Naruto by MK

Sepotong Cokelat: chapter 7

.

.

.

Setelah menyelesaikan acara sarapan mereka, yang dihiasi dengan canda tawa dari keduanya. Naruto terlihat sangat menikmati waktunya bersama Kurama, terbilang ini adalah kemajuan yang sangat pesat. Begitu juga dengan lelaki bersurai oren kemerahan di samping gadis pirang itu, penulis muda yang sukses dengan karya-karyanya ini terlihat menikmati setiap detik yang ia lewati bersama gadis kecil yang kini tengah merengek padanya menemaninya ke sebuah kedai ramen.

"ayolah Ku…. Aku mau makan rameeen…" gadis remaja ini menarik-narik lengan Kurama, sedangkan si empunya hanya mendesah lelah. Bagaimana tidak, baru 30 menit lalu mereka sarapan, dan kini si pirang ini mau makan lagi?

"baiklah, baiklah. Dan berhenti menarik-narik tanganku…" Kurama melepaskan cengkraman Naruto di lengan Kirinya, lalu menggenggam tangan yang mencengkramnya tadi, berjalan menuju kedai ramen yang ada diseberang jalan.

"yey..! ramen! Terima kasih Ku... kau memang yang terbaik..." Naruto mengikuti Kurama yang menuntunnya menyebrangi zebra cross. Senyum cerah terpatri diwajah manisnya.

"kamu ini ramen freak ya… nggak takut gemuk apa?"

"nggak. Biar gemuk juga nggak masalah kok. Yang penting kan hatinya…"celetuk Naruto. Seolah Kami-sama berpihak pada gadis pirang ini, sejak dulu, Naruto mau makan ramen sebanyak apapun, badannya tidak pernah bisa gemuk. Anugrah yang patut disyukurinya, tentu saja.

"hehh… dasar, masih kecil sudah sok bijak…" goda Kurama,

"aku nggak sok bijak, Ku! Tapi kan memang begitu, yang terpenting itu hatinya. Percuma cantik tapi hatinya busuk, bukan begitu?" mendengar ucapan Naruto yang terdengar dewasa untuk ukuran gadis seusia Naruto, Kurama mendengus kecil dan mengacak surai pirang Naruto.

"bicaramu seperti orang dewasa saja… tapi aku setuju dengan ucapanmu tadi. Ayo masuk" keduanya memasuki kedai ramen yang masih sepi tersebut saat sudah berada didepannya. Naruto segera memesan ramen miso ukuran jumbo. Sedangkan Kurama lebih memilih untuk menikmati wajah ceria yang disuguhkan Naruto sedari mereka bertemu tadi.

.

.

.

Keduanya menghabiskan waktu bersama di taman bermain, Naruto mengajak Kurama untuk mencoba semua wahana yang ada, berkeliling taman bermain tersebut. Kurama yang biasanya akan menolak keramaian, kini terlihat sangat menikmatinya. Wahana yang belum mereka nimati adalah rumah hantu, saat Kurama hendak membawa Naruto masuk kedalam wahana tersebut, gadis pecinta ramen ini diam mematung, wajahnya pucat pasi.

"Naruto? Ada apa? Ayo masuk.." ajak Kurama, kembali menarik tangan Naruto, tapi tetap, si pemilik sama sekali tidak mau beranjak dari tempatnya berdiri.

"nggak mau… aku takut.." rengeknya kecil, sebelah alis Kurama terangkat. Gadis seceria Naruto takut dengan hantu? Wao, ini adalah hal yang baru Kurama temukan.

"kalau takut, kau bisa menggenggam erat tanganku. Aku nggak akan meninggalkanmu kok. Ayo..." bujukan Kurama sepertinya berhasil, meskipun Naruto terlihat masih sangat ragu untuk melangkahkan kakinya menuju wahana tersebut.

"tenang Naruto, didalam nggak ada apa-apa kok..." dan keduanya kini telah memasuki wahana tersebut, Naruto sudah memeluk erat lengan Kurama, seolah Kurama akan menghilang kalau Naruto mengendurkan pelukannya tersebut.

"bagaimana... bagaimana kalau tiba-tiba... ada hantu sungguhan?" dengan suara yang sedikit bergetar, Naruto berusaha untuk konsentrasi dengan jalan didepannya.

"hey.. mereka hanya karyawan yang dibayar, bukan hantu sungguhan kok…" saat Naruto menolehkan wajahnya untuk menatap Kurama, tiba- tiba dibelakang pemuda tersebut muncul sebuah kepala berambut hitam berantakan yang cukup panjang, dengan tanduk dikedua sisi dahinya, taring yang terlihat tajam, serta tatapan mata yang mengerikan, oh jangan lupakan seringaian keji serta kulit wajah berwarna merah.

Hal tersebut sukses membuat Naruto menjerit sejadinya, dia segera memeluk Kurama dengan sangat erat, tubuh kecilnya bergetar hebat, menandakan kalau saat ini dia tengah sangat ketakutan.

Kurama yang mendapati reaksi Naruto seperti itu tentu saja kaget, dengan segera ia balas memeluk gadis tersebut, mengusap punggungnya untuk menenangkan. Ia merasa bersalah dan kasihan dengan Naruto,

"shh…. Tenang Naru… itu hanya hantu bohongan kok..." isak tangis terdengar dari arah Naruto menenggelamkan wajahnya di dada Kurama, bahkan pemuda ini merasakan basah di kemejanya. Karena tidak mau membuat Naruto tambah ketakutan, Kurama menggendong Naruto ala pengantin dan membawa gadis pirang tersebut keluar dari wahana.

Tidak dipedulikannya tatapan heran dari para pengujung yang melihat Kurama dan Naruto yang keluar dari wahana tersebut. Yang ada dipikiran Kurama saat ini adalah, menenangkan Naruto.

"Naruto, maaf ya... aku sudah memaksamu memasuki wahana itu.." Kurama mendudukan Naruto di bangku yang ada didekat pohon sakura, mengusap sisa air mata yang berbekas di pipi tan Naruto. Gadis ini sedari tadi hanya diam, dan masih sesegukan.

"tunggu sebentar, aku belikan minum dulu..." saat Kurama hendak pergi, Naruto menarik ujung kemeja Kurama pelan.

"jangan pergi..." lirihnya. Ia sebenarnya sangat malu sekali, sudah sebesar ini masih takut dengan hantu, apalagi didepan Kurama. Sampai lelaki yang lebih tua darinya ini meminta maaf dan menggendongnya tadi.

"Ku, kamu nggak salah... aku, akunya saja yang penakut..." Kurama mengusap lembut surai cerah milik Naruto, senyum lembut terpatri diwajah tampannya.

"aku juga salah... maaf ya.." secara tidak sadar, Kurama menarik kepala bersurai pirang itu mendekat, menyandarkannya id bahu kirinya, lalu mengecup lembut puncak kepala Naruto. Keduanya terlihat menikmati keheningan yang tercipta, meskipun hening, tapi entah kenapa terasa nyaman bagi keduanya.

.

.

.

Hari yang menyenangkan, pasti selalu berakhir dengan cepat. Itulah yang di rasakan Naruto saat ini. Gadis bersurai pirang ini merasa baru saja menghabiskan hari bersama Kurama, tetapi kini matahari sudah hampir terbenam. Mengingatkannya untuk segera pulang.

"hari ini sungguh menyenangkan..." celetuk Naruto, keduanya kini tengah duduk di taman, menikmati crepe yang tadi mereka beli.

"ya, kecuali insiden dirumah hantu tadi... aku minta maaf Naru.."

"uhm... bukan masalah kok. Toh kamu juga sudah mentraktirku banyak sekali makanan. Dan aku sangat senang hari ini. Kejadian tadi juga sudah terlupakan kok..." hibur Naruto saat mendengar nada bersalah keluar dari mulut Kurama untuk yang kesekian kalinya. Seulas senyum terlihat diwajah tampan Kurama, membuat Naruto yang tengah memperhatikan pemuda tersebut, merona karenanya.

"aku antar pulang ya..." tawar Kurama, sebelum Naruto sempat menanggapi apa yang ia katakan, Kurama sudah meraih sebelah tangan Naruto dan membawa gadis tersebut berjalan menuju halte bus terdekat.

Naruto terdiam dan memperhatikan genggaman tangan Kurama. Gadis remaja ini merasakan kehangatan yang menenangkan dihatinya, juga jantungnya berdebar lebih cepat. Sebuah rasa senang yang misterius seolah membuncah dari dasar perutnya. Dan hal itu membuatnya secara tidak sadar mengeratkan genggaman tangannya.

Sedangkan untuk Kurama, ia tersenyum simpul mendapati reaksi Naruto. Bagaimanapun, mahasiswa semester 4 tersebut tidak mau membuat gadis kecil yang tengah bersamanya ini merasakan ketidaknyamanan. Keduanya berjalan dalam diam seraya menikmati waktu yang tersisa.

"uhm..."

"ada apa?"

"jadi... apa kamu dapat inspirasi?" tanya Naruto yang memecah keheningan. Mereka berdua sudah duduk didalam bus yang membawa mereka kearah kediaman Nara.

"untuk sekarang... belum." Jawab Kurama jahil.

"apa pergi bersamaku sama sekali tidak memberimu inspirasi, Ku?" Kurama hanya tertawa menanggapi pertanyaan Naruto yang mirip dengan protesan. Meskipun tawanya pasti akan mengundang perhatian dari penumpang lainnya, tapi Kurama sama sekali tidak merasa risih.

"Kuuu...!"

"biaklah, baiklah... bukannya tidak memberikan inspirasi, hanya saja aku ingin menikmati waktu bersama kita, Naruto." Jawabnya santai, sama sekali tidak ada maksud tertentu, namun sayangnya gadis remaja yang ada disampingnya ini berpikir lain.

Lihat saja wajahnya yang kini kembali merona merah. Seperti buah kesukaannya, apel merah. Melihat gadis yang duduk disampingnya kini merona parah, membuat hati pemuda pecinta moccachino ini tersenyum kecil. Ah, betapa ia sangat menikmati hari ini.

Tanpa terasa, bus yang membawa keduanya sudah berhenti di halte dekat rumah keluarga Nara. Keduanya segera turun dan berhenti terdiam di halte tersebut, seolah sama sekali tidak ingin berpisah satu sama lain.

"kuantar sampai rumahmu?" tawar Kurama, lagi. ia sendiri merasa sedikit enggan untuk menawari hal tersebut. Karena itu menandakan kalau mereka akan segera berpisah.

"uhm… boleh.." jawab Naruto lirih.

Kurama kembali menautkan tangannya dan tangan Naruto, berjalan dengan amat sangat santai menyebrangi jalan dan menuju kekediaman keluarga Nara. Naruto yang biasanya ingin segera samapi rumah, kali ini merasa dia enggan untuk segera tiba dirumah.

Keduanya terdiam di sepanjang jalan. Namun keterdiaman keduanya tidak membawakan usasana canggung maupun awkward, malah keduanya terlihat nyaman dengan keheningan yang menyelimuti mereka.

"kita sampai..." Kurama memecah suasana hening diantara keduanya. Naruto mendongakkan kepala dan menatap papan nama rumah tersebut. Keduanya kembali terdiam di deoan rumah tersebut. Baik Naruto maupun Kurama enggan untuk melepaskan tautan tangan mereka.

"jadi… uhm… mau mampir?" tawar Naruto.

"lain kali saja... masuk gih." Naruto menganggukan kepala kecil.

Meskipun begitu, Kurama sama sekali tidak mau melepaskan tautan tangannya, lagi. Naruto menatap kearah dimana tangannya dan tangan pemuda didepannya ini bertaut.

"ng.. Ku? Tanganku.." seolah baru tersadar, Kurama segera melepaskan tautan tangan keduanya. Canggung mendera kedua sejoli tersebut.

"sampai jumpa besok..." ucap Naruto sebelum berbalik, tapi Kurama dengan segera menarik lengan Naruto pelan dan mendaraktan sebuah kecupan ringan di sudut bibir gadis tersebut.

"sampai jumpa besok..." dengan begitu, Kurama berbalik pergi dengan senyum senang diwajahnya. Sedangkan Naruto? Wajah gadis itu kini telah merah sempurna. Dan dengan tergesa, Naruto berlalu memasuki rumah. Ahh... iitu tadi ciuman pertamanya kan...?

.

.

.

.

.

.

To be continued...

Dan... begitulah. Gak sangka ya kalo cerita ini makin gak jelas aja. Ah, emang semua cerita Kuu kan gak ada yang jelas. Hahaha…

Sory kalo pendek… dan ini buat kalian yang minta update cerita Kuu. Semoga kalian suka.

Review?