Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 6

enjoy

.

.

.

Sasuke memberikan kaleng berisi minuman rasa stroberi pada Sakura. "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan menjatuhkan diri ke atas sofa di samping Sakura.

"Aku gagal mendapat pekerjaan." gumam Sakura dengan nada lesu.

Sasuke mengerutkan alisnya, menatap Sakura dari samping. Sakura hanya menunduk, memutar-mutar kaleng minuman di tangan tanpa berminat membukanya.

"Pekerjaan seperti apa yang kau inginkan? Mungkin aku bisa membantumu." Sasuke menawarkan.

"Hmm.. Apa saja, asal bisa membunuh waktuku dan pastinya mendapatkan uang."

Sasuke memandangi langit-langit ruang tamunya. Seakan-akan disana tertulis iklan baris di koran. Yang jelas, ia sedang mencari solusi untuk Sakura. Sebenarnya ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, mengingat dirinya baru beberapa minggu tinggal di Konoha. Jadi ia tidak terlalu tahu soal lowongan pekerjaan di daerah Konoha.

"Kenapa tidak jadi asisten rumah tangga saja." ucap Sasuke sambil menyeringai, seolah sedang membuat lelucon.

Sakura mengangkat kepalanya, menatap Sasuke yang memandang ke atas. Sepertinya tidak tertarik dengan pembicaraan ini. "Sasuke!" bentaknya sambil mengerutkan bibir pink-nya.

Sasuke terlonjak dan mengusap telinganya pelan. Ia menatap Sakura heran. "Sakura.. Jauh ku tidak sampai satu kilometer." gerutunya kesal. "Tidak perlu berteriak." desis Sasuke.

Tanpa peduli perkataan Sasuke, ia menggoyang-goyangkan bahu lelaki itu. "Aku takut jadi pengangguran, Sasuke.." ucapnya. "Lowongan kerja pasti ada kan?" tanyanya.

"Hn, tentu." jawab Sasuke singkat cepat padat dan akurat.

Hey?

Sakura sama sekali tidak tahu bahwa Sasuke mengamatinya sedari tadi, sampai Sakura mendongak, lalu mereka bertemu pandang, ia baru menyadarinya. Sakura mengalihkan pandangannya.

"Lowongan pekerjaan itu banyak. Kalau kau punya skill dalam suatu bidang, kenapa tidak di coba? Tekuni dan maksimalkan apa yang kau suka." kata Sasuke menyarankan.

"Aku menyukai buku dan melukis." gumamnya tanpa arti.

Sasuke menoleh dan menatapnya serius. "Apa kau masih punya uang?"

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Sakura memasang tampang penuh selidik.

"Aku bukan ingin meminjam uangmu. Tapi, jika kau ingin bekerja karena uang, itu akan berbeda ketika kau bekerja karena kesenangan batinmu." Sasuke menarik nafas pelan, lalu dengan cepat mehembuskannya. "Jika karena uang kau bisa melakukan pekerjaan apapun. Tapi jika karena kesenangan, kau harus tau apa yang kau gemari. Pekerjaan apa yang kau inginkan?"

"Hmm.. Mungkin karena uang. Isi kartu kreditku menipis." keluh Sakura.

Sasuke mengangguk mengerti. Sebenarnya, ia ingin sekali menawarkan uang kepada Sakura, namun itu akan terlihat sombong. Lagipula, Sakura adalah tipe gadis yang tidak ingin merepotkan orang lain. Sakura adalah gadis mandiri.

"Ngomong-ngomong, bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Sakura.

"Mungkin setelah desainku jadi, aku akan langsung kembali ke London. Setidaknya, mereka butuh penjelasanku mengenai proyek yang ku buat."

"Apa yang kau buat? Rumah? Gedung? Sekolah atau—"

"Rumah." sela Sasuke. "Rumah untuk anak seorang Direktur kaya." Seharusnya kalimat ini tidak perlu ia ucapkan. Setelah mengatakannya, wajah seorang gadis terlintas di dalam benaknya.

"Ini proyekmu yang ke berapa?" tanya Sakura lagi.

"Tiga. Sakura.. kau banyak bertanya."

"Dan kau terlihat tidak keberatan menjawab semua pertanyaanku." Sakura meringis. Wajah Sasuke tetap datar memandang langit-langit ruangan. Sakura memandang wajah Sasuke yang berada di sampingnya. Terlihat ada raut kelelahan di wajah tampannya. Mungkin karena pekerjaannya. Sakura, Kenapa kau tidak menyarankan Sasuke untuk beristirahat? Jangan terus memandangnya, kau bisa jatuh cinta. Ups..

Merasa di pandangi, Sasuke menoleh. "Sakura.. Ikutlah denganku."

Alis Sakura berkerut heran. "Ikut? Ikut kemana?" Gadis itu yakin pendengarannya tidak bermasalah. Sasuke mengajaknya pergi, tapi kemana? Sakura benar-benar heran.

"Aku di undang di acara pernikahan seorang pengusaha, dia kerabat kakak ku." sahut Sasuke seraya mengeluarkan sebuah surat undangan pernikahan berwarna silver di balut dengan pita berwarna gold di tengahnya. Lalu menyodorkan kepada Sakura.

Sakura membuka surat undangan itu. Di dalamnya terdapat secarik kertas putih dengan tulisan,

Hatake Kakashi

Rin Nohara

"Tapi kenapa harus pergi denganku?" tanya Sakura. Masalahnya, yang di undang dalam acara pernikahan ini adalah Sasuke. Oh ayolah semua wanita pasti menunggu kesempatan emas ini, pergi ke suatu pesta dengan seorang Uchiha Sasuke. Sakura benar-benar beruntung.

"Lalu, apa aku harus pergi dengan Nyonya Kushina?"

'Benar juga dia..' batin Sakura.

"Tapi acaranya besok malam, aku bahkan belum menyiapkan apapun."

"Jadi kau akan ikut?" tanya Sasuke sambil menyeringai. Lihat betapa sexy nya dia. Sungguh, aku rela menggantikan Sakura jika ia tidak siap.

"Uhh.. Aku tidak yakin." ucap Sakura. Ia tersenyum seraya menyembunyikan kegugupannya.

"Kita tidak pergi ke luar negri Sakura. Memangnya kau harus menyiapkan apa?" tanya Sasuke dengan wajah datarnya.

Sakura menoleh. "Baiklah.. Aku ikut." Sahut gadis itu.

"Hn, bagus." Gumamnya. Kenapa Sasuke..? Sepertinya kau senang. Kita tidak tahu apa yang Sasuke sembunyikan di balik wajah datarnya, yang jelas ia pandai menyembunyikan ekspresi. Gengsi?

"Kenapa?" tanya Sakura. Pertanyaan itu benar-benar terlontar begitu saja dari mulutnya.

"Hn?" Sasuke mengerutkan alisnya. "Aku sudah banyak merepotkan Nyonya Kushina." kenapa topiknya malah menuju Nyonya Kushina? Jelas sekali pembicaraan mereka berbeda arah.

"Kau merepotkanku." ucapnya dengan bibir sedikit cemberut.

"Kau seharusnya beruntung di repot kan oleh seorang Uchiha Sasuke." Sahut Sasuke, ia menggeleng pelan kepalanya penuh arti. "Apa jadinya jika aku tidak menjemputmu."

Sakura menarik bibirnya kembali. "Oke, lain kali aku akan menelfon Naruto untuk menjemputku, pulang bersamanya dan—"

"Jangan merepotkan Dobe terus. Dia itu sibuk." gerutunya. "Kau mau merepotkan dia?" tanya Sasuke.

Sakura memiringkan kepala, menatap Sasuke dalam-dalam. "Oh begitukah?" Sakura mendadak tersenyum. "Dengan begitu aku akan punya banyak alasan untuk selalu bersamamu." Sakura mengedikkan bahu, acuh.

Sasuke terkejut mendengarnya. Sakura ingin selalu bersamanya? Benarkah? Alisnya berkerut. Tentu saja Sasuke berfikir bahwa Sakura tidak serius berbicara seperti itu.

Sakura melirik jam tangannya. "Sasuke, antar aku pulang." rengeknya seraya mengambil tas beserta jasnya yang ia letakkan di atas sofa.

"Hn." jawab Sasuke. Lalu mereka berdua bangkit, keluar apartemen menuju mobil di basement.

"Sejak kapan kau tinggal di apartemen?" tanya Sasuke. Pria itu tidak tahu jika Sakura pernah atau bahkan tinggal di apartemen. Setahu Sasuke, gadis itu tinggal bersama orang tuanya. Tidak mungkin jika Sakura melarikan diri dari rumah. Tidak apa, asalkan jangan melarikan diri dari masalah. Hell what?..

Sakura menoleh. "Sebenarnya aku sudah lama tinggal di apartemen. Kau tidak perlu tahu alasanku, lagipula mungkin aku hanya tiga hari disini." ucap Sakura. Lalu gadis itu membuka pintu dan segera keluar dari mobil.

"Aku akan menjemputmu besok jam tujuh malam." kata Sasuke. "Sampai jumpa."

Sakura hanya mengangguk setuju. "Hati-hati." ucapnya sambil memandang mobil yang di kendarai Sasuke pergi kian menjauh.

~~~oOo~~~

Sakura membuka pintu apartemennya. Waktu menunjukan hampir pukul setengah delapan malam. Sakura menghidupkan lampu ruangan. Ia berfikir seharusnya ia sudah mendapat pekerjaan, Sakura tahu bahwa ia memang telat untuk melamar di cabang perusahaan itu. Tapi mau bagaimana lagi, daripada harus membayar denda? Lebih baik Sakura mencari pekerjaan lain seprti yang di katakan oleh Sasuke. Ia berjalan menuju ke arah dapur. Ruangan apartemen ini sangat sunyi. Seraya berjalan pikiran Sakura juga terlintas tentang acara yang akan ia datangi bersama Sasuke besok malam.

Setelah berada di dapur, Sakura langsung memasak mie instant. Ia belum sempat berbelanja untuk sekedar mengisi kulkas nya. Kenapa tadi tidak mampir ke supermarket dulu? Pikirnya. Sebenarnya, Sakura tidak begitu menyukai makanan instant. Dia lebih suka makanan manis. Alasan umumnya mungkin karena kurang baik untuk kesehatan tubuh jika di makan terlalu sering. Ia akan memasak jika dirinya sedang malas memasak ataupun kehabisan stok makanan lain di kulkasnya.

Ia menyandarkan bahunya ke sofa sambil melahap mie instant. Merasa ruangan ini terlalu sunyi, Sakura menyalakan televisinya, sambil menyuapkan makanannya gadis itu menonton acara musik.

Yeah i let you set the pace

'Cause i'm not thinkin straight

My head spining around i cant see clear no more

What are you waiting for..

Suara lagu tak asing lagi terdengar mengiringi Sakura yang sedang melahap makanannya sambil memnonton video klip Love me like you do. Lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi wanita terkenal asal inggris Ellie Goulding. Siapa yang tidak tahu film Fifty Shade Of Grey? Film romantis terkenal antara Mr. Grey si milioner tampan dan Anna Stelle seorang mahasiswa cantik berusia 22 tahun. Film tersebut di bintangi sejumlah aktor dan aktris terkenal. Tidak usah di deskripsikan isi video klip nya, lebih baik kalian tonton sendiri. Saya sendiri pun belum pernah menonton film itu. Kenapa jadi membahas film? Lupakan..

Setelah selesai melahap makanannya, Sakura langsung menuju kamar mandi. Ia berdiri di depan cermin wastafel sambil menggosok giginya. Jam berapa sekarang? Kenapa rasanya ngantuk sekali.. Gadis itu menggosok giginya dengan mata sayup. Rasanya ingin cepat-cepat merebahkan diri di atas ranjang yang empuk. Hati-hati Sakura.. Jangan menggosok gigi sambil tidur. Ia mengambil segelas air untuk berkumur-kumur lalu Sakura membasuh wajahnya setelah itu ia langsung menuju kamarnya untuk segera sleeping beauty.

~~~oOo~~~

Naruto seperti enggan membuka matanya di hari minggu pagi yang cerah. Ia berencana untuk tidak melakukan aktivitas apapun hari ini. Beristirahat mungkin lebih baik. Jika semua orang pergi berlibur bersama keluarga, sahabat, atau kekasih mereka, untuk menghabiskan waktu menyenangkan di hari minggu ataupun sekedar relaksasi, Pria berusia 24 tahun ini justru lebih memilih untuk tidur seharian.

Mata Naruto sedikit terbuka sayup saat merasakan bahwa ponselnya bergetar dan menerima satu pesan baru. Ia mengambil ponselnya lalu melihat ke layar ponsel tersebut dengan posisi masih berbaring di ranjang empuk miliknya.

Teme : 'Dobe, aku tunggu di sport center biasa. Aku tidak terima penolakan.'

Satu pesan baru dari Sasuke. Ayolah sekarang itu hari minggu, bukan saatnya untuk bermalas malasan. Selama enam hari bekerja tubuh kita butuh bergerak. Kita harus rajin berolahraga walaupun hanya sekedar lima menit. Naruto berfikir, ia tidak bisa selalu bertemu sahabatnya itu karena mereka berdua punya kesibukan masing-masing. Jadi, apa salahnya berolahraga bersama.

Akhirnya Naruto bangkit, berjalan menuju kamar mandi. Ia akan pergi ke sport center untuk berolahraga bersama Sasuke.

"Aku kira kau akan tidur seharian." gumam Sasuke saat Naruto menghampirinya di sport center yang biasa mereka datangi saat masih SMA dulu. Sasuke berfikir tempat ini memang banyak berubah semenjak ia pergi. Ia jadi mengingat masa masa indah SMA dulu. Sasuke datang lebih dulu dari Naruto, ia menunggu sahabatnya di dalam mobil yang di parkirkan tepat di depan sport center itu selama 10 menit. Kenapa tidak masuk duluan saja? Padahal letak tempat itu lebih dekat dengan rumah Naruto.

"Aku memang berencana seperti itu." sahut Naruto seraya mengikat tali sepatunya yang berwarna abu-abu.

"Kau akan melewatkan hal penting." Sasuke tahu bahwa Sahabat kuningnya itu sangat jarang berolahraga. Padahal sangat penting bagi kebugaran tubuhnya.

Lalu mereka berdua berjalan menuju sport center untuk melatih otot-otot mereka. Kalian berdua ini sudah sexy. Tapi lebih sexy lagi jika melihat mereka berdua sedang melakukan fitness. Yeah..

~~~oOo~~~

"Kau yakin tidak akan pergi bersama Sai?" tanya Sakura

Sakura dan Ino membuat janji untuk bertemu di Konoha Mall Center. Hari minggu hari yang tepat untuk bersenang senang.. Mungkin shopping adalah salah satunya, atau mungkin wajib bagi para kaum hawa.

Ino menoleh, "Tidak. Saat ini dia sedang berada di Tokyo." jawabnya sambil memandang ke semua sudut di dalam mall yang di penuhi oleh butik baju. Sepertinya banyak yang membuat gadis berambut pirang panjang ini tertarik. Semua baju baju, gaun terlihat sangat menggiurkan baginya. Masalah fashion, Ino memang ratunya. Karena itu Sakura mengajak tidak lebih tepatnya meminta Ino untuk menemaninya mencari gaun yang akan Sakura kenakan untuk acara nanti malam.

"Kalau begitu, aku jadi bisa lebih lama menculikmu untuk membantuku."

"Kau akan tahu akibatnya jika menculik seorang gadis cantik. Ah itu dia." canda Ino, tangan kurusnya menunjuk sebuah Butik dengan berbagai macam gaun yang terpampang di bagian kaca transparan. Butik tersebut cukup menarik. Dindingnya terbuat dari kayu yang mengkilap. Ruangannya juga di desain sangat unik, sehingga membuat mata jadi tertarik untuk memandangnya.

Mereka berdua masuk ke dalam butik tersebut. Sakura dan Ino terlihat asik memilih-milih gaun. Ino seperti sedang serius mencari gaun yang sesuai dengan Sakura. Mata aquarime-nya tertuju pada sebuah long dress.

"Sakura, coba ini." kata Ino seraya menunjukan sebuah long dress berwarna abu-abu polos dengan belahan rendah pada bagian dada, dan membentuk V terbuka di bagian punggung.

"Ino, aku itu tidak pergi red karpet." gumamnya lalu melanjutkan kembali mencari dress sesuai seleranya. Sebenarnya Sakura tidak terlalu tahu masalah fashion, tapi ia tidak terlalu suka pakaian yang terlalu terbuka dan mencolok.

"Ah bagaimana dengan ini?" kali ini Ino menunjukan dress tanpa lengan, tinggi selutut berwarna putih dengan motif seperti bunga berwarna biru gelap dengan belahan setinggi sepuluh senti di bagian kanan paha.

"Ini bagus. Tapi coba kita cari lagi." kata Sakura.

Ino lumayan bingung dengan selera dan fashion sahabatnya. Yaa.. Wajar, semua orang punya selera fashion masing-masing. Dengan tubuh tidak terlalu kurus, bisa di bilang ideal bagi seorang wanita, Sakura sebenarnya cocok memakai dress atau gaun apapun.

"Ino lihat ini." Sakura menunjuk sebuah long dress tanpa lengan,tali tipis di bagian bahu bewarna merah gelap polos dengan model V neck tidak terlalu rendah di bagian dada, dan belahan sampai paha sempurna. Dress itu akan menampilkan leher jenjang dan punggung mulus pemakainya.

Ino sadar ternyata selera fashion Sakura sangat bagus. Ia memilih dress sempurna. Ino setuju dengan Sakura. Lalu Sakura mencoba dress itu. Ino menunggu sahabatnya keluar.

"Wah.. Benar-benar sempurna." Sakura mencoba dress itu. Ino memandang Sakura dengan mata bercahaya. Gaun itu sangat pas di tubuh Sakura.

Setelah membeli gaun tersebut Sakura juga membeli sebuah heels berwarna hitam setinggi 15 senti, Ino yang memilihkan heels itu untuk Sakura. Ia hanya mengangguk setuju mengingat dirinya hanya memiliki koleksi sneakers. Sakura hanya memiliki satu heels yang biasa ia pakai untuk bekerja.

Ino langsung mengantar Sakura pulang setelah semua keperluan Sakura beres. Mereka tidak mampir untuk makan bersama karena tiba-tiba Ino ada urusan penting. Ia mengantar Sakura sampai depan gedung apartemen.

"Terima kasih sudah mau di repot kan olehku. Kita bahkan tidak makan dulu tadi." Kata Sakura lalu menutup pintu mobil Ino.

"Sama sama. Tidak apa, kita bisa makan bersama kapan-kapan. Ibuku tiba-tiba menelepon ada urusan penting." sahut Ino

"Baiklah, hati-hati."

"Sampai jumpa. Semoga berhasil." gumam Ino, lalu pergi meninggalkan Sakura dengan mobilnya.

Sakura mengerutkan alisnya. Semoga berhasil? Tanpa berfikir panjang ia langsung menuju apartemennya dengan tangan yang penuh dengan barang belanjaannya.

~~~oOo~~~

Ting tong!

Sasuke menekan bel pintu apartemen milik Sakura.

Ceklek..

Pintu apartemen terbuka, mata Sasuke seakan enggan untuk berkedip saat melihat Sakura nampak di depan matanya. Gadis itu benar-benar membuatnya susah menelan ludah. Keheningan cukup menyelimuti mereka selama beberapa menit.

Mengagumkan.. Pikir Sasuke. Dengan make-up minimalis, tidak terlalu tebal dan mengenakan gaun merah gelap polos menampakkan leher jenjangnya, rambut pink seleher ia biarkan tergerai. Menampilkan kesan sexy yang akan membuat para laki-laki menganga. Sasuke tidak pernah menyangka melihat Sakura secantik ini. Sakura memang cantik, tapi ini pertama kalinya bagi Sasuke melihat Sakura seperti itu. Pria itu bagai mengajak aktris hollywood terkenal yang akan berjalan di red karpet.

Sakura terlihat agak risih saat onyx Sasuke memandangnya secara intens. Sakura memandang pria di depannya. Sasuke terlihat tampan dan cool menggunakan kemeja putih dipadukan tuxedo hitam yang terbalut sempurna di tubuh atletisnya itu. Sakura.. jangan lupa berkedip. Ia seperti sedang melihat Mr. Grey disini. Shit..

"Ayo." ajak Sasuke. Jika terlalu lama saling berpandangan, kapan kalian akan sampai di pesta tersebut?

Mereka berdua berjalan beriringan bak pasangan sempurna. Tunggu.. Mereka memang terlihat sempurna dan serasi jika menjadi sepasang kekasih. Ehem..

~~~oOo~~~

Sasuke dan Sakura tiba di pesta pernikahan Kakashi pukul delapan. Acaranya memang sudah mulai dari pukul tujuh malam. Suasana ramai dengan orang orang yang berpakaian elegan sexy dan rapi. Para tamu sudah banyak yang berdatangan.

Pesta pernikahan Kakashi di adakan di daerah selatan Konoha. Tempat yang jauh dari keramaian. Suasananya dominan berwarna putih. Ruang pesta ini ditata bergaya modern dengan sedikit sentuhan tradisional. Lampu-lampu mewah menggantung di tengah ruangan. Dan berbagai buket bunga mawar putih menghiasi sudut-sudut ruangan. Benar-benar indah.

"Sasuke.." mereka berdua bersalamam. Sasuke tidak lupa memberi selamat kepada Kakashi.

"Jadi, kapan kau akan menyusul ku?" goda Kakashi lalu melirik Sakura, Pria berambut perak itu menyenggol pinggang Sasuke dengan sikutnya.

"Aa. Ini Sakura." sahut Sasuke. Sakura langsung bersalaman dan berkenalan dengan Kakashi dan Rin yang telah resmi menjadi istrinya.

Kakashi sangat tampan menggunakan jas berwarna putih, serasi dengan Rin yang sangat cantik memakai gaun pengantin berwarna putih dibalut taburan permata yang berkilau, bagian belakang gaunnya menjuntai beberapa meter ke bawah, dia seperti putri dari sebuah kerajaan. Sakura juga tidak lupa memberi selamat kepada mereka berdua.

~~~oOo~~~

Naruto menggaruk kepalanya pusing, melihat banyak orang berlalu lalang dengan koper-koper besar yang diseret dengan malas. Ia mendesah sekali lagi. Kenapa tidak ada yang mendekatinya. Padahal ia sudah mengacungkan selembar kertas karton putih dengan tulisan nama seorang gadis yang sedang ia tunggu sedari tadi.

Tidak lama kemudian seorang gadis cantik berambut hitam panjang yang tidak jauh dari tempat Naruto berdiri, memutar pandangannya berulang kali. Lalu pandangannya berhenti saat membaca namanya. Gadis itu segera mendekat dengan menyeret kopernya.

Gadis itu nyaris sempurna dengan dibalut mini t-shirt putih model sabrina terbuka lurus di bagian leher dan bahunya dengan corak bunga, celana blue jeans pendek yang menampakkan kaki jenjangnya yang mulus, sepatu wedges pendek berwarna cokelat dan tidak lupa kacamata hitam membuat gadis itu semakin elegan. Gadis itu tersenyum.

"Aku Hinata." gadis itu mengulurkan tangan.

Naruto menurunkan kertas di tangannya, lalu membalas uluran tangan Hinata. "Naruto." jawabnya. Tidak lama, pria itu melepas tangannya. "Maaf soal ini, saya lupa nama lengkap anda." Naruto mengangkat kertas di tangan kirinya. Ia menulis nama gadis itu tanpa nama marganya.

Hinata tertawa kecil. "Ya, tidak apa. Hyuga Hinata, jika kau ingin tahu." ucapnya.

"Oke. Mari ikut saya" Naruto merasa kikuk.

"Baiklah."

Mereka berjalan beriringan. Dengan senang hati, Naruto menawarkan diri untuk membawakan kopernya. Tanpa basa-basi Hinata menerima tawaran pria itu.

"Ada baiknya jika kita tidak terlalu formal. Sepertinya kita seumuran."

"Akan aku coba." jawab Hinata

Naruto terkekeh. "Kau sudah mencobanya."

~~~oOo~~~

Sakura berjalan melihat suasana pesta ini. Banyak hidangan yang tentunya lezat tersaji di atas meja-meja bundar yang di alasi kain taplak berwarna putih. Ia memandang Sasuke yang asik berbicara dengan Kakashi dan pria pria lainnya. Mungkin rekan kerja Sasuke.

"Anda tidak minum nona?" seorang pria tiba-tiba berbicara sambil mengangkat sebuah gelas berisi minuman seraya menawarkan pada Sakura. Di lihat dari warna dan baunya, jelas Sakura sudah tahu bahwa itu adalah wine. Sakura bahkan tidak pernah meminum wine. Lagipula, dia adalah pria asing, tentu saja gadis itu sedikit waspada.

Sakura tersenyum sambil menggeleng kepalanya menolak. "Aa.. Tidak." tolak Sakura.

Suara tepuk tangan meriah terdengar. Sakura menoleh ke arah sumber suara tersebut, dan mendapati Kakashi yang sedang mencium istrinya. Semua orang terlihat bahagia. Lalu suara alunan musik klasik menggantikan suara meriahnya tepuk tangan. Semua pasangan berdansa termasuk pasangan pengantin yang berdansa romantis.

"Mau berdansa nona?" pria itu menawarkan lagi. Kali ini dia mengajak Sakura berdansa bersama. Dari penampilannya, pria itu memang tampan. Tapi tidak ada yang bisa mengalahkan pesona Uchiha Sasuke. Aku benar kan Sakura?

"Maaf, aku kekasihnya."

Keduanya menoleh dan melihat seorang Uchiha Sasuke yang sedang berdiri sambil melipat ke dua tangannya ke depan dada, punggungnya di sandarkan pada dinding.

Pria itu memandang Sasuke, seakan tidak terima dengan perkataan yang baru Sasuke katakan bahwa ia adalah kekasih Sakura. Lalu pria itu berjalan pergi meninggalkan mereka berdua yang saling bertatapan heran.

"Itu tidak sesuai realita." gumam Sakura.

"Apanya?" tanya Sasuke.

"Kau tahu apa maksudku."

"Hn." Sahutnya. Lalu Sasuke mengangkat tangannya seraya menawarkan Sakura untuk berdansa dengannya.

Sakura mengerutkan alisnya heran. "Aku tidak bisa berdansa."

"Kau akan tahu caranya jika sudah melakukannya."

Sasuke menarik tangan Sakura, mereka berdua berjalan menuju lantai dansa. Sakura tidak suka jika menjadi pusat perhatian. Semua mata memandang mereka berdua termaksud Kakashi yang tersenyum melihat mereka.

Kedua tangan Sasuke bertaut di belakang pinggang Sakura. Jantung gadis itu berpacu lebih cepat. Tangannya kini bersandar pada bahu pria itu. Kaki mereka berdua bergerak mengikuti irama lagu. Wangi parfum maskulin tercium oleh Sakura benar-benar memabukkan. Mata Sasuke memandangnya seakan ingin memakannya hidup-hidup.

Setelah sekitar hampir sepuluh menit berdansa. Suasana semakin terasa romantis di iringi alunan lembut suara piano dan alat musik lainnya. Dunia di sekitar Sakura seakan memudar seraya terjebak dalam tatapan onyx tajam pria di depannya. Sampai hanya Sasuke yang ia lihat. Segala agrumen, peringatan, dan perlawanan yang selama ini berteriak di otak Sakura, lenyap. Tenggelam dalam hasrat kuat memeluknya. Kini kepala Sakura bersandar pada dada bidang Sasuke.

Mata Sasuke terpejam saat gadis itu bersandar padanya. Ia merasakan harum seperti cherry pada rambut Sakura. Ingin sekali rasanya membelai mahkota pink itu. Tidak lama kemudian Sakura mendongak dan kini memandang onyx tajam milik Sasuke dalam diam. Tiba-tiba Sasuke mendekatkan tangannya ke wajah gadis itu, lalu jarinya membelai sebelah pipi Sakura yang halus. Ia melihat emerland Sakura sedikit terkejut dengan apa yang ia lakukan.

~~~oOo~~~

Naruto memasukkan barang-barang milik Hinata ke dalam bagasi mobil. Ia membukakan pintu mobil untuk gadis itu, kemudian melangkah menuju bangku kemudi.

Wangi parfum Hinata tercium di dalam mobil. "Bagaimana kabar dia?" Hinata membuka suara.

"Teme? Ah maksudku Sasuke?" tanya Naruto lalu mendapat anggukan kepala cepat dari gadis itu.

"Dia baik-baik saja."

Hinata mengangguk. Hanya mengangguk. Tidak ada pertanyaan lagi. Sampai Naruto memutuskan untuk balik bertanya. "Kau kesini untuk menjemputnya?"

Hinata menghela nafas panjang. "Jika dia mau."

Naruto mengangkat alis tidak mengerti. Tiba-tiba rasa ingin tahunya memuncak. Inilah sifat buruk yang di tularkan Sakura kepadanya. Selalu ingin tahu urusan orang lain, lebih lagi pada orang terdekat. "Apa kalian bertengkar?"

Hinata menggeleng. Naruto mengangguk mengerti. Ia tidak mau terlalu banyak bertanya pada gadis itu mengingat itu bukan urusannya. Mereka berdua melewati perjalanan dalam keheningan.

"Kau yakin ini apartemennya?"

Naruto mengangguk, mereka sudah berada di lobi apartemen. Menurut Naruto, ini terlihat seperti hotel mewah daripada apartemen. Mereka berdua menunggu Sasuke yang belum juga muncul.

Hinata menepuk lengan Naruto. "Terima kasih. Aku janji tidak akan memberi tahu Sasuke bahwa kau yang sudah membantuku sampai kesini." ucap gadis itu tulus.

"Tentu." jawab Naruto.

"Kau pulang saja, aku sendiri yang akan menunggunya disini."

Naruto menatap mata gadis itu dengan berat hati. "Kau yakin?" Hinata mengangguk mantap.

"Aku tidak punya kesibukan. Aku akan menemanimu." Sahut Naruto.

Hinata menatap pria itu lembut. "Dasar orang baik hati, baiklah kalau begitu." gumamnya.

~~~oOo~~~

To be continue..

#buat yang udah nebak hinata itu tunangannya sasuke, selamat ya.. tebakannya 100% akurat * hehe thnks juga buat semua yang udah review. maaf baru ngucapin. :)

chptr ini bener bener berantakan, maaf kalo ceritanya absurd ga jelas, datar trus banyak typo lagi. mungkin chptr ke depannya akan di dominasi sama naruhina.

Dan mohon doanya untuk proposal saya yang udah 4x ditolak semoga bisa di terima. dan bisa lanjutin fict ini supaya ngga telat mulu. Amin.. *curhat

review? kritikan selalu saya terima dengan senang hati.