Desclaimer : Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki Sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman – teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.
Warning : Bahasanya kasar! YAOI, OOC/Typo bisa jadi, konyol, nggak jelas, humor garing, dan banyak lagi :D.
.
AoKaga
"Malam Minggu AoKagazone : Jarak"
By : Zokashime
O
o
O
o
O
Aomine membuka kelopak matanya, mempertemukan bola navy dengan udara pagi sekitar pukul 11.00, jangan ada yang protes! Baginya bangun pukul 11.00 di hari libur itu masih terbilang pagi. Ia berkedip - kedip, kemudian menarik kedua tangannya ke atas, menggeliat.
Setelah itu, Ia menghadap wajah mahluk di sampingnya. Memperhatikan si kekar polos yang masih tertidur pulas dengan intens. Tangan dan kaki putihnya memeluk guling. Alis cabangnya jelas terlihat karena rambutnya yang terkesiap ke belakang, ditambah deruan napasnya yang seirama.
"Baka, bangun," ucapnya sambil menarik hidung mancung Kagami.
"Mmmhhh..." Erang sang empu kemudian mengeratkan pelukan gulingnya.
Aomine menyerngit tipis. Seingatnya, selama ia kenal dan sering tidur bersama, baru kali ini ia bangun lebih dulu. Dan hari ini, tumben sekali Kagami belum bangun. Yang ia tau, di jam sekarang ini Kagami sudah selesai membuat sarapan, sudah membersihkan apartemen, sudah mandi.
Jadi, saat ia bangun, sarapan sudah tersedia di meja, dan dengan senang hati ia menghabiskannya. Ruangan sudah harum dan ia tinggal duduk manis sambil bermain game. Ujung - ujungnya Kagami menggeretnya ke kamar mandi, karena Kagami tidak suka dengannya yang belum mandi sejak kemarin pagi, sedangkan ia dengan keras kepalanya menolak, akhirnya perang dunia ketiga dimulai.
"Baka, oi! Bangunnnn..." Aomine bersuara lagi kali ini sambil mengacak surai merah itu.
"Ck!" Decak Kagami yang tidak suka. Kemudian ia berbalik membelakangi Aomine.
Yang di belakangi hanya mengerucut sebal. Apa – apaan! Ia berniat baik membangunkannya malah diberi punggung, tidak sopan sekali. Sambil memasang tampang pemikir, sepertinya ia tau mengapa Kagami belum mau bangun, itu karena acara laknat semalam, apalah namanya, Valentine's Party. Mereka begadang sampai pukul 05.00 pagi.
Ugh. Namanya juga Aomine kampret Daiki, sudah mengerti bukannya membiarkan Kagami tidur, malah semangat menjailinya. "Bangun...bangun...bangun..." Serunya, tidak lupa jari telunjuk tak berdosa itu digerakkan untuk mencolek - colek bagian yang bisa membuat empunya kegelian. "Bangun nggak lo."
"Aoooo! Arrghgg!" Kagami menyingkirkan jari itu dari pinggangnya.
Aomine hanya terkekeh. "Oke janji nggak ganggu lagi, tapi pinjem hp."
Kagami tidak menghiraukan dan melanjutkan tidurnya. Aomine tidak suka, sama sekali tidak suka.
"Bakaa...pinjem hp buat buka internet," ucapnya tepat dilubang telinga Kagami.
Kagami lagi - lagi harus mengelus dada, 'Ya Tuhan tolong pindahkan ia ke apartemennya' doa Kagami pagi ini. "Hp lo ke mana?" Tanyanya dengan mata yang masih tertutup rapat.
"Kuota abis, hehe.."
Tidak membalas, Kagami langsung memberikan hpnya kepada Aomine. Dan si navy menerimanya dengan girang. "Oke, lo tidur yang nyenyak ya. Sini gue selimutin, kurang baik apa coba gue ini, Baka," ocehnya.
.
.
30 menit berlalu, Aomine masih berselancar di dunia maya. Sedangkan Kagami hanya bisa tidur ayam, karena mulut setan dim itu tidak mau diam. Ia mengoceh sendiri seperti : Oh, gitu, ya? ; hah? Kok bisa? ; emang, iya? ; baru tau gue ; sesekali terkekeh ; dan lain sebagainya.
Dengan tidak puas akhirnya Kagami membuka mata, kemudian menegakkan tubuhnya. "Ao berisik! Lo lagi ngapain sih!?"
"Eh...bangun. Gue lagi nyari pengertian seme dan uke, Baka."
"Apa'an itu? Makanan?" Tanya Kagami antusias.
"Bukan!"
"Terus? Apa tentang Mai-chan?"
"Bukanlah! Ternyata ini tentang perhomoan."
"What!?"Semburnya tepat diwajah Aomine. "Homoan? Yang laki sama laki pacaran, kan?"
"Sial!" Umpatnya. "Iyalah! Gue sumpahin lo bodoh seumur hidup, Baka. Jangan pura - pura sok nggak tau."
"Oke. Terus artinya apa'an?"
"Seme itu di atas dan uke di bawah."
"Maksud lo mereka berantem?" Tanyanya sambil menyerngit.
"Iya, berantem diranjang."
"Perasaan kita sering deh berantem kayak gitu. Berarti kita homo, gitu?" Kagami bergidik. "Salah ketik kali yang buat pengertian, gue nggak homo."
Aomine speechless mamandang Kagami. Ntah karena efek kurang tidur atau kurang makan, yang pasti satu hal, ia ingin membuang Kagami ke laut. "Berantemnya bukan kayak kita. Tapi si seme nindih dan ukenya pasrah."
"Kita juga pernah. Waktu gue nindihin lo, dan lo pasrah."
"Sumpah! Itu kita lagi gulat ya, Baka. Dan lo dengan tidak tau dirinya cekik leher gue sampe mau mati!"
"Berarti salah dong yang buat pengertian."
Aomine menghela napas panjang. "Gini deh. Kalau normalnya, seme itu berperan sebagai cowok, sedangkan uke berperan sebagai cewek, udah ngerti?" Jelasnya. "Nah, nanti kalau kita pacaran gue semenya, dan lo uke," ucapnya dengan percaya diri tinggi.
"Hah!? Najis. Mati lo sana, homo!" Umpat Kagami setelah mengerti. Ia kembali menarik selimut dan menenggelamkan diri di dalamnya.
Aomine hanya senyum - senyum sendiri. "Bercanda, weh! Gue masih cinta mandangin gunung," katanya. Ia meletakkan hp di samping Kagami, dan kemudian lari ke kamar mandi, karena perutnya yang semakin memberontak.
Kagami tertawa nista di dalam selimut. Si navy itu jika sedang BAB bisa menghabiskan waktu lama, jadi bisa ia manfaatkan untuk tidur. Jujur ia masih sangat ngantuk. Ia menutup matanya perlahan.
.
.
Tapi dua menit kemudian, perempatan imajiner tumbuh diseluruh tubuh Kagami. "Arrrggh!" Geramnya. Ia melirik benda yang ada di sampingnya, berisik sekali. Hp itu sedari tadi tidak bisa diam.
Dengan ogah dan mata ngantuk ia mengambil hpnya dengan kasar. Dan ia harus terheran – heran, karena banyak sekali pesan diaplikasi BBMnya. Ia membuka pesan - pesan itu dan membacanya, seketika itu juga ia langsung gemetar. Kagami bersumpah! Akan pergi ke planet mars setelah ini, di mana tidak ada mahluk bernama AOMINE DAIKI! Menyebalkan!
"Yah, Sayang. Ganteng - ganteng kok homo!"
"Kyaaaaa...Kagami uke?"
"Serius nih, uke? Tampang macam lo, uke?"
"Kaga-kun, uke? Semenya siapa?"
"Semenya Aomine ya, Kagami?"
"Cieee uke cieee...semenya Aomine ciee..."
"Pergi dari bumi ini kau pendosa!"
"Mati lo!"
Itulah beberapa pesan yang Kagami baca, yang lainnya langsung dihapus. Kagami menelan ludah panas dingin. Imagenya benar - benar hancur sekarang.
'GUE HOMO DAN GUE UKE!' Begitulah status yang tertulis diBBMnya, dan pelakunya adalah, "AHOMINE...!" Teriaknya kuat.
.
.
.
Itulah kebersamaan Aomine dengan Kagami di hari minggu yang lalu. Dan sekarang ia hanya bisa guling - guling ditempat tidurnya sambil terkekeh sendiri mengingat saat ia membajak hp Kagami. Setelahnya Ia mendapat amukan dari empunya, tentu saja. Mereka perang dunia keempat, dan masalah selesai ketika ia mengajaknya ke Majiba untuk memenuhi hukuman kalah one-on-one. Tepat pada malam senin Kagami meninggalkannya, ia pulang ke Amrik atas permintaan sang ibu yang sedang sakit.
Aomine berhenti terkekeh, sekarang malah memasang wajah lesu berlipat. Ternyata sudah mau satu minggu Kagami di Amrik, sudah enam hari ia hidup tanpa si Bakanya, sudah 144 jam ia tidak melihat manusia krimson itu.
Dan selama itu juga ia tidak melakukan ritual wajib baik makan di Majiba maupun bermain basket, semuanya membosankan tanpa Kagami, sahabat tersayangnya. Ditambah ia dan Kagami sangat jarang berkomunikasi. Mungkin Kagami sedang sibuk mengurus ibunya yang sakit, atau ia sudah dilupakan.
Teman - teman pelanginya di sekolah juga sampai keheranan, satu minggu ini Aomine minim bicara. Wajahnya selalu ditekuk, bahkan ia bisa tiga kali lipat lebih sewot dari gadis labil sedang PMS, jika ada yang membuatnya tidak nyaman.
Contohnya : hari kamis kemarin, saat itu, sensei jam pelajaran ketiga, yaitu pelajaran Kimia yang kebetulan minim rambut alias botak sedang serius menjelaskan tentang teori ikatan kovalen dan non kovalen. Tapi Aomine dengan santai malah bermalas - malasan sambil meletakkan kepalanya dimeja, melamun, senyum - senyum, jika sekarang ia sedang syuting film, ia sungguh berbakat memerankan orang gila.
"Aomine-kun! Tegakkan tubuhmu, dan perhatikan papan tulis!" Bentak sensei Kimia itu dengan geram.
Aomine terhenyak dan sangat tidak suka, ia bangun dan menciptakan tatapan death glare kepada sensei itu. "Sudahlah! Sensei diam saja! Sensei tidak mengerti dengan perasaanku saat ini!" Ia membalas bentakan sang sensei lebih kuat.
Sensei Kimia tiba - tiba sakit jantung. "Kau ini sudah salah, malah memerintahkanku untuk diam!" Balas sensei tidak terima.
Semua murid tegang melihat teman dan senseinya berebut omong. Sedangkan Aomine mengerutkan kening, ia juga tidak terima. "Ha? Aku salah?" Ucapnya sambil menunjuk diri sendiri. "Cih! Salahkan kepala botakmu itu, sensei!" Lanjutnya.
Semuanya speechless, sang sensei malah sudah mati berdiri. Akibat kelakuannya itu, ia dihukum berlari keliling lapangan sekolah sebanyak 10 kali putaran.
.
.
"Ck!" Decaknya kesal, mengingat sensei botak itu.
Malam minggu kali ini ia hanya sendirian di kamar. Tidak ada yang membuatnya tertawa, tidak ada sasaran kejahilannya. Ia sudah mencoba menonton tivi tapi sama sekali tidak mengusir kebosanannya. Membaca majalah Mai-chan, sempat terkekeh tapi hanya sepersekian detik, kemudian majalah itu dilempar kesembarang arah. Main PS, tapi ternyata ia selalu kalah, dan itu malah membuatnya semakin kesal. Mau main basket ke lapangan, tapi tubuhnya tidak bisa diajak bermusyawarah, sangat lemas. Ya. Tapi, tapi, tapi, dan tapi, terlalu banyak tapi malam ini.
Dilihatnya jam dengan enggan. Ia menyerngit, tidak tau jam dindingnya error, waktu berubah bergerak lambat, atau dirinya yang terlalu suntuk. Perasaan sejak tadi masih saja menunjukkan pukul 08.00
Tolonglah! Malam cepat berubahlah menjadi pagi. Si Baka bilang, ia akan pulang ke Jepang hari selasa. Yah! Aomine tidak sabar menanti hari itu.
Tunggu dulu, sepertinya ia belum mandi hari ini. "Ah! Malesnya mau mandi," gumamnya kecil. Seketika itu juga ia langsung bangkit dari zona tidurannya, bukan untuk pergi ke kamar mandi, tapi untuk mengendus kedua ketiaknya. "Masih harum kok," desisnya. "Lagian gue nggak mandi juga udah ganteng." Ia kembali menjatuhkan diri, menenggelamkan kepalanya ke dalam bantal.
Drrrdddd...
Hpnya bergetar keras, dengan antusias ia membalikkan tubuhnya, mengambil benda yang sedang bergetar itu. Senyuman tipis tercipta dibibirnya.
.
.
"Arghhh! Sialan! Kirain si Baka," umpatnya, setelah membuka pesan masuk senyum lenyap tak berbekas, ternyata hanya pesan dari operator yang mengingatkannya agar segera melakukan isi ulang pulsa.
Dengan cepat ia mengecek pulsanya, dan setelah dicek wajahnya semakin tak beraturan, jika Kagami melihat penampakkan ini pasti dia akan mengejeknya habis - habisan. Karena ia sekarang hanya mempunyai pulsa 0 (E-N-O-L) tidak lebih tidak kurang.
"Ck! Gara - gara si Baka nih," gumamnya. Sebenarnya baru kemarin ia mengisi pulsa, tapi karena bosan bin kesal ia tidak henti - hentinya internetan ; browsing, streaming, bermain game online, mendownload aplikasi tidak penting, dan lainnya. Lihat, sekarang pulsa yang lumayan nominalnya itu ludes. Dan lagi, dari kemarin ia sama sekali tidak mendapat pesan dari Kagami apalagi menelpon. Oke, ia tau Kagami sibuk tapi, masa sahabat terbaik, terkece, tersexi ini dilupakan begitu saja. Kagami benar - benar tidak sopan. "Liat aja lo pulang nanti, Baka. Gue kasih pelajaran!" Ancamnya bersemangat. Lalu bangkit dan berlari keluar kamar, menuju ruang makan.
.
.
"Ibu?" Panggilnya sambil duduk dikursi. Tidak lupa tangannya mencomot lauk sang ibu yang sedang makan bersama sang ayah. "Pinjam hp."
"Daiki tidak sopan!" Ayahnya berkomentar.
Yah. Namanya juga Aomine, ia dengan tidak tau dirinya mengabaikan protesan sang ayah.
"Hpmu ke mana? Ibu tadi memanggilmu untuk makan malam tidak kau jawab, ibu kira sudah tidur," jelas sang ibu disela mengunyah.
"Ha? Memang iya? Aku tidak mendengar sama sekali," sambil mencomot lauk lagi. "Mana hpnya?"
Belum juga ibunya mengizinkan, Aomine sudah mengambilnya duluan. Ayahnya hanya mendelik melihat kelakuan putra semata wayangnya. Mendadak sakit kepala, untung hanya punya satu Daiki, bagaimana kalau 10?
"Aku mau mengirim pesan kepada Satsuki."
"Hem. Terserahmu. Kau tidak makan malam?" Tanya ibunda Aomine Hikari.
"Kenyang," jawabnya singkat.
"Kagami-kun belum pulang?" Kali ini ayahnya yang bertanya.
"Belum. Katanya sih hari selasa. Kenapa ayah bisa tau?" Sambil menatap ayahnya penuh tanda tanya. Seingatnya, sang ayah sama sekali tidak pernah mengurusi hal spele anaknya macam ini. Apalagi sampai bertanya soal Kagami.
"Ibumu yang cerita. Karena kelakuanmu aneh ditinggal oleh Kagami-kun," ucapnya dibarengi dengan tertawa kecil.
"Ayah dan ibu jangan sok tau." Ia meletakkan kembali hp ibunya, kemudian berdiri dan meninggalkan mereka berdua.
.
.
Aomine menyeringai setelah masuk ke dalam kamar, tidak lupa mengunci pintu. "Tiga..." Ia mulai menghitung mundur, "dua...sa...tu."
"DAIKIIII...!" Teriak sang ibu di bawah.
Aomine mencak - mencak gembira, karena ia baru sadar ternyata ia cerdas, bukan hanya cerdas tapi sangat cerdas karena ia telah berhasil menstransfer pulsa sang ibu kehp miliknya. "Aomine ganteng Daiki, lo cerdas," katanya menyombongkan diri.
Ia mendaratkan bokongnya disofa dengan tersenyum, masih tidak percaya akan kecerdasannya, tidak sabar ingin menceritakan semuanya kepada Kagami pasti si bodoh itu akan memujinya. Tidak pikir panjang jarinya sudah menari dilayar hp.
To : Baka
Lo lagi sibuk, nggak? Perasaan dari kemarin nggak ngabarin gue. Lupa ya sama temen.
'Send'
Drdddd...
From : Baka
Kebetulan sekarang, enggak. Iya maaf Ao, gue baru aja pegang hp. Alay lo!
Aomine nyengir membaca balasan dari Kagami.
Gue mau nelpon, ya.
Ha? Punya pulsa gitu?
Bangsat lo! Punyalah. Emang lo doang yang punya pulsa.
Alah! gue nggak percaya.
Sial! Gue mau cerita, pasti lo nggak bakal percaya.
Cerita apa?
Makanya, gue mau nelpon.
Iya udah telpon aja.
Tidak membalas pesan Kagami lagi, ia langsung menekan tombol nomor 2 yang sudah disetting sebagai panggilan cepat untuk kontak Kagami. Sedangkan tombol nomor 1 untuk kontak ibunya.
Tak usah menunggu berdetik - detik, ia langsung mendengar suara Kagami ketika telpon tersambung.
"Ciee...punya pulsa," hal pertama yang Kagami ucapkan, setelah satu minggu mereka tidak mengobrol.
"Setan! Sahabat yang baik itu harusnya nanyain kabar atau bilang gue kangen sama lo, ini belum - belum udah ngeledek!" Oceh Aomine.
"Sahabat yang baik itu udah pasti tau sahabatnya di sana baik - baik aja. Jadi, ngapain harus nanyain kabar lagi. Sayangnya, gue nggak kangen sama lo, Aho."
"Tapi gue kangen lo, Baka," ucapnya parau. "Gue di sini malem minggu sendirian. Cepetan pulang."
"Hahaha..." Tawanya kencang. "Suara jelek lo itu, nggak akan berpengaruh sama gue. Mmpuss lo! Emang enak. Kan rumah gue di sini, ngapain pulang ke sana."
Hening.
Sangat hening.
Tidak ada jawaban disebrang sana.
"Ao?" Panggil Kagami. "Kok diem."
Hening.
"Hallo..."
Hening.
"Oke, Ao. Nggak lucu lo ngambek!"
"Gue serius tau," akhirnya Aomine mengeluarkan suaranya lebih parau.
Kagami terkekeh. "Iya, gue tadi cuma bercanda. Tapi kalau yang nggak kangen lo, itu jujur dari dalam hati."
Hening.
Hening.
"Sialan! Iya, iya gue juga kangen sama lo, puas!? Pasti lo salah makan lagi, ya," Kagami geli sendiri.
"Hahah..." Tawa Aomine meledak. "Akhirnya kena juga lo, katanya nggak akan berpengaruh."
"Ck! Sialan!" Kagami uring - uringan dijauh sana. Aomine yang mendengar merasa menang.
"Tapi serius, Baka. Cepetan pulang, gue nggak mau malem minggu sendirian."
"Halah! Katanya bosen malem mingguan sama gue terus. Minggu lalu lo bilang gitu, kan?"
"Bosen kalau liat dan deket lo, tapi kangen kalau jauhan gini. Ohya, gue kan mau ceri-"
"Aho, udah dulu ya telponnya. Nanti gue yang telpon sekitar jam setengah 10. Gue ada urusan, daaahhh."
Tutttttt...sambungan terputus.
Aomine kembali mengerucut, baru juga mau bercerita. Kenapa kesibukan tega mengambil Kagami darinya. Ia pastikan suatu saat akan mengeksekusi kesibukan itu.
Setengah 10 dan sekarang baru pukul 9 tepat, setengah jam lagi ia harus menunggu Kagami. Ia mengangguk - angguk sambil mengotak ngatik hpnya, memperbesar volume ringtone telpon, setelah selesai ia meletakkan hp itu dimeja. Kemudian melangkahkan kakinya mengambil majalah yang sempat ia buang. Sekarang ia khusuk memandangi dada sang idol. "Wow!" Gumamnya dengan mata yang hampir keluar. "Mau pegang," lanjutnya. Ia melirik jam dindingnya. "Lewat satu menit."
Lihat majalah. Lirik jam. Lihat majalah. Lirik jam. Lihat majalah. Lirik jam. "Aaarrrrghh...lamaaaa, baru lewat 7 menit. Kapan setengah sepuluhnya!?" Teriaknya, melempar kembali majalah tak berdosa itu. Ia sudah tidak sabar ingin menceritakan tentang kecerdasannya kepada Kagami.
Bosan melanda kembali hidupnya, lalu ia mencoba untuk olahraga ; melakukan push up, shit up, loncat tinggi, sampai peluh bercucuran.
Kryukkkk! Perutnya berbunyi keras. "Laper.." Rengeknya. Sebelum turun ke bawah ia sempatkan dulu untuk melirik jam. "Lewat 10 menit." Dengan kecepatan tak tertandingi ia melesat ke ruang makan. Dan ia akan berlama - lama di sana.
.
.
.
"Oh...pencuri pulsa sedang makan, ya? Katanya tadi kenyang," sindir sekaligus ejek sang ibu yang membuka kulkas untuk mengambil air minum.
Aomine hanya nyengir sambil melahap udang gorengnya. "Cerdaskan anakmu ini? Kan tadi, sekarang beda."
Ibu Aomine hanya menyipitkan mata. "Yaya. Cerdas sekali Daiki ibu. Sa...ngat bangga," ucapnya mendekati Aomine.
Mata Aomine berbinar - binar, ia langsung menegak air minumnya dan berdiri. "Benar, kan!?" Teriaknya. "Ganteng dan cerdas itulah aku," cup! Aomine mencium pipi sang ibu untuk kemudian lari menuju kamar.
Aomine Hikari hanya bisa bengong, baru sadar ternyata putranya mempunyai IQ di bawah rata - rata. Ia tadi memuji untuk mendekatinya supaya bisa menjewer telinga Aomine, agar perbuatan itu tidak diulangi. Tapi ternyata putranya malah gembira luar biasa. Ia sakit kepala, sungguh.
OoOoOoOoOo
Aomine berteriak – teriak di dalam kamarnya, tidak menyangka ibunya akan memuji seperti tadi. Ugh. Semakin tidak sabar ingin bercerita kepada Kagami. Ia melirik jam lagi ternyata masih kurang lima menit.
Ia menyomot hpnya dari meja sambil bersiul – siul. Ia manfaatkan waktu sebelum Kagami menelpon untuk bermain game, dan saat itu juga matanya hanya berkedip – kedip, mendapati ada lima panggilan tidak terjawab dari sohibnya. "Katanya mau telpon jam setengah sepuluh, gimana sih!" omel Aomine kesal. Tidak pikir ini itu ia langsung menelpon balik. "Ck!" decaknya, ternyata yang mengangkat telponnya adalah seorang gadis yang memperingatkannya untuk menekan tombol 1 jika akan meninggalkan pesan. "Sekarang nomornya nggak aktif."
To : Baka
Belum jam setengah sepuluh, lo kok udah nelpon sih! Gue tadi lagi makan di bawah, sorry nggak keangkat. Sekarang nomor lo nggak aktif, lo ke mana?
'send'
Aomine melempar hpnya ke atas kasur, tidak lama disusul oleh dirinya. Ia tidur terlentang kemudian berpikir mengapa nomor Kagami tidak aktif, tidak biasanya Kagami melakukan hal semacam ini. Ah! Sekarang perasaannya jadi tidak karuan, ntah kenapa ia menjadi sangat khawatir. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Kagami, atau ibunya yang sedang sakit. Tiba - tiba ia menampar pipinya sendiri. "Jangan berpikiran aneh – aneh, mungkin hpnya low," ucapnya.
Ia mengambil hpnya lagi, menghubungi nomor yang sama, tetap nihil, masih tidak aktif. "Ayo dong Baka, aktifin nomor lo," gumamnya berulang – ulang. Ia mencoba lagi dan lagi sampai tidak tau sudah keberapa puluh kali.
To : Baka
Lo nggak apa – apa, kan?
.
.
.
Sekarang sudah pukul 11.00 malam, matanya masih segar, sama sekali tidak merasakan kantuk. Tapi, rasa khawatir terhadap sahabatnya masih menyelimuti. Ia membuka kotak pesan keluarnya, dan harus kecewa karena belum ada satu pesanpun yang terkirim, itu berarti nomor Kagami juga belum aktif.
To : Baka
WOI LO KEMANA SIH! KALAU NGGAK MAU TELPONAN SAMA GUE, NGGAK USAH PAKE ACARA MATIIN HP, SIALAN!
Ia sengaja caps lock saking kesalnya. Si Baka itu menyebalkan! Sudahlah! Ia mau tidur saja, percuma juga menunggu.
.
.
Satu jam kemudian, Aomine masih berkedip – kedip menatap langit – langit kamarnya. Mendadak ia merasa panas padahal sekarang masih musim dingin. Mungkin ia memang harus mandi, perduli setan dengan ilmu sains yang mengatakan jika mandi malam – malam akan menyebabkan penyakit rematik. Ia mengambil handuk yang tersampir di sofa dan kemudian masuk kamar mandi.
"Argghh…segar," gumamnya, setelah air yang tidak terlalu digin membasahi tubuhnya. Ia menyikat gigi, kemudian berkumur dengan antiseptic mountwash. Mengambil shampo, membersihkan rambutnya yang ternyata sudah empat hari tidak dikeramas. Mengambil bodywash, kemudian pencuci muka. Intinya ia semangat mandi tengah malam, bahkan baru kali ini ia mandi dengan sempurna memakai mounthwashlah, inilah, itulah.
Slep!
Gelap.
Hitam.
Pekat.
"AAAAAA…Baka….." Teriaknya ketakutan. "Ma-mata gue perihhhh…a-air...," teriaknya lagi. Ia mengumpat berkali – kali kenapa disaat seperti ini lampu listrik harus mati. Saking panik dan takutnya ditambah matanya yang perih karena sabun, dan belum berhasil mendapatkan air. Ia meraba – meraba tombol sower tapi malah ada sesuatu yang jatuh di kakinya.
Prangg…..
"Hantuu…." ia makin panik dan spontan langsung berlari. Dugh! "Arghh...!" teriaknya. Kepalanya sukses menabrak tembok. Ia langsung tepar dilantai kamar mandi, pasrah. Matanya berair karena menahan perih. Beberapa detik kemudian listrik hidup, dan semuanya terang kembali. "Bangsat!" umpatnya, kemudian melirik pecahan beling yang berserakan. Oh, ternyata wadah sikat giginya yang terjatuh.
.
.
.
Satu jampun telah berlalu lagi. Rencananya untuk tidur, sama sekali tidak lancar. Ntah kenapa pikirannya masih saja tertuju kepada satu orang itu, si Bakanya. Ia melihat hp ; masih sama, tidak ada apapun yang muncul dilayarnya. Ia mendengus, sudah malam minggu sendirian, nomor sahabatnya tidak aktif sampai membuatnya khawatir, saat mandi listrik mati, menabrak tembok sampai keningnya memar, dan sekarang sama sekali tidak bisa tidur. "Oh. Kami-sama, jangan uji umatmu yang cerdas ini," ucapnya berdoa.
.
.
.
Lagi - lagi waktu berlalu, yang tadinya pukul 02.00 sekarang pukul 03.00. Hey, ini sudah pagi. Bukankah ia mengharapkan pagi cepat datang. Ah, bukan! Maksudnya pagi itu langsung pukul 7,8,9,10...kemudian sore, lalu menjadi malam, pagi lagi, sore, malam, dan paginya adalah waktu di mana Kagami pulang ke sini. Menunggu kepulangan Kagami dari saat ia pergi sampai sekarang seperti sedang melewati waktu berpuluh - puluh tahun. Ia dulu meminta waktu agar tidak cepat berlalu, itu karena ada si Baka. Sekarang, apalah artinya tanpa manusia krimson itu.
.
Drddddd...
Ia melirik hpnya yang bergetar, tapi tidak dibukanya hanya dipandang, mungkin hanya peringatan dari operator lagi.
Drdddd...
Ayolah, jangan membuatnya kesal, atau lama - lama ia bisa saja membanting benda itu.
Drdddd...
Ia menarik napas panjang, sumpah ingin membantingnya.
3 Message Received
Baka
"Ha? Si Baka!?"
'Lo kenapa? Lagi PMS, ya?'
'Ao, lo udah tidur? Apa marah sama gue.'
'Yaudah kalau lo udah tidur. Padahal gue mau nelpon.'
Aomine speechless. Berapa jam ia menunggu Kagami mengaktifkan hpnya. Dari jam setengah sepuluh dan sekarang sudah jam tiga pagi, bahkan sudah lewat 15 menit. Huh! Ia membalas, memberi tahukan jika dirinya belum tidur, tapi baru menulis kata 'Gu' pesannya sudah terkirim, mungkin sangking cepatnya.
Sudahlah yang penting sudah terkirim, itu saja sudah cukup. Eh, tunggu, seorang Aomine tidak akan puas, hanya dengan melakukan hal itu. Ia langsung menekan tombol hijau. "Ck! Nggak aktif lagi!" Umpatnya. Ia coba lagi sampai lima kali dan hasilnya sama hanya ada suara gadis operator.
.
.
.
'Honnou goto yusabutte / kyokugen kakehiki. Junsui na respect / sou sa yeh / kuraitsuke.'
Hpnya berdering setelah 2 menit ia diamkan. Suara Kagami melantun dengan semangatnya. Ia mengambilnya dengan malas.
Baka calling...
.
"Terus aja ngilang!" Bentak Aomine to the point.
"Ha!?" Suara Kagami menderu keheranan.
"Pake 'ha' lagi!"
"Apa'an sih Ao! Nomor lo nggak aktif tadi."
"Nomor lo yang nggak aktif! Jangan sok nyalahin gue."
"Barusan nomor lo nggak aktif, idiot!"
"Aktif. Selalu aktif. Nomor lo yang nggak aktif!"
"Ia memang yang tadi - tadi nggak gue aktifin. Tapi yang barusan itu nomor lo nggak aktif."
"Ha!? Gue juga barusan nelpon lo nggak aktif."
Hening.
Hening.
Aomine merasakan aura negatif disebrang sana. "Ba-baka? Ha-"
"IDIOT! Iyalah nggak akan nyambung. Gue nelpon, lo nelpon, gimana sih!" Potong Kagami. "Gitu marah - marah sama gue! Terus apa maksud lo ngirim pesan caps loks semua, huh!?"
"Biasa aja woi! Nggak suka gue sama teriakan lo! Mana gue tau kalau lo juga nelpon, kan!"
"Terus maksud pesan lo!?"
"Gue khawatir bodoh sialan! Lo tau, gue nunggu nomor lo aktif sampe jam segini."
"Y-ya...ma-maaf..."
"Ha? Maaf doang. Bangs-"
"Maaf, Ao. Tadi ibu masuk rumah sakit lagi. Padahal katanya udah sembuh. Di dalam ruangan pasien, nggak boleh ngaktifin hp, dan tadi gue lagi nungguin ibu jadi nggak bisa hubungin lo. Ini gue baru pulang ke rumah."
"O-oh...gitu. Sorry gue cuma khawatir sama lo. Memang ibu sakit apa?"
Hening...
Hening...
"Hallo. Baka? Lo nggak apa - apa, kan?"
Hening...
"Oke kalau lo belum bisa cerita sama gue juga nggak apa - apa. Tapi nanti kalau lo udah di sini, gue selalu ada kok buat lo," katanya pengertian. "Buat sekarang, plis, jangan diemin gue."
"I-iya. Maaf, Ao."
See? Jika sedang serius, mereka juga bisa saling pengertian satu sama lain. Tidak hanya bisa bertengkar, saling tonjok, saling jotos sana sini, memperdebatkan hal - hal spele, berebut omong ditempat umum. Mereka itu saling menyayangi, walau tidak pernah ada kata, "Gue sayang sama lo." Sayang dalam arti sahabat.
Mereka bersahabat sudah sangat lama, jika waktu yang mereka lalui dijadikan detik akan ada banyak deretan angka yang tercipta. Mereka memang berbeda tapi saling terikat, saling membutuhkan seperti ; lem dan perangko ; tangan kiri dan kanan dan sebagainya.
Perempuan masih bisa menyembunyikan hal lain dari sahabatnya sendiri, tapi tidak dengan laki - laki. Laki – laki, jika sudah menemukan sahabat sejatinya tidak akan ada lagi kata rahasia diantara mereka. Laki – laki, jika sudah bersahabat akan terlihat lebih dekat dan lebih saling menyayangi daripada pasangan yang menjalin asmara.
.
.
"Emm..." gumam Kagami. "Jadi, hari selasa besok gue belum bisa ke Jepang, kemungkinan minggu depan gue pulangnya."
"APA!?"
"Sakit telinga gue, Ao. Jangan teriak juga."
"K-kok nggak jadi pulang?"
"Kondisi ibu membutuhkan gue."
"O-ohh...y-yaudahlah mau gimana lagi. Salam buat ibu, semoga cepat sembuh."
"Oke, thanks. Lo di sekolah kenapa? Kata Kuroko dihukum sensei botak."
"A-ahhh...itu...hanya kesalahan teknis," jawabnya enggan. 'Awas lo Tetsu, nggak selamet hari senin,' celotehnya dalam hati.
"Makanya sensei jelasin dengerin do-"
"Lo komunikasi sama Tetsu!" Potongnya. "Sedangkan sama gue, enggak!"
"Iri aja lo."
"Oke, fine."
"Mulai, kan. Katanya lo mau cer-"
"A'aaawww.." Erang Aomine.
"Kenapa?"
"Kening gue memar, sakit banget, Baka."
"Hahaha..." Tawanya kuat. "Lo habis ngapain memangnya?"
"Gue tadi lagi mandi, terus listriknya mati. Gue takut ada hantu, terus gue lari, eh taunya bukan kepintu tapi nabrak tembok."
Kagami tidak bisa menahan tawanya. Andai saja ia ada di sana, dengan senang hati ia akan mengejek si dekil itu habis - habisan. Mereka bercerita apa saja dari A-Z, tertawa bersama walau tidak bisa melihat satu sama lain, berebut omong, tentu saja.
Aomine dengan semangat menggebu, menceritakan tentang kecerdasannya. Bagaimana ia mencuri pulsa dari hp sang ibu. Kagami yang mendengar hanya bisa bilang, "Ao?"
"Hum. Lo pasti bakal muji gue, kan? Udahlah gue udah tau. Thanks ya, Baka."
"Ha!? Siapa yang mau muji lo, idiot! Gue cuma mau tanya, lo udah pernah nelen biji kedondong belum?"
Mereka berdebat untuk yang kesekian kalinya. Aomine heran kenapa Kagami tidak memuji seperti ibunya. Sahabat macam apa? Kagami malah mengatainya, idiot, bodoh, anak durhaka. Ia sih, hanya berpikir positif, mungkin Kagami hanya iri saja dengannya. Perdebatan berhenti saat ia mendengar Kagami menguap penuh.
"Lo mau tidur, Baka?"
"Iya kayaknya. Lagian udah jam lima, lo juga tidur."
"Oke. Kalau ada apa - apa hubungin gue, ya."
"Heum. Bye, Aho."
"Bye.. Mmuuachh."
"Mmuuachh."
Tutttt...sambungan lenyap.
Tidak menunggu detik apalagi menit. Aomine dengan cepat sudah masuk ke alam mimpi.
O
o
O
o
O
Hola halooooo…..semoga kalian semua bahagia di malam minggu ini. Untuk ibunda bang Kaga semoga cepat sembuh dan semoga kalian bisa malam minggu bersama lagi. Adegan bang Ao lagi mandi, terus listrik mati itu saya pernah ngalamin, emang kuso banget waktu itu juga pas lagi sabunan/curhat.
.
Melani. : halo, salam kenal. Terima kasih sudah membaca dan ripiunya *cium*. Bang Ao masih polos kayak pantat ayam….bhaaaa.
Nana : kamu juga manis kok, pembaca setia fic akuh *peluk* tenang aku bakal undang kamu, jangan lupa hadiahnya. Ah, iya aku typo ya. NOOOOOO! AoAka NOOOOO! Bang Ao hanya untuk Bang Kaga seorang sampai batu kalau direbus jadi empuk, dan bang Akashi hanya untuk bang Mayuyu….huahahaha.
Nam min Seul : iyah aku juga nggak sabaran kok. Umm….itu…ano….aku bukan Kuro. Kuro itu pacar aku/ehkeceplosan. Maksudnya Kuro itu sohib aku kayak bang Kaga sama bang Ao *hehehe*. Aku Zoka, kebetulan ini akun kita berdua wkwkwkwk. Terima Kasih Nam-chan *cium*
AoKagaKuroLover : Love you so much.
Mavro Fos : hai… salam kenal. Iyah setiap malem minggu, jangan bosen baca dan thanks sudah suka *peluk*
WhoAmI : Nande monai…memang bang Kaga kalau ngambek bikin gemes. Suara bang Ao ancur, sumpah. Tapi nggak kebayang sih suara ngebasssnya itu minta ditimpuk bibir bang Kaga. Bhaaaaa.
Oke. Thanks.
Buat kalian, para silent reader juga thanks banget sudah baca. Akumah nggak papa, yang penting kalian mencintai AoKaga sepenuh hati.
*jangan lupa bahagia*
