Chapter 7

Summary : Sebelum meninggal, Kushina dan Minato meninggalkan pesan bahwa Naruto harus menjemput istrinya di Quebec City. Sementara Naruto tidak ingat pernah menikah. Apa yang sebenarnya terjadi? Tiba-tiba kehidupannya berubah.

Disclaimer : Karakter milik Om Masashi. Cerita sepenuhnya milik Author. Arigatou.

Warning : Au, Ooc, Marriage Life. NaruSaku.

oOo

Naruto membuka mata merasakan sesuatu menahan perutnya. Napasnya sedikit sesak dan punggungnya pegal. Ia menatap langit-langit kamar dalam kegelapan. Pantas saja tubuhnya sulit digerakkan, kepala Sakura bersandar di lengannya sementara kedua tangannya memeluk perut Naruto cukup erat sepanjang malam. Naruto sedikit meringis dan membuang napas panjang. Ia bergulir ke samping agar dapat melihat Sakura. Kini wajah Sakura tepat berada di hadapannya. Sepertinya hari masih terlalu pagi untuknya bangun, alarm belum berbunyi dan langit di balik gorden masih terlihat gelap.

Naruto tanpa sadar memandangi wajah istrinya. Cantik. Memang. Jika disejajarkan dengan aktris-aktris papan atas Jepang, wajah Sakura cukup mampu menyaingi mereka. Ia tidak bohong, buktinya alis wanita ini tampak sangat indah bahkan dalam kegelapan, garis rahangnya yang tegas dan hidungnya, dan bulu matanya, dan bibirnya. Ia tidak sadar ketika satu tangannya bergerak menyentuh alis Sakura. Perlahan kedua mata Sakura terbuka menunjukkan sepasang zamrud yang memantulkan cahaya dalam keremangan. Cukup lama kedua mata itu bersitatap dalam keheningan, seolah berbicara dalam bahasa yang tidak mampu diterjemahkan oleh kata-kata. Begitu tersadar, Naruto langsung mengangkat tangannya dari wajah Sakura, namun dengan sigap Sakura menahan tangan Naruto untuk kembali ia letakan di wajanya. Membiarkan Naruto menyentuh pipinya yang tirus sembari ia genggam cukup erat seakan takut tangan itu akan meninggalkannya lagi. Sakura memejamkan matanya kembali merasakan hangatnya tangan Naruto. Ia sangat merindukan kehangatan ini. Apakah ia sedang bermimpi? Jika iya, ia tidak ingin terbangun. Tidak masalah baginya jika harus terjebak dalam mimpi ini selamanya.

"Demammu sudah baikan," bisik Naruto di depan Sakura.

"Ya." Sakura menjawab sambil membuka kembali kedua matanya, memandangi suaminya sekali lagi untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi. Ia hanya takut. Ia takut jika terlalu berharap maka ia aka mrsakan kekecewaan yang jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya. Lebih baik baginya untuk tidak mengharapkan apa pun dari siapa pun, begitulah bagaimana hidup mengajarinya sampai saat ini.

"Kau sangat pandai membuatku kebingungan seperti ini. Beberapa waktu setelah kau mengungkapkan penolakan itu, kau berubah pikiran dengan cepat sampai-sampai membuatku ragu berulang kali." Sakura menatap ke dalam mata Naruto yang hanya terlihat pantulan cahayanya dalam keremangan.

Naruto menggerakkan jarinya untuk menelusuri wajah Sakura dari kening, pipi, hingga dagunya. "Kau cantik," ungkap Naruto purau. Ia lantas menarik tubuh Sakura ke dalam pelukannya. Dihirupnya wangi shampo dari rambut pinky Sakura yang lagi-lagi terasa tidak asing.

Sialnya jantung Sakura kembali bereaksi dengan berdetak cukup keras hingga Sakura merasa detakannya berdentum seperti bom waktu. Sakura sedikit berontak dengan mendorong dada Naruto agar menjauh, kembali untuk menatap wajah suaminya yang samar-samar. Udara seperti berhenti di sekitar mereka. Sakura menahan napas sebelum kemudian bergerak mengeliminasi jarak wajahnya dengan wajah Naruto. Ia mendaratkan sebuah ciuman yang lembut dan dalam untuk suaminya. Suami yang lama tak dijumpainya, suami yang telah melupakannya, dan suami yang telah menjadi sebab untuk semua kerinduannya selama ini. Tidak tahukah ia bagaimana selama ini Sakura tersiksa karena begitu merindukan Naruto?

Hari ini ia sadar bahwa jarak terjauh bagi seseorang adalah ketika orang itu dilupakan.

Naruto bisa merasakan emosi yang teramat kuat dari Sakura. Seperti ciuman ini adalah media untuk menghubungkan perasaannya dengan Naruto. Pria itu membalasnya dengan lembut seraya memperdalam pagutan mereka dengan menarik tengkuk Sakura lebih mendekat. Hingga keduanya kehabisan oksigen dan perlahan memisahkan diri. Ada kehangatan yang menjalar memenuhi relung hati Sakura, ia bahagia, seperti jutaan kupu sedang beterbangan di perutnya. Naruto berusaha mengabaikan perasaan bingungnya akan kejadian singkat barusan. Satu hal yang pasti, rasa di bibirnya terasa begitu familiar. Seperti yang sering dirasakannya selama ia bersama Sakura beberapa waktu ini.

Kejadian itu pun mengawali pagi yang manis dan baru bagi keduanya.

oOo

"Tuan, kau mendengarku?"

Naruto tersentak begitu menyadari sebuah tangan sengaja dikibas-kibaskan di depan wajahnya. Ia menoleh menyadari Shikamaru menatapnya dalam kebingungan. Di samping Shikamaru, Kakashi menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ah ya, tadi 'kan mereka sedang mendakan rapat yang cukup penting.

"Aaa, maaf. Bisa kau ulangi?"

"Sepertinya itu tidak akan berhasil," celetuk Kakashi menanggapi. "Kita akan lanjutkan rapatnya setelah kau baikan. Istirahatlah, Naruto. Aku yakin kau butuh waktu 'kan?" Setelah mengatakan hal itu, Kakashi membereskan berkasnya lantas berdiri bersiap pergi.

"Terima kasih Paman. Tolong selesaikan semuanya." Naruto berdiri untuk membungkuk hormat. Bagaimana pun, Kakashi adalah salah satu orang yang dipercayainya. Bahkan Naruto sudah menganggap Kakashi seperti ayahnya sendiri.

Ia menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Terik matahari masuk dari celah-celah jendela mengguyur tanaman hias di sudut ruangan rapat yang cukup luas itu. Shikamaru mengamati gerak-gerik direkturnya seperti pria tua yang sudah lama menikah dan memiliki banyak konflik serius dengan istrinya. Padahal belum lama Naruto memboyong Sakura dari Kanada. Shikamaru hanya bisa menggelengkan kepala. Mau bagaimana lagi. Ia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Apa yang harus aku lakukan, Shika?" Naruto melirik Shikamaru dari sudut matanya.

"Kau bertanya lagi?" Jawaban Shikamaru terdengar menggunakan dialek infomal. Mungkin ia geram pada pertanyaan sama yang entah sudah berapa kali Naruto lemparkan semenjak atasan sekaligus temannya itu berstatus sebagai suami.

"Dengar, Naruto, semua jawaban yang kau butuhkan ada di dalam hatimu sendiri."

oOo

Sakura tidak tahu bagaimana awalnya sehingga ia bisa berada di dalam mobil ini, duduk berdua dengan seorang yang belum lama dikenalnya. Pria di sampingnya memfokuskan dirinya pada jalanan yang sedikit ramai oleh penyebrang jalan. Langit sudah beranjak sore dan semakin mendung. Sepulangnya mereka dari kampus, Sakura mendapatkan informasi bahwa Tenten tidak bisa menjemput karena mendadak dipanggil oleh kantor imigrasi, sementara Sai yang menggantikan untuk menjemput Sakura mengalami sedikit kecelakaan kecil di jalan. Sakura tidak ingin ambil pusing soal jemputan memilih untuk naik bus atau taksi sebelum kemudian pria ini menawarinya tumpangan.

"Bagaimana kau bisa tahu arah ke rumahku?" Sakura memulai pembicaraan setelah hening yang menyesakkan.

Uchiha Sasuke menoleh sebentar. "Jauh sebelum ini aku pernah mengenalmu."

Dua alis Sakura saling berpaut menunjukkan perasaan bingungnya. Obrolan mereka terpotong oleh suara berita dari radio mobil yang tiba-tiba saja menyebutkan nama yang tidak asing di telinga Sakura.

'Benarkah Hyuuga-san? Woah, kalian dengar pemirsa, baru saja seorang aktris sekelas Hyuuga Hinata yang tidak pernah terseret skandal apa pun mendeklarasikan bahwa dirinya sedang menjalin hubungan dengan seorang pria! Ini live!"

Tubuh Sakura sedikit berjengit mendengar nama tersebut dan kata-kata yang diucapkan oleh penyiar radio. Sasuke dapat melihat perubahan raut muka Sakura dengan gerakan cepat ia menekan tombol off pada radio itu. Ingatan Sakura melayang pada gambar di dalam sebuah bingkai yang tak lama ini dipecahkannya. Dadanya mendadak sesak. Diraihnya tas sampir di kusrdi belakang, ia mengeluarkan sebuah botol yang terisi penuh oleh obat sejenis tablet. Sakura hendak menenggaknya beberapa butir, namun gerakannya kalah cepat dari Sasuke yang langsung merebut botol dan obat di tangan Sakura.

"Ini obat penenang?" Sasuke langsung mengenali jenis obat yang nyaris diminum Sakura.

"Kambalikan!"

Sasuke membuang botol itu ke bawah, membiarkannya terhalangi oleh kaki Sasuke agar tidak bisa daiambil.

"Uchiha-san, ini tidak lucu." Suara Sakura mulai dipenuhi penekanan karena rasa kesalnya.

"Kau seorang dokter, seharusnya kau lebih paham tentang kesehatanmu sendiri?"

"Ini bukan urusanmu!"

Sasuke menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Uzumaki yang megah. Sakura benar-benar membatu, ia sempat berpikir pria di sampingnya adalah seorang penguntit. Beberapa penjaga menghampiri mereka saat menyadari kedatangan Sakura, beberapa dari mereka berlari untuk membukakan gerbang.

"Nyonya?"

"Tunggu sebentar," pintanya pada si penjaga. Sakura menoleh pada Sasuke dan menatapnya dengan tatapan dingin. "Terima kasih untuk tumpangannya dan sikap tidak sopanmu!"

Sasuke hanya membungkuk dan tersenyum tipis. Sementara Sakura turun dikawal oleh beberapa penjaganya untuk memasuki gerbang mansion Uzumaki. Sasuke memandangi Sakura hingga wanita itu lenyap dari pandangannya. Ia hanya menggeleng lemah, pandangannya berubah sendu meskipun tidak kentara dari wajahnya yang datar tanpa ekspresi. Sedetik kemudian bibirnya menggumamkan sesuatu,

"Hinata..."

Ia menoleh menatap permukaan radio yang tadi dimatikannya.

oOo

Musim gugur belum berakhir. Daun-daun berjatuhan dari dahannya, seolah mereka lelah karena sepanjang hari terus menggantung tanpa kepastian. Angin bertiup cukup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pepohonan dan membawa dedaunan terbang melintasi langit. Hamparan coklat seperti karpet yang digelar sepanjang perjalanan. Sakura menatap takjub semuanya dari balik jendela rumah besar itu. Anak rambutnya bergerak-gerak diterpa angin. Namun di wajahnya terus terpahat senyuman yang merekah seperti bunga.

"Indah."

Suara berat seseorang menyentak lamunannya. Sakura menoleh dan mendapati Naruto berdiri di belakangnya. Bergegas ia berdiri untuk membungkuk memberikan salam.

"Tuan muda,"

Sakura jelas ingat kalimat Uzumaki Kushina yang mengatakan bahwa dirinya memiliki seorang putra tunggal yang ceria dan aktif saat mereka sedang di tengah perjalanan menuju ke kediaman Uzumaki. Ini kali pertama Sakura bertemu langsung dengan Uzumaki Naruto. Bertolak dari yang diceritakan Kushina, Naruto justru terlihat pendiam dan dingin.

"Kau siapa?" tanya Naruto mulai menyadari bahwa wanita di depannya tidak mengenakan seragam pelayan.

Sakura mengulurkan tangannya, "Haruno Sakura."

Naruto membalas uluran tangan itu. "Uzumaki Naruto. Ah, jadi kau wanita Kanada yang diceritakan Ibu, kukira kau seorang western, tapi wajahmu tidak demikian."

Sakura tertawa mendengar jawaban Naruto. "Aku tersesat saat dalam perjalanan mencari saudaraku. Koper dan handphoneku tertinggal di dalam kereta, jadi untuk sementara Uzumaki-sama membawaku ke rumahnya." Sakura menjelaskan tanpa diminta. Naruto hanya menanggapi dengan senyuman lebar khas dirinya.

oOo

"Tuan sudah pulang?"

Tenten mengangguk mengiyakan pertanyaan Sakura. Wanita berambut pinky itu berjalan cepat menuju tangga dan melewati lorong untuk sampai di depan kamarnya. Jantungnya berdegup kencang. Entah kenapa rasanya begitu ingin segera bertemu dengan Naruto. Sakura masuk tanpa mengetuk pintu, namun kamarnya kosong. Hanya ada jejak jas yang tergantung dan dasi yang tergeletak di atas tempat tidur. Ke mana Naruto? Sakura berlari menuju kamar mandi membukanya dengan kasar. Tidak ada. Ke mana perginya Naruto? Sakura kembali berlari menuju meja kerja, juga kosong. Seketika hatinya merasakan sakit. Bagaimana jika Naruto benar-benar pergi dengan wanita itu? Meninggalkannya? Oh Tuhan ia tidak akan sanggup jika hal itu terjadi. Ia lebih sanggup hidup tanpa Naruto daripada harus melihat suaminya hidup bersama orang lain.

Sakura berlari keluar diikuti Tenten yang kebingungan oleh sikap majikannya. Kaki Sakura lemas dan tangannya gemetaran. Sesampainya di dekat pintu dapur, ia melihat beberapa pelayan bagian dapur berdiri di luar sambil mengobrol.

"Nyonya," sapa mereka seraya membungkuk memberi hormat. "Maafkan kami, tapi Tuan memaksa untuk masuk."

Sakura melongok ke dalam ruangan dapur. Dilihatnya punggung Naruto yang tegap tengah berdiri membelakangi mereka. Kedua lengan kemejanya digulung sampai ke siku dan terlihat di hadapannya sebuah panci dengan sesuatu yang mengepulkan uap panas. Saat itu juga Sakura merasa lega. Ia melangkah menghampiri punggung itu.

Naruto tersentak begitu sepasang tangan menyusup di antara celah pinggangnya, nyaris membuatnya menumpahkan bubur yang sedang ia masak di atas kompor. Sakura mempererat pelukannya di punggung Naruto. Menyesap wangi parfum dari baju yang suaminya kenakan. Tak lama kemudian ia terisak pelan.

"Sakura?"

Naruto hendak berbalik namun tangan Sakura menahannya.

"Aku sangat takut, Naruto."

Sakura dapat merasakan Naruto menggenggam kedua tangannya.

"Aku di sini, dan tidak akan pergi. Jadi lepaskanlah Sakura-chan, atau bubur untukmu akan hangus?"

oOo

To be continued