Well, kayanya chapter ini kedatangan bintang tamu yang namanya Susano'o dari Naruto.

Haikyuu! Slalu milik Om Furudate~

Warning: Typo, nggak sadar ooc, dan tidak jelas

Met baca wan kawan!

The Middle

7. Persiapan

"Kepribadian ganda?"

Tsukishima mengangguk. "Saat tadi di Dunia Phantasm... kau terlihat seperti anak kecil. Dan saat kau bertemu Oikawa (kalau tidak salah namanya) sikapmu berubah menjadi dingin. Lalu sekarang kau bersikap sangat khawatir dan perhatian." Tsukishima menjelaskan.

"Begitukah?" Gumam Sugawara menyengir, kemudian, "Pfft, hahahahaha!" Sugawara menutup mulutnya dan tertawa terbahak-bahak. Tsukishima hanya diam, tidak tahu alasan kenapa Sugawara tertawa. "Apanya yang lucu?"

"Baru satu jam menjadi anggota resmi, kau sudah sadar tentang kebohongan kepribadian ganda. Yang membuatnya lucu itu kaulah yang pertama kali menyadarinya!" Jelas Sugawara di sela-sela tawanya.

"Iya, aku sebenarnya tidak punya kepribadian ganda." Sugawara membalikkan badannya. "Dan aku tidak berbohong karena mereka yang menganggapku seperti itu."

"Kemudian?" Lanjut Tsukishima, melihat ke jalanan yang tidak begitu ramai, dengan anak-anak kecil yang bermain bola.

Sugawara meregangkan tangannya. "Yah, jika kau ingin tahu, sikapku sebenarnya yang dibilang oleh orang-orang itu 'perhatian seorang ibu', seperti yang aku lakukan kepadamu barusan." Sugawara terkekeh sendiri. "Aku tidak menyangka kalau aku bisa dijuluki seorang ibu."

"Tapi gara-gara aku terlalu lemah lembut, semua orang terlalu khawatir kepadaku. Tersandung sedikit saja Tanaka dan Nishinoya langsung memberikanku kotak medis."

Sebuah bola pun menggelinding di depan Sugawara.

"Om! Bolanya dong, tolong dioper!"

Sugawara menyengir, lalu menendang bolanya. "Yosh, hati-hati, mainnya jangan ke tengah jalan ya!" Bocah-bocah itu berterima kasih lalu kembali bermain.

Kembali ke Tsukishima.

"Terus, aku memutuskan untuk menjadi lebih kekanak-kanakan lagi, dan lebih 'tidak tahu malu'. Eh, Daichi malah menganggapku mempunyai kepribadian ganda." Lanjut Sugawara dengan tawa di akhirnya.

Tubuh pemuda itu berbalik, membuat Tsukishima menghentikan langkah kakinya. "Mau bagaimanapun, tolong jangan bilang yang sebenarnya! Nanti masalahnya jadi tambah rumit..." Sugawara menyatukan kedua telapak tangannya, memohon ke Tsukishima.

Tsukishima mengangguk lalu melangkahkan kakinya menyusul Sugawara. Lelaki jangkung itu hanya melihat punggungnya Sugawara. Dia masih merasakan banyaknya sesuatu yang belum terungkap di dalam dirinya. Atau, sesuatu yang dipaksa disembunyikan. Dia memang seseorang yang misterius...

Sinar mentari sudah mulai berubah warna dari jingga hingga ke biru tua, matahari juga mulai tenggelam. Lampu-lampu di pinggir jalan mulai menyala satu demi satu diikuti lampu jalan. Bayangan mulai memudar, dan pengelihatan pun mulai tidak bisa leluasa melihat.

Mereka berdua berjalan, dengan tempo langkah kaki yang berbeda. Tsukishima hanya bisa diam, sambil menunggu sebuah rumah kecil muncul, dia hanya berpikir. Apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Apa yang akan terjadi besok? Apa yang-

"Kita sudah sampai." Ujar Sugawara, berdiri di gerbang hitam. Tsukishima hampir menabrak tubuh Sugawara yang lebih pendek. Tsukishima melihat isi di dalam gerbangnya. Rumah yang tidak terlalu besar, halaman depan yang cukup rapi, dan lumut-lumut yang tumbuh di sudut-sudut dinding. "Katanya mereka masih belum pulang."

"Begitukah?" Gumam Tsukishima. Sugawara mengangguk, membuka gerbangnya. "Lalu Nenek San sedang tidur, kita beruntung."

"Nenek San?"

"Namanya. Nenek yang tuna netra itu. Penggemar gila Tanaka."

"O-oh..."

"Ayo kalau begitu, kita masuk!"

"SUGA!"

CTAKK!

"GHYAAA SAKIT! DAICHI JAHAAAT!"

"KENAPA KAU LAMA SEKALI KEMBALI?! APA JANGAN-JANGAN DI LUAR KAU BERULAH LAGI YA?!" Belum mengatakan sesuatu saat tiba di markas, Sugawara sudah mendapat jitakan lagi. Bonus dengan omelan Daichi. Ukai, Takeda, dan yang lainnya pun hanya terkekeh canggung, lalu Tanaka dan Asahi berusaha memisahkan Daichi yang mengamuk dengan Sugawara yang terpojoki.

"Tsukishima, daritadi kau sama Sugawara-san kemana saja? Kenapa tidak mengajakku?" Ujar Hinata mencondongkan tubuhnya ke Tsukishima.

Lelaki berkacamata itu hanya mendengus tidak peduli. "Aku tadi bersyukur tidak ada manusia cebol seperti dirimu yang ada di sana."

"Sudah kubilang, jangan panggil aku cebol, dasar jerapah!" Hinata menjulurkan lidahnya.

Nishinoya menoleh ke Tsukishima. "Memangnya tadi terjadi apa?"

Tsukishima menoleh, lalu menarik napasnya. "Kami berdua tadi bertemu Oikawa. -san."

Perkataan Tsukishima tadi membuat semua keributan hening dalam sekejap. Dan seketika atmosfer di ruangan pun berubah, kecuali Hinata. "Siapa Oikawa-san?" Tanyanya dengan wajah tanpa dosa.

"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Ukai dengan sorot mata tajam. Tsukishima menoleh ke Ukai lalu menjawab, "Aku hanya sebagai pengamat. Oikawa-san menawarkan Sugawara-san untuk mempertaruhkan dirinya dan Hinata, Si Gagak Hitam, agar masuk ke organisasinya saat pertarungan nanti."

"Apa?! Kenapa harus aku?!" Seru Hinata tidak terima. "Kenapa tidak Tsukishima saja?!" Yamaguchi menepuk pundak Hinata. "Tenanglah. Itu karena organisasi lain tahu kalau kita berhasil menemukanmu dan kemampuanmu."

Ukai mengerang kecil. "Sial, ini akan menjadi semakin rumit..." Sekarang, Takeda yang menatap Tsukishima. "Lalu apa yang dipertaruhkan oleh Oikawa-kun?"

Tsukishima agak ragu untuk membicarakannya. "Jika kalah, dia akan memberitahukan seluruh rencananya kepada kita, dan memberikan salah satu bawahannya yang kuat."

"Si bawahan itu hampir membunuhku tahu!" Tambah Sugawara sambil memegang keningnya yang sakit karena jitakan.

Daichi mendengus. "Mana mungkin ada orang yang bisa membunuh Suga dengan mu-"

"Maaf menyela, tapi aku berhasil merekamnya sebagian."

Sebuah ponsel pun disodorkan ke meja dekat Takeda. Ponsel itu menunjukkan gambar yang sedikit kurang jelas, memperlihatkan Sugawara yang dicekik di atas lantai oleh seseorang serba hitam dengan topeng siluman. "Ini benar-benar gawat... kita tidak bisa ikut campur." Gumam Ukai memegang dagunya.

Hinata menoleh. "Memangnya kenapa tidak bisa ikut campur, Ukai-san?"

"Ada satu peraturan bagi para Nomadic seperti kita, bahwa pertarungan yang disepakati harus dengan umur yang sebanding. Remaja dengan remaja, dewasa dengan dewasa." Jelas Ukai dengan kerutan di dahinya.

Takeda menyodorkan ponselnya. "Lalu apa lagi yang kau ketahui, Tsukishima-kun?" Tanyanya. Ada sebuah jeda keraguan bagi Tsukishima.

Akhirnya dia menjawab. "Sugawara-san belum menyepakati tawarannya, lalu diberi waktu oleh Oikawa-san untuk berpikir tentang itu. Namun jika dia belum menjawabnya selama dua minggu tepat di hari pertarungan, secara paksa Oikawa-san akan menculik Hinata dan dia akan dijual hidup-hidup secara illegal."

Kaki Hinata langsung melemas dan tidak bisa berdiri lagi. "D-dijual... secara... illegal..." gumamnya gemetaran. "Tenanglah, Hinata! Itu hanya omongan saja! Jangan dipikirkan!" Seru Tanaka menyemangati Hinata.

"Boss dari Oikawa... The Contra... aku lupa. Asahi, bisakah kau mencari profil boss dari The Contra?" Pinta Takeda ke Asahi. Asahi mengangguk lalu siap kembali di depan laptopnya. "Setidaknya kita harus menyelesaikan semua ini dalam waktu yang singkat."

"Dua minggu bukanlah waktu yang lama..." Gumam Ukai. Hinata yang tidak tahu apa-apa hanya duduk di sofa, dengan pipi yang cemberut, serasa tidak dianggap. "Nishinoya-san," panggilnya. "Aku tidak mengerti. Kenapa semua orang terlihat panik, sih?" Gerutunya.

Nishinoya menoleh ke Hinata. "Aku akan beritahu sedikit tentang Oikawa." Dia duduk di sebelah Hinata. "Oikawa itu, adalah leader dari The Contra. Dia punya julukan Sang Raja Besar. Dan kemampuannya itu bagaikan monster."

"Seburuk apa hingga dijuluki monster?" Hinata memiringkan kepalanya. Nishinoya sedikit mengerang, sambil menggaruk tengkuknya. Rasanya sukar jika dijelaskan melewati kata-kata. "Dia bisa menyiksa orang tanpa rasa ampun. Pokoknya, sangat mengerikan." Bisik Nishinoya.

"Terlebih lagi, dulu Oikawa adalah teman baik-dekatnya Sugawara-san."

Hinata yang mendengar langsung menelan salivanya. "Itu sangat menyeramkan." Komentarnya. "Itu sudah pasti."

"Kalian semua, sebaiknya kemari. Ini profil dari Boss The Contra yang akan sulit dipercayai." Ujar Asahi dengan wajah takutnya. Ukai, Takeda, Daichi, dan yang lainnya melihat ke layar laptop Asahi. "Tanaka, coba kau yang baca." Suruh Ukai.

"Baiklah, baiklah..."

"Hem... Ushijima Wakatoshi, atau bisa dipanggil Ushiwaka. Pemuda Nomadic berumur 19 tahun yang memiliki kemampuan... Kidal? Pada umurnya yang ketujuh belas, dia m-membunuh 115 jiwa dalam satu semester. Dia ditangkap dan dipenjara selama 23 tahun. Namun, pada awal dua bulan ia dipenjara di tempat yang paling membahayakan, dia berhasil kabur dan menjadi Boss The Contra dengan slogan 'No Humanity'..." Tanaka membacanya dengan lantang sekaligus sedikit ketakutan.

"Itu adalah hal yang mengerikan karena dia masih menginjak umur remaja." Komentar Daichi, tangannya sedikit gemetar. "Dan dia akan melawan kalian." Tambah Takeda. "Hinata, Tsukishima," panggil Ukai. Kedua pemilik nama itu mendekati. "Kalian sudah siap latihan untuk besok?"

Hinata mengangguk sampai menunduk saking semangatnya. Sedangkan Tsukishima hanya bergumam sebagai jawaban.

Ukai tersenyum. "Dalam waktu seminggu, kalian harus sudah bisa mengendalikan kekuatan kalian."

-The Middle-

"Ini sudah empat hari, dan apa yang kalian lakukan?!" Seru Daichi ke Hinata dan Tsukishima, yang hanya diam mendengar ocehan-ocehan Daichi. "Kalau begini terus bisa-bisa kalian mati di tangan The Contra minggu depan!"

"Bagaimana jika mereka menyerangmu seperti ini?!" Daichi memunculkan Phoenix yang melayang ke arah Tsukishima. Lelaki jangkung itu berusaha berlindung dari balik lengannya. Cakar dari Phoenix itu mencengkram lengan Tsukishima, lalu kembali terbang ke atas langit.

Tubuhnya terlempar ke belakang sejauh belasan meter. Dia menginjak tanah dan terdengar seretan antara sepatu dan tanah. Namun, saat serangan kedua dilontarkan, Phoenix itu menembaknya dengan dengan bulu-bulu berapi. Saat Tsukishima menghindari beberapa bulu berapi itu, salah satu dari bulunya mengenai betis dan membuat Tsukishima jatuh tergelincir.

Phoenix itu kembali melayang ke langit, mengecilkan tubuhnya sehingga sebesar elang, lalu bertengger di bahu kanannya Daichi. "Lihat, aku menyerangmu hanya dengan serangan-serangan dasar."

"Hari ini Daichi-san lebih galak dari biasanya." Gumam Tanaka yang bersandar di salah satu balkon apartemen kosong, melihat ke bawah. Nishinoya mengangguk, melihat ke Hinata di pinggir. Tubuh Hinata dari jauh terlihat jelas kalau dia ketakutan dengan Daichi. "Kasihan ya, Hinata." Ucap Nishinoya kemudian.

Sugawara yang berada di sebelah Nishinoya dan Tanaka dengan santai melihat ketiga orang di bawahnya sedang berlatih. "Aku duluan kebawah, ya." Tanaka menoleh. "Memang mau apa kebawah sekarang?" Sugawara memutar tubuhnya, lalu tersenyum simpul dengan tenang. "Aku yang akan melatih Hinata. Kasihan kalau dia hanya di pinggir melihat Daichi marah-marah." Kekehnya, lalu pergi dari balkon.

Kedua pasang mata Nishinoya dan Tanaka membelalak. "Kepribadian asli Suga-san telah kembali!" Bisik mereka dengan senang.

Tsukishima terus menghindar dari serangan Daichi. Kali ini, yang menyerang Tsukishima adalah Naga Merah dengan semburan api berwarna birunya. "Jangan menghindar terus! Mana bukti kalau kau adalah Nomadic yang mempunyai kekuatan Di Atas Derajat Dewa?!"

Ringisan terdengar dari jawaban Tsukishima. Tidak ada waktu lagi untuk berpikir panjang tentang bagaimana cara memusnahkan naga merah itu. Dia melihat sekitar, terus berulang kali sambil berlari. Apa ada yang bisa ia manfaatkan? Tsukishima tersenyum. Memang ada.

Sembari menghindar api berwarna biru dari naga Daichi, Tsukishima berlari cepat ke sisi, lalu mengambil benda yang tergeletak di tanah. Rantai. Rantai itu cukup panjang sehingga saat Tsukishima melemparnya, naga itu menyekik leher naganya. Daichi masih mendengus tidak puas. "Hanya i-"

"Aku belum selesai, Daichi-san." Sela Tsukishima dingin. Tangannya menggenggam erat rantai itu. Dengan sorot mata tajam, ia berkata, "Keluarlah."

Angin berhembus cepat diantara Tsukishima, membuat Daichi, Hinata, dan yang lainnya harus melindungi mata mereka. Angin itu hampir membuat Hinata melayang, seperti puting beliung yang sangat dahsyat.

Beberapa waktu berlalu, angin perlahan kembali normal. Tsukishima masih berdiri di sana, dengan sebuah bayangan besar di atasnya. Bayangan itu berwujud seorang pria dengan pakaian samurai, yang bisa dikenali sebagai 'Dewa Kematian'.

"Woah! Tsukishima mulai beraksi! Ini bakalan jadi keren!" Nishinoya dan Tanaka berseru dengan penuh semangat di atas sana.

Tsukishima tersenyum seperti iblis. "Kekuatanku adalah Di Atas Derajat Dewa. Itu benar. Karena aku bisa memunculkan salah satu dewa dan menyuruhnya sesuka hati." Terdapat sedikit sunggingan di mulut Daichi. "Ini yang aku harapkan."

"Dewa kematian! Hancurkan naga itu!" Seru Tsukishima menunjuk ke Naga Merah milik Daichi. Naga itu meraung, sambil mengeluarkan api birunya. Daichi menyengir. "Baiklah kalau begitu-" namun, kakinya tidak bisa bergerak. Tidak hanya kakinya, namun seluruh tubuhnya. Begitu pula Naga Merah miliknya.

S-sial... apakah ini yang dinamakan kemampuan Di Atas Derajat Dewa?! Daichi meringis, melihat bayangan dewa kematian mulai mengangkat katananya. Tsukishima tersenyum. "Lakukan."

Bayangan dewa kematian pun menebas Naganya, yang perlahan berubah menjadi kupu-kupu kecil yang indah. Hanya tersisa beberapa senti lagi, katana itu menyentuh Daichi.

Setelah mengangkatnya lagi, bayangan itu hilang. Daichi terkekeh, berjalan menuju ke Tsukishima dan menepuk punggungnya keras. "Brilian."

Tsukishima mengangguk datar sembari membenarkan kacamatanya sebagai tanda terima kasih.

"TSUKISHIMA KAU HEBAT!" Seru Nishinoya dan Tanaka bersamaan.

"Sial! Kenapa dia begitu keren?!" Seru Hinata. "Eh? Tapi kau bisa lebih hebat dari itu lho, Hinata." Keberadaan Sugawara di belakang Hinata membuat kelaki itu kaget setengah mati.

Sugawara terkekeh. "Kau seperti melihat hantu saja!" Hinata terkekeh, menggaruk tengkuknya dan melihat Tsukishima lagi dalam diam. Sugawara menyadari, jika Hinata tidak bersemangat seperti biasanya. "Mau ke tempat yang lebih tenang?"

Taman, adalah tempat yang paling cocok untuk menyegarkan diri dan menghilangkan stress dalam sesaat. Air mancur mmenyala memancurkan airnya dengan indah.

Hinata dan Sugawara duduk di bangku dan melihat air mancur itu. "Jadi, apa yang membuatmu terlihat lemas begini?" Tanya Sugawara.

Hinata menundukkan kepalanya. "Aku tidak bisa fokus."

"Fokus?"

"Iya," Hinata mengangguk. "Kageyama menghantuiku." Lanjutnya. Sugawara mengangkat kedua alisnya. "Kageyama? Siapa dia?"

"M-maaf! M-maksudku, sahabatku waktu kecil, namanya Kageyama Tobio!" Ujar Hinata tegang dengan sedikit panik, lalu bersandar ke senderan bangku. "Dia adalah satu-satunya temanku, dan satu-satunya keluargaku. Kemanapun aku pergi, dia pun ada di sisiku. Saling membela, melindungi, bercanda, pokoknya tanpa dia aku bukanlah apa-apa saat itu."

Hembusan napas panjang pun terdengar di mulut Hinata. "Lalu, salah satu Nomadic pun menyerang kita. Kageyama melindungiku, dan dia terluka parah. Kageyama bilang, 'pergilah, aku bisa atasi ini sendiri!'. Aku saat itu benar-penar ketakutan dan sangat panik. Dan akhirnya, aku meninggalkan dia, berlari kabur sambil menangis."

"Aku berusaha mencari bantuan, tapi tidak ada yang peduli. Saat aku kembali, dia sudah hilang." Cerita Hinata, kemudian ia terdiam. "Hanya ada darah di jalan itu. Dan akhir-akhir ini aku bermimpi tentangnya, kenapa aku kabur pada saat itu."

"Aku seorang pengecut."

"Dan anehnya aku sangat benci Nomadic. Tapi ternyata aku sendiri Nomadic juga." Kekeh Hinata.

"Kapan kau terakhir bertemu dengannya?" Tanya Sugawara menatap langit. Hinata menoleh, "Em... sekitar enam tahun yang lalu."

Sugawara bersiul. "Berarti sudah lama sekali ya." Gumamnya, menatap arloji yang sudah memperlihatkan jarum pendek yang sudah melewati angka empat. "Masih ada waktu 45 menit lagi menuju ke pukul lima, nanti kita akan berkumpul dan membicarakan strategi. Kau ingin latihan dulu sambil menunggu?" Tanya Sugawara.

Hinata perlahan mengangguk. "Tapi aku tidak yakin jika aku sudah menguasai kemampuanku."

"Tidak apa-apa, aku bisa membantumu." Sugawara tersenyum mengibaskan tangannya. Hinata menatap datar Sugawara.

"Sugawara-san berubah, ya."

"Apa?"

"Padahal waktu kemarin kau ogah-ogahan memantauku berlatih."

"Ohya? Ohoho~ mungkin karena aku stress saat itu~ sekarang, ayo latihan!"

Hinata perdiri di lapangan sebelah taman itu. Ayo, Shoyou. Pikirkan apa yang membuatmu bersemangat. Sangat bersemangat.

Lapangan voli.

Dengan bola yang melayang tinggi di atas.

Melompat melebihi tinggi net, memberikan spike kepada bola itu, saat melihat wilayah kosong lawan.

Bola dipukul, menyentuh lantai lapangan, dan skor pun menambah. Sorak sorai terdengar dari tempat penonton.

"Aku ingin bermain voli."

Angin terasa berhembus begitu cepat, dengan lingkaran menyala yang berada di bawah tubuh Hinata. Seperti Tsukishima, sebuah bayangan besar dan hitam berada di atasnya. Sayap gagak itu perlahan terlihat. Dan suara koakan pun terdengar.

Dia sepertinya sudah berlatih cukup keras. Batin Sugawara, cukup senang melihat Hinata. Setengah dari gagak itu pun mulai terlihat, Hinata bisa mengendalikan kekuatannya jika Gagak Hitam itu bisa keluar tanpa bersatu dengan tubuh Hinata.

Namun, sepertinya ini tidak berjalan lancar.

"Hinata! Pergi dari sini! Jangan sampai Nomadic itu menangkapku juga!"

"T-tapi-"

"PERGI KE TEMPAT YANG AMAN!"

"Kau tahu, bocah itu membiarkan sahabatnya sekarat saat diserang oleh Nomadic..."

"Nomadic menyeramkan ya, tapi lebih seram kalau dia lebih memilih melarikan diri daripada membantu sahabatnya."

"Pergilah! Tidak ada yang membutuhkanmu di sini!"

"Kau lebih baik mati terhanyut oleh sungai yang kotor!"

"Semoga kau membusuk di neraka sana!"

Punggung Hinata mengeluarkan sayap. Senyum Sugawara memudar. "Ini tidaklah bagus." Hinata mengerang kesakitan, lebih tepatnya dia tidak sadar. Sayap itu bukanlah bayangan lagi, tapi benar-benar nyata dan memperlihatkan betapa lebarnya sayap itu.

Hembusan angin sekarang mungkin bisa dikatakan lebih dahsyat dari Tsukishima tadi, membuat air dari air mancur taman pergi terbawa tiupan angin dan jadilah sebuah tornado.

Sugawara hanya bisa perlahan melangkah ke dekat Hinata. Keadaan yang seperti ini, dia tidak bisa menggunakan kemampuannya. "Hinata! Jangan biarkan si Gagak Hitam menguasai dirimu dengan mengingat masa lalu!" Seru Sugawara, memegang tiang lampu jalan.

Suara koakan terdengar, tapi sebenarnya itu adalah jeritan Hinata.

Dari dalam pikirannya, Hinata hanya mendengar kata-kata.

"Kebencian."

"Kerugian."

"Kemurkaan."

"Emosi."

"Penyesalan."

"Dendam."

"Benci-"

"HINATA SHOYOU! DENGARKAN AKU!" Sugawara berhasil memegang pundak dengan bulu burung gagak. Mata Hinata melihat ke atas, sampai pupilnya tidak terlihat.

Sugawara kelilipan. Tapi, ini bukanlah waktu yang pas untuk mengurus hal itu. Dia mengambil napas dalam dalam. "MASA LALU ITU UNTUK MEMPELAJARI KESALAHAN, BUKAN MENYESALI KESALAHAN!"

Pupil Hinata kembali terlihat. "... apa?"

Selama dua detik itu, angin sangat kencang, seperti ada petir yang mengikuti. Lalu mereda. Memperlihatkan hasil berantakan dari tornado buatan Hinata.

Sugawara terjatuh, terbatuk-batuk. Hinata menyadarinya dan mendekati Sugawara. "Sugawara-san! Kau tidak apa-apa?!" Serunya. Pemuda bersurai kelabu menoleh perlahan ke Hinata, lalu tersenyum.

"Kau berhasil..."

Lelaki itu mengerjapkan matanya lalu menatap dengan polos. "Berhasil apa?"

"Lihat di belakangmu."

Dengan ragu, Hinata menoleh ke belakang. Kepalanya ia putar, dan melihat sepasang mata merah tajam menatap ke arahnya dengan paruh hitam yang hampir mengenai keningnya.

Si Gagak Hitam. Dia sangatlah besar. Hingga tingginya hampir menyamai gedung-gedung di sana. Sugawara berusaha duduk dan menyengir. "Kau berhasil mengendalikan kemampuanmu."

-The Middle-

"Kemana Ukai-san dan Takeda-sensei?" Tanya Tanaka di dalam markas. Semua sudah berkumpul, jam dinding memperlihatkan sudah pukul lima lebih sepuluh menit. "Mereka tidak bisa ikut karena urusan pekerjaan." Ujar Yamaguchi membereskan meja tamu. "Kalau begitu, Kiyoko-san, bisakah kau ambilkan Peta Dunia ENO of Phantasm?" Pinta Daichi.

Kiyoko mengangguk dan mengajak Hitoka untuk ikut. "Kiyoko-san memang selalu cantik~!" gumam Nishinoya dan Tanaka, berbunga-bunga. Kemudian kepala mereka dijitak oleh Asahi. "Jaga pandangan kalian!"

"ENO of Phantasm?" Ulang Hinata. "Apa itu?" Yamaguchi berdehem. "ENO itu singkatan dari East Nomadic Ocean. Itu wilayah kita di Dunia Phantasm." Jelasnya.

"Kita masih punya waktu seminggu lebih. Dan kenapa kita harus pergi di hari Minggu? Padahal pertarungan dimulainya hari Sabtu..." Tanya Tsukishima bersedekap.

Asahi menoleh. "Di Dunia Phantasm, tidak ada yang namanya pesawat. Jadi kita hanya bisa memakai mobil dan perahu." Jelasnya.

"Sejauh itukah?"

"Iya."

Beberapa menit kemudian, Kiyoko dan Hitoka kembali dengan sebuah kertas besar. Mereka berdua disambut hangat oleh Nishinoya dan Tanaka. "Ini petanya." Kiyoko membuka gulungan itu di meja tamu.

"Kita berada di wilayah utama benua Karasuno. Dan wilayah pertempuran terjadi di lokasi ini, yang Oikawa beritahu kepadaku. Kita akan menaiki jip ke titik terdekat selama empat hari." Jelas Sugawara menunjuk ke peta. Sayangnya Yamaguchi tidak bisa ikut, jadi kita tidak bisa berteleportasi."

Yamaguchi terkekeh sambil menggaruk tengkuknya. "Maafkan aku, aku disuruh ibu untuk menemani kakekku jalan-jalan..." Daichi tertawa. "Mudah-mudahan nanti kakekmu akan mendapatkan hari yang menyenangkan."

"Akan kuusahakan!"

"Jadi yang ikut hanya enam orang... Daichi-senpai, Sugawara-senpai, Nishinoya-senpai, Tanaka-senpai, Hinata, dan Tsukishima." Ulang Hitoka melihat buku catatannya.

Seketika wajah Nishinoya tambah cerah. "Terima kasih telah memanggilku senpai, Hitoka-chan! Akan kutraktir es krim!" Semuanya tertawa melihat keantusiasan Nishinoya. Kecuali Tsukishima, yang pastinya.

"Kita persiapkan rencana kecil dan latihan sampai hari Minggu, kemudian kita pergi." Ujar Daichi ke lima orang yang disebutkan tadi. "Kita harus siap."

Di sebuah gedung, terdapat ruangan yang gelap, hanya ada cahaya dari layar komputer yang ada. Oikawa tersenyum, melihat peta lokasi dimana The Contra dan The Middle bertarung. "Ini akan menjadi sangat menarik. Bukankah begitu, Ushijima-kun?"

Dari balik bayang, Ushijima tersenyum. "Ya." Jawabnya singkat.

"Aku tidak sabar untuk menunggu."

-The Middle-

Hai! Maafkan atas keterlambatan ini!

Akhir-akhir ini saya sering kena writes block, dan saya kemudian mendapatkan solusi agar saya bisa menulis lagi dengan baik!

Maaf kalau chapter sebelumnya membosankan! Saya bakalan kasih banyak suspense nya di episode-episode selanjutnya!

Terima kasih telah membaca The Middle sampai sejauh ini! *nunduk 90°*

Review, kritik, dan saran saya terima dengan senang hati. Sampai jumpa di chapter selanjutnya!

Manakah adegan yang paling kamu sukai? :D