Balasan Review~
Ukekyushipper: Makasih, kayaknya… aku terlalu bakat bikin cameo pair yah… orz btw, makasih udah review ^^
Kyu-uke: makasih, hahah~ kalo ChangKyu, diliat aja deh… :)
Irengiovanny: yah, kasih semangat kamu ke mereka yah… Biar mereka long last ato jadian, review lagi?
Dan makasih untuk RuCho D'Evil dan desi2121
Isi saya tidak menanggung, apakah sebagus yang kalian harapkan atau tidak… but~ I hope you enjoying this story~
Disclaim : always casts belong to god and them self
Pair at this Chapter : YunJae, ChangKyu and YooSu
Warning : full of Gajeness, Hugar, Typo(s), and many more…
Perfect! 6
.
'Percaya, eh? Jangan bodoh, aku tidak mudah di bohongi~'
.
.
"Jadi, Shim Changmin… Hei, kau mendengarkanku? Minnie? Hello! Bumi kepada Changmin, kau ada di sana? Aish!" sekarang, Jaejoong merasakan betapa susahnya menghadapi seseorang yang sedang galau, apa lagi jika berurusan dengan cinta. Ya, seperti yang sedang terjadi oleh Shim Changmin tetangga sekaligus teman sejak kecilnya.
Changmin Namja kelewat jangkung itu masih berada di atas tempat tidurnya, dengan wajah bengong yang terlihat sangat bodoh sekali. Jaejoong menatap lekat Namja di depannya, ia menggelengkan kepalanya dan menghela nafasnya lelah. "Kau ini kenapa, Shim Changmin?" tanyanya dengan nada lembut pada akhirnya.
Namja kelewat jangkung itu kemudian melirik kearah Jaejoong, "Hyung-ah…" ujarnya lirih. Suara desahan nafas lelah terdengar dari bibir tipis Namja jangkung itu. "Hyung, bagaimana… Jika aku menyukaimu?" ujar Changmin, pandangannya terlihat menerawang. Sepertinya ia tidak sadar bicara karena tak tahu harus bagaimana, terlihat seperti melarikan diri dari kenyataan sebenarnya.
Lantas saja Jaejoong terlonjak dari tempatnya. Sebenarnya, jika ia sedang meminum sesuatu, ia pasti akan menyemburkan air itu tepat di muka Namja di depannya ini. Sebaliknya jika ia sedang memakan sesuatu, mungkin saja saat ini ia sudah tersedak cukup parah. "Apa maksudmu?" tanyanya ragu, mungkin saja dia salah dengar, kan?
Changmin menatap Jaejoong lekat, ia juga mendekati Namja cantik itu. "Hyung-ah, sarangahae…" tidak, sepertinya Changmin sedang waras saat ini. Ia bahkan berani menyatakan cintanya pada cinta pertamanya itu.
Tentu saja Jaejoong membelalakkan matanya, kaget. Dengan ke-bego-an yang sangat besar, Namja cantik itu menyentuh kening Namja kelewat jangkung di depannya. "Tidak panas… Berarti kau tidak demam," ujarnya dengan setengah yakin.
"Hyung-ah! Aku sama sekali tidak sakit atau demam! Aku serius!" kesal karena di anggap bercanda, Changmin menggenggam pergelangan tangan Jaejoong. Menatapnya lumayan kesal. Hei, dia sedang menyatakan isi hatinya, kalian tahu itu kan?
"Minnie, bukan masalah kau serius atau tidak. Kau tahu anak muda? Kau sebenarnya tidak menyukaiku bahkan mencintaiku…" Jaejoong mencubit hidung Changmin yang duduk di depannya, ia juga menunjukkan senyuman manis yang biasa ia perlihatkan.
Namja jangkung itu menepis tangan Jaejoong dan mengusap hidungnya yang kesakitan. "Jadi, maksud hyung apa? Aku menyukaimu hyung! Sejak pertama kali aku bertemu denganmu! Jae hyung, sarang—"
"Hentikan, Changmin-ah… Mian, aku tidak bisa. Mianhae…" Namja cantik itu tampak menitikkan beberapa bulir air mata. Sebenarnya ia senang, jika dongsaeng tersayangnya ini menyukainya. Tapi jika saat ini ia tak memiliki Yunho, Namja yang ia cintai. Ia mungkin akan mempertimbangkan lagi perasaan Changmin.
"Karena Yunho hyung?" tanya Namja jangkung itu dengan suara serak. Ia bisa melihat Jaejoong yang menganggukkan kepalanya. "Kau sudah tahu… Jika Yunho hyung—" sebuah tangan membekap bibir Changmin. Tangan Jaejoonglah yang menutup bibir itu, ia mengangguk dan menggeleng lalu tersenyum.
"Biarkan ia yang mengatakannya langsung padaku, Changmin-ah…" suara indah itu berujar, memperlihatkan senyum sedih yang sangat kentara.
Namja jangkung itu nyengir, "Mian sudah membohongimu, hyung… Bukannya aku ingin, melakukannya. Tapi, hyung-ah sangat menyukaimu…" sebuah tarikan di kedua sudut bibir tipis itu terlihat, dan hanya sebuah gelengan pelan yang menjadi jawaban Changmin.
.
.
"Minnie-ah~"
Sebuah suara halus terdengar di kedua telinga Namja kelewat jangkung itu. Suara yang ia kenal sebenarnya, hanya saja saat ini ia sedang tak ingin di ganggu. "Ne?" gumamnya tanpa menatap orang yang saat ini berada di samping mejanya.
Dengusan kesal terdengar, "Kau seharusnya menatap orang yang sedang berbicara denganmu, kan?" suara itu kembali terdengar, kedua tangan ia lipat di depan dada, mengamati tingkah Changmin yang lumayan membuatnya kesal.
Namja jangkung itu akhirnya menatap sang Namja manis yang berbicara dengannya sedari tadi. Senyum khas Cho Kyuhyun terlihat sangat manis di mata Changmin, ia sampai tidak bisa berkedip untuk beberapa menit. "Ke-kenapa kau tersenyum seperti itu?" ia jadi gugup jika menatap senyum itu terlalu lama, Namja jangkung itu menghela nafas dan kemudian menatap tepat kearah mata Kyuhyun.
Namja manis itu masih mempertontonkan senyumannya, "Senang melihatmu baik-baik saja kawan…" Kyuhyun menepuk pundak Changmin. "Kukira arwahmu akan di bawa pergi jika tadi aku tidak memanggilmu~" ujarnya kembali dengan nada riang. "Katakan, ada apa denganmu hari ini?" Kyuhyun menarik sebuah kursi agar pandangannya sejajar dengan Namja di depannya.
Beberapa detik Changmin menatap Namja di depannya, kemudian menolehkan pandangannya kesamping. Apa ia terlihat seperti sedang galau? "Ne, Kyuhyun-ah…" panggil Namja jangkung itu.
Kyuhyun masih dengan senyuman riangnya menatap Changmin yang kembali menghela nafas. "Tinggimu akan berkurang jika kau terus saja menghela nafas seperti itu…" ujarnya bercanda. "Jadi, ada apa?"
Namja jangkung itu memukulkan bukunya tepat di kening Kyuhyun, tidak keras hanya pelan, bahkan tidak berkesan sebagai pukulan "Yang benar kebahagiaan, Kyu…" Changmin tersenyum, menunjukkan cengirannya. "Aku di tolak Jae hyung…" akhirnya ia mengaku. Namja jangkung itu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Terlihat frustasi.
Di dalam dadanya, Kyuhyun dapat merasakan tusukan nyeri di dada kirinya. Ia sebenarnya senang jika Jaejoong menolaknya, tetapi setelah melihat cengiran Changmin, entah mengapa rasa senang itu tergantikan oleh rasa sakit dan nyeri di dadanya. "Yang terpenting kau sudah mengatakannya, kan? Sudah lega? Atau kau merasa…" ia melihat Changmin tersenyum, tidak seperti tadi, senyumnya kali ini sangat cerah dan terasa lega?
"Aku hanya bisa mendoakan kebahagiaannya, Kyu…" Changmin menumpukan dagunya dengan tangan kiri, matanya menerawang tembok bercat putih di depannya.
Sementara Changmin sibuk menerawang, Kyuhyun yang ada di sampingnya tersenyum masam. Kapankah Changmin akan menatapnya? Sepertinya jawaban dari pertanyaan itu akan terjawab, hanya perlu menunggu kapan sang Namja jangkung akan menjawabnya.
.
.
Junsu duduk di samping Jaejoong, Namja cantik kita ini menatap Junsu aneh. Mengapa tidak aneh? Jika sedari tadi Junsu memainkan jemarinya secara random. Terlihat sangat gugup, apa lagi sesekali Namja bersuara melengking itu melirik Jaejoong dengan takut-takut. Mau tak mau Namja cantik di sebelahnya menatap Junsu, ia menopang kepalanya dengan tangan.
"Ada apa denganmu hari ini, Su-ie? Kau terlihat sangat aneh…" tanyanya pada akhirnya kepada Namja di sebelahnya ini, tentu masih asyik memainkan jemarinya secara acak.
Namja bersuara khas dengan lengkingan maut miliknya sehingga di juluki Dolphin pantat Bebek ini berdeham. Tenggorokannya terasa kering untuk menjawab pertanyaan Jaejoong, tetapi ia tetap memaksa untuk berbicara. "Jae hyung-ah… Ada yang ingin ku sampaikan dan katakan padamu. Kuharap kau tidak marah setelah ini…" mualinya dengan nada takut-takut.
Jaejoong mengangguk, mempersilahkan Junsu untuk kembali bersuara. Tetapi hening cukup lama hingga Namja itu kembali berbicara. "Hyung-ah, aku sekarang… Berpacaran dengan Yoochunie…" suaranya lirih, bahkan hampir tak terdengar namun cukup sampai ke telinga Jaejoong.
Tidak, Namja itu tak berteriak. Ia membulatkan matanya pertanda ia kaget, mungkin saja ia salah dengar, tapi itu tidak mungkin. Terimalah kenyataan akan apa yang kau dengar Kim Jaejoong. Sahabatmu, temanmu ini berpacaran dengan mantan pacarmu. Ya, sekarang kau memang sudah tak perduli, tetapi dulu kau sangat mencintainya.
Junsu menatap Jaejoong takut-takut, ia bahkan tak tahu apa yang akan di lakukan Jaejoong setelah ini. Ia hanya menduga jika Jaejoong akan menjambak atau malah menamparnya, ia tahu jika Jaejoong, Namja itu masih tidak rela putus dari Namja playboy, yadong dan berjidat lebar bernama Park Yoochun.
"Tunggu sebentar, Su… Kau bercanda, kan?" tanyanya, Namja cantik itu memijat pelipisnya. Sejenak ia merasakan pusing yang sangat amat menyerang kepalanya.
"Aniya hyung…" jawab Junsu di sebelahnya. Masih menatap takut-takut pada Jaejoong. Ia mendengar sebuah desahan lelah keluar dari bibir kissable milik Jaejoong. "Hyung, aku mengerti jika hyung marah padaku… Tetapi, aku menyukainya. Aku sudah menyukainya daridulu, saat aku masih di sekolah dasar!"
Ya, Jaejoong ingat. Ia pertama kali kenal Junsu adalah saat kelulusan sekolah dasar. Ia tak sengaja melihat Junsu sedang memperhatikan sekolah dasarnya yang sedang mengadakan acara kelulusan, dan di sanalah mereka saling kenal. Ia tak mungkin lupa, Namja imut berbadan berisi yang menatap dirinya dan Yoochun.
"Kenapa kau tidak bilang?" Jaejoong menundukkan kepalanya, entah mengapa ia merasa sedikit bersalah. Jadi, selama ini ia menyakiti hati sahabatnya? Dan dia tidak mengetahu hal itu? Demi Tuhan di atas sana, ia merasa bersalah sekarang.
Junsu menggeleng, "Aku tidak ingin membuat hyung-ah bersedih. Aku tahu saat itu, Yoochunie juga menyukaimu hyung…" suara Junsu terdengar lirih, ia sudah tak memainkan jarinya secara acak. Namja itu malah menggenggam tangannya dengan kuat, berusaha menguatkan diri. "Aku berusaha mengalah, kukira dengan begitu, aku bisa melupakan Chunie... Tetapi tidak bisa!" Junsu menggeleng kuat, menahan air mata yang akan luruh.
Mereka sadar, mereka masih berada di kelas. Jam istirahat membuat kelas ini terasa sepi, dan pas sekali untuk berbicara empat mata seperti ini. Bahkan Yunho tidak ada di sekitar mereka. Namja bermata musang itu sedang membantu seonsaengnim membawa buku keruang guru.
Jaejoong memegang erat kedua bahu Junsu, mereka saat ini berhadapan tetapi Junsu masih terus menundukkan kepalanya. "Junsu-ah dengarkan aku…" ia merasakan jika Namja di depannya ini meronta, menggelengkan kepalanya seperti tak ingin mendengarkan apapun. "Dengarkan dulu apa yang ingin ku katakan, Kim Junsu!" bentak namja manis itu.
Junsu tidak lagi memberontak, ia kaget dan menengadahkan kepalanya, menatap Jaejoong. "Junsu-ah, aku tidak marah… Aku tidak akan marah padamu, tapi dengarkan aku. Terima kasih…" ujarnya membuat Junsu tak mengerti.
"Kenapa kau berterima kasih hyung?" tanyanya.
Jaejoong tersenyum, "Terima kasih kau terus bersama denganku walau aku pernah membuat hatimu sakit. Kau ingat, dulu aku sering mengeluh padamu tetapi kau tetap mendengarkanku… Aku sempat down karena putus dengan Yoochun, tetapi kau terus memberiku semangat. Terima kasih, jeongmal gomawo Junsu-ah!"
Junsu menatap Jaejoong masih tidak mengerti, "Aku tidak akan marah jika kau berpacaran dengan Yoochun, itu hakmu, dan aku tidak akan melarangnya. Selamat, Junsu-ah~" ujar Namja manis itu kembali. Junsu langsung saja menubruk Jaejoong, ia memeluk Namja cantik itu dan menumpahkan air matanya, Jaejoong hanya mengusap rambut coklat lembut milik Junsu.
Seorang Namja bermata musang masih terus berdiri di luar kelas, menghalangi pintu yang masih tertutup. Terlihat beberapa teman sekelasnya menatapnya dengan takut-takut, padahal mereka ingin cepat-cepat duduk di kursi mereka masing-masing.
.
.
Bel berbunyi, tanda jika kelas hari ini selesai. Seluruh murid membereskan buku-buku mereka, ada juga yang sudah berjalan di koridor melangkahkan kaki mereka untuk segera pulang kerumah atau malah main bersama dengan teman-teman mereka.
Di kelas Jaejoong, Namja cantik yang saat ini berstatus sebagai Namjachingu Yunho terlihat masih sibuk membereskan buku-bukunya. "Boo, kubawakan tasmu…" ucap Yunho mengulurkan tangannya kearah Jaejoong. Namja cantik itu tersenyum dan menyerahkan tasnya.
Mereka, Yunho dan Jaejoong bersama Junsu, keluar dari ruang kelas. Berpikiran jika tak ada salahnya menjemput magnae mereka di kelas tingkat satu. Jaejoong dan Junsu asyik berbicara di depan sedangkan Yunho berada di belakang, sepertinya Namja tampan satu itu dilupakan. Poor Yunho.
"Kyu~ kau lama sekali!" sebuah suara terdengar setelah mereka sampai di depan kelas Changmin. Belum sempat mereka menggeser pintu kelas itu, pintu itu sudah di buka oleh Changmin yang akan segera pulang. Tentu saja Jaejoong, orang yang akan membuka pintu itu mundur selangkah. "Hyungdeul~ omona~ apa kalian sedang menjemputku~?" tanya Namja jangkung itu girang.
"Yak! Kau mengagetkanku anak muda! Kalau buka pintu bilang-bilang!" sosor Jaejoong kesal, ia menoyor pelipis Changmin dengan sadis.
"Aish! Jae hyung, appo!" rengeknya memegang dahi setelah Jaejoong puas menoyor dahinya.
Di samping Jaejoong, Junsu sedang terkikik geli. Sepertinya ia senang jika sang magnae di bully seperti itu, karena dirinya terus yang selalu jadi sasaran pem-bully-an Namja jangkung itu. "Rasain…" ujarnya senang.
"Minnie~! Tunggu ak— ah… Sunbaenim, annyeong…" sapa Kyuhyun yang berada di belakang Changmin. Ia sedikit melongok ke samping karena Changmin terlalu tinggi dan mengganggu pandangannya untuk melihat kedepan pintu.
"Annyeong~" sapa Jaejoong dan Junsu bersamaan, Yunho yang dibelakang hanya mengangguk.
Yunho melihat Changmin dan Kyuhyun bergantian, seringai khas miliknya terlihat di bibir berbentuk hati itu. "Hoo~ apa kami mengganggu kalian berdua?" tanyanya. Jaejoong dan Junsu menatap Yunho tak mengerti. Changmin yang ada di depan memasang wajah gugup, Kyuhyun yang ada di belakangnya menundukkan kepalanya malu.
"Ap—apa maksudmu, Yunho hyung? Kami bahkan mau ke kelas kalian untuk pulang bersama!" kilah Changmin terdengar gugup.
Namja tampan bermata musang itu menganggukkan kepalanya, pura-pura mengerti. "Tapi, sepertinya kalian ada rencana lain~" ujarnya menggoda pasangan yang ada di depannya. "Kyuhyun-ah…" panggil Yunho.
Kyuhyun mendongakkan kepalanya, menatap Yunho. "N—ne, Sunbae?"
"Kau tahu, Changmin kemarin bertanya padaku. Apa kau suka jika dirinya mengajakmu ke taman bermain?" Yunho berucap, mengatakan diskusian keduanya semalam, setelah Changmin di tolak Jaejoong tentunya. "Kemarin malam dia terus bertanya, apa wahana yang sebaiknya di mainkan saat kencan dan mungkin saja saat ini ia masih membawa tiket masuknya, tanyakan saja pada orangnya langsung." Yunho mengakhiri perkataannya, membuka aib Changmin begitu saja.
"OMO~!" teriak Jaejoong dan Junsu. Mereka saling bertatapan kemudian menatap Yunho dan Changmin berakhir di Kyuhyun, keduanya melihat wajah Changmin dan Kyuhyun memerah.
"Benarkah itu Yun? Minnie, magnae Food Monster kita ini… Akan kencan?!" tanya Jaejoong sedikit, tidak, sangat histeris.
Junsu mengambil ponselnya, dan mengetik sesuatu, seperti sedang mengirim pesan kepada seseorang. "Changmin si Food Monster akan kencan! Yoochun-ah, ini berita besar!" teriaknya saat mengetik.
Changmin mengernyitkan dahi, "Kenapa kau meneriakkan nama Yoochun hyung?" ujarnya aneh. Bukankah Yoochun bukan siapa-siapa mereka lagi?
Junsu menatap Changmin dan nyengir, menunjukkan ponselnya yang berdering menandakan ada pesan masuk. Secara otomatis pesan dari Yoochun terpampang di ponsel layar sentuhnya. "Chukkae, Changmin-ah! Siapa Yeoja yang kau ajak kencan? Tunjukkan padaku, apa lebih manis dari Su-ie ku atau tidak~!" itulah bunyi pesan dari Yoochun setelah mendapat pesan dari Junsu.
Mengerti ada kata 'Su-ie' Changmin kemudian melirik ke Jaejoong. Namja cantik itu tersenyum saat melihat Changmin menatapnya, "Mereka baru saja pacaran~" ujarnya dengan nada biasa saja, seperti tak terjadi apa-apa.
"Apa?! Su-ie hyung! Kenapa kau mau pacaran sama Namja yadong sepertinya? Aish! Sini ponselmu!" teriaknya, merebut ponsel Junsu dan mengetik sesuatu untuk membalas pesan Yoochun.
To: My Yoochunie
Subject: This is Changmin Ganteng
"Yak! Jidat lebar, namja yadong! Tentu saja Kyuhyun lebih manis!"
Kemudian Changmin menekan tulisan send, dan pesan itu langsung terkirim. Junsu menarik tangan Changmin, berusaha mengambil ponselnya kembali.
"Yak! Food Monster, kembalikan ponselku!" teriak Junsu masih menggapai-gapai tangan Changmin yang di angkat ke atas agar Junsu tak bisa mengambilnya. Kyuhyun yang berada di sampingnya, setelah Changmin bergeser, menatap Changmin dengan tatapan 'Oh-so-childish'.
From: My Yoochunie
Subject: Apanya yang ganteng?! Kembalikan ponsel Su-ie!
"Siapa yang kau katai jidat lebar dan namja yadong, eoh?! Su-ie ku lebih manis!"
Balasan itu di baca dan di suarakan dengan keras oleh Changmin, membuat wajah Junsu terlihat memerah. Kenapa balasan Yoochun seperti itu? Memang pesan apa yang di kirim Changmin sebelum ini?
Namja manis yang terlihat berisi itu lompat dan menyambar ponselnya, Changmin yang lengah akhirnya merelakan ponsel hasil rampasannya kembali ke pemilik yang sebenarnya. Junsu melihat balasan pesan sebelumnya dan membaca dengan suara lumayan keras, "Tentu saja Kyuhyun lebih manis…?! Mwo?!" teriaknya pada akhirnya.
Yunho melirik Changmin dengan pandangan, 'Oh-ternyata-selama-ini~'. Jaejoong di sebelah Yunho hanya terkikik, melihat Changmin dan Kyuhyun kembali menunjukkan wajah yang mirip dengan buah berwarna merah, sebut saja buah-buah itu, pasti sama merahnya dengan pasangan ChangKyu di depan mereka.
Yah, hari ini cukup menyenangkan. Mereka yang biasanya di-bully oleh sang magnae, sekarang gantian mereka yang mem-bully magnae mereka ini. Bisa dikatakan, impas bagi ketiganya.
.
.
To Be Continue
A/N:
Yaaay~ akhirnya chap 6 selese juga… Maaf yah, kalo semisal… YunJae moment semakin sedikit… Tapi diriku berusaha untuk mengelarkan masalah ChangKyu dan YooSu biar lebih enak getoh~ Akhir kata, Gomawo yo!
14-10-12
