Semua berawal dari sebuah rencana liburan.
.
The Adventure of Kiseki
petualangan Kiseki no Sedai yang sangat sesuatu
.
Kuroko no Basket Fanfic
Kuroko no Basket by Fujimaki Tadatoshi
Fic by me, harimau-menantikan-hujan
Genre : mystery, horror
WARNING! Typo (s), OOC, gaje
.
HAPPY READING!
.
Tepat saat Akashi bertanya, terdengar teriakan dari berbagai tempat.
"GYAAAAA!" Kuroko dan Akashi terlihat kaget.
"Itu.. suara teman-teman!" kata Kuroko. Akashi menggamit tangan Kuroko, lalu menariknya ke sudut.
"Dengar, aku mendapat informasi. Kita sekarang berada di dunia hantu. Dimensi yang berbeda dengan dimensi sebelumnya. Kau menyadarinya, Tetsuya?"
Kuroko membuka mulut, hendak berbicara. Tapi Akashi mendahuluinya.
"Lihat disekitarmu, Tetsuya."
Kuroko menoleh. Kosong.
"Tidak ada apa-apa, Akashi-kun." ucapnya datar, "Dan itu tidak penting. Aku harus menyelamatkan yang lain."
Akashi berdecak kesal, "Kau kira aku berbohong, Tetsuya? Aku selalu benar. Dan aku tahu yang lainnya akan selamat. Mereka bisa menjaga diri sendiri."
Kuroko terlihat enggan, tapi tatapan tajam dari Akashi membuatnya merasa lebih baik menuruti kemauan sang kapten.
"Baiklah. Tapi, Akashi-kun, aku tidak melihat hal yang ingin kau tunjukkan padaku. Dalam ruangan ini hanya ada kita berdua."
"Lalu kenapa aku bisa melihatnya?" Kuroko terdiam. Mata Akashi terlihat ketakutan, lagi. Tidak biasanya pemuda bersurai scarlet itu takut. Dia tidak pernah takut. Lalu, kenapa sekarang dia begitu? Apakah ada hal yang benar-benar serius hingga dia berubah menjadi seperti ini?
"Akashi-kun," akhirnya Kuroko membuka mulut, "Bagaimana kalau kita tanyakan pada yang lain? Siapa tahu mereka dapat informasi yang lebih lengkap."
Dan kali ini Akashi menyetujuinya.
.
Kise terduduk lemas di pojok ruangan. Apa itu tadi? Wanita mengerikan itu mau apa dengannya? Memangnya kenapa kalau dia manusia?
TAP! TAP! TAP!
Terdengar suara langkah kaki. Kise tidak merespon. Pemuda berambut kuning itu sudah pasrah.
"Kise-kun!" Kise menoleh. Kuroko dan Akashi berdiri di ambang pintu.
"Kurokocchi! Akashicchi!" katanya gembira, "Yokatta, ssu! Kalian juga diserang, ssu?"
"Diserang?"
"Oleh hantu, ssu. Dia muncul tiba-tiba lalu hilang tiba-tiba, ssu!"
"Informasi apa yang kau dapat?" tanya Akashi tanpa mempedulikan perkataan Kise sebelumnya. Kise tampak berpikir sejenak.
"Etto, ini ruang minum teh, ssu. Lalu di ruangan ini ada hantunya, ssu. Seram, ssu yo. Dia menyeringai, ssu. Lalu rambutnya berubah menjadi ular, ssu."
"Medusa..." gumam Akashi pelan.
"Apa warna rambutnya?" tanya Kuroko.
Kise mencoba mengingat-ingat, "Kalau tidak salah, rambutnya merah, seperti Akashicchi, ssu." Akashi terlihat kaget, tapi dia berusaha menyembunyikannya.
"Apa matanya emas dan sebelah matanya kosong?" tanya Akashi dengan suara tajam.
"Benar, ssu! Matanya hanya sebelah, warnanya emas, ssu!"
Akashi menatap Kise dan Kuroko dengan tatapan kosong. Sepotong memori melintas di benaknya.
"Ibu..."
"Apa?"
"Dia ibuku." kata Akashi yakin.
"EEHHH?! Lalu kenapa dia menyerangku, ssu?"
"Aku juga tidak tahu..." Akashi menggeleng pelan, "Kalau aku bertemu dengannya, aku akan menanyakan hal itu."
"Sekarang kita ke mana, Akashi-kun?" tanya Kuroko. Akashi berkonsentrasi, lalu menjawab.
"Perpustakaan."
.
Midorima benar-benar kaget saat pintu tertutup dengan sendirinya. Apalagi saat dia melihat bayangannya bergerak sendiri, seakan mengancamnya. Midorima mencoba untuk berpikir jernih. Bisa saja hal itu adalah halusinasinya saja. Tapi dia juga tidak yakin, karena pintu benar-benar tertutup tanpa siapapun yang menyentuhnya.
BRAAKK!
Pintu dibuka secara paksa oleh seseorang dari luar. Midorima menelan ludah.
Seseorang berdiri, di depan pintu.
"AHOMINE! Jangan membuka pintu seenaknya, nanodayo!" teriak Midorima kesal. Dia merasa dipermainkan oleh temannya sendiri.
"He? Kau kah itu, Midorima?" Aomine bertanya, memastikan.
"Memangnya kenapa, nodayo?"
"Syukurlah... Kau bukan hantu, kan?" tanya Aomine menyelidik.
"Tentu bukan, nanodayo." ketus Midorima. "Dan, mau apa kau menakut-nakutiku, nanodayo?"
"Hah? Menakut-nakutimu? Kapan? Lagipula, untuk apa aku melakukannya?"
"Jangan main-main, nodayo. Aku tahu kau yang menutup pintu ini."
"Bukan aku. Jangan seenaknya menuduh, ya!"
"Kalau bukan kau, siapa lagi, nodayo?"
KREKK...!
Pintu terbuka untuk kedua kalinya.
"Mido-chin? Mine-chin? Krauk. Kalian kah, itu? Nee, aku menemukan foto Aka-chin!" seorang titan ungu masuk ke perpustakaan.
"Hah? Foto Akashi?/, nanodayo?" tanya keduanya kompak. Murasakibara menyodorkan sebuah potret Akashi saat kecil.
"Saat kecil dia lucu, ya. Tidak seperti sekarang.." Aomine membandingkan.
"Lucu..." gumam Midorima, "Bukan aku yang bilang begitu, nanodayo."
"Tapi, kenapa warna rambutnya putih?" tanya Murasakibara.
"Mungkin Akashi mengalami penuaan dini, lalu dia malu dan menyembunyikannya dengan cara mengecat rambutnya." jawab Aomine ngasal.
CKRIS. CLEP! Sebuah gunting melayang ke arah Aomine.
"Apa yang kau bilang tadi, Daiki?"
GLEK. Itu dia orangnya!
"Aka-chin, apa ini fotomu saat kecil?" tanya Murasakibara, menyodorkan foto yang ditemukannya. Akashi memperhatikan foto itu dengan seksama.
"Apa dia terlihat mirip denganku?" tanya Akashi.
"Mukanya mirip, ssu!" kata Kise, "Jadi ini Akashicchi saat kecil. Kawaii, ssu ..."
"Kalau dia bukan aku?"
"Ini pasti Akashicchi, ssu yo!" Kise ngotot. Akashi memperhatikan foto itu lagi.
"Matanya monochrome. Sementara mataku heterochrome. Kalian tidak melihat perbedaannya?"
"Onii-san! Okaeri!" Akashi memperhatikan sekitar. Gadis yang dilihat oleh Aomine berdiri di sampingnya, memeluk kakinya.
"Onii-san akhirnya pulang juga. Aku sudah menunggu lama sekali!"
"Kau.. Siapa?" tanya Akashi.
"Hah?" yang lain keheranan. Sepertinya mereka tidak menyadari keberadaan gadis itu. Mungkin, kecuali Aomine.
"Akashi! Apa yang memeluk itu.. Siapa dia, gadis di gudang.. Hiiii..." Aomine komat-kamit berbicara sambil mempelototi si gadis.
"Onii-san, aku takut dengan mereka... Onii-san, aku takut! Kita harus beritahu ibu kalau ada penyusup yang masuk ke sini!"
"Onii-san? Tunggu, kau adikku?" tanya Akashi.
"Akashicchi, siapa adikmu, ssu? Apa maksudmu Kurokocchi, ssu? Apa Kurokocchi adikmu, ssu?"
"Mungkin Aka-chin mulai tidak waras."
"Akashi-kun, ada apa? Apa yang Kise-kun katakan benar?"
"Ada yang aneh di sini, nodayo."
"Hii, gadia itu masih menempel di kakinya!"
"Aominecchi, jangan ngomong yang tidak-tidak, ssu!"
"Tidak bagaimana?"
"Kami tidak melihat ada apa-apa di kaki Akashicchi, ssu."
"Masa?"
CKRIS.
"DIAM." perintah Akashi, membuat anggota Kiseki no Sedai lain langsung bungkam.
"Kau benar-benar adikku?"
"Onii-san tidak tahu? Apa ibu tidak memberitahu? Onii-san, selama ini kemana saja? Aku selalu menunggu onii-san pulang. Dan, mereka siapa? Apa mereka manusia?"
"Aku bahkan belum bertemu 'ibu'. Dan, bukannya aku juga manusia?"
Gadis itu mengernyit, "Bukankah onii-san sama denganku, sama dengan ibu?"
"Sama, maksudnya?" Akashi terlihat semakin bingung.
"Onii-san sama sepertiku. Sama seperti ibu." gadis itu mengulangi perkataannya. "Dan onii-san tidak sama dengan mereka. Lihatlah, bahkan mereka tidak menyadari keberadaanku."
"Tapi Daiki juga melihatmu."
"Karena aku menampakkan wujudku dihadapannya." balas gadis itu pelan, "Seijuro-nii, masih ingat namaku?"
"Namamu?"
"Akashicchi, kau bicara dengan siapa, ssu?" tanya Kise memotong pembicaraan Akashi dengan gadis yang tidak diketahui itu.
"Sepertinya aku harus menampakkan diriku didepan teman-teman onii-san..." dan dalam sekejap, semua bisa melihatnya.
"Akashicchi! Di kakimu, ssu!"
"Itu apa? Bisa dimakan, tidak?"
"Akashi-kun, siapa itu?"
"Akashi, apa dia bunglon yang mengalami kelainan gen sehingga menjadi manusia yang bisa berkamuflase, nodayo?" kenapa Midorima ngawur seperti ini?
"Tuh, kan. Kubilang juga apa."
"Perkenalkan. Namaku Akashi Sunako. Adik Akashi Seijuro."
"APAA?! ADIK AKASHI?!"
.
#TBC#
Yup, chapter 7 telah datang!
Ini Rain tulis saat pulang dari mengerjakan ujian.
Jadi agak aneh ceritanya, ya?
Gomen... Dan juga, maaf kalau terlambat dipost...
Tunggu kelanjutannya, ya!
