Rintik hujan mulai menetesi pelipis wajah masam Sasuke. Satu demi satu, tetesan liquid bening itu mendarat di atas kepalanya yang sedang terasa panas bukan main. Ya, amat panas. Sasuke sendiri tidak tahu mengapa. Yang pasti saat ini emosinya tengah membludak drastis, kontras dengan sikapnya yang tenang saat Sakura belum menjawab pertanyaan anehnya; 'Apa kau pernah mencintai seseorang...?'
.
Sial. Ia menyesal sudah menanyakan hal tolol itu.
Sasuke terus mempercepat langkahnya lagi berusaha mendahului hujan lebat. Tanpa peduli ia meninggalkan Sakura di belakang sana sendirian. Walau tak menoleh sekalipun, percayalah Sasuke tahu saat ini Sakura sedang memandangnya penuh ketakutan.
'Hm, tentu saja... aku pernah mencintai seseorang. Sangat mencintainya, malah. Sasuke-kun tahu? Dia juga dulu salah satu pasienku.'
Deg!
"KUSO!" teriak lelaki itu dengan napas meruah. Ia benci mengingatnya, benci mengingat bagaimana Sakura mengutarakan jawabannya, dan benci mengingat bagaimana tadi ia juga sempat melampiaskan emosinya pada Sakura di tempat umum.
Terlanjur kesal, kali ini Sasuke merasakan amarah yang amat tak terkendali. Ingin rasanya ia berteriak keras tanpa perlu seorangpun yang memandangnya aneh. Dadanya amat sesak dan berat hanya untuk sekedar meraup udara, tak luput kepalanya kini merasakan pening yang mendera hebat.
Kenapa...?
Pemuda itu lantas menepikan langkah tergesanya menuju mesin penjual air minum, dengan gusar ia juga merogoh kantong celananya mencari butiran pil penenang. Tak tahan lagi, Sasuke menelan paksa obat miliknya yang hanya bisa diminum saat dirinya lepas kendali itu. Ia berdiam diri di sana bersama hujan demi menunggu reaksi obatnya bekerja.
Menit demi menit, secara perlahan deru nafas Sasuke mulai teratur meski otaknya masih saja berkecamuk. Dirasakannya masih ada rasa sakit lain yang tak bisa dihilangkan khasiat obat ampuh itu. Sasuke menekan dadanya sendiri berusaha lebih tenang, sakitnya lebih-lebih terasa parah di sana. Namun bukannya rileks, lelaki itu malah mencengkeram kain bajunya sendiri ketika ia kembali mengingat segala perkataan Sakura.
.
.
.
.
"Aku masih membutuhkan waktu... untuk bisa memulai semuanya dari awal."
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Innocence
A Naruto FanFiction by Asakura Ayaka
Chapter 7 : Two Sides
.
.
.
.
Flashback: 30 menit sebelumnya…
.
Hembusan angin senja menerpa kencang hamparan taman hiburan yang disesaki ratusan manusia selaku pengunjung tempat ini. Cuaca sebentar lagi akan berubah—kemungkinan hujan—dan Sasuke bisa merasakannya lewat suhu udara di lapisan kulit. Entah nanti akan turun hujan, badai, atau halilintar sekalipun, Sasuke sedang tak mengindahkan hal itu. Baginya suasana petang ini saja sudah cukup menjadi momen berkesan pertama selama masa kelamnya.
Ya, sangat berkesan. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyuman kecil.
Ada satu hal lagi yang sedang menyita konsentrasi pikiran sang bungsu Uchiha saat ini. Layaknya anak kecil yang baru saja tahu cara mewarnai gambar, Sasuke juga menemukan fakta bahwa hari ini dunianya terasa lebih berwarna dari biasa. Lebih indah, lebih cerah, lebih hangat—sehangat mentari pagi ketika gadis bernama Haruno Sakura kembali datang dan mengisi waktunya dengan terapi pemulihan emosi. Ia tak tahu lagi sampai kapan perasaan nyaman ini akan bertahan lama melingkupi segenap batinnya.
Setidaknya... sampai satu celah kerusakan suasana dibuka oleh dirinya sendiri dengan sebuah pertanyaan konyol.
"Apa kau pernah mencintai seseorang...?"
Sakura tertegun sesaat mendengar kalimat Sasuke.
Ia memejamkan dua emerald-nya diiringi desah pasrah, lalu menarik napas dalam lagi untuk menjawab pertanyaan itu—mencoba menguatkan hati. Jika saja diberi pilihan, mungkin Sakura tak ingin menjawab pertanyaan aneh itu. Namun nyatanya hanya demi Sasuke lah... gadis ini rela membongkar lagi ingatan pahitnya tentang seseorang di masa lalu.
"Hm... tentu saja. Aku pernah mencintai seseorang. Sangat mencintainya, malah. Sasuke-kun tahu? Dia juga dulu salah satu pasienku." Sakura mengalihkan pandangannya dari Sasuke sekilas, tertunduk dalam demi menyembunyikan ekspresi sedihnya.
Sementara Sasuke bergeming menyimak setiap kata demi kata yang terluncur dari bibir dokternya. Perasaannya mulai berubah tidak enak. Resah. Jujur ia tak ingin tahu lanjutannya lagi lebih dari ini, bahkan ia sudah mulai menyesal atas pertanyaan yang diucapkannya sendiri. Namun apadaya, Sakura masih saja berbicara. Gadis itu terus tersenyum lembut seolah sedang mengenang seseorang yang amat berharga baginya.
"Aku menyayanginya dengan segenap ketulusanku, Sasuke-kun. Hampir setiap hari kami lewati bersama-sama, membicarakan banyak hal, juga melakukan hal-hal baru. Sampai lama-kelamaan... aku sadar yang aku lakukan itu menyimpang. Harusnya aku merawat dia dengan baik sebagai seorang dokter, bukan menuntut segala waktunya untuk kesenanganku semata karena cinta."
Cukup. Sasuke sudah tak ingin mendengar apapun itu kelanjutannya.
"—hingga tiba pada masanya dia menolak untuk melakukan segala terapi penyembuhan lagi, yang diinginkannya hanyalah aku dan aku seorang. Obsesinya padaku sudah mencapai tahap kompulsif. Mau tak mau aku harus menjaga jarak darinya, dan sekarang... jarak kami sudah sangat sangat jauh." ucap Sakura seraya meremas erat ujung terusan blouse putihnya. "Aku berusaha melupakan segalanya, dan berkomitmen untuk tidak lagi jatuh cinta dengan pasienku berikutnya."lanjutnya memaksakan senyum sendu menatap Sasuke, "Benar, aku tidak ingin mengulangi kesalahanku. Termasuk denganmu... Sasuke-kun." dan ia tidak tahu mengapa rasanya berat hati ketika mengatakan kalimat penutup itu.
"Begitu," Uchiha Sasuke secara sadar mengeraskan rahang dan meremas cup cappuccino kosongnya hingga remuk. Begitu banyak perasaan berkecamuk yang melanda hatinya sekarang. Mendengar ini secara langsung, rasa nyaman yang semula menyelimuti batinnya kini lenyap menguap entah kemana. Hatinya berangsur membuahkan gelisah dan sesak yang tak bisa ditakar lagi. Sial, kenapa rasanya seperti ini?! Sasuke tidak mengerti apa itu cinta. Merasakannya pun belum pernah. Yang ia tahu cinta itu sesat dan menyakitkan seperti halnya yang dialami Itachi dan Sara dulu.
Karena mereka semua termakan dengan racun hati yang abstrak, yang pada akhirnya justru melahirkan kebencian tak terhingga pada orang lain.
"Kenapa, kenapa kau harus membuat komitmen bodoh seperti itu," Sasuke bergumam sendiri, tawa tidak jelas menyusul kalimatnya yang enggan melihat Sakura, "bukankah aku sudah pernah bilang? Aku paling tidak suka disamakan dengan orang lain. Siapapun itu." imbuhnya lagi dengan suara yang memberat.
"Bukan begitu, Sasuke-kun. Aku hanya takut kita akan melewati batas yang ada. Karena itu bisa mempengaruhi kondisimu—"
"Kau masih mencintainya," tukas Sasuke tajam, "kau hanya belum bisa menerima orang lain. Aku benar, 'kan?" ia masih berusaha menahan emosinya yang makin meningkat.
"Aku tidak mengerti apa sebenarnya yang ingin Sasuke-kun bicarakan," elak Sakura halus, "yang jelas aku tidak pernah menyamakan kalian. Kalian sangat berbeda dalam segala hal dan aku yakin Sasuke-kun memiliki peluang sembuh lebih besar. Sudah banyak tanda-tanda kesembuhan yang kulihat. Mungkin... sekitar satu bulan lagi kehidupanmu akan kembali normal. Makanya—"
"Lalu setelah satu bulan nanti, apa kau akan pergi dariku begitu saja?" Sakura tersentak kaget mendengar tekanan ucapan Sasuke, gadis itu hampir saja menjawab namun Sasuke kembali menyelanya duluan, "Tidak adakah hal lain yang kau anggap lebih penting selain kesehatanku?!" Iris obsidian pria itu berkilat tajam. Tatapannya mulai mencerminkan rasa perih yang menjalari dadanya. Tubuhnya terasa panas, seperti ada sesuatu yang terus memacu otaknya untuk segera meluapkan emosi. Sasuke memendamnya sebaik mungkin dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Apa artiku bagimu, Sakura? Hanya sebatas manusia dengan otak tidak waras yang butuh dikasihani, hah?"
Kedua alis Sakura kian berkedut heran, ia merasa janggal dengan pemuda di sampingnya ini. Bukan karena ucapan Sasuke yang mulai tak terarah, tetapi ekspresi menuntut milik lelaki itu yang tak kunjung pudar. Sakura sudah bersiap mawas diri. Segera saja dikeluarkannya pil-pil obat penenang yang dibawanya dalam tas. "S-Sasuke-kun... ini, minumlah," pintanya hati-hati, "sebelum pulang sebaiknya kau minum obatmu dulu."
"Kau belum menjawab pertanyaanku!" Sasuke mendesaknya tak karuan.
Sakura menghela nafas kesal, lelaki di sampingnya ini masih saja bebal. Apa sebenarnya mau orang ini? Sakura tidak suka didesak dengan pertanyaan yang tak tentu intinya apa. Maka untuk pertama kalinya, Sasuke telah berhasil menyulut emosi gadis itu agar terpancing ke permukaan. "Baik, kau ingin sebuah jawaban pasti? Aku seorang psikiater, dan kau adalah pasienku. Hanya itu saja. Kurasa semua sudah cukup jelas."
Deg!
Hati pria itu sontak mencelos dalam kekecewaan, jelas bukan itu jawaban yang diharapkannya. Sasuke menerawang kosong pil-pil kecil yang masih saja diulurkan tangan gadis di sampingnya. Dahinya makin mengkerut tak suka, tatapan kosong itu kemudian berpindah lagi pada wajah Sakura yang melihatnya penuh keraguan. Sasuke merasa amarahnya kian terpupuk saat gadis itu tak lagi mau menorehkan senyum untuknya.
"Aku sangat benci minum obat. Singkirkan itu dariku."
"Tapi ini demi kesehatanmu juga,"
"OMONG KOSONG! Kenapa kau selalu memperlakukanku seolah-olah aku ini manusia penyakitan?! Aku sudah muak dengan segala macam pengobatan dan terapi yang kalian berikan. Tidak ada seorangpun dokter yang memahami kondisiku yang sebenarnya! Kalian … kalian hanyalah sekumpulan orang-orang tolol yang menyia-nyiakan waktu dengan diagnosa ini dan itu. Pernahkah kalian berpikir jika yang kalian lakukan ini justru semakin menyiksa pasien sendiri, hah?!"
Sekeliling Sasuke dan Sakura otomatis mendelik terkejut atas kerasnya makian pria itu. Sasuke beranjak duluan dari kursi disusul Sakura di belakangnya. Gadis bersurai merah muda itu terus berusaha menyamakan langkah Sasuke yang jelas terburu-buru. "Sasuke-kun, kumohon jaga sikapmu! Kita sedang berada di tempat umum. Tenanglah, kau hanya perlu menelan dua butir obat kecil ini, ya?" tawarnya lagi setengah menuntut.
Sasuke mendengus nafas jengah, ia menghentikan langkahnya dan berbalik demi menyambar butiran pil yang diberikan Sakura. Ia memasukannya secara kasar pada kantong celana pendeknya. "Pergilah, aku akan pulang sendiri." ucapnya enteng seolah tak sadar kini sedang berada di luar kota.
"Mana bisa begitu? Aku harus mendampingimu apapun yang terjadi." Sakura menahan lengan Sasuke dan refleks lelaki itu menampiknya kuat-kuat. Gadis itu mencoba meraihnya sekali lagi, namun yang diterimanya adalah sebuah dorongan super keras hingga tubuh kurusnya terjerembab kasar di atas aspal jalan.
"AKH!" Sakura merintih kencang, beberapa security gerbang taman hiburan langsung menghampirinya. Sedangkan Sasuke lanjut berjalan cepat menuju gate keluar area Nagashima Spa Land tanpa memedulikan kondisi gadis di belakangnya. Awan langit mulai menghitam kelam mengiringi langkah pria itu, hujan besar akan segera mengguyur kota Kuwana saat ini juga—sesuai dugaannya. "Sasuke-kun kau mau ke mana?!"
"Nona, kau tidak apa-apa? Biar kami bantu." ujar salah seorang satpam pada Sakura yang masih shock menyaksikan perilaku buruk pasiennya. Tak pelak, gadis itu kembali segera memfokuskan atensi dunianya sendiri.
"Auw! S-Sakit...! Aghh..."Apa ini... Sakura tak kuasa mengangkat berat tubuhnya, dirinya akan kehilangan keseimbangan setiap kali memijakkan telapak kaki. Mata kaki kirinya terasa luar biasa nyeri dan mememar merah—efek terkilir akibat insiden dorongan barusan. Kedua security tadi sontak memapah Sakura berdiri dan segera memesankan taksi untuknya pulang.
"Sasuke-kun..."
Tess… tess…
Rinai hujan mulai turun perlahan, gerimis berlomba-lomba membasahi dahi Sakura yang berkeringat dingin. Sakura memejamkan kedua bola matanya menahan perih—baik itu perih di kaki maupun perih di hatinya. Tanpa pernah ia sangka, Sasuke masih saja bersikap kasar bahkan setelah mereka lama tak saling sua. Jadi inikah... hasil perawatan Kakashi yang katanya 'Sasuke sudah sembilan puluh persen sembuh' itu? Tch, Sakura berani bersumpah jika dirinya ingin sekali memaki Kakashi lewat telepon sekarang juga. Sembari menunggu taksi datang, gadis itu mengambil ponselnya dan segera membuka kontak menghubungi seseorang.
.
"Moshi-moshi, Kakashi-san? Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu," Sakura mendengarkan acuh basa-basi Kakashi sebentar di seberang telepon, "ya memangnya siapa lagi?! Ini jelas tentang Uchiha Sasuke!"
.
.
#####
.
.
Langit tak pernah lepas dari hujan sejak hari itu. Dua hari, tidak—tiga hari sudah terlewati, Uchiha Sasuke masih menatap hujan di luar jendela kamarnya dengan pandangan yang sama kosong dengan hari-hari kemarin. Tetes-tetes air angkasa itu mengingatkannya pada kejadian di taman hiburan tempo hari. Saat itu... hujan turun dengan derasnya tanpa ampun, dan ia menyakiti gadis Haruno itu tanpa kata maaf.
Maaf… eh?
Sasuke bahkan sudah lupa bagaimana caranya berkata maaf dengan tulus pada orang lain. Ia tak pernah merasa salah sedikitpun. Benaknya mulai terpikir, sudah berapa lama dirinya menjadi seperti ini? Tenggelam dalam pusaran kegelapan, terbungkus rapat oleh bayang-bayang traumatik, terkunci penuh dari eksistensi dunia luar. Segala sesuatunya semakin terasa sulit.
Yang disalahkannya selama ini hanyalah para dokter tak berperasaan itu, serta obat-obatan yang selalu menunggunya selesai makan setiap hari. Namun sekali lagi pria itu memeras otak, ia sadar bahwa kesalahan utama justru berporos pada dirinya sendiri.
Memang, awalnya ini bukan salahnya. Ini semua salah Itachi, Sasuke masih yakin itu. Tapi jika melihat ke balik lembaran-lembaran lalu, Sasuke tahu bahwa dirinyalah yang telah membuang-buang waktu bersama mimpi dan halusinasi menakutkannya. Padahal jelas terasa, semakin hari daya pikirnya terus membaik. Emosinya semakin terkontrol. Tidak ada lagi delusi tentang Itachi selama ia tidak mengingatnya dengan sengaja. Semuanya hampir saja kembali normal, nyaris mampu mengembalikan dirinya yang dulu.
Tapi itu dulu. Sekarang, Sasuke merasa bagai kembali terhisap dalam keterpurukan baru yang jauh lebih dalam. Rasa takut lain akan menghampirinya setiap kali berinteraksi dengan gadis bernama Haruno Sakura. Ia belum bisa mendefinisikan rasa takut apa itu, yang jelas ia merasa nyaman setiap mendengar suara Sakura mengalun, merasa hangat ketika melihat lengkung senyumnya terlukis, tapi di saat yang sama...
… ia juga takut kehilangan semuanya.
Ia tidak peduli apa yang tengah dilakukan gadis itu di luar sana, dengan siapa, sampai kapan. Tapi nalurinya bersikeras mengatakan gadis itu haruslah kembali padanya di akhir. Ya, tetap menjadi seorang malaikat penenang pribadinya. Hanya untuknya.
"Yo, Sasuke."
Refleks, Sasuke melirikkan sedikit ekor matanya begitu satu sapaan menginterupsi kegiatan merenungnya. "Kakashi, kah?" ia memastikan pemilik suara baritone itu tanpa berniat menoleh, "Kupikir bukan kau yang akan datang hari ini."
"Sayangnya tidak sesuai harapanmu." Kakashi lantas memasuki ruang pribadi si bungsu Uchiha melewati celah ambang pintunya. Ia turut berdiri di samping Sasuke mencoba melakukan hal yang sama—memandangi bagaimana langit membasahi bumi. "Maaf sebelumnya. Aku tidak menyangka di dua terapi terakhirmu bersama Sakura hasilnya justru akan begini fatal." ucap pria Hatake itu tanpa basa-basi. Sasuke seketika menoleh tak suka ketika mulut Kakashi menyebut nama gadisnya di awal pembicaraan.
"Jangan bahas dia." larang Sasuke tersirat. Tanpa sadar ia telah menekan nada bicaranya.
"Tenangkan dirimu, Sasuke... memang akulah yang sudah melakukan kesalahan besar karena telah memilih Sakura sebagai terapismu," aku Kakashi padanya, "perlu kau tahu, sesuatu yang salah jelas terjadi di antara kalian berdua, aku sudah bisa menerkanya sejak awal." lanjutnya lagi, kali ini Kakashi berani memandang mata Sasuke secara langsung. "Jangan berharap lebih padanya, Sasuke. Fokuslah pada tahap penyembuhanmu dulu."
"Cih, kau tidak tahu apa-apa. Jangan sok berasumsi padaku." Sasuke bergerak memunggungi Kakashi menuju kasurnya. Ia merebahkan diri di sana dengan mata yang sepenuhnya terpejam. Pikirannya segera melayang menuju si obyek pembicaraan sejak tadi. "Sudah bertemu Sakura? Apa yang dikatakannya tentangku?"
"Tidak banyak," Kakashi kembali mengalihkan pandangannya pada si jendela berembun. Ia bisa melihat mobilnya terparkir secara blur dari dalam sini. "Sakura tidak mau menandatangani surat kontrol terapimu kemarin. Dengan kata lain—kau gagal."
"Apa?" Sasuke berjengit kaget dari posisi tidurnya, "Aku... gagal? Kau bercanda, hah?!"
Kakashi mendesah pasrah, "Begitulah kenyataannya. Sakura yang menilaimu, bukan aku."
Sasuke segera bungkam menahan amarah begitu Kakashi kembali mengingatkannya pada terapi kemarin. Tak habis pikir, kesalahan apa lagi yang diperbuatnya? Ia sudah rela dipaksa menaiki berbagai wahana dari yang paling menyeramkan sampai yang paling kekanakan oleh Sakura, dan itu masih juga terbilang gagal? Baik, Sasuke mulai ragu sebenarnya siapa yang gila di sini. "Aku akan menemui Sakura sekarang. Dia harus menjelaskan semua ini."
"Sakura tidak ada di kliniknya," potong Kakashi ketika menyaksikan Sasuke bersiap-siap mengenakan jaketnya, laki-laki itu menghentikan gerakan sesaat mendengarkan lanjutan ucapan Kakashi, "Sakura sedang sakit. Dia demam dan tidak bisa berjalan keluar dari rumahnya. Aku baru menjenguknya siang tadi sekalian mengambil surat kontrolmu."
"Apa kau bilang?" Sasuke terkaget, pasti. Dua pertanyaan besar menyembul keluar dari kepala raven-nya. Sejak kapan... sejak kapan Kakashi berani mendatangi Sakura hingga ke rumahnya langsung? Dan yang kedua—"Dia... sakit?"—sepasang lengan Sasuke serasa kehilangan tenaga mendengar kabar buruk ini. Ulu hatinya kembali tak tenang entah karena apa, seperti ada yang menusuknya pelan-pelan. Pandangan matanya menggusar berat, ia harus melihat Sakura sekarang atau kegundahan akan semakin menghantuinya.
"Kau mau apa, Sasuke?"
"Berikan aku alamat rumahnya sekarang juga! Aku harus menemuinya."
.
.
#####
.
.
"Hati-hati di jalan!"
Yamanaka Ino melambaikan tangannya riang pada laki-laki berambut merah gelap yang baru saja pamit pulang kerja dari klinik sore ini. "Salam untuk Sakura ya, Gaara! Bilang padanya harus cepat sembuh!" serunya lagi penuh asa.
Satu karangan bunga krisan putih tergenggam, Gaara menampung segala pesan dan salam rekan-rekan kerjanya untuk menjenguk Sakura sekarang. Bukan hal asing jika pria itu mendatangi flat pribadi Sakura, ia sudah sering mampir ke sana sejak masih duduk di bangku kuliah dulu. Namun datang dengan membawa sebuket bunga begini... adalah yang kali pertama baginya, Gaara sedikit gugup hanya dengan membayangkannya saja.
Ne... bagaimana ekspresi Sakura nantinya? Tersipu malu karena terkejut? Atau justru pingsan di tempat? Gaara terkekeh ringan mendapati khayalannya tak mungkin terjadi. Jarak klinik dan tempat tinggal Sakura yang jauh lumayan memberi waktu perjalanan dalam mobilnya. Si bungsu Sabaku ini menyempatkan diri untuk melepas simpul dasi di kemejanya dengan satu tangan, sementara tangan satunya masih setia memegangi stir kendali mobil. Tak lupa ia juga merapikan rambut depannya sedikit lewat spion di atas hingga merasa lebih percaya diri.
Lama kelamaan barulah ia sadari, kenapa rasanya segugup ini? Oh, ayolah! Ini mungkin saja kunjungannya keseratus kali di flat Sakura. Untuk apa berdandan keren segala? Ck, Gaara lagi-lagi menertawakan kekonyolannya sendiri. Jujur selama tiga hari absennya Sakura dari klinik, Gaara amat merindukan hawa kehadiran gadis pinkish itu. Setiap pagi pemuda ini akan menghubunginya sekedar mengingatkan sarapan dan minum obat layaknya dokter pada pasien, juga mengirimkan pesan 'cepat sembuh', yang sayangnya tak pernah dibalas panjang oleh Sakura.
Hm... tak diacuhkan, eh?
Ya, sudah biasa. Gaara sudah amat kebal mengejar-ngejar dan menebar perhatian pada gadis itu semenjak bertahun-tahun silam. Tidak masalah jika Sakura terus-terusan menggantungnya selama gadis itu tak memiliki pria lain dalam kesehariannya. Karena cinta tak berarti harus memiliki, bukan?
Tapi tidak untuk kali ini. Gaara sudah bertekad untuk berjuang mendapatkannya. Lagipula ia yakin Sakura sudah melupakan sosok Uzumaki Naruto sejak lama, kesempatan besar jelas terpampang lebar. Satu-satunya penghalang saat ini adalah Uchiha Sasuke—mantan pasien Sakura yang ia yakin disukai oleh gadis itu.
"Si gila itu... ingin jadi sainganku? Hmf... lucu sekali." Gaara bergumam sendiri dengan tawa remehnya.
Tepat saat lampu merah menghadang di depan jalan, Gaara menginjak pedal remnya perlahan. Masih ada ratusan detik untuk menunggu lampu kembali hijau. Pria itu lalu mengambil ponselnya untuk menelepon Sakura—berniat memberitahu kedatangannya.
"….."
"Kenapa tidak diangkat?" Satu kali tak dijawab, Gaara mengulangi panggilannya.
"….."
Terus seperti itu sampai empat kali panggilan berikutnya. "Aneh."
Dahinya serta merta mengernyit ketika firasat buruk menyambangi pikirannya. Apa yang terjadi hingga Sakura tak bisa mengangkat teleponnya barang sekali? Manik jade pemuda itu menatap nelangsa ponselnya sendiri, nuraninya berkata senada. Sesuatu yang buruk akan terjadi hari ini…
.
.
.
To be Continued
.
.
.
*nyiapin muka untuk ditampar* ahha, mari menerka: siapa yang akan duluan sampai di rumah Sakura :))
Selamat fic ini bersambung (lagi) ehe... Maaf juga untuk kelamaan update-nya. Fisik sedang nggak fit amat, maaf ya kalo ketikannya pendek :( ini juga update karena beberapa tagihan yang mencekikku XD silakan terror Aya lagi lewat pesbuk yah wkwk. Dan terima kasih banyak-banyak kuucapkan kepada kalian:
Cho Sungkyu, mie ayam, Hatsune Cherry, sasusaku kira, aguma, nilakandi, Ucucubi, Kitsuhime Foxy, Tsurugi De Lelouch, sami haruchi, Ms. Amethyst, Nohara Rin, Anka-Chan, akasuna no ei-chan, Haru-kun Uchiha, PurpleLittleMoon, Uchiha Dian-chan, Neerval-Li, Snow's Flower, FuuYuki34, ikki kuro, iya baka-san, Bandana Merah, Ramen panas,
n4na, shawol21bangs, poetri-chan, International Playgirl, SSasuke 23, YePeh, ocha chan, skyesphantom, Nande, Kaganame R, Kiki RyuEunTeuk, Api Hitam AMATERASU, Redsans Mangekyou, Grengas-Snap, fava ritsuka, Mizuhashi Riku, Alisha Blooms, Vani Savers, hanazono yuri, Fiyui-chan, Shin Y, Hanny Here, dimay, AlianaS, ArhiiDe-chan 'HongRhii' Hikari,
kumiko yui, Zee Rainkazuya, Choi Azura, Shimi, aitara fuyuharu, Summer, Maka Meyer, sasukukera, Mulberry Redblack, Azizah primadani, Nakashima M, senayuki-chan, SehoonZey, R dan L, firuri ryuusuke, Sasusaku's fans (2x), ShifukiKafudo, wkjoan hosioki, Rikaa Angel Uchihaa, 2PMGirl, SONE Uchiha, Aihaibara88, sasusaku, Hoya1991, itsmememe, Arakafsya Uchiha, Unknown, Huehue, Reviewer,dan para Guest serta silent readers, Aya ucapkan terima kasih banyak sudah baca sampai chapter ini :*
Hope you like this chapter, see you again in chapter 8 :* salam pelukecup semuanya dari Aya *smooch*
.
Review?
