Malam itu merupakan malam pertama bagi Taufan yang kelelahan karena harus melayani ke 5 suaminya hingga pukul 03.00 dini hari. Kini mereka berenam terlelap menyelami mimpi mereka...
.
.
Desc : Monsta Studio
Pair : AllsemeXTaufan
Genre : Romance,Drama,Maybe humor (Yang gua yakin Gatot, garing total)
Warn : OOC,Elemental siblings,typo's bertebaran,Mpreg,Harem!Taufan.
Enjoy !
***
Sinar matahari mulai menyeruak dari celah-celah ventilasi. Membuat Sang kakak tertua mulai bangun.
"Engh..."Gumamnya mulai membuka mata emasnya.
Gempa mengedarkan pandangannya lalu tersenyum kecil,"Hm...Aku tak menyangka bisa memilikimu Taufan, meski harus berbagi."Inner Gempa tersenyum tipis. Gempa mulai beranjak dari kasur dan segera menuju kamar mandi.
"Ah,lelah sekali. Taufan memang hebat mampu melayani kami berlima semalam."Gumam Gempa tersenyum mesum. *Ditendang*
Gempa memejamkan matanya, namun sedetik kemudian ia mendengarkan teriakan.
"HALI BRENGSEK! KU BUNUH KAU!"Teriakan penuh amarah itu yang Gempa yakini adalah Api, maklum Api sangat tempramen seperti Halilintar.
Namun sesaat ia langsung tersentak, ia menyadari sesuatu semalam, ia mengetahui mengapa Api berteriak seperti itu,"Astaga,semalam aku juga tanpa sadar memasuki Fang, dan Hali memasuki Api. Naaslah riwayatku."Gumam Gempa mengigit ibu jarinya pelan.
Sebelum sempat Gempa beranjak ingin kabur pintu kamar mandi sudah di dobrak dengan keras,"Gempa..."Desisan dingin nan menusuk itu membuat Gempa menelan ludah. Keringat dingin mengucur perlahan. Sial! ia takkan bisa kabur.
"BRENGSEK KAUU!"Naungan penuh amarah di susul bunyi benda terbanting dan jeritan kesakitan memenuhi kamar mandi. Kita doakan saja semoga Halilintar dan Gempa tetap ganteng .*(re : Author gaje. Au : Masa bodooo *melet-melet) .
***
Di meja makan nampak penuh makanan berbau sangat lezat. Membuat yang menyiumnya langsung merasa ingin memakannya.
"Eng...Taufan, apakah masih sakit?"Bisik Air tepat di telinga Taufan, Air masih ingat wajah lelah Taufan saat setelah Halilintar,dan Air memasukinya lalu di susul ketiga suami yang lain yang meminta jatahnya. Membuat Taufan langsung tak sadarkan diri.
Mendengar bisikan Air membuat pipi Taufan merona merah, ia malu mengingat hal-hal semalaman. Bagaimanapun, memang saat terbangun tadi rasanya tubuhnya remuk semua. Namun, tadi Air sempat mengobatinya, jadi tidak terlalu sakit.
"Um...Sudah baikan kak."Bisik Taufan pelan.
Air tersenyum lega,"Syukurlah..."Gumam Air.
Di lihatnya di sebrang, Wajah Hali yang babak belur dan wajah Gempa yang memar-memar. Sedangkan Fang dan Api masih memasang wajah datar-sedatar-datarnya.
"Baiklah, mari makan."Suara merdu Taufan mengintrupsi keheningan di ruang makan itu. Lalu mereka menikmati sarapannya masing-masing.
Semenjak pernikahan mereka, orang tua Fang menyarankan untuk homeschooling, jadi saat ini mereka tidak lagi pergi kesekolah mereka.
***
Satu minggu sejak kejadian itu, wajah Taufan sering kali pucat dan muntah-muntah. Setiap makanan yang masuk ke mulutnya pasti ia akan mengeluarkannya lagi. Membuat para suami Taufan khawatir.
"Taufan, kita ke dokter saja ya?"Ajak Gempa yang khawatir terhadap 'istri'nya.
Taufan menggeleng,"Tidak usah kak, paling-paling hanya masuk angin biasa."Ujar Taufan tersenyum tipis.
"Hmm...Baiklah, kalau begitu aku ke Cafe dulu ya. Sudah giliranku untuk jaga."Ujar Gempa.
Dua hari yang lalu Para BoBoiBoy dan Fang sepakat untuk membuat Cafe coklat dengan jadwal jaga yang sudah di tentukan.
"Baiklah kak, hati-hati di jalan."Ucap Taufan lembut. Gempa mengangguk dan mengecup bibir ranum Taufan sekilas.
Gempa pun meninggalkan rumah saat terdengar bel di depan, tak lama kemudian, seorang pemuda yang identik dengan merah memasuki ruang tamu.
"Aku pulang..."Seru Halilintar yang langsung di sambut oleh Taufan.
Taufan memeluk Halilintar sekilas,"Selamat datang kak Hali."Sambut Taufan memamerkan senyumnya.
Hali yang gemas lantas mengecup pipi 'istri'nya.
"Kau pucat lagi Taufan, mau ku antar ke Dokter?"Tanya Halilintar dengan wajah cemas.
Taufan menggeleng,"Nggak usah kak, Taufan baik-baik saja kok."Tukas Taufan.
Halilintar mendengus pelan,"Kalau begitu biar aku telfon yaya saja untuk memeriksamu."Ucap Halilintar.
"Tapi diakan sama kayak kita kak, emang dia tau?"
"Diakan anak dokter , ibunya sering mengajarinya, siapa tau dia tau apa yang kau derita?"Sahut Halilintar sambil menelfon seseorang.
/Halo? Hali ada apa?/
/Aku ingin kau memeriksa Taufan, ia nampak tak sehat/
/Baiklah, aku akan datang/
"Kau membuatnya repot kak."Ujar Taufan.
Halilintar tersenyum tipis,"Tidak."Sahutnya singkat. Ia menarik Taufan kedalam pangkuannya. Memeluk Taufan dari belakang dan menghirup aroma manis dari tubuh Taufan.
"Engh-kakak..."Taufan memejamkan matanya saat bibir tipis kakak aka Suaminya menelusuri leher putihnya.
Halilintar tak memperdulikan protesan Taufan, bahkan sekarang ia menjilat dan menghisap leher Taufan.
"Aahh..."Desah Taufan. Halilintar menyeringai mendengar desahan lembut 'istri'nya.
TING...TONG
"Sial."Rutuk Halilintar kesal, sedangkan Taufan segera menjauhkan diri dari kakaknya.
Halilintar segera membuka pintu, tampaklah gadis manis di depannya,"Masuk yaya."Ujar Halilintar datar.
"Terima kasih Hali."Sahut Yaya.
Yaya pun menghampiri Taufan,"Hai Taufan."Sapa Yaya.
Taufan tersenyum,"Hai kak Yaya."Sahut Taufan.
"Berbaringlah, aku akan memeriksamu."Ujar Yaya. Taufan menuruti Yaya dan iapun berbaring. Yaya menyingkap kaos Taufan memperlihatkan perut rata dan halus milik Taufan dan lagi-lagi membuat Halilintar meneguk ludahnya.
Yaya mulai meletakkan tangannya, memeriksa perut Taufan, siapa tau masalah ini bermula dari maag atau apa.
"Eng..."Gumam Yaya menatap Taufan ragu.
"Kenapa kak?"Tanya Taufan.
Yaya menggeleng,"Eng, aku belum yakin. Tapi coba kau buktikan dengan ini..."Ujar Yaya memberikan test pack.
"Baiklah..." sekitar 15 menit Taufan berada di kamar mandi kemudian terdengarlah jeritan dari arah kamar mandi.
"APAAAAAAA?!" Halilintar dan Yaya yang kaget segera menyusul Taufan, tampak Taufan merosot di lantai dengan wajah shock.
Halilintar menarik test pack dari tangan Taufan, terlihat dua garis merah di test pack tersebut, membuat Halilintar menganga lebar.
"A-apakah i-ini As-li?"Gagap Halilintar dalam masa shock.
Yaya melihat test pack tersebut,"Sudah ku kira, tapi aku belum yakin sih. Tapi kalian bisa memeriksa ke dokter kandungan."Ucap Yaya.
Taufan masih dengan wajah shocknya,"Baiklah, terima kasih Yaya."Ujar Halilintar sambil menggendong Taufan yang masih shock.
Yaya mengangguk dan pamit pulang.
"Taufan..."Lirih Halilintar.
"Nggak,nggak... ini pasti mimpi... mimpi."Gumam Taufan dengan mata yang menyorotkan kekosongan di sana.
"Taufan..."Panggil Halilintar sambil mengecup pipi,dahi dan bibir Taufan agar segera sadar dari lamunannya. Halilintar juga terkejut akan hal ini, tapi sebagian hatinya juga ia merasa bahagia.
"Ini pasti mimpi..."Taufan terus bergumam dengan kata-kata yang sama. Halilintar segera menghubungi para BoBoiBoy dan Fang yang berada di cafe.
"Tenang Taufan, tenangkan fikiranmu..."Bisik Halilintar. Halilintar mengelus rambut hitam Taufan hingga Taufan tertidur dengan sendirinya.
TBC
Haaii Minna, maafkan Cindy yang lama tidak Update. Karena cindy sedang sibuk-sibuknya. Gomen ne..
Di harapkan Review kalian ttg Chapter ini.
Sampai jumpa Chapter depan!
