BTS Kim Seokjin (Jin) | BTS Jung Hoseok (Hoseok) | BTS Min Yoongi (Yoongi)
BTS Jeon Jungkook (Jungkook) | BTS Kim Namjoon (Namjoon)
NCT Kim Doyoung!GS (Doyoung) | NCT Youngho Seo (Kim Johnny)
BTS Kim Taehyung (V) | NCT Lee Taeyong (Taeyong)
© all chara(s) belong to their agency
T = True Love
Because T aims for True Love
Target 6: V
Percayalah pada kata-kata bijak 'Jangan pacaran dengan orang sekantor'. Kenapa? Ya, karena seperti ini lah nanti kejadiannya..
Tadi malam aku harus menahan kantuk karena menemani dan membantu Jungkook packing. Dan sekarang, pukul empat pagi, aku sudah ada di bandara, mengantar Jungkook yang ngotot ingin pulang ke Busan. Alasannya? Karena Hoseok curiga dengan sikap aneh Jungkook.
Hoseok berpikir mungkin Jungkook memikirkan orang lain, padahal Jungkook hanya memikirkan kakaknya sendiri. Jungkooknya juga, sih, tidak mau jujur sama Hoseok. Di saat mereka sedang berdebat, seperti sudah diset oleh sutradara, muncullah nama 'Frans—Paris' di layar ponsel Jungkook. Si bule biadab memilih menelepon Jungkook malam itu diantara malam-malam lainnya. Jadilah HopeKook couple itu bertengkar hebat.
"Jungkook.. Janji, ya, ini yang pertama dan terakhir?", tanyaku pada Jungkook yang sedang termenung di kursi yang ada di bandara.
"Iya, Jinnie sayang.. Maafin aku, ya..?"
Aku menghela napasku pelan. Jungkook itu sudah seperti adikku sendiri, atau malah lebih tepat dikatakan sebagai anakku sendiri. "Janji kamu bakal ngomongin ini sama Hoseok?"
"Janji. Hm.. Jinnie, ngantuk ya?"
"Nggak.", ucapku sarkastik.
"Em.. kamu pulang kapan?"
"Ntar sore."
Panggilan boarding menuju Busan terdengar. Sebelum Jungkook beranjak dari kursinya, aku berkata, "Kookie, obrolin ini sama kakakkamu. Bilang kamu nggak suka dia selingkuh."
"Memangnya hyeong-ku bakal ngerti?"
"Tentu. Ceritain juga efek yang diakibatkan oleh perselingkuhan hyeong kamu itu. Kamu sampai berantem sama pacar kamu, membuat seluruh kru yang dinas jadi kalang kabut karena kehilangan presenternya, dan membuat pacar kamu hangover saking stresnya."
Jungkook tersenyum tipis. Aku melanjutkan. "Dia sayang banget sama kamu. Dia pasti nurut sama apa yang kamu mau. Yaudah, sana, ntar ketinggalan pesawat!"
Jungkook sudah ada di dalam pesawat, dan aku ada di dalam taksi. Aku menyandarkan tubuhku di kursi penumpang seraya memikirkan kenapa aku harus terlalu sayang pada Jungkook, sampai aku rela tidak tidur, membantunya packing pada dini hari, dan sampai mengantarnya ke bandara.
Kalau presenter lain yang bikin ulah, pasti sudah kupecat. Tapi, ini Jungkook. Yang bahkan untuk kubentak pun, aku tidak tega. Aku tersenyum ketika mengodok isi tasku, aku menemukan dua batang toblerone. Ada post it di sana "Jinnie sayang.. Maafkan Kookie yang manja ini, ya.. I love you."
Tuh, kan.. Bagaimana mungkin aku tidak sayang sama bocah itu?
"Aku memang betul-betul beruntung!", seru V saat kami bertemu di hotelku tepat pukul 8. Aku tidak tidur sama sekali setelah mengantar Jungkook ke bandara, omong-omong.
"Maksud kamu?"
"Sejak kecil, aku pengen banget ketemu Marylin Manson! Dan sekarang impian aku tercapai! Muka kamu sekusut Marylin yang lagi teler, tahu, gak?"
"Diem, V. Aku bisa makan kamu hidup-hidup, tahu, gak?"
"Jangan, dong.. So, apa yang bisa mengurangi kebetean kamu pagi ini? Kopi?"
Aku tersenyum lalu menangguk. Aku memang butuh espresso. Double.
"Tadi aku tanya sama masnya, tapi cokelat panasnya lagi abis. Padahal, dari artikel yang aku baca, cokelat bisa mengurangi kebetean."
"Nggak ngaruh, lagi, V. Tadi aku udah ngabisin satu kotak toblerone dalam perjalanan sebelum ketemu kamu."
"Sejauh itu kah kamar kamu..?"
Aku mendengus. "Tadi aku dari bandara."
"Haa? Ngapain?"
"Nganterin presenter aku yang ngotot pengen pulang."
Satu waiter menghampiri mejaku dan V. Dia menaruh semangkuk sup eomuk dan nasi di hadapanku dan scrambled egg di hadapan V.
"Makasih, mas.", ucapku ramah. Aku memerhatikan sup itu. Eomuk-nya digoreng dan kuahnya dipisah. Waiter itu juga memberikan piring kecil berisi saus tteokbokki. Tepat seperti kesukaanku.
"Kok kamu—?"
"Waktu pertama kali kita ketemu, di kios tteokbokki. 'Suatu saat aku bakal ganti makanan yang kamu beliin buat aku', ingat gak aku ngomong gitu? Yaudah, makan, gih..!"
Sepiring scrambled egg ludes dilahap V, begitu pula dengan supku.
"Done?", tanya V. Aku mengangguk. "Yaudah, ayo."
"Ayo? Ke mana?"
"Ke kamar kamu."
"Kamu gila, ya?!", ini anak apaan sih, kok ngajak ke kamar. Jangan-jangan dia pikir aku cewek yang bisa...
"Kamu yang gila. Emang kamu pikir aku mau ngapain?"
Aku jadi malu sendiri, tapi tetap dalam mode defense. "Ya.. mana aku tahu?!"
"Aku mau nganter kamu ke kamar. Kamu harus tidur, Jin. Katanya hari ini masih ada liputan?"
"Iya, sih.."
"Nah, memangnya kamu bisa kerja dengan emosi gak stabil karena kurang tidur? Nggak, kan?"
Sambil berjalan ke kamar, aku menyulut sebatang rokok. "Mau?"
"No, thanks."
Aku terkesima. "Jinjja?"
V mengangguk yakin. "I quit."
Hotel yang kutempati sebenarnya lebih berupa cottage, jadi seperti rumah penduduk. Di depan kamar kami diberi pembatas berupa jalan setapak dan taman. Sesampainya di cottage-ku, aku melihat cottage sebelah yang pintunya terbuka. Ada Hoseok di sana, sedang duduk di ambang pintu. Begitu melihat aku, dia langsung angkat tangan.
"Stop. Jangan semprot aku. Sadar banget kok, kalau aku salah. Jungkook ninggalin surat di kamar aku, dia udah jelasin semuanya, walhasil aku malu banget sekarang. Aku bersumpah gak akan nuduh dia macem-macem lagi tanpa bukti..!"
Aku menatapnya garang. "DASAR, JUNG HOSEOK BABOOO!"
"I am.. Maaf, ya, Jin..."
Aku memerhatikan Hoseok dari atas ke bawah, di sudut pelipisnya terdapat sepotong mungil koyo. Begitu pula di lehernya.
"Kenapa kamu? Sakit?"
"Iya kayaknya.. Aku pusing, terus mual-mual. Aftermath mabuk, kali. Ditambah kecapean dan stress gara-gara kemarin..."
Aku memerhatikan Hoseok memicingkan matanya dan memencet ujung hidungnya. Sebagai anak seorang dokter mata, kurang lebih aku tahu kalau itu adalah tanda-tanda minus mata yang bertambah.
"Minus kamu nambah itu, Hoseokieee! Ke dokter, sana!"
"Malas, ah. Antrenya lama."
"Heh, Hoseok babo. Kamu kira dokter-dokter pada ngapain sekolah tinggi-tinggi sampe palanya botak kayak ayah aku? Supaya bisa nolongin orang-orang yang sakit kayak kamu. Logikanya gampang, kan: Kalau sakit, ya ke dokter! Sakit itu gak mungkin sembuh sendiri! Lagian kamu kan bisa ke ayah-ibu aku, jelas-jelas eomma dokter mata!"
Aku berbalik dan berjalan menuju kamarku. Di depan sudah ada V yang sedang memasukkan kedua tangannya ke celana. Ia terkekeh melihatku. "Galak amat."
"Biarin."
"Pacar?"
"What? Jung Hoseok? Pacar aku? Nggak. Dia adalah orang bodoh pacarnya presenter yang tadi subuh ngotot pengen balik ke Busan, yang bikin aku gak bisa tidur malem ini, dan—"
"Shhh, tenang, Jinnie.. Tarik nafas, buang..."
Aku menuruti V. Sekarang, aku sudah agak tenang.
"Yaudah, tidur, gih."
"Tapi.. aku gak enak sama kamu. Kita kan seharusnya.. ngobrol."
"Ntar aja.."
"Kapaaan?"
"Ntar di bandara."
"Kemarin kamu bilang mau balik siang ini? Sedangkan aku kan sore?"
"Cancel. Akumasih ada urusan di sini. Dan kalau masih kurang, ntar kita lanjutin di pesawat. Flight kita bareng."
"Bareng gimana, kamu kan ke Seoul, aku ke Busan."
"Aku ada kerjaan di Busan."
Aku ber-O-ria. Diam-diam, aku merasa senang.
V mesti ke Busan.
Kebetulan yang menyenangkan.
Jam tiga sore. Syuting sudah beres. Hoseok menyuruhku untuk packing, dia akan mengantarkanku ke bandara. Dan sesampainya aku di Busan, Taeyong akan menjemputku.
Aku membereskan barang-barangku dengan hati tidak karuan. Pasalnya, tadi pagi aku baru saja sarapan dengan pria lain. Dan nanti malam, aku akan bertemu dengan pacarku. Aku merasa agak... berdosa?
Aku yang dulu pasti senang-senang saja kalau pacarku ada jauh dari jangkauanku. Tapi, aku yang sekarang..? Pikiran-pikiran negatif memasuki otakku lagi. Bagaimana kalau di saat aku packing seperti ini, Taeyong di sana sedang kissing dengan wanita lain?
Aku panik, langsung mengambil ponsel untuk menelepon Taeyong. Dia mengangkatnya di dering telepon yang ke-7. Tuh, kan.. mencurigakan!
[Hi, love..]
"Hai. Kamu di mana?"
[Di kantor, lah, sayang.. Kenapa? Kok kedengerannya kamu lagi sedih gitu?]
"Kira-kira kenapa?", tanyaku, berubah jadi galak.
[Loh.. Gimana aku bisa tahu? Kamu yang tiba-tiba telfon aku dan bersikap aneh.]
IIIH DASAR COWOK TIDAK PEKA! Taeyong tuh ya, manisnya cuma di awal, saat pedekte doang! Begitu jadian, berubah jadi workaholic yang super cuek!
Aku menghembuskan napasku, sengaja didramatisir, lalu mematikan panggilan telepon secara sepihak. Tak lama, ada ketukan di pintu kamarku. Hoseok.
"Apa?", tanyaku ketus.
"Taeyong.", kata Hoseok seraya menyodorkan handphone-nya padaku. Karena teleponya tidak kuangkat, Taeyong menelepon Hoseok.
"Ya?"
[I'm sorry, baby..], sapa Taeyong, sekarang nada bicaranya menyenangkan.
"Kenapa minta maaf?"
[Karena aku sadar, aku sudah terlalu cuek sama kamu akhir-akhir ini..]
"Hm.. Yaudah, aku maafin."
[Aku ntar malem jadi jemput kamu, kok, sayang.. Nanti, kita langsung dinner. Kan ada yang lagi ulang tahun.. Jangan marah lagi, ya?]
Oh, iya. Aku sampai lupa kalau besok adalah ulang tahunku.
Aku mengerang lemah. "Iya.."
[Yaudah, aku tutup, ya.. Love you.]
"Love you too."
Aku mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya.
"Mendung, Jin."
"Terus kenapa?"
"Flight kemaren aja ditunda karena cuaca buruk. Aku curiga flight kamu juga begitu."
"Ampun deh, ini kan musim panas, harusnya cerah dong bukannya mendung!"
"Ya Tuhan, Jin.. Nyebut.."
Aku membayangkan dinner-ku dengan Taeyong yang terancam batal kalau flight-ku memang ditunda. "Semoga nggak dibatalin deh pesawat aku.."
Hoseok mengangguk. "Semoga."
Pada kenyataannya, jadwal penerbanganku benar-benar ditunda. Aku menelepon Taeyong dengan nada bicara sangat menyesal andalanku.
[Berapa jam?]
"Em.. sampai besok."
[Mwo? Ini aku udah di jalan ke Busan, loh, Jin!]
"Iya.. aku tahu.. Maaf, ya?"
[Kenapa gak bilang dari tadi?]
Ini lah kesalahanku yang aku rutuki sedari tadi.
"Aku kira.. ada kemungkinan..."
[Hhh.. Yasudah, lah, mau bagaimana lagi. Tau gitu aku di kantor aja..]
Aku tahu pekerjaan Taeyong sedang benar-benar menumpuk. Tapi, keluhannya itu membuat aku bertambah kesal. Memangnya cuma dia doang yang sebal karena flight yang ditunda ini? Aku juga!
"Kamu tuh, ya. Nggak denger apa aku udah minta maaf? Emangnya mau aku kalau ada badai di langit sana? Gimana kalau pesawatku ngotot pergi terus malah kecelakaan, pesawatnya jatoh, dan nggak pernah ketemu?!"
[Kamu jangan sompral, deh, sayang! Kamu tahu kan aku gak suka kalo kamu sompral!], balas Taeyong tak kalah emosi.
"Aku telat makan gak suka, aku terlalu sibuk gak suka, aku pulang larut gak suka, aku sompral gak suka... Semua aja kamu gak suka! TERUS KENAPA KAMU PACARAN SAMA AKU?!"
Aku menutup telepon dan mengambil nafas panjang. Hoseok mencoba menenangkanku dengan menepuk-nepuk bahuku pelan.
"Sabar, Jin.."
"Kalo dia telepon kamu, ja-ngan di-ang-kat!"
"Hello, Miss Grumpy.", tegur sebuah suara yang mampu membuat hampir seluruh emosiku menguap.
V sedang berdiri sekitar dua meter dariku, menyandarkan punggungnya ke dinding.
"So, apa lagi kali ini?"
"Bete aja.. Semua rencana ancur karena delay ini...", aku menangkap Hoseok mengangkat kedua alisnya saat menatapku. Dia terlalu mabuk untuk menyadari kehadiran V tadi pagi, makanya wajar saja ketika dia menanyakan identitas V yang dengan akrabnya menyapaku.
"Seok-ah, kenalin, ini V.", aku balik memandang pria yang tadinya sedang bersandar di dinding dan sekarang sudah berdiri di sampingku itu. "V, ini Hoseok, produser KBS TV juga."
Aku membiarkan mereka berdua bersalaman lalu berbasa-basi, sedangkan aku menyibukkan pikiranku tentang kencan bersama Taeyong di malam ulang tahunku yang gagal ini.
Jam-jam berlalu dan aku masih tetap pada pendirianku untuk tidak merasa bersalah dengan cuaca yang tidak mendukung untukku segera pulang ke Busan. Cara Taeyong bereaksi tadi benar-benar mengesalkan. Dia tidak memikirkan bahwa aku juga kesal dengan keadaan ini.
"Jinnie..", V menghempaskan tubuhnya duduk di sampingku. Aku mengedarkan pandanganku dan tidak menemukan Hoseok di mana pun.
"Hoseok mana?"
"Loh, tadi dia kan udah pamit.."
"Pamit ke mana?"
"Tadi pacarnya yang namanya Jungkook nge-SMS minta face time, kalau nggak diturutin, dia mau ngadat sampai bulan depan. Dan sayangnya, batre hp Hoseok mau abis. Jadi dia langsung ngibrit balik ke hotel.", V melanjutkan. "Dia titip salam buat kamu, katanya hati-hati."
Aku hanya menjawab "Hm.." pendek.
"Tadi orang maskapainya bilang, karena jadwal pesawat ditunda sampai besok, malam ini kita dapat akomodasi di hotel ini...", V menyodorkan selembar pamflet bertuliskan Hotel Menhong.
"Kamu tahu di mana hotel ini berada?"
"Nggak. Tapi pihak sini udah ngasih mobil buat ngangkut kita semua ke sana. Tuh, dia, mobilnya dah balik lagi."
"Yaudah, ayo."
Saat aku dan V sampai di mobil itu, ternyata sudah penuh, dan butuh waktu lima belas menit untuk mobil itu kembali. Aku menggerutu kesal dan memejamkan mataku.
V mendesah pelan. "Buka mata kamu, lihat ke atas."
Aku menurut. "Wah..", aku terkagum-kagum melihat jutaan bintang di langit. Seperti sedang menghiburku, sama sekali tidak ada awan yang menganggu bintang-bintang itu menghiburku. Aku terheran dengan informasi cuaca yang mengatakan adanya badai, padahal langit di sini baik-baik saja. Mungkin badainya ada di dekat destinasiku, atau di tengah-tengahnya.
"Jinseok..", V memanggilku dengan cara yang berbeda dari semua orang yang pernah memanggil namaku. Tadi pagi Jinnie, sekarang Jinseok. Ckckck..
"Hm..?"
"Kamu suka bintang?", sebelum aku menjawab, V sudah melanjutkan. "Don't answer, it's obvious. Kamusuka bintang."
"Kata siapa—"
"Mata kamu."
Ada perasaan menggelitik yang menyenangkan mendengar jawaban V.
"Mahal banget loh, V, pemandangan kayak gini. Di Busan udah jarang banget bisa lihat hamparan bintang seperti ini, harus ke daerah tinggi.."
V mengikutiku memandang langit. "Yeah.. Seoul apalagi."
"Dari aku kecil, eomma selalu bawa aku lihat bintang kalau aku nangis dan gak mau berhenti. Walaupun cuma ada satu, aku pasti langsung berhenti nangis. Akhirnya kebawa deh sampe sekarang."
Seseorang menghampiri aku dan V, menawarkan untuk naik mobil menuju hotel.
Aku duduk di pinggir jendela dan V duduk di sebelahku. Setelah beberapa lama, aku baru menyadari kalau V tidak bersuara sama sekali. Aku menoleh, dan dia sedang menatapku dengan intens. Membuat aku merasa angin malam tidak lagi terasa dingin.
"Diem aja kamu, V..?", ucapku, berusaha sekuat tenaga agar terdengar stabil.
"Ngak mau ganggu kamu lagi mandangin bintang."
"Udah mulai gak keliatan bintangnya.", ucapku dengan nada kesal ala remaja labil.
"Itu masih ada, ah.."
"Iya, tapi dikit!"
"Banyak maunya, ya.."
"Biarin! Mumpung aku lagi ulang tahun.", kataku sambil manyun.
Dia menarik bahuku. "Kamu lagi ultah?"
"Besok. Makanya tadi pacar aku marah-marah, karena aku batal balik ke Busan sedangkan dia udah otw."
"Pacar kamu..?"
"Hm.. Namanya Taeyong."
"So, you finally found the T?"
Aku tertawa pelan. "Iya, aku temuin juga akhirnya. Udahan ah, kamu masih aja inget yang begituan."
"Inget, lah! Itu yang membuat kamu beda dari cewek-cewek yang pernah aku temuin..!"
Aku dan V digiring petugas hotel ke lantai lima, di mana semua calon penumpang diberikan kamar hotel secara cuma-cuma sebagai permintaan maaf mereka tentang cuaca yang tidak mendukung ini.
V mengantarku sampai depan pintu kamarku. Aku berbalik menghadapnya. "Good night, V."
Dia tersenyum. Senyumannya itu sangaaat, sangaaaaat manis. Aku jadi tidak yakin bisa tidur malam ini. "Good night to you too, Jinseok.."
Hoseok meneleponku mengatakan kalau dia mau mengantarkan koporku ke Hotel Menhong. Aku menggerutu.
"Wae?"
"Wae, wae. Mobil sempit, tahu! Kamu dapet bagasi, kan, di pesawat?"
"Iya, sih.. Yaudah, anterin sini, deh."
Aku melanjutkan acara menonton televisi hingga aku mendengar telepon yang ada di dalam kamarku berbunyi. Dengan ragu, aku mengangkatnya. Siapa?
"Jinseok."
Oh, ternyata V yang menelepon.
"Apa, V?"
"Laper, nih. Makan, yuk."
Aku melirik jam dinding. "Jam sebelas? Makan di mana?"
"Coffeeshop di bawah aja.."
"Oke, deh. Gimme five minutes."
Dan tepat lima menit kemudian aku mendengar ketukan di pintuku yang tidak berhenti sampai aku membuka pintu itu.
"Berisik amat, sih, V? Aku kira kita bakal ketemu di bawah aja.", aku melihat V menggenggam pegangan koporku. "Loh, Hoseoknya mana?"
"Tadinya, sih, aku pikir kita ketemu di bawah aja. Tapi tadi Hoseok nitip anterin ini ke kamar kamu. Dia nungguin kamu tuh di lobi."
"Oh, yaudah.. Masukin aja. Ini kunci kamar aku. Makasih, ya..", aku berjalan ke lobi duluan, meninggalkan V yang kubiarkan masuk ke dalam kamarku. Nampaknya aku sudah percaya sekali, ya, sama dia? Padahal baru dua kali aku bertemu dengannya.
Aku bertemu Hoseok yang baru saja menyelesaikan panggilan telepon dengan raut wajah seperti orang susah.
"Kenapa, Seok?"
"Jungkook.."
"Kenapa dia?", nada suaraku meninggi.
"Orang tuanya mau cerai.."
"What?!"
"Makanya aku mau cabut cepet-cepet, aku harus nemenin dia.."
"Iya, Seok. Hati-hati, ya.."
"Hm.. Kamu juga."
Aku menelepon Yoongi, yang ternyata sudah mendengar kabar tentang itu juga. Yoongi sedang melajukan mobilnya 80 KM/jam membelah jalanan Busan untuk menemani Jungkook segera. Kita semua tahu kalau Jungkook drama queen. Setelah masalahnya dengan Hoseok, ditambah kabar perselingkuhan hyeong-nya, sekarang orang tuanya mau cerai. It's too much for her.
"Jinseok.."
Aku menoleh, V tepat berada di belakangku.
"Kok masih di sini? Nggak langsung ke coffeeshop?"
"Tadi aku nelepon temen, Yoongi, buat nemenin Jungkook.. Dia...—"
"Aku udah denger kabar Jungkook dari Hoseok. Semoga masalahnya cepat kelar."
"Amin.."
"Aku tahu kamu sayang banget sama Jungkook, tapi kamu jangan ikut-ikutan down juga.. Yuk, kita ke coffeeshop sekarang."
Aku mengangguk dan mengikuti V dari belakang.
"Minum apa?", tanya V.
"Espresso."
"Lemon tea aja, ya? Dan omelette?"
Belum aku menjawab, V sudah memesankan hot lemon tea dan paket omelette dengan sosis vegan untukku. Aku heran padanya. Kok, sepertinya dia jadi punya kuasa di atas aku? Mengajakku makan dan minum yang sehat.. Mengantarkan koporku.. Menyuruhku memandang langit..
Tapi, anehnya, aku menyukai perlakuannya itu.
"Jinseok.."
"Hm?"
"Ceritain tentang pacar kamu dong, si T itu."
"Taeyong? Kenapa, sih, kok tiba-tiba?"
"Muka kamu kusut banget. Dan setahu aku, ngomongin orang yang kita suka akan mengurangi kadar kebetean. So, try."
"Apa yang musti diceritain, coba?"
"Apa aja. Kapan ketemunya.. gimana caranya.."
Aku menyentuh daguku. "Aku ketemu Taeyong.. tepat di hari aku ketemu kamu! Tapi malemnya."
"Jinjja? Di hari yang sama dengan kamu nyentuh batu nisan ular itu?"
"Haha, tau, deh, V. Masih dibahas aja.."
"Jadiannya?"
"Sekitar satu bulan setelah itu.."
"Terus, apa yang membuat kamu bertahan selama ini sama dia? Karena huruf awal namanya?"
"Nggak, lah. Udah nggak penting lagi gituan mah.."
"Jadi kamu udah kayak cewek normal kebanyakan? Syukurlaaah..!"
Makanan dan minuman kami datang.
"Jelek, deh, kamu! Terus.. dia itu—"
"Shhh..", V menyentuhkan jari telunjuknya di bibirku. Sontak, aku berhenti berbicara. Bahkan berhenti bernafas. "Udah cerita tentang cowok kamunya."
"Kenapa? Aku kan belom cerita tentang kebaikan-kebaikan dia.."
"Tapi, lihat wajah kamu, udah cukup berbinar-binar. Jadi, udahan ceritain tentang dianya, ok?"
"Terus, aku ceritain apa dong?", tanyaku sambil menusuk sosis vegan yang terbuat dari campuran jamur yang so pasti sehat itu dan melahapnya. Ternyata enak juga.
"Ceritain kenapa tadi muka kamu parno banget pas nyeritain tentang Jungkook."
Aku menghela nafasku. "Hhh.. Cowok emang gak ada yang bisa setia, begitu, ya, V?"
"Maksud kamu?"
"Nggak kakaknya Jungkook, ayahnya juga.. Dan aku... takut kalo Taeyong begitu juga."
"Kamu kok insecure gitu, sih?"
"Jelas, lah, V..! Mengingat sejarah buku hitam aku yang telah mempermainkan dua kali lusin cowok.. Nggak ada jaminan kalo aku gak bakal kena karma."
"Jadi, kamu percaya karma?"
"Hm.. Aku percaya apa yang telah kita perbuat akan balik lagi ke kita. Jadi, ya.. aku parno sekarang."
"Dan kenapa kamu melakukan keisengan dengan memacari cowok berdasarkan nama depannya?"
"Karena jiwa muda..?"
V tertawa. "Pasti ada alasannya, Jinseok.."
"Karena aku gak percaya cinta?"
"Jadi, sekarang, sama Taeyong, kamu percaya?"
"Nggak juga, sih.. Aku pikir, gak ada gunanya mikirin cinta. Aku ngerasa cinta dari keluarga dan teman juga udah cukup."
"Beda, Jinseok.. Coba, deh, percaya sama cinta."
"Nggak, ah. Aku takut gagal."
"Katanya takut karma..?", V meneguk minumannya lalu menatapku dalam. Sukses membuatku melebur dengan pandangannya. "Coba, deh, percaya sama cinta. Percaya sama Taeyong. Dan akhirnya.. apapun yang kamu takuti, tentang kegagalan atau pun karma, semuanya tidak sekejam itu.."
Aku memikirkan ucapannya betul-betul. "Kalau nanti sampai gagal, gimana, V?"
Dia menyimpan alat makannya, lalu fokus padaku.
"Kalau misalnya nanti sampai gagal.. Itu adalah harga yang sebanding untuk bisa memperkaya ini..", V menunjuk dadanya. "..Hati."
Aku menelan ludah dengan gugup. Baru kali ini aku merasakan kesenangan menjalar ke seluruh tubuhku hanya karena ucapan seseorang. Apa karena V berhasil menjawab pertanyaanku dengan cara yang bisa kuterima?
Selanjutnya, aku dan V makan dalam diam. Sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
Tapi, walaupun kami diam-diaman seperti ini, aku tidak merasa canggung sama sekali. Malah.. aku merasa... nyaman.
TBC
ORUL2 says:
banyak taejin moment kuy :3 jin taeyong aneh bgt ya? ga ada interaksi apapun soalnya di dunia nyata haha
