BTS – Big Hit Entertainment

Penulis tidak mengklaim apapun selain jalan cerita

.


.

.

Sore ini memang kacau. Pertama, dompetnya tertinggal di sekat saku tas sekolah sementara yang dibawanya adalah ransel bepergian. Kedua, pagi dan siang tadi dia belum sempat mengisi perut karena sibuk mengejar wali kelas untuk berdiskusi ulang tentang kampus incaran yang peminatnya melebihi kuota dan Jungkook terancam tak dapat formulir. Ketiga, Taehyung yang pulang karena libur kuliah mendadak mengajaknya mencicipi menu set baru di restoran dekat rumah sakit tempat Seokjin bekerja. Mengingat frekuensi kedatangan Taehyung yang hanya sekali sebulan, mustahil Jungkook mampu menolak. Mau tak mau dia harus pamit pada rekan-rekan mainnya untuk pulang lebih cepat, (lebih tepatnya sih rela, bukan terpaksa) demi menaiki bus menuju kafe yang dimaksud. Keempat, si tampan berkaki panjang itu menyambut di halte dengan senyum polos serta berkata kalau menunya habis saat Jungkook tiba, lalu mencoba menghibur memakai roti isi buatan Seokjin yang dibawa dari rumah. Kelima, hujan turun deras sebelum Jungkook sempat mencoba sesuap dan memaksa mereka berteduh di halte selama satu jam. Keenam, karena uang terakhir terpakai untuk naik bus, Jungkook nyaris tak bisa pulang kalau Taehyung tak sigap berkata bahwa dia akan mentraktir naik taksi karena baru menerima honor pemotretan (sekaligus menjawab pandangan heran Jungkook soal rambutnya yang tiba-tiba berubah menjadi merah bata). Ketujuh, saat Taehyung berhasil mengantar sampai ke depan rumah, hujan deras kembali turun sementara taksinya keburu menghilang selesai dibayar.

Sempurna.

"Ini yang terjadi kalau lupa berdoa sebelum berangkat," Taehyung menyeka mukanya pasrah sambil terbahak memandangi hujan dari teras, "Kau lupa bawa kunci kan?"

Jungkook melengos kecut, "Ayah baru akan pulang menjelang jam makan malam, tapi sudah kuhubungi supaya sekalian beli di luar karena aku sedang malas memasak. Paman penjual mainan di depan sana sedang pulang ke Gwangju dan Jimin-hyung pergi belanja dari pagi. TIDAK ADA YANG BISA DIHARAPKAN!"

"Suaramu terlalu keras, Jungkookie."

"Hari sial."

"Tidak ada yang namanya hari sial, tahu, Cuma suasana hati yang membuatnya jadi begitu," seloroh Taehyung, merendahkan tubuhnya perlahan untuk bersila di lantai teras. Sejenak kemudian dia sudah asyik memandangi kucuran air yang menetes-netes dari atap. Wajahnya tampak agak lelah namun tetap meringis begitu gembira, "Ayahku sedang dinas di luar kota dan papa belum pulang dari rumah sakit. Aku juga sedang tak membawa kunci karena kupikir bisa main ke rumah paman Hoseok selesai makan siang. Hitung-hitung melepas kangen," celotehnya, makin girang, "Cuacanya memang kurang bagus, beruntung kita sudah berada di sini dan berteduh dengan tenang. Kurasa Jiminnie pun belum kembali gara-gara terjebak hujan."

"Kenapa tak meminta kunci waktu hyung berkunjung ke ruang praktek paman Seokjin tadi?"

"Lupa."

Jungkook mencibir. Ingin berkata bodoh tapi tak tega.

"Hyung bisa santai seperti itu karena sialnya tidak seberapa," sergahnya sebal. Bosan berdiri, Jungkook memilih duduk di keset sembari mengait lutut dan bersandar pasrah di daun pintu. Kepala menengadah mengamati hujan, "Yang masuk ke perutku cuma tiga potong roti dan setengah botol air mineral, jumlah yang kurang pantas untuk membayar energi yang kukeluarkan demi si wali kelas keras kepala."

"Oh, gagal mendapat formulir kampus yang kau ceritakan kemarin?"

"Hampir," Jungkook mengacak-acak rambutnya sampai berdiri, "Graaaah! Kalau diingat-ingat betapa cerewetnya dia tadi, rasanya ingin kudorong jatuh dari anak tangga. Menyebalkan! Baru juga mengajar tiga bulan, lagaknya sok minta ampun."

Taehyung menimpali, "Kau juga akan bersikap begitu kalau disuruh menghadapi murid baru."

"Aku tak berniat menjadi guru. Lagipula kenapa hyung ceria sekali sih? Kita ini terkunci di luar lho? Bukan waktunya tertawa seperti itu," disikutnya rusuk Taehyung sambil melotot, namun pemuda tersebut justru membalas perbuatannya dengan sebuah usapan lembut di rambut Jungkook.

"Lain kali bawalah payung atau jas hujan karena cuaca tak pernah bisa diprediksi. Siapa tahu bisa mengurangi kemungkinan hari sial. Menurutku, jalan-jalan di tengah hujan terdengar seperti ide bagus, tentu saja ditemani pakaian hangat dan syal berlapis supaya tidak masuk angin. Kapan-kapan kita harus mencoba," Taehyung menjentik telunjuk mantap seolah perkataannya adalah usul paling jenius di dunia, "Atau kalau sedang ada waktu senggang, kita mampir ke toko kue di seberang taman. Aku yang bayar. Cokelat panas dan kue stroberi buatan mereka enak sekali."

Jungkook tercengang lagi. Serius, manusia satu ini berbicara begitu tenang seperti tak punya beban hidup dan keluhan barang sedikit. Persis paman Namjoon, jika boleh membandingkan. Nadanya teramat santai diselipi cengiran, wajahnya cerah, ekspesinya tak berubah sejak siang tadi. Ditambah senyum manis yang selalu sukses menjadi objek kesukaan sekaligus kelemahan Jungkook. Tidak seperti raut ayahnya yang mudah dibaca, Taehyung adalah manusia yang sukar ditebak. Senyumnya menutupi segala hal yang tengah dipikirkan. Orang akan menyangka Taehyung selalu baik-baik saja karena pemuda itu merespon apapun dengan gelak tawa. Jungkook belum pernah ingin mengusik maupun bertanya, meski sering timbul keinginan untuk mengetahui bagaimana sebetulnya isi hati yang bersangkutan dan apa saja yang sedang melintas di kepala Taehyung. Jungkook ingin menjadi orang yang pertama tanggap jika Taehyung membutuhkan sesuatu, jika Taehyung ingin mengeluh, atau jika Taehyung butuh seseorang yang mampu memberi saran. Sayangnya, sampai detik ini, justru Jungkook-lah yang kerap memerlukan bantuan. Jangankan bijak, bersikap dewasa di depan pemuda itu saja dia belum sanggup.

"Jungkookie? Kenapa diam? Mengantuk?" suara Taehyung membuyarkan lamunan, tangan terjulur menyentuh punggung, "Mau pinjam mantelku? Kebetulan ukurannya besar dan aku pakai dua lapis baju."

"Tidak perlu. Aku sudah terbiasa pulang-pergi sekolah di musim dingin tanpa dijemput ayah. Hujan segini saja bukan masalah," Jungkook menegakkan tubuh angkuh. Bohong. Jemarinya sudah mulai menggigil dan giginya mulai gemeletuk. Sebelah lengan Taehyung yang hendak menyampirkan mantel segera ditepisnya penuh percaya diri, "Ayah suka memeluk tiap kali aku mengadu kedinginan, dia bilang suhu tubuh manusia itu lebih ampuh mengusir hawa dingin dibanding pakaian atau selimut tebal, walau setelahnya aku langsung menendang ayah karena sesak. Sejak saat itu aku bersumpah tak akan bilang apapun lagi."

"Itu artinya paman Hoseok perhatian padamu kan?"

"Peh."

"Nah, berarti ini tidak diperlukan," Taehyung mengenakan kembali lapisan terluar bajunya dan balas menjulurkan sebelah lengan. Mata mengerjap tanpa dosa selagi dahi Jungkook berkerut heran. Air muka Taehyung yang ramah bergerak semakin dekat dibarengi telapak tangan yang merengkuh bahu Jungkook merapat. Tak paham, Jungkook hanya mampu berkedip heran saat menyadari bahwa kepalanya kini bersandar di dada Taehyung. Aroma maskulin yang familiar menguar menerpa hidung, menyisihkan fakta bahwa kedua tangannya tergolek di sisi badan dan bergeming menunggu perintah.

"H, hyung?"

"Beruntung kita tidak terlalu basah ya," tukas Taehyung mengamini, "Apa sugesti ini manjur? Badanku tak sebesar paman Hoseok, jadi mungkin kurang hangat. Tapi jangan khawatir," disibaknya bagian ujung mantel tersebut hingga terbuka lebar dan ditangkupnya menutupi bahu Jungkook yang berkedik. Jari-jarinya menggosok lengan sementara dagunya diletakkan di pucuk kepala pemuda itu, mendekap erat, "Aku tak akan membiarkanmu kedinginan."

Mendengus antara kesal dan terpesona, Jungkook memilih untuk menyimpan sejenak harga dirinya di permukaan dada bidang yang nyaman sembari melingkarkan lengan di pinggang Taehyung. Kepalanya beringsut canggung.

"Sempit."

"Apa boleh buat kan? Kau tumbuh terlalu cepat. Mungkin beberapa tahun lagi aku tidak akan bisa menggendong atau memeluk seperti ini," kelakar Taehyung seraya mengerang kecewa, "Sayang sekali."

Bergerak pelan seraya menaruh pelipisnya di bahu Taehyung, Jungkook melengos tak peduli, "Biarpun tubuhku tumbuh dua kali lebih besar, aku akan tetap meminta hyung memboncengku pergi, mentraktirku makan, dan memaksamu meminjamkan baju meski ukuran tangannya menggantung di pergelangan. Kalau nanti akan tiba giliranku menggendongmu di punggung, aku akan tetap mengikuti hyung kemana-mana, menjajah isi lemari dan nintendo di kamarmu, lalu berlatih lebih keras supaya bisa mengalahkan hyung dalam segala hal," dengusnya, menyeringai sengit, "Hyung harus bersiap-siap untuk kuhantui seumur hidup."

Cengir Taehyung mengembang, "Kau tidak akan bisa punya pacar kalau terus membuntutiku lho?"

"Aku tak butuh pacar."

"Tapi aku butuh," keluh Taehyung, suara beratnya bergema serak di telinga Jungkook yang mengrenyit. Sejurus kemudian kalimatnya terlontar tanpa basa-basi, "Jadi pacarku, ya?"

Satu detik.

Dua.

Tiga.

Jungkook membatu.

"Jangan pingsan dulu dong, Jungkookie. Pertanyaannya belum dijawab," ringis sang tetangga, menahan geli hingga terpejam, tahu betul jika yang bersangkutan tengah berada dalam status auto-pilot akibat perbuatannya barusan, "Tahun depan kau akan keluar dari sekolah dan aku tak berminat mendengar keluhan tentang berapa banyak mahasiswa baru yang meminta nomor teleponmu. Sudah mau kupeluk dan kudekati sampai sejauh ini, masa mau bilang tidak?"

Berdecak mendapati telinganya dibombardir dengan bisikan bariton bernada membujuk yang seksi, Jungkook balas menggeleng-gelengkan kepala seraya pura-pura mendengkur.

"Jungkookie?"

"Berisik, hyung," gerutu pemuda itu, dagunya menengadah agar pandangan mereka bertemu. Bertahun-tahun menjadi teman bermain dan menjalani masa remaja bersama-sama, Jungkook nyaris lupa bahwa mereka bukanlah saudara. Termasuk bagaimana Jimin berkali-kali mengingatkan supaya dia berhenti bertelanjang dada jika tidur di sebelah Taehyung, menasehati untuk tak seenaknya ganti baju tanpa melihat siapa yang menemani, juga melarangnya mengekor tiap kali Taehyung bergumam ingin mandi. Jimin tahu sejak lama. Hanya Jungkook yang terlalu keras kepala dan terus berkilah bila tak ada yang berubah.

Mungkin.

Mengecualikan fakta bila teras rumah terdengar kurang romantis sebagai tempat penegasan hubungan. Dengan binar mata sejernih itu, dengan senyum bersahaja yang selalu dirindukan Jungkook saat mengantar keberangkatannya ke stasiun, dengan catatan harian yang dikirim berkala tiap Rabu dan Sabtu, menjelaskan kehidupan di pusat kota yang jauh dari ketenangan dan keinginan untuk menghabiskan hari libur di karpet rumah, berguling berebut konsol game, bercanda sesiangan, juga maraton menonton televisi hingga kompak tak makan malam. Dengan berbagai kenangan yang bermunculan di benaknya seperti presentasi digital, rasanya Jungkook mampu mengacuhkan apapun termasuk tempat dan kondisi cuaca.

Menatap lekat-lekat, sudut bibir kanannya terangkat samar dan dikecupnya rahang Taehyung sekilas sebelum kembali beringsut menghangatkan diri di balik mantel, "Bangunkan aku begitu ayah pulang."

Bergeming, Taehyung mengerjap beberapa kali. Menunggu otaknya mencerna keadaan usai menerima jawaban, "Apa itu artinya aku harus menjelaskan semuanya pada paman Hoseok?"

"Hm—mm."

"Sendirian?"

"Jangan jadi pengecut, hyung," Jungkook merespon dari bawah dagu, "Jujur atau tidak, ayah tetap akan mencari celah untuk menghalangimu masuk ke dalam rumah. Kalau masih bertingkah tak jelas, kau bisa minta bantuan pada paman Yoongi atau Jimin-hyung. Berani mengajakku kencan, kau harus tanggung akibatnya."

"Begitu? Wow, aku terkesan," Taehyung menyahut datar, terkekeh rendah lalu mengeratkan dekapannya sambil menghela napas panjang, "Sepertinya masa depanku akan menyenangkan."

Terbahak, Jungkook balas memejamkan mata sambil tetap tertawa.

.

.