KISAH CINTA
Remake story chanbaek version dari novel Sherls Astrella dengan judul yang sama. Saya hanya mengubah nama dan beberapa hal lain untuk keperluan cerita
Exo_L123
Genderswicth
~Chapter 6~
Ketika Chanyeol kembali beberapa saat setelahnya, ia melihat Baekhyun masih duduk di sana. Chanyeol tidak perlu melihat wajah Baekhyun untuk mengetahui bagaimana ekspresi gadis itu saat ini. Punggung yang melengkung lemas itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya.
Sesuatu mendorong Chanyeol untuk merengkuh gadis itu dalam pelukannya dan membisikkan kata-kata lembut yang menguatkan hati yang hancur itu. Namun yang dapat dilakukannya hanyalah memegang kedua pundak gadis itu dan memanggilnya lembut, "Baekhyun."
Baekhyun menoleh. Mata biru mudanya basah oleh air mata.
Untuk sesaat Chanyeol yakin Baekhyun akan menjatuhkan diri dalam pelukannya dan menangis tersedu-sedu. Namun gadis itu segera berdiri, menghapus air matanya, dan berkata tenang,
"Maafkan saya, Pangeran. Saya akan segera menyiapkan makanan untuk Anda."
Baekhyun segera mengambil sayuran yang menjadi tujuan awalnya ke kebun belakang.
Chanyeol melepaskan gadis itu dengan perasaan terluka. Ia merasa Baekhyun menjaga jarak dengannya dan ia tidak menyukainya. Ia ingin Baekhyun jujur pada perasaannya sendiri. Chanyeol tidak akan melarangnya menangis untuk orang yang dicintainya.
Saat itulah Chanyeol melihat apa yang baru saja di hadapan Baekhyun.
Chanyeol tertegun melihat nisan batu yang hanya bertuliskan:
Di sinilah terletak kenangan kita bersama Joonmyeon Lloyd.
Pandangan Chanyeol beralih pada Baekhyun yang sekarang sibuk menimba air di sumur yang tidak ia sadari keberadaannya beberapa saat lalu.
Chanyeol bertanya-tanya. Siapakah Joonmyeon Lloyd ini? Mengapa Baekhyun memanggilnya Papa? Terlebih dari semua itu, Chanyeol ingin tahu mengapa Duke of Cookelt hanya mewariskan rumah kecil di tempat terpencil seperti ini pada putri kesayangannya. Mengapa Duke of Cookelt memilih Baekhyun sebagai wali putranya, bukan Duchess Belle, istrinya sendiri?
Mata Chanyeol tidak lepas dari Baekhyun yang berusaha mengangkat seember penuh air.
Ia tidak mengenal gadis ini, Chanyeol berkata pada dirinya sendiri ketika ia berjalan ke sisi Baekhyun. Pasti ada sesuatu pada diri Baekhyun yang membuat Duke Kris lebih mempercayakan putranya pada Baekhyun daripada istrinya sendiri.
.
Baekhyun terkejut ketika sebuah tangan terulur dari belakangnya dan mengangkat ember itu dengan mudahnya.
Untuk sesaat ia menduga itu adalah Jongin. Karena itu ia sangat terkejut melihat Chanyeol berdiri tepat di depannya dengan ember airnya.
"T-terima kasih," katanya tergagap.
Baekhyun tidak pernah mengangkat ember air. Jongin selalu ada di sisinya ketika ia hendak mengambil air di sumur yang dibuat penduduk desa untuknya dan ayahnya ini. Malah tidak jarang Jongin mengisi tempat penyimpanan air Baekhyun bahkan sebelum Baekhyun memintanya.
"Ke mana kau akan meletakkannya?" Chanyeol bertanya dan memimpin jalan ke dalam rumah.
"Letakkan saja di sini," Baekhyun menunjuk meja dapurnya yang kecil di sepanjang dinding.
Chanyeolpun meletakkannya di tempat yang diminta Baekhyun.
Baekhyun berusaha menghidupkan api perapian.
Tiba-tiba saja Chanyeol sadar hanya perapian itu satu-satunya tempat untuk memasak.
"Siapkan sayuranmu, aku akan menghidupkan perapian," Chanyeol mengambil alih pekerjaan Baekhyun.
Baekhyun terkejut. Lagi-lagi ia lupa pemuda yang ada bersamanya saat ini bukan Jongin melainkan Yang Mulia Pangeran Chanyeol! Jongin tidak pernah membantunya menghidupkan perapian. Jongin adalah tipe pemuda yang menganggap urusan rumah adalah tugas wanita. Namun mengapa Pangeran Chanyeol membantunya? Baekhyun tidak punya waktu menjawab pertanyaannya sendiri karena ia tersadar ia tidak bisa menyajikan jamuan seperti yang biasa dinikmati sang Putra Mahkota! Yang dimilikinya saat ini hanyalah sebongkah roti, susu, dan sayur-sayuran dari kebunnya sendiri.
"Yang Mulia," Baekhyun berkata dengan nada bersalah, "Saya sungguh menyesal. Saya tidak dapat menyajikan jamuan yang pantas untuk Anda."
Chanyeol melihat Baekhyun. "Aku hanya memintamu menyiapkan sesuatu yang bisa dimakan," kemudian ia bertanya, "Apakah kau ingin menggunakan kuali ini untuk memasak air?" Chanyeol mengangkat kuali yang tergantung di atas perapian.
"Ya," jawab Baekhyun.
Baekhyun membiarkan Chanyeol menjerang air sementara ia sibuk mencuci dan memotong sayuran yang akan disajikannya berama roti dan susu yang dimilikinya.
Ketika Baekhyun sibuk memasak sup, ia melihat Chanyeol sibuk memindahkan roti, susu, madu, keju serta peralatan makan yang telah disiapkannya di atas meja dapur ke meja makan.
Kemudian ketika Baekhyun hendak memindahkan kuali supnya yang sudah siap ke meja makan, Chanyeol berkata, "Aku akan melakukannya."
Baekhyun berpikir, Jadi inikah beda ego seorang pemuda desa dan seorang gentleman?
Setelah yakin semua sudah siap, Baekhyun melangkah ke pintu.
"Kau mau ke mana?" tanya Chanyeol menghentikan langkah Baekhyun.
"Saya akan memanggil pengawal Anda."
"Ia sudah pergi."
"Oh…," hanya itulah jawaban Baekhyun.
"Duduklah. Makanan akan segera dingin."
"Saya tidak lapar."
Chanyeol menatap Baekhyun. "Kalau kau berpikir aku akan membujukmu, maaf, kau salah. Aku tidak peduli. Itu adalah perutmu sendiri. Kalau kau sakit, kau sendiri yang akan merasakannya." Dan ia mengambil sup untuknya sendiri.
Sesuatu dalam perkataan Chanyeol membuat Baekhyun duduk di depan pemuda itu – menghadap pintu.
Baekhyun merasa yakin ia melihat seulas senyum puas di wajah Chanyeol ketika ia duduk. Namun ketika ia melihat Chanyeol, pemuda itu sibuk menyantap makanannya.
Baekhyun mengulurkan tangan mengambil sup buatannya sendiri.
"Baekhyun! Baekhyun!"
Pintu terbuka.
"Baekhyun, kudengar kau sudah kembali!" Jongin langsung menerjang dan memegang pundak Baekhyun sambil membungkuk – menatap gadis itu lekat-lekat. "Apa yang terjadi? Kau tidak apa-apa? Serombongan orang berkuda datang ketika kau tidak ada. Mereka berteriak-teriak memanggilmu. Kami berhasil mengusir mereka sebelum mereka merusak rumah ini. Siapa mereka? Apa mereka utusan Tuan Donghae lagi?" Jongin nyerocos tidak memberi Baekhyun kesempatan untuk membuka suara.
Chanyeol kesal. Lagi-lagi ia diabaikan pemuda desa ini.
"Tempat ini sudah tidak aman, Baekhyun. Mereka bisa datang sewaktu-waktu. Pergilah dari tempat ini. Kau bisa tinggal bersamaku."
"Ia tidak akan ke mana-mana," Chanyeol berkata dingin.
Saat itulah Jongin menyadari keberadaan Chanyeol.
"Mengapa ia masih di sini?" Jongin melihat Baekhyun dengan pandangan menuduh seolah-olah Baekhyun telah menyeleweng.
Chanyeol tahu ia tidak menyukai pemuda ini.
"Karena aku akan tinggal di sini malam ini," Chanyeol menjawab.
"Apakah itu benar, Baekhyun?" Jongin langsung bertanya penuh tuntutan pada Baekhyun.
"Engkau tidak mungkin mengusirku, bukan?" Chanyeol menjawab pandangan Baekhyun, "Pengawalku sudah pergi dan aku tidak punya tempat lain untuk menginap malam ini."
"Seperti yang Anda lihat, saya tidak punya tempat tidur lain untuk Anda."
"Aku tidak berniat merebut tempat tidurmu. Aku bisa tidur di sini."
"Bila Anda berkenan," kata Baekhyun menyerah, "Jadilah tamu saya." Pangeran benar. Ia tidak mungkin menelantarkannya.
Jongin tidak suka mendengarnya. "Kau tidak boleh membiarkannya tinggal di sini, Baekhyun!"
"Mengapa?"
"Karena… karena…," Jongin melihat Chanyeol kemudian kembali pada Baekhyun, "Karena orang kaya seperti dia tidak mungkin bisa tidur di lantai!" Jongin langsung mengutarakan hal yang terlintas di otaknya dan cepat-cepat menambahkan, "Ia bisa tidur di rumahku."
"Terima kasih, Jongin. Aku sungguh senang atas tawaranmu namun besok pagi-pagi kami akan meninggalkan Hauppauge."
Jongin tidak menyukai cara Chanyeol memanggilnya dengan akrab. Ia lebih tidak menyukai ide pemuda kaya yang tidak dikenalnya ini akan membawa pergi Baekhyun.
"Benarkah itu, Baekhyun?" lagi-lagi Jongin menuntut kebenaran dari Baekhyun.
Baekhyun melihat Chanyeol lagi.
"Kau sudah menyetujuiku pagi ini."
Benar, ia telah sependapat dengan usul Chanyeol untuk meninggalkan Hauppauge. Namun seingat Baekhyun, ia tidak pernah menyetujui usul untuk pergi bersama Chanyeol apalagi mendengarnya.
"Kau tidak ingin melibatkannya, bukan?"
Baekhyun mengikuti Chanyeol melihat Jongin yang mulai kebingungan oleh arah pembicaraan mereka.
Baekhyun sadar baik Daehyun maupun Duchess Belle pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Mata Baekhyun beralih pada perban putih di sekeliling kepala Jongin. Tidak perlu diragukan pula Jongin akan melakukan segalanya untuk melindunginya. Baekhyun tidak mau melihat Jongin terluka lagi karenanya.
"Baekhyun," Jongin menggenggam kedua tangan Baekhyun, "Aku memang tidak sekaya tuan ini tapi aku pasti bisa membahagiakanmu. Tinggallah bersamaku."
Baekhyun melihat Jongin dengan sedih. "Aku tidak bisa, Jongin."
Jongin melihat Chanyeol dengan kesal. "Terserah padamu," ia menghentakan tangan Baekhyun dan pergi.
Baekhyun melihat pintu yang dibanting keras tanpa suara. Ia ingin melewatkan hari-hari tenangnya di Hauppauge tapi sekarang ide itu sudah bukan ide yang bijaksana lagi.
"Makanan sudah hampir dingin," kata Chanyeol sambil menuang sup di piring Baekhyun, "Makanlah selagi hangat. Setelah ini aku ingin kau menyiapkan barangmu dan tidur. Besok pagi-pagi kita akan meninggalkan Hauppauge. Paling lambat pukul empat pagi kita harus meninggalkan tempat ini."
Baekhyun membuka mulut untuk memprotes tapi sepasang mata biru tua yang menatapnya itu menegaskan ia tidak ingin dibantah. Maka Baekhyun menahan protesnya dan menyantap supnya tanpa suara. Ide pergi bersama Chanyeol ke Helsnivia bukanlah ide yang buruk. Yang terpenting, ia bisa memenuhi janji Duke Kris pada ayahnya: memulangkan Baekhyun ke Helsnivia!
Setelahnya mereka makan tanpa seorangpun membuka suara.
Baekhyun hanya sanggup meminum supnya dan segelas susu tapi Chanyeol tampak sudah puas melihatnya.
Chanyeol membantu Baekhyun merapikan meja setelahnya.
Baekhyun tengah mencuci piring dan Chanyeol mematikan api perapian ketika mereka mendengar suara kuda diiringi roda kereta mendekat.
Baekhyun menatap Chanyeol dengan pucat pasi ketika kereta berhenti di depan rumahnya.
"Jangan khawatir, itu adalah pengawalku dan kereta kuda yang akan membawa kita ke pelabuhan besok pagi."
Baekhyun membelalak. Selama ini rumah ini hanya ditempatinya seorang diri bersama ayahnya atau Duke Kris. Sekarang tiga orang lain muncul! Bagaimana ia harus menempatkan mereka dalam rumah mungilnya ini!?
"Mereka akan berjaga-jaga di luar untuk memastikan tidak ada yang menganggu kita," Chanyeol membaca pikiran Baekhyun.
Chanyeol menghampiri rombongan kecil yang baru datang itu dan memberikan petunjuknya.
Baekhyun melihat Chanyeol sudah merencanakan semua ini dan ia tidak melihat sebuah celah pun untuk membantah. Maka iapun menyelesaikan pekerjaannya.
"Pergilah mempersiapkan kopermu," Chanyeol berkata ketika ia kembali dan melihat Baekhyun sudah selesai dengan piring-piring kotornya, "Dan segera beristirahat. Besok akan menjadi hari yang melelahkan bagimu. Kita harus mencapai Magport sebelum malam."
Baekhyun tidak membantah. Ia melangkah ke dalam kamarnya dan menutup pintu yang membatasinya dengan para pria itu.
Baru saja ia menutup rapat koper besarnya ketika ia mendengar derap kuda mendekat. Baekhyun panik. Pikiran utusan Daehyun atau Duchess Belle datang menakutkannya.
"Maaf saya datang terlambat, Yang Mulia."
Baekhyun langsung lega.
"Kau memang sepandai yang kupercayai. Aku tahu kau akan menemukan cara untuk kembali."
"Anda terlalu memuji saya, Yang Mulia."
Setelahnya Baekhyun mendengar pintu rumahnya ditutup dan sebuah kesunyian panjang mengisi rumah mungilnya sebelum ia mendengar kembali pintu dibuka.
Baekhyun tidak tahu bagaimana sang Pangeran akan tidur di rumahnya yang kecil ini. Sebenarnya Baekhyun tidak keberatan memberikan ranjangnya pada Chanyeol. Namun Baekhyun yakin Chanyeol pasti menolak walau Baekhyun meyakinkan ia tidak akan bisa tidur tanpa kasur empuknya. Tetapi, Baekhyun sadar, Pangeran tetaplah seorang gentleman.
Baekhyun berganti gaun tidur dan duduk di tepi ranjang.
Ia tidak mendengar suara apapun di luar. Hanya sinar lilin yang mengintip dari celah pintunyalah yang menyatakan keberadaan orang lain di rumahnya.
Baekhyun membaringkan diri di tempat tidur. Ia ragu ia bisa tidur. Dan karena itu betapa herannya Baekhyun ketika ia terbangun dalam pelukan Chanyeol di ruang yang sempit.
"Selamat pagi," Chanyeol menyapa.
Mata Baekhyun hanya menatap Chanyeol.
"Apakah tidurmu nyenyak?" Chanyeol bertanya lagi.
Baekhyun mengangguk. Matanya berkeliling menjelajahi ruangan sempit tempat mereka berada. Berdasarkan suara derap kaki kuda dan bentuk ruangan kayu kecil ini, Baekhyun yakin berada dalam kereta kuda dengan Chanyeol memangkunya. Kakinya terjulur sepanjang bangku kereta. Punggungnya tersandar di sisi kereta yang lain dengan tangan kekar Chanyeol melingkari pundaknya. Sehelai selimut tipis menutupi tubuhnya.
"Aku tidak tega membangunkanmu," Chanyeol menjawab mata biru muda yang kebingungan dan malu itu.
Baekhyun tidur nyenyak ketika ia hendak membangunkannya dini hari ini. Baekhyun tampak begitu damai dari yang pernah dilihatnya. Begitu tenangnya gadis ini tidur sehingga Chanyeol tidak sampai hati mengusiknya.
Maka tanpa menimbulkan suara, Chanyeol memeriksa isi lemari – memastikan Baekhyun tidak meninggalkan barangnya dan membawa koper Baekhyun keluar untuk pengawalnya memasukkannya ke dalam kereta. Chanyeol mengambil selimut tipis di bawah bangku kereta untuk menyelimuti Baekhyun.
Chanyeol dapat mendengar Baekhyun bergumam 'Papa' ketika ia mengangkat tubuh kecilnya dari tempat tidur.
Chanyeol percaya Baekhyun pasti sangat lelah setelah hari-hari yang panjang dan melelahkan ini.
Baekhyun berusaha duduk.
Ketika ia sudah benar-benar duduk, ia menyadari hal memalukan lain. Ia duduk di pangkuan Chanyeol! Mata biru mudanya berusaha menghindari sepasang mata biru tua yang sejajar dengan matanya.
Baekhyun merasa salah tingkah. Ia berdiri. Tepat bersamaan dengan itu, kereta berhenti. Baekhyun kehilangan keseimbangan tubuhnya.
"Apa yang sedang kaulakukan!?" Chanyeol merengkuh Baekhyun kembali ke pangkuannya.
Secercah rona merah di wajah cantik Baekhyun memberi jawaban pada Chanyeol.
Chanyeol tersenyum penuh arti. "Kalau kau tidak mau duduk di pangkuanku, kau tinggal mengatakannya," ia menyelipkan tangannya yang lain di bawah lutut Baekhyun, "Aku bisa memindahkanmu," ia mengangkat Baekhyun dan mendudukkan gadis itu di sisinya seperti menggendong anak kecil.
"T-terima kasih."
Chanyeol menyukai rona yang memberi nuansa baru pada kulit pucat Baekhyun.
"Kita sudah tiba di pelabuhan, Yang Mulia," seseorang berkata dan setelahnya pintu terbuka lebar.
Baekhyun melihat keramaian pagi hari di pelabuhan melalui pintu yang terbuka itu.
"Kenakalah sepatumu," Chanyeol membungkuk – membantu Baekhyun mengenakan sepatu di kakinya yang telanjang.
Baekhyun benar-benar dibuat salah tingkah olehnya.
"Dan jangan lupa selimutmu," Chanyeol menyampirkan selimut yang terjatuh di lantai kereta itu di pundak Baekhyun.
Saat itulah Baekhyun sadar ia masih mengenakan gaun tidurnya. Dengan cepat ia menutupi tubuhnya dengan selimut.
Chanyeol keluar kemudian mengulurkan tangan pada Baekhyun yang duduk di sisi lain kereta.
"Kau mau kugendong lagi?" Chanyeol menikmati rona merah di wajah cantik yang kebingungan itu.
"T-tidak, terima kasih," Baekhyun cepat-cepat melangkah keluar sebellum Chanyeol benar-benar menggendongnya.
Tubuh Baekhyun baru saja terjulur keluar pintu ketika Chanyeol melingkarkan tangannya di pinggang Baekhyun. Baekhyun masih kaget ketika tangan Chanyeol yang lain menyelinap di belakang lututnya dan dalam satu gerakan ringan, ia sudah berada dalam gendongan Chanyeol.
"Y-Yang Mulia!" Baekhyun panik.
"Pegang selimutmu," Chanyeol memberikan perintah tegasnya, "Angin laut di pagi hari tidak menyenangkan."
Baekhyun melingkarkan tangan kirinya di leher Chanyeol dan tangannya yang lain mencengkeram erat-erat selimut.
Ketika Baekhyun melangkah ke sebuah kapal besar, barulah Baekhyun benar-benar memperhatikan kesibukan pelabuhan. Kerinduan yang mendalam yang mendalam menyelimutinya. Di suatu saat di masa lalu, ia sering berada di pelabuhan bersama ayahnya. Suatu ketika ia duduk di pundak kokoh ayahnya, di saat lain ia duduk di gendongan ayahnya, dan di saat lain ia berjalan di sisi ayahnya yang dengan sabar menjelaskan kesibukan tiap-tiap pribadi di pelabuhan.
Baekhyun merapatkan pegangannya di leher Chanyeol dan menyembunyikan wajah sedihnya di pundak pemuda itu.
Chanyeol tidak berkomentar. Dalam pikirannya gadis ini sedang malu. Namun Baekhyun salah kalau ia berpikir Chanyeol akan menurunkannya.
"Selamat datang, Yang Mulia."
Baekhyun mengangkat kepalanya.
Seorang pria tengah baya terkejut.
"Y-Yang Mulia, i…ini…," Wyatt tidak dapat berkata-kata. Kemarin ketika pengawal Chanyeol muncul di penginapan untuk menyampaikan perintah Chanyeol, ia begitu gembira. Tanpa membuang waktu, ia langsung menyiapkan kapal yang telah menanti kepulangan Pangeran Chanyeol. Ia tidak berpikir banyak ketika melihat sang Pangeran mendekat dengan seorang wanita dalam gendongannya. Ia sudah biasa melihat Pangeran kerajaannya bersama wanita. Tapi Baekhyun? Sampai matipun Wyatt tidak pernah berpikir Baekhyun sang gadis haram yang Chanyeol sendiri nyatakan tidak akan pernah disentuhnya, berada dalam gendongan majikannya.
"Kita berangkat!" Chanyeol memberi perintah dan membawa Baekhyun ke dalam salah satu kabin.
Pengawal Chanyeol mengekor dengan koper Baekhyun – membuat Wyatt kian tidak dapat berkata-kata.
Chanyeol baru menurunkan Baekhyun setelah pengawalnya meletakkan koper Baekhyun di dalam kabin.
Baekhyun mencengkeram erat selimut yang menutupi pundaknya.
"Bergantilah," kata Chanyeol, "Aku akan menjemputmu setengah jam lagi untuk makan pagi." Dan Chanyeol meninggalkan Baekhyun yang masih berdiri mematung.
"Yang Mulia, apa yang Anda lakukan!?" sambut Wyatt begitu melihat Chanyeol, "Apa yang akan dikatakan Paduka Raja dan Ratu!?"
"Gadis itu baru kehilangan ayahnya dan sekarang ia berada dalam bahaya."
"Anda tidak berniat membawanya pulang, bukan?" selidik Wyatt.
Itulah yang sedang dipikirkan Chanyeol.
"Ini sudah lebih dari cukup, Pangeran!" protes Wyatt, "Simpati Anda sudah lebih dari cukup!"
"Wyatt," potong Chanyeol tidak senang, "Aku tahu apa yang kulakukan."
Wyatt langsung terdiam.
Sesungguhnya, Chanyeol sendiri tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Komentar terakhir Wyatt terulang lagi di kepalanya.
Ini sudah lebih dari cukup!
Sehari setelah kematian Duke of Cookelt adalah hati terakhirnya di Trottanilla. Orang tuanya juga telah mengirim kapal untuk menjemputnya. Namun kematian Duke Kris membuat orang tuanya memberi kelonggaran hingga pemakanan Duke. Pemakaman Duke sudah berlalu namun ia masih tetap di Trottanilla, di sisi Baekhyun.
Benar. Apa yang dilakukannya sudah melebihi simpati. Mungkinkah jiwanya sebagai seorang Pangeran terusik melihat kesedihan gadis itu? Seorang Pangeran seperti dia tidak dapat berdiam diri melihat seorang gadis muda sebatang kara dalam kesedihan dan bahaya. Namun ia telah bertindak jauh dari simpati.
Ia tidak mau Baekhyun berhubungan dengan Daehyun? Benar. Membawanya pergi dari Trottanilla sudah cukup untuk membantu gadis itu. Tapi meminta Graham menjadi penyambung lidah Daehyun dan walinya? Ini sudah mencampuri urusan Baekhyun!
Sekarang apakah ia benar-benar berniat membawa Baekhyun ke Ririvia?
Chanyeol tidak mengerti. Beberapa saat lalu ia bahkan menikmati wajah merah Baekhyun. Ia bahkan dengan sengaja menggoda gadis yang disumpahinya tidak akan pernah didekatinya.
Ah entahlah.
.
Ketika Chanyeol kembali untuk menjemput Baekhyun, ia melihat gadis itu berdiri di dek. Rambut kuning pucatnya melambai-lambai tertiup angin. Mata biru mudanya menatap laut penuh kerinduan. Begitu sempurnanya lekukan hidung yang mancung itu dan bibir merah yang terkatup rapat. Begitu cantiknya Baekhyun dalam kesunyiannya sehingga ia tampak seperti seorang putri duyung yang merindukan rumah di bawah lautnya.
Tidak pernah Chanyeol merasakan keinginan mendesak untuk merengkuh seorang gadis dalam pelukannya.
Pasti jiwa petualangannya yang menjadi sebab semua ini, Chanyeol memutuskan. Pasti!
~To be continued~
Happy Birthday to our Luhaeeennn! YEEYYY.. Heran deh sama kamu Lu, umur udah 26 tapi muka masih kaya bocah ingusan.. Kok bisa nggak menua gitu ya,, ato jangan2 dia vampir lagi.. Hahha...
Ya udah lah yang penting Sehat selalu dan panjang umur ya Lu, sama terus berkarya meski nggak bareng EXO lagi (meski masih nunggu moment kamu ketemu mereka)...
Owh iya kemaren aku Update Chapter 4-5 dalam sehari jadi gak tau kalian dapat notif apa nggak untuk chapter 5 nya.. Kalo belom kan nanti malah bingung baca chapter ini..
Okelah, segitu aja.. See you later everyone ^_^
