-_ Ui Present _-
000 SUBTITUTE LOVE 000
Pairing : KyuWook, YeWook
Disclaimer : Tuhan YME dan diri mereka sendiri
Warning : Genreswitch, AU, OOC maybe, serta kekurangan kekurangan lain yang tak bisa dihindarkan
Rated : T aja
Summary :"Lalu apa yang ingin kau dengar, kau ingin aku mengatakan aku adalah orang yang kau cintai yang telah menghilang itu, apa aku begitu mirip dengannya? Sayangnya aku bukan dia Kim Ryeowook." Ucap Kyuhyun tegas seraya menatap mata coklat gadis dihadapannya.
Diharapkan mendengarkan lagu : Super Junior – Dead At Heart
READ N RIVIEW PLEASE
DON'T LIKE READ
…
..
.
.
Ryeowook berjalan pelan menuju taman kenangannya terus melangkahkan kakinya perlahan tanpa menghiraukan angin akhir musim gugur yang mungkin segera berganti menjadi musim dingin menghembus tubuh kecilnya yang hanya mengenakan seragam sekolah. Semua perkataan Kyuhyun terus mengiang dalam pikirannya, jika boleh jujur Ryeowook tak pernah berharap Kyuhyun adalah Yesung meski sebuah pemikiran itu pernah terbersit dalam pikirannya namun bagaimanapun mereka adalah orang yang jelas-jelas memiliki kepribadian dan wajah yang berbeda. Yesungnya adalah sosok dewasa dengan penuh pengertian sedangkan Kyuhyun adalah seorang yang memiliki kejahilan luar biasa dan sangat cuek pada sekelilingnya.
Ryeowook melangkahkan kakinya menuju bangku tempat ia biasa menghabiskan waktu ditaman ini, mengenang semua kenangan indah yang sempat terukir dalam lingkungan asri yang kini nampak sepi mungkin karena cuaca yang mendingin. Ryeowook mendudukan dirinya, meraba ukiran yang masih tercetak jelas dipohon dekat bangu tempatnya duduk saat ini. Ryeowook tersenyum tipis mengingat semua kenangannya bersama Yesung, lelaki yang pernah mengangkatnya dari jurang luka yang menganga siap menelannya setiap saat dan memeluknya dalam kehangatan cinta yang kini hanya tersisa kenangan. Ia tak lagi menangis ketika kenangan itu berputar diingatannya, karena ia sadar kenangan indah itu bukan untuk ditangisi namun untuk ia kenang dan ia simpan ditempat terindah dalam hatinya.
"Kau bisa kedinginan Ryeowookie." Sebuah suara familiar terdengar disertai sampiran jaket dibahu Ryeowook memaksanya untuk mendongak menatap sosok kakak keduanya yang tengah berdiri disampingnya, memberikan sebuah senyuman tipis yang sangat jarang diperlihatkan kepada orang lain.
"Kibumie Oppa." Ryeowook menatap Kibum yang beberapa hari ini jarang ia temui karena kesibukan masing-masing terutama Kibum yang menjadi ketua murid harus bertanggung jawab atas berjalannya festival yang saat ini tengah dipersiapkan sekolah mereka.
"Kau masih sering kesini ternyata, aku jadi ingat saat kita berempat menghabiskan piknik disini. Rasanya sudah lama sekali." Kibum mendudukan dirinya disamping Ryeowook yang nampak mendengarkannya.
"Kau ingat Ryeowookie, kita ah bukan lebih tepatnya kau dan Eunhyuk tampak bersemangat sekali menyanyi diiringi gitar Yesung-ah." Kibum menatap sosok adik disampingnya yang masih menatapnya.
"Ya, dan waktu Oppa sangat sibuk mengambil gambar dengan handycam hingga terjatuh." Lanjut Ryeowook sembari tertawa kecil ketika sekelebat adegan masa lalu dimana Kibum terjatuh ditaman ini menghampiri ingatannya.
Kibum tersenyum tipis menatap disampingnya Ryeowook meneruskan cerita kenangan mereka, terkadang wajah imut itu nampak tertawa pelan ketika menceritakan kejadian lucu yang mereka alami dulu. Kibum membelai pelan rambut Ryeowook membuat Ryeowook menatapnya dan menghentikan kisah mereka.
"Kau tahu, oppa sangat bersyukur kau mau berubah seperti sekarang." Ucap Kibum tulus.
Ryeowook hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Kibum, seandainya Kibum tahu semua perubahan yang terjadi pada dirinya terjadi karena seseorang yang datang dan berhasil menerobos pertahanan yang selama ini susah payah ia bangun. Seseorang yang kini membuatnya bertanya-tanya.
"Kibumie oppa, bolehkah aku bernyanyi lagi?" Tanya Ryeowook yang membuat Kibum menatap kearahnya.
"Yang bisa menjawabnya adalah dirimu sendiri Ryeowookie-ah, apa kau mengijinkan dirimu bernyanyi lagi?" Jawab Kibum menatap Ryeowook yang kembali meraba ukiran pada pohon yang melindungi bangku tempat mereka duduk.
/.
/.
/.
/.
/.
Eunhyuk nampak berjalan mondar-mandir di backstage pertunjukkan kelas musik dan fotografi, hampir seluruh penampilan telah dipertunjukkan dengan apik oleh kedua jurusan dan hanya tersisa satu pertunjukkan terakhir yaitu solo singer tapi Ryeowook tak nampak batang hidungnya sedikitpun bahkan sejak awal pertunjukkan, membuat para songsaenim mencemaskan kelangsungan acara puncak ini.
Eunhyuk semakin gelisah ia menggigit kukunya seharusnya ia tak percaya Kyuhyun dapat membujuk Ryeowook untuk menyanyi kembali karena Ia, Kibum bahkan Heechul tak pernah berhasil selama ini dan lebih memilih menyerah untuk merayu Ryeowook untuk kembali bernyanyi, seharusnya ia tak percaya sepenuhnya pada Kyuhyun karena Ryeowook sudah mengatakan tidak, Eunhyuk mendesah pasrah menyadari kesalahan yang ia perbuat dapat berakibat fatal pada festival tahunan yang diadakan sekolahnya ini.
"Ish, aku bisa gila jika begini." Ucap Eunhyuk mengacak rambutnya yang nampak tergerai.
"Kau yakin Ryeowook-ah akan tampil Eunhyukie, sebentar lagi saatnya ia tampil?" Tanya Songsaenim yang menatap Eunhyuk khawatir, Eunhyuk nampak terkejut dengan kedatangan songsaenim dan hanya bisa memberikan anggukkan ragu yang disahuti desahan khawatir sang songsaenim. Eunhyuk menatap kepergian songsaenimnya dengan cemas, mungkin seharusnya ia tak menjanjikan apapun. Eunhyuk beranjak meninggalkan backstage menuju kursi penonton sesaat setelah menerima pesan singkat dari Donghae.
Eunhyuk mendudukan dirinya disebelah Donghae, yang tengah duduk dibangku penonton bagian depan, menyandarkan bahunya pada Donghae yang tengah menatap kekasihnya yang terlihat cemas.
"Ryeowookie pasti datang, Kyuhyun pasti berhasil meyakinkannya." Ucap Donghae berusaha menenangkan hati kekasihnya yang pasti tengah gundah, sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama karena sejak awal festival Kyuhyun juga tak menampakkan diri sama sekali.
"Apa kau yakin?" Tanya Eunhyuk mencoba mempercayai kata-kata Donghae.
"Tentu, bukankah Kyuhyun tak pernah membohongi kita?" tanya Donghae sembari membelai rambut coklat Eunhyuk.
"Dia sering bohong untuk mengerjaiku." Ucap Eunhyuk ketus mengingat kejailan-kejailan yang pernah dilakukan Kyuhyun padanya. Melihat kekasihnya yang terlihat lebih tenang membuat Donghae mau tak mau tersenyum juga.
"Eunhyuk-ah Ryeowookie belum tampilkan?" Sebuah suara membuat Eunhyuk membangunkan diri dari pelukan kekasihnya, beberapa orang yang ia kenal nampak berdiri didekatnya.
"Heechul oppa, Kibumie oppa." Eunhyuk berdiri memberikan salam kepada dua orang sosok yang sudah menjadi kakak dalam hidupnya itu, Eunhyuk menatap seorang pria dewasa yang membuatnya terdiam sesaat.
"Annyeong haseyo, Kangin Ahjushi." Ucap Eunhyuk kaku, ia memang tak pernah bertemu Kangin sebelumnya tapi ia tahu bagaimana keadaan keluarga sahabatnya itu.
"Annyeong, Eunhyuk-ah. Aku belum tertinggal penampilan Ryeowookie kan?" tanya Kangin pada Eunhyuk yang menatapnya kaget.
"Belum Ahjushi, penampilan Ryeowookie akan dimulai sebentar lagi." Jawab Eunhyuk, yang dibalas anggukan singkatan dan ucapan terima kasih dari Kangin yang membuat Eunhyuk sedikit merasa shock dan semakin terkejut ketika melihat Heechul berbicara dengan santai pada Kangin. Eunhyuk lebih memilih duduk ketika dilihatnya sang pembawa acara nampak mulai kembali memasuki panggung dan mempersilahkan penampilan selanjutnya. Jantung Eunhyuk nampak berdetak semakin cepat mengkhawatirkan kehadiran sang sahabat.
Alunan musik yang berbeda dari yang seharusnya mereka tampilkan membuat Eunhyuk menatap panggung yang masih nampak gelap hingga sebuah sorot lampu tunggal mengarah pada sesosok gadis cantik yang sangat Eunhyuk kenali. Sosok itu nampak cantik dengan gaun berwarna hitam yang melambangkan kedukaan, rambut panjangnya nampak tergerai indah berhiaskan sebuah jepitan yang juga berwarna hitam.
Jeongmal mwohan geon-gayo gireotdeon han hae dongan
Geudael bonaego nani eojekkaji-e naneun machi jukeo-itdeon geotgwa gatneyo
Geureohke gireotdeon sigan sogen tteonagan dangsinbakke eobneyo
Geudae bakken amureon saenggakhaji aneun chae ireohke han haega jinaganeyo
Sebuah suara manis yang Eunhyuk rindukan terdengar lirih, mata Ryeowook yang menatap sayu audiens seakan bertanya. Ia menatap langit menyampaikan sejuta tanya yang tercurah dari setiap makna bait dalam kata-kata yang terangkai dalam nada. Sebuah senyum miris Ryeowook tunjukkan pada bayangan orang yang dicintainya yang nampak berdiri dihadapannya, menunjukkan betapa lukanya terlampau besar saat Yesung pergi dari hidupnya. Sebuah kedukaan yang bahkan tak dapat ia mengerti begitu menelannya sendiri.
Geudael chajagatdeon eoneu bi naerideon nare gi-eok
Hamkke georeogatdeon uril bichwojudeon malgeun haessal
Geu eoneu hanado nareul tteonaji anko
Na-e meoritsogeseo nareul jugeo-itge hae
Sebuah kenangan melintas dalam kepala Ryeowook, kenangan saat ia tak lagi menemukan cintanya dibawah hujan yang melindunginya, meski setelah itu terik datang namun didalam hatinya hujan bahkan tak pernah berhenti dan mereda. Perasaan saat ia mulai merasakan hatinya perlahan-lahan membatu membuat Ryeowook memejamkan matanya, seakan saat-saat ia merasakan perlahan-lahan ia mulai mati dan beranjak pergi dari kebahagiaan.
Chingudeureun modu eoreuni doego nan ajik cheoreoneun aicheoreom
Geudaebakke amureon saenggakhaji aneun cahe
Machi jugeo itdeon geotgwa gatneyo
Ryeowook kembali membuka matanya, menatap bayangan Yesung yang seakan berdiri dihadapannya, mencoba menceritakan semua hal yang terjadi setelah kepergiannya. Ia mencoba menghentikan disaat itu, bagaimana ia menutup dirinya dan membangun sebuah pembatas tinggi dari kehidupan luar menghiraukan setiap uluran pertemanan dari orang-orang yang baru ia kenal. Dimana hanya ada kesakitannya akan kehilangan cinta dan bagaimana dihatinya hanya ada sebuah nama yang bahkan tak pernah tergeser sedikitpun.
Geudael chajagatdeon eoneu bi naerideon nare gi-eok
Hamkke georeogatdeon uril bichwojudeon malgeun haessal
Geu eoneu hanado nareul tteonaji anko
Na-e meoritsogeseo nareul jugeo-itge hae
He-eojimeul kkaedatji mothaneun nan (Ajikdo kkaetdatji mothanen nan)
Ajikdo uri mirael sangsanghago
Heyeojin jegeumdo nae mameun eonjena geudae-e gyeoteseo
Sarainneun geotcheoreom jugeo-itneun geoyeyo
Ryeowook memejamkan matanya, semua emosi ia berikan pada setiap lagu yang ia ceritakan, menanyakan pada Tuhan mengapa ia harus dipisahkan dari orang-orang yang ia cintai. Mengapa ia tak diperkenankan untuk bahagia dan hidup dalam tenang. Mengapa dan hanya kata mengapa yang mampu ia pertanyakan.
Neoreul saranghaetdeon sun-gan naega meomchweo beorin geoya
Hamkke isseul ttaedo neoreul gieokhal sun eobseul geoya
Ryeowook menatap audiens lagi seolah bertanya mengapa ia harus terus mati karena cinta, mengapa ia harus terus tergores karena cinta. Mengapa kata cinta tak pernah menjadi sebenarnya dalam kehidupannya.
Geu eoneu hanado naega anieotdago
Geureohke saenggakhamyeon
Amugeotdo anin geol
Ryeowook menutup matanya ketika nada tinggi ia nyanyikan, mencoba meneriakkan lukanya dan mencoba menceritakan jika hatinya telah mati sejak lama.
Nareul itji mothamyeon naega jugeo-itneun geot
Suara tepukan tangan riuh penonton menggema diaula yang kini menjadi saksi sejarah kembalinya seorang Kim Ryeowook didunia tarik suara yang sempat ia kubur selama 2 tahun lamanya. Tanpa siapapun tahu sebutir air mata jatuh dari pipi Ryeowook, saat menatap bayangan ilusi Yesung yang ia ciptakan lenyap dengan sebuah senyuman kebahagiaan.
/.
/.
/.
/.
/.
Ryeowook berlari keluar aula mengejar sosok Kyuhyun yang meninggalkan aula pertunjukkan setelah penampilannya, ia tak memperdulikan panggilan Eunhyuk yang menghampirinya dibackstage, saat ini yang ada dipikirannya adalah janji Kyuhyun kepadanya.
Ryeowook berhenti sejenak dan mengedarkan pandangannya ketika Kyuhyun tak mampu ia kejar hingga manik coklatnya menangkap sosok Kyuhyun yang nampak tengah duduk bersandar pada pohon ditaman. Ryeowook berjalan perlahan mendekati sosok yang menghiasi hari-harinya beberapa waktu terakhir.
"Suaramu memang indah Wookie-ah, tapi lagu tadi terlalu gelap. Padahal aku sudah repot-repot merekam pertunjukkanmu tadi." Ucap Kyuhyun saat Ryeowook telah mendekat ditempatnya kini tengah duduk menyamankan diri.
"Siapa kau sebenarnya?" Ucap Ryeowook to the point menghiraukan ucapan Kyuhyun.
"Kau terlalu terburu-buru Wookie-ah tapi akan aku jawab, aku adalah Cho Kyuhyun." Jawab Kyuhyun santai sembari berdiri dari tempat nyamannya dengan mengalihkan pandangannya dari Ryeowook.
"Bukan itu yang ingin aku dengar." Teriak Ryeowook, pancaran kelelahan nampak tampak dimata coklat yang kini memandang Kyuhyun perih.
"Lalu apa yang ingin kau dengar, kau ingin aku mengatakan aku adalah orang yang kau cintai yang telah menghilang itu, apa aku begitu mirip dengannya? Sayangnya aku bukan dia Kim Ryeowook." Ucap Kyuhyun tegas seraya menatap mata coklat gadis dihadapannya.
"Aku tahu kau bukan dia, tapi…"
"Tapi apa Ryeowook-ah?" tanya Kyuhyun menatap gadis yang kini menundukkan wajahnya.
"Lagu itu, bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
"Karena aku yang membuat aransemen lagu itu." Jawab Kyuhyun yang mampu membuat Ryeowook mendongakkan kepalanya dengan penuh tanda tanya.
"Orang yang kau kenal itu yang menulis liriknya, sedangkan aku yang membuat aransemen lagu itu." Jawab Kyuhyun menatap Ryeowook sembari tersenyum tipis yang nampak menyakitkan.
"Kau… bagaimana…?" tanya Ryeowook ambigu.
Kyuhyun menatap Ryeowook yang nampak kesulitan merangkai kalimat tanya dihadapannya, ia membelai pelan rambut coklat panjang dari gadis yang ia cintai itu membuat Ryeowook teralihkan dan kembali menatap padanya.
"Aku begitu ingin mengenalmu Ryeowook-ah, setiap kisah yang ia bagi padaku hanyalah tentangmu. Hal itu membuatku ingin mengenalmu lebih dalam dan melihat bagaimana indahnya dewi yang telah membutakan Yesung hyung." Kyuhyun menutup mulut Ryeowook dengan jari telunjuknya menandakan ia bahkan belum selesai dengan kata-katanya.
"Mungkin ini terdengar gila, tapi aku begitu cemburu mendengarnya selalu menceritakan hal tentangmu saat kami bertemu. Ia adalah hyungku, hyung yang selama ini hanya milikku. Tapi kau merebut perhatiannya yang bahkan tak bisa disenuh oleh orang lain, aku ingin melihat Kim Ryeowook. Sosok yang mampu membuat hyungku bertahan dari segala kesakitannya."
"Apa maksudmu?" tanya Ryeowook bingung dengan kata-kata Kyuhyun yang ambigu. Kyuhyun menggeleng pelan pertanda menolak untuk menjawab pertanyaan Ryeowook padanya.
"Kau ingin tahu hubungan kamikan ? kau bisa melihatnya dikaset ini. Tapi sekarang waktuku untuk pergi, jika kau merindukanku aku menunggumu di Busan." Ucap Kyuhyun seraya melangkah menjauhi Ryeowook yang masih termangu dengan sebuah kaset ditangannya menatap punggung tegap Kyuhyun yang mulai menjauh dari tempat mereka berdiri.
/.
/.
/.
/.
/.
Ryeowook memasuki kamarnya, ia segera bergegas pulang setelah pertemuannya dengan Kyuhyun tak memperdulikan kakaknya yang masih berada di sekolah yang ada di otaknya saat ini hanyalah isi kaset yang diberikan Kyuhyun padanya. Ia melangkahkan kakinya menuju arah tv dan dvd yang ada dikamarnya, menyalakannya sedikit tergesa. Ia menjauhkan tubuhnya dan mendudukannya di lantai dengan punggung bersandar pada tepi ranjang.
Layar tv mulai menampilkan gambarnya, yang terlihat hanyalah sebuah kamar tak berpenghuni hingga sebuah suara familiar yang sangat ia rindukan terdengar.
"Kyuhyun-ah apa semua sudah siap?"
"Ne hyung kau bisa mulai."
Lalu nampak sesosok pria yang mampu membuat jantung Ryeowook berdetak lebih cepat saat ini duduk disebuah kursi yang ada didepan kamera, sosok itu menata tempat duduknya setelah itu kembali menatap ke depan memberikan sebuah senyum tipis yang begitu Ryeowook rindukan dan mampu membuat setetes air mata kerinduan meluncur dari mata indahnya.
"Wookie-ah apa kau disana?"
"Ah bodohnya aku kau pasti disana. Ah ya pemuda tadi adalah Kyuhyun sepupu kesayanganku, kalian seumuran loh" Sebuah tawa meluncur manis dari Yesung membuat kedua matanya menyipit, namun tak berlangsung lama hingga wajahnya berubah menjadi serius dan menatap kamera.
"Aku tak tahu harus mulai dariman tapi yang pertama yang harus ku ucapkan adalah Mianhae karena aku telah meninggalkanmu, maafkan aku. Aku tak akan membuat pembelaan apapun karena memang aku yang mengingkari janji kita untuk selalu bersama."
"Aku membuat video ini karena aku tidak yakin jika kita masih bisa bertemu atau tidak setelah ini, dan aku takut aku tak bisa berkata maaf kepadamu yang telah tersakiti karenaku."
"Aku tahu aku telah lari seperti pengecut yang sama sekali tidak memiliki tanggung jawab, tapi aku juga takut jika aku tak bisa menanggung semua hal indah yang sangat berat aku tinggalkan jadi aku lebih memilih kabur darimu dengan membawa cintaku."
"Wookie-ah, aku berharap meski aku tak bisa lagi disampingmu kau masih akan terbang dengan sayapmu sendiri. Biarkan pengecut ini membawa kenangan kita sebagai hal terindah, karena aku tak akan sanggup untuk kembali dan menatap wajah cantikmu."
"Kim Ryeowook aku minta maaf untuk pergi darimu, tapi tak ada yang palsu dari semua kisah yang telah terjadi dan aku mencintaimu.. Jeongmal Saranghae." Yesung menutup video itu dengan sebuah senyum penuh luka.
Ryeowook menutup mulutnya mencegah keluarnya isakan atas semua tangisan yang kini membuat kedua pipinya basah dengan airmata, Ryeowook sangat ingin marah karena Yesung telah pergi dari hidupnya tanpa alasan dan menghilang tanpa kabar tapi ia lebih marah karena ia tak bisa bangkit tanpa Yesung dan andai Yesung tahu bahwa ia selama ini tak pernah memiliki sayap karena Yesung sendiri adalah malaikat yang selalu membawanya terbang tinggi dipelukan Yesung.
Ryeowook segera menghentikan tangisannya mengambil handphonenya tergesa, matanya nampak sembab namun tak menghambatnya menemukan nomor orang yang selama ini selalu menerornya dengan sms jahil dan telpon malam hari.
Ryeowook mencoba menelpon Kyuhyun tapi hanya suara operatorlah yang menjawab telponnya, meski berapa kalipun ia mencoba melakukannya lagi tapi semuanya sama saja. Ryeowook hanya mampu terisak seraya memukul dadanya mencoba menghilangkan segala rasa aneh yang bercampur dalam dadanya tercurahkan pada setiap linangan air mata. Membiarkan tubuh ringkihnya terlelap dalam gelap dilantai kamarnya yang dingin.
/.
/.
/.
/.
/.
Kyuhyun menatap jalan-jalan Seoul yang bergerak cepat terlewatkan karena mobil yang ia tumpangi, mencoba menghalau segala rasa sakit yang ia rasakan dalam dadanya saat segala kenangannya bersama Ryeowook mulai nampak dalam setiap ingatannya.
Kyuhyun menutup matanya perlahan menyandarkan tubuhnya pada kursi penumpang tempatnya duduk saat ini, menghiraukan tatapan penuh tanya yang diberikan Siwon padanya sesekali karena harus fokus dengan kemudinya.
"Gwenchanayo Kyuhyun-ah?' tanya Siwon pada akhirnya tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya pada adik yang biasanya sangat cerewet ini nampak terdiam tanpa PSP ditangannya.
"Aku tak tahu hyung, rasanya sesak disini." Jawab Kyuhyun seraya menunjuk pada dada kirinya.
Siwon tersenyum miris menatap adiknya yang terperangkap dalam cinta yang rumit, ia mengetahui apa yang selama ini dilakukan Kyuhyun selama di Seoul. Semua usaha keras Kyuhyun yang harus menunggu 1 tahun agar bisa pindah bersamanya di Seoul hanya untuk menemui seorang gadis yang mampu membuat Yesung sepupu mereka memiliki sebuah semangat untuk terus bertahan, namun pada akhirnya Kyuhyun sendirilah yang jatuh dalam cinta yang selama ini ia jauhi.
"Apa kita harus kembali ke Seoul Kyuhyun-ah? Aku tahu kau masih ingin mengatakan sesuatu pada gadis itu." Ucap Siwon mencoba membujuk adiknya, mencoba membuat Kyuhyun tak merasakan sesal karena cinta yang tak terungkapkan.
"Tidak hyung, kita kembali saja ke Busan aku sudah merindukan semuanya. Lagipula semuanya sudah selesai." Ucap Kyuhyun pelan kemudian menyamankan dirinya dikursi untuk tidur.
Siwon hanya mendesah pasrah mendengar jawaban yang sama, sejak semalam. Ia sudah mencoba meyakinkan adiknya jika cinta yang Kyuhyun rasakan bukanlah sesuatu yang salah namun nampaknya namdongsaengnya memiliki pemikiran yang berbeda.
/.
/.
/.
/.
/.
Ryeowook membuka matanya perlahan mengikis setiap gelap akibat tertutupnya kelopak mata. Ryeowook menatap kamarnya perlahan teralih pada dirinya yang kini terbaring nyaman di ranjang yang ia huni beberapa tahun terakhir bukan di dinginnya lantai tempat ia terakhir berada. Ryeowook menatap kosong televisi yang nampak gelap, membuat beberapa bulir air mata kembali jatuh ke pipinya yang nampak pucat.
"Ryeowookie." Sebuah panggilan mengalihkan pandangan Ryeowook dari televisi menuju Heechul yang kini perlahan mendekatinya dan duduk disamping ranjangnya, membawa tubuh ringkihnya kedalam sebuah pelukan hangat penuh perlindungan yang hanya dapat ia rasakan ketika bersama orang-orang yang mencintainya.
"Oppa kita harus pergi ke Busan, aku harus pergi kesana." Ucap Ryeowook tergesa seraya memegang pundak Heechul yang nampak terkejut dengan sifat Ryeowook yang tiba-tiba.
"Untuk apa kita ke Busan Wookie-ah?" Tanya Heechul yang nampak bingung dengan permintaan Ryeowook yang mendadak.
"Yesung Oppa ada disana Oppa, aku harus menyusul Yesung oppa di Busan." Ucap Ryeowook, dan tanpa memperdulikan Heechul ia mencoba bangkit dari ranjangnya namun Heechul menahannya.
"Yesung sudah pergi meninggalkanmu Ryeowookie, dia sudah pergi." Ucap Heechul lebih keras, membuat tubuh dihadapannya terdiam dan kembali meneteskan beberapa air mata yang membuat Heechul merasakan sakit dalam hatinya.
"Yesung sudah tidak ada Ryeowookie, kita sudah berusaha mencarinya dulu." Jelas Heechul perlahan kembali merengkuh tubuh adik kecilnya mencoba memberikan segala perlindungan yang bisa ia berikan.
"Tapi aku yakin Yesung Oppa ada disana, aku ingin ke Busan Oppa. Aku harus pergi ke Busan." Ucap Ryeowook lirih dalam pelukan Heechul.
"Kau ingin pergi ke Busan Ryeowookie?" sebuah suara familiar memanggilnya lembut mebuat Ryeowook melepaskan pelukan Heechul.
"Appa." Ucap Ryeowook lirih kemudian beringsut mendekatkan dirinya pada Heechul mencoba menyembunyikan tubuhnya dibalik punggung Heechul.
Kangin hanya bisa tersenyum pedih melihat reaksi ketakutan pada diri Ryeowook, ia bisa melihat mata putrinya yang bergerak gelisah karena takut dan memegang erat tangan Heechul.
Kangin mulai mendekat, mendudukan dirinya disamping Heechul yang sedikit menjauh dari Ryeowook sehingga ia bisa berhadapan langsung dengan Ryeowook, dapat ia lihat dengan jelas sebuah kepanikan tergambar dari wajah anaknya yang menatap Heechul mencoba mencari pertolongan. Kangin menarik napasnya perlahan, kemudian bergerak merengkuh Ryeowook dalam pelukannya. Sebuah pelukan yang tak pernah ia berikan sejak kematia Leeteuk, dapat ia rasakan tubuh Ryeowook yang tegang dalam pelukannya meski tak ada perlawanan.
"Mianhae, Ryeowookie. Maafkan Appa yang sudah sangat bodoh melukai diri dan perasaanmu, maafkan appa." Ucap Kangin ditelinga Ryeowook membuat Ryeowook yang berada dipelukannya kembali meneteskan air mata namun kali ini untuk hal yang berbeda. Kangin melepaskan pelukannya, menatap wajah cantik putrinya yang kini telah tumbuh dengan cantik seperti ibunya.
"Mungkin kau tak bisa memaafkan Appa Ryeowookie, Appa sangat mengerti hal itu karena apa yang sudah Appa lakukan sungguh tak bisa dimaafkan. Tapi Appa hanya ingin setidaknya kamu tahu Appa sangat mencintaimu Ryeowookie, Appa sangat mencintaimu Ryeowookie."
Ryeowook memeluk Kangin mencoba memberikan jawaban melalui pelukan hangat kali ini, ia tak pernah menyalahkan atau membenci Appanya sejak dulu bahkan ia menyalahkan dirinya atas semua derita yang dirasakan Appanya. Ia masih sangat mencintai Appanya meski dulu ia harus merasakan sejuta rasa sakit yang ditorehkan Appanya.
"Kau mau memaafkan Appa?" tanya Kangin setelah melepas pelukan Ryeowook.
"Aku akan memaafkan Appa jika Appa membawaku ke Busan." Ucap Ryeowook sembari menatap Kangin, Kangin tak bisa menyembunyikan kebahagiaan diwajahnya. Dipeluknya kembali putrinya yang dulu pernah ia sakiti dan ia berjanji hanya ada kebahagiaan dimasa depan anak-anaknya.
"Terima kasih Ryeowookie, kita akan pergi ke Busan sesuai dengan keinginanmu." Janji Kangin pada Ryeowook.
Heechul hanya bisa tersenyum memandang wajah adik dan Appanya yang nampak bahagia dan akhirnya keluarganya kembali meski tanpa Eomma mereka tapi Heechul yakin Leeteuk pasti bahagia dialam sana.
'Benarkan Eomma?' tanya Heechul menatap foto keluarga mereka yang terpasang dikamat Ryeowook.
Heechul tersenyum dan menghambur ke dalam pelukan Appa yang meraihnya dengan sebelah tangannya yang bebas.
'Eomma sangat bahagia Heechulie, kau memang anak yang bisa diandalkan.'
/.
/.
TBC_-
