Chapter 7: The Trust

OVERDOSE

Rate : M

Pairing : KaiHun, others.

Genre : Thriller

Warning : AU, Yaoi, OOC, Death chara.

I warn you, this fanfiction contains Blood, Snuff, and something like that. If you hate blood, snuff, or thriller story, but you still read it, please don't blame on me cause I've already warn you.

Disclaimer : Karakter milik perusahaan mereka masing2 dan milik Tuhan. Dan cerita ini adalah milik Kazuki Tsukishiro.

PERHATIAN!

Cerita ini di buat oleh Kazuki Tsukishiro. Saya hanya sebagai editor yang mengedit nama chara serta sesuatu yang berhubungan dengan itu. Tanpa mendapat keuntungan finansial sedikitpun.

.

NO FLAME

.

Aku mempercayaimu. Aku percaya kau bukan pelakunya.

.

.

XOXO

.

.

"Tidak." Jongin membuka suaranya. "Aku tidak akan menghindar. Apapun yang terjadi, aku tidak akan menghindar. Aku tidak akan membantah apapun pernyataan pihak kalian mengenaiku."

Kris mengangkat sebelah alisnya, merasa tertantang. Semua terkejut, tidak terkecuali kakaknya sendiri, Kim Luhan.

"Hmm, menarik."

Jongin menyeringai.

.

Demi Tuhan, rasanya ingin sekali Sehun menghajar Jongin agar pikirannya terbuka. Apa sih yang ada di pikiran si mesum Kim ini? Bukankah justru dengan begini ia sama saja mengakui tuduhan itu? Ukh, jika saja Sehun tidak mengingat orang tuanya, mungkin ia akan segera mengikuti emosinya.

Senada dengan Sehun, Luhan juga rasanya ingin menghajar adiknya itu karena secara tidak langsung ia telah memakan umpan Kris, dan hampir mempermalukan nama keluarga Kim. Haruskah generasi Kim kembali seperti masa kakek moyangnya? Dicap sebagai keluarga pembunuh? Pada masa ayahnya-lah, Kim kembali ke nama baiknya.

"Jadi, dengan kata lain, jika aku mengatakan kau adalah pelakunya, apakah itu berarti kau tidak akan menyangkalnya?" tantang Kris.

Demi Bapa di surga, suasana di ruang pemilik SMA sangat tidak menyenangkan. Pak Kangta yang sedari tadi memerhatikan, hanya tetap terdiam. Ia belum berani bersuara. Namun bagi Kris dan Jongin, di ruangan ini hanya ada mereka berdua. Jongin masih tetap terdiam dengan seringaiannya. Dan Kris masih menunggu jawaban dari orang yang ditatapnya.

"Bagaimana? Kau tidak akan menyangkal?"

"Aku juga tidak akan mengiyakannya."

Jawaban yang sungguh berani. Sejujurnya, emosi Kris sedikit terpancing kali ini. Namun sebagai anggota kepolisian, ia harus bisa menahan ekspresi dan dirinya sendiri. Dan sebelum seseorang benar-benar kehabisan batas kesabaran, harus ada yang meredamkannya.

TOK. TOK.

Pintu ruangan Pak Kangta diketuk dengan tidak elitnya. Pak Kangta dan Kris sedikit terganggu dengan ketukan pintu yang kasar itu. Semoga saja ada berita penting yang disampaikan pengetuk itu. Karena jika tidak, dia akan dikeluarkan dari SMA St. Michael ini.

"Ada apa?" tanya Pak Kangta sinis sambil membuka pintu.

Sehun dan Luhan sedikit lega karena adanya tamu ini. Setidaknya ketegangan antara Jongin dan Kris sedikit mereda.

"APA?" seru Pak Kangta berang.

Tapi sepertinya tidak begitu.

"Opsir, ikut saya sekarang. Ada siswa kami yang meninggal di gudang bawah tanah."

Kejam. Bahkan kenyataan tidak memberikan mereka waktu untuk istirahat.

"Hah? Terjadi lagi?" tanya Sehun. "Aku ingin ikut."

"Tidak usah, Sehun. Kau tetap disini!" seru Pak Kangta.

"Kenapa, Pak?"

"Karena kali ini, yang terbunuh adalah anak berkantung mata yang kita cari selama ini."

Semua tersentak, kecuali satu orang.

"Tao!" desis Sehun.

Kris—yang merasa nama Tao disebut—segera berlari mengikuti Pak Kangta menuju gudang bawah tanah.

.

OVERDOSE

The Trust

.

"Katakan ini tidak benar. Katakan ini hanya lelucon yang tidak lucu." Kris dengan sangat hati-hati menurunkan jasad Tao yang sudah hampir mengeras dengan dada berlubang.

Luhan tahu bagaimana perasaan Kris saat ia menurunkan jasad Tao. Hancur? Sudah pasti. Tersayat? Bukan tersayat lagi, tapi tercabik-cabik. Ia sangat menyayangi Tao, meskipun ia tahu hubungan itu salah. Setelah mengantarkan jasad Tao ke tim forensik yang menunggu di ujung dermaga, Kris tidak segera kembali ke dalam gedung. Ia memilih berdiri di samping dermaga dan merenung.

Luhan, yang sedari tadi mengintip tingkah laku Kris dari jendela yang tepat berada di depan ruangan Pak Kangta hanya bisa terdiam melihat partner kerjanya seperti itu. Mungkin ia terlalu lama melamun sehingga tidak sadar, ada dua pasang mata yang telah mengamatinya sedari tadi.

"BAKA HYUNG!" seru pemuda berkulit tan agak keras. OOC memang, tapi kalau yang dipanggil tidak menoleh, rasanya sah-sah saja.

"Oh, ya?" tanya Luhan yang sedikit terkejut.

"Aku sudah boleh pergi kan?" tanya Jongin ketus.

"Tidak. Statusmu dan Sehun masih tersangka. Kau belum diijinkan pergi, Jongin!" tegas Luhan. Jongin melengos menatap kakaknya tidak percaya.

"Kau mencurigaiku, Hyung?

"Peraturan tetap peraturan, Jongin."

"Cihh."

Sehun yang sedari tadi berdiri di samping Kim bersaudara hanya bisa menghela napas. Dadanya sudah sesak, dan kini ia harus menghadapi suasanan tegang ini. Demi Tuhan, saat ini dia butuh ke gereja. Dia ingin mengadu, dan dia ingin Bapa memeluknya untuk menenangkan jiwanya.

Tapi itu tidak mungkin untuk saat ini. Sehun hanya bisa menuruti peraturan kepolisian. Ia hanya bisa menahan perih yang semakin menjadi di dadanya. Reflek, Jongin merangkul pinggang kekasihnya itu.

"Kau tidak apa-apa, Sehun?" bisiknya.

Yang ditanya hanya mengangguk pelan. Luhan sempat terkejut adiknya bersikap seperti itu terhadap Sehun. Tapi seulas senyum tipis tersungging di wajah pria berambut hitam itu. Adiknya tidak mungkin pelakunya.

Ia yakin itu. Ia percaya itu.

Jongin tidak berbicara banyak. Ia membawa kekasihnya masuk ke dalam ruangan, sebelum dugaan yang lebih kasar mengarah padanya karena firasatnya mengatakan, polisi blasteran itu akan makin gencar menginterogasinya.

.

Benar saja. Baru 5 menit Jongin duduk di kursi tamu yang berada di ruangan Pak Kangta, tiba-tiba polisi keturunan Cina-Kanada itu datang dan menarik kerah bajunya dengan kasar.

"Kenapa kau membunuh Tao?"

Jongin terkejut, namun wajahnya menantang.

"E-eh tunggu dulu." Sehun bangkit dan coba melerai keduanya sebelum terjadi perkelahian. Luhan pun segera masuk dan memisahkan Kris dari Jongin.

"Kau yang membunuh Tao dan yang lainnya," desis Kris.

"Ckk, kau tahu Yifan? Kau sudah gagal menjadi polisi." Jongin mendesis tajam.

"Ap-" hampir saja Kris menggelar perang barbar di ruangan itu, untungnya tangan Luhan lebih cepat seper sepuluh detik untuk menjauhkannya dari hadapan Jongin.

"Sehun, kau bawa Jongin pergi dari sini. Nanti malam mungkin kalian akan kami interogasi kembali. Tapi untuk saat ini, biarkan mereka berdua menenangkan diri."

Sehun hanya mengangguk dan segera membawa Jongin pergi. Tapi, pemuda tan yang—mungkin—tersulut emosinya itu segera menepis tangan Sehun.

"Aku bisa jalan sendiri," tukasnya tak ramah.

Sehun hanya menghela napas sembari mengikuti Jongin pergi dari ruangan itu. Luhan menggeleng perlahan. Sikap Jongin tidak berubah sejak kanak-kanak. Kalau sudah marah, atau kesal, pasti langsung dilampiaskan dengan cara seperti itu.

Sepeninggal Jongin dan Sehun, Luhan menatap Kris yang masih mengatur napasnya yang menggebu karena emosi. Setelah dipastikan temannya tenang, Luhan baru membuka suara. Tidak terlalu nyaring, namun cukup membuat sebuah bel di kepala Kris berdeting.

"Termakan pancingan adikku, Yifan?"

Kris terdiam. Ia masih memikirkan kata-kata Jongin. Apakah benar dirinya telah gagal menjadi polisi? Ataukah Jongin hanya ingin memancing emosinya saja?

"Tidak satupun menjadi urusanmu, Kim."

Tanpa menoleh, Kris pergi meninggalkan Luhan yang tersenyum menatap punggung rekannya.

.

.

Kamar Jongin.

11:03 p.m

.

"Cadel, ada apa?" tanya Jongin saat melihat kekasihnya yang duduk menatap bulan melalui jendela panjang yang menghadap ke laut. "Kau tidak tidur?"

"Kkamjong... Aku kepikiran sesuatu." Sehun tidak melepaskan pandangannya menatap langit kelam di luar sana.

"Ne?"

"Semua kasus ini. Apa kau tidak penasaran dengan tujuan pelakunya?" tanyanya dengan tampang polos namun sama seperti Yunho waktu masih muda dulu.

"Tidak." Jongin menarik selimutnya dan kembali tidur.

"Um, Kkamjong... Aku rindu Tao." Suara Sehun terdengar bergetar. "Dia tidak seharusnya mendapatkan hal seperti itu. Terlalu kejam..."

Sehun sudah coba menahannya, tapi butiran bening itu jatuh tak tertahankan dari pelupuk matanya.

Hening.

Jongin sudah terpejam. Sementara Sehun masih terisak di tempatnya duduk. Ia benar-benar merasa sakit. Tao adalah sahabatnya. Ia menyayangi Tao, tapi pembunuh itu merenggut semuanya. Sehun mulai lelah menangis, ia pun akhirnya memutuskan untuk tidur dan menenangkan pikiran serta hatinya.

Jongin—yang berpura-pura tidur—menajamkan telinganya. Sudah sunyi. Tak ada lagi suara tangisan maupun isakan dari Sehun. Perlahan, Jongin bangkit dari tempatnya tidur dan mendatangi kursi besar yang berhadapan langsung dengan jendela, ke tempat kekasihnya.

Jongin tersenyum. Ia mengelus pipi Sehun. Sesekali Sehun bergerak, namun ia tidak terbangun.

"Sehun..." sahut Jongin pelan. "Aku menginginkanmu."

.

Sinar matahari pagi yang hangat masuk melalui kaca jendela. Sehun menggerakkan matanya perlahan, karena sinar matahari sedikit menusuk matanya.

"Umh..." Sehun mengerjap-ngerjapkan matanya dan menghela napas untuk memastikan dirinya masih bernyawa hari ini.

"Akhirnya kau bangun juga, tuan tukang tidur," sapa Jongin acuh sembari menyeruput jus di kursi besar yang berada di samping jendela.

Sehun terkesiap. Ia memastikan tempatnya berada sekarang. Dia berani sumpah demi Tuhan dan anak-anakNya yang berada di surga, bahwa semalam ia tidur di kursi yang kini diduduki oleh Jongin.

"Kkamjong, kenapa aku berada di sini? Bukankah semalam aku disana?"

Jongin melirik sedikit ke arah Sehun.

"Aku mengangkatmu kesana, Cadel. Kalau kau sakit, bisa-bisa aku juga yang susah."

"Eh, kau mengangkatku?" tanyanya setengah meremehkan.

"Cih, kau tidak menyadarinya? Padahal saat tidurpun, bagian dirimu yang lain menanggapiku." Jongin menenggak habis jusnya kemudian berjalan mendekati tempat tidur.

"E-eeeh?"

Refleks, Sehun membuka selimut yang menutupinya. Demi Tuhan dan ayahnya yang kini sudah tenang di surga, Sehun terkejut. Bagaimana bisa dia tidak memakai bawahan dan kejantanannya tidak ditutupi apapun? Dengan heran, Sehun menoleh ke arah Jongin yang menyeringai.

"Kka-Kkamjong, jangan bilang kalau saat aku tidur kau…"

"Hn?"

"Me… Me…."

"Menghisapnya?" goda Jongin.

Sehun merasakan pipinya memanas tiba-tiba. Ia tidak menyangka bahwa Jongin melakukan itu diluar sepengetahuannya. Baru saja Sehun akan mencari celananya untuk menutupi kejantanan yang terekspos, Jongin menarik tangannya dan membimbing tangan Sehun ke dadanya yang memang tidak tertutup apapun.

'Tubuh Jongin basah. Dadanya berdebar..." batin Sehun.

"Kkamjong.."

Jongin mengunci bibir Sehun dengan lumatan yang panas, sementara tangannya memainkan diri Sehun yang lain.

"Nnnh… Jongin. Ahn…"

Jongin tidak menjawab apa-apa. Namun gerakan tangannya dan lumatan bibirnya sudah mewakili apa yang diinginkannya dari Sehun.

Memilikinya, pagi ini.

.

.

.

Balkoni Asrama SMA St. Michael.

9:30 a.m

.

"Eunhyuk-songsaenim..." sapa Suho.

"Ya?" Eunhyuk membalas tanpa sedikitpun menoleh.

"Kau masih sedih karena kehilangan Wakakepsek Donghae?" tanya Suho tanpa basa-basi.

"Apa maksudmu?"

"Kau mengerti apa maksudku."

"Tidak." Ia membuka kembali buku bacaannya.

"Haruskah aku mengatakan bahwa kau dan Wakakepsek Donghae pernah menjalin hubungan?"

Eunhyuk terkesiap.

"Dari wajahmu, aku bisa mengatakan, aku tidak salah."

"Jika kau sudah tahu, kenapa kau masih bertanya?" Eunhyuk melemparkan pandangannya ke arah lain.

"Aku hanya ingin tahu, sejarah St. Michael."

Eunhyuk memandang siswanya itu lekat-lekat. Ya, Suho tidak main-main.

"Hahh… Baiklah. Dengarkan baik-baik, karena aku hanya akan mengatakannya sekali."

"Hn."

.

.

.

Lobi Utama Asrama siswa St. Michael.

10:30 a.m

.

"Bagaimana? Haruskah kita lanjutkan?" tanya Luhan retoris.

"Ya."

Kris menatap murung langit di luar sana. "Terlalu banyak clue yang belum bisa kumengerti. Pembunuhan ini terlalu rapi."

"Hn." Luhan menyeruput tehnya.

"Kalau menurutmu, siapa pelaku kasus ini?"

"Aku tidak ingin berspekulasi sembarangan." Sekali lagi Luhan melemparkan pandangan berarti pada Kris.

"Sepertinya kita harus menginap semalam lagi. Hmm, kau ingat dengan korban yang bernama Baekho?"

"Ya, kenapa?"

"Bukankah ia salah satu dari kawanan perampok yang dulu sangat ramai diperbincangkan?"

"Ah, itu mengingatkanku dengan ucapan Inspektur Kyuhyun. 3 kawanan perampok yang diketuai oleh kepala keluarga Zang itu kan?"

"Ya. Kawanan yang menghancurkan keluargamu."

Luhan terdiam.

"Apa kau tidak merasa janggal? Zang adalah ketua mereka. Dua anak buahnya, Rap monster dan Baekho sudah tewas. Menurutmu, apakah kasus ini berhubungan dengan masa lalu mereka?" tanya Kris.

"Entahlah, Yifan. Namun jika benar seperti itu, maka kasus ini akan semakin tidak jelas. Apa hubungannya Kepala Sekolah dan siswa SMA St. Michael yang juga ikut menjadi korban?"

Kris berpikir keras.

"Kau benar juga. Ah, sebaiknya kita harus mengawasi Zang Yixing. Bisa saja ia menjadi korban selanjutnya."

"Atau menjadi pelakunya."

"Eh, kenapa? Bukankah Zang adalah ayahnya?" tanya Kris. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Luhan.

"Tidak. Lay bukan anak kandung Zang."

"Ah? Kini aku mengerti. Kita memang harus menggali lagi informasi disini," sahut Kris. "Namun, kita perlu mengawasi Zang Yixing."

"Hn."

Anggukan kepala dari Luhan mengakhiri diskusi mereka. Namun, seseorang yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka hanya bisa terbelalak. Ia mengatur deru napasnya yang memburu. Semua yang baru saja ia dengar adalah hal baru baginya. Ia terkejut bahwa dirinya hanya anak angkat, namun sejenak ia coba mengingat apa yang terjadi pada orang tua kandungnya.

Pemuda itu memejamkan matanya. Yang ia ingat terakhir adalah malam yang berhujan. Warna kelam darah. Suara tangisannya saat menepuk wajah ibunya yang sudah tergeletak tak berdaya. Serta tangan hangat yang menggendongnya.

"Akan kuangkat ia menjadi anakku."

Suara itu. Ia hapal betul suara orang yang kini menjadi ayahnya. Pemuda itu berlari. Ia ingin menangis sendiri, di kamarnya yang sepi.

.

.

Dermaga.

3:33 p.m

.

"Sendirian saja, Changmin-ssi?" tanya Profesor Kyungsoo pada Changmin yang duduk melamun menatap laut.

"Ya, begitulah. Profesor Kyungsoo sendiri?"

"Ya. Tak ada yang bisa kulakukan. Sudah beberapa hari ini siswa diliburkan." Profesor Kyungsoo mengambil tempat duduk disamping Changmin.

"Masa-masa sulit, Prof? Tanpa kepala sekolah dan wakilnya?"

"Begitulah. Entah sudah berapa anggota St. Michael yang meninggal dengan cara mengenaskan."

"Ya. Bagaimana dengan St. Michael waktu 2-3 tahun lalu?"

"Tenang. Tidak ada kejadian seperti ini. St. Michael adalah rumah bagi mereka yang tersesat di jalan Allah. Namun sekarang..."

Changmin memutar otaknya sekali lagi untuk mengorek informasi dari Kyungsoo.

"Prof, kudengar di sekolah ini ada siswa yang menjalin hubungan terlarang ya? Karena kasus pembunuhan yang menimpa Baekhyun, kita melihat ada kertas yang bertuliskan 'For You, My Eternal Love'. Untukmu, kekasih abadiku..."

Kyungsoo tersentak. Ia ingat dengan Xiumin.

"Entahlah, aku tidak tahu sampai situ. Aku bahkan tidak mengerti maksudmu."

"Ahh... Sayang sekali. Oh ya Prof, padahal pelakunya sudah tewas bunuh diri, tapi mengapa Wakakepsek Donghae dan Huang Zi Tao masih menjadi korban?" pancing Changmin.

"Maksudmu?"

"Ya, kau tau, pembina asrama St. Michael, Xiumin-ssi. Kudengar, ia tewas gantung diri setelah mengakui dirinya sebagai seorang pembunuh.

Kyungsoo membelalakkan matanya. "Bukan dia pelakunya."

"Eh?"

"Xiumin tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu. Aku sangat mengenal dia. Dia juga korban. Dan mungkin, aku telah membunuhnya."

Changmin menoleh. "Maksud Profesor?"

"Aku—"

Belum sempat Profesor Kyungsoo menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba dua orang nelayan lokal dan Yongguk mendatangi mereka sembari membawa sesuatu. Profesor Kyungsoo dan Changmin yang sedari tadi duduk menatap garis horizon, kini berdiri menatap nelayan itu.

"Ada apa?"

"Ini, Pak. Kami menemukan sepotong kain dengan lambing sekolah ini. Tadinya kain ini melekat di tubuh seorang pemuda yang sebagian tubuhnya hancur dimakan ikan, namun wajahnya masih dapat terlihat meskipun rusak," sahut pelayan yang bertubuh gempal.

Profesor Kyungsoo tersentak. Salah seorang siswanya menjadi korban lagikah?

"Lalu, apakah wajahnya masih bisa terdeteksi?" tanya Profesor Kyungsoo.

"Dahi, hidung, dan matanya hancur, namun ia memiliki gigi dan telinga yang besar." Nelayan yang bertubuh kurus ikut menimpali.

"Bertelinga besar?" sahut Profesor Kyungsoo sembari mengingat-ingat siapa saja di St. Michael yang memiliki telinga besar.

"Chan…" bisik Changmin. "Chanyeol! Itu Chanyeol!"

Kyungsoo menoleh ke arah Changmin yang bergetar. "Eh?"

"Itu Park Chanyeol, salah seorang siswa SMA St. Michael yang beberapa hari lalu pulang kembali ke kotanya."

Kyungsoo terdiam. Ia tahu Changmin sedang bersedih. Sepertinya Park Chanyeol adalah orang yang berarti bagi Changmin.

"Bisa kalian membawa kami kesana?" tanya Profesor Kyungsoo.

Kedua nelayan itu mengangguk dan mengantar mereka berdua.

.

.

.

Lobi Utama SMA St. Michael.

9:30 p.m

.

"Aneh sekali, kenapa sekolah ini sepi?" tanya Sehun sembari celingukan ke penjuru lobi.

"Entah." Jongin menjawab malas.

"Kau tidak asyik, Kkamjong."

"Kau masih bersamaku, Cadel," cetusnya.

"Ukhh..." Sehun tertohok kata-katanya sendiri. "Terserah."

"Hn."

Lama mereka berdua terdiam di lobi tanpa melakukan apapun. Sampai akhirnya Jongin memutuskan untuk beranjak.

"Kkamjong, mau kemana?" tanya Sehun setengah heran.

"Ronda."

"Eh, sudah hampir jamnya?"

"Ya," sahut Jongin singkat sembari melangkahkan kaki menuju kamarnya.

"Kkamjong, tunggu!" seru Sehun.

"Cepatlah, Cadel. Kau lambat sekali sih?"

Baru saja mereka melangkah menuju tangga, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran Kris dan Luhan yang datang dengan sedikit tergesa-gesa.

Sehun mengernyitkan alisnya. "Ada apa ya?"

"Entah."

"Kau tidak ingin tahu, Kkamjong?"

"Tidak. Itu bukan urusanku," sahut Jongin skeptis.

Sehun memanyunkan bibirnya. "Huh, ya sudahlah."

"Kalian berdua, jangan berkeliaran pada jam segini!" seru Kris ketus saat melewati mereka berdua.

Sehun tahu ada seseuatu yang tidak beres sedang terjadi. Oleh karena itu, tanpa menunggu apapun, ia menarik tangan kekasihnya untuk segera pergi dari tempat itu.

.

.

"Cadel! Lepaskan!" seru Jongin menepis tangan Sehun yang mencengkramnya kuat, saat tiba di dalam kamar.

"Maaf."

"Kau kenapa?"

"Tidak kenapa-napa. Aku hanya refleks saja."

"Oh. Ya sudahlah, aku mau ronda dulu."

"Um, ya..."

"Jangan keluar dari kamar, oke?"

"Iya. Kau hati-hati ya. Pembunuh itu masih berkeliaran di sekeliling sekolah," sahut Sehun pelan.

Jongin menatap kekasihnya yang tertunduk. Sejenak ia melangkahkan kaki untuk menghampiri kekasihnya itu dan mengangkat dagunya.

"Aku tahu apa yang harus kulakukan, Cadel." Mata hitam itu tajam menatap mata coklat milik Sehun. Sehun tahu kekasihnya serius. Ia percaya itu.

"Ya, sekedar untuk mengingatkan saja, soalnya—"

Ucapan Sehun terputus oleh kuncian dari bibir Jongin. Jongin menciumnya lembut namun sedikit bernafsu. Mereka saling melumat mulut satu sama lain hingga mereka berdua memutuskan untuk menghirup udara.

"Kau tahu Cadel, kau sangat cerewet malam ini."

"Uh… Dan kau menyebalkan Kkamjong."

Sebenarnya ingin sekali Jongin tertawa melihat wajah kekasihnya sekarang. Namun, hal itu tidak bisa ia lakukan. Ia harus menjalankan tugasnya malam ini.

"Aku pergi. Bye~"

"Ya. Hati-hati."

Jongin membuka pintu kamar Sehun dan pergi ke lantai bawah sesegera mungkin.

Sementara itu, sepeninggal Jongin dari kamar Sehun, sebuah kamar sedikit terbuka dan memperlihatkan wajah tidak suka dari si pemilik kamar.

.

.

.

Gereja St. Michael.

12:05 a.m

.

Pak Kangta memandang ke dalam gereja dengan perasaan takut. Entah mengapa malam ini lampu gereja tidak ada yang menyala dan suara badai di luar sana memperparah semuanya. Bukan tanpa alasan Pak Kangta datang ke gereja tengah malam begini. Ada seseorang yang memanggilnya melalui surat. Di dalam surat itu, ia meminta Pak Kangta mendengarkan pengakuan dosanya. Dan malam ini, Pak Kangta ingin menjelaskan padanya bahwa ia bisa melakukan pengakuan dosa di depan Pastur Yesung yang rumahnya berjarak lima meter di belakang gereja.

CTAR

Bunyi kilat sedikit mengangetkan diri Pak Kangta yang masih meragu apakah akan masuk ke gereja yang gelap itu atau tidak. Namun, saat cahaya kilat menyambar langit di belakangnya, ia dapat melihat seseorang berdiri di depan altar, tepat di bawah bayangan jendela mozaik besar yang menghadap ke utara.

Dengan langkah yang hati-hati, Pak Kangta memasuki gereja dan segera menuju altar.

"Kau datang tepat waktu, Pak Kangta."

Suara ini. Entah kenapa sangat familiar di telinganya.

"Ternyata kau yang memanggilku tengah malam begini. Ada apa?"

"Aku ingin mengaku dosa, Pak." Dengan kasar pemuda itu memegang bahu Pak Kangta dan membuatnya bersimpuh.

"Hei, kau, hati-hati ya!"

Pak Kangta ingin berdiri, namun tangan kiri pemuda itu mencengkram bahunya erat.

"Kau hanya cukup mendengarkan, Pak."

Pak Kangta terdiam. Ia tahu pemuda ini tidak main-main.

"Aku ingin mengaku dosa, Pak. Aku telah melanggar ajaran Tuhan untuk tidak menjalin hubungan dengan sesama jenis. Aku mencintai seseorang di asrama ini dan kami telah memberikan seluruh jiwa kami pada pasangan masing-masing. Dan..."

"Kau gila! Perbuatanmu akan mendapat hukuman dari Tuhan—"

"Ssssh… Aku belum selesai bicara kan?" Pemuda itu memasukkan dua jarinya untuk menarik lidah Pak Kangta. "Dan satu lagi, Pak. Aku ingin mengaku bahwa aku telah membunuh. Aku telah membunuh mereka yang Tuhan cintai."

Pak Kangta terbelalak, dia berani bersumpah bahwa ia baru saja melihat seringai di senyum pemuda yang berdiri di depannya ini saat kilat menyambar dan memberikan bayangan pada jendela mozaik yang terdapat di sekitar gereja.

"AAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRGHHHH!" erang Pak Kangta, saat sebuah perih menembus dada kirinya.

Pemuda itu tersenyum. Ia merasa aman, karena tidak ada seseorangpun yang akan mendengar teriakan tadi maupun mendekati tempat ini karena badai. Tubuh Pak Kangta melemah. Nyawanya telah meregang karena sebuah tikaman di jantung yang telah menembus punggungnya. Ia sudah tiada, dan pemuda itu seolah masih belum puas juga. Dicabutnya kembali parang panjang yang menjadi eksekutor bagi Pak Kangta. Kemudian, ditusukkannya parang itu ke mulut Pak Kangta hingga menembus kepalanya.

"Sedikit lagi, dan kau akan sempurna."

Pemuda itu mengatur sedemikian rupa agar Pak Kangta terlihat seperti orang yang sedang berdoa sambil bersimpuh. Setelah semuanya tertata sesuai apa yang diinginkannya, pemuda itu berjalan meninggalkan gereja.

.

.

Asrama Siswa.

1:55 a.m

.

Jongin baru saja keluar kamar mandi untuk membasuh kepalanya. Badai di luar membuatnya malas untuk meronda lebih jauh. Bukannya ia takut, atau merasa kesepian karena meronda sendiri, tapi ia hanya malas. Rasa kantuk membuatnya malas bergerak. Dengan bosan, ia mengambil tempat duduk yang berada di depan kamarnya sendiri dan memandang ke luar jendela.

"Hahhh..."

"Sendirian, Kim?" tegur sebuah suara yang hampir membuat Jongin terlonjak kaget.

"Seperti yang kau lihat," sahutnya pada pria yang berdiri di sampingnya.

"Tidak meronda?" tanya pria yang ternyata adalah Changmin.

"Seperti yang kau lihat."

"Takut badai, huh?"

"Tidak."

"Jadi?"

"Hanya malas."

Hening sejenak karena Changmin kehabisan bahan untuk membuat adik sahabatnya ini bicara.

"Rambutmu basah."

"Bukan urusanmu!" seru Jongin ketus.

"Dari luar?"

"Tidak."

Lagi-lagi, hanya suara badai yang menggelegar di luar yang terdengar.

"Semua kamar sudah kau periksa?" tanya Changmin lagi.

"Ya."

"Lalu, apa yang belum?"

"Gereja."

"Gereja? Kenapa kau tidak memeriksanya?"

"Malas. Lagipula, hujan."

"Aku temani," sahut Changmin agak ramah setelah mendengar ucapan Jongin yang bisa dibilang 'panjang'.

"Tidak butuh."

"Eh?"

"Aku bisa kesana sendiri!"

"Apa aku boleh ikut kamu meronda disana?" tanya Changmin.

"Terserah."

Changmin mengangguk dan mereka berdua terdiam. Membiarkan badai menggantikan tugas mereka untuk berbicara.

.

.

2:37 a.m

.

Badai sudah reda namun kilat masih menyambar. Jongin dan Changmin berjalan beriringan menuju gereja. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Tak ada suara lain selain suara keciprat air di genangan yang mereka injak. Masih ada yang mengganjal di pikiran Changmin. Namun, ia belum mau mengungkapkannya disini. Tak lama kemudian, mereka telah tiba di depan gereja yang gelap gulita.

"Aneh," desis Jongin. "Gelap sekali."

Jongin maupun Changmin tidak tahu dimana letak breaker untuk menyalakan listrik. Oleh karena itu mereka berjalan pelan memasuki gereja, dan Changmin merasakan ada yang mengalir di lantai.

"Hei, Kim. Apa gereja ini bocor?"

"Tidak. Kenapa?"

"Sepertinya air hujan masuk kemari."

"Tidak mungkin."

Jongin melengos. Ada-ada saja tukang kebun ini, pikir Jongin.

CTARR

Lagi-lagi kilat menyambar dan memasukkan cahaya ke dalam gereja. Untuk sekejap, Changmin dapat melihat air yang mengalir di lantai. Dia yakin itu bukan hujan. Warnanya pekat.

'Tuhan, jangan katakana padaku itu darah,' batin Changmin.

"Ada seseorang disini." Jongin berlari menuju altar. Changmin mengikutinya.

Benar saja. Ada orang lain yang bersimpuh di depan altar. Buruknya, orang tersebut mengeluarkan bau anyir yang sangat tidak sedap. Kilat menyambar lagi, dan kini, kedua pria yang mendekati sosok di altar itu terkejut. Sekilas, mereka bisa melihat siapa sosok itu, termasuk parang yang menusuk mulutnya.

"Pak… Kangta?" seru Changmin tercekat.

Changmin dan Jongin meraba tubuh mayat itu. Ada sebuah pancang yang ditancapkan di tubuh Pak Kangta. Rupanya si pelaku bersikeras ingin menopang tubuh Pak Kangta yang lumayan besar. Rabaan Changmin bergerak menuju tangan yang sedang menengadah. Changmin terkesiap. Sebuah benda kenyal sedang dirabanya saat ini.

"Ini..."

CLOP

Benda itu jatuh dan kilat menyambar lagi. Jongin membulatkan matanya. Ia dapat melihat apa yang baru saja terjatuh.

"Jantung Pak Kangta," desis Changmin.

Lagi-lagi, sebuah pembunuhan terjadi di St. Michael.

.

.

.

Ruang Pak Kangta.

10:11 a.m

.

Berita kematian Pak Kangta cepat tersebar. Gereja ditutup untuk sementara waktu. Lagi-lagi siswa diliburkan. Di depan gereja, Pastur Yesung menangis. Ia tidak terima rumah Tuhannya dijadikan tempat perbuatan dosa keji. Lantai marmer putihnya kini ternoda dengan cairan merah pekat yang telah mengering dan berbau anyir, dan di altar yang biasa ia gunakan sebagai tempat pemberkatan dan pembaptisan, pagi ini berubah menjadi saksi bisu ditemukannya seonggok mayat yang memegang jantungnya sendiri.

Sementara itu, di ruangan ini, Luhan dan Kris menatap kelima tersangka yang berada di hadapan mereka. Kris sedikit uring-uringan karena merasa kehadiran mereka sebagai polisi tidak ada gunanya. Toh pembunuhan tetap terjadi.

"Jadi, menurut info dari mata-mata kami, kalian tidak ada di kamar kalian tadi malam. Apakah ada yang berniat melakukan pembelaan?" tanya Kris.

Hening. Tidak ada jawaban dari para tersangka.

"Baiklah. Jadi kalian mengakui bahwa kalian telah membunuh mereka."

"Saya keberatan." Sehun angkat bicara. "Tidak ada seorangpun diantara kami yang menjadi pembunuh."

"Hm, bisa tolong jelaskan?" tanya Kris.

"Emm… Itu… Hanya merasa kami bukan pelakunya." Sehun tertunduk, menyembunyikan wajah merahnya.

"Cadel," desis Jongin.

"Lagipula, para korban adalah teman kami. Kami sudah seperti keluarga, dan kami, saling menyayangi satu sama lain," sahut Sehun lirih.

"Menurut informasi dari mata-mata kami, kau tidak ada di kamarmu tadi malam. Ia melihat tempat tidurmu kosong. Bisa kau jelaskan dimana kau saat itu?" tanya Kris.

Sehun tertunduk. "Aku ada, tapi tidak tidur di kamarku sendiri."

"Jadi, kau dimana?"

"Di... di kamar Jongin."

Semua terbelalak, kecuali Jongin. Ya, memang semalam Sehun tidur di kamarnya. Mereka juga sempat bermain di sela-sela tugas ronda Jongin.

"Mengapa kau tidur disana?" tanya Luhan.

"Aku hanya butuh teman saja."

"Bukankah Jongin meronda?"

"Ya. Tapi ia sempat kembali ke kamar untuk—" Sehun tidak melanjutkan ucapannya. Wajahnya memerah.

"Untuk?" tanya Luhan tidak mengerti.

"Untuk menemaninya tidur. Ia tidak bisa tidur sendiri jika cuaca buruk seperti tadi malam." Jongin angkat bicara. Ia merasa lelah telah berbicara sebanyak itu.

"Lalu, Oh Sehun, apa yang kau lakukan saat Kim Jongin sedang meronda?" tanya Kris.

Sebelum Sehun menjawab, Jongin sudah terlebih dahulu membuka suaranya. "Jika kau ingin menuduh Sehun sebagai pelakunya, sebaiknya kau harus tahu sifatnya."

Kris terdiam. Cukup mengejutkan mendengar pembelaan dari seorang Kim.

"Hm lalu, Profesor Kyungsoo, menurut mata-mata kami, anda mengatakan bahwa anda telah membunuh Xiumin. Apa benar?" tanya Kris. Kali ini giliran Profesor Kyungsoo yang diinterogasi.

Profesor Kyungsoo tertunduk sebelum menjawab, "Ya. Saya telah membunuhnya."

Semua terkesiap. Mereka tak menyangka, Profesor Kyungsoo membunuh kekasihnya sendiri.

"Aku menyuruhnya menungguku di kamar. Karena itu, dia tewas terbunuh."

Suho tertohok. Ingatannya terhadap Baekhyun muncul di otaknya. Ya, iapun teringat waktu itu ia menyuruh Baekhyun menunggu di kamar dan saat ia menghampiri Baekhyun, kekasihnya sudah tidak bernyawa.

"Mengapa anda menyuruhnya menunggu di kamar?" tanya Luhan.

Profesor Kyungsoo terdiam.

"Sejarah hitam SMA St. Michael terulang kembali, benar kan, songsaenim?" sergah Suho yang membuat seluruh tatapan tertuju pada Eunhyuk yang asik membaca buku di pojok ruangan.

"Huh?"

"Sejarah apa?"

"Minta dia saja yang jelaskan. Karena itu merepotkan." Suho melengos.

"Baiklah. Masalah itu akan kami kesampingkan nanti. Sekarang, kau, Suho. Semalam, kau berada dimana?" tanya Kris.

"Di perpustakaan."

"Kau tidur disana?"

"Jika kau berkata begitu."

Menyiramkan bensin pada api. Sehun mulai gerah pada suasana yang semakin intens. Ia ingin secepatnya pergi dari sana.

"Jadi, kau tidak tidur? Apa kau ke gereja tadi malam?" Kris mulai kesal dengan sikap yang ditunjukkan Suho.

"Tidak."

"Apa—"

"Tunggu," potong Lay. "Kau menduga dia yang membunuh Pak Kangta?"

"Kau ada pembelaan?"

"Suho... Semalam bersamaku di perpustakaan," sahut Lay bohong. Ia tidak ke perpustakaan, melainkan ke tempat lain.

"Kalian sedang apa?" tanya Luhan keheranan. Ia mulai bingung dengan sikap para siswa disini. Ia curiga, jangan-jangan rumor percintaan sejenis memang terjadi di sekolah ini.

"Tidak ngapa-ngapain. Aku melihatnya membaca buku. Sedangkan aku sedang menggambar," sahut Lay.

Suho mengangkat sebelah alisnya dengan heran menatap Lay, namun ia tidak berkomentar apa-apa.

"Apa kau tidak meninggalkan Suho atau kau membiarkan Suho meninggalkanmu?" selidik Kris.

"Tidak." Lay menggeleng. "Bahkan, kami tidak ke toilet semalaman."

Luhan memijat keningnya. Semua saling membela. Akan sulit dilakukan pengungkapan jika seperti ini. Dan yang terburuk dari semuanya…

"Berarti, kemungkinan terbesar adalah kau, Kim Jongin."

Jongin hanya memasang wajah datarnya.

"Tunggu!" seru Sehun. "Kalian mencurigainya melakukan pembunuhan karena dia sering meronda dan tidak ada di tempat?"

"Ya. Dia sering menghilang terutama setelah Tao menghilang." Kris berkata dengan nada skeptis. Seolah-olah memang Jongin-lah pelakunya.

"Tidak. Dia tidak kemana-mana. Dia bersamaku," sahut Sehun mantap.

Jongin menepuk dahinya. Pembelaan yang manis namun bodoh.

"Kalian sedang apa berdua-duaan?"

"Ck. Semuanya menyebalkan," sahut Jongin yang tidak menjawab apapun. Justru menambah daftar pertanyaan di benak para hadirin yang ada di ruangan itu. "Kalian berprasangka berdasarkan info mata-mata kalian kan?"

"Ya. Kenapa?" tanya Luhan dingin. Sebenarnya Luhan membenci ini, tapi ini profesionalisme. Tak boleh ada perasaan antara tersangka dan oknum kepolisian.

"Kalian tidak mencurigai mata-mata kalian?" desis Jongin.

"Maksudmu?" Luhan memicingkan mata menatap mata adiknya.

"Kau mengerti maksudku, Luhan-ssi." Jongin menyeringai.

'Luhan-ssi'? bukan 'Hyung'? Luhan melengos. Profesionalisme, huh?

"Jika kau mencurigai orang kami, kami akan panggilkan dia." Luhan keluar sejenak, dan saat kembali, ia bersama dengan seseorang yang mereka kenal sebagai tukang kebun.

Semua terkejut. "Cha-Changmin-ssi?"

Changmin hanya mengangguk.

"Dia adalah anggota kami."

Hampir semua tersangka mengangguk. Kecuali satu orang. Ya, pemuda yang menjadi dalang semuanya ini justru tersenyum. Ia merasa menang. Ia sudah menargetkan bahwa orang ini adalah sasaran berikutnya.

Sementara itu, seorang pemuda lain yang berdiri di belakangnya memandangnya heran.

"Ke-kenapa?"

.

.

.

To be continued

.

.

Maaf kalau masih ada typo(s).

Terimakasih atas reviewnya di chapter kemarin. Sangat panjang. Aku bisa mengira kalau itu short story kalau tidak berada di kotak review. Wkwkwkk.

Terimakasih atas dukungannya selama ini. Dan tidak lupa ucapan terimakasih untuk author cerita ini yang berbaik hati mempersilahkan fanficnya untuk di remake. Ingat, cerita ini sudah mendapat ijin dari authornya, jadi jangan ada yang copas tanpa persetujuan authornya ya.

Mind to review? ^^