Syuko bergegas pergi ke kelas satu bersama dengan Koharu dan Rin. Beberapa orang tua murid sudah berada di dalam kelas, namun tampaknya pelajaran masih belum dimulai.
"Minami san!"
"Oh, Syuko."
"Pelajarannya masih belum dimulai ya?"
"Iya, sepertinya masih menunggu para orang tua yang belum datang."
"Ibu!" Momo berteriak dari bangku paling depan.
Syuko membalas panggilan Momo dengan lambaian tangan. "Semangat, Momochan!"
"Kiyoko, semangat!" Minami pun turut menyemangati cucunya.
Kiyoko yang mendengar namanya dipanggil menolehkan ke belakang. Namun dia sedikit kebingungan dan mencari-cari siapa yang memanggilnya barusan. Sampai akhirnya matanya bertemu pandang dengan Syuko. "Ah, bibi Syuko!" sapanya sembari melambaikan tangan.
"... Apa dia tidak menyadari kehadiranku ya?..." ucap Minami dengan lemas.
"Kinta kun, Kinta kun...!"
"Mama!"
"Mama berikan ciuman penyemangat. Muah!"
"Yay! Terima kasih mama!"
"Kinta kun memang selalu semangat ya. Beda sekali dengan anakku yang kerjanya hanya makan dan makan," Rin menghela napas.
"Tapi Kei kan lucu sekali. Aku selalu gemas kalau melihatnya!"
'Sreg' pintu kelas kembali terbuka, pertanda ada orang yang baru saja masuk. Syuko langsung memeriksa ke arah pintu untuk melihat siapa orang tersebut.
"Yak, tolong di simpan di sana ya!" Wanita berambut merah bernama Mukahi tampak menyuruh seorang laki-laki berjas untuk menaruh sebuah kursi. "Sudah cukup, di sebelah situ saja."
"Aduh Mukahi san ini. Semua oang jadi melihat kita," ucap Toriko dengan sedikit berbisik.
"Tidak apa-apa, daripada kakiku sakit karena terlalu lama berdiri. Toriko yakin tidak akan diambilkan kursi juga?"
"Iya, tidak usah repot-repot."
"Itu kan orang yang tadi kita bicarakan," ujar Syuko kepada Rin.
"Iya. Sekarang kamu sudah mengerti kata-kataku tadi kan?"
"Hmm... ya."
"Tidak sangka ya Mukahi san itu ibu dari Jiro kun yang lucu."
"Memang yang mana anak Mukahi san?"
"Itu," Koharu menunjuk seorang anak yang tengah tertidur pulas. "Dan yang duduk di sebelahnya adalah anak Toriko."
"Eh, kok rasanya mereka tidak mirip..."
"Iya, Wakashi kun lebih mirip ayahnya."
Tak lama kemudian pintu kembali terbuka. Kini dua orang wanita yang sejak tadi tidak berhenti beradu mulut masuk ke dalam ruangan. "Jadi katakkan saja berapa yang harus aku bayar?"
"Sudah kubilang, aku tidak akan pernah menjual anakku!"
"Berapapun akan aku bayar."
"Jangan berharap!"
"Aduh, aduh, kalian ini memang tidak pernah akur ya," komentar seorang wanita yang berjalan di belakangnya.
"Kenapa Mari san? Apa kamu mau menyerahkan Aki padaku?"
"Mizuki, kamu kan sudah punya anak sendiri..."
Setelah memastikan semua orang tua murid ada di dalam kelas, Guru Tomoko mulai menyambut mereka dan memulai pelajaran. "Selamat siang semuanya!"
"Selamat siang bu guru!"
"Hari ini kita akan belajar berhitung, sama seperti kemarin. Jadi, bagi yang namanya dipanggil harus menjawab soal yang ibu berikan ya! Kalian siap?"
"Siap!" sahut semua anak. Mereka terlihat sangat antusias menanti pertanyaan yang akan diberikan sang guru.
"Pertanyaan pertama untuk siapa ya..." Tomoko melihat satu persatu muridnya untuk mencari sasaran. "Momochan!"
"Ya!"
"Pertanyaannya... Ibu membeli tiga apel lalu dimakan dua. Jadi apel ibu tersisa berapa?"
"Satu buah, bu!"
"Betul!"
"Hehe!"
"Lalu pertanyaan selanjutnya untuk... Aki! Jika ibu punya tiga pisang dan besok membeli dua lagi, jadi pisang ibu ada berapa?"
Aki memakai jemarinya untuk berhitung sebelum akhirnya menjawab. "Lima, bu!"
"Benar sekali!"
"Wah... Aki chan pintar ya. Sudah begitu lucu lagi..." komentar Mizuki.
"Mizuki... tolong jangan mulai lagi..." ujar Mori yang mulai kahwatir.
"Lalu pertanyaan selanjutnya untuk... Kiyoko!"
"Oke!"
"Kiyoko membeli tiga permen lalu ibu memberi tiga lagi. Jadi permen Kiyoko ada berapa?"
"Ada enam, bu!"
"Betul!"
"Yay, Lucky!"
"Selanjutnya Shinya! Kalau kemarin ibu punya tujuh kue lalu dimakan tiga. Sisanya berapa?"
"Ummh..." Shinya mulai menghitung menggunakan jarinya. "Empat, dane!"
"Benar sekali!"
Shinya membalikkan badan untuk melihat ke arah sang ibu dan berharap mendapatkan pujian seperti Aki. Namun nyatanya Mizuki hanya terdiam tak merespon apapun. Akhirnya Shinya pun membenarkan posisi duduknya ke arah semula sembari tertunduk lemas.
"Nah sekarang ibu punya pertanyaan yang lebih susah lagi. Bagi yang berhasil menjawab akan ibu beri permen!"
Semua anak bersorak gembira dan tambah bersemangat karena ingin mendapatkan permen yang bertumpuk di atas meja sang guru.
"Ini dia pertanyaannya. Ibu kemarin memberi tiga buah permen, lalu dimakan dua. Dan hari ini ibu membeli lima permen lagi. Tapi di jalan permennya jatuh tiga. Jadi permen ibu tinggal berapa ya?"
Semua anak mulai menggunakan jari mereka dan sebagian mencorat-coret di dalam bukunya. Namun tampaknya pertanyaan tersebut masih terlalu sulit bagi mereka. Karena selang beberapa waktu belum ada satupun yang berhasil menjawab. Bahkan Momo dan Kiyoko pun sempat salah menjawab.
"Tidak ada yang tahu jawabannya? Ayo, semua permen ini untuk kalian lho!"
Semua anak mendadak hening karena sudah memutuskan untuk menyerah.
"Jiro! Jiro kun!" panggil Tomoko meski dia tahu anak yang bersangkutan pasti sedang tidur.
"Aduh, anak itu lagi-lagi tidur seperti biasa." Mukahi menggeleng-gelengkan kepala.
Si anak yang sejak tadi tertidur pulas pun akhirnya bangun saat namanya dipanggil. Dia mengucek matanya yang sedikit berair. "Apa Jiro kun tahu jawaban dari pertanyaan ibu?" Jiro masih belum sadar sepenuhnya dan hanya tertegun memandang sang guru. "Ibu kemarin memberi tiga buah permen, lalu dimakan dua. Dan hari ini ibu membeli lima permen lagi. Tapi di jalan permennya jatuh tiga. Jadi permen ibu tinggal berapa ya? Kalau kamu berhasil menjawab, semua permen ini boleh kamu bawa pulang lho!"
Mendengar hal tersebut, Jiro yang semula hampir kembali tertidur mendadak menjadi bersemangat. Dia berlari ke depan kelas, mengambil spidol dan menuliskan sesuatu di papan tulis. '3 – 2 + 5 – 3 = 3' tulisnya. "Jawabannya tiga bu!"
"Wah Jiro kun hebat sekali!"
"Jadi permennya boleh aku bawa?" tanyanya dengan penuh semangat.
"Iya permennya boleh kamu bawa semua."
"Uwaahh, senangnya!"
Jiro meraup semua permen dengan kedua tangan dan berlari ke bangku miliknya. Dia mulai melahap salah satu permen yang ada. Hal itu membuat semua anak melihatnya dengan tatapan iri.
"Jiro pasti senang, da ne..."
"Uhhh, harusnya aku yang mendapat permennya!" gerutu Momo.
"Hari ini aku sedang tidak lucky..."
"Umm... aku juga ingin permen!" ucap Aoi yang juga merasa kesal.
"Aah! Jiro, beri aku permennya satu!" Kinta berteriak dari bangku yang ada di sisi bersebrangan dengan Jiro.
"Per-permen..." Kei terlihat sangat kecewa.
"Anakku memang hebat, hohoho!" Mukahi tertawa dengan bangganya.
"Ge-gekokujou..."
Kunjungan orang tua akhirnya selesai. Tidak hanya Ryoma dan Momo, hari ini Syuko pun mendapatkan banyak teman baru. Pada malam harinya, di tengah makan malam Syuko pun berbincang dengan Fuji, Tezuka, dan Sadaharu mengenai pengalamannya di hari ini.
"Tadi Renji menanyakan kabarmu," ujar Syuko kepada Sadaharu.
"Kamu bertemu Renji?"
"Iya. Anaknya sekolah di Seigaku juga. Aku pikir kamu sudah bilang padanya kalau kita pindah ke sini."
"Aku lupa... Akan aku hubungi dia nanti."
"Renji? Renji dari keluarga Rikkai?"
"Iya, bu."
"Oh... kupikir keluarga kalangan atas seperti mereka akan memasukan anaknya di sekolah yang lebih ternama."
"Ngomong-ngomong tentang kalangan atas. Ibu tahu tentang keluarga Hyoutei?"
"Ya, tentu saja. Tidak mungkin ada yang tidak tahu nama itu. Anak mereka juga sekolah di sana?"
"Iya, bu."
"Hmm..."
"Oiya, tadi aku juga bertemu dengan Minami san."
"Siapa?" tanya Sadaharu dan Fuji serempak.
"Mertua Takashi, masa kalian lupa!"
"Ah, iya ya..."
"Ngomong-ngomong soal Takashi. Dia tadi menelepon. Katanya bagaimana jika kita bawa Kaoru ke playgroup bersama Dan?"
"Wah boleh juga. Soalnya kalau hanya di rumah, Kaoru akan susah punya teman."
"Besok kamu bawa saja Kaoru ke rumah Takasih, jadi kamu dan Ako bisa pergi bersama."
"Baiklah."
.
.
.
.
.
"Halo... Ya, ini aku. Apa kamu sudah mendengar berita? Anakku baru saja bercerita barusan, katanya keluarganya kembali ke kota ini. Iya, aku yakin dia pun pasti turut bersama keluarganya. Hmm... iya. Cucuku bilang cucunya pun mulai belajar tenis. Iya, mungkin kapan-kapan kita harus mengajaknya berkumpul. Baiklah, aku akan memberitahu yang lain. tolong kamu kabari juga sebagian. Iya, tidak masalah. Baiklah."
'Hmm... Akhirnya kita akan bertemu kembali. TEZUKA!'
