My Little Taeminnie
.
.
.
.
Minho's POV
.
.
.
.
Aku tahu dia terkejut melihatku. Aku bisa melihat raut mukanya yang berubah menjadi beku saat aku menyebutkan namaku. Dan memang aku sengaja melihat lurus pada kedua matanya saat mengatakan, "Perkenalkan, aku Choi Minho"
Rambut panjang sebahu, penampilan yang berbeda seratus delapan puluh derajad; tapi ia tetap seseorang yang sama. Tidak ada lagi tatapan nakal seperti saat ia menggodai nafsu liar pengunjung café, tidak ada lagi gerakan-gerakan erotis yang membuat otak para laki-laki hidung belang berpindah dari kepala turun ke lututnya. Tidak ada. Yang terlihat hanya mahasiswa biasa, dengan kemeja kotak-kotak biasa dan celana jeans, lengkap dengan sneaker butut dan mungkin tas punggung yang ikut mengukir sejarah hidupnya di beberapa tahun terakhir ini.
Tapi ia tetap begitu mempesona, menarik dalam sudut pandang yang berbeda. Lebih tenang dan sederhana namun masih menyimpan sesuatu yang selalu membuatku ingin melakukan hal gila apa saja padanya.
Mungkin ia berharap kelas ini cepat selesai. Mungkin ia berharap bumi terbelah dan menelannya hingga ke dasar, atau mungkin ia hanya berharap aku tidak menganggapnya ada. Tapi salah, ia telah berada di waktu dan tempat yang salah. Aku benar-benar menikmati kecanggungannya tiap kali aku menatap dan memperhatikannya sambil menerangkan ini itu. Tidak ada yang menyadari aliran emosi yang mengalir dari kedua mataku tepat di kedua matanya. Meskipun Ia berkali-kali menundukkan kepalanya, tapi, hey, aku selalu tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum karena bagaimanapun ia duduk di bangku paling belakang, masih terlihat jelas wajahnya yang berubah merah.
Dan aku masih ingin bermain-main bersamanya dalam kelas ini.
Tentu saja aku tidak punya banyak waktu untuk menerangkan tentang kosakata ini itu. Bukan karena hanya dua jam waktu yang disediakan untuk satu kali pertemuan, namun aku punya rencana lain yang membuatku untuk berhenti berbicara di depan kelas. Lebih baik aku membuat para mahasiswa ini sibuk dengan ujian dadakan dan mungkin saat semua konsentrasi mereka tertuju diatara kertas dan soal-soal, aku bisa sedikit berinteraksi dengan taemin-ku. Wow. Bahkan aku menambahkan 'ku' di belakang namanya.
Aku berjalan pelan ke belakang kelas. Berpura sedang mengawasi jalannya ujian sambil beberapa kali mempehatikannya yang sepertinya tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Beberapa kali ia membenarkan rambutnya yang justru membuatnya menjadi sedikit berantakan. Dan entah mengapa ada semacam aliran tidak wajar yang timbul dari dalam sistemku ketika melihatnya demikian. Hufft bahkan ia sedang tidak melakukan salah satu gerakan erotis striptease dengan memainkan rambutnya. Tapi aku membayangkan hal lain.
Ia semakin terlihat gusar saat aku mendekatinya. Ia membenarkan posisi duduknya, mengatur nafasnya dan sesekali menelan ludah untuk membuatnya lebih tenang mengatasi keadaan, tapi kau tahu, yang pasti ia gagal menutupi semua itu.
Aku merasa seperti predator yang sedang mengintimidasi herbivora kecil yang manis dan…. ketakutan.
Dan saat aku telah begitu dekat dengan tempat duduknya, insiden kecil terjadi. Ia tidak sengaja menjatuhkan pulpennya. Ia cepat-cepat membungkuk untuk mengambil pulpennya. Tapi, karena aku begitu cepat mencerna keadaan dan mungkin karena otakku sudah siap dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi, akupun langsung ikut membungkuk untuk membantunya mengambil pulpen malang itu. Aku membuat seolah semua itu adalah reaksi spontan dariku. Ya, mungkin memang begitu, tapi jujur saja, hanya karena ia membungkuk akupun ingin melakukan hal sama. Benar-benar momen yang tepat.
Begitu terkesan natural, hingga aku bisa membuat seolah ketika aku memegang tangannya adalah hal yang tidak disengaja – hal yang wajar. Ia tidak sempat menarik tangannya dariku karena kuyakin ia begitu terkejut karena wajah kami begitu dekat. Begitu dekat hingga otak dan syarafnya berhenti sejenak. Sistemnya perlu memverifikasi apa yang ia lihat dengan kedua matanya, yang ia rasakan dengan kulitnya dan mungkin rangsang lain yang telah membuat sistemnya tidak normal.
.
.
.
Sepersekian detik yang seperti selamanya. Kedua mata kami bertemu.
.
.
.
"Senang bertemu denganmu lagi, Taemin" aku mengucapkan kata-kata itu dengan sangat pelan, hampir tak terdengar meskipun aku yakin ia mendengarnya, bagaimana tidak, kurasa semua indranya kini sedang sangat peka untuk menerima getaran apapun dari luar tubuhnya. Termasuk suaraku dan fibrasinya yang mengganggu bagian terluar bibir dan mungkin…..sesuatu-nya. Darimana aku tahu? cukup jelas. Wajahnya yang semakin memerah, nafasnya yang tercekat, matanya yang penuh dengan eskpresi emosi yang campur aduk dan tentunya itu… bibir manisnya itu, sedikit terbuka seolah bukan hanya udara saja yang ingin ia raup, tapi juga sesuatu yang lain; yang ia jelaskan dengan tatapan matanya yang kini tak lagi tertuju di kedua mataku. Sedikit lebih rendah, sedikit lebih memperhatikan….. bibirku.
.
.
.
Ssshh… Tenang taemin kecilku, selesaikan ujian ini dan kau akan mendapatkan apa yang kau mau.
.
.
.
.
[a/n: well yeah, super duper short update. enjoy]
