Love After Love

Title : Love After Love

Author : Gia onee-san a.k.a park Young eun

Pairing : Kim Jaejoong, Jung Yunho, Go ahra, Sandara Park

Genre : Romantic, Drama, Complicated,

Rated : T+

Leigth : Chapter

Happy reading^^

.

.

.

Chapter 7

Love After Love

giaoneesan

.

.

.

.

Tok

Tok

Tok

Jaejoong terbangun mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Namja cantik itu sedikit linglung namun segera bangkit berdiri. Dan tertegun saat menatap wajahnya yang terdapat darah mengalir dari hidungnya. Pandangannya beralih ke arah lantai yang juga berhias cairan merah itu. Jaejoong segera melepas kaos yang dipakainya, dan membersihkan lantai itu dengan kaosnya, buru-buru namja berkulit putih itu ke kamar mandi dan membasuh wajahnya.

Dirasa sudah tidak ada noda darah di lantai ataupun di wajahnya, Jaejoong mengambil sebuah kantong plastik pembungkus buku yang baru saja di belinya kemarin dan memasukkan kaosnya yang sudah terkena noda darah itu kedalam kantong plastik . Jaejoong menggaruk tengkuknya bingung sementara orang itu tidak berhenti mengetuk pintu kamarnya. Tanpa pikir panjang lagi dilemparkannya kantong plastik itu ke dalam tempat sampah di samping pintu kamar mandi.

"Nde, chakkamanyo!" Teriaknya dan menghampiri pintu kamarnya.

Ceklek

Deg

Sepasang mata musang itu kini berada tepat di hadapannya. Keduanya saling diam, Jaejoong mengerjapkan matanya bingung.

Sesuatu yang sedari tadi menarik perhatian Yunho dan tak ingin sedetikpun melepas pandangannya dari sosok di hadapannya yang sekarang tidak memakai pakaian? Tunggu! Jaejoong memang melepas kaosnya dan lupa menggantinya karena terburu-buru sehingga berujung membuka pintu dengan bertelanjang dada.

Yunho menelan salivanya melihat pemandangan itu. Hamparan putih dan mulus terpampang di hadapannya, sekali lagi menelan salivanya saat pandangannya semakin turun kebawah.

"Yak. Mwoaneungoya? K –kau B –bagaimana bisa ada di depan kamarku eoh?" Tanya Jaejoong sedikit terbata dan risih karena Yunho sedari tadi memandangnya cukup intens.

Ehemm

Brukk

Yunho berdehem pelan sebelum menerobos masuk dan sedikit menyenggol bahu Jaejoong, membuat namja cantik itu memproutkan bibirnya.

"Yak! Jung Yunho, siapa bilang kau boleh masuk seenaknya ke kamarku. Cepat keluar." Yunho dengan cueknya mengabaikan pengusiran sang tuan rumah dan justru malah berjalan sambil melihat isi kamar itu. Alisnya sedikit terangkat saat mata musangnya tak sengaja melihat sebuah jam berbentuk hello kitty menghiasi meja nakas di samping tempat tidur.

Bruuk

"Ahhhh ,, nyamannya!" seru Yunho saat merebahkan tubuhnya keatas ranjang besar milik Jaejoong.

"Yak! Siapa yang mengijinkanmu tidur di tempat tidurku? Bangun tidak? Ayo pergi atau aku hancurkan wajah tampanmu itu." Yunho membuka matanya yang sempat tertutup itu. Alisnya terangkat namun sebuah senyuman kemenagan muncul di bibir hatinya.

"Jadi, kau mengakui kalau aku ini tampan eoh?" seru Yunho dengan nada menggoda membuat wajah Jaejoong merah padam.

"M –mwo? Siapa bilang? Aku salah bicara tadi. Ayo cepat pergi dari kamarku." Usir Jaejoong dan mengulurkan tangannya hendak mendorong tubuh Yunho, namun yang terjadi justru diluar dugaan.

Sreettt

Bruukk

Mata musang Yunho memerangkap kedua mata doe di hadapannya. Entah bagaimana kejadiannya, Yunho bahkan kini tidak hanya memerangkap kedua mata Jaejoong tetapi juga tubuhnya.

"Kim Jaejoong, saranghaeyo." Ucap Yunho dan semakin mempersempit jarak antara wajahnya dengan wajah cantik dihadapannya. Perlahan hingga dalam hitungan sepersekian second, bibir hati itu akan sukses menyentuh permukaan bibir cherry yang terlihat sedikit terbuka itu.

"Yunho~ah, Joongie! Makan malamnya sudah siap chag ... OMO!" Jaehyuk langsung kembali menutup pintu juga mulutnya dan bergegas meninggalakan kamar putranya tanpa suara lagi.

Blam

Jaejoong tersentak dan mendorong tubuh Yunho dari atasnya.

Urggh

"Yah. Kau benar-benar cari mati Jung Yunho."

Huft

Yunho menghela nafasnya dan memejamkan matanya, mengindahkan ucapan namja cantik yang tengah berbaring di sampingnya.

"Padahal sedikit lagi. Hahh ! tetap saja gagal." Keluh namja tampan itu. Jaejoong mendengus mendengarnya dan ikut memejamkan matanya.

"Yah, Kau! Untuk apa datang kerumahku?"

"tentu saja untuk menyakinkanu bahwa Jung Yunho itu benar, benar dan benar mencintai Kim Jaejoong." Lagi Jaejoong mendengus.

"Kau ini benar-benar keras kepala heh?" Jaejoong menatap wajah di sampingnya.

"Tapi aku lebih suka melihat tubuhmu dari pada saudara kembarmu. Sepertinya lingkungan keluarga benar-benar membedakan dengan sangat intens. Kulitmu jauh lebih putih, dan terlihat lebih mulus. Membuat sesuatu itu tampak terlihat jelas." Ucap Yunho tiba-tiba dan tersenyum misterius. Jaejoong memiringkan kepalanya dan mencoba mencerna apa yang di katakan namja bermata musang itu. Dengan wajah yang sudah memerah karena mendengar pujian Yunho yang terdengar sedikit vulgar itu.

"Yak! Apa maksud bicaramu itu eoh? Apanya yang tampak jelas?" Yunho masih tersenyum sementara jaejoong tambah heran.

"Yak! Yunho~ah! Aisshh ! namja menyebalkan."

Seet

Deg

Sekali lagi posisi mereka berubah seperti beberapa waktu yang lalu. Yunho menindih tubuh Jaejoong, mengunci pergerakan namja cantik itu.

"Saranganda."

Cup

Jaejoong tertegun saat Yunho mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibirnya.

"Pakailah bajumu. Kau bisa masuk angin kalau terus bertelanjang dada. Dan jangan salahkan aku kalau aku akan menerkammu nanti." Mata doe itu mengerjap begitu cepatnya. Tunggu, Baju? Dada? Telanjag? Menerkam?

"M –mwo?" mata doe jaejoong melirik tubuhnya sendiri dan lagsung terbelalak saat melihat bahwa dia memang tidak memakai baju. Jaejoong menelan salivanya dan kembali menatap kedua mata musang yang masih berada diatasnya.

"Kau mau aku yang memakaikannya?"

"M –Mwo? Aissh. Menyingkir dari disana."

Cup

Jaejoong mengerucut sebal namun tidak mengucapkan apa-apa. Namja cantik itupun bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas menuju Lemari besar yang menguni kamar luasnya.

Jaejoong memilih sebuah kemeja bermotif dan langsung memakainya. Usai memakai pakaian Jaejoong berjalan menghampiri meja rias dan menata rambutnya. Sedikit tertegun saat melihat wajahnya yang ternyata masih tampak pucat. Apa Yunho menyadarinya? Jaejoong mengangkat bahu dan mengambil lipice mengoleskannya di bibir cherrynya yang nampak pucat.

"Kau membuatku ingin memakan buah cherry milikmu itu jaejoongie." Jaejoong tersentak saat melihat Yunho sudah berdiri beberapa meter darinya.

"Coba saja kalau kau berani, akan ku patahkan lehermu." Ancam Jaejoong yang sungguh tidak mempan bagi seorang Jung Yunho. Namja tampan itu justru berjalan mendekat dan langsung memeluk tubuh Jaejoong.

"Kalau kau tidak mau melepasku, aku akan memanggil seluruh bodyguard abeoji untuk menyeretmu keluar sekarang juga Jung Yunho." Yunho tersenyum dan melepas rengkuhanya, menngangkat kedua tangannya diudara tanda menyerah.

"Bisakah kau mengantarku ke apotek? Sepertinya aku memerlukan beberapa pil penambah darah. Yunho mengerutkan dahi mendengar permintaan jaejoong.

"Kau sakit?" tanya Yunho, ada perasaan aneh yang menjalar saat menanyakan hal itu pada Jaejoong yang hanya mengangkat bahu dan menggeleng menjawab pertanyaannya.

"Anieyo. Hanya merasa sedikit pusing. Kajja!" Jaejoong bergegas keluar kamarnya diikuti Yunho di belakangnya.

.

.

.

"Joongie chagi, kau tidak mengambilkan Yunho supnya?" celetuk Jaehyuk menyadari suasana dingin yang ada diantara dua namja muda dimeja makan itu. Jaejoong membuang muka dan hal itu menarik perhatian Kim Joongwon.

"Yunho~ya, aku dengar kau putra presdir Jung, pemilik perusahaan elektronik sekaligus raja berlian yang terkenal di pasar Eropa bukan?" Yunho mengalihakan perhatiannya dari Jaejoong yang menyantab makanannya dengan asal dan tidak berselera. Mata musang itu berganti melihat pria paruh baya yang baru saja mencari tau identitas keluarganya.

"Nde, adjjushi. Abeoji memiliki pengaruh yang sangat besar di pasar Eropa." Joongwon mengangguk dan sebuah senyuman terukir disudut bibirnya.

"Kebetulan yang bagus. Kalau begitu, jika kau dan Joongie bersatu nanti, aku akan menggabungkan perusahaan tambangku dengan milik tuan Jung. Sehingga nanti bisa menjadi perusahaan raksasa yang menguasai pasar Eropa dan Asia." Jaejoong menatap tidak percaya kearah appanya. Namja cantik itu menggeleng dan bangkit dari kursinya.

"Eomma, aku sudah kenyang." Tuturnya dan bergegas pergi meninggalkan meja makan di sambut helaan nafas Jaehyuk dan Joongwon mengangkat sebelah alisnya.

"Lihat, Joongie tidak menghabiskan makanannya gara-gara kau. Seharusnya kau tidak perlu membicarakan masalah bisnis di meja makan, yeobo. Uri Joongie jadi tidak bersemangat dan mengira kau hanya menginginkan kerjasama dengan perusahaan milik keluarga Jung daripada memikirkan kebahagiaan Joongie. Biarkan mereka menikmati masa-masa berpacaran dan setelah puas pasti mereka akan menikah." Yunho menghela nafas dan melihat Jaejoong yang sudah sampai di pintu menuju keluar.

"Ahjjuma, adjjhusi. Aku harus mengantar Joongie sekarang." Jaehyuk mengangguk dan Yunho langsung melesat mengejar Jaejoongnya.

.

.

.

"Tuan, nyonya!" seorang pembantu berlari dari atas tangga. Joongwon mengangkat sebelah alisnya heran. Sementara Jaehyuk tampak tercenung.

"Ada apa ajjhuma?" tanya Jaehyuk begitu maidnya sampai dihadapannya dengan nafas yang terengah dan sesuatu tampak berada di genggamannya.

"Nyonya, saya menemuakan ini di kamar tuan muda, terbungkus di dalam kantong plastik di tempat sampah kamar mandi tuan muda." Tutur wanita tua itu dan menyerahkan sebuah kaus berwarna putih yang telah terkena noda darah di beberapa tempat. Jahyuk tampak syok baru saja tanganya terulur untuk mengambil kaos itu, sebuah tangan lain mendahuluinya yang tak lain adalah tangan joongwon.

"Tidak mungkin!" Joongwon menelan salivanya dan Jaehyuk mulai terisak. Kedua pasangan itu saling diam dan merunduk. Menatap apapun dengan pandangan tidak percaya.

"Bohong! Tidak mungkin Joongie juga sama. Aku tidak bisa menerima semua ini." Kaos itupun terjatuh dari tangan Joongwon, laki-laki berwibawa itu tak mampu lagi menahan sesak di dadanya.

"Dimana Joongie sekarang?" tanya Joongwon kalap dan menatap istrinya.

"J –joongie bukankah per –pergi bersama Yunho?" Jawab Jaehyuk masih terisak.

Joongwon segera meraih ponselnya dan mendial nomor putranya. Wajahnya mulai tampak gelisah setelah beberapa kali mendengar tak ada jawaban dari seberang panggilan.

Mata Jaehyuk terbelalak seketika saat dilihanya seseorang yang tengah masuk kedalam rumah sembari menggendong seseorang yang sangat dikenal seluruh penghuni rumah.

"OMO! Joongie!" Jaehyuk dan Joongwon berhambur dan berlari menghampiri Yunho yang datang dengan membawa Jaejoong dalam gendongannya.

"Yunho~ah, ada apa dengan Joongie?" tanya Jaehyuk.

"Yunho~ah, apa yang terjadi pada Joongie?" tanya Joongwon tidak mengalihkan wajah cemasnya pada sosok putranya yang tampak pucat dan tak sadarkan diri.

"Joongie tiba-tiba pingsan Ajjsushi, ajjhuma. Aku juga tidak tau kenapa." Tandas Yunho juga terlihat khawatir di wajah tampanya.

"Bawa Joongie kekamarnya, yeobo, cepat hubungi Cho uisangnim." Perintah Jaehyuk dan suaminya bergegas meraih ponselnya yang beberapa saat lalu digunakannya untuk menghubungi Jaejoong.

"Joongie~ya, uri Joongie. Apa yang sebenarnya terjadi chagya? Eomma akan membawamu sampai keujung dunia untuk bisa menyembuhkanmu. Eomma mohon jangan sakit." Ucap Jaehyuk dan menatap sendu wajah putranya yang tampak pucat dengan mata terpejam itu.

Lagi, kenapa wajah serupa itu harus muncul lagi dihadapannya. Yunho menggeleng pelan. Tidak mungkin Jaejoong juga sama. Sesak, jika harus membayangkan kembali wajah yang seperti itu, seperti beberapa bulan yang lalu. Ketika seseorang dengan wajah yang sama juga mengalami hal yang sama.

.

.

.

"Bagaimana Kyuhyun ssi? Apa penyakit yang diderita Joongie?" tanya Joongwon mengitrupsi begitu melihat dokter keluar dari kamar Jaejoong.

"Tuan Kim saya belum bisa memastikannya, karena itu saya mengambil sample darah Jaejoong untuk diperiksa di lab. Hasilnya akan keluar secepatnya, saya pasti akan segera menghubungi anda, begitu hasilnya keluar."

"A –apa mu .. mungkin Jaejoong terkena leukimia?" seperti sebuah belati yang ditancapkan dengan kuatnya ke hati Yunho, namja itu bergetar begitu mendengar Joongwon menyebutkan nama penyakit itu. penyakit yang telah merenggut orang yang sangat disayanginya.

"Jangan pernah berkata seperti itu yeobo. Joongie kita baik-baik saja. Dia tidak sakit." Sangkal Jaehyuk meskipun terlihat jelas namja itu kini tengah menangis.

"Kita hanya bisa berharap. Semoga putra anda baik-baik saja. Sepertinya Jaejoong juga terlihat kelelahan dan stress yang berlebih. Ketahanan tubuhnya juga menurun. Untuk sementara ini saya hanya bisa memberikan resep untuk vitamin dan penambah nafsu makan saja." Ucap Kyuhyun. Namja berbaju putih seragam kedokteran itupun pergi meninggalkan kediaman keluarga Kim.

.

.

Love After Love

giaoneesan

.

.

"Wae? Kenapa kau menginginkannya juga? Bukankah kau memberikan dia untukku? Meggantikanmu untuk berada di sisiku. Tapi kenapa kau ingin mengambilnya? Hah?"

Duagh!

Buku tangan pemuda bermata musang itu mengalir darah ketika dengan kuatnya menjatuhkan pukulannya dengan telak kearah sebuah nisan batu bertuliskan nama Han Jaejoong.

Tak jauh darinya sosok pemuda lain yang mengenakan syal yang membalut leher jenjangnya tengah mengamati apa yang dilakukan namja bermata musang. Bibirnya yang terlihat pucat semakin memutih karena cuaca yang tidak bersahabat. Angin dingin berhembus dan berlalu menerpa tubuhnya.

"Kenapa kau menginginkan dia juga Jae ... ! aku menginginkannya berada disampingku. Aku mohon, lepaskan joongie. Biarkan dia bersamaku. Aku mohon ..." rintihan Yunho pecah bersama hembusan angin, wajahnya tertunduk dan beberapa kali membentur dinding pusara.

"Aku mohon ... biarakan dia disisiku. Berikan dia untukku ..." iskan itu tak berhenti memenuhi tempat pemakaman.

"Yunho~ya, geumanhe. Biarkan Han beristirahat dengan tenang. Kita pulang saja." Guman Jaejoong dan menyentuh pundak Yunho yang bergetar.

"Tidak Joongie! Aku harus bicara pada Jae. Sudah cukup dia yang pergi dariku, dia tidak boleh membawamu juga. Aku harus menyakinkan Jae untuk memberikanmu seutuhnya untukku."

"Yunho~ya! Ini bukan kemauan Han, ini sudah takdirku Yun. Dia tidak tau apa-apa, ayo kita pulang saja uhm.." Yunho menepis tangan yang merengkuh bahunya dan kembali melayangkan pukulan-pukulan pada batu pusara itu hingga memenuhinya dengan darah yang merembes dari sela-sela jemari tangannya.

"Anya, aku harus meminta penjelasannya. Wae? WAE? Kenapa kau mengingkari janjimu padaku Jae? Katakan! KATAKAN padaku WAE??" teriak Yunho lagi dengan penuh emosi.

Grep

"Geumanhe, Yunho~ya, geumanhe ... aku mohon jangan melukai dirimu sendiri." Jaejoong memeluk tubuh Yunho dan memeluknya dengan erat. Berusaha menenangkan namja tampan itu.

"Aku masih disini, masih disampingmu. Aku tidak akan pergi kemanapun." Ujar Jaejoong mengelus punggung Yunho dengan lembut.

"Saranghae ... Yunho~ya ..." menepis rasa egois yang selama ini dipertahankannya, akhirnya satu kata yang ditunggu namja berkulit tan itu terucapkan dari cherry lips yang tampak semakin pucat. Yunho tak mampu berkata-apa-apa, direngkuhnya namja yang berperawakan lebih kecil darinya itu. dikecupnya berkali-kali puncak surai namja cantik itu.

"Nado, nado saranghaeyo Kim Jaejoong." dan tanpa ragu sedikitpun Yunho menyentuh permukanan bibir cherry Jaejoong yang terasa kering di bibir hatinya, ciuman yang terbalut rasa asin dari air mata namun begitu terasa manis bagi kedua insan yang saling membagi kasih itu.

Jaejoong memejamkan matanya saat merasakan jemari Yunho berpindah dan meraih tengkuknya memperdalam paggutannya.

Enggh

Erangan itu lolos dari bibir Jaejoong saat merasakan lidah tajam menerobos masuk melewati celah bibirnya. Keduanya melupakan cuaca yang bahkan terasa menusuk tulang karena bergantikan hangatnya aliran cinta yang menjalari keduanya.

Anyir, Yunho merasakan sesuatu yang kini membaur bersama salivanya dan Jaejoong. iris musangnya membuka seketika saat menyadari bahwa Jaejoong tidak merespon ciumannya dan sesuatu yang membuatnya terpaku adalah cairan merah pekat yang kembali mengalir dari dalam hidung namja cantik di hadapannya.

"Jaejoong~ah! Joongie~ya .. irreona ... " Yunho benar-benar panik saat Jaejoong memejamkan kedua doe eyesnya dan sama sekali tidak merespon panggilannya. Tubuhnya terlihat lemas dan wajahnya begitu pucat. Yunho bangkit dan mengangkat tubuh Jaejoong dalam gendongannya, berlari sekuat tenaga meninggalkan area pemakaman yang terlihat ditumbuhi begitu banyak rumput liar serta guguran daun gingko.

.

.

.

Han Yun Ri terduduk lemas di lantai minka* (rumah jepang) nya, selembar kertas dalam genggamannya telah membuatnya mengetahui semuanya. Wanita itu tak mampu lagi menahan berat tubuhnya dan hampir saja terjatuh jika Go Kang Pyo, supir pribadi keluarga Kim itu tidak meraih tubuhnya.

"Tidak mungkin! Kenapa bukan aku saja yang menerima kutukan itu? kenapa harus anak-anakku yang menanggungnya. Aigo ! putraku ..." Jaehyuk juga bergeming dan justru terisak dalam pelukan suaminya Joongwon yang juga berwajah sendu.

"Ini tidak mungkin!" pekik Yun ri lagi dan menggelengkan kepalanya berulang kali. Yeoja paruh baya itu meremas kertas putih dalam genggamannya yang merupakan hasil tes dan laporan kesehatan Kim Jaejoong putranya yang masih hidup.

Didalam kertas itu terlihat jelas sebuah kata yang membuat pasangan Kim juga kedua orang lainya dalam ruangan itu tak mampu lagi menahan isakan.

Kim Jaejoong

21 years old

'Positive Choric Myelogenous Leukemia'

"Tenanglah Yun ri~ah. kita cari solusinya bersama-sama." Ucap Kang Pyo menenangkan, Yun ri menggeleng hebat.

"Kenapa harus kedua putraku? Kenapa bukan diriku saja?" tanya wanita itu entah pada siapa.

"Appa! Ajjhuma, ajjhusi! Yunho oppa membawa Jaejoong oppa. Se –sepertinya Jae oppa pingsan lagi." Seru Ahra tiba-tiba dari balik pintu. Jaehyuk, Joongwon begitu juga Yun ri dan ayahnya sendiri menoleh dengan wajah Syok.

"Joongie!" Pekik Jaehyuk dan menghampiri Yunho yang menggendong tubuh Jaejoong. tampak darah yang keluar dari hidung Jaejoong turut mengotori bahu kemeja Yunho hingga merembes sampai ke dadanya.

"Cepat bawa Joongie masuk Yunho~ya." Mengangguk, Yunho berlari masuk kedalam bekas kamar Han Jaejoong di Minka milik Han Yun ri.

Ibu kandung Jaejoong segera mengambil air hangat beserta kain basah dan mulai membersihkan sisa-sisa darah yang menghiasi wajah menawan putranya.

Joongwon maupun Jaehyuk terdiam sambil memperhatikan Yun ri. Keduanya tidak menanyakan apapun pada Yunho karena hal ini memang sudah sering terjadi semenjak jaejoong divonis menderita penyakit itu. Ahra berdiri di samping Yunho dan mengulurkan sebuah kemeja baru yang bersih pada namja tampan itu.

"Gantilah bajumu oppa." Yunho mengangguk, dan mengambil kemeja yang disodorkan Ahra. Yeoja itu menatap nanar kearah sosok yang tengah terbaring di dalam ruangan dengan wajah pucat. Isak tangis lolos dari bibir tipisnya. Ahra membekap mulutnya dan segera keluar dari dalam ruangan,air matanya tumpah dan tubuhnya yang bersandar di dinding merosot dengan pelahan.

Tidak bisa di pungkiri, dalam hati Ahra, masih menyimpan rasa cinta pada namja bermata doe itu. meskipun dirinya pernah punya niat jahat pada namja cantik itu, tapi semuanya pupus saat berita yang tidak diinginkan itu menusuk gendang telinganya. Kim Jaejoong, namja yang pernah mengisi relung hatinya itu kini terbaring tak berdaya karena sebuah penyakit yang perlahan menggerogoti tubuhnya.

.

.

Love After Love

giaoneesan

.

.

"Aku tidak pernah menyangka, Jaejoong hyung akan seperti itu." guman Yoochun yang diangguki kedua sahabatnya Changmin dan Junsu.

"Apa sekarang Jae hyung sedang berada di Osaka?" tanya Junsu, Yoochun mengangguk.

"Apa adikmu masih mengejar Jae hyung Chunie?" namja bersuara husky itu menggeleng dan mengangkat bahu.

"Dara, dia sedang melakukan survei mencari dokter terbaik di Amerika. Dia benar-benar syok dan langsung memesan tiket penerbangan kesana begitu mendengar hasil tes kesehatan Jae hyung. Tapi kurasa dia belum berhasil, sudah enam bulan lamanya , Dara belum juga kembali." Junsu menatap gusar pemandangan di sekelilingnya sementara Changmin tampak sedang berfikir.

"Semoga Jae hyung baik-baik saja dan segera sembuh." Ketiga remaja itu akhirnya hanya bisa mengangguk dan berdoa.

.

.

.

Semua orang menunggu dengan cemas di depan sebuah pintu putihsalah satu ruangan rumah sakit di Osaka Jepang. Begitu seorang namja yang berpakaian seragam putih kedokteran keluar dari dalam ruangan, semua orang tidak terkecuali Yunho dan Ahra langsung berhambur kearah dokter itu.

"Bagaimana hasilnya dok? Apakah ada yang cocok dengan tulang sumsum Jaejoong?" tanya Joongwon penuh harapan. Dokter itu menatap dengan ekspresi yang sulit di pahami. Memperhatikan satu persatu orang-orang yang berdiri mengelilinginya, dokter itu akhirnya menghela nafas dan kembali melihat selembar kertas di tangannya.

"Tuan Kim, putra anda ..."

.

.

.

.

Tbc

Thank to:

Vic89

YunHolic

Dipa Woon

Aaliya Shim

ichigo song

Guest

NaraYuuki

Guest

Casshipper Jung

Casshipper Jung

Casshipper Jung

Casshipper Jung

Casshipper Jung

Casshipper Jung