03/22/2014
-Kiss The Baby Sky chapter 7-
The 7th chapter is here. Thx lagi untuk semuanya yg sudah baca/mengikuti/menunggui. Real much appreciated. Ada yang mau nyumbang-nyumbang ide maunya Junsu diapakan, idenya bisa dishare/request ke author by review/pm. Akan saya selalu usahakan untuk bisa dikontribusikan kedalam cerita ya. Please review for any feedback/comment. Enjoy!
Coffee Shop Junsu 15:05
Seorang pria tampan mengenakan sweatshirt putih, jeans biru santai, dan kemeja kotak-kotak yang diikatkan ke pinggangnya terlihat sedikit tergesa membuka pintu masuk dapur belakang café. Sedikit keringat masih terlihat sekilas di wajahnya, hasil melayani pelanggan seharian sejak pagi tadi.
"yeoboseyo. Kim Junsu imnida" sapanya ramah ditelepon setelah menyentuh handphone yang sedang berdering itu sekilas. Dalam satu detik setelah ia mendekatkan handphone itu ditelinganya, air muka nya langsung berubah derastis. Sangat derastis. Junsu tercengo sebentar sambil berjalan menuju pojokan dapur dan bicara dengan hati-hati. Sejak mengangkat telepon itu ia terjebak didalam dunianya sendiri, tidak menyadari 2-3 orang lain yang berada di ruangan itu juga, termasuk Changmin yang sedang membuat kue-kue untuk kedua kalinya di hari ini. Mata Changmin langsung mengikuti Junsu yang bertingkah aneh sejak ia masuk kesini. Lalu matanya pun ikut terbelalak saat temannya itu berkata dengan hati-hati disudut ruangan, masih dalam percakapan teleponnya – "ah ne, abeoji" Changmin pun segera menghentikan aktivitasnya, mencuci tangan dan meminta tolong Hyewan- salah satu asistennya untuk menggantikannya memoles berloyang-loyang macam-macam kue itu. Seperti ditebak, Changmin langsung berpindah menempel ke Junsu, mendengarkan apa yang temannya bicarakan
"ah ne appa….." ucap Junsu lemas. Menyadari kehadiran Changmin ia pun mengibas-ngibaskan tangannya –menyuruh ia menyingkir dan berpindah ke sudut lain. Tapi tetap saja yang namanya Changmin –tetap sangat ingin tau dan tetap mengikutinya
"mianhae abeoji, jeongmal mianhaeyo.. " ucap Junsu. Changmin masih mendengarkan
"huff, baiklah aku ke kantor sekarang appa" Junsu sekali lagi mengehela nafas panjang
"apa? Appa dimana? Didepan?" ucap Junsu setengah berteriak, baru tenang sebentar Junsu kembali membelalakkan matanya dan langsung bergegas menuju pintu keluar dapur dalam 1 detik, dengan Changmin masih mengekor
"appa!" ucap Junsu cukup keras saat melihat sosok Manager Yoo dan ayahnya –Kim Yunho masih dengan pakaian kerjanya sudah muncul di depan daerah pick up minuman, jadi mereka langsung bertatapan satu sama lain saat Junsu baru membuka pintu sambil masih memegang telepon
Junsu menaruh asal handphone nya di kantong dan langsung keluar mengahampiri ayahnya langsung. Dalam hati ia mengumpat kecil, hari macam apa ini, kenapa kejutan datang bertubi tubi dengan tiba-tiba!
"appa apa yang kau lakukan disini!" refleks Junsu menyapa dengan nada agak tinggi
"ya Kim Junsu! Apakan begitu cara kau menyapa ayahmu hah?" Yunho ikut naik pitam, membuat Junsu tersadar –ia memang tak bermaksud, ia hanya panik melihat ayahnya langsung muncul disini. Ia hanya ingin cepat-cepat membawa nya keruangan private, bukan didepan umum begini, takut ayahnya akan berbuat lebih.
"ah mianhae appa…." Junsu membungkuk dan mengeluarkan sedikit aegyo nya lagi, meluluhkan hati Yunho "lama tidak bertemu appa! Aigoo maafkan aku" ucapnya seraya memeluk Yunho sekilas, membuat ayahnya kembali tersenyum
"appa ayo kita keatas! Kita bicara diruanganku" Junsu langsung hendak menyeret manager Yoo dan ayahnya keatas, tapi ayahnya menahan
"ya, kenapa buru-buru! Aku sedang memesan minuman. Dan lihat, ada Changmin juga!" jawab Yunho menunjuk Changmin
Changmin pun tersenyum sumringah; akhirnya ada juga orang yang menyadari kebedaraannya sejak tadi. Junsu tentu saja tidak mengingat kehadiran Changmin dari tadi, padahal pria ini terus mengekorinya
"ah ahjussi annyonghaseyo" Changmin membungkuk sopan
"ye annyonghaseyo changmin, apa kabar?" Yunho menangguk dan menepuk bahu Changmin sekilas
"baik ahjussi, ahjussi apa kabar? Hehe" mereka berjabat tangan
"baik juga baik…." Jawab Yunho ramah
Junsu makin tak tahan melihat ayahnya masih ber ramah-tamah disini.
Setelah 2 capuccino nya jadi, buru-buru ia menyeret appa nya dan manager Yoo, bonus Changmin juga keruangan kerjanya di lantai 2
Junsu pun menjelaskan semuanya dari awal lagi. Ayahnya hanya bisa menghela nafas panjang sambil menggeleng-geleng kepala. Junsu sudah siap-siap mau berlutut di hadapannya ayahnya, tapi ditahan manager Yoo atas instruksi Yunho
"mianhaeyoo appaaaa" ucap Junsu untuk kesekian kalinya
Yunho melihat kembali wajah putranya ini –dalam hati ia kesal, tapi setiap melihat wajah Junsu ia tidak bisa menolak untuk kembali luluh dengan tatapannya- mata yang sedikit banyak mirip dengan mata ibunya.
"Kim Junsu, pulanglah. Kau sudah melakukan keinginanmu kan? Sekarang pulanglah, jebal" ucap Yunho pelan setelah sebelumnya terus memijat-mijat dahinya
Dalam hati ia terus berpikir –apa yang salah dalam caranya membesarkan Junsu. Ia anak yang sempurna dan pintar –bahkan terlalu pintar sampai bisa mengelabui ayahnya sendiri. Ia selama ini membiarkan Junsu berjalan-jalan tulus memberi Junsu kesempatan menghabiskan masa mudanya. Karna Yunho sering berkata pada Junsu, seorang pria dewasa setelah kuliah, harus bekerja dan tidak bisa main-main lagi, harus membangun keluarga, harus bertanggung jawab. Yunho merasa terlalu membebani Junsu di masa mudanya, maka itu ia memberikan kebebasan selama ia masih mampu mengemban tugas kantor sendiri- untuk Junsu hidup bebas. Tapi ternyata inilah jalan yang ditempuh Junsu untuk mewujudkan keinginannya yang tertahan.
Junsu pun packing seadanya dulu dari apartemen dan tiba dirumah nya di sore hari –setelah negosiasi panjang dengan appanya. Para pelayan pun ikut senang melihat kehadiran Junsu lagi –tentu saja hampir semua orang menyukai tuan muda mereka yang satu ini, juga merindukan suasana rumah yang lebih ramai dan hidup –yang akan tercapai dengan kehadiran Junsu disini. Mereka menyambut Junsu ramah begitu juga Junsu yang juga merasa senang bertemu wajah-wajah yang sudah seperti keluarganya juga.
Junsu pov
Huaaa kembali kerumah! Pikirku saat menepakkan kaki turun dari mobil. Manager Yoo menurunkan 2 koper besarku yang berisi baju dan barang penting lainnya. Sisa barang-barang di apartemenku baru akan dipindahkan besok-besok, menyusul.
Aku melangkah masuk ke tempat yang sangat familiar ini. Hmmmm bau dan suasananya masih sama persis seperti terakhir kali aku meninggalkannya. Aku langsung berlari-lari kecil mengitari rumah –bersemangat mencari-cari apa yang berbeda disini. Mulai dari dapur, ruang makan, taman, kamar appa, kolam renang, lapangan rumput, masuk lagi ke library, ruang baca, ruang main, kamar tamu, kamar kerja appa, lalu tepar di kamarku –kecapekan (salah sendiri Junsu, hahahahah). Saat mampir ke kamar kerja appa, aku menengok sekilas melihat appa sedang baca buku di sofanya. "appa" panggilku. Appa menengok sekilas "ne", aku pun langsung bergegas masuk, dan langsung terkesima dengan perubahan yang mencolok di ruangan itu. Huaaa foto besar di dinding sudah diganti dengan foto terbaru –foto graduation masterku beberapa bulan lalu, di Antwerp bersama appa. Aku mengambil tempat disamping appa, sofa yang berhadapan langsung dengan foto itu
"huaaa appa cepat sekali menggantinya! Sudah foto terbaru!" ucapku sambil ketawa-tawa sambil terus memandanginya.
"neee sudah lama Junsu-ya, foto ini sudah dipasang sejak tahun lalu" jawab appa
"hehe mianhae appa" balasku sambil tersenyum senyum sedikit, makin nyaman menyenderkan badan di sofa ini. Uuuuh badanku pegal-pegal seperti baru melalui 7 hari 7 malam belajar di exam week, apa saja yang kulakukan ya akhir akhir ini, badan terasa rontok sekali. Kutemukan posisi nyaman tiduran di sofa appa. Ohh rumah ini, memang tempat paling nyaman untuk beristirahat! Baru menutup mata sebentar, appa seakan tahu keadaanku langsung berkata
"istirahatlah di kamarmu Junsu, mandilah, tidur sebentar"
"emmm iya appa" aku pun malas-malasan bangun sedikit-dikit. Benar kata appa, bisa2 kebablasan tidur sampai pagi disini.
"baiklah appa, aku dikamar ya. Annyong" ucapku seraya berjalan guntai keluar "ne, annyong" balas appa
Kamarku dan kamar appa tidak jauh, sama-sama di lantai 2 rumah.
Pov Junsu ends
Junsu membuka pintu kamar itu. Masuk dengan perlahan. Menebar pandangan hingga kesudut-sudutnya. Ia tersenyum tipis. Tidak ada yang berubah, hingga setiap detailsnya pun tak ada yang berubah sejak terakhir ia meninggalkannya. Kamar itu cukup luas (bukan luas lagi sih sebenarnya), dari pintu masuk terlihat sofa diatas karpet, ada juga meja belajarnya dan rak buku dibelakangnya, Junsu menempati kamar ini sejak dulu. Saat ia kecil ia sering tidur-tiduran dan main di area yang full berkarpet ini. Masuk terus dari situ, telihatlah kamar tidurnya, ranjang king size besar modern, tv led besar didepannya, dan sebuah grand piano hitam disebelah depan kiri ranjang –satu lagi hobby lain Junsu, bermain piano. Dari ruang tidur itu ada banyak pintu, satu pintu kekamar mandi, satu pintu ke walking closet dimana terjejer semua lemari pakaiannya, satu pintu ke balkon yang mengarah view ke lapangan rumput dibelakang rumah dibawah- tempat ia berlatih sepak bola, dan sebuah tangga kecil keatas tepat di sebelah kiri ranjang –dimana diatas ada sebuah rooftop taman tempat ia bersantai.
Ini baru kamar Junsu, jadi bisa dibayangkan kan semewah apa bagian lain rumahnya?
Junsu yang melihat ranjang di depan matanya langsung membuang badannya ke ranjang itu. Dihirupnya bau bed cover itu. Hmmmm bau ini adalah yang terbaik untuk membuatku ngantuk..! Pikirnya. Junsu berguling-guling sejenak sambil menutup mata. Sampai akhirnya ia pun terlelap sendiri dalam tidurnya
-TBC-
Maaf ya update sedikit, udah malam author baru mulai soalnya. Lanjut besok lagi. Thank you for visiting!
