"YOU and SEA"
.
Cast. YunJae
YAOI fiction
No Edit, mian kalo Typo bertebar dimana-mana ^^
.
Don't Like Don't Read
Express Story :P ,
.
.
Normal PoV
Jaejoong mulai merebahkan dirinya di samping Yunho, terlalu malu menatap Yunho Jaejoong lebih memilih tidur memunggungi namja tampan dengan mata musang itu.
'Grep'
"Jaejoong-ah –"
'Deg'
'Gulp'
"-Kau mau langsung tidur ?"
Jaejoong membalikan tubuhnya, tubuhnya terasa kaku ketika tangan Yunho kini berada diatas tubuhnya, Jaejoong menatap Yunho yang sedang berbaring kesamping menghadap dirinya sambil menopang kepalanya dengan tangannya yang satu lagi.
"K-kau m-mau se-sesuatu, Y-yun?" berkali-kali Jaejoong merutuki mulutnya yang berbicara tidak lancar.
Yunho menghela nafasnya, "Tidak, hanya saja aku belum mengantuk."
Jaejoong bangun dari tidurnya, duduk menyender pada headbed, membuat Yunho menarik tangannya dari tubuh namja cantik itu dan ikut menyenderkan tubuhnya.
"-Kau tidak jadi tidur?" tanya Yunho yang hanya dibalas gelengan oleh Jaejoong. "-kalau kau mau tidur duluan juga tidak apa-apa." Tambah Yunho.
"A-aniyo, aku akan menemanimu saja." Jawab Jaejoong cepat.
Yunho tersenyum, 'mereka punya wajah yang sama, tapi kenapa sifatnya berbeda sekali. Pabboya Yunho!, tentu saja karna mereka itu berbeda. Bodoh!'. Yunho merutuki fikiran bodohnya karna menyamakan Jaejoong dengan Hero. Jaejoong menundukkan wajahnya, Ia malu, Yunho memandangi dirinya tanpa berkedip. Apa yang difikirkan Yunho tentang dirinya sebenarnya.
"Jae-"
"Nde?"
"-Aku punya sesuatu untukmu."
Jaejoong mengangkat wajahnya, melihat Yunho yang turun dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari besar dikamar itu. Jaejoong melihat Yunho membuka sebuah laci dan mengambil sesuatu. Yunho kembali menaiki tempat tidurnya, kembali duduk disebelah Jaejoong tapi tidak bersender pada headbed, Yunho duduk tepat menghadap kearah Jaejoong.
"Pejamkan matamu."
"Eoh, kenapa?"
"Sudah, lakukan saja."
Jaejoong menurut dan mulai memejamkan matanya, menunggu apa yang akan dilakukan Yunho setelahnya.
"Cha, buka matamu-"
"-Tara!~~"
Doe eyes besar itu makin membulat besar, dihadapannya kini Ia bisa melihat sebuah kalung dengan bandul warna merah yang menghiasinya. Bukan terbuat dari emas atau berlian, Jaejoong tahu itu, tapi sungguh Jaejoong sangat menyukainya.
"K-kalung?" tanya Jaejoong memastikan.
Yunho mengangguk, "Untukmu. Kau suka?" Jaejoong menerima kalung itu dengan bahagia, tentu saja Ia sangat bahagia.
"A-aku menyukainya. G-gumawo."
"Aku tidak bisa membawakanmu berlian seperti apa yang diinginkan Appa, Mianhae."
Jaejoong menggeleng pelan, "Gwenchana, aku tidak membutuhkan perhiasan mahal seperti itu. Ini lebih baik."
"Akan ku bantu memasangkannya, berbaliklah." Yunho mengambil kalung itu dari tangan Jaejoong dan mulai memasangkannya pada leher putih mulus itu. Yunho meneguk salivanya sulit ketika tangannya menyentuh leher Jaejoong. 'Apa yang kau fikirkan, Yunho!"
"A-apa sudah selesai?" Yunho buru-buru menyadarkan dirinya kembali, menjauhkan tangannya dari leher Jaejoong dan kembali duduk dalam posisinya semula. Yunho melihat kalung dengan bandul warna merah itu, sekarang Jaejoong benar-benar sama persis dengan Hero.
"Cantik."
"Nde?"
"Ah… maksudku, kau terlihat cantik, Jae."
Jaejoong mengalihkan wajahnya, ah… ia tidak bisa menatap Yunho dengan wajah semerah ini sekarang. "Gumawo."
"Hoamm~~ … Sepertinya aku mulai mengantuk, kajja, tidurlah." Yunho terlebih dahulu berbaring, menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya. Jaejoong melirik Yunho sekilas sebelum akhirnya menyusul Yunho untuk berbaring. Jaejoong kembali tidur menunggungi Yunho.
Ugh, Jaejoong yang hampir saja memasuki alam mimpinya harus terbangun lagi karna sebuah tangan yang memeluk pinggangnya. Dan, owh… Jaejoong hampir saja terlonjak kaget ketika Yunho menarik tubuhnya agar menghadap ketubuhnya. Doe eyes itu terbuka pelan, Jaejoong mengigit bibirnya ketika Ia bisa melihat dada bidang Yunho di hadapannya, tepat dihadapannya.
"Jaljayo, Jae. Saranghae."
'Deg'
Jaejoong membulatkan matanya, suara Yunho memang kecil seperti berbisik tapi Jaejoong masih sanggup mendengar kata itu dengan jelas. 'Cinta? Yunho mencintaiku?' satu bulir bening jatuh dari mata besar Jaejoong. Jaejoong merasakan pelukan Yunho terhadap dirinya semakin erat.
Yunho yang mengetahui Jaejoong sedang terisak pelan itu makin mengeratkan pelukannya. Yunho sudah memantapkan hatinya untuk Jaejoong, walaupun Ia masih mencintai Hero. Ia tahu, mungkin Tuhan sedang memberikan kesempatan keduanya sekarang, dan Yunho tidak akan menyia-nyiakannya.
"Hiks… Na-nado Saranghae." Seulas senyuman terukir indah dibibir Yunho. Yunho bisa merasakan Jaejoong mencengkran erat piyama tidurnya. Yunho mengusap pelan punggung Jaejoong, memeluk Jaejoong semakin erat, membiarkan Jaejoong terisak dalam pelukannya sebelum akhirnya mereka tertidur dalam keadaan saling memeluk.
.
.
.
.
Pagi-pagi sekali Jaejoong sudah bangun dari tidurnya, wajahnya memerah kala Ia mengingat kejadian tadi malam bersama Yunho atau keadaan dirinya saat terbangun tadi dan berada di pelukan namja tampan itu. Setelah membersihkan tubuhnya, Jaejoong berinisiatif untuk membuat sarapan pagi ini.
"Joongie."
Jaejoong menoleh, mendapatkan Ny. Jung yang sepertinya baru saja bangun. "Umma sudah bangun."
Ny. Jung mengangguk sambil mengambil segelas air putih dan meminumnya, "Joongie sedang apa?"
Jaejoong menunjuk beberapa bahan makanan yang sudah disiapkannya, "Aku mau memasak sarapan-" jawab Jaejoong, Ny. Jung hanya tersenyum senang menanggapinya. "Umma, eum… makanan kesukaan Yunho apa?"
Ny. Jung terkekeh pelan, aish… kenapa menantunya ini manis sekali eoh?
"Bibimbap" jawab Ny. Jung. Jaejoong mengangguk semangat. "-Adakah sesuatu yang special? Kenapa Joongie semangat sekali." Goda Ny. Jung.
Wajah Jaejoong kembali memerah, "A-aniyo, Umma. A-aku hanya ingin memasak untuk Yunho. Y-ya itu saja, memasak untuk Yunho."
Ny. Jung menatap menantunya dengan pandangan jahil, ia bisa mengerti jika Jaejoong sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Baiklah, Umma tinggal, nde. Kalau kau butuh sesuatu panggil saja maid disini." Ucap Ny. Jung, Jaejoong mengangguk lalu menghela nafasnya ketika Ny. Jung sudah meninggalkannya sendiri di dapur.
.
Setelah lama berkutat di dapur dengan beberapa bahan masakan akhirnya Jaejoong selesai membereskan masakannya itu di meja makan. Jaejoong melihat Mr. dan Ny. Jung yang baru saja turun dari kamarnya dengan segera Jaejoong membungkuk hormat, mengucapkan selamat pagi.
"Omo! Wangi sekali masakanmu, Joongie. Ini pasti enak." Umma Jung segera mengambil tempat duduknya di meja makan diikuti Appa Jung. "Cha, panggil Yunho untuk sarapan bersama." Tambah Ny. Jung kemudian.
Jaejoong mengangguk lalu meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
Dengan perlahan Jaejoong menggeser pintu kayu berwarna putih dihadapannya, membuka pintu kamar yang menjadi kamarnya juga sejak kemarin. Jaejoong menatap keseluruhan kamarnya, kamarnya kosong. Suara gemericik air yang berhenti membuat Jaejoong tahu jika yang dicarinya kini berada di kamar mandi.
'Ceklek'
Pintu kamar mandi terbuka, mengeluarkan Yunho yang hanya menggunakan sebuah handuk untuk menutupi bagian bawahnya, juga handuk kecil yang digunakan Yunho untuk mengeringkan rambutnya.
"Oh, Jae." Yunho sedikit terkejut melihat Jaejoong yang kini di hadapannya, tapi setelahnya Yunho tersenyum menatap Jaejoong yang dihadapannya. Jelas sekali Jaejoong terlihat gugup. 'Apa karna semalam?' batin Yunho sedikit menebak. Ck, apa Yunho tidak tahu jika Jaejoong gugup karna melihat keadaannya sekarang. -_-'
Jaejoong mengigit bibir bawahnya, pandangannya ia arahkan kebawah, atau kemana saja asalkan tidak melihat tubuh telanjang Yunho yang masih basah itu. "U-umma menunggu untuk sarapan di bawah." Ucap Jaejoong kemudian.
Yunho yang kini tengah berdiri di depan lemari hanya bergumam kecil sambil memakai bajunya. Jaejoong masih terdiam ditempatnya, ingin sekali Ia keluar dari kamar itu, tapi sepertinya kakinya tidak mau di ajak bekerja sama, bahkan matanya sempat mencuri pandang Yunho yang berganti baju. 'Apa yang kau fikirkan Jaejoong-ah?'
.
Yunho menepuk pelan pundak Jaejoong. Jaejoong yang merasa bahunya disentuh segera menoleh, menoleh kearah Yunho yang kini sudah berdiri di sebelahnya. Jaejooong menatap Yunho dengan wajah berfikirnya, "Kau tidak bekerja hari ini?" tanya Jaejoong yang melihat Yunho hanya mengenakan pakaian casual biasa.
Yunho terkekeh pelan, merangkul bahu namja cantik itu dan menariknya keluar kamar. Jaejoong yang masih merasa malu bersentuhan dengan Yunho hanya menurut bahkan ketika Yunho malah mengalihkan tangannya untuk memeluk pinggangnya. Uhh… rasanya jantung Jaejoong berhenti berdetak seketika ketika tangan itu malah menariknya untuk semakin erat dengan tubuh Yunho. Jaejoong dan Yunho kini berjalan berdampingan menuju meja makan bersama.
Ny. Jung tersenyum senang ketika melihat adegan YunJae yang tengah berjalan menghampiri meja makan itu. Bahkan perhatiannya yang sejak tadi terpusatkan pada makanan enak didepannya pun teralihkan begitu saja ketika Yunho membantu Jaejoong untuk duduk di kursinya. Ahh… melihat moment YunJae secara langsung itu bahkan lebih enak dari pada memakan makanan paling enak didunia.
Mr. Jung hanya bisa menggeleng pelan melihat pandangan Istrinya yang tak lepas dari anak dan menantunya itu, "Bisakah kita sarapan sekarang?, aku harus segera pergi kekantor." Ucap Mr. Jung sambil menyendokan nasinya sendiri. Sedikit kesal karna Istrinya itu malah tersenyum-senyum aneh sambil memandang Jaejoong.
"Yeobo, aku merindukan masa pengantin kita~" ucap Ny. Jung yang reflex membuat wajah Jaejoong bertambah merah dari sebelumnya, sedangkan Mr. Jung kembali menggeleng, mengabaikan Istrinya yang sedang bertingkah aneh itu.
"Kau mau pergi hari ini, Yun?" tanya Mr. Jung pada Yunho. Yunho hanya mengangguk sambil bergumam.
"Bersama Jaejoong?" Jaejoong menatap Mr. Jung dan Yunho bergantian ketika merasa namanya di sebut. Dan Jaejoong bertambah heran ketika Yunho hanya kembali mengangguk menjawab pertanyaan Appanya itu.
.
.
You and Sea
.
.
Yunho memberhentikan mobilnya didepan sebuah Apartemen mewah. Jaejoong yang melihat Yunho keluar dari mobil, segera mengikuti namja tampan itu dengan wajah bingungnya. Yunho menggenggam jemari Jaejoong, menarik pelan namja cantik itu untuk mengikutinya masuk kedalam Apartemen itu. Mereka mulai menaiki lift untuk sampai pada lantai 15 Apartement itu.
Sebenarnya, inilah yang sudah disiapkan Yunho untuk Jaejoong semenjak beberapa minggu yang lalu sebelum pernikahan mereka. Tapi karna sulit mencari Apartemen yang cocok dengan selera Yunho, akhirnya baru sekarang Yunho bisa mengajak Jaejoong ketempat dimana mereka akan tinggal nantinya.
Yunho dan Jaejoong berdiri di depan pintu apartement mereka. Jaejong memperhatikan bagaimana Yunho memasukan tombol kombinasi pada pintu apartemennya. Setelah terbuka Jaejoong dibuat takjub dengan apartement yang menurutnya sangat luas itu.
"Kau suka?" Tanya Yunho yang melihat raut kesenangan diwajah Istrinya itu.
Jaejoong menatap keseluruhan sudut Apartemen itu, tak banyak barang-barang mewah, semuanya terlihat sederhana, simple tapi tetap menarik perhatian. "Apa ini Apartement mu, Yun?" tanya Jaejoong mengabaikan pertanyaan yang lebih dulu dilontarkan oleh Yunho.
Yunho terkekeh, "Ini akan jadi Apartement kita, Boo. Kau suka?"
Jaejoong berbalik, menatap Yunho yang tengah tersenyum kearahnya. "Boo?"
Yunho berjalan pelan kearah Jaejoong, "Panggilan untuk istriku tersayang." Ucapnya kemudian yang membuat Jaejoong tersipu dan mengalihkan wajahnya yang sepertinya memerah kembali.
"Ada yang ingin aku tunjukan?" Yunho menggenggam tangan Jaejoong, menariknya pelan kearah balkon kamar. Melihat pemandangan seluruh kota dari lantai 15 benar-benar terlihat indah.
"Cantik." Komentar Jaejoong pada pemandangan yang disuguhkan dari balkon kamarnya.
Yunho tersenyum dan memeluk tubuh namja cantik itu dari belakang, menelungsupkan wajahnya pada leher putih itu, mengendus aroma harum yang entah sejak kapan mengambil alih perhatiannya itu. "Kau lebih cantik, Boo." Jaejoong kembali tersipu untuk kesekian kalinya, Yunho yang masih dalam kegiatannya benar-benar membuatnya tidak bisa berfikir apa-apa.
Yunho membalikan tubuh Jaejoong agar menatapnya, "-Saranghae, maaf jika aku pernah membuatmu merasa tidak nyaman." Dan setelahnya satu kecupan ringan Yunho daratkan pada bibir sexy berwana cery itu.
Jaejoong menggeleng, "Kau selalu membuatku nyaman, Yunnie. Naddo saranghae." Jaejoong memejamkan matanya ketika yunho kembali mendekatkan wajahnya dan mulai mengeleminasi jarak antar keduanya.
Ciuman yang awalnya ringan itu berubah menjadi panas ketika Yunho mendengar lenguhan kecil dari Jaejoong.
.
.
'Terima Kasih Tuhan, kau memberikan kesempatan keduamu padaku. Kau yang mengetahui segalanya. Segalanya tentang cintaku pada namja cantik bernama Hero, juga namja cantik yang sedang bersamaku kini, Kim Jaejoong –ah Jung Jaejoong maksudku. Maafkan aku, mungkin aku adalah orang paling jahat karna tidak menceritakan rahasia kisah percintaan ini pada Istriku. Aku mohon, biarkan aku menyimpan kenangan dirinya untukku sendiri. Aku mencintaimu Hero, Jaejoong.'
.
.
.
.
E.N.D
Akhir yang aneh… kkk~~
Ada yang berbaik hati mau beri pendapat ? atau penilaian ?
Gumawo ^^
Menulis itu tidak segampang kelihatannya, ini FF Fantasy Chapter ku yang pertama, dan aku ngerasa ini masih sangat jauh dari kata bagus.. hehe…
Gumawo yang selama ini udah nyempetin ngasih saran dan masukan ^^
