Spy AU II
.
Warning:
(still) Excessive use of swear words
Amsterdam hari itu sedang cerah-cerahnya, langit biru dengan awan yang menggantung disana-sini. Tadi pagi sempat ada hujan singkat, jadi udaranya terasa agak lembab. Untung Guanlin sudah mengingatkannya kalau cuaca Amsterdam di bulan April itu suka seenaknya sendiri.
("Kau ditugaskan ke Amsterdam? Aku ingat kalau orang Belanda bilang begini, 'April doet wat hij wil'."
"Huh, aku tak tahu kau pernah ditugaskan ke Belanda. And what the fuck does it mean anyway?"
"Ck, will it kill you if you don't swear for just one damn day?"
"Just tell me the meaning, Crown."
"Well, singkatnya cuaca disana pada bulan April itu tidak menentu."
Lalu Guanlin nyengir.
"Good luck with that, and good luck with Wink.")
Ingatan itu membuat Samuel merutuk Guanlin dalam hati. Mau ada wujudnya atau tidak, Guanlin selalu berhasil membuatnya kesal. Apalagi ditambah dengan cengiran khas yang sampai memperlihatkan gusinya itu. Hah.
Ngomong-ngomong, ucapan Guanlin tadi membuat Samuel teringat sesuatu.
Wink.
Partner-nya dalam misi kali ini. Park Jihoon.
Rasanya seperti sudah tiga hari berlalu semenjak malam 'bersejarah' itu. Namun kenyataannya kejadian tersebut baru saja berumur 12 jam dihitung dari detik bibir mereka saling bertemu untuk pertama kalinya.
Ugh. Memikirkannya saja membuat bibir Samuel terasa geli. Seolah jejak bibir Jihoon masih berada disana, enggan untuk pergi meskipun sudah seberapa keras Samuel menyikat bibirnya tadi malam.
Iya, Samuel memang ekstra. Tidak hanya dalam mulutnya saja yang disikat 5 kali, bibirnya pun juga. Sekarang bibir Samuel jadi agak terluka karena terlalu lama disikat.
Di balkon hotel yang megah, Samuel bersandar dan menatap langit. Sesekali matanya memicing ketika sinar matahari menyorot kearahnya ketika tak ada awan yang menutupi. Ia menghela napas kasar. Memandangi awan-awan yang berarak malas agaknya membuat Samuel menjadi ikut-ikutan merasa malas dan mengantuk.
Tadi malam dia baru bisa tidur jam 4 pagi. Ternyata sugesti Samuel untuk tidak memikirkan apapun terkait kata kunci 'Wink' dan 'cium' gagal total karena kedua hal itulah yang memenuhi pikirannya semalam. Dengan berat hati Samuel mengaku kalah karena sekarang pun Samuel merasakan ada yang bergejolak di perutnya begitu nama Wink muncul di benaknya. Kalau begini terus Samuel yakin lama-lama dia akan muntah.
Sayup-sayup terdengar alunan musik piringan hitam dari kamarnya. Kantuk semakin menguasai Samuel. Rasanya ia ingin langsung terjun ke kasurnya saja.
Namun sebelum ia bisa memposisikan dirinya untuk berbaring sebentar, suara familiar dari in-ear-nya langsung menyadarkannya.
"Are you seriously going to sleep in the middle of your mission, Deer?"
Ck. Samuel membenarkan letak alat dengar di dalam telinganya. Suara Guanlin terdengar lebih keras dari yang ia inginkan dan itu sangat menyebalkan.
"Aku tidak tahu ternyata kau mempunyai bakat cenayang, Crown. Are there cameras installed here? How did you know?"
Balasan berupa gelak tawa Guanlin terdengar jelas di seberang.
"Deer, kita sudah berteman sejak pertama kali kita menyentuh pistol. Jadi, anggap saja kita ini seperti kembar dan memiliki semacam telepati. And no, there are no cameras there. Boss said to give you and Wink some 'privacy'."
Saat ini Samuel yakin Guanlin pasti tengah mengeluarkan cengiran khasnya, kemudian terdengar tawa mirip lumba-lumba milik Guanlin.
Samuel mengerang dan menjatuhkan dirinya ke kasur. Dia tahu benar kemana arah pembicaraan ini tapi dia tetap saja bertanya.
"What the fuck does it mean? And why would he say that?"
Ia mengacak rambutnya kasar. Ada apa sih dengan orang-orang agensinya?
"Why don't you find out by yourself?" tanya Guanlin, jelas terdengar sedang menikmati mengerjai Samuel seperti ini. Pasti ia juga tengah menyeringai licik sekarang.
"You little fucke-"
"Deer? Who are you talking to?"
Suara decit pintu membuyarkan obrolan mereka dan membuat Samuel menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Ternyata itu Jihoon.
"It's Crown." jawab Samuel singkat. Ia berdiri dan menghampiri Jihoon. Tak lupa sebelumnya ia sudah mematikan in-ear-nya agar tak perlu mendengar Guanlin yang mengoceh terus. "Jadi bagaimana tadi? Kau menemukan sesuatu?"
Balasan yang didapat Samuel hanyalah helaan napas panjang. Lelaki yang baru datang itu melepas jaket anti peluru yang dikenakannya dengan lunglai. Samuel merasa sedikit simpatik padanya karena siang ini memang cukup terik, tapi Jihoon harus tetap memakai jaket itu agar tidak beresiko. Jihoon menyeret kursi hingga mendekati tempat Samuel dan mendudukkan dirinya di sana. Posturnya yang mungil semakin terlihat kecil karena bahunya turun, terlihat sangat lelah.
"Aku hampir ketahuan tadi." Ucap Jihoon lirih.
Samuel membelalakkan matanya terkejut.
"W-what? How?!"
Lagi-lagi Jihoon hanya mengeluarkan helaan napas. Antara ia berusaha untuk menormalkan ritme napasnya yang sedikit tersenggal atau ia memang sedang kesal hingga enggan berucap.
Samuel baru menyadari keadaan Jihoon yang bermandikan peluh ketika keringat Jihoon menetes jatuh ke karpet. Dapat dipastikan hasil dari kombinasi cuaca terik dan memakai jaket, serta tambahan adrenalin yang habis terpacu. Ia beranjak meninggalkan Jihoon ke ruangan lain. Tak lama kemudian ia sudah kembali dengan handuk, kaos, dan sebotol air mineral.
"Keringkan badanmu." Titah Samuel melemparkan handuk ke muka Jihoon. Tanpa protes tangan Jihoon bergerak meraih handuk dengan ogah-ogahan.
Gerakan Jihoon yang lamban dan tak bertenaga membuat Samuel gemas dan membuatnya merebut handuk itu dari tangan Jihoon. Digosokkannya kasar handuk itu pada rambut, wajah, dan leher Jihoon. Sebenarnya Samuel cukup heran karena Jihoon tetap diam saja tanpa protes diperlakukan seperti ini. Namun tidak lama ia menangkap bahwa ada yang tidak beres karena sikap Jihoon yang tidak biasa ini.
Setelah dirasa Jihoon cukup kering, Samuel mengangkat kedua tangan Jihoon keatas dan segera melucuti baju Jihoon yang basah. Dibalutnya tubuh Jihoon dengan handuk itu dan menyekanya cepat. Lalu dengan kecepatan yang sama ia memakaikan kaos bersih ke badan Jihoon.
Samuel menempelkan mulut botol air mineral ke bibir Jihoon, mengisyaratkan Jihoon untuk minum dulu sebelum menceritakan semuanya. Sepertinya ada yang benar-benar salah karena Jihoon menjadi sangat jinak dan mengikuti apa yang diperintahkan Samuel tanpa syarat.
Lima tegukan air kemudian, Jihoon menceritakan apa yang terjadi dengannya selama 60 menit yang lalu.
Hasrat untuk tertawa sudah menggantung diujung lidah Samuel. Situasi ini dirasa terlalu lucu baginya. Ia tidak percaya semesta tega melakukan ini pada bocah polos ("WTF?" -Guanlin) sepertinya hanya dalam kurun waktu tiga hari.
Di balik selimut putih motel murah, ia menahan napasnya. Sesekali ia menarik napas lewat hidung ketika persediaan oksigennya menipis. Pikirannya secara otomatis melakukan hitung mundur dimulai dari lima. Samuel bukan seorang yang religius tapi sekarang ia berdoa habis-habisan agar apapun yang terjadi lima detik kemudian, entah bagaimanapun caranya ia bisa keluar dari motel ini hidup-hidup.
Kualitas motel yang mereka sewa ini memang sebanding dengan harganya. Dinding tipis yang sama sekali tidak ada peredamnya membuat suara apapun dari kamar tetangga merambat ke telinga mereka. Alhasil sedari tadi Samuel dan Jihoon kerap mendengar suara-suara tak senonoh yang membuat mereka memerah. Dan juga, suara hentak langkah yang beriringan berlari di sepanjang lorong motel.
Drap drap drap drap drap
This is it.
Three...
Two...
One...
BRAK
Nice. Bahkan disaat seperti ini Samuel masih sempat memuji keakuratannya dalam mengkalkulasi pergerakan musuh. Paling tidak ia berhasil mengulur waktu karena lawan mereka salah masuk ke kamar sebelah.
Lima, sepuluh, lima belas. Lima belas personel dikerahkan untuk mengepung Samuel dan Jihoon malam ini. Mereka sudah tahu lebih dulu–tentu saja–dan segera mengecoh dengan meninggalkan hotel mereka sejak pagi tadi, lantas bergerak untuk bersembunyi di sebuah motel murah di pinggir kota malam ini. Namun ternyata mereka sedikit meremehkan lawan mereka kali ini karena nyatanya jejak mereka masih bisa terlacak. Kelemahan terbesar Samuel dan Jihoon memang–underestimating their opponent. Pulang nanti Bos pasti mengomeli mereka.
'Kalau' mereka bisa pulang.
Samuel langsung merutuki dirinya yang tiba-tiba memikirkan hal itu.
"Hey stop hitting your head, fool." bisik Jihoon dibawahnya. Tangannya bergerak menahan tangan Samuel yang memang sedang memukul kepalanya berkali-kali untuk menghilangkan pikiran pesimisnya.
Tunggu– dibawahnya?
Ya, ini persoalan yang Samuel ratapi dari tadi. Tentang bagaimana semesta pasti sedang menonton kemalangannya dengan semangkok besar butter popcorn dan soda ditangannya. Bak menonton film action keluaran terbaru dengan Kim Samuel dan Park Jihoon sebagai pemeran utamanya.
Lagi-lagi ini ide Jihoon.
("Ini ide dari Daniel hyung!"
"Why did you bother to take his 'idea' anyway? Satu agensi dan nenek mereka juga tahu kalau semua ide tersebut hanya akal bulus Daniel hyung agar bisa bercumbu dengan Seongwoo hyung!"
"But it works everytime! Seharusnya kau bersyukur karena berkat ide ini kita bisa lepas dari maut!"
"Well, yeah– But I'm not doing it for the second time!"
"Quit whining, Deer. Now get on top of me. Believe me, many people are more than willing to be on your position right now.")
Dan sekarang, Jihoon tengah berbaring di atas kasur dengan Samuel yang berada diatasnya. Kedua kaki Samuel memerangkap tubuh mungilnya dan satu tangan berada di samping kepalanya. Sedangkan tangan Samuel yang lain berada di balik baju Jihoon, melayang hanya sepersekian senti dari kulit halus Jihoon, menggenggam pistol miliknya yang tersembunyi di balik punggung Jihoon. Hampir sama dengan Samuel, kedua tangan Jihoon juga bersembunyi di balik jaket Samuel dan menggenggam masing-masing pistol ditangannya.
Sepertinya lawan mereka sudah selesai membongkar isi kamar sebelah dan bergegas menuju kamar mereka. Hitungan mundur Samuel sekarang dimulai dari angka sepuluh. Sepuluh detik yang entah mengapa terasa terlalu cepat tapi juga terlalu lama bagi Samuel. Berbagi nafas dalam ruang sempit di bawah selimut membuatnya menjadi sedikit gelisah.
"Wink." bisik Samuel.
"Yeah?"
Untuk beberapa saat Samuel tidak menjawab. Sepertinya ia sibuk menghitung mundur waktu lawan mereka hingga pintu kamar ini didobrak. Gaduh dari derap langkah terdengar semakin mendekat.
Lima detik lagi.
Samuel menatap Jihoon lekat. Binar di matanya sulit diartikan. Waktu tinggal sedikit baru Samuel mendekatkan wajahnya untuk berbisik di bibir Jihoon.
"I fucking hate you."
BRAK!
Bersamaan dengan bunyi papan pintu yang terhempas ke dinding, bibir Samuel bertemu dengan milik Jihoon untuk yang kedua kalinya. Sensasinya persis seperti malam itu. Jantung yang berdebar terlewat kencang (pada titik ini Samuel takut tiba-tiba ia terkena serangan jantung dini), perut yang rasanya seperti ada kembang api di dalamnya, peluh yang mulai membasahi keningnya...
Genggaman tangannya pada pistol mulai terasa licin akibat keringat. Samuel benar-benar takut kalau tangannya tidak sengaja meleset lalu malah menarik pelatuk dan menembak Jihoon.
Fucking hell, Samuel benar-benar harus mengikuti pelatihan mental untuk menyingkirkan pikiran macam-macam di situasi kritis seperti ini.
Slap!
Selimut putih yang melindungi mereka berdua disingkap.
Samuel yakin sekarang jantungnya berhenti berdetak untuk selamanya. Jemari Jihoon refleks menekan kuat pada punggungnya dan tidak sengaja menggores kulitnya.
Semesta yang sedang menontonnya sekarang pasti berjengit penuh antisipasi di tempat duduknya.
"Ugh, we got the wrong room again."
Lalu para personel tersebut meninggalkan kamar.
Bibir mereka tetap menempel, menunggu sampai personel terakhir beranjak keluar dari kamar. Ketika suasana dirasa sudah aman dan suara yang menggema di lorong hanyalah desah dan teriakan dari kamar-kamar di sekitarnya seolah tak terjadi apa-apa, mereka mengakhiri ciuman mereka.
Samuel menjatuhkan dirinya dan menindih tubuh Jihoon, terlalu lelah untuk memindahkan tubuhnya. Heran juga, anggota badannya yang bekerja hanya bibirnya, tapi rasanya seperti habis bergulat dengan 10 orang. Nafasnya memburu, menggelitik ceruk leher Jihoon yang menggeliat tak nyaman. Namun Jihoon membiarkan Samuel seperti ini. Terlalu lelah untuk berargumen.
"Apa-apaan tadi." gumam Samuel. Karena jarak, bibirnya jadi menyapu pelan kulit sensitif leher Jihoon ketika bicara. Dia merasakan Jihoon tersentak pelan, tapi ia tak mengatakan apa-apa.
"Aku heran. Terkadang mereka pintar, tapi juga bodoh. Bagaimana bisa mereka langsung berlalu meninggalkan kita tanpa sekedar mengecek dahulu?"
"Hm, kurasa mereka homophobe. Tidak tahan melihat dua lelaki sedang make-out."
Hening menyelimuti beberapa saat.
Hingga kemudian tanpa ada alasan, Samuel mulai tertawa dan diikuti oleh Jihoon.
"Oh my God I can't believe we were actually doing this!" ujar Samuel disela-sela tawanya.
"I think I have to thank Daniel hyung at least a hundred times for saving our ass twice."
"No. Don't feed his ego. Daniel hyung akan menggunakan ini sebagai alasan untuk dapat mencium Seongwoo hyung lebih banyak lagi."
"Shit, you're right. Jangan sampai tiba-tiba Bos jadi memasukkan ini ke daftar 'Things You Should Do When You're Fucked Up'."
"Hm, aku rasa ini cukup untuk masuk ke daftar 'Improvisation 101'."
"Haha, fuck."
Ini pertama kalinya Samuel dan Jihoon dapat saling melempar lelucon seperti ini. Rasanya menyenangkan. Setelah sekian lama interaksi yang mereka lakukan hanyalah sebatas profesionalitas (itupun dengan tangan yang siap mencekik leher masing-masing), dapat bersenda gurau dengan Jihoon tentu mengejutkan Samuel. Positifnya, itu merupakan kejutan yang menyenangkan. Dan Samuel tidak keberatan untuk mendapat kejutan seperti ini lebih banyak lagi.
"We should sleep." putus Jihoon kemudian. Ia melucuti senjata yang masih tersimpan di badannya dan badan Samuel.
"Yeah." bisik Samuel setelah menguap.
Malam itu mereka berdua tidur dengan posisi yang sama seperti tadi. Dengan Samuel yang bernafas pelan di ceruk leher Jihoon dan tangan melingkar di pinggangnya. Untuk pertama kalinya semenjak ia menginjakkan kaki di Amsterdam, Samuel tertidur nyenyak.
Seminggu kemudian misi selesai. Misi yang tentu saja berakhir sukses dengan penangkapan anggota dewan legislatif yang terbukti korupsi. Begitu mendarat di Korea, Woojin dan Guanlin sudah stand-by menjemput mereka di bandara bersamaan dengan polisi untuk mengamankan para tersangka yang dipulangkan bersama mereka.
Jihoon berlari memeluk Woojin, sedangkan Samuel ogah-ogahan menyambut rentangan tangan dan senyuman lebar Guanlin.
"How was the honeymoon?" goda Guanlin nyengir lebar sambil menepuk punggung Samuel. "Four weeks from now I'm expecting a positive in the test pack."
"Fuck you." geram Samuel dan dibalas dengan tawa Guanlin. Kalau bukan di tempat umum, Guanlin sudah mengaduh kesakitan di tangannya sekarang.
Selama perjalanan kembali ke kantor agensi dipenuhi dengan ledekan dari Guanlin. Lalu Woojin jadi terpancing untuk ikut menggoda Samuel dan Jihoon habis-habisan. Para objek bulan-bulanan hanya terdiam pasrah, terlalu malas untuk menanggapi.
Setelah presentasi mengenai penangkapan dan informasi yang mereka dapatkan selama misi, Bos hanya mengangguk singkat–menyiratkan pengakuan atas kerja baik mereka. Mereka kira itu sudah cukup. Bos memang tidak pernah memuji secara langsung. Kemudian, Bos mengusir mereka keluar setelah memberikan mereka janji liburan gratis. Langkah mereka terhenti di ambang pintu ketika Bos tiba-tiba mengatakan hal yang keramat.
"Mulai dari sekarang kalian partner tetap."
Kemudian Bos melanjutkan menghisap cerutunya seolah tidak ada apa-apa.
Maju cepat berbulan-bulan kemudian.
Misi yang telah diselesaikan Samuel dan Jihoon berdua sebagai partner yang terhitung sampai saat ini yaitu sebelas. Terkadang Samuel merasa heran, rasanya setiap satu masalah selesai, dua atau tiga bedebah memutuskan untuk berulah dan berteriak 'SURPRISE MOTHERFUCKERS!' di hadapan muka Samuel. Terpikir olehnya untuk rotasi ke Departemen Pembunuhan karena paling tidak jumlah kasusnya lebih rendah daripada korupsi, tapi begitu melihat laporan forensik milik Youngmin langsung ia urungkan niatnya.
Dari sebelas misi tersebut, entah sudah berapa kali Samuel dan Jihoon ber'improvisasi'. Samuel enggan untuk menyebut kata 'cium' dan segala yang berkaitan dengan itu dalam berbagai bahasa. Jadi suatu hari mereka sepakat untuk menyebutnya 'improvisasi' saja.
Ia benci untuk mengakui ini, tapi sepertinya ia mulai memahami kenapa Daniel ketagihan melakukan 'improvisasi'.
Hangat tubuh Jihoon dibawah telapak tangan Samuel merambat hingga ke sekujur tubuhnya, membuatnya yakin bahwa pipi Jihoon pasti bersemu hangat sekarang. Kecupan demi kecupan ia berikan ke bibir merah Jihoon sebelum kemudian berubah menjadi gigitan kecil. Jihoon tidak bilang tapi Samuel tahu ia suka itu. Suara desahan tertahan lepas dari mulut Jihoon, menjadi pemicu Samuel untuk memagut dan melumat bibir Jihoon seperti sebuah adiksi.
Beberapa saat kemudian mereka melepaskan tautan bibir mereka. Bibir dan pipi Jihoon terlihat semakin merah seperti warna syal-nya sekarang. Kalau ia ditanya penyebabnya ia akan menjawab itu efek dari dinginnya Desember. Tangan Samuel terangkat untuk mengusap lembut pipi Jihoon.
"Yang tadi itu, bukan improvisasi kan?" bisik Samuel. Nadanya sedikit takut, hampir seperti tidak yakin dengan pertanyaannya sendiri.
Atau mungkin, ia takut bahwa dia telah salah mengartikan semua ini. Bahwa hanya dia yang selama ini merasakan ada yang berubah tiap kali ia memandang Jihoon. Dulu ia tidak peduli apakah Jihoon selamat atau mati dalam misinya. Sekarang, dia lah yang selalu menjemput Jihoon pulang dari misi tunggalnya–untuk memastikan dia benar-benar selamat (dan juga ia tak sabar untuk segera bertemu dengannya).
Jihoon terdiam sejenak. Hanya menatap Samuel dengan pandangan paling lembut yang pernah Samuel saksikan.
"Bukan." jawab Jihoon pelan, kemudian senyum terkembang di wajahnya. "That was our first real kiss."
Samuel tertegun, berusaha mencerna omongan Jihoon. Matanya berusaha mencari kebohongan di binar milik Jihoon. Namun melihat senyum Jihoon yang tak kunjung pudar–malahan berubah menjadi seperti meledek ekspresinya yang pasti terlihat bodoh sekarang–membuat Samuel langsung tersadar.
Oh. My. God.
Sekarang Samuel melonjak-lonjak senang sambil memeluk Jihoon. Masa bodoh Jihoon yang merasa pusing karena tubuh kecilnya tersentak-sentak. Kalaupun Jihoon akan membalas perbuatannya nanti, pasti tidak akan sampai membuat Samuel mati karena Samuel sekarang, ehm, pacarnya. Iya, kan?
"Fuck. So, we are boyfriends now?" tanya Samuel girang.
Jihoon hanya tergelak dan mengangguk. "That sounds kinda gross, but, yeah. We are boyfriends."
Samuel merengkuh Jihoon kembali ke pelukannya dan kemudian mendekatkan wajah mereka. Sebelum bibir mereka saling bertemu, Jihoon menahan kepala Samuel.
"So, are we gonna stop calling it 'improvisation'?"
"No," kekeh Samuel, mendekatkan bibirnya. "Let's keep it that way."
.
.
.
THE END
Note:
Finally! Selesai juga setelah tertunda cukup lama huhu. Kuliah memang bikin orang kayak gak punya kehidupan T_T
Sorry if this is under your expectation and I left out a lot of the mission details;; I don't have any idea left.
And with this, I conclude the Alternate Universe series–has been finished.
Thank you so much for all the readers dan semua yang review dan favorite! It's been fun writing this! :)
~Oxeye
