"Akashi absen lagi?"

"Benar sensei.."

"Hhh anak itu. Aku tau kemampuan otaknya diatas rata-rata, namun sampai kapan dia mau sering-sering absen begini.."

"Sepertinya dia dalam masalah.."

"Maaf saya terlambat..", Akashi menutup pintu kelasnya dan segera berjalan kearah tempat duduknya.

Semuanya hanya memandangi Seijuurou. Mereka merasa ada yang aneh.

"A... Akashi?"

Seijuurou duduk dan tidak memperdulikan yang lainnya. Dia berjalan seolah tidak ada apa-apa.


Our Unforgivable Love

Chapter 7

Enjoy reading!


"Itekimasu.."

"Seira, apa kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat.."

"Aku hanya kurang tidur. Baiklah, aku berangkat!"

Seira kembali berangkat sekolah.

"Sebenarnya aku kenapa?"

Seira merasa ada yang aneh dalam dirinya akhir-akhir ini.

"Nggghhh..", Seira menyempatkan dirinya untuk pergi ke pantai sekali lagi. Untuk menenggelamkan surat didalam botol yang ditulisnya setiap hari. Sayang sekali Seira tidak mengetahui jika Seijuurou sudah menerima suratnya.

"Seijuurou..", Seira kembali memandang langit, sambil berharap dapat cepat melihat wajah pemuda yang sangat dirindukannya itu.

"Sudah setahun, Seijuurou.."

Seira kembali berjalan ke sekolah. Kepalanya yang tadi agak pusing, kini benar-benar terasa sakit.

"Nggghh..", Seira yang tidak tahan akhirnya memegangi kepalanya sambil berusaha berjalan. Setidaknya dia bisa berbaring saat sampai di sekolah.

"Ohayou Akashi-san!", sapa kohai yang kini menjadi sekelas dengan Seira.

"Oha...", belum sempat Seira melanjutkan kata-katanya, kini dia sudah terlebih dahulu jatuh dan tidak sadarkan diri.

"Akashi-san! Akashi-san!"

.

.

"SEIRA!"

Semua yang berada di kelas langsung saja menoleh kearah Seijuurou yang tiba-tiba berteriak.

"A-ada apa, Akashi-kun?", Guru yang mengajar pun tidak terlalu berani terhadap Seijuurou.

"Maafkan saya..", Seijuurou kembali duduk dan membaca bukunya. Namun pikirannya tidak bisa fokus ke buku.

'Apakah itu mimpi? Kenapa terasa begitu nyata?'

Seijuurou bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Seijuurou juga sangat khawatir dengan Seira. Bagaimana kalau mimpinya tadi adalah kenyataan?

Seijuurou menggaruk-garukkan kepalanya. Kepalanya yang sudah agak pusing, makin bertambah karena memikirkan ini.

Seijuurou menunduk, kemudian mengangkat kepalanya. Dia cukup terkejut melihat bukunya yang tiba-tiba ternoda.

"Da... Darah?"

Seijuurou mencoba untuk menyentuh sekitar hidungnya, dan dia mendapati dirinya yang sejak tadi mimisan tanpa disadarinya.

"A-aku kenapa?"

Mata Seijuurou sudah tidak kuat lagi untuk terus terbuka, dan akhirnya Seijuurou pun pingsan di tengah-tengah berlangsungnya pelajaran.

.

.

"Ah.."

"Seira! Syukurlah, akhirnya kamu sadar.."

"Ibu?"

"Sudah ibu bilang kan, kau harus makan yang banyak! Istirahat yang cukup dan jangan terlalu banyak pikiran. Jadi begini kan akibatnya.."

"Maaf.."

"Hhhh, jangan terlalu memaksakan dirimu..", Ibu Seira meletakkan segelas air di sebelah Seira.

"Ibu..."

"Ada apa?"

"Bagaimana kabar Seijuurou?"

Pandangan ibunya yang tadi penuh kasih sayang tiba-tiba berubah. Nama itu seperti dilarang bagi Seira.

"Dia... Baik-baik saja bersama ayah.."

Seira tersenyum lemah pada ibunya.

"Syukurlah.."

Ibunya memandangi Seira yang tersenyum. Rasa bersalah muncul dalam hatinya. Tapi hal itu cepat-cepat dihilangkannya, mengingat apa yang sudah kedua anaknya perbuat.

"Lupakan Seijuurou.. Hilangkan dia dari ingatanmu jauh-jauh.."

.

.

"Aku tidak apa-apa ayah.. Pihak sekolah terlalu berlebihan, aku hanya kelelahan saja..", kata Seijuurou malas.

"Baiklah-baiklah, aku hanya ingin memastikan saja..", balas ayahnya juga dengan nada yang malas. Perbincangan ayah dan anak di telepon yang kurang menyenangkan. Seijuurou juga tau jika ayahnya sedikit enggan berbicara dengannya.

"Kau memikirkan Seira kan hingga begini? Buang jauh-jauh pikiranmu untuk bersamanya. Kalian tidak akan pernah bisa bersama.."

Seijuurou diam. Terjadi keheningan sementara didalam telepon.

"Apa Seira baik-baik saja?"

"Kau tidak perlu tanya.."

"Apa Seira baik-baik saja, Ayah?!"

Merasa tidak bisa kalau tidak menjawab pertanyaan anaknya ini, akhirnya dia berbicara.

"Baik-baik saja.. Dan akan selalu baik walau kau tidak di sisinya."

Seijuurou tersenyum.

"Hmmmm baiklah.. Tidak apa-apa selama dia baik-baik saja.."

.

.

Setelah seminggu Seira dan Seijuurou beristirahat, akhirnya mereka kembali ke aktivitas masing-masing. Seijuurou kembali ke sekolah, dan bekerja sambilan pulang sekolah. Dia bekerja untuk biaya "pencarian Seira di seluruh Jepang". Seira juga kembali ke sekolah, dan menulis surat seperti biasa. Tetapi, kondisi mereka berdua semakin buruk tiap harinya. Seira berkali-kali ditemukan pingsan, dan Seijuurou juga semakin sering tidak masuk sekolah karena sakit.

Ibu mereka akhirnya membawa Seira ke dokter di desa itu.

"Maaf. Sebaiknya anda periksakan anak anda di rumah sakit kota. Kami tidak memiliki alat tes penyakit berbahaya.."

Mendengar itu tentu saja Ibu Seira sangat takut. Takut apa yang selama ini dikhawatirkannya akan menjadi kenyataan.

"Tunggu sebentar Seira, ibu akan menghubungi ayahmu.."

Seira pun menunduk dan menurut, dia duduk di ruang tunggu klinik kecil itu.

"Ada apa?"

"Kau masih ingat kenapa kakekku dan ayahku meninggal bukan? Memang penyakitnya tidak menurun padaku, tetapi..."

"Apakah menurutmu penyakit itu menurun pada Seira?"

"Ya... Bagaimanapun juga, kemungkinannya besar kanker bisa menurun kan?"

Perkataan ibunya itu, kini juga membuat suaminya cemas.

Seijuurou memanfaatkan alasan sakit untuk tidak masuk sekolah. Namun kenyataanya dia kabur dan pergi ke sekitar Osaka. Seijuurou mencari Seira di satu persatu Desa, dan tetap saja tidak membuahkan hasil.

"Hhhh.. Baiklah, minggu depan aku akan kembali..", dengan pasrah Seijuurou kembali ke bandara dan bersiap pulang. Hatinya masih belum bisa lega karena belum menemukan Seira.

.

.

Seira, Ibunya dan Ayahnya kini dengan cemas menunggu di ruang tunggu rumah sakit. Seira cukup tenang, namun ayah dan ibunya terus gelisah dari tadi.

"Aku tidak apa-apa..", kata Seira berusaha menenangkan mereka.

"Nyonya dan tuan Akashi, dimohon untuk segera masuk."

Semuanya berdiri, termasuk Seira.

"Seira kau tunggu disini.."

"Tapi..."

"Apapun hasilnya, kami tidak akan membohongimu..", kata ibunya sambil tersenyum. Namun dibalik senyum itu, banyak rasa khawatir dan bingung yang disembunyikannya.

Seira pun dengan pasrah kembali duduk. Dia tidak peduli apakah penyakitnya parah atau tidak. Hanya saja, Seira benar-benar penasaran dengan penyakitnya.

"Nyonya dan Tuan Akashi. Anak kalian, Akashi Seira, positif mengidap Kanker otak.."

.

.

Akibat Seijuurou membolos dan berbohong minggu kemarin, kini dia benar-benar sakit. Karma memang terjadi padanya.

"Lebih baik periksakan dirimu ke dokter Akashi.."

Seijuurou sudah muak mendengar semua orang berkata padanya untuk segera memeriksakan dirinya. Akhirnya Seijuurou bertekad untuk memeriksakan dirinya ke rumah sakit, dan berharap hasilnya dapat membuat orang-orang di sekolahnya diam.

Tiga hari kemudian Seijuurou kembali ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes nya. Dia sudah tidak sabar membuat semua orang diam dan berhenti menyuruhnya ke dokter lagi.

"Akashi Seijuurou, saya ingin berbicara dengan anda.."

Seijuurou sedikit terkejut melihat dokter yang menjadi serius itu, namun dia mengikuti saja.

"Saya perlu berbicara dengan orangtuamu.."

"Ayahku di Tokyo sedangkan Ibuku di sekitar Osaka.."

"Baiklah. Akashi-kun, apakah keluargamu memiliki penyakit yang sudah menjadi penyakit turunan?"

"Entahlah, aku tidak begitu tau. Sebenarnya ada apa denganku?"

Dokter itu menghela nafas, kemudian melanjutkan kata-katanya.

"Saya tidak begitu tau apa penyebabnya. Dilihat dari wajahmu, kau mempunyai stress yang begitu dalam. Tetapi sepertinya bukan hanya itu pemicunya, bisa dari keturunan.."

"Aku kenapa? Tolong jangan bertele-tele.."

"Akashi-kun, kau positif menderita Kanker otak.."

.

.

"Permisi.. Apakah disini ada yang bernama Akashi?"

"Akashi? Hmmm.."

"Oh.. Apakah yang kamu maksud Ibu dan anaknya yang masih remaja itu? Dan kalau tidak salah, anaknya lumayan mirip denganmu."

"Benar! Apakah saya bisa meminta alamat mereka?"

"Sayang sekali. Akashi Seira dan Ibunya sudah pindah sejak sebulan lalu.."

Seijuurou tertunduk. Kenapa takdir begitu mempermainkannya? Disaat dia sudah berhasil mencapai tempat Seira, kini Seira sudah tidak berada disana.

"Kenapa?"

Seijuurou bahkan tidak memperdulikan penyakitnya, yang dia pedulikan hanya Seira, Seira dan Seira.

Seijuurou tidak kecewa dengan kesia-siaanya, namun dia merasa sangat sakit hati dengan semua ini. Apakah memang dia dan Seira tidak ditakdirkan bersama?

Dengan berat hati pun Seijuurou kembali ke Kyoto, dan memutuskan untuk mengunjungi Tokyo liburan berikutnya.

"Apa lagi yang harus aku lakukan?"

Seijuurou duduk sambil meminum sekaleng bir. Dirinya yang kacau ini bukan diri Seijuurou yang biasanya. Seijuurou sudah terlalu memikul beban yang sangat berat. Mulai dari perasaannya, dipisahkannya dia dan Seira, hingga akhirnya kanker otak. Apakah ini adalah wujud dari stress nya?

Seijuurou yang tidak tau harus berbuat apalagi, hanya tinggal diam di Kyoto. Kondisinya semakin buruk, bahkan tidak sedikit teman-teman atau guru yang curiga dan khawatir dengan kondisinya. Tetapi bukan Akashi Seijuurou namanya jika dia tidak bisa menyembunyikan itu semua. Dia tetap berusaha membuat semuanya seolah baik-baik saja. Tetapi, jauh didalam hatinya, dia juga berpikir.

"Berapa lama sisa waktuku hidup?"

.

.

Seira terus memandangi jendela dari kamarnya. Seira tidak dapat bergerak bebas. Tangannya diinfus dan tubuhnya menjadi sangat lemah.

"Aku ingin bertemu dengan Seijuurou...", guman Seira pelan.

Suara Seira memang pelan, tapi cukup untuk didengar oleh kedua orang tuanya yang sengaja berdiri didepan kamar rawatnya.

"Apa tidak sebaiknya kita memberitahukan ini pada Seijuurou?"

Ayah Seira menunduk, dia mengepalkan tangannya.

"Belum saatnya..", dan dia membuka pintu kamar Seira.

"Ayah.. Ibu.."

"Bagaimana perasaanmu hari ini?"

"Biasa saja..", Seira menjawab sambil tersenyum lemah. Hal itu membuat hati orangtuanya sakit.

Seira kembali memandangi langit melalui jendelanya.

Seira berpikir, bagaimana cara memberitahukan Seijuurou kalau dirinya sekarang ada di Tokyo? Apakah salah satu suratnya mencapai Seijuurou? Tetapi dia juga tidak ingin Seijuurou khawatir jika melihatnya seperti ini.

Dan kali ini rencana Seijuurou untuk pulang ke Tokyo dibatalkan. Dia merasa akan lebih baik jika dia memfokuskan dirinya untuk pertandingan yang mungkin akan menjadi pertandingan terakhir baginya.

"Tunggu aku Seira..", guman Seijuurou pelan sambil memegang frame kecil yang berisikan fotonya dan Seira. Seijuurou memang tidak mau dirawat di rumah sakit dan menolak segala macam pengobatan, tetapi dia masih rutin meminum obat dan memeriksakan tubuhnya. Setidaknya dia harus menjaga kondisi tubuhnya saat bisa bertemu Seira.

Mereka berdua sama-sama berjuang untuk hidup agar dapat bertemu satu sama lain suatu saat nanti. Namun yang namanya kanker, tidak menutup kemungkinan meningkatnya stadium kanker mereka.

"Jangan terlalu banyak berpikir Akashi-kun.. Penyakitmu ini juga disebabkan oleh beratnya pikiranmu..", kata dokter menasihati Seijuurou.

"Anak anda mengalami stress yang sangat berat sehingga memicu timbulnya penyakit ini..", jelas dokter pada ayah Seira.

.

.

.

.

Next 3 months

.

.

.

"Ngghh.."

Seijuurou menghela nafas saat sudah sampai di Tokyo. Sudah sangat lama sekali sejak dia terakhir kemari. Seijuurou sebenarnya juga sedikit enggan pulang ke rumahnya, mengingat kini ayahnya benar-benar kecewa padanya. Tetapi mungkin saja ayahnya tidak ada di rumah kali ini.

Seijuurou kembali melihat kertas hasil tes kesehatannya. Dia melipatnya, tidak berniat untuk memberitahukan kedua orang tuanya, teman-temannya, ataupun Seira. Seijuurou kembali berjalan, berniat pergi dari bandara dan pulang.

"Akashi-kun.."

"Eh? Tetsuya, sedang apa kau disini?"

"Aku baru saja mengantar ibuku.. Sudah lama sekali aku tidak melihat Akashi-kun.."

"Ya, sudah lama sekali. Bagaimana kabarmu?"

"Baik-baik saja. Apakah Akashi-kun akan menjenguk Seira-san sebentar lagi?"

Seijuurou kaget. Apa maksud perkataan Tetsuya ini.

"Menjenguk?"

"Apa Akashi-kun belum tau jika Seira-san dirawat di rumah sakit? Kami tidak diperbolehkan mengunjunginya, tetapi aku sudah beberapa kali menjenguk Seira. Sepertinya pihak rumah sakit tidak menyadariku..", jelas Tetsuya.

"Tetsuya! Apa yang terjadi pada Seira?! Dia dirawat dimana?!"

Saat itu wajah Seijuurou menjadi panik dan sedikit mengerikan, sementara Tetsuya menjadi kaget dan sedikit bingung.

"Seira-san terkena kanker otak. Dia dirawat di rumah sakit Tokyo.."

Seijuurou langsung membisu dan shock. Apakah semua ini nyata?

"Akashi...kun?"

"Terima kasih Tetsuya!", Seijuurou segera berlari menuju rumah sakit secepatnya.

"Seira, kita benar-benar kembar!"

.

"Baiklah Seira, Ibu akan kembali besok. Kalau ada apa-apa langsung hubungi ibu saja."

Seira mengangguk, "Tidak perlu khawatir.. Jaa-ne!"

Setelah ibunya pergi, Seira kembali membaca buku yang merupakan hadiah dari Seijuurou saat mereka masih SMP. Seira sudah berkali-kali membacanya, namun tidak pernah bosan.

"Seijuurou...", Seira berguman pelan. Entah sudah berapa kali dia menyebutkan nama itu.

Tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa. Orang tersebut kehabisan nafas, sepertinya dia berlari kemari.

"Seira... Hhhhh... Hhhh.."

Seira langsung menjatuhkan bukunya. Dia berdiri dari tempat tidurnya, tidak memperdulikan infus yang terjatuh dan terseret mengikutinya.

"Seijuurou!"

"Seira!"

Seijuurou menangkap Seira yang tersungkur, dan membawanya ke dalam dekapannya.

"Kenapa bisa.. Kenapa ayah dan ibu tidak memberitahukanku..", kata Seijuurou sedikit kesal. Dia memeluk Seira semakin erat.

"Mereka tidak menginginkan hal yang sama terulang kembali pada kita, Seijuurou..", jawab Seira sambil menangis dalam pelukan Seijuurou.

Mereka berdua menangis saat itu. Saling melepas rindu dan kesedihan sama-sama.

"Kau potong rambutmu?", Seira memegang helaian poni rambut Seijuurou.

"Ya.. Dan rambutmu bertambah panjang..", Seijuurou mendekatkan wajahnya dan melakukan hal yang sudah hampir dua tahun tidak dilakukannya.

"Heii.. Aku sakit Seijuurou.."

"Tidak apa, aku rela kalau tertular sakitmu..."

"Bodoh, ini tidak menular.."

"Siapa yang memulai kebodohan ini?"

Mereka berdua tertawa bersama. Seijuurou dan Seira benar-benar bahagia bisa melihat satu sama lain kembali. Seijuurou kemudian mengangkat tubuh Seira dan membaringkannya kembali.

"Kau tau darimana aku disini?"

"Tetsuya.. Hanya dia yang bisa menjengukmu bukan?"

Seira mengangguk, dalam hati dia bersyukur karena Tetsuya bertemu dengan Seijuurou.

"Oh ya, lihatlah..", Seijuurou mengeluarkan sebuah kertas dari kantongnya.

"I-ini...", Seira hampir tidak mempercayainya. Seijuurou tersenyum, "Sepertinya kita memang ditakdirkan bersama. Lihatlah, suratmu menggapaiku..."

"Kapan kau mendapatkannya?"

"Sebelum kau pindah dari tempatmu dikarantina itu.."

"K-kau pergi kesana?"

"Tentu saja. Aku mencarimu kemana-mana.."

Seira tersentak kaget. Apakah selama ini Seijuurou terus berkeliling mencarinya?

"Tapi syukurlah, akhirnya aku menemukanmu.."

"Nee.. Seijuurou.."

"Ada apa?"

"Kau tau kan umurku tidak lama lagi.."

"Jangan bilang begitu!", meski menyangkal Seijuurou tau jika itulah yang akan terjadi. Karena penyakit mereka berdua benar-benar sama.

"Selama ini aku terus berjuang untuk sembuh, sampai aku dapat melihatmu. Tetapi dengan begini, aku sudah agak lega. Setidaknya kalau bisa berada di sisimu selama sisa waktuku, mungkin aku dapat pergi dengan tenang..", kata Seira sambil tersenyum.

Seijuurou tidak tahan lagi, dia memeluk Seira.

"Baka..."

Untuk yang kedua kalinya hari ini, seorang Akashi Seijuurou menangis.

Seira meminta pada Seijuurou untuk tidak marah dengan orangtuanya. Kalau dapat bertemu dengan Seijuurou diam-diam, itu sudah lebih dari cukup daripada harus dipisahkan lagi.

"Aku akan kembali besok.. Tunggu aku..", kata Seijuurou sambil mengelus kepala Seira.

"Jangan sampai ketahuan ibu.."

Seijuurou mengangguk. Dia melambaikan tangannya dan kemudian keluar dari kamar Seira.

"Apa aku harus memberitahu Seira?"

.

.

"Seijuurou, ibu berangkat dulu, ada urusan.."

"Baiklah, hati-hati.."

Setelah menutup pintu, Seijuurou tertawa dan berguman.

"Ada urusan? Menjenguk Seira kah maksudmu?", Seijuurou berguman sambil menyeringai, sedikit jengkel dengan ibunya yang berbohong. Namun mengingat kata-kata Seira kembali, dia berusaha tenang.

Seijuurou kembali menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Dia memegangi kepalanya sambil terus berpikir tentang penyakitnya. Bukannya dia khawatir tentang kesehatannya, namun bagaimana dia menjelaskan ini pada Seira. Bagaimanapun juga, Seijuurou tidak ingin menyembunyikan apapun pada Seira, mengingat Seira selalu jujur padanya.

Tiba-tiba Seijuurou sadar. Berarti perjuangannya untuk melawan penyakitnya sudah selesai. Sisanya dia akan pasrah dan menghabiskan waktu bersama Seira.

"Hahaha.. Aku memang pintar dalam menyembunyikan penyakitku dari semuanya..", guman Seijuurou sambil tertawa dan merasa bangga karena dirinya hebat (?)

Seijuurou menghabiskan hari itu hanya dengan tiduran dan menunggu ibunya pulang, namun walau sudah malam ibunya tidak kunjung pulang.

"Sial.. Kapan aku bisa menjenguknya kalau begini..", Seijuurou mulai kesal dengan ibunya yang tidak kunjung pulang.

Akhirnya setelah sangat lama Seijuurou menunggu, ibunya pulang tepat jam sepuluh malam.

"Lama sekali? Darimana saja? Apakah urusan ibu selama itu?", kata Seijuurou sedikit sinis berusaha menyindir ibunya.

"Tentu saja, Ibu ada kerjaan.."

"Baiklah.. Malam ini aku diajak untuk menginap di rumah Tetsuya.. Sampai besok bu..", Seijuurou pun keluar tanpa mendapat ijin dari ibunya. Kalau sudah begini, mau tidak mau Seijuurou akan menginap untuk menemani Seira hingga pagi.

"Seira.."

"Ah! Seijuurou.."

"Ibu tidak kunjung pulang.. Maaf, kau tidur saja. Aku akan menemanimu hingga pagi.."

"Tidak. Daritadi aku tidak bisa tidur karena terus menunggumu!"

"Hahahaha.. Orang sakit itu harus banyak istirahat.."

Setelah mengatakan itu, tiba-tiba saja kepala Seijuurou merasa sakit. Dia berusaha tidak memegangi kepalanya agar Seira tidak curiga, namun tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan wajah pucatnya itu.

"Seijuurou?"

"Ada apa?"

Kini hal yang lebih mengerikan terjadi. Seijuurou tidak dapat melihat Seira dengan jelas. Pandangannya benar-benar kabur.

"Apa kau tidak apa-apa? Tiba-tiba saja wajahmu menjadi pucat.."

"Tentu saja tidak apa-apa..", Seijuurou tersenyum dan berusaha menyembunyikannya. Namun tetap saja dia terkejut dengan semua ini.

"Seijuurou.."

"Ada apa?"

"Pegang tanganku..."

Seijuurou mulai kebingungan. Dia masih bisa melihat samar-samar, tetapi untuk dapat memegang tangan Seira dengan tepat sepertinya tidak mudah.

Seijuurou mulai meraba-raba sekitar tempat tidur Seira, namun dia tidak memegang telapak tangan Seira dengan tepat, melainkan pergelangan tangan Seira.

"Seijuurou?"

"Hahaha.. Bercanda.. Karena kau yang meminta, letakkan tanganku di tanganmu..", Seijuurou berusaha menutupi. Seira pun dengan tersenyum mengarahkan tangan Seijuurou, kemudian Seijuurou menggenggam tangan Seira dengan erat.

"Kalau kau mengantuk tidur saja Seira.. Aku akan menjagamu hingga pagi.."

"Tidak.. Aku tidak merasa mengantuk sedikitpun.."

Mereka berdua sama-sama tersenyum. Mungkin saat-saat seperti inilah yang dapat membuat mereka bahagia. Ditambah genggaman hangat tangan mereka, menandakan tidak akan melepas satu sama lain.

Seijuurou melihat kearah Seira yang tertidur. Dia tersenyum kemudian mengelus pelan rambut Seira.

"Oyasumi.."

Keduanya pun tertidur sambil menggenggam tangan satu sama lain. Seijuurou pun hampir lupa kalau pada pagi hari dia harus cepat pulang agar tidak ketahuan ibunya.

"Ngghh.."

"Ohayou, Seijuurou.."

Seijuurou akhirnya benar-benar membuka matanya. Saat melihat kearah jam, dia pun langsung membesarkan matanya.

"Astaga, sudah jam segini! Seijuurou pun bergegas untuk segera pergi.

"Jam berapa ini Seijuurou? Maaf aku tidak membangunkanmu.. Pandanganku kabur.."

Mendengar itu Seijuurou kaget. Kemarin baru saja dia mengalaminya, dan kali ini Seira lah yang mengalami?

"Sudah jam sepuluh pagi.. Aku harus cepat pergi sebelum ibu datang.."

Raut wajah Seijuurou menjadi sedih. Tetapi mungkin saja ini hal yang wajar bagi penderita kanker otak?

"Oh begitu.. Baiklah.. Tetapi kau akan datang lagi bukan?"

"Tentu.."

Sebelum Seijuurou meninggalkan kamar Seira, dia meninggalkan ciuman tepat di bibir Seira terlebih dahulu.

"Sampai jumpa.."

Seira mengangguk, "hati-hati.."

Setiap harinya Seijuurou selalu melakukan hal itu berulang-ulang, dan untungnya ibu mereka tidak tahu sama sekali.

Dengan begini, Seijuurou dan Seira pun akhirnya dapat sering bertemu satu sama lain. Seijuurou pun terus mengunjungi Seira setiap harinya dan merahasiakan ini semua dari ibunya. Dia juga tidak bertanya kepada ibunya tentang Seira karena dia sudah mengetahui semuanya.

"Besok kamu akan kembali ke Kyoto?"

"Benar. Bagaimanapun juga, aku masih harus sekolah.."

"Hhhhh..", raut wajah Seira menjadi kusut. "Padahal aku ingin dapat bersamamu lagi.."

"Aku kan bisa kemari kalau tidak sedang sibuk.."

"Hnnhh... Tetap saja..."

Seijuurou tersenyum dan mengacak pelan rambut kakaknya itu.

"Nee.. Seijuurou.."

"Apa?"

"Kau.. Benar-benar tidak apa-apa kan?"

Senyuman di wajah Seijuurou menghilang, digantikan wajah yang kaget dan pucat.

"A-apa maksudmu? Tentu saja aku tidak apa-apa.. Hahahaha.."

Wajah Seira pun giliran berubah, kini menjadi serius.

"Jangan berbohong.."

"Aku tidak bohong.."

Seijuurou berusaha menyembunyikan ketegangannya sebisa mungkin dan menjawab pertanyaan Seira dengan santai. Tetapi Seira tetap memandanginya dengan serius.

"Sungguh?"

"Sungguh.."

"Benar?"

"Sangat benar.."

Dan sebelum Seira berbicara lagi, Seijuurou sudah menyumpal bibir Seira dengan bibirnya.

"Tidurlah.. Aku akan disini sampai besok pagi.."

"Oyasumi, Seijuurou.."

"Oyasumi, Seira..."


To be continued

Almost finish!

Gimme your respon please^^

Alenta93 : thankyou reviewny^^ ide bgs, ntar sy pke di next fic aja :3 thankyou thankyou *toss sesama sadis*