Hai, maafkan saya karena baru bisa update sekarang ya, karena banyak banget kendala dua bulan ini urrggghhh...
A/N ada di bawah ya, untuk para readers silahkan menikmati...
.
.
.
Setelah makan malam, nyonya dan tuan Wu memutuskan untuk langsung masuk ke kamar mereka untuk beristirahat, mereka lelah setelah seharian terus menerus meeting dengan para klien dari pagi hingga waktu pulang kantor tiba. Junmyeon sempat kembali protes ketika mendengar calon mertuanya mengeluh lelah, ia terus menerus mengomel kalau mereka seharusnya meminta bantuan Junmyeon untuk memasakkan makan malam, namun tuan dan nyonya Wu hanya tertawa pelan dan meyakinkan Junmyeon untuk tidak perlu merasa sungkan dan berlalu menuju ke kamar mereka, meninggalkan Junmyeon dengan pout imutnya dan Yifan yang masih setia merangkul Junmyeon sambil tersenyum geli melihat tingkah laku calon istrinya.
Yifan dan Junmyeon memutuskan untuk menonton film di ruang keluarga, Junmyeon yang sudah selesai menyiapkan cemilan dan coklat hangat untuknya dan Yifan segera menyusul Yifan dan duduk di sofa, Yifan pun segera merangkulkan lengannya ke bahu Junmyeon dan membawa Junmyeon ke dalam pelukannya sambil menyamankan posisinya.
Di tengah film yang mereka tonton, Junmyeon kembali teringat perkataan Yifan saat makan malam tadi, semburat merah kembali muncul di pipi putihnya ketika ia mengingat bagaimana seriusnya ekspresi Yifan saat mengatakan ingin menikahi Junmyeon bulan depan, ia menengadahkan mukanya ke atas untuk melihat wajah tunangannya yang sedang fokus ke layar televisi di depannya, Yifan yang sadar diperhatikan oleh Junmyeon segera menolehkan pandangannya demi mendapati Junmyeon sedang memandangnya dengan mata seperti anak anjing yang tersesat, tidak tahan dengan tingkah imut Junmyeon, Yifan langsung mencium bibir tipis Junmyeon dan melumatnya sebentar, Junmyeon yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa menutup mata dan membalas lumatan Yifan.
"Ada apa, hmm?" Tanya Yifan setelah melepas ciumannya dan kini mengelus pipi Junmyeon yang semakin memerah karena perlakuan Yifan barusan.
"Nnngg..." Junmyeon menyembunyikan wajahnya ke dada Yifan, ia sebenarnya malu ingin menanyakan perkataan Yifan saat makan malam tadi, tapi dia juga ingin tahu apa Yifan benar-benar serius dengan perkataannya.
"Kenapa?" Tanya Yifan lagi ketika dilihatnya Junmyeon makin menyembunyikan wajahnya ke dada bidangnya, otaknya mulai memikirkan hal apa gerangan yang membuat calon istrinya seperti ini, dahinya berkerut karena ia tidak mengingat satupun hal yang ia rasa dapat membuat Junmyeon merasa malu hingga...bibir Yifan mengeluarkan smirk andalannya. "Apa karena perkataanku waktu makan malam tadi?"
Junmyeon tersentak mendengar pertanyaan Yifan, kenapa ia dapat menebak pikiran Junmyeon dengan tepat. Ia segera menjauhkan wajahnya dan kembali menengadah, ia mem-pout-kan bibirnya ketika dilihatnya Yifan menyeringai.
"Apa kau tak percaya pada ucapanku?" Tanya Yifan kemudian, ekspresi mesumnya berubah menjadi ekspresi sedih karena Junmyeon menganggapnya tidak serius. Junmyeon yang melihat perubahan ekspresi Yifan langsung menggeleng.
"Bukannya aku tidak percaya dengan ucapanmu fan..." Ucap Junmyeon sambil mengelus pipi Yifan dengan ibu jarinya, Yifan segera menggenggam tangan Junmyeon. "...Aku hanya...terkejut...apa kau yakin ingin menikah denganku?" Tanya Junmyeon dengan nada lirih, ada rasa takut dan pandangan penuh harap yang terpancar dari manik mata malaikat tersebut, Yifan tersenyum sebelum akhirnya ia merunduk dan mencium bibir Junmyeon kembali, berusaha meyakinkan Junmyeon dengan sentuhan bibirnya, dan menyalurkan segala perasaan cintanya terhadap laki-laki manis yang ada di dekapannya tersebut.
"Tentu saja aku yakin, karena menikah denganmu adalah hal yang paling aku inginkan di dunia ini, lebih dari apapun." Ucap Yifan sambil menempelkan dahi mereka, film romantis yang mereka tonton sudah terlupakan, bahkan adegan dalam film tersebut kalah romantis dengan apa yang sedang terjadi di ruangan minimalis dengan dinding bercat putih tersebut.
Junmyeon memejamkan matanya dan tersenyum, meresapi perasaan cinta yang diberikan Yifan lewat perlakuannya, ia kemudian membuka matanya yang disambut tatapan hangat dari Yifan, tatapan yang penuh dengan rasa cinta, yang mampu membuat hatinya berdebar lebih cepat, seakan ia baru saja lari marathon mengelilingi kompleks perumahan elite Vancouver tersebut.
"Bagaimana denganmu Myeon?" Junmyeon memandang Yifan dengan pandangan bingung, membuat Yifan tersenyum dan mengecup singkat bibir Junmyeon karena tingkah imutnya tersebut. "Apa kau ingin menikah denganku?" Lanjut Yifan membuat bibir Junmyeon sedikit berkerut.
"Tentu saja aku ingin, kalau tidak mana mungkin aku menunggumu selama ini?" Ucap Junmyeon dengan bibir lebih mengerucut, Yifan terkekeh pelan sebelum kembali mengecup bibir Junmyeon untuk menghilangkan pout-nya.
"Iya iya aku percaya." Yifan kembali membawa kepala Junmyeon untuk bersandar ke pundaknya, sebelum kemudian membelai rambut Junmyeon dengan lembut, ia kemudian meraih tangan kiri Junmyeon dengan tangan kanannya sebelum mengusap tangan Junmyeon seirama dengan usapan di rambut Junmyeon, namun kegiatannya terhenti ketika ia merasakan sebuah benda berbahan metal di salah satu jari Junmyeon, ia mengangkat tangan Junmyeon dan langsung membelalakkan matanya ketika mengetahui apa yang melingkar di jari manis tangan kiri Junmyeon.
"Ini..." Junmyeon yang melihat reaksi Yifan hanya mampu tersenyum dan menggenggam tangan Yifan. "...kau...masih memakainya selama ini?" Lanjut Yifan sambil mengusap cincin pertunangannya dengan Junmyeon beberapa tahun yang lalu itu, ia tidak menyangka jika Junmyeon tetap menggunakannya setelah ia hengkang dari EXO.
"Sebenarnya...aku sempat melepaskannya setelah kau pergi, tapi seminggu sebelum aku berangkat ke Kanada, Yoomin menanyakan tentang cincin ini dan berkata bahwa kau pasti akan senang sekali jika aku terus memakainya, maka dari itu aku memakainya kembali." Jawab Junmyeon sambil memperhatikan calon suaminya yang terus memandang cincin yang bertengger di jari manis tangan kirinya tersebut dengan ekspresi bahagia jelas terpancar dari manik matanya, Junmyeon tersenyum menyadari bahwa perkataan Yoomin ternyata terbukti benar.
"Jadi...Yoomin yang menyarankan kau untuk memakainya lagi?" Tanya Yifan seolah tak percaya, kini pandangannya beralih dari cincin tunangan ke wajah cantik calon istrinya tersebut. Junmyeon mengangguk mengiyakan, Yifan sedikit demi sedikit tersenyum melihat anggukan Junmyeon, ia menghela nafas lega, membuat Junmyeon sedikit bingung karenanya.
"Kenapa sayang?" Yifan menggelengkan kepalanya sebelum menarik Junmyeon untuk kembali bersandar padanya, membuat Junmyeon semakin bingung dibuatnya. "Baobei?"
"Aku hanya lega Yoomin tidak menentang pertunangan kita Jun, aku lega ternyata dia tidak membenciku seperti yang aku pikirkan." Ucap Yifan sembari kembali mengusap surai lembut Junmyeon, Junmyeon terkekeh mendengar jawaban Yifan, ia kemudian melingkarkan lengannya ke pinggang Yifan dan mengusakkan wajahnya ke dada bidang Yifan.
"Yoomin tidak mungkin membencimu Fan, ia bahkan memanggilmu dengan sebutan Daddy." Yifan membelalakkan matanya mendengar pernyataan Junmyeon barusan, tidak salah?
"Apa benar sayang?" Junmyeon hanya menganggukkan kepalanya dua kali sebagai balasan, perlakuan Yifan membuatnya mengantuk, ia kemudian menyamankan posisinya di pelukan Yifan, membiarkan Yifan dengan pikirannya sendiri.
Yifan sebenarnya tidak percaya dengan perkataan Junmyeon tadi, ia teringat bagaimana dinginnya Yoomin ketika mereka bertemu di pertemuan mediasi tiga minggu yang lalu, ia bahkan sampai ingin menangis rasanya ketika melihat perlakuan dingin Yoomin kepadanya, namun ketika ia mendengar perkataan Junmyeon tadi soal Yoomin memanggilnya dengan sebutan daddy...Yifan rasa ia harus meyakinkan dirinya sekali lagi.
"Myeonnie..." Panggil Yifan sambil menundukkan kepalanya, senyum sedikit demi sedikit mengembang di wajah tampannya ketika mendapati malaikat cantiknya sudah tertidur dengan wajah damai, ia kemudian mengecup kening Junmyeon mesra sebelum beranjak untuk menggendong Junmyeon ke kamar mereka.
"Nngghh..." Yifan yang sudah hampir berdiri mengurungkan niatnya ketika dirasakannya tangan Junmyeon makin mengeratkan pelukannya di pinggangnya dan Junmyeon yang makin mengusakkan kepalanya ke dada Yifan, belum lagi tubuh mungilnya yang makin menempel ke tubuh Yifan mencari kehangatan, ia menghela nafas pelan sebelum kembali tersenyum dan mengambil selimut yang sempat Yifan ambil dari kamarnya untuk berjaga-jaga jika mereka kedinginan sebelum kemudian memposisikan mereka berdua dengan Yifan berbaring terlentang di sofa dan Junmyeon yang tertelungkup diatas Yifan, kemudian Yifan menyelimuti mereka berdua dengan selimut yang dia ambil tadi.
Beberapa menit berlalu dan Yifan masih belum bisa menutup matanya untuk tidur, pikirannya masih melayang ke seseorang yang saat ini tengah berada di Korea, gadis cantik yang sebulan lagi akan resmi menjadi anaknya, Ia masih belum bisa percaya jika Yoomin mau memanggilnya dengan sebutan Daddy, bukannya Heemin bilang kalau Yoomin sangat kecewa padanya? Lalu kenapa Yoomin mau memanggilnya dengan Daddy? Apa jangan-jangan Yoomin hanya berpura-pura saja di depan Junmyeon agar Junmyeon tidak sakit hati?
Yifan menghela nafas panjang setelah sekitar lima belas menit pikirannya terus berkutat di pertanyaan-pertanyaan tidak jelas yang malah membuatnya semakin kacau, ia mengusap-usap wajah dan rambutnya kasar, membuat rambutnya berantakan seperti sarang burung yang ada di pohon samping rumahnya, tapi Yifan tidak peduli dengan penampilannya saat ini, ia hanya ingin mendapatkan jawaban atas sikap Yoomin selama ini, tiba-tiba pikirannya melayang ke saat ia bercakap-cakap dengan Luhan setelah mengetahui ternyata Heemin berbohong padanya soal kehadiran Junmyeon.
'Apa jangan-jangan Yoomin dan Heemin memang bekerja sama menyembunyikan sesuatu dari kami?' Pikir Yifan, tangannya membelai rambut Junmyeon tanpa sadar, membuat laki-laki yang berada di atas tubuhnya itu makin mengeratkan cengkeramannya di baju Yifan dan mengusakkan pipinya di dada berototnya, Yifan terus menerus memutar otaknya untuk mencari petunjuk apa kira-kira rencana Yoomin dan Heemin, namun lagi-lagi hanya jalan buntu yang ditemuinya.
"Huuuh..." Helaan nafas terderngar jelas di ruangan yang sepi tersebut, Yifan sudah mematikan TV sebelum merubah posisinya dan Junmyeon menjadi seperti sekarang, ia terus memandang langit-langit, seolah-olah dengan melakukan hal tersebut ia dapat menemukan jawaban dari pertanyaan yang terus menerus berputar di otaknya, lelah berpikir, Yifan akhirnya tertidur sampai bermimpi tentang seorang gadis berwajah oriental dengan rambut sebahu sedang tersenyum sambil memeluk manja pria manis yang berada di dekapannya.
.
.
Tiga hari setelah Yifan mengutarakan keinginannya untuk menikah dengan Junmyeon, persiapan pun mulai dilakukan oleh keduanya, saat ini mereka sedang berada di salah satu butik langganan nyonya Wu untuk fitting baju pernikahan mereka.
"Ma...apa mama yakin aku akan memakai baju ini?" Rengek Junmyeon sambil memandang pantulan dirinya di cermin, nyonya Wu tersenyum sambil merapikan baju yang sedang dikenakan Junmyeon.
"Kenapa tidak Jun? Kau terlihat sangat manis memakai gaun pengantin ini." Ucap nyonya Wu santai. Junmyeon yang mendengar perkataan calon mama mertuanya itupun mengerucutkan bibirnya, sedari tadi nyonya Wu bukannya memilihkan tuxedo yang cocok untuknya, tapi malah membuatnya mencoba berbagai model gaun pengantin, alasannya? Karena Junmyeon itu terlalu cantik untuk menggunakan tuxedo, maka harusnya dia memakai baju pengantin untuk mempelai perempuan.
"Tapi ma, aku ini laki-laki, tidak mungkin aku mengenakan gaun pengantin ketika menikah nanti." Junmyeon makin merajuk ketika nyonya Wu hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum masih tersungging di wajahnya.
"Tapi kau terlihat sangat cantik Jun menggunakan gaun ini..." Sanggah nyonya Wu sambil mengambilkan kerudung pengantin dan hiasan kepala untuk Junmyeon, membuat kedua bola mata laki-laki itu membulat horor. "...Bagaimana jika kita minta pendapat Yifan? Kalau dia setuju maka kau akan menggunakan gaun ini untuk pesta pernikahanmu nanti, jika dia tidak suka, kau boleh memakai tuxedo, bagaimana?" Junmyeon berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan, nyonya Wu tersenyum lebar sebelum kemudian memakaikan Junmyeon kerudung pengantin dan hiasan kepala di rambutnya dan membawa Junmyeon keluar kamar fitting setelahnya, dalam hati Junmyeon berdoa semoga Yifan tidak menyetujui ide gila mamanya ini.
.
.
"Yiiifffaaannn...paaapppaaaa...bagaimana menurut kalian?" Kedua lelaki yang sedang berbincang di sofa ruang tunggu butik itu menolehkan kepalanya ketika mendengar panggilan melengking nyonya Wu, ketika mereka berdua memandang seseorang yang berdiri di samping nyonya Wu yang sedang menggunakan gaun pengantin...mari kita katakan saja bapak dan anak itu berubah menjadi patung lilin dengan mulut menganga selama kurang lebih tiga menit.
"Heeeiii...kalian ini, kenapa tidak menjawab pertanyaanku sih?" Sungut nyonya Wu ketika melihat kedua laki-laki yang ada di depannya ini malah terbengong dengan mata tak berkedip memandang orang yang berdiri di sebelahnya, yaah, walaupun dalam hati dia senang juga sih karena berhasil membuat Junmyeon menjadi semenakjubkan ini, sampai-sampai suami dan anaknya terpukau.
"Ma, itu...siapa?" Ujar Yifan masih dengan menatap Junmyeon tidak berkedip, membuat laki-laki mungil kita bergerak tidak nyaman.
"Aiisshhh, anak ini, masak kau lupa dengan calon istrimu sendiri." Ujar nyonya Wu sambil menyilangkan tangannya di depan dada, Yifan dan tuan Wu yang mendengar perkataan nyonya Wu makin membelalakkan matanya, itu Junmyeon?!
"Astaga...cantik sekali, aku sampai tidak mengenalinya." Ujar tuan Wu setelah kembali menguasai dirinya, Yifan? Dia hanya berdiri dan menghampiri Junmyeon sedangkan pandangan elangnya tidak terlepas dari wajah memerah Junmyeon.
Junmyeon yang dipandangi seperti itu oleh calon suaminya hanya bisa bergerak-gerak gelisah, tangannya terus bermain dengan gaun yang dikenakannya, dia tidak berani mengangkat wajahnya karena...sungguh demi apapun dia malu dipandang dengan tatapan seintens itu.
"Apa kau akan mengenakan gaun ini saat pernikahan kita nanti Jun?" Tanya Yifan dengan nada yang lebih rendah satu oktaf, membuat Junmyeon merinding mendengarnya, uuuu...naga mesum kita sudah kembali rupanya.
"Nah, itu yang ingin aku tanyakan padamu Yifan..." Yifan menoleh ke arah mamanya yang tersenyum lebar. "...apa kau ingin Myeonie mu ini mengenakan gaun saat resepsi pernikahan kalian nanti?" Yifan kembali memandang Junmyeon dengan tatapan elangnya dari atas...ke bawah...ke atas lagi...ke bawah lagi...ke atas lagi...hingga ia kemudian mengarahkan pandangannya ke arah berbagai macam gaun yang dipajang di dalam butik tersebut.
Junmyeon mengedipkan matanya dan mengikuti pergerakan Yifan yang bukannya menjawab pertanyaan mamanya, laki-laki tiang listrik itu malah berjalan menuju seorang pelayan toko yang berdiri di samping etalase gaun pengantin, Junmyeon makin mengerutkan keningnya ketika si pelayan toko berjalan ke ruangan yang Junmyeon tahu terdapat koleksi gaun pengantin yang ada di butik tersebut.
"Apa yang akan Yifan lakukan ma?" Tanya Junmyeon dengan nada curiga, nyonya Wu hanya mengedikkan bahunya mendengar pertanyaan Junmyeon, walau sebenarnya ia tahu apa yang anaknya itu akan lakukan, senyum nyonya Wu makin lebar ketika dilihatnya Yifan mengambil sebuah gaun dari tangan pelayan toko dan membawanya ke arah mereka berdiri.
"Coba kau...um...pakai ini." Ujar Yifan terbata, Junmyeon makin membulatkan matanya ketika melihat gaun lain yang disodorkan padanya, yang benar saja, Yifan menyuruhnya mencoba gaun pengantin lain?!
"Wah, gaun itu kelihatan lucu Jun, ayo kita coba." Ucap nyonya Wu sebelum meraih gaun dari tangan Yifan dan menggeret Junmyeon ke ruang ganti, Junmyeon hanya bisa terdiam dan menatap memelas ke arah Yifan dan tuan Wu bergantian yang ditanggapi gelengan kepala dari tuan Wu, dan tatapan intens dari, ya...siapa lagi kalau bukan Yifan.
.
.
"Waw, Jun, kau kelihatan cantik sekali, Yifan memang pintar memilih gaun ini untukmu." Ucap nyonya Wu bersemangat. Junmyeon kembali memandang tampilan dirinya di cermin, memang sih gaun yang dipilihkan Yifan terlihat imut dan pas sekali dengan image nya, dengan model baju sleveless dan chest-crop yang membuat bahu dan tangan putih mulus Junmyeon terekspos jelas, ditambah rok dari bahan kain satin yang halus dengan panjang diatas lutut di bagian depan dan memanjang hingga ke lantai di bagian belakang, memamerkan kaki jenjangnya yang mulus tanpa bulu, membuatnya benar-benar terlihat seperti seorang...
"...seorang putri, kau tampak seperti seorang putri dari kerajaan dongeng." Ucap nyonya Wu sambil merapikan ekor gaun Junmyeon yang sedikit memanjang di lantai, Junmyeon yang mendengar pujian dari nyonya Wu hanya mampu tersenyum malu, lengkap dengan semburat kemerahan di kedua pipinya, ia sedikit membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, melihat bagaimana pasnya gaun itu di tubuhnya.
"Ayo coba kita tanyakan pendapat Yifan." Kali ini Junmyeon menganggukkan kepalanya dengan senyum, ia berpikir jika Yifan ingin ia mengenakan gaun ini, dengan senang hati ia akan memakainya nanti, karena jujur saja, Junmyeon juga jatuh hati dengan gaun ini.
.
.
Yifan membelalakkan matanya lebih lebar ketika dilihatnya calon istrinya keluar dari ruang ganti bersama mamanya, sungguh Junmyeon yang ada di hadapannya ini lebih cantik dan lebih imut dari bayangannya, tanpa sadar ia berdiri dan kembali mematung memandang Junmyeon yang lagi-lagi menunduk malu karena ditatap sangat intens oleh calon suaminya.
"Nah, bagaimana Yifan? Kau suka kan?" Yifan hanya mampu menganggukkan kepalanya sambil kakinya melangkah mendekati Junmyeon, tangan kirinya segera merangkul pinggang ramping Junmyeon dan tangan kanannya segera ia gunakan untuk menahan tengkuk Junmyeon, bibir tebalnya segera ia tempelkan ke bibir tipis Junmyeon dan melumat bibir semerah cherry itu tidak sabaran, urrghhh...kalau saja mereka saat ini di kamar...
"Hey, dasar bocah mesum!"
"Ouch!"
Tautan kedua bibir itu terlepas seketika, Yifan mengusap-usap kepalanya yang sakit bekas dipukul oleh nyonya Wu, ia kemudian mem-pout-kan bibirnya kesal karena mamanya sudah merusak moment mesranya bersama Junmyeon.
Junmyeon sesaat masih terbengong karena perlakuan Yifan padanya tadi, dia masih shock karena Yifan tiba-tiba menciumnya di tempat umum, untung saja orang-orang yang ada di salah satu bagian toko itu hanya dia, Yifan, nyonya dan tuan Wu, serta dua orang pelayan toko yang menahan tawanya melihat Yifan yang dipukul mamanya itu.
"Jika kau ingin bermesraan dengan Junmyeon tunggulah sampai di rumah, dasar kau ini naga mesum, tahan dirimu sedikit." Ujar nyonya Wu kesal dengan tingkah laku anaknya yang mesum itu.
"Jangan salahkan aku ma, salahkan Junmyeon." Junmyeon membulatkan matanya, kok aku?
"Kenapa kau malah menyalahkan calon menantu mama sih?! Kau sendiri yang tidak bisa menahan diri." Ujar nyonya Wu makin kesal.
"Bagaimana bisa aku menahan diri jika di depanku berdiri calon istriku yang terlihat sangat cantik, imut dan sexy di saat yang bersamaan." Ujar Yifan yang berhasil membuat nyonya dan tuan Wu terbengong, sedangkan Junmyeon hanya bisa tertunduk malu dengan wajah, telinga dan leher yang memerah.
"Aiiisshh, benar-benar anak ini." Ucap nyonya Wu dengan nada kesal. "Junmyeon, ayo kita cari sepatu yang cocok untuk gaunmu ini."
.
.
Setelah selesai memilih baju yang akan digunakan saat acara pesta pernikahan mereka nanti, Yifan dan Junmyeon memutuskan pulang ke rumah untuk beristirahat, sedangkan nyonya dan tuan Wu kembali ke kantor untuk menyelesaikan urusan bisnis mereka agar saat hari pernikahan Yifan dan Junmyeon mereka bisa mengambil cuti untuk mendampingi mereka berdua bersama orang tua Junmyeon juga, kali ini Junmyeon berjanji akan memasakkan makan malam untuk tuan dan nyonya Wu yang ditanggapi kekehan dari kedua orang tua Yifan tersebut.
"Temani aku berbelanja dulu ya fan, di sini ada tidak pasar atau supermarket yang menjual bahan makanan Korea atau Cina?" Tanya Junmyeon saat mereka melaju di jalanan kota Vancouver yang cukup sepi, mengingat ini adalah hari kerja dan sekarang baru jam 10 pagi.
"Tentu saja ada, di Vancouver kan ada Chinatown dan Koreantown sayang." Ucap Yifan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang ada di depannya. Ia kemudian memberhentikan mobilnya saat lampu lalu lintas warna merah menyala. "Memangnya kau ingin masak apa untuk makan malam?" Tanya Yifan sambil menaruh tangan kanannya di paha Junmyeon.
"Aku ingin memasak makanan berkuah untuk makan malam, mengingat cuaca masih dingin di sini, jadi aku pikir makanan yang berkuah seperti itu bisa membuat badan lebih hangat." Yifan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Junmyeon, saat ini memang sudah memasuki musim semi, tapi tetap saja hawa dingin karena musim dingin selama tiga bulan masih melingkupi kota tersebut.
"Kau ingin makan apa untuk makan malam?" Tanya Junmyeon sesaat setelah mereka kembali melaju, membuat Yifan melirik sejenak ke arah Junmyeon yang memandangnya dengan mata polosnya, senyum tipis terukir di wajahnya sembari kembali memperhatikan jalanan di depannya.
"Aku terserah kau saja sayang, semua masakan yang kau masak itu selalu enak, dan pasti akan aku makan sampai habis." Pipi Junmyeon kembali merona mendengar perkataan Yifan barusan. Memang sewaktu mereka masih sama-sama jadi member EXO, Yifan hanya akan makan masakan yang dibuat oleh Junmyeon, padahal Junmyeon masih kalah jago masak jika dibandingkan dengan Kyungsoo dan Chanyeol, tapi tetap saja Yifan kekeh hanya mau makan masakan buatan tunangannya itu. Bahkan saat EXO-M harus berpisah dengan EXO-K karena jadwal, Yifan akan lebih banyak makan di luar daripada makan di dorm, membuat Yixing dan Minseok sebagai juru koki hanya geleng-geleng kepala.
"Uhm...kalau begitu masakan Korea saja ya, kau sudah lama tidak makan masakan Korea 'kan?" Yifan menganggukkan kepalanya menyetujui usul calon istrinya tersebut. "Ya sudah, ayo kita belanja bahan masakannya di Koreantown." Tanpa banyak bicara, Yifan segera melajukan mobilnya menuju tempat tujuan berikutnya.
.
.
"Sayang..." Junmyeon bergumam menjawab panggilan Yifan, ia saat itu sedang memilih bahan makanan pendamping untuk melengkapi makanan utama, ia kemudian menolehkan kepalanya ketika Yifan tidak mengucapkan sepatah kata apapun.
"Ada apa baobei?" Tanya Junmyeon heran ketika dilihatnya ekspresi calon suaminya tidak seperti biasanya, Junmyeon tahu pasti Yifan sedang memikirkan sesuatu. "Hei, kenapa?"
"Ahh...tidak...tidak jadi..." Junmyeon makin mengerutkan keningnya mendengar jawaban Yifan. "Sudah selesai memilih bahan masakannya?"
"Ah...sebentar..." Junmyeon kemudian segera berjalan mengambil bumbu-bumbu yang diperlukan untuk keperluan memasaknya, ketika di rasa cukup ia kemudian berbalik dan memasang senyum manisnya. "...nah, sudah, ayo kita bayar, setelah itu kita segera pulang, aku tidak sabar ingin segera masak untuk makan malam." Yifan hanya mampu tersenyum ketika dilihatnya Junmyeon melangkah, bahkan berlari kecil, menuju meja kasir yang terdapat di dalam toko sayuran tersebut dengan senyum terukir di wajah imutnya, ia segera menyusul Junmyeon dan menahan tangannya saat pria mungil itu akan membayar semua bahan masakan yang dibelinya tadi.
"Biar aku yang membayarnya, sayang." Ucap Yifan sambil menarik tangan Junmyeon ke belakang, kemudian ia segera mengeluarkan kartu kreditnya dan memberikannya kepada penjaga kasir.
"Terima kasih ya sayang." Junmyeon berjinjit kecil untuk mencium pipi Yifan cepat, mengundang kekehan pelan dari penjaga kasir dan juga senyuman hangat dari Yifan.
"Apa kalian sudah menikah?" Tanya penjaga kasir dengan bahasa Korea, membuat wajah kedua laki-laki tersebut bersemu kemerahan.
"Be-belum bibi, rencananya baru bulan depan." Ucap Yifan sedikit terbata, sedangkan Junmyeon hanya mampu mengangguk malu di samping Yifan, wanita paruh baya tersebut kembali terkekeh pelan.
"Ohh...berarti kalian sudah bertunangan ya?" Yifan dan Junmyeon kompak mengangguk mengiyakan. "Selamat ya, kalian memang pasangan yang sangat serasi." Ucapan bibi penjaga toko tersebut sukses membuat warna merah langsung menjalar ke bagian wajah dan telinga keduanya, namun, tak urung senyum malu menghiasi bibir kedua laki-laki tersebut.
"Terima kasih atas pujiannya bi." Ucap Junmyeon sambil membungkuk sedikit, yang dijawab anggukan pelan dari sang pemilik toko yang kini menyerahkan kartu kredit Yifan kepada pemiliknya.
"Sebagai hadiah untuk menyambut pernikahan kalian, aku memberikan diskon khusus untuk kalian." Junmyeon dan Yifan yang mendengar perkataan wanita tersebut sontak terkejut. Yifan segera kembali menyodorkan kartu kreditnya kepada pemilik toko tersebut.
"Tidak perlu bi...kami jadi tidak enak." Junmyeon menganggukkan kepalanya, menunjukkan persetujuannya dengan ucapan Yifan barusan.
"Sudah...tidak perlu sungkan, aku memberikan diskon itu secara sukarela,karena aku ikut bahagia dengan pernikahan kalian." Tolak pemilik toko tersebut sambil mendorong kartu kredit Yifan. "Semoga kalian berdua bisa bahagia bersama selamanya dan memiliki anak-anak yang pintar, sehat, dan lucu-lucu." Sambungnya diakhiri dengan senyum hangat.
"Terima kasih banyak ya bi." Ucap Junmyeon dan Yifan bersamaan sambil membungkuk, mereka berdua kemudian keluar dari toko dengan senyum bahagia terpatri di wajah keduanya.
.
.
"Yifan..." Junmyeon mengalihkan pandangannya ke arah Yifan yang sedang menyetir, setelah sekitar 10 menit berkendara dalam keadaan diam, akhirnya Junmyeon tidak tahan ingin menanyakan tingkah laku calon suaminya tadi.
"Hm?" Yifan tetap memfokuskan pandangannya ke arah jalanan di depannya, kali ini rute yang mereka ambil untuk pulang ke rumah arusnya lumayan padat. "Ada apa Myeon?"
"Kau tadi kenapa?" Yifan menaikkan sebelah alisnya. "Saat di toko tadi kau seperti ingin mengatakan sesuatu kepadaku, tapi kemudian kau tidak jadi mengatakannya." Junmyeon memperhatikan raut wajah Yifan yang semula menunjukkan ekspresi heran berganti dengan ekpresi bingung. "Memang kau ingin mengatakan apa sayang?"
"Uhmm..." Kedua alis mata yang tebal tersebut bertaut semakin dalam, Yifan memutar stirnya ke arah kiri sebelum kemudian menghela nafas pelan. "Itu...soal...tempat pernikahan kita." Junmyeon mengedipkan matanya beberapa kali.
"Memangnya ada apa dengan tempat pernikahan kita?" Tanya Junmyeon dengan nada bingung, seingatnya mereka belum memesan tempat di manapun untuk pesta pernikahan mereka nanti, bahkan mereka belum memutuskan apakah ingin indoor party atau outdoor party.
"Sebenarnya...aku sudah menemukan tempat yang aku rasa cocok untuk pesta pernikahan kita nanti." Ucap Yifan, ada nada tidak yakin dalam suara bass nya. "Tapi...aku tidak tahu kau akan setuju atau tidak." Junmyeon kembali mengedipkan matanya beberapa kali, Yifan sudah memikirkan tempat untuk pernikahan kami nanti? Wow.
"Memangnya di mana tempat yang kau maksudkan itu?" Tanya Junmyeon sambil melepas sabuk pengamannya, sekaligus berusaha menyembunyikan pipinya yang merona. Yifan juga ikut melepaskan sabuk pengamannya sebelum keluar dan membuka bagasi belakang mobilnya untuk mengambil barang belanjaan mereka, sedangkan Junmyeon berlari kecil ke arah pintu depan untuk membukanya.
"Yang jelas tempatnya outdoor." Jawab Yifan saat mereka sudah masuk ke dalam rumah. Setelah meletakkan barang belanjaannya di counter dapur, Junmyeon segera memakai celemek masak dan mencuci tangannya.
"Outdoor?" Ulang Junmyeon sambil menyiapkan bahan masakan yang dibelinya tadi di tempat yang berbeda-beda, ia kemudian mulai memotong sayuran dan mencucinya hingga bersih, sedangkan Yifan hanya memperhatikan gerak-gerik Junmyeon dari meja makan.
"Uh hum..." Gumam Yifan, sebelum kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri Junmyeon dan melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping Junmyeon dari belakang, membuat si empunya sedikit terlonjak karena kaget. "Letaknya di sebuah taman di kota ini."
Junmyeon terdiam dari kegiatan mencuci sayurannya, keningnya sedikit berkerut, memikirkan setiap taman yang ia ketahui berada di Vancouver.
"Ada banyak taman di Vancouver kan?" Tanya Junmyeon yang ditanggapi anggukan dari Yifan, laki-laki berwajah datar tersebut langsung membenamkan wajahnya di surai lembut milik Junmyeon dan menghirup aroma vanila yang menguar dari laki-laki mungil yang di dekapnya. "Taman mana yang kau maksud?" Tanpa memperhatikan perlakuan Yifan, Junmyeon kembali fokus mencuci bahan makanan yang tadi dibelinya.
"Hmm..." Yifan memindahkan posisi kepalanya di bahu Junmyeon dan kembali membenamkan wajahnya ke ceruk leher Junmyeon, membuat si empunya merinding karena nafas hangat yang menerpa lehernya. "Kau ingat taman tempat kita bertemu kembali tiga hari yang lalu?"
Junmyeon memutar memori otaknya ke kejadian tiga hari yang lalu tanpa menghentikan kegiatannnya memasak, wajahnya memerah ketika mengingat adegan ciuman yang mereka lakukan di taman tersebut.
"Iya, aku ingat." Ucap Junmyeon sebelum mencicipi masakannya, senyum puas mengembang di bibir merah mudanya ketika rasa supnya sudah pas sesuai keinginannya. "Apa kau ingin melaksanakan pernikahan kita di tempat itu?"
Yifan mengangguk pelan, ia makin mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Junmyeon dan menyamankan posisi kepalanya di bahu calon istrinya itu.
"Tapi aku masih belum menentukan lokasi tepatnya resepsi kita akan dilaksanakan." Ucap Yifan sebelum mengangkat kepalanya dan membuka mulutnya ketika Junmyeon memintanya mencicipi masakannya. "Hmmm...enak sekali sayang." Pujinya sambil menjilat bibirnya sebelum kembali membuka mulutnya agar Junmyeon mau menyuapinya lagi, membuat Junmyeon terkekeh sambil menyuapkan kuah Yukgaejang kepada Yifan.
"Kau ada waktu tidak besok?" Tanya Yifan setelah puas mencicipi masakan Junmyeon, yang ditanya mengaduk masakannya sebentar sebelum menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja, aku tidak ada kegiatan apapun besok." Jawab Junmyeon sebelum mengatur api kompor menjadi kecil, cukup untuk menghangatkan sup yang dibuatnya selama dia menyiapkan makanan lain.
"Kalau begitu besok ikut denganku ya..." Yifan melepaskan rengkuhannya setelah sebelumnya mencium tengkuk Junmyeon sekilas, membiarkan laki-laki yang lebih muda setahun darinya itu menyelesaikan kegiatannya memasak. "...ke taman itu, untuk mencari tempat venue sekaligus kencan."
Junmyeon menolehkan kepalanya ke arah Yifan dengan mata yang membulat sempurna, tidak lupa pipi putihnya yang merona.
"Ayolaah...sudah lama 'kan kita tidak kencan berdua." Rajuk Yifan lengkap dengan pout yang sukses membuat hati Junmyeon berpacu lebih cepat di dadanya.
"B-baiklah...aku mau." Ucap Junmyeon terbata, urgghh Yifan dan aegyo-nya.
.
.
.
TBC
Halo semua, aku cuma pingin ngucapin terima kasih yang sebanyak-banyak-banyak-banyaknya buat para readers dan reviewer yang udah support author, dukungan kalian jadi bikin aku semangat buat nerusin cerita ini sampai selesai...
maafkeun author yang baru aja bisa update, selain karena kendala basic, tapi juga karena...author lagi re-make cerita-cerita Krisho yang sebelumnya pernah author publish di sini, dan juga...banyaknya cerita Krisho baru yang juga proses on-going...
o ya, spoiler aja, author juga udah mulai bikin sequel buat cerita ini lho...bwahahahaha...
sampai ketemu di chap berikutnya ya...annyeong... *bowbarengpapadragonmamabunny
