kali ketika Hyukjae tidak mengucap sepatah katapun.
Kenapa lelaki ini belum berkata satu apapun tentang kondisi Hyukjae sebenarnya, ataupun tentang Hyukjae yang mengundurkan diri dan pergi begitu saja?
Kenapa bibir manis itu malah mengecupinya penuh kasih seakan Donghae tengah meyakinkan Hyukjae jika ada cinta disana?
Hyukjae tidak pernah merasa seberharga ini bagi orang lain. Apa lagi yang ia tunggu?
"Aku merasakannya," bisik Hyukjae. Ia tidak tahu apa suaranya terdengar serak, cempreng, parau atau normal saja. Dia berharap Donghae mendengarnya jelas.
"Apa itu cinta?" tanya Hyukjae berani.
Ia tidak ingin Donghae merasa dirinya tidak yakin. Hyukjae tak ingin Donghae selalu berinisiatif lebih dahulu. Kali ini, biarkan Hyukjae menunjukkan pada Donghae jika dia pun berjuang untuk mendapatkan Donghae.
Senyuman Donghae sangat menggugah hati Hyukjae. Dia menenangkan kekalutan yang masih timbul tenggelam dalam hati Hyukjae. Ia memandang Hyukjae lama. Seolah mengabadikan wajah Hyukjae dalam memori otaknya.
"Tetaplah disisiku, agar kau bisa membuktikannya jika itu benar cinta," itu permintaan Donghae.
Hyukjae benar-benar ingin mengabulkannya.
.
.
Mereka tetap duduk di sofa. Hanya saja, kini Donghae memeluk Hyukjae dan merapatkan tubuh mereka di atas sofa. Bergelung saling memeluk. Mengobati rasa rindu akan satu sama lain.
"Donghae ..." Hyukjae mengucapkan nama lelaki itu dengan lembut.
Donghae langsung menjawab dengan usapan di lengan Hyukjae. Kepala Hyukjae yang semula ia baringkan di bahu Donghae kini ia dongakkan untuk menatap lelaki itu.
Donghae merunduk sedikit untuk mengecup puncak kepala Hyukjae. Ia menempelkan bibirnya lama di helaian rambut tersebut. Mencium wangi shampoo milik Hyukjae yang menguar dari surai blondenya.
"Donghae …" Hyukjae memanggilnya lagi.
Pikiran Hyukjae dipenuhi dengan satu hal. Jika mereka akan memulai suatu hubungan. Hyukjae berjanji, dia akan menceritakan segalanya kali ini. Tidak akan menutupi apapun. Agar Donghae mau menerimanya apa adanya, tanpa ada rahasia lagi.
"Hmm…" gumam Donghae.
Hyukjae menatapnya. Menghujamkan tatapan matanya tepat di iris milik Donghae.
"Semuanya berawal saat empat tahun yang lalu. Suatu hari di bulan Juli," lirih Hyukjae. Menangkupkan wajah Donghae dengan jemarinya.
"Kau mau mendengarnya?" tanya Hyukjae.
Donghae mengangguk pelan mengisyaratkan Hyukjae untuk memulai ceritanya. Ia mengusap lengan Hyukjae dengan sayang.
"Kami keluarga yang bahagia. Bukan berarti selalu harmonis, tapi aku, Ibu, Ayah dan Ryeowook itu saling menyayangi dan memperlihatkan kasih sayang kami satu sama lain. Ayah itu tipikal orang tua yang agak kaku, tapi Ayah selalu memelukku hangat setiap aku kelelahan mengikuti klub. Ayah juga akan menyemangatiku dengan ucapannya. Sedangkan Ibu, dia tipikal seorang Ibu yang sangat terbuka dan penyayang. Ibu selalu mendukung apapun pilihan kami. Seperti pilihanku untuk mengambil klub tari saat sekolah. Meski Ayah sempat mengelak, beliau luluh juga dengan bantuan Ibu. Kalau Ryeowook, adik kecilku itu sudah bermulut pedas sejak dulu. Dia lebih sering bertengkar dan debat dengan Ayah."
Hyukjae menerawang. Mengingat kejadian lalu saat adiknya adu mulut dengan Ayahnya. Meski sering bertengkar kecil, Ayahnya itu sangat memanjakan Ryeowook.
"Ayah mendukung pilihan Ryeowook ketika dia mengikuti klub musik. Ibu juga selalu mendukungnya. Mereka bahkan memilihkan klub musik yang paling terkenal agar Ryeowook bisa mengasah bakatnya. Adikku itu sangat suka dimanjakan, dia selalu merengek jika tak dituruti. Dia memang berbakat. Ryeowook juga sering memenangkan kejuaraan, kau harus mendengarkannya menyanyi Donghae-ah. Suaranya merdu, aku sangat suka saat Ryeowook menyanyikan ku lagu sebelum tidur. Aku merindukan suaranya saat menyanyi," kenang Hyukjae.
Hyukjae berhenti sebentar. Ia menundukan kepalanya. Menurunkan jemarinya yang masih menempel di wajah Donghae. Memilin ujung bajunya dengan jari-jarinya.
Donghae meraih jemari Hyukjae. Tersadar jika Hyukjae agak ragu untuk melanjutkan ceritanya. Ia mengusap jemari itu dalam genggamannya.
"Sampai hari itu datang," lirih Hyukjae.
Iris coklatnya yang jernih ia pejamkan. Dia kembali menyandarkan kepalanya di ceruk leher Donghae. "―hari itu suatu hari di penghujung bulan Juli. Keluarga kami selalu mendukung apapun pilihan kami, asal kami membicarakannya terlebih dahulu. Kami sedang naik mobil bersama menuju ke acara ulang tahun teman Ayah ketika Ryeowook mengutarakan keinginannya. Ibu dan Ayah di kursi depan, sedangkan aku duduk di belakang bersama Ryeowook. Dalam perjalanan, Ryeowook bilang dia akan pergi liburan bersama teman-temannya dua hari lagi ke Thailand. Ayah yang mendengarnya pun agak marah karena Ryeowook tidak minta izin dulu, langsung saja mengurusi tiket, passport dan visa untuk liburannya. Kali itu Ayah dan Ryeowook berdebat panjang. Thailand itu ada di seberang lautan. Begitu jauh, Ayah khawatir jika mengizinkan Ryeowook pergi. Sedang Ryeowook tidak suka dipandang sebagai anak-anak. Meski saat itu dia memang masih belia, butuh pengawasan. Biasanya Ibu selalu bisa meredakan amarah mereka. Tapi, Ibu tidak dapat menengahi. Aku ingat saat itu, Ryeowook begitu marah. Dia tampak kecewa saat Ayah melarangnya pergi dan membatalkan rencana liburannya."
Hyukjae mengusap belakang lehernya. Tubuhnya terasa lemas dan gemetar ketika mengingat kejadian kecelakaan empat tahun lalu. Rasanya, masih begitu sulit untuk mengulangnya lagi.
"Seingatku, Ryeowook turun dari mobil saat mobil kami berhenti di lampu merah. Aku memanggil namanya berulang-ulang, Ibu juga melakukannya. Tapi, Ryeowook tak menoleh. Ia berjalan cepat dan menyebrang ke sisi jalan. Ayah dan Ibu yang kalut sudah keluar dari mobil, mereka ingin mengejar Ryeowook. Aku hampir turun dari mobil juga. Tapi suara klakson terdengar berkali-kali. Lampu merah sudah berganti."
"Ayah cepat-cepat masuk ke dalam mobil. Dia kembali ke kursi kemudi. Melajukan mobilnya lagi. Beliau tidak sempat melihat lampu lalu lintas yang sudah berganti warna saat itu. Ayah berniat berbelok ke arah kiri. Mengikuti arah perginya Ryeowook. Tapi, naas. Ketika mobil kami melaju. Sebuah truk melaju kencang dari sisi lain. Segalanya terjadi begitu cepat. Dalam sekejap, aku yang semula duduk di kursi belakang, berubah terhimpit badan mobil. Aku tak ingat apa-apa setelahnya. Kecuali, jeritan Ibu, dan Ayah. Lalu suara teriakanku sendiri sebelum mobil kami terhempas jauh menabrak tiang lampu penerangan jalan. Yang kutahu, setelahnya hanya gelap."
Menceritakan hal ini ternyata berdampak besar terhadapnya. Hyukjae merasakan ngilu yang dulu ia pendam terungkit lagi ke permukaan. Kesakitannya saat kecelakaan itu terjadi. Hyukjae merasakannya lagi saat ini.
"Saat terbangun. Aku mendapati diriku terbaring di sebuah ranjang. Bau menyengat dan ruangan serba putih. Aku menangis sebelum orang-orang datang. Suster yang menjaga segera memanggil dokter untuk memeriksaku. Aku ingin bertanya tentang keadaan Ayah dan Ibu. Aku takut Donghae-ah, saat itu aku belum mampu bersuara untuk bertanya tentang kondisi Ayah dan Ibu. Tapi, saat Ryeowook datang mengunjungiku sore itu. Ia diam, ia diam sambil menangis. Aku panik, karena aku baru sadar akan satu hal..."
Donghae mengeratkan pelukannya pada tubuh Hyukjae. Satu kecupan mendarat di puncak kepala lelaki itu.
"Aku tak pernah mendengar suara tangisan Ryeowook, juga suara Dokter maupun orang yang menjengukku. Segalanya sunyi. Terlalu sunyi. Segalanya hening. Terlalu hening. Setelahnya yang aku tahu, aku tak pernah bisa mendengar. Dokter menjelaskan padaku, aku tak begitu ingat penyebab hilangnya pendengaranku, dokter itu mengucapkan beberapa kata medis yang membuatku hanya mengernyitkan alis. Tapi, saat itu aku sudah bertekad. Jika, aku tak mampu mendengar apapun. Maka, lebih baik aku tak mengetahui sebab hilangnya pendengaranku. Kala itu, kondisi orang tuaku jauh lebih penting dan mengusikku, Hae. Rasa sedih kehilangan mereka menyebabkanku teralihkan dari kondisiku yang berubah cacat."
"Kau tahu dimana posisi Ryeowook selama mobil kami kecelakaan. Adikku berada di trotoar sisi jalan, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kecelakaan itu terjadi. Bisa kau bayangkan betapa terlukanya Ryeowook? Karena itu, aku berusaha tegar dan kuat untuknya. Dia satu-satunya yang aku miliki di dunia."
Hyukjae mengakhiri ceritanya. Ia mendongakan kepalanya. Melayangkan senyuman miris pada Donghae.
"Kemarin, adalah hari peringatan kepergian Ayah dan Ibu. Empat tahun kecelakaan itu terjadi. Apa kau yang kemarin datang melayat Ayah dan Ibu?"
Pertanyaan itu tiba-tiba menyelinap di benak Hyukjae.
Donghae mengangguk. "Iya benar itu aku."
Donghae kembali memperangkapnya dalam pelukan erat. Hyukjae tak tahu, haruskah ia menangis? Terlalu banyak air mata yang telah ia tumpahkan beberapa hari terakhir. Apakah kantong air matanya akan kering jika ia terus menerus menangis? Apakah kesedihannya akan menguap bersamaan dengan buliran air matanya yang jatuh?
"Mereka adalah orang yang paling kau kasihi. Maaf Hyukkie karena sudah mengorek informasi tentang hidupmu tanpa izinmu. Aku sangat menyayangimu Hyukkie. Kau hebat, kau mampu jujur padaku dan menceritakan semua ini." sahut Donghae.
Hyukjae lelah menangis. Namun, air mata masih saja setia turun dari maniknya.
Donghae membubuhkan kecupan di bibir Hyukjae. "Terima kasih,"
"Untuk?"
Donghae menghapus pipinya yang basah. Lalu, Donghae mengecup kelopak matanya yang membengkak.
"Karena sudah tegar dan berjuang selama ini. Karena sudah datang dalam hidupku. Karena sudah jujur padaku. Banyak sekali kalimat karena yang tak habis kuucapkan satu persatu," aku Donghae.
Hyukjae merasakan cinta menggelitik di setiap ucapan Donghae. Ia memang tidak mendengarnya. Tapi, setiap perlakuan Donghae mengisyaratkan dengan jelas apa yang dirasakan lelaki itu terhadapnya.
"Donghae..."
Ia tidak tahu harus berkata apa. Rasa bahagia yang menyelinap dalam dadanya sangat sesak dan penuh. Hyukjae membalas pelukan Donghae. Menyamankan dirinya dalam dekapan hangat lelaki itu.
Donghae melepaskan pelukan mereka. Manik saling bertaut satu sama lain. Dada Hyukjae terasa bergemuruh cepat.
Lengan kanan Donghae dilingkarkan pada pinggang Hyukjae untuk membawa tubuh lelaki itu tetap dekat. Sedangkan tangannya yang bebas. Menarik kepala Hyukjae untuk mendekatkan wajah mereka.
Ujung hidung mereka bersentuhan.
Deru nafas mereka yang hangat saling menerpa. Donghae mengusap pipi Hyukjae yang basah dan memerah dengan ibu jarinya. Irisnya yang jernih memperangkap Hyukjae dalam satu pandangan. Saling memandang satu sama lain, seolah saling mencari sesuatu di balik bola mata bening itu.
"Jangan pernah meninggalkanku Hyukkie. Karena ..."
Kali ini, kedua lengannya bergerak menuju telinga Hyukjae yang tertutup oleh helaian rambutnya. Telapak tangan Donghae menangkup kedua telinga itu. Menutupnya. Ia masih tak menyuarakan perkataannya. Hanya gerakan bibirnya.
Biarlah hening menjadi saksi perasaannya.
"A―ku cin―ta ka―mu," bisik Donghae memenggal tiap kata. Menggerakan bibirnya dengan pelan, jelas dan mantap. Tanpa suara.
Air mata Hyukjae menitik kembali. Kali ini bukan kilatan sedih yang terpancar dari maniknya.
Bahagia.
Ungkapan cinta tanpa suara dari Donghae itu pasti akan menjamah pintu hati Hyukjae yang telah dibuka untuknya.
.
.
End
.
.
Thanks untuk semua yang baca dan mengikuti ff ini dari awal sampai penghujung.
Apakah kalian suka?
Hehehe
Maaf untuk adet yang lama. Susah ternyata membuat akhir cerita ini, karena beda sama yang aslinya di beberapa bagian
Oh, kalo nemu typo diabaikan ya. Pasti banyak. Mata saya suka nggak nangkap kalo ada typo. Makasih lagi guys.
Nite or morning untuk kalian
Review?
